I'm Fine
21.
Theo benar-benar lelah, ia sudah beberapa kali berusaha menahan Draco agar tidak melompat dan memecahkan kepala Ronald Weasley selama mereka mendengarkan pembicaraannya dengan perempuan yang mereka sewa.
Theo tidak menyangka ada orang yang dilahirkan dengan tingkat kebrengsekkan luar biasa seperti Ron dan Ginny Weasley.
Mereka berdua berencana menculik Maura, tapi belum benar-benar tahu apa yang akan mereka lakukan begitu berhasil menculik Maura, mereka baru berencana menyekapnya di suatu tempat. Setelah menyekap Maura, Ron berencana meminta uang dalam jumlah besar dari Draco, sementara Ginny ingin agar keselamatan Maura diganti dengan jaminan bahwa Hermione pergi dari Inggris dan tidak pernah kembali lagi.
Ron dan Ginny masih berdebat apa yang harus mereka berdua lakukan, karena itu mereka belum mencoba lagi setelah gagal kemarin.
Karena Ginny kemarin gagal, kemungkinan besar dalam waktu dekat Ron yang kali ini akan mencoba menculik Maura.
Saat Theo dan Draco mendengar hal ini, Draco hampir menghampiri Ron dan memecahkan kepalanya disana, tapi Theo berhasil menahannya dan mereka mendapatkan informasi lainnya.
Di luar dugaan mereka, perempuan yang mereka sewa cukup pintar dalam memancing Ron, entah perempuan itu yang cukup pintar atau memang Ron yang terlanjur bodoh ia dengan mudahnya membongkar sendiri rencana mereka pada orang asing. Mereka mendapat informasi lagi apa yang sebenarnya menyebabkan Ron dan Ginny tidak menyukai Hermione.
Ron? Sederhana, selama ini Ron selalu mengira bahwa ia dan Hermione akan berakhir bersama, tapi kemudian Hermione hamil dengan anak dari pria lain, kemudian setelah ia tahu kalau ayah dari anak Hermione adalah Draco, ia semakin kesal, bagaimana mungkin Hermione punya anak dengan pelahap maut? Bukan hanya sekedar pelahap maut, tapi pelahap maut yang membuat kehidupannya di Hogwarts dan masa kecilnya menderita.
Jadi Ron tidak ingin melihat Hermione dan Draco bahagia, tidak saat dirinya menderita.
Saat Meghan bertanya apa motif Ginny ikut serta dalam rencana jahat mereka, Ron hanya menjawab ala kadarnya. Ron memberitahu kalau dari kecil Ginny memang tidak pernah begitu menyukai Hermione, pertama karena ia seorang kelahiran muggle, seluruh anggota keluarganya mungkin bisa berdiri membela hak-hak mereka yang merupakan Muggleborn, tapi Ginny sendiri sebenarnya tidak begitu menyukai pada kelahiran Muggle, terutama mereka yang punya keahlian dan kemampuan hebat.
Kedua, karena Ginny merasa yang seharusnya mendapat sebutan Gryffindor Princess adalah dirinya, bukan Hermione. Ketiga, karena Harry. Harry Potter selalu merasa kalau Hermione lebih penting dari Ginny, bagi Harry sahabatnya lebih penting dan hal itu membuatnya kesal.
Belum lagi sekarang Hermione tiba-tiba muncul lagi dengan Draco Malfoy disampingnya, membuat Ginny semakin iri setengah mati.
Jadi alasan mereka berdua begitu sederhana, iri hati. Dan hal itu yang membuat Draco dan Theo benar-benar tidak habis pikir.
"Uncle Theo, ayo makan." Maura tiba-tiba berseru, membuat Theo yang tadinya kelelahan tersenyum.
Theo mengangguk, ia bangkit dari sofa di ruang bermain Maura dan berjalan ke arah ruang makan dengan Maura disampingnya.
"Maura, dimana ayahmu?" Theo bertanya.
