Dislaimer: I own nothing but the plot and maybe several OC's
Harry tidak bisa mendengar apapun. Tidak bisa merasakan apapun. Dia sempat melihat ke sekelilingnya, orang-orang berdiri mematung melihatnya. Kemudian—
Gelap.
Chapter 20
Ketika Harry terbangun, dia mengharapkan Hermione ada disisinya, tersenyum padanya. Harry sama sekali tidak menyangka kalau dia akan melihat Luna Lovegood di sisi ranjangnya.
Luna terlihat tidak seperti Luna yang Harry kenal. Rambutnya diikat ekor kuda sembarangan. Di bawah kedua mata kelabunya terdapat lingkaran hitam, seperti dia tidak tidur selama berhari-hari. Kulitnya pucat dan kusam. Luna juga terlihat sangat kurus, jauh lebih kurus dari yang Harry ingat.
"Luna," Harry berbisik.
"Harry? Oh Merlin akhirnya kau bangun," Luna tersenyum kecil pada Harry. "Kau baik-baik saja? Perlu aku panggilkan seseorang?"
"Tidak. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit capek dan punggungku sakit. Tapi aku baik-baik saja. Mana Hermione?"
"Aku mengirimnya pulang. Dia sudah dua hari di sini, dia butuh istirahat. Jadi aku mengajukan diri untuk menungguimu sementara dia pulang. Lagipula putri kalian membutuhkan ibunya,"
Mata Harry berbinar. "Putriku? Rose? Dia baik-baik saja?"
"Ya Harry. Dia baik-baik saja. Snape menyelamatkannya?"
"Snape? Severus Snape?" dahi Harry berkerut.
Luna memutar matanya. "Ada Snape lain yang kita kenal?"
"Setahuku tidak. Tapi kenapa? Snape tidak pernah menyukaiku,"
"Ternyata Dumbledore benar. Selama ini, dia adalah mata-mata untuk Dumbledore. Rose ada di Malfoy Manor. Voldemort berniat membesarkannya untuk menjadi—mesin pembunuh,"
Mata Harry melebar. Lord Voldemort berniat menjadikan putrinya mesin pembunuh? Seperti Bellatrix Lestrange? Pikiran itu membuat Harry mual.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Harry.
"Hampir dua minggu,"
"APA?!"
"Jangan berteriak. Itu membuat kepalaku pening," Luna mengusap dahinya.
"Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan, tepat setelah kau mengalahkan Voldemort. Hermione histeris ketika Draco datang menjemput kami. Para Healer bilang kau kelelahan dan substansi sihirmu melemah, mereka tidak tahu kapan kau akan pulih kembali," Luna bangkit dari kursi untuk membuka jendela kamar Harry. "Banyak hal terjadi selama kau tidak sadarkan diri,"
Harry mengenali nada itu. Dia sudah mendengarnya beberapa kali. Ketika orang-orang memberitahu orangtua Cedric apa yang terjadi. Ketika mereka mengatakan Mad-Eye Moody sudah meninggal. Jadi Harry mengajukan satu pertanyaan singkat yang Harry tahu, dia tidak akan senang mendengar jawabannya.
"Siapa saja?"
Luna tidak menjadi seorang Ravenclaw tanpa alasan. Dia pintar. Sangat pintar. Dia mungkin agak eksentrik ketika dia masih kecil, tapi itu tidak membuatnya bodoh. Luna tahu betul apa yang Harry maksud. Dia memutar tubuhnya, menatap Harry yang terbaring di atas ranjang, hatinya kembali tersayat ketika bayangan orang-orang yang dulu dia kenal melewati benaknya.
"Banyak. Banyak muggle dan penyihir yang tidak kenal. Remus Lupin. Tonks. Bill Weasley. Dan—dan," Luna menelan ludah dan berbisik. "Dan Ron,"
Harry tergagap. "B—bagaimana mereka—apa—"
"Kami tidak tahu. Kami menemukan jasad Remus, Tonks dan Bill setelah kau dibawa kemari. Dan Ron—aku menemukan Ron di tempat terakhir aku melihatnya," pandangan Luna kabur.
