Chapter 21: Dunia —Baginya (Bagian 2)

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Salam saya dari pertama buat fict sampai sekarang gak pernah berubah ya? :3

Hmmm… Chapter kemarin itu… Ada satu typo yang fatal banget, tapi saya langsung ganti di hari kedua setelah update… Ya sudahlah, nggak usah dibahas lagi.

Langsung mulai!

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


"Len…"

"Len…"

"Len… Onee-chan ingin… Hmmm…"

Len menggeliat sebentar, kemudian dia mulai menggerakan kepalanya. Dia merasa posisi tidurnya tidak enak. Sambil berkedip beberapa kali, dia mulai membuka matanya.

"Dimana ak —Guryaaa?!"

Len memekik pelan.

Ling di sampingnya, mereka tidur bersama, dalam posisi duduk.

"Apa yang terjadi semalam?" Len memegang kepalanya sambil menggeleng lemah.

"Len… Kau hebat… Hmmm…"

Ling mengigau sedikit.

"Hah?"

"Kau hebat… Semalam…" Gumam Ling lagi, seakan menjawab seruan bingung dari Len.

"?!"

Len langsung terkejut.

'Apa yang aku lakukan semalam?! Apa kita melakukan… Tidak, tidak! Aku ingat langsung tidur semalam… Tidak, tidak, aku tertidur! Tidak mungkin terjadi apa-apa, tapi kalau dia mengatakan hal itu, berarti ada sesuatu… Tidak, tidak…!' Pikiran Len ribut sendiri.

Len menatap Ling intens, satu tatapan, dia kemudian mengalihkan pandangannya.

"Di—dia hantu! Memangnya aku bisa melakukan apa?! Tapi, aku bisa melihat dan menyentuhnya… Tapi…" Len tertawa pelan dengan terpaksa.

Zoom.

Zoom.

Zoom…

Mata Len tidak bisa lepas dari Ling, pikirannya masih bingung, dia bingung apa yang terjadi selama dia tidur. Mungkin bisa terjadi sesuatu, mungkin juga tidak, atau mungkin juga Len hanya terlalu paranoid.

Bibir merah muda Ling terlihat manis, wajahnya sangat damai, rambutnya tergerai dan kepangannya lepas. Bajunya sangat minim, tapi itu tidak membuatnya serasa kedinginan, yah… Itu karena dia hantu. Tapi, sejenak, Len tidak bisa melepas pandangannya dari hantu yang satu ini.

"Kau… Len… Aku… Mengagumimu…"

Saat itu Len sadar, Len mengatakan hal yang cukup memalukan semalam kepada Ling. 'Aku akan disampingmu' atau sesuatu seperti itu memenuhi pikiran Len sekarang. Len sudah membuat janji palsu lagi, janji baru yang hanya akan berakhir menyedihkan, lagi.

Len tahu maksud dari kata 'hebat' yang dikatakan Ling dalam gumaman tidurnya mungkin hanya rasa kagum karena walau Len merasakan masa lalu yang menyakitkan, dia masih bisa meyakinkan Ling, meyakinkan padanya kalau Len bisa menunjukan sisi indah dunia yang belum pernah lama dirasakan oleh Ling selama hidupnya.

Seharusnya, Ling lebih berpengalaman daripada Len, tapi, pada dasarnya apa yang dialami Ling hanyalah laut dan laut, bukan keindahan di daratan atau keindahan dunia yang sebenarnya ada saat ini. Hanya melihat ombak tidak selalu begitu menyenangkan, memang Ling pernah lintas negara waktu hidup, tapi peradaban belum semaju sekarang, Ling belum cukup merasakan banyak kesenangan walau mungkin pula dia sempat senang bisa berlayar waktu hidup. Dia hanya melihat perkembangan manusia dari dalam gedung ini, dia tidak tahu apa yang ada di luar area ini.

Len berdiri, dia meninggalkan almameternya di pelukan Ling, membiarkan itu menutupi tubuh Ling. Dia menyandarkan Ling dengan lembut ke sisi sofa dari yang semula bersandar di pundaknya.

"Ini… Pastikan kau jaga… Aku tinggalkan itu di sini, sehingga aku bisa kembali lagi ke sini dan… Me—mengobrol bersamamu lebih banyak." Len mengucapkannya, akhirnya dia mengucapkannya.

Sambil menggaruk dagunya dan menatap ke langit-langit, Len mengatakannya dengan malu. Tidak bisa dipungkiri, Len tertarik dengan Ling, masih banyak pengalaman hidup Ling (atau mungkin pengalaman mati?) yang belum diceritakan kepada Len… Mungkin Len tertarik karena ini pertama kalinya berbicara dengan hantu.

Len keluar setelah menutup pintu pelan, sangat pelan hingga tidak ada suara saat kenopnya diputar atau saat daun pintu bertemu tembok dan tertutup rapat.