"Daddy dan Mommy ada di kamar, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, pintunya dikunci." Maura memberitahu dengan polosnya.
Theo tertawa terbahak-bahak dan mereka sampai di ruang makan, Lucius dan Narcissa sudah duduk di meja makan menunggu mereka.
"Theo.." Lucius berseru. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" Lucius bertanya penasaran.
"Sudahlah Lucius, nanti saja." Narcisssa memotong pembicaraan Lucius dengan Theo, ia paling tidak suka ada pembicaraan serius di meja makan.
"Maura, dimana kedua orangtuamu?" Lucius bertanya pada Maura yang sedang memanjat kursi di samping Narcissa.
"Mereka di kamar." Maura memberitahu begitu ia berhasil duduk di kursinya sendiri, Narcissa berusaha membantunya naik tapi ia menolaknya. Theo juga berusaha membantunya naik tadi tapi Maura menolak dan berkata ia bisa melakukannya sendiri.
Lucius hanya memutar matanya kemudian bergumam sesuatu seperti masih terang dan tidak tahu prioritas.
"Maura, haruskah kita makan duluan?" Narcissa bertanya pada Maura yang duduk di sampingnya.
Maura mengangguk. "Aku sudah lapar."
"Baiklah, kalau begitu kita makan duluan." Lucius langsung memutuskan begitu mendengar kalau cucunya sudah lapar, tidak lagi memikirkan untuk menunggu Draco dan Hermione.
"Theo, apa kau sudah punya kekasih?" Narcissa bertanya santai saat mereka makan.
Theo yang duduk di sebrang Maura nyaris tersedak karena pertanyaan Narcissa barusan, begitu ia berhasil menelan makanan dimulutnya ia menggeleng. "Belum."
Narcissa tersenyum, ia diberitahu Hermione kalau sepertinya Theo tertarik pada Luna Lovegood. "Apa kau tidak ingin menikah dalam waktu dekat?" Narcissa bertanya lagi.
Theo tertawa canggung. "Belum, aku belum memikirkannya."
"Ah, sayang sekali padahal aku punya beberapa kenalan yang sepertinya cocok untukmu." Narcissa berseru lagi.
Saat mereka mulai makan, Hermione dan Draco memasuki ruangan.
Lucius dan Theo memutar mata mereka bersamaan.
"Mommy." Maura berseru senang. "Kenapa kalian tadi mengunci pintu? Aku tidak bisa masuk dan memanggil kalian untuk makan malam bersama." Hermione memberitahu kedua orangtuanya.
Hermione duduk di samping Maura dan mengalihkan perhatiannya sementara Draco duduk di samping Theo.
"Jadi apa yang kalian berdua dapatkan hari ini?" Lucius bertanya lagi pada Draco.
"Grandfather." Maura berseru. "Kan tadi Grandmother bilang nanti saja." Maura memberitahu Lucius, membuat semua orang dewasa disekitarnya tertawa.
.
"Theo? Kau sudah mau pulang?" Hermione bertanya pada Theo yang baru saja berpamitan padanya, Draco juga Maura.
Theo mengangguk, ia benar-benar kelelahan sekarang, setelah makan malam tadi ia bermain lagi dengan Maura, dan ia tidak tahu kalau bermain dengan seorang anak berumur empat tahun bisa benar-benar melelahkan.
"Uncle Theo, apa kau akan kesini lagi besok?" Maura bertanya.
Theo tertawa, tentu saja ia ingin datang lagi, tapi sepertinya ia akan terlalu lelah untuk bagun besok pagi.
"Entahlah Maura, kurasa Uncle ada pekerjaan besok." Theo memberitahu.
Draco tertawa terbahak-bahak tidak jauh dari mereka begitu mendengar alasan Theo.
Hermione juga menahan tawanya, tapi ia mengerti kalau Theo pasti lelah bermain dengan Maura seharian.