Harry mencerna semuanya. Dia kehilangan figur orangtua terakhirnya, koneksi terakhirnya pada kedua orangtuanya. Dia membayangkan Teddy. Teddy masih sangat kecil dan dia sudah kehilangan kedua orangtuanya. Si kecil Victoire yang kehilangan ayahnya. Kemudian ada Ron. Sahabatnya, teman pertamanya. Ada waktu ketika Ron bisa sangat menyebalkan dan menguji kesabaran Harry, tapi pada kebanyakan waktu dia adalah sahabatnya, orang yang mengenalkannya pada dunia yang asing pada Harry.
Tidak ada lagi Trio Emas Gryffindor.
0oooo0oooo0
Harry keluar dari St Mungo pada akhir minggu itu. Dia sangat senang ketika Hermione menjemputnya. Harry tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya. Mereka pergi ke The Burrow dengan Floo karena Hermione tidak ingin meresikokan membawa Harry dengan Apparate.
Suasana The Burrow sangat sendu. Bagaimana tidak, mereka baru saja kehilangan dua putra mereka. Putra tertua dan putra termuda. Walau begitu, baik Arthur maupun Molly menyambut Harry dengan senyum di wajah mereka. Mereka memeluk Harry erat, mengatakan mereka lega karena Harry sudah bisa keluar dari St Mungo.
"Aku minta maaf," bisik Harry ketika Molly memeluknya.
Molly melepas Harry dan menatapnya bingung. "Maaf untuk apa Harry dear?"
"Kalau saja aku tidak melarikan diri. Mungkin mereka tidak akan—"
"Jangan," potong Molly pelan dan tegas. "Jangan menyalahkan dirimu atas kematian mereka, Harry. Itu bukan kesalahanmu,"
"Itu benar Harry, itu bukan salahmu," sahut Hermione. Dia membisikkan kalimat selanjutnya. "Ini salahku,"
"Hentikan! Kalian berdua dengarkan aku," Molly memaksa Harry dan Hermione untuk melihatnya. "Ini, semua ini, bukan salah kalian. Kalian dengar? Bukan salah kalian—"
"Jika aku diam dan mendengarkan apa kata Ron, mungkin Ron masih hidup!" Hermione mulai menangis. "Ini salahku dia mati,"
Molly menggeleng. "Ini perang. Orang-orang meninggal saat perang. Kalian tidak membunuh mereka. Pelahap Maut yang membunuh mereka. Mereka meninggal karena mereka berusaha untuk membuat dunia ini tempat yang lebih baik untuk orang-orang yang mereka sayangi. Jadi jangan pernah menyalahkan diri kalian sendiri karena kematian mereka. Hidup. Berbahagialah. Karena itu yang mereka perjuangkan. Jangan buat kematian sia-sia dengan menyalahkan diri kalian seumur hidup kalian,"
Molly memeluk Harry dan Hermione. Mereka menangis bersama.
0oooo0oooo0
"Terima kasih mate. Kau menyelamatkan istriku dan putriku. Aku tidak akan bisa membayarmu untuk itu. Untuk semua yang sudah kau dan keluargamu lakukan untukku dan Hermione,"
Harry berdiri di depan nisan sahabatnya. Dia mendengar apa yang sudah Ron lakukan untuk menyelamatkan Hermione, Rose dan Luna. Harry berharap dia bisa berterima kasih pada Ron, membayar apa yang sudah ia lakukan untuk keluarganya.
"Maaf aku meninggalkanmu," Harry menghela nafas. "Aku akan menjaga Luna dan keluargamu untukmu. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan untukmu,"
Harry mengangkat tongkatnya, seikat bunga mawar putih muncul di depan nisan Ron.
"Sekali lagi, terima kasih mate,"
0oooo0oooo0
Harry melongok ke kamar yang dulu dia tempati bersama Ron. Tempat itu masih penuh dengan barang-barang milik Ron. Poster Chudley Cannons, tim Quidditch favorit Ron, masih tertempel disana sini. Sekarang kamar itu ditempati oleh Harry dan Hermione. Di depan jendela ada sebuah tempat tidur bayi, Rose tertidur di dalamnya. Harry tersenyum, sekarang putrinya bisa tumbuh di tempat dimana dia tidak dijadikan target hanya karena dia putri dari Harry Potter dan Hermione Granger.
