"Sebaiknya aku minum apa ? Jus atau cola, ya ?" Sehun bertanya pada dirinya sendiri saat melihat isi kulkas sambil menaruh telunjuknya di dagu. "Mungkin lebih enak cola di cuaca panas seperti ini." Dirinya menjawab sendiri pertanyaannya dan segera mengambil sekaleng cola lalu menutup kulkas dan membuka cola itu. Ia segera kembali ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat serta menguncinya lalu ia mengambil ponselnya yang terletak di atas rak. Sehun segera membaringkan tubuhnya dengan sebagian tubuh ia sandarkan pada kepala ranjang. "Sial." Sehun mengumpat setelah melihat ponselnya yang tidak ada pemberitahuan apapun. Entah pesan masuk ataupun telepon yang tidak terjawab. "Sebenarnya sesibuk apa dirinya ?" Ia bergumam lagi sambil mengetuk layar ponselnya dengan kasar, tidak peduli itu akan merusak ponselnya atau tidak. Karena sekarang yang lebih penting adalah mencari kabar tentang orang itu. Orang yang selalu memberikan suatu harapan pada Sehun. Entah itu harapan palsu atau bukan, Sehun juga tidak mengetahui kepastiannya. Karena itu adalah harapan dan ia tidak tahu bagaimana cara mengetahui asli atau tidaknya. Harapan tidak seperti suatu barang yang dapat diperiksa keasliannya. "Dua hari lagi umurku bertambah. Tapi mengapa tidak ada tanda-tanda bahwa ia masih mengingatku ?" Sehun terus menerus menggumamkan pertanyaan dan umpatan sambil memainkan ponselnya. "Sibuk juga ada batasnya." Sehun mengumpat setelah bergumam. Matanya membelalak saat tiba-tiba ponselnya berbunyi beserta dengan getaran. Lalu menampilkan sebuah nama orang yang memanggilnya. Orang yang selalu ia tunggu-tunggu panggilan maupun pesannya. Ia mengangkat panggilan itu dengan senyum yang sumringah tapi tidak ada satu katapun yang ia ucapkan setelah mengangkatnya. Orang yang menelpon Sehun juga tahu bahwa Sehun sudah mengangkatnya, tapi ia tetap enggan membuka suara. Bukan karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan tapi ini karena rasa canggung yang menyelimuti hati mereka. "Sedang apa ?" Orang dari seberang telepon akhirnya mengeluarkan suaranya setelah dua menit membisu. "Aku sedang melihat kabar tentangmu." Sungguh jujur jawaban yang Sehun berikan pada orang itu, bahkan orang di seberang telepon terdengar berdecih. "Untuk apa ?" Tanya orang itu, Luhan dengan suara bergetar. "Hanya karena bosan." Sehun menjawab dengan cepat. "Dan karena sudah seminggu ini kau tidak memberiku pesan ataupun menelpon." Lanjut Sehun lagi dengan senyuman yang tulus, sangat disayangkan bahwa Luhan tidak dapat melihat wajahnya kali ini. Luhan hanya diam mendengar penjelasan Sehun sambil tersenyum manis. "Aku merindukanmu, Lu." Sehun berkata dengan pelan "Memangnya kau tidak merindukanku ?" Sehun bertanya setelah menunggu Luhan yang tetap bungkam. "Ya. Aku juga mer--" Tiba-tiba kalimat Luhan terhenti. Sehun segera memeriksa ponselnya. Apakah itu karena koneksi atau apa ? Ia melihat layar ponselnya sudah mati. "SIALAN." Pekik Sehun sambil membanting ponselnya ke lantai. "BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN HAL KEJI PADAKU SEPERTI INI ? DASAR PONSEL SIALAN. BAGAIMANA BISA BATERAINYA HABIS DI SAAT-SAAT YANG BAGUS ?" Pekiknya lagi dengan suara nyaring yang bahkan dapat terdengar hingga ke ruang tamu.
-END-
Makasih udh mau read, like, follow, dan review cerita 'aneh' ini yaaaa...