Maura yang berdiri di samping Hermione langsung sedih, tapi kemudian sepertinya sesuatu terlintas di pikirannya. "Mommy, apa besok Aunty Luna jadi datang ke sini?" Maura bertanya.
"Iya, sepulang mengajar ia akan datang kesini." Hermione memberitahu Maura.
Draco yang duduk di sofa tidak jauh dari situ melihat ekspresi Theo yang langsung kosong.
"Oh…" Maura berseru lagi. "Baiklah kalau begitu, tidak masalah, aku bisa bermain dengan Aunty Luna besok." Maura berseru senang.
"Um, Maura, kurasa aku bisa datang besok." Theo mengubah pikirannya.
"Benarkah?" Maura bertanya senang, tentu saja semakin banyak orang yang bermain dengannya akan semakin bagus.
.
"Aku dan Draco sudah benar-benar merasa kalau ia memang perlu pergi ke TK, bertemu dan bersosialisasi dengan anak-anak seumurannya, tapi kami tidak bisa mengambil risiko." Hermione memberitahu Luna.
Luna mengangguk. "Aku mengerti Hermione, tapi apa tidak ada cara lain agar ia bisa pergi ke TK? Bagaimana jika meminta bantuan Auror? Bagaimana jika meminta satu atau dua Auror berjaga untuk Maura?"
"Draco tidak percaya pada Auror." Hermione memberitahu lagi.
Luna diam saja.
"Ah, Luna, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu." Hermione tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apa itu?"
"Apa hubunganmu dengan Harry berkembang?" Hermione langsung bertanya.
Luna tertawa pelan, ia kemudian menggeleng. "Ia mengajakku makan siang beberapa hari yang lalu, tapi kemudian membatalkan beberapa menit sebelum makan siang." Luna memberitahu. "Ada tugas penting katanya."
Hermione memutar matanya. Hermione dan Draco sedang bersaing, mereka berdua tahu kalau Harry dan Theo sama-sama menyukai Luna, sekarang masalahnya adalah siapa yang akan dipilih Luna. Hermione jelas-jelas ingin Luna dengan Harry, sementara Draco ingin Luna dengan Theo, jadi bukan hanya Theo dan Harry yang harus bersaing, tapi Draco dan Hermione juga.
"Kenapa memangnya?" Luna bertanya lagi pada Hermione.
"Apa kau menyukai Harry?" Hermione bertanya lagi.
Luna tidak menjawab, ia tertawa pelan, kemudian berdiri dari kursi taman yang mereka duduki dan pergi ke pinggir danau dimana Maura sedang bermain tanah.
"Ugh, kurasa aku harus memberi Harry pelajaran dasar tentang mendekati perempuan." Hermione berseru sendiri.
Hermione baru akan berjalan mendekat ke arah Luna dan Maura yang sedang bermain saat salah satu peri rumah menghampirinya.
"Miss Granger, Master Theo datang dan ingin bermain dengan Miss Maura." Peri rumah itu memberitahu.
"Suruh Theo kesini." Hermione memberitahu. Ia memang akan lebih senang jika Harry yang mendapatkan Luna, tapi bukan berarti ia akan menghalangi Theo.
Tidak lama Theo datang. "Selamat sore Hermione." Theo menyapa Hermione.
"Selamat sore Theo." Hermione balas menyapa. "Kau datang hari ini untuk bermain dengan Maura atau dengan ibu baptisnya?" Hermione kemudian tertawa dan berjalan ke arah Maura, memberitahunya kalau Uncle Theo sudah datang.
"Uncle, Uncle…" Maura berseru senang. "Aku dan Aunty Luna baru akan berenang, apa kau mau ikut?" Maura bertanya polos, membuat Theo memerah seperti kepiting rebus.
.
"Theo, biar aku tanya ini sekali." Draco berseru pada temannya itu.
"Apa?" Theo berseru.
"Apa kau menyukai Luna?" Draco bertanya.
"Apa urusannya denganmu?" Theo bertanya balik.