Tidak jauh dari Rose, si kecil Teddy tertidur di atas ranjang. Terlihat sangat damai dan tenang. Rasa bersalah menjalari Harry. Anak itu tidak lagi memiliki orangtua, seperti dirinya. Tapi Harry bersumpah, dia tidak akan membiarkan Teddy merasakan apa yang dulu dia rasakan.
"Dia akan baik-baik saja," kata Hermione. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Harry dari belakang.
"Aku tahu. Tapi apa dia akan mau tinggal dengan kita? Kita hanya orang asing untuk Teddy," mata Harry tidak lepas dari Teddy.
"Kita akan punya Molly dan Fleur membantu kita. Oh itu mengingatkanku. Arthur mengatakan ada sebuah tidak jauh dari sini dan rumah Luna yang dijual. Itu milik muggle dan perlu banyak perbaikan. Aku sudah melihatnya dan aku rasa itu sempurna,"
Harry berpikir sejenak. "Teddy tidak akan terlalu jauh dari The Burrow. Itu akan memberinya waktu untuk beradaptasi,"
"Itu yang aku pikirkan! Jadi, kau mau pergi kesana untuk melihatnya besok?"
"Tidak perlu,"
Hermione terkejut dan melepas pelukannya. "Kenapa?"
Harry memutar tubuhnya dan mengecup dahi Hermione. "Karena aku percaya padamu. Jika kau pikir tempat itu sempurna, maka tempat itu pasti sempurna,"
Hermione tersenyum, sekali lagi melingkarkan tangannya di pinggang Harry dan memeluknya erat-erat.
0oooo0oooo0
Ginny melihat ke sekitarnya, kemudian ke kopernya. Dia pikir mungkin sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal di kamarnya. Ginny mengetuk kopernya dengan tongkatnya dan dalam sekejap koper itu langsung mengecil, segera Ginny memasukkan koper kecilnya ke dalam saku.
Jam di tangan Ginny menunjukkan pukul satu dini hari.
Ginny membuka pintunya perlahan-lahan, ia berhati-hati agar tidak ada yang terbangun. Ia mengendap-endap menuruni tangga yang gelap. Ginny tahu kedua orangtuanya pasti sudah tertidur, begitu pula dengan kakak-kakaknya dan anak-anak. Dan Ginny yakin Hermione serta Harry pasti sudah terlelap di kamarnya.
Ginny mengira begitu.
Jadi ketika Ginny melewati ruang tengah rumahnya, dia tidak mengira akan menemukan Harry, berbaring di sofa dengan kedua mata tertutup. Ginny mengendap-endap memutari sofa yang Harry tempati untuk pergi mencapai pintu.
"Mau kemana kau?"
Ginny memekik pelan dan melompat di tempatnya. "Merlin! Harry kau hampir membuat jantungan!" desis Ginny kesal.
Harry bangkit dan duduk di atas sofa. Kedua alisnya terangkat menatap Ginny. "Aku? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Aku kira semua orang sudah tidur!"
"Tadi Rose terbangun dan aku tidak bisa kembali tidur. Sekarang, katakan padaku apa yang kau lakukan?" Harry melihat Ginny dari atas ke bawah dan menyadari sesuatu. "Kau mau pergi ke suatu tempat, bukan?"
"Aku harus pergi, Harry. Aku tidak bisa tetap disini,"
"Kenapa? Ini keluargamu sendiri. Lagipula, kemana kau mau pergi?"
Ginny menggeleng. "Aku tidak tahu. Blaise bilang dia punya sepupu di Prancis. Mungkin kami akan kesana untuk sementara waktu,"
"Blaise? Blaise Zabini?"
"Jangan melihatku seperti itu Harry. Blaise orang yang baik jika kau mengenalnya,"
"Aku hanya tidak tahu kau dekat dengan Zabini," Harry bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Ginny menghela nafas, bersandar pada dinding, menatap Harry yang berjalan melewatinya. "Jangan pura-pura tidak tahu,"
"Tidak tahu apa?"
Ginny menatap Harry lekat-lekat, mencari tanda-tanda bahwa Harry berbohong. Tapi dia tidak menemukannya. "Jadi kau benar-benar tidak tahu?"
Harry terlihat agak kesal. "Tahu apa?"
