Usai menerima tantangan duel. Muncul kotak penghalang, yang mengelilingi mereka berdua. Aku mengetuk berulang kali, masih berusaha menghentikan Jellal, tetapi sia-sia saja. Karena dinding itu membuat suara, yang berasal dari luar teredam. Di atas kepala mereka, muncul bar HP dan MP, kalau diingat kembali, seperti simulasi saja. Mungkin aku bisa menghela nafas lega sesaat, dengan begitu nyawa bukanlah bahan taruhan. Mavis dan Gray, nampak membicarakan suatu hal sambil berbisik. Aku merasa tidak pantas mengetahuinya.
"Kita hanya melakukan duel simulasi. Kalau pun bar HPmu habis, maka nyawamu tidak akan melayang. Peraturannya adalah, tidak boleh menerima bantuan dari orang luar. Dilarang menggunakan skill, yang berada di luar tingkatan job. Terakhir, tidak boleh menggunakan potion. Baiklah, kurasa tiga itu saja" jelas Lisanna singkat. Duel pun dimulai dalam hitungan ke tiga
Sepertinya tidak terlalu merugikan Jellal. Maksud dari skill di luar tingkatan job adalah, kemampuan spesial, yang tidak semua orang pelajari, karena sulit dan membutuhkan waktu cukup lama, meski semua tergantung pada niat masing-masing. Contoh mudahnya, yaitu sihir perubahan tangan monster milik Gray. Dalam simulasi, skill spesial itu tidak boleh digunakan. Jelas, karena belum tentu, lawan mempunyai kemampuan yang sama. Barrier dan mind barrier pun dilarang, karena bukan sihir asli dalam tingkatan job.
Sedangkan aku sendiri, merupakan job swordman, tanpa memiliki kemampuan khusus apa pun. Lagi-lagi Lisanna menggunakan bom, dalam jarak sangat dekat. Menimbulkan percikan kecil di sekitar mereka. Ternyata Jellal sangat dirugikan, dalam hal kondisi tubuh. Mau menjaga jarak pun, langkah kakinya tersendat-sendat, sehingga tak jarang, dia sering terjatuh. Aku juga menyadari satu hal, kalau dia bukanlah pengguna pedang asli, melainkan seorang mage tingkat necromancer. Kapan Jellal membalikkan keadaan?
"Great heal!"
"Tu-tunggu, kenapa kamu melakukannya?" tanyaku pada Mavis, yang mungkin sengaja menggunakan sihir penyembuh
"Tadi aku sudah menjelaskan peraturannya. Kenapa dilanggar?!" teriak Lisanna sambil menghindari serangan fisik dari Jellal. Sempat pula menggunakan shield boomerang, yang membuat lawan tidak dapat bergerak, dalam waktu tiga detik. Namun serangan ini memiliki damage cukup mengerikan
"Ehh...apa iya? Aku tidak mendengar apa pun. Habis, dinding penghalangnya meredam suaramu" ternyata mereka sudah merencakan hal tersebut. Jellal tidak mungkin menang, dengan mengandalkan kondisi yang setengah sehat. Tetapi setelah ini, Mavis tidak lagi diperbolehkan memakai sihir, setidaknya cukup membantu, karena menambah sekitar lima ribu HP
Gray lebih licik dari dugaanku, tidak mungkin Mavis yang merencakan tindakan curang tadi. Duel di antara mereka berdua semakin sengit. Meski Lisanna hanya memakai tiga macam skill, bisa dibilang dia sangat kuat, untuk seukuran blade taker, nama tingkatan lanjut dalam job rogue. Dari sini, aku bisa melihat, kalau bar HP Jellal semakin menipis. Serangan sihirnya pun sangat lemah, karena merupakan tipe vitality, yang lebih mengandalkan pertahanan fisik ketimbang magical attack. Aku memperhatikan dari jarak dekat, semakin khawatir ketika melihat sisa HP-nya tinggal lima ribu. Penggunaan potion pun dilarang dalam peraturan.