"Well, karena ia ibu baptis dari anakku, dan sahabat baik calon istriku, aku tidak akan membiarkanmu bermain-main dengannya."
Theo menghela nafasnya.
"Jadi?" Draco bertanya lagi.
"Iya, iya aku menyukainya." Theo mengakui.
Draco tersenyum penuh kemenangan. "Theo, aku dan Hermione sedang bersaing." Draco memulai.
Draco kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi diantaranya dan Hermione, bagaimana ia dan Hermione bersaing dan sama-sama ingin sahabat mereka mendapatkan Luna Lovegood.
"Aku akan membantumu mendapatkan Miss Lovegood." Draco memberitahu.
Theo menghela nafasnya.
"Kenapa kau menghela nafasmu terus?" Draco bertanya.
"Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Theo berseru frustasi.
"Apa maksudmu?" Draco tidak mengerti. "For Merlin sake Theo, kau bahkan punya lebih banyak daftar mantan kekasih dariku, apa yang tidak kau ketahui?"
Theo menghela nafasnya lagi.
"Theo, aku bersumpah jika kau menghela nafasmu sekali lagi aku akan mencabut hidungmu dan membuatmu nose-less seperti dark lord."
Theo baru akan menghela nafasnya lagi, tapi kemudian ia menahannya.
"Kau tahu persis tipe-tipe perempuan yang pernah menjadi mantan-ku Draco." Theo berseru sarkas.
"Ah…" Draco seketika mengerti.
"Jadi apa yang harus kulakukan?" Theo bertanya pelan.
"Well, kau bisa mulai dengan mengajaknya makan siang atau minum kopi bersama." Lucius berseru dari depan pintu.
.
"Hermione." Narcissa memanggil Hermione yang sedang mengajari Maura tentang beberapa hal-hal sihir.
"Iya?" Hermione berseru.
"Apa kau sudah menghubungi Mr. Potter?" Narcissa bertanya.
Hermione menggeleng. "Aku baru berencana menghubunginya nanti malam."
"Kita harus bergerak cepat, karena sekarang Lucius sudah ikut membantu Draco." Narcissa berseru setengah panik.
"Benarkah?" Hermione bertanya tidak percaya.
Narcissa mengangguk lagi. Awalnya Narcissa mendukung agar Theo bersama Luna, tapi itu sebelum ia tahu kalau Harry Potter juga menyukai Luna Lovegood. Tidak banyak yang tahu, tapi ia dan Harry sedikit punya ikatan batin setelah malam ia berbohong pada Voldemort.
Jadi begitu Hermione memberitahunya kalau Harry juga menyukai Luna maka ia langsung berada di sisi yang sama dengan Hermione dan Harry.
"Um, baiklah, aku akan menghubungi Harry sekarang. Narcissa, bisa kau temani Maura sebentar?" Hermione bertanya lagi.
"Iya, iya, tentu saja." Narcissa kemudian duduk di samping Maura dan membantu Maura belajar lagi sementara Hermione pergi ke saluran floo terdekat.
Hermione melihat ke jam tangannya untuk memastikan apa Harry sudah pulang dari kementrian atau belum, ia lalu menghubungi Harry, ia tidak tahu shift apa yang diambil Harry hari ini, tapi semoga ia ada di rumah.
.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku Harry Potter!" Ginny berteriak dari depan rumah kediaman Harry.
"Master Harry tidak ingin bertemu dengan Miss Weasley." Kreacher berseru cukup kencang dari dalam rumah untuk didengar Ginny yang terus-menerus menggedor pintu.
"Peri-rumah sialan! Buka pintunya atau aku akan menghabisimu dengan tanganku." Ginny berseru ganas.
Harry menghampiri Kreacher yang berdiri di pintu bagian dalam.
"Sudah berapa lama ia disini?" Harry bertanya pelan pada Kreacher.
"Sudah hampir satu jam." Kreacher memberitahu lagi.