"Aku kira mereka sudah memberitahumu," gumam Ginny.
"Oh bloody hell Ginny, katakan padaku,"
"Aku Pelahap Maut, Harry," aku Ginny pelan. Harry terlihat tidak percaya, jadi Ginny menarik lengan bajunya, memperlihatkan tanda kegelapan di tangannya.
"Jadi itu benar," bisik Harry, matanya menatap Ginny dalam-dalam. "Apa yang aku lihat di Godric's Hollow. Itu benar-benar kau? Aku kira itu hanya bayanganku saja,"
Ginny menggeleng, menurunkan lengan bajunya. "Itu benar. Aku bergabung dengan Voldemort. Itu kenapa aku harus pergi dari sini. Aku tidak bisa ada disini lagi,"
"Gin, mereka keluargamu, mereka pasti—"
"Kau tidak mengerti Harry," potong Ginny. "Aku membunuh Katie Bell dan Lee Jordan. Kau harus melihat bagaimana Fred dan George melihatku. Aku membunuh sahabat mereka, pacar George. Aku tidak bisa ada disini, kau harus mengerti itu,"
Harry tersentak. Ginny membunuh seseorang? Tidak pernah terlintas di pikirannya.
"Aku lelah karena mereka selalu menyuruhku diam dan tidak melakukan apa-apa. Mereka bilang aku hanya anak-anak, mereka bilang aku tidak akan bisa melakukannya, mereka bilang aku hanya akan menghambat mereka. Jadi aku pergi meninggalkan orde,"
"Dan bergabung dengan Voldemort," lanjut Harry pelan.
Ginny mengangguk. "Itu kesalahan. Awalnya itu terasa benar. Mereka akhirnya melihat aku bukan gadis kecil yang tidak bisa apa-apa. Tapi mereka, Pelahap Maut, mulai mengharapkanku untuk membunuh. Semuanya berubah ketika mereka memintaku mengakhiri hidup Lee Jordan. Aku mulai merasa takut,"
Ginny tersenyum sedih, matanya berkaca-kaca. "Kau harus membiarkanku pergi. Hidup mereka akan lebih baik jika aku pergi dan aku akan lebih tenang jika aku pergi,"
"Kau putri mereka satu-satunya, Ginny. Mereka akan panik ketika tahu kau menghilang,"
"Aku sudah meninggalkan surat di kamarku, meminta mereka untuk tidak mencariku. Jadi aku mohon padamu, jangan halangi aku pergi,"
Mata hijau itu mempelajari ekspresi Ginny untuk beberapa saat sembari menimbang-nimbang apa sebaiknya dia mencegahnya pergi atau membiarkannya pergi. Tapi melihat mata itu, ekspresi itu, Harry tahu keputusan Ginny sudah bulat.
Harry tertawa pelan. "Aku mengenalmu cukup lama, Ginevra. Aku tahu apapun yang aku lakukan atau katakan tidak akan membuatmu berubah pikiran,"
Ginny tersenyum. "Itu benar Potter. Tidak ada yang bisa membuatku berubah pikiran. Sekalipun itu ibuku,"
Senyum di wajah Harry sedikit memudar. Dia ingin melindungi Ginny, memastikan dia aman dan bahagia. "Apa kau akan pulang? Suatu hari nanti,"
"Aku tidak tahu Harry. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Sekarang aku hanya ingin memperbaiki diriku sendiri, menyembuhkan lukaku. Mungkin aku akan kembali, mungkin tidak,"
"Tunggu. Kau bilang kau mau pergi ke Prancis, benar?"
Ginny mengangguk. "Blaise mungkin akan membawaku kesana,"
Harry menyeringai lebar. "Aku punya rumah di Prancis. Itu tempatku bersembunyi selama ini. Tempatnya tenang dan indah, aku yakin kau akan menyukainya,"
"Apa maksudmu Harry?" sekarang Ginny terlihat bingung.