.

.

.

"Jam 4 pagi." Gumam Len.

"Sepertinya aku kepagian…" Len menggigil sambil mengatakannya.

Langit masih gelap, bulan masih bisa terlihat.

Dia berjalan pelan hingga Len merasakan ada sesuatu yang aneh.

"Ini perasaanku saja atau memang lebih banyak tanda kehidupan di sekitar sini?"

Len bisa melihat tempat sampah terlihat penuh pagi-pagi di jalan setelah gerbang sekolah. Sangat aneh, menilai sampah-sampah selalu diambil tengah malam hingga pagi supaya tidak mengganggu aktivitas warga. Tapi daerah sekolah Len seharusnya diambil saat tengah malam karena tidak ada rumah warga disekitar sini sehingga petugas sampah tidak perlu menunggu sampah perumahan.

"Apa petugas sampah libur tadi malam?" Gumam Len.

Saat itu Len bisa merasakan sesuatu, sebuah aura aneh… Len sudah sering diintimidasi keadaan di sekelilingnya disetiap perlombaan yang dia ikuti waktu kecil. Perasaan aneh itu terasa lagi, sebuah… Sebuah tatapan benci yang diarahkan khusus kearahnya.

"Si—siapa di sana?!" Akhirnya Len berteriak di tempatnya. Suaranya menggema karena keadaan di sekitarnya sepi. Di tepi jalan hanya ada hutan, hutan kota. Sebenarnya hampir tidak ada tanda kehidupan biasanya di sekitar jalan karena para hewan seharusnya ada jauh di dalam hutan tersebut, dibatasi pagar agar tidak keluar ke pemukiman. Hutan itu cukup luas walau terpotong beberapa jalan beraspal di sana-sini, tapi luasnya bisa sampai hingga ke alun-alun perkotaan jika mengabaikan jalan-jalan yang memotong hutan dan dibatasi pagar yang lain di tepi jalan.

Sebuah sosok masuk ke pandangan Len.

"Si—siapa itu?!"

Len menegang, pikirannya sudah kemana-mana. Seperti yang sudah diberitahukan tadi, Len ternyata adalah jenis orang yang paranoid.

Ketika dia bisa melihat sosok itu dengan jelas, tatapan takut Len berubah menantang, dia mengenal sosok itu, sosok yang berkata akan membunuhnya apapun bayarannya.

"Kokonoe Yuuma."

"Kagamine Len."

Dua tatapan tajam itu bertemu dengan derit yang seakan terdengar saat kau menggesek dua buah gabus.

"Kau… Bermalam di sini?" Len yang pertama berbicara.

"Aku akan melakukan apapun demi hal yang tertunda, karena aku adalah prajurit yang tidak pernah meninggalkan misinya dengan kegagalan."

"Bukannya kau ksatria?" Tanya Len lagi.

"Itu tidak ada bedanya, pasukan khusus yang aku ikuti pada dasarnya adalah pasukan yang melindungi tuan putri Arstugna ke-14, Aria hime-sama dengan melakukan banyak hal kotor, walau itu membunuh sekalipun. Itu tidak ada bedanya dengan kehidupanku sebelumnya." Jelas Yuuma.

"Sebelumnya? Apa kau tidak lahir di St—"

"Diam."

Nada dingin itu menusuk jantung Len dengan keras.

"Kau adalah ancaman, aku sudah memutuskan kau adalah keberadaan terbesar yang akan menyakiti hime-sama. Kau harus dimusnahkan."

Len mengepalkan tangannya, tapi dia kemudian melemaskannya, sebuah senyuman hambar yang tanpa emosi tertuju pada Yuuma dari wajahnya.

"Heh… Lakukan saja, toh, aku sudah lama hidup dalam penderitaan. Kau membunuhku dan semua selesai, kau dapatkan tujuanmu dan aku bebas dari kutukan." Ucap Len dengan nada mengejek.

Yuuma menarik tangannya yang sudah bersiaga di gagang pedang, dengan satu gerakan cepat dia langsung menghunuskan pedangnya pada Len. Tidak ada kata-kata bahkan setitik debu yang berterbangan juga seakan berhenti. Pada suasana gelap itu mereka berdua saling tatap dalam kebencian.

Impresi yang ditunjukan Yuuma saat bertemu dengan Len sudah mengakibatkan kebencian dan permusuhan. Tidak ada tatapan lembut atau rasa ingin menjadi teman di dalam tatapan itu.

Seperti peluru supersonik, Yuuma melesat dengan cepat dari jarak 100 meter di hadapan Len, semua itu hanya membutuhkan tidak lebih dari 10 detik saking cepatnya.

Pedang itu tepat ada di atas bahu Len, menyamping diagonal, siap menebas Len dari atas kanan ke kiri bawah. Sebuah tebasan dalam ysng langsung menyiksa target sebelum target mati, terlihat seakan Yuuma tidak akan memberikan kematian mudah untuk targetnya, Kagamine Len.