"Apa yang harus kita lakukan Kreacher?" Harry bertanya, ia sudah benar-benar lelah menghadapi perempuan di depan rumahnya itu, belakangan ini Harry hanya mengambil shift malam di kantor Auror agar tidak bertemu dengannya, tapi ia terus menerus berusaha dan mendatangi Harry.
"Kreacher bisa keluar dan dengan mudah melempar Miss Weasley keluar dari properti ini." Kreacher memberitahu.
Harry tertawa ia kemudian menggeleng. "Haruskah aku menemuinya?" Harry bertanya lagi.
Kreacher hanya bisa menggeleng pelan.
Saluran floo Harry berbunyi dan suara Hermione terdengar dari situ.
"Harry, kau dirumah?" Hermione berseru.
"Hermione?" Harry memastikan. "Ada apa?"
"Apa kau sibuk? Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan." Hermione memberitahu.
"Tidak, aku tidak sibuk, masih ada beberapa waktu sebelum aku berangkat." Harry memberitahu lagi.
"Kau mengambil shift malam?" Hermione bertanya memastikan.
"Iya." Harry memberitahu.
"Tunggu sebentar, aku akan kesana." Hermione memberitahu lalu suaranya menghilang, ia tidak lama api hijau berkobar dan Hermione muncul.
"Kukira jika pangkat seorang Auror sudah tinggi, ia tidak lagi mengambil shift malam." Hermione memberitahu, ia dan Harry berjalan ke arah ruang tamu.
"Well, kebanyakan memang melakukannya." Harry memberitahu, mereka duduk di ruang tamu. "Ada apa?" Harry bertanya.
"Aku ingin tahu, apa kau menyukai Luna?" Hermione bertanya langsung.
Harry terdiam, ia berpikir sebentar, ia kemudian tersenyum. "Kurasa dari kita masih di Hogwarts aku sudah tertarik padanya." Harry berkata jujur.
"Harry, kau harus bergerak cepat." Hermione berseru cemas. Ia kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi, bagaimana ia dan Narcissa ingin Harry mendekati Luna, sementara Draco dan Lucius mendukung Theo.
"Ah…" Harry mengerti. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Harry berseru lagi. "Kenapa kalian begitu heboh, padahal belum tentu Luna ingin dengan salah satu dari kami?" Harry memberitahu lagi.
Tiba-tiba suara keras berbunyi dari luar.
"Apa itu?" Hermione bertanya.
Harry menghela nafasnya. "Ginny Weasley."
"Harry Potter!" Ginny berteriak kencang, suaranya sekarang benar-benar jelas dan itu berarti ia sudah masuk ke dalam.
"Astaga, apa ia baru saja menjebol pintu rumahku?" Harry bertanya, ia berdiri dan setengah berlari ke arah pintu depan.
"Ginny! Apa yang kau lakukan?" Harry berteriak begitu ia melihat Kreacher terbaring di lantai.
Hermione yang mengikuti Harry dari belakang tidak percaya apa yang dilihatnya, pintu depan Grimmauld Place hancur, dan Kreacher terbaring lemah di lantai di dekat Ginny.
"Apa yang kau lakukan disini Granger?!" Ginny berteriak melengking begitu melihat Hermione di belakang Harry.
"Apapun yang kulakukan disini bukan urusanmu." Hermione berseru, ia ingin menghampiri Kreacher tapi Harry menahannya, jika mereka menghampiri Kreacher sekarang Ginny kemungkinan besar bisa menyerang mereka dengan mudahnya.
Hermione dan Harry menggenggam tongkat mereka erat-erat.
Ginny mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya pada Harry juga Hermione. "Hermione, aku tidak tahu kenapa kau begitu serakah! Kau sudah mendapatkan Draco dan sekarang kau berusaha mengambil Harry juga dariku!"
"Hermione tidak pernah mengambilku darimu Ginny. Apa kau pikir aku barang?" Harry berseru.
