dua chapter terakhir..
Tampaknya Gaara mulai putus asa.
Apa yang akan dia lakukan ya dengan segala penolakan Ino.
Mungkin Curhat ke Asuma-sensei bisa jadi alternatif terakhir, sekalian cari dukungan.
Tapi...
Langsung aja kita cek ke TKP, apa cara terakhir yang dilakukan Gaara untuk mendapatkan Ino.
Naruto miliknya Masashi Kishimoto- sensei
Luck karya asli Yuugiri-san
Terjemahan oleh Star Azura
.
/
.
/
.
Enjoy it, happy grading...!
Pemakaman Konoha terletak dipinggiran desa konoha. Setelah penyerangan yang dilakukan oleh Pein beberapa tahun lalu, pemakaman itu dibangun kembali dengan alasan karena tempat itu sudah ada sejak pertama kali Honoha dibangun. Gaara sedang jongkok didekat batu persegi panjang dibawah guyuran cahaya keemasan matahari senja ketika Ino menemukannya. Tidak sulit bagi Ino untuk menemukannya disana, karena Gaara adalah satu-satunya orang yang duduk dirumput didekat batu nisan yang sangat Ino kenali. Ino tak pernah tau sebelumnya kalau Gaara mengenal Sarutobi Asuma dengan cukup baik, sampai-sampai pria itu ada ditempat ini untuk mengunjungi makamnya.
Ino mendekati Gaara dari belakang, menepuk bahunya ringan sebelum duduk berlutut disamping Gaara. " Aku sudah mencarimu kemana-mana."
Gaara tidak beranjak dari tempatnya. Gaara hanya meletakkan dagunya nyaman di telapak tangannya, matanya masih fokus tertuju pada satu titik yairu batu nisan Asuma yang seolah memberi jawaban atas seluruh pertanyaannya didunia ini. Postur tubuhnya kaku sejak Ino melihatnya tadi, tapi sekarang, bahunya mengendur seolah vigur diri yang penuh ketegaran yang ditunjukkannya pada Ino di beberapa hari kebersamaan mereka telah…menghilang. Dan sekarang pria yang duduk ditempat itu tampak lelah dan…yah, sangat lelah.
"Gaara?" panggil Ino lagi. Mencoba mengitintip dengan hati-hati wajahnya.
"Aku berbohong," kata Gaara tiba-tiba. Membuat Ino sedikit tersentak kaget..
"Berbohong tentang apa?" tanya Ino, kembali duduk dengan pose wapada dan berpikir tentang kebohongan apa saja yang mungkin telah Gaara katakan padanya.
"Bunga-bunga itu sama sekali bukan untuk makammu. Tapi untukknya," jawab Gaara, mengangguk pada batu nisan di depannya.
Ino mengikuti tatapannya perlahan dan menggigit bibir bawahnya ragu. "Aku tidak tau kalian saling…kenal."
"Tidak secara pribadi. Tapi Sarutobi adalah sebuah klan yang besar dan terhormat. Asuma berasal dari sana. Naruto sangat senang membicarakannya. Dan dia adalah gurumu, kan?"
Dan saat itu Ino merasa tiba-tiba perutnya terasa kram hanya dengna mengingat gurunya. Sudah beberapa tahun dia selalu merasakan hal itu? Mungkin sekitar enam atau tujuh tahun. Ino menghela nafas."Yah. Dan dia sudah meninggal….dia terbunuh saat aku berumur enam belas tahun."
"Aku tahu. Aku sudah dengar tentang itu."Gaara melirik ketika Ino tampak terkejut. "Aku menghabiskan waktu bersama Chouji beberapa waktu lalu. Dan entah kenapa kami jadi membicarakan tentang Asuma-san. Di telah menjadi entitas yang sangat penting dalam hidupmu."