"Bodoh! Kalau terus bertahan, kapan kamu menang? Seranglah Lisanna, waktunya tinggal dua puluh detik lagi!" meski tau sia-sia, aku tetap berteriak untuk memberi semangat. Meski suaraku habis sekali pun, sama sekali bukan masalah!
"Blizzard" kaki Lisanna membeku sesaat, membuatnya tidak dapat bergerak ataupun melancarkan serangan, karena MP-nya sudah habis! Dia adalah penyerang paling gila, yang pernah kutemui seumur hidup
"Venom cloud, angelic toxic, lightning stunt" serangan terus Jellal lancarkan. Membuat HP Lisanna berkurang signifikan. Tak sampai lima detik pun, dia sudah dinyatakan K.O
Ini bukan mimpi, Jellal menang telak! Aku melakukan high five dengan Mavis dan Gray. Natsu hanya tersenyum menyaksikannya. Lisanna bangkit berdiri, dia tidak menerima kekalahkan tersebut. Terlihat jelas dari kedua sorot matanya, bersikeras ingin melakukan pertandingan ulang. Memang ini hanya duel simulasi, sehingga tidak menimbulkan luka atau hal berbahaya lainnya. Lisanna kembali memakai sihir pemanggilan, hendak menebas Jellal sampai terluka, atau mungkin terlepas salah satu anggota tubuhnya. Namun dengan mudah, dia menangkap tangan itu. Membuat jarak di antara leher dan pisau, tidak terpaut jarak.
"Terserah mau menerimanya atau tidak. Tanpa bantuan dari Mavis pun, aku akan tetap keluar, menjadi seorang pemenang. Kamu terlalu gegabah dalam menyerang, tidak masalah jika itu bukan dalam duel simulasi, yang mempertaruhkan hidup dan mati, tanpa memandang HP atau MP. Apa kamu mengerti, kenapa bisa kalah melawanku?" tanya Jellal mempertajam sorot matanya, membuat Lisanna meneguk ludah akibat merinding
"Aku kalah karena kesalahanku sendiri. Terlalu sering melancarkan sihir tanpa mempedulikan hal lain. Padahal, total MP-ku keseluruhan hanya dua ribu lebih, sedangkan total HP tiga ribu. Ma...maaf..." ucap Lisanna melepaskan pisaunya. Aku terdiam sejenak, usai melihat mereka berdua berpelukan
"Tidak apa-apa. Lain kali berpikir dahulu sebelum bertindak"
Sial...kenapa dadaku bergetar? Natsu datang menghampiri mereka berdua, tengah membicarakan sesuatu dengan Jellal. Kami bertiga menunggu, keputusan apa yang akan dibuatnya. Semoga tidak menyangkut membunuh, lebih baik diusir atau diajak bergabung. Gray belum bisa mempercayai Lisanna, tidak sampai dia memutuskan untuk keluar dari pemerintahan. Jellal menatap wajah kami satu per satu, membuat bulu kudukku sedikit merinding, karena terkesan menyeramkan.
"Aku sudah membuat keputusan. Lisanna tidak akan dibunuh. Natsu ingin agar dia bergabung. Namun, dengan satu syarat. Kamu harus mengundurkan diri tepat di depan Erza, hari ini juga setelah pulang dari sini. Kami semua menontonmu lewat portal sihir milik Mavis. Jika ketahuan berbohong, Natsu terpaksa harus membunuhmu, tepat di kepala. Kalau kamu gagal melakukannya, aku yang akan memenggal kepalamu, mengerti?" apa-apaan itu? Syarat yang sangat gila!
"Apa maksudmu? Aku harus membunuh Lisanna, kalau dia ketahuan berbohong?! Jika gagal, kamu akan memenggal kepalaku?"