Pedang itu jatuh dan menebas Len dengan kuat. Memuntahkan darah dan juga menyobek kulit. Suara berderit antara pedang dan tulang terdengar kecil dan pekikan di mulut Len tertahan karena rasa sakit.

Atau seharusnya itu yang terjadi… Nyatanya pedang berhenti tepat di atas bahu, pedang itu menembus baju dan sedikit menyayat kulit manusia di hadapan Yuuma.

Bukan, tapi itu bukan kulit Len. Kenyataannya Len membelalak dengan apa yang terjadi di hadapannya.

"Yuuma, hentikan tindakan bodohmu. Ini perintah."

"A—A—Aria?!" Pekik Len.

Itu Aria yang menghentikan laju pedang, berlari dengan kencang entah darimana dan berdiri di hadapan Len, kakak kelasnya, untuk melindunginya. Sebuah pedang lain sudah ada di belakang leher Yuuma, menyentuhnya dengan tajam, ada sebuah rasa ngilu sekejap dari sakit akan tertusuk sebuah benda tajam yang dirasakan oleh Yuuma.

"Aku sudah siap menembus lehermu jikalau kau melukai salah satu saja dari Len-dono atau hime-sama tadi. Berterima kasihlah pada hime karena dia mengatakan cukup hentikan Yuuma, kalau bisa tanpa menyakitinya apalagi membunuhnya. Cukup hentikan dirimu, kata hime. Kau harus tahu posisimu, 'adik' ku."

Itu suara yang lain, bukan suara Aria. Itu suara Culnoza. Tapi Yuuma tidak menanggapi apapun perkataan Culnoza, dia hanya menarik pedangnya dan menjatuhkannya dengan tangan gemetar, matanya melotot, dia kemudian berlutut dan dengan suara yang menyesal tapi tidak bergetar, dia mengatakan hal ini.

"Penggal aku! Penggal aku Kakak! Ini adalah bentuk pengkhianatan karena sudah melukai hime-sama! Bunuh aku sekarang, Culnoza Scarlet! Sebagai penghinaan terhadap keluarga ksatria!"

Yuuma mengatakannya dengan teriakan, tidak ada getaran dalam suara itu. Tapi bibirnya bergetar dan Yuuma menggigit bibirnya sampai berdarah. Matanya melotot seperti akan keluar. Tangannya juga bergetar hebat…

"Berdiri Yuuma. Kau tidak salah apapun. Ini murni salahku, aku berlari ke arah bahaya, andai aku tertebas olehmu, kau tidak sengaja karena aku berlari ke arahmu adalah pilihanku sendiri. Kulitku hanya terlalu sensitif, tapi aku tidak menyangka tertimpa pedang saja bisa menyobeknya, yang terpenting kau dan senpai bisa terhindar dari pertumpahan darah yang sia-sia. Aku sudah bersyukur karena itu."

Saat itu Yuuma mengangkat kepalanya, tangan putrinya terulur kepadanya. Yuuma menoleh ke belakang ke arah Culnoza, tapi Cul hanya mengangkat dagunya seakan berkata 'terimalah'. Yuuma dengan getaran hebat menerima tangan itu dan kemudian berlutut sambil menunduk.

Saat itu Len sadar akan yang terjadi. Dia langsung merogoh sakunya dan buru-buru mencari sesuatu di dalam sakunya. Dengan tergesa-gesa dia menarik benda itu setelah ketemu dan berkata sesuatu.

"Hentikan drama kerajaan ini! Kau terluka, Aria! Kalau tidak segera ditutup, lukamu akan infeksi! Aku tidak mau hal yang lebih buruk terjadi padamu disamping penyakitmu selama ini! Kau hanya terlalu baik, tapi pikirkan dirimu dahulu, baru orang lain!"

"Ah! Senpai."

Saat itu pemandangan yang tidak biasa terlihat. Yuuma memegang tangan Aria tapi Len menyenderkan kepalanya ke pundak Aria dari belakang dan menaruh plester di luka Aria. Seperti adegan ketika pacarmu akan diambil orang lain atau cinta segitiga atau semacamnya.

Sebuah retakan otot terpampang di dahi Yuuma.

BUAK!

Dengan satu gerakan cepat, Yuuma menyundul kepala Len yang ada di bahu putrinya setelah Len selesai dari memasang plester.

"Dasar gak peka, bego! Emangnya orang Jepang itu gak bisa baca situasi apa?! Orang Jepang memangnya tidak tahu etika?! Kau hanya menyela pembicaraan orang dan menghancurkan suasana!" Yuuma tiba-tiba berteriak jengkel.

Saat itu Len kebingungan.