Alis Ino berkerut. Tak yakin apa yang harus dia katakan. Hari ketika gurunya meninggal adalah salah satu kenyataan yang menghancurkan hidupnya. Ino yakin, kalau saja saat itu dia sudah jadi lebih kuat, mungkin guru Asuma tidak akan mati. Setelah perang, tepat sebelum ayahnya mengenalkannya pada pelatih Ibiki, hampir setiap malam Ino menangisi dirinya sendiri sampai tertidur, berpikir bahwa, jika saja dia tidak menyia-nyiakan begitu banyak waktu hanya untuk mencari perhatian Uchiha Sasuke dan berlatih lebih keras untuk menjadi seorang Kunoichi yang lebih baik, maka mungkin ...mungkin keaadaannya akan berbeda sekarang. Jika dia lebih memperhatikan Sakura lagi…jika saja dia mampu mengndalikan cakra dengan lebih baik ...
Tapi tidak, dia saat itu terlalu sibuk untuk memanjangkan rambunya dan bersaing dengan Sakura untuk membuat Sasuke naksir dengannya.
Ino mengusap matanya letih. "Dia selalu merokok seperti tak ada hari esok, dan kami selalu mencoba untuk membuatnya berhenti. Dia tidak pernah mendengarkan kami, tentu saja. Dan tau-tau Shikamaru malah sudah melanjutkan kebiasaan itu."
"Kematiannya pasti ... menghancurkanmu."
"Tidak ada waktu untuk meratapinya. Kami terlalu sibuk untuk bertarung."
"Melawan siapa?"
"Orang-orang yang membunuh guru. Akatsuki. Dan kupikir kau sudah tau sisanya." Ino duduk diatas rumput dan meluruhkan kakinya kedepan, jari-jari kakinya menyentuh ujung marmer makam guru Asuma.
"Balas dendam?" Tanya Gaara setelah mengheningkan cipta.
Ino mengangguk. Ya. Itulah yang tejadi. Faktanya, Ino tak punya pilihan lain. Mereka menang. Tapi semua tetap terasa pahit.
Gaara menundukkan kepalanya. "Naruto tak percaya pada pembalasan dendam."
"Tak butuh waktu lama sebelum kami berhenti percaya pada hal semacam balas dendam.."
"Naruto benar-benar mempengaruhi semua orang."
Ino tertawa. "Ya, itulah dia. Tidakkah kau membenci itu?"
Gaara berhenti, berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Dalam beberapa kasus, ya. Tapi itu berguna untukmu."
"Seperti cetakan roti."
"Atau jamur dibawah tanah?"
Ino menepuk bahu Gaara lembut. "Jangan pernah mencoba memakan apapun yang mungkin beracun didepanku, lagi."
Gaara menatap bahu yang baru saja dipukul Ino, lalu berkata,"Kurasa akhirnya aku bisa memahami darimana kau berasal."
Ino berkedip. Terkejut denga perubahan mendadak nada suara Gaara. Lalu, seolah-olah alam sedang membaca suasana hatinya, karena tiba-tiba saja ada angin kencang dan matahari bersembunyi dibalik kumpulan awan diatas mereka. Ino menyibakkan poni yang menutupi matanya. "Tidak ada yang harus difahami. Aku adalah orang yang sangat sederhana."
"Ya. Aku hanya tidak pernah tau kenapa aku selalu merasa kau jauh lebih rumit dari kelihatannya." Gaara menopangkan tubuhnya ditangannya, melihat keatas langit dengan mata sayunya. Rambut merahnya tersibak angin dan menyikat kerah jubahnya.
Ino memandangnya, sedikit terpukau dengan cara rambut merah itu teracak-acak olah angin. Sekali lagi Ino bertanya-tanya kenapa pria mempesona ini harus menghabiskan waktunya begitu banyak hanya untuk mengejar seorang Kunoichi yang bahkan tak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Yah, membuatnya tertarik dan Ino tak memungkiri sekarang dia tertarik pada Gaara. Tapi Ino tetap mengerti kenapa Gaara berusaha sangat keras hanya untuk memenangkan hatinya ketika pria itu bisa mendapatkan siapapun yang dia inginkan.
Ino menurunkan tatapannya saat dia memainkan rumput dibawahnya. "Apa yang sebenarnya kau lihat dalam diriku, sih?"