"Maksudku, kau ambil rumah itu. Kau bisa tinggal disana dengan Zabini jika kau mau. Dan aku bersumpah aku tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun. Well. Kecuali Hermione. Karena itu rumah kami, Hermione harus tahu," Harry mengeluarkan tongkatnya dan mengambil sebuah balok yang tergeletak di atas meja. Dia mengetukkan tongkatnya pada balok tersebut sembari berbisik, "Portus,"
Harry menghampiri Ginny dan meraih tangannya, ia meletakkan balok tadi di telapak tangan Ginny. "Ini portkey untukmu mengakses rumah itu. Tinggal sebutkan Prongs dan kau akan tiba disana. Mungkin tempat itu akan butuh perbaikan setelah Pelahap Maut menemukan Tonks dan Fleur disana. Tapi aku yakin kau akan menyukai tempat itu,"
Ginny menatap balok di tangannya sesaat. "Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya pelan tanpa mengalihkan matanya dari balok itu.
"Aku menyayangimu Ginny. Kau teman baikku. Aku sudah menganggapku adikku sendiri," jawab Harry. Dia menyentuh pipi Ginny, membuat mata cokelatnya menatap mata hijau milik Harry. "Kadang aku berpikir seperti apa jadinya jika saja orangtuaku masih hidup. Mungkin aku akan memiliki adik perempuan dengan rambut merah Mum dan mata cokelat milik Dad. Sepertimu,"
"Harry. Kau ingat kita pernah berpacaran kan?" tanya Ginny, ia mengulum senyum.
Harry mengeluh. "Jangan ingatkan aku pada itu. Itu membuatku mual,"
Ginny tertawa. "Sampai beberapa bulan lalu, aku masih berpikir kau akan kembali padaku. Selama ini aku menunggumu untuk kembali padaku, bermimpi menjadi Mrs Potter seperti yang selalu aku inginkan selama ini,"
"Ginny,"
Ginny mengangkat telunjuknya. "Biarkan aku selesai bicara Potter,"
"Oke Ma'am," Harry tersenyum takjub.
"Kadang, aku masih berpikir seperti itu. Tapi sekarang—" Ginny menarik leher Harry, menciumnya tepat di bibirnya. Harry terkejut, tapi tidak menarik dirinya. Hingga beberapa saat kemudian, Ginny melepasnya.
"—sekarang rasanya seperti aku baru saja mencium Ron atau kakakku yang lain,"
Harry tertawa. "Jadi sekarang apa?"
"Sekarang aku harus pergi. Aku harus pergi sebelum semuanya terbangun,"
"Oke. Berhati-hatilah. Dan jangan lupa untuk menghubungiku dan keluargamu sesekali. Mereka perlu tahu bahwa kau baik-baik saja,"
Ginny tersenyum dan mengangguk. "Tentu,"
Harry menarik Ginny ke dalam pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Ginny.
"Selamat tinggal Harry," bisik Ginny.
"Sampai nanti, Ginny,"
Ginny tertawa kecil. "Benar. Sampai nanti, Harry,"
"Jangan lupa sampaikan pada Zabini jika dia berani menyakitimu, aku akan memburunya dan membuatnya berharap dia tidak pernah dilahirkan,"
"Harry!"
0oooo0oooo0
Harry masih berdiri di pintu dapur, melihat ke kegelapan. Ginny ber-Dissaparate beberapa menit yang lalu. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Arthur dan Molly ketika mereka bangun dan mendapati putri bungsu mereka menghilang.
"Sejak kapan kau ada disana Hermione?" tanya Harry, masih menatap ke halaman The Burrow yang gelap.
Hermione masuk ke dapur dan menghampiri Harry. "Sejak Ginny mengatakan kalau dia adalah Pelahap Maut,"
"Tidak ada yang menyangka itu. Jika Percy jadi Pelahap Maut mungkin aku hanya akan mengangkat bahu,"
"Tapi ini Ginny. Aku tahu Harry. Kau berbuat hal yang benar dengan tidak menahannya disini. Aku bisa melihat Fred dan George masih kecewa pada Ginny,"
"Aku takut Hermione. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Ron tidak akan memaafkanku,"
"Dia bukan anak kecil lagi Harry. Lagipula aku rasa dia akan aman dengan Blaise. Dan kita tahu kemana kita harus mencarinya,"
Harry menghela nafas, dia melingkarkan tangannya di pinggang Hermione dan menyandarkan kepalanya di sisi kepala Hermione. "Sekarang apa Hermione?"
"Sekarang kita terus hidup,"
End.