"Hah?! Tapi Aria terluka! Apa matamu buta?! Dasar maniak drama! Kembalilah ke kenyataan dan lihatlah situasi dengan matamu! Siapa yang lebih butuh perhatian, Aria atau suasana yang kau elu-elukan itu!" Balas Len.

"Yuuma… Senpai… To—tolong hentikan…"

"Pfft…" Culnoza menaha tawa.


XOXOX


"Wahahahahahaha! Dua anak kecil mau saling bunuh!"

Di bangku di tepi jalan yang arahnya berlawanan dengan hutan dibelakangnya, mereka berempat duduk di sana. Bangkunya cukup lebar sehingga mereka berempat bisa duduk. Anehnya Yuuma dan Len tidak mau duduk bersebelahan apapun perintah Aria.

"Maafkan dia, dia hanya ingin terlihat keren di depan putrinya." Ucap Cul.

"Ka—Kakak! Apa yang kakak katakan?!" Yuuma memekik malu.

'Sifatnya sama sekali berbeda saat ada Culnoza, dan apa itu 'kakak'? Mereka saudara?' Pikir Len.

"Tapi, kalian berdua membuatku khawatir. Aku menelpon Rin-chan setelah Yuuma tidak datang ke rumah karena curiga dan menanyakan tentang senpai, katanya senpai menginap di rumah teman, tapi ketika aku menelpon Lui-senpai, Lui-senpai berkata senpai tidak ada dirumahnya. Aku curiga karena Yuuma selalu menatap senpai tidak menyenangkan dari kemarin siang. Lalu aku mendapatkan informasi kalau Yuuma berkemah di hutan dekat sekolah. Aku akhirnya berasumsi kalau senpai juga ada di sekolah." Ucap Aria.

'Jadi itu alasan tempat sampah terisi, dia bermalam dan makan di sekitar sini, sampahnya dia buang di tempat sampah tersebut.' Pikir Len untuk keanehan yang tadi sempat dia rasakan.

"Aku berharap kau tidak mengatakan Rin kalau aku menginap di sekolah, Aria. Lallu, kenapa kau hanya menelpon Lui?" Tanya Len.

"Aku bisa menjaga rahasia kok. Kenapa aku menelpok Lui-senpai? Karena hanya tinggal Lui-senpai temannya senpai." Ucap Aria.

JEDEEER! Hati Len seakan remuk mendengarnya, memang Len tidak punya banyak kenalan, tapi ketika dikatakan oleh orang lain, sakitnya lebih terasa.

"Ke—kesampingkan hal itu sekarang! Kau terlalu baik tadi! Pikirkan dulu lukamu, bukannya 'mengangkat' si anjing penjaga itu duluan ke kenyataan!" Bentak Len.

"Hah?! Siapa yang kau bilang anjing penjaga?!" Yuuma memekik kesal.

Mata mereka saling bertatapan dengan emosi, tapi Culnoza menengahinya dengan pedangnya.

"Diam atau kupenggal kalian berdua." Ucap Cul dingin.

Perkelahian berhenti seketika.

"Aku sudah bilang 'kan senpai? Aku akan jadi yang melindungi, bukan yang terus melindungi mulai sekarang. Paling tidak biarkan aku membalas semua dukungan senpai selama ini." Ucap Aria dengan senyum.

"Aku… Tidak melakukan apapun." Gumam Len dengan nada sedih.

Suasana hening, hingga Len akhirnya mengatakan sesuatu.

"Kenapa dia membenciku?" Ucap Len kepada Aria sambil menunjuk Yuuma.

"Waktu aku pulang ke St. Lucia pertama kali, aku menceritakan senpai dan apa yang senpai lakukan untuk membuat aku bisa percaya pada hidupku lagi. Yuuma selalu berkata sejak itu agar bisa bertemu senpai. Dia berkata 'aku ingin melihat orang yang bisa meyakinkan hime-sama'. Tapi, ketika aku pulang di lain waktu, setelah pemilihan ketua OSIS, aku menceritakan lagi semuanya yang terjadi. sejak saat itu Yuuma seakan tidak senang setiap aku mengatakan nama senpai, apalagi menceritakan hal tentang senpai." Jelas Aria.

Akhirnya Len mengerti kenapa Yuuma selalu menatapnya tajam, Yuuma lebih emosional dari Aria, dia menangkap Len sudah menjatuhkan Aria lagi dan membuat harapan yang sia-sia untuk putrinya. Oleh karena itu Yuuma membenci Len. Sama seperti pikiran Len yang sudah menganggap kalau dia hanya berjanji kosong untuk Aria, sama seperti Len yang membenci dirinya yang hanya mengecewakan Aria. Walau sepertinya Aria sama sekali tidak terusik dengan hal itu.

Suasana kembali hening. Tidak ada pembicaraan. Matahari belum bersinar, tapi hawa dingin mulai menghilang sedikit demi sedikit. Waktu menunjukan jam 5 pagi. 5 menit berlalu tanpa suara, Aria akhirnya membuka mulut.