Ino terlonjak ketika Gaara dengan lembut menempatkan tangannya diatas tangan Ino. "Tak banyak, aku merasa kau menyembunyikan banyak hal dariku. Tapi apa yang kulihat sudah cukup." Gaara berhenti sejenak, meremas tangannya dengan lembut. "Chouji menceritakan tentang bagaimana kau selalu mencoba menjadi ibu untuk semua orang disekitarmu. Mungkin itu terjadi begitu saja padamu, karena pesan terakhir gurumu saat dia sekarat. Tapi kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik dibanyak situasi. "
Ino merasa wajahnya memanas ketika Gaara menjalinkan jari-jarinya yang terpaut dengan jari-jari Ino, lalu Gaara mengangkatnya kebibirnya perlahan. Ino memperhatikan Gaara, ketika perlahan-lahan pria itu menekankan bibirnya ke ruas jarinya. Ino mencoba menarik diri. Tapi Gaara menggenggamnya erat, mempertemukan mata mereka. Ino cepat-cepat mengalihkan tatapannya. "Aku tidak tau kenapa kau mencoba terlalu keras sementara kau bisa membuat hampir seluruh gadis Kunoichi di Suna berlutut dikakimu dan juga -."
"Aku menginginkanmu."
"Kenapa?" Tanya Ino, benar-benar penasaran.
Gaara menurunkan tangan Ino, menekankannya lembut kepipinya sendiri dengan penuh cinta, membuat Ino memerah parah. "Memangnya kenapa kalau aku hanya ingin bersamamu?"
Ino mengerutkan bibirnya, mencari alasan yang cukup bagus untuk menghindarinya. Ino memandang cemas pada Gaara, sebagian dirinya penasaran dimana Gaara merencanakan semua percakapan ini.
Gaara meraih tangannya yang lain dan meremasnya lembut. "Aku tidak memintamu untuk berubah. Karena akupun tak bisa merubah cita-citaku sendiri ketika seseorang tiba-tiba memintanya. Aku tau seberapa keras usahamu untuk bisa sampai pada posisimu sekarang, dan aku mengagumi dedikasimu untuk desamu. "
Ino tersenyum sedih. Dia tau secara pribadi dari Naruto bagaimana Gaara bekerja keras untuk meraih tempatnya sekarang, mungkin lebih keras dari usaha yang dia lakukan. Menjadi Kazekage diusia enam belas tahun ada prestasi yang tidak mudah, tak banyak yang bisa melakukannya. Ino bertanya-tanya, bagaimana Gaara dan Naruto, yang sudah berjuang jauh lebih keras darinya, bisa membuat perubahan yang mengesankan antara dulu dan sekarang.
Mungkin itulah yang membuat mereka jauh lebih istimewa dari dirinya.
"Ino, Apa salah kalau aku sangat mencintaimu?" tanya gaara.
Ino tertawa kecil. Bagaimana bisa pria ini begitu keras kepala? "Sejujurnya? Aku punya seseorang yang ingin aku rekomendasikan."
Mendengar hal itu, Gaara meletakkan kedua tangannya dibahu Ino, menatapnya dengan pandangan datar, dan perlahan meremas bahu itu lembut. Lalu detik selanjutnya secara mengejutkan Gaara mendorong Ino ke rumput, menahan bahunya dan mulai menindih Ino di atasnya hingga sesak.
"Apa yang harus kukatakan untuk membuatmu menyadari kalau kau sudah cukup baik. Bahkan sangat baik untukku" Geram Gaara. Jari-jarinya meremas bahu Ino.
Ino, secara naluriah mencoba mendorongnya menjauh, tapi Gaara terlalu cepat dan kuat. Gaara dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan mengangkatnya ke atas kepala Ino, menahannya untuk membebaskan diri.
"K..kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Ino terbata-bata, untuk beberapa saat merasa takut dengan kekuatan yang dimiliki Gaara. Ino mencoba untuk menaikkan lututnya. Tapi Gaara tak membiarkannya, dia menurunkan tubuhnya lebih rendah dan menahan lutut Ino dengan kaki dibawahnya. Ruang terbuka di pemakaman tiba-tiba terasa lebih luas dari kelihatannya. Ino berdoa pada Tuhan, semoga tidak ada orang yang tiba-tiba lewat disekitar mereka berdua. Tapi sudah terlalu tidak nyaman dengan keaadaan mereka, Gaara menindihnya penuh hasrat didepan makam Sarutobi Asuma. Gurunya itu pasti akan tersinggung jika menonton mereka dari surga.
"Aku sudah mencoba segala cara. Aku mencobaa untuk bersabar. Aku mencoba untuk menjadi pria sejati yang romantis. Pada satu titik aku bahkan mencoba menjadi pria mesum. Aku mencoba marah padamu. Tapi tampaknya semua itu tak berhasil padamu, Yamanaka Ino," Gaara mendesis, matanya bergerak-gerak penuh nafsu mencari sesuatu yang hanya dia yang tau. Gaara tampak….liar dari biasanya
Nafas Ino tercekat ketika Gaara menyipitkan mata padanya. "Ga-Gaara ..?"
"Kau berkerja diantara bunga-bunga dan membuat sesuatu yang indah dengan tanganmu, dan saat itulah aku tertarik padamu untuk pertama kali. Dan keberuntungan berpihak padaku -walau kau menganggapnya sebagai kesialan- kita bisa bersama selama beberapa jam dalam kegelapan di dalam gua, dan dalam waktu singkat aku tau kalau aku harus bisa mengenalmu dengan lebih baik. Aku mencoba untuk menjadi lebih dekat, dan entah apa alasannya kau malah mencoba untuk menjauh dariku dan mengatakan ada orang yang lebih baik. Tapi aku tidak butuh orang yang lebih baik darimu. Aku membutuhkanmu!" ungkap Gaara.
Ino bergidik ketika Gaara tiba-tiba tersenyum dingin padanya. "Aku seorang Kazekage. Dan sudah melakukan segalanya bahkan menjatuhkan harga diriku untukmu, menunjukkan padamu wajahku yang tanpa rasa malu mengatakan 'aku mencintaimu', yang tampaknya tak berpengaruh padamu. Tapi karena aku adalah aku, maka sekarang aku akan menunjukkan padamu bahwa Kazekage akan mendapatkan apapun yang dia inginkan. "
Ino menelan ludah. Menggeliat dibawah Gaara dan mulai merasa panik. Melihat mata Gaara mengingatkannya pada predator yang sedang menangkap mangsanya. Ino pun mengeluarkan suara tertahan ketika tiba-tiba Gaara menurunkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Apa yang kau rencanakan, Gaara?"
Gaara mencibir. "Apa lagi yang bisa kulakan? Mendapatkanmu dengan kekerasan, tentu saja."
Mata Ino melebar dan ia merasa wajahnya terbakar. "A-apa ?!"
Gaara mengabaikannya. Gaara merendahkan kepalanya, menelusupkan wajahnya ke lekukan leher gadisnya. Ino tersentak saat merasakan bibir Gaara dikulitnya membuat jalan naik keatas rahanya, dan menggigit cuping telinga Ino. Ino tak mengerti, dia menggigil antara ngeri atau nikmat. Tapi satu hal yang pasti, Ino tidak sepenuhnya benci dengan sensasi yang dia dapatkan. Dan Ino tau itu karena dia mulai merasa setiap otot ditubuhnya serasa luruh seperti bubur.
Ino tidak tau apa itu. Bisa jadi itu adalah angin sepoi yang bermain dengan rumput dibawah mereka dan awan diatas mereka, memberi sensasi yang cukup menghilangkan logika mereka, faktanya, saat ini mereka ada dipemakaman yang memungkinkan siapapun berjalan kearah mereka.
Atau mungkin cukup berpikir kalau Gaara sedang melakukan usaha mendapatkannya.
Dan Ino menyukainya.
"Oooh! Apa yang kalian lakukan?" kata sebuah suara dari arah kiri.