"Begitulah kesimpulannya. Portal sihir milik Mavis bersifat hidup, kamu hanya perlu melempar, dan harus tepat mengenai kepala Lisanna. Itu jika dia berbohong. Aku ingin lihat, apa kamu punya nyali untuk berkhianat, atau tidak. Kesetiaanmu adalah taruhannya"
Sekarang aku dapat membuat kesimpulan baru, Jellal sangat senang mempermainkan orang lain! Natsu mati dibuat ketakutan, begitu juga Lisanna. Namun tidak ada yang menentang. Justru Gray setuju, dengan keputusan tersebut. Memang sih, kalau tidak begitu, dia bisa saja membocorkan informasi mengenai markas, kekuatan anggota, dan lain-lain. Tetapi, jika harus memenggal kepala Natsu akibat gagal? Aku jadi merasa kasihan. Dia berbalik pulang ke arah berlawanan. Sekaranglah saatnya, untuk melakukan pengadilan.
Lisanna POV
Nyawaku juga ikut dipertaruhkan sekarang. Ternyata memang, misi dari Erza-sama terlalu berat. Kenapa dia tidak meminta orang lain saja? Misalnya Mira-nee atau Jenny-san. Pasti mereka bisa menangkap anak-anak itu, tanpa perlu bersusah payah.
Sesampainya di gedung pemerintah–yang kudengar-dengar sempat hancur lebur, akibat duel antara Erza-sama dan seorang penyusup, apalagi dia juga anak terkutuk. Aku disambut senyum hangat milik Mira-nee. Mungkin dia ingin berkata "kerja bagus", atau "selamat, karena telah pulang dengan selamat", dan itu merupakan penghinaan bagiku, karena telah gagal menyelesaikan misi. Aku berjalan cuek, namun Mira-nee masih memperhatikan dari jauh. Sia-sia saja jika ditutupi.
"Hari ini kamu aneh, ada apa?" tanyanya khawatir. Aku nyaris bercerita, mengenai ancaman Jellal tadi. Mulutku ditutup seerat mungkin, langsung menggelengkan kepala pelan
"Maaf Mira-nee, aku gagal menyelesaikan misi, juga membawa Natsu pulang"
"Seharusnya kami minta maaf sama Erza-sama, bukan kakak. Tidak apa-apa, beliau pasti bisa maklum kok"
"Ta-tapi, kalau aku dihukum bagaimana?"
"Sepertinya tidak akan. Erza-sama pasti sadar, kalau misi ini terlalu sulit untukmu" jawab Mira-nee, yang semakin membuatku kesal tidak karuan. Aku memang lemah dan tidak berguna, kakakku sendiri pun berkata demikian
"Kalau begitu, kenapa Erza-sama memberi misi ini untukku?! Aku benci hanya dijadikan umpan"
"Jangan marah. Kamu tetap kebanggaannya sampai kapan pun. Melaporlah dulu, nanti nee-san ajak kamu makan di luar"
"Baik"
Ruangan berpintu besar itu kembali terlihat, setelah aku berjalan sekitar tiga menit lamanya. Seperti biasa, Erza-sama berada di sana, menikmati secangkir teh hangat di sore hari, sambil memutar lagu kesukaannya berulang kali. Dia menyambutku hangat, menunjukkan senyuman maut. Jangan salah sangka, memang di luar nampak manis, tetapi tidak dengan pemikirannya sekarang. Mau buka mulut pun, rasanya sulit sekali. Apalagi baru pertama kali, aku gagal dalam menjalankan misi.
"Lapor Erza-sama. Maaf, saya gagal merebut Natsu dan membunuh mereka"
"Ternyata misi ini terlalu sulit untukmu. Mau bagaimana lagi, aku akan menyuruh Mirajane nanti. Kamu bisa pergi sekarang"
"E...eto...ada yang ingin saya bicarakan"
"Langsung saja. Kakakmu menunggu di luar, lho"
"Sa-saya...saya mau berhenti...ta-tapi..."
Sementara itu...
Mereka berenam tengah menyaksikan, pengunduran diri Lisanna lewat portal sihir. Natsu menunggu dengan gelisah. Takut kalau dia masih setia pada Erza, namun yang paling mengerikan adalah, harus membunuhnya jika ketahuan berbohong! Belum memegang pisau pun, dia sudah gemetar terlebih dahulu. Suasana cukup tegang saat itu.
"Siapkan pisaunya, lalu lempar setelah aku memberi aba-aba" ucap Jellal memberi tanda. Ketakutannya semakin menjadi-jadi!
"Lisanna berbohong? Aku mohon jangan. Aku tidak ingin, membunuh temanku sendiri!"
"Pikirkanlah kembali. Bukankah ada cara yang lebih baik, dibanding membunuh Lisanna?" tanya Lucy berusaha membantu Natsu. Dia juga khawatir, melihat temannya sampai berwajah pucat
"Beritau aku. Apa cara yang lebih baik, agar dia bungkam?"
"I-itu...maaf, aku tidak tau" anak itu pintar sekali memutar balikkan pertanyaan. Mau menang berdebat saja sulit
Back to Lisanna POV
"Ta-tapi...aku mohon, jangan tanyai Mira-nee atau apa pun. Aku keluar, karena memiliki alasan tersendiri"
"Dan alasanmu keluar adalah?" Erza-sama seakan belum rela melepaskanku. Kalau dia acuh tak acuh, pasti langsung disetujui tanpa pikir panjang
"Karena aku membenci, caramu memperlakukan anak terkutuk"
Sementara itu...
"Lemparkan pisaunya sekarang juga. Jangan ditunda lagi" ternyata Lisanna berbohong, mengenai alasannya keluar dari pemerintahan. Natsu tidak lagi bisa mengelak. Dia terpaksa melempar pisau sesuai perintah, namun meleset dan justru tersangkut di karpet merah. Berdekatan dengan tempat Erza duduk
"Sesuai perjanjian. Kepalamu akan kupenggal sekarang juga"
"Ma...ma...maaf...aku...aku tidak bisa...melakukannya..." sebanyak apa pun ucapan maaf dari Natsu, tidak akan membuat pemikiran Jellal berubah. Pedang steno di tangan kananya terlihat siap, untuk memenggal kepala seseorang. Lucy berniat mencegah, tapi digagalkan oleh, serangan peringatan dari Jellal. Sekali lagi melawan, kepalamu juga ikut dipenggal. Mungkin itulah, yang ingin dia sampaikan
-ll-
Gawat, tak lama lagi, Jellal akan memenggal kepala Natsu! Aku harus membulatkan tekad, supaya dia dapat merasakan kesungguhan hatiku. Erza-sama memperhatikan pisau itu dari dekat, kemudian menusuknya di atas permukaan meja. Mengisyaratkan, bahwa aku diminta buka mulut sekarang juga, memberi penjelasan dan segera meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, nyawaku kembali menjadi taruhan.
"Erza-sama. Aku membenci segala perlakuanmu terhadapku. Orang tepercaya apanya, justru aku merasa, dijadikan umpan olehmu. Selalu Mira-nee yang mendapat perhatian serta dipuji. Semua pun berkata, aku tidak lebih dari beban. Bakat membunuh apa, aku tidak pernah memilikinya! Maaf, jika perkataan saya tidak sopan. Mulai sekarang, hubungan kita bukan lagi tuan dan anak buah, melainkan musuh"
Semoga saja Natsu belum dipenggal kepalanya. Aku ingin bertemu dia sekali lagi, aku ingin bersamanya selalu...Mira-nee sempat mencegat. Sudah jelas, dia tidak menerima keputusanku yang dibilang mendadak. Aku kembali menghiraukan seperti tadi, mengemas barang dan keluar dari gedung pemerintahan. Semua pasti senang mendengar kepergianku. Lagi pula, untuk apa berada di sana, jika pada akhirnya, apa yang Natsu katakan menjadi kenyataan.
"Tunggu aku...jangan sampai kamu meninggal"
-ll-
"Bersyukurlah, karena dia serius mengucapkannya" Jellal melempar pedangnya ke sembarang arah. Mavis pun menutup portal tersebut. Lucy bisa menghela nafas lega sekarang
"Apa nanti, kita mengajak Mirajane juga?" tanya Gray
"Tergantung situasi. Pasti sekarang, kakaknya juga menaruh dendam pada kita. Sebentar lagi Lisanna sampai. Sambutlah dia, Natsu"
Dan sekali lagi, berakhir happy ending. Apa akan terus seperti ini?
Bersambung...
Next Chapter : Merebut Kembali Miliknya