"Ceritakan masa lalumu senpai." Ucap Aria.

Len sedikit berpikir dan ragu karena ada Yuuma dan Culnoza, tapi dia menyanggupinya.

"Baiklah, lagipula tidak adil karena aku belum menceritakan apapun tapi sudah tahu masa lalu Aria."

.

.

.

"…" Aria terdiam. Len menceritakan semuanya, lengkap, dari awal sampai akhir. Culnoza mengangguk dan Yuuma acuh tak acuh walau mencuri dengar.

"…" Air mata mengalir dari mata Aria.

"?! Kau kenapa?!" Len terkejut dengan reaksi Aria yang tidak biasa. Aria langsung sadar dan mengusap matanya, dia kemudian menyembunyikan wajahnya dari Len dengan menoleh ke samping dan bergumam.

"Maaf. Aku hanya… Sedih mendengar masa lalu senpai. Tapi, bukan sedih yang mengejek! Maksudku sedih… Ya seperti menyakitkan untuk dirasakan…" Ucap Aria.

Entah bagaimana reaksi yang sehatusnya ditunjukan Len, tapi Len hanya tersenyum hambar.

"Sekarang Yuuma, ceritakan masa lalumu." Ucap Aria.

"Ta—tapi hime! Kenapa aku harus menceritakannya di depan orang ini—"

"Lakukan saja." Paksa Cul.

"Cih…"

,

,

,

"Aku tidak tahu dimana aku lahir, yang aku tahu, dari mantan pengasuhku. Aku dititipkan di depan pintu rumahnya, seorang bayi tanpa nama." Ucap Yuuma ogah-ogahan.

"Dimana?" Tanya Len.

"Amerika latin."

"HAH?! AMERIKA LATIN?!" Len langsung terkejut bukan kepalang.

"Singkatnya, aku hidup di sana hingga berumur tiga tahun. Di Brazil, aku diberi nama Rikyuu karena wajahku mirip orang Asia, sehingga aku diberi nama seperti orang Asia. Aku sendiri tidak tahu apa nama itu ada artinya atau tidak." Ucap Yuuma.

"Lalu?" Lanjut Len.

"Aku dijual."

"HAH?! DIJUAL?! OLEH ORANG TUA ASUHMU?!"

"Aku dijual untuk membayar hutang. Di sana semua rumah menyimpan setidaknya satu pistol dan satu senapan semi-otomatis dan tiap orang membawa satu revolver. Mafia atau semacamnya menguasai setiap blok area di sana, kehidupannya menyedihkan, kekuatan berkuasa di sana. Setelah aku dijual, aku dibuat tidur dan ketika aku bangun, statusku ditetapkan sebagai budak. Aku masih tiga tahun kau tahu? Dan 2 tahun kemudian aku sudah ikut bekerja mengumpulkan berlian sebagai budak. Di Afrika."

"HAH?! BUDAK?! Memangnya kau hidup di zaman apa?! Perang dunia?!"

"Kau tidak tahu, dunia tidak selalu damai sama seperti yang kau pikirkan. Di tiap sudut bumi masih banyak hal yang tidak kau ketahui, masih ada perbudakan dan perdagangan manusia, itu adalah sisi gelap dunia. Kau yang tinggal di negara damai seperti ini tidak akan tahu apa-apa."

'Jadi itu alasannya dia seakan menyatakan dirinya dari medang perang… Tapi…" Pikir Len.

"Menilai dari perkataanmu, apa kau juga berperang di medang perang?" Tanya Len lagi.

Yuuma sempat terdiam.

"Saat berumur 8 tahun, pemberontakan terjadi di tempatku menjadi budak. Aku yang lelah karena selalu ditindas sebagai orang berkulit putih mengikuti pemberontakan dan membunuh majikanku sendiri. Aku mengira semuanya sudah selesai waktu itu, tapi aku masih anak kecil… Beberapa orang yang dendam dengan majikanku membawaku dan menjualku lagi… Lagi dan lagi hingga aku sampai di timur tengah, di sana aku dipekerjakan sebagai prajurit muda. Berjuang tanpa keahlian dan pengalaman agar tetap hidup, dipaksa terbiasa dengan senjata api dan ledakan. Menjadi orang yang familiar dengan darah dan pembunuhan. Aku dipaksa terus belajar dan belajar, bukan hanya tentang perang, tapi juga cara menguasai kemampuan negosiasi termasuk bahasa."

.

.

.

"Bangun bocah! Apa aku akan tidur terus?!"

BUAK!

Yuuma kecil keluar dari sebuah perti kargo barang yang besar, tubuhnya yang babak belur karena selalu dipukuli bergetar. Dia sangat kurus, hanya sepotong baju usang dan celana pendek yang menutupi tubuhnya.