"Ia mengambilmu, dari dulu, dari pertama kita masih kecil sampai sekarang kau selalu lebih memilih Hermione dariku!" Ginny berseru kesal.
"Ginny." Hermione berseru pelan. "Apa yang kau inginkan?" Hermione berseru. "Aku tidak tahu apa salahku padamu Ginny, kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini?" Hermione berseru, menatap langsung ke mata Ginny.
"Aku ingin kau menghilang dari kehidupanku, tidak, lebih dari itu, aku ingin kau mati!" Ginny kemudian mengarahkan tongkatnya ke arah Hermione.
"Kau selalu mendapatkan semuanya, kukira ketika kau hamil entah anak siapa, aku berhasil membuat semua orang membencimu, membuat kau menyesal mengenal dunia sihir dan berhasil membuatmu pergi dengan kakimu sendiri. Tapi kenapa sekarang kau kembali dan membuat semuanya berantakan? Kenapa?" Ginny berteriak melengking.
Hermione dan Harry hanya bisa menggeleng pelan. Hermione kemudian menyadari kalau Kreacher perlahan-lahan bergerak menjauh dari jangkauan Ginny dengan menyeret tubuhnya dengan tangannya yang masih bisa bergerak lemah.
Hermione hanya tinggal menunggu beberapa saat, ketika Kreacher sudah cukup jauh dari Ginny dan cukup dekat dengannya, ia bisa ber-disapparating dan membawa Kreacher keluar dari sini.
"Ginny, apa yang ada dipikiranmu? Kenapa kau bertindak seperti ini?" Harry bertanya lagi.
Ginny kemudian tertawa, suara tawanya melengking dan membuat Harry juga Hermione merinding. "Aku hanya ingin Hermione mati." Ginny memberitahu dengan tenangnya. "Hermione Granger. Aku salah selama ini, kukira kau akan berhenti mengganggu hidupku, tapi sekarang apa? Kau datang dan berusaha mengambil semuanya lagi dariku."
"Apa Malfoy tidak cukup untukmu? Ia bahkan punya lebih banyak uang dari Harry! Kenapa kau masih mau mengambil Harry dariku?" Ginny berseru, tiba-tiba wajahnya menjadi sangat sedih.
Perubahan emosi yang ditunjukkan Ginny benar-benar membuat Hermione dan Harry bergidik.
"Stupefy!" Ginny menyerang ke arah Hermione.
Hermione dengan mudahnya mengelakkan mantra yang diarahkan padanya.
"Ginny!" Hermione mulai terbawa emosi. "Kau sudah gila? Sadarlah!"
Ginny tertawa lagi.
"Aku tidak gila Hermione, Harry, kenapa kalian berdua terus menerus bertindak seakan-akan masalahnya ada padaku?" Ginny berseru dan melangkah semakin dekat pada Hemione dan Harry.
Harry kemudian mengulurkan tongkatnya sudah lelah dengan tingkah laku Ginny dan menyerang Ginny dengan cepat, membuatnya tidak sadarkan diri dengan mudahnya.
Hermione menghela nafasnya
.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Draco berseru penuh kekuatiran. Ia mendapat kabar kalau Hermione ada di kantor Auror dan dengan cepat menuju ke kantor Auror untuk mengetahui apa yang terjadi.
Hermione dengan cepat menjelaskan apa yang terjadi pada Draco, Hermione dan Harry menunggu anggota keluarga Weasley untuk datang dan membicarakan apa yang akan mereka lakukan pada Ginny setelah ini.
"Untuk apa menunggu anggota keluarganya datang? Kau seharusnya langsung memasukkannya ke Azkaban!" Draco berseru kesal. "Atau paling tidak memasukkannya ke rumah sakit jiwa!"
"Draco." Hermione berseru pelan.
"Apa Hermione? kau masih mau membelanya? Ia sudah membahayakanmu, bagaimana jika setelah ini ia melakukan hal-hal yang lebih buruk? Bagaimana jika ia melakukan sesuatu pada Maura?"