Mata Ino, yang dia tak sadar sudah menutupnya, terbuka seketika mendengar suara. Pada saat yang sama Gaara mengangkat wajahnya dari leher Ino.
Tepat di samping mereka, beberapa langkah jauhnya, berjongkok tiga anak kecil yang membawa ember, sekop dan bunga di tangan kecil mereka. Semua terlalu mendadak hingga Gaara dan Ino tidak bisa berpindah dari tempanya.
Seorang anak perempuan yang ada ditengah dua orang anak laki-laki menatap mata Gaara, malu-malu. "Anda Kazekage, bukan?"
Gaara beranjak dari atas tubuh Ino secepatnya, berusaha kembali tenang. "Ya," jawabnya pelan.
Ino merasa cengkraman tangan Gaara mengendur, dan dia tak tau apa yang membuatnya meraih tangan Gaara dan menautkan jari dengannya.
Mendapat kebenaran bahwa Gaara benar-benar Kazekage, mata dua anak laki-laki disana tampak cerah dan mereka meledak senang.
"Ibuku bilang Kazekage sedang ada didesa! Bisakah Anda mengajariku bagaimana melakukan sesuatu yang Anda lakukan pada pasir Anda? Saat Anda menghancurkan musuh Anda menjadi bubur darah sampai mereka mati dalam kematian yang menyakitkan?"
Gaara berkedip, langsung memucat.
Gadis kecil disana mengernyitkan hidung. "Jangan bodoh. Kazekage-sama tak akan melakukan itu didepan seorang gadis. Mama bilang Gaara-sama dangat keren, bisa diandalkan dan seorang pria sejati. Jadi beliau tidak akan melakukan sesuatu yang kotor seperti itu. Benarkan, Gaara-sama? "
Wajah Gaara berubah dari putih menjadi biru pucat. Di seluruh alam semesta, Ino mencoba mencari lelucon untuk hal ini. Tapi mengingat posisi mereka sekarang, dengan lutut Gaara yang masih ditekankan dengan nyaman diantara pangkal pahanya, Ino tak bisa melakukan apapun bahkan merasa semua ini lelucon konyol yang terjadi padanya.
Salah satu anak laki-laki disana melihat Gaara lalu ino, dan bertanya. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya polos.
Ino merasa wajahnya sendiri pucat. Dia tertawa kecil, memberi Gaara isyarat sebelum keduanya secara bersamaan menjawab, "Latihan!"
Ketiga anak itu berseru semangat 'Oooh!'
Anak perempuan disana menepuk tangannya gembira. "Bolehkah kami menontonnya?"
"Tidak!" Seru Gaara dan Ino tersentak pada saat yang sama.
Wajah anak-anak itu tampak kecewa. "Kenapa tidak boleh?"
Ntah kenapa Ino merasa perutnya mengejang kecewa saat Gaara tiba-tiba menarik diri darinya, duduk membelakangi anak-anak itu sambil menyikat rambutnya frustasi.
Ino duduk perlahan, merapikan roknya dan menghadap kearah ketiga anak itu. "Karena kau harus membersihkan kuburan, ingat? Itu misi kalian, kan?"
Gadis itu cemberut sedih, tapi dia dan kedua anak laki-laki itu lantas berdiri enggan. "Ya, bi" kata mereka serempak saat mereka mengumpulkan barang bawaan mereka dilengannya dan memberi Ino dan Gaara pandangan rindu.
"Cepatlah lakukan tugas kalian," Ino mengantar mereka pergi.
Dan sebagai murid akademi yang patuh, mereka melakukan apa yang dikatakan pada mereka.
Tinggallah Ino dan Gaara di hamparan rumput dan kuburan yang luas dalam kecanggungan yang mengelilingi mereka. Bahkan suara angin terdengar sangat kencang di udara..
Ino berpaling ke Gaara yang masih memunggunginya dan tangannya masih dirambutnya.
"Gaara ...?" panggil Ino lembut.
Jari Gaara menjambak rambutnya sendiri sebelum menghela dan berdiri. "Maafkan aku. Aku kehilangan kendali."
Mata Ino terbelalak dan bergegas berdiri disamping Gaara. Ino tak tau apa yang membuatnya khawatir dengan nada suara Gaara, tapi ketika dia mencoba untuk menjangkau dan menyentuh bahunya, Gaara berbalik menghadapnya, Alisnya bertaut saat dia menatap Ino begitu dengan dengan pandangan menyesal.
Ino tak tau apa yang membuatnya merasa hatinya sakit melihat Gaara. Dan berharap itu tak tercetak diwajahnya. "Kenapa kita tak membicarakan ini di tempat…pribadi?" Ino meringis. Ino bisa dengan mudah meminta Gaara mendorongnya kebawah dan membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan. Kerena ino tak bisa melakukan apapun. Tapi dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika tak ada seorangpun yang menginterupsinya.
Giliran Gaara tersenyum. Agak tidak cocok untuknya saat ini, karena wajahnya tampak hancur. "Ino."
Ino memiringkan kepalanya ke kanan, penuh harap. "Ya?."
"Aku menyerah!."
Ino mengerjab, benat-benar tak bisa mengangkap maksud perkataan Gaara. "Apa?"
"Aku mulai percaya dengan kata-katamu ketika kau bilang keberuntungan tidak ada dipihak kita. Dan bagian terburuk dari diriku muncul karena aku sangat menginginkanmu. Itu mulai menakutkan bahkan untuk diriku sendiri ." Gaara berdiri menundukkan kepalanya. "Aku tidak ingin menakutimu, seperti yang sudah kulakukan barusan, dan mengecewakan anak-anak itu."
Ino mengerjab lagi, cepat, beberapa kali, tak bisa percaya dengan apa yang baru saja Gaara berhasil menarik perhatiannya, dan sekarang dia bilang ingin menyerah? Ino tertawa lagi. ".. Tunggu sebentar, Gaara. Aku sejujurnya tidak…maksudku..Kau mendorongku seperti itu ... Kau memprovokasiku. Aku punya masalah dan aku merasa sulit dan… -"
Gaara mengerutkan kening padanya, mungkin mencoba untuk menguraikan apa yang coba dikatakan gadis itu padanya. Dia menggeleng. "Kalau dipikir lagi, aku yang mengatakan padamu untuk memperlakukanku biasa saja, tapi kemudian ketika aku sangat menginginkanmu aku memaksakannya hanya karena aku seorang Kage.. Aku tidak akan terkejut kalau kau mulai membenciku lebih dari sebelumnya."
"Aku tidak membencimu! Tidak pernah!" Seru Ino. Tiba-tiba dia merasa putus asa.
"Tapi kau juga tidak menyukaiku." Matanya lurus tertuju pada Ino, berusaha mencari sesuatu yang bertentangan dengan apa yang baru dia katakan.
Ino tertegun. Dia meremas-remas tangannya cemas, sebagian dari dirinya ingin menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Gaara dan mengatakan pada pria itu kalau dia juga menyukainya. Tapi ada sesuatu -sesuatu- yang menghalanginya.
Gaara mengangguk padanya, dan gerakan itu tampak seperti akhir bagi Ino. Dan kenyataannya dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan pada Gaara agar dia tidak salah paham. Ino mengulurkan tangan pada Gaara, kali ini untuk menyentuh walahnya. Tapi dia terlambat, dalam sekejap mata Gaara sudah pergi dalam pusaran angin dan pasir. Dan selanjutnya yang Ino tau dia berdiri didepan makam Sarutobi Asuma, Sendirian!.
.
/
.
/
.
TBC
Huft..tolong Gaara, jangan melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirimu sebagai Kazekage..
Untung aja ada tiga penyelamat cilik, kalau tidak...apa yang bakal terjadi?
Tapi, sepertinya Gaara sangat malu dan menyesal dengan perbuatan tak terhormatnya..
Apa yang akan dilakukan Ino?
Dan akan jadi seperti apa hubungan keduanya?
Nantikan di Chapter terakhir,,
Thank's minna-san
By Star Azura