Saat dia keluar dari kargo yang membawanya, dia melihat sekitarnya. Sebuah padang tandus yang dipenuhi perkemahan. Senjata api ada di sana-sini, kendaraan bersenjata tidak bisa lepas dari pandangan.

Yuuma tidak terlalu terkejut, dia sudah cukup sering melihatnya.

"Kau akan menjadi prajurit nak! Jadi pergilah dan ambil senjata itu!"

Yuuma ditendang dengan kasar ke arah sekumpulan senjata. Tubuhnya terjatuh dengan kasar di atas pasir. Tawa para orang kasar yang menendang Yuuma bisa terdengar.

"Besok kau akan langsung ke medan perang pertamamu. Lihat dan perhatikan dengan baik, kami akan mengajarimu cara berperang! Berusahalah agar tidak terbunuh karena peluru nyasar atau ledakan, kami tidak melindungi apapun pada tubuh murahmu itu!"

Yuuma tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Rasa sakit sudah sangat menjalar di tubuhnya. Tulangnya seakan bergeser dan terus berderit setiap dia berjalan. Perutnya tidak berhenti berbunyi karena rasa lapar.

Malamnya Yuuma tidak tidur, dia terus mengusap sebuah senapan otomatis yang dia pegang. Tidak ada ekspresi dalam mengusapnya, tidak kasar dan tidak juga lembut. Dia hanya menatap kosong senapan itu.

.

.

.

Pada hari perang, Yuuma mengikuti sekelompok prajurit berbaju lengkap dengan rompi anti peluru. Terlihat juga banyak anak seumurannya yang juga dipaksa berperang. Mereka hanya membawa senjata tanpa perlindungan apapun.

Alasan kenapa anak kecil diturunkan ke medan perang adalah untuk serangan psikologis, banyak orang tidak bisa menarik pelatuk karena musuhnya anak kecil dan hal itu sedang marak dilakukan di semua medang perang. Sedangkan kenapa para anak kecil tidak dilindungi atau diberi pelindung pada tubuh mereka sama sekali agar mereka bisa merasakan sakitnya peluru, agar mereka mengerti rasa sakit dan dengan terpaksa rasa takut akan kematian yang mereka alami akan membuat para anak-anak membalas orang yang menyakiti mereka.

Setelah perang pertamanya, hal tidak terduga terjadi. Yuuma… Membunuh semua tentara yang pergi bersamanya. Membebaskan para anak-anak di tengah padang pasir yang minim harapan hidup dan kembali ke perkemahan sendirian.

"Semua orang… Mati…"

Itu kebohongan paling buruk yang Yuuma katakan pada sisa pasukan di perkemahan. Dia dipukuli dan disiksa karena cara berbohongnya sangat buruk. Tidak mungkin ada orang yang berkata semua orang mati, tetapi membawa kepala mereka sebagai bukti kepada teman dari orang yang sudah mati. Itu hanya menggali kuburan sendiri, Yuuma hanya membuat dirinya menjadi tersangka utama dan membuat dirinya sendiri kesakitan seakan ingin mati.

Tapi hal itu tidak terjadi… Dia tidak mati.

Para prajurit lebih kejam dari yang dia kira, Yuuma tidak berteriak sedikitpun walau diberi 100 cambukan. Dia tidak berteriak walau disayat-sayat seperti sapi sembelih yang ingin diambil dagingnya. Dia juga tidak berteriak walau sesekali ditembaki seperti target sasaran pada pelatihan tembak. Setelah semua itu, dia hanya dirawat seadanya, pelurunya hanya dikeluarkan dari tubuhnya tapi lukanya tidak ditutup. Sayatan pada tubuhnya disiram alkohol agar tidak infeksi, tapi tidak ditutup agar perihnya bertahan hingga pagi. Bekas cambukan dan kulit yang koyak dipunggungya hanya ditutupi kain, tidak lebih.

Para prajurit bengis itu tidak membiarkan Yuuma mati dengan mudah. Dia dikurung dan disiksa berhari-hari. Hingga hari yang mengerikan terjadi. Yuuma bangun dari tempatnya dengan borgol masih pada tangannya dengan rantainya yang sudah putus. Malam itu, Yuuma… membantai seluruh perkemahan dalam sunyi.

.

.

.

Yuuma mengingkis lengannya di hadapan Len, dia juga memperlihatkan punggungnya. Banyak bekas luka yang tidak bisa sembuh ada di sana.

"Aku pergi dengan perbekalan dari perkemahan itu. Berjuang sebagai prajurit bayaran selama hampir 5 tahun. Tapi, bukan itu hal yang terburuk, bukan perangnya yang paling buruk. Bentrok antara ideologi dan agama yang terjadi di timur tengah adalah neraka yang sebenarnya. Semua perang mengatas namakan Tuhan mereka masing-masing. Mereka hanya orang bodoh yang ingin berperang tanpa alasan, dan aku berada di lingkungan bodoh itu selama hampir 5 tahun. Berada di tengah-tengah dunia idiot dimana orang hanya ingin membunuh satu sama lain."