Hermione dan Harry menghela nafasnya.
"Kami tidak bisa menangkap seseorang dan mengurungnya dalam Azkaban hanya karena stupefy Malfoy." Harry memberitahu lagi.
"Hanya karena stupefy?" Draco berteriak kesal. "Perempuan gila ini sudah memaksa masuk ke apartement kami dan mengancam keamanan Maura!" Draco berseru lagi. "Apa aku harus memasukkannya ke penjara bawah tanah di Malfoy Manor?" Draco berseru benar-benar tidak percaya apa yang dikatakan Harry Potter padanya, bagaimana mungkin ia menganggap remeh semua yang dilakukan Ginny Weasley.
Hermione diam, ia berpikir keras, apa yang dikatakan Draco ada benarnya, tapi apa yang dikatakan Harry juga benar.
"Harry?" Arthur Weasley dan George Weasley akhirnya tiba.
"Harry, Hermione apa yang terjadi?" George bertanya.
Harry kemudian menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa mereka menahan Ginny sekarang, juga memberitahu tentang Ginny yang diam-diam masuk ke apartement Draco dan Hermione.
"Apa kau bersungguh-sungguh dengan ceritamu barusan?" Arthur bertanya sedikit ragu.
Harry mengangguk.
Hermione dan Draco saling melirik, mereka belum memberitahu Harry tentang apa yang di dengar Draco dan Theo dari Ron tempo hari. Entah mengapa keduanya ragu, meskipun mereka tahu Harry akan berusaha menegakkan keadilan, mereka berdua ragu kalau Auror bisa menyelesaikan masalah Ron dan Ginny kali ini.
"Aku tidak tahu apa yang salah dengannya." George berseru.
"Harry, menurutmu apa yang harus dilakukan terhadap Ginny?" Arthur bertanya, berusaha bijak, ia tahu Ginny sudah membuat masalah.
"Kurasa yang paling baik untuk saat ini adalah menahannya untuk sementara, kami mungkin akan mengintrogasinya akan beberapa hal, kami juga akan meminta bantuan dari St. Mungo kemudian dengan keputusan berdasarkan pendapat Healer, kami akan menentukan apa yang akan dilakukan terhadap Ginny." Harry memberitahu, mode Auror-nya sedang menyala.
George dan Arthur mengangguk sementara Draco memutar mataanya.
Draco jelas tidak puas dengan hal ini, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Setidaknya jika Ginny ditahan ia hanya tinggal mengkuatirkan Ron Weasley.
"Hermione." Arthur berseru pada Hermione, "Aku minta maaf, aku tahu Ginny pasti membuat keluarga kalian tidak tenang, aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya, aku atas nama keluarga Weasley minta maaf padamu dan pada Mr. Malfoy." Arthur memberitahu.
Hermione mengangguk, tersenyum kecil pada Arthur . "Tidak apa-apa Mr. Weasley." Hermione memberitahu, ia tidak lagi memanggilnya Arthur seperti dulu.
Arthur mengangguk.
"Kalau begitu aku dan Hermione pulang dulu Potter." Draco memberitahu.
Harry mengangguk. "Jika ada perkembangan aku akan menghubungi kalian."
Hermione berdiri dan Draco langsung menggandeng tangannya, mereka baru akan berjalan ke arah saluran floo saat Hermione tiba-tiba bertanya sesuatu pada Draco.
"Haruskah kita memberitahu mereka tentang Ron?" Hermione bertanya pelan.
Draco menggeleng.
-To Be Continued-
A/N : Hallo... maaf diriku lama tidak update, sebenarnya ada banyak alasan yang bisa kuberikan ke kalian semua yang menyukai dan menunggu update-an dari cerita ini, tapi aku tahu alasan akan hanya jadi alasan, so here is it. Aku tahu chapter ini cenderung sedikit filler, tapi inilah chapter 21.. so, as always, Read and Review..