Len terdiam mendengar cerita itu.

"Pada umur 13 tahun, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari Timur Tengah dengan perbekalan yang cukup. Berjalan di padang pasir ke arah yang aku tidak tahu. Mengikuti tumpangan kendaraan entah kemana. Suatu hari aku sampai di tepi laut, dengan nekat, aku menjadi penumpang gelap di sebuah kapal yang cukup besar. Suatu malam, kapal itu diserang karena masuk ke perairan negara lain tanpa izin, ternyata kapal itu adalah kapal penyelundup narkoba. Ditenggelamkan di selat Dover, aku akhirnya mencoba kabur dari sergapan keamanan Perancis dan masuk ke dalam Inggris sebagai imigran gelap. Menyamar sebagai warga di salah satu negara yang ada di benua yang katanya paling damai, Eropa. Berminggu-minggu aku di Inggris, hidup dengan mencuri karena tidak ada kekerasan bersenjata di sana. Hingga akhirnya pada suatu siang aku melihat Aria hime di kursi roda yang dalam perjalanan diplomasi, dia dikawal puluhan orang, aku tidak tahu statusnya saat itu. Tapi melihat dari keamanannya, aku berasumsi dia adalah orang penting, aku berpikir kalau aku bisa menculiknya dan meminta tebusan darinya, aku bisa hidup lebih layak dak kabur dari Inggris." Lanjut Yuuma.

.

.

.

"Aku akan pergi menculiknya."

Malam itu, Yuuma yang tidak tahu status Aria mencoba menyelinap ke sebuah kastil (yang Yuuma yakini Aria ada di dalamnya) dan menculik Aria.

"Penyusup! Ada penyusup!"

"Perketat keamanan di jalan keluar, sebar regu untuk menangkap penyusup tersebut! Kastil Edinburgh tidak boleh dipermalukan seperti ini!"

Suara beberapa orang bergema di dalam kastil. Yuuma remaja pada dasarnya memang punya keahlian bertarung, tapi menyusup seperti ninja adalah hal yang benar-benar berbeda, dia bahkan tidak sadar kalau dia sudah ketahuan.

Dengan terburu-buru Yuuma mencari di kastil besar, tapi targetnya ternyata sedang berjalan di hadapannya sendiri.

Dengan sigap, Yuuma menarik Aria dari kursi rodanya otomatisnya*, menggotongnya dan masuk ke salah satu kamar. Itu lantai tiga, mustahil bagi Yuuma melompat kabur ke bawah dengan membawa beban. Akhirnya Yuuma menunggu untuk ditemukan dan langsung bernegosiasi, membuat kesepakatan yang menguntungkannya dan kabur dengan jalur yang disediakan untuknya.

Tapi, ada yang tampak aneh. Yuuma tidak merasakan sedikitpun aura pada orang yang dia culik, dia tidak takut ataupun panik, dia sama sekali tidak peduli mau dia disandera atau tidak.

"Hei."

Suara itu mengangetkan Yuuma.

"Kau bukan warga Inggris kan? Wajahmu tidak seperti orang Eropa. Terlebih lagi, dari wajahmu, itu terlihat seperti wajah orang yang sudah merasakan kesakitan di dunia ini."

Yuuma terkejut dengan perkataan itu.

Tanpa basa-basi orang yang dia sandera mengatakan hal ini.

"Aku… Tertarik padamu, ingin jadi pengawalku? Aku ingin kau menceritakan banyak hal untukku." Ucap orang yang Yuuma sandera, Aria, sambil tersenyum.

.

.

.

"Semenjak itulah, hal yang sama sekali berbeda terjadi dalam hidupku. Walau wajah hime-sama sangat dingin waktu itu, aku bisa merasakan hatinya berharap kepadaku. Setelahnya aku menyerahkan diri dan diinterogasi, setelah berbagai cerita, mereka melepasku karena permintaan hime-sama. Hime-sama ingin menjadikanku ksatria untuknya, walau beberapa halangan besar terjadi waktu itu. Tapi, akhirnya setelah mengetes kemampuanku dalam bertarung, aku ditetapkan jadi pengawal hime-sama dalam pengawasan Culnoza Scarlet, kakak angkatku. Setelah satu tahun masa percobaan, aku diangkat menjadi keluarga oleh keluarga ksatria Scarlet dan namaku menjad Rikyuu Schema Scarlet, hime-sama menggabungkan suku kata terbelakang dari dua nama depanku dan memanggilku Yuuma." Ucap Yuuma.

"Aku diajari banyak hal dan pengetahuan yang aku belum tahu oleh hime-sama, dan aku mengajarkan bagaimana dunia pada hime karena hime tidak sering keluar rumah. Saat aku dengar hime akan pergi ke Jepang, aku tidak bisa pergi bersamanya karena masih harus menyelesaikan pemberontakan di St. Lucia. Ketika hime-sama pulang, dia menceritakan dirimu, seakan kau penyelamatnya, seakan kau adalah orang yang membuat hime ingin tetap hidup lebih dari apapun. Aku penasaran bagaimana sosokmu yang selalu hime kagumi, tapi cerita selanjutnya tentang dirimu membuat aku terasa bodoh karena terlalu berharap padamu. Ketika aku sampai di Jepang sebagai pengawal pribadi hime, aku kecewa melihatmu… Kau… Kau hanya… Kau lebih buruk dari apa yang aku pikirkan." Kata-kata Yuuma selanjutnya tertuju untuk Len.

Len menggigit bibirnya sendiri dengan keras. Dia mengerti, dia tahu kenapa Yuuma bahkan memusuhinya, dia mengakui kalau dirinya sama seperti yang Yuuma katakan… Len hanyalah orang yang tidak bisa dipercaya untuk memberikan sebuah harapan pada orang lain, karena dia sendiri adalah wujud dari keputus asaan.

Tapi, harga diri Len tidak terima itu. Egonya yang memang menjadi lebih tinggi semenjak pemilihan ketua OSIS tidak mau menerima itu.

Len berdiri.

"Masa lalumu memang lebih menakutkan dariku. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa kau lupakan, orang yang tidak pernah merasakan kasih sayang sebelumnya dan mendapatkannya di kemudian hari, ratusan kali jauh lebih baik daripada orang yang pernah merasakan hal tersebut kemudian kasih sayang itu pergi darinya dengan cara yang terburuk." Kalimat yang sangat egois itu keluar dari mulut Len sebagai pembanding antara diri Len dan Yuuma.

Len berjalan pergi tanpa pamit, sayangnya dia berhenti.

Kata-kata Aria yang menghentikannya.

"Senpai, seberapapun orang kecewa padamu. Aku tidak pernah kecewa terhadap dirimu. Aku selalu mendukung senpai, aku tidak pernah benci apalagi dendam dengan diri senpai, karena senpai adalah orang yang memberikanku alasan lagi untuk tetap hidup." Ucap Aria.

"Tapi, aku tidak… Melakukan apapun…"

"Tidak senpai, kau selalu ada untukku, dalam kondisi apapun, selama ini. Kau adalah orang yang paling memperhatikan diriku yang lemah ini. Kau ada untukku bukan karena rasa iba, jadi aku juga tidak ingin kalau senpai hanya berpikir aku tidak pernah meninggalkan senpai hanya karena rasa iba juga."

"Tidak, Aria. Aku sudah membuang janji kita. Aku yang terburuk."

"Tidak, senpai, tidak ada janji yang terbuang. Itu hanya belum ditepati, dan aku akan terus menunggu senpai untuk menepati janji itu. Aku tahu aku hanya orang luar di dalam hidup senpai, tidak seperti Rin-chan atau Miku-senpai.Tapi aku ingin mengerti tentang senpai, aku ingin tahu segalanya tentang senpai. Aku juga ingin menjadi bagian dari hidup senpai. Aku ingin bagaimana senpai bisa mengisi hidupku seperti layaknya lukisan dan seni yang aku sukai."

Len terdiam, dia sudah tahu akan kata-kata yang akan keluar dari mulut Aria setelah itu. Len tidak ingin mendengarnya, tapi dia tidak bisa kabur.

"Karena aku… Menyukai senpai lebih dari apapun…"

Len hanya pergi, menghilang dalam kegelapan.


XOXOX


"Dia, sudah merasakan kejamnya dunia…"


XOXOX


Chapter 21 selesai!

Ini kayaknya akan jadi chapter terpanjang, story only mencapai lebih 4K words! XD

Entah kenapa saya semangat banget mengetik chapter yang satu ini, mungkin karena saya harus menyesuaikan beberapa setting. XD

Minggu depan (minggu setelah lebaran, lebaran 17-18 kan? Berarti jum'at-sabtu, hari minggu besoknya saya tetep update. ^^) akan menceritakan masa lalu Kiyoteru dan juga keputusan Len. Stay tune~

Oh, yang dimaksud kursi roda otomatis itu, kursi roda yang ada tombolnya buat berjalan, jadi kalau di jalan rata, kursi rodanya masih bisa berjalan dengan lancar. Kalau dijalan bergelombang atau naik dan turun, mungkin masih perlu dibantu.

Selain itu, saya nulis kata 'kakak' bukannya 'onee-chan' atau semacamnya untuk Yuuma yang memanggil Culnoza. Kalau misalnya di percakapan, dia seperti menyisipkan kata 'sister' di tengah kalimat berbahasa Jepang atau sesuatu yang seperti itu. ^^

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian