Hold Me, Hyung!

Cast : adalah saya pinjam nama-nama member Super Junior. Dan beberapa artis SM ent. (Ini tambahan karena saya baca di beberapa blog orang, untuk mencantumkan karakter siapa yang dipinjam. Kan, fanfiction.)

Chapter 21

Banyak typo. Bahasa amburadul dan sulit dipahami.

Saya tidak suka aturan. Tapi jika itu membuat tidak nyaman, mohon peringatkan saya.

Terima kasih. Selamat membaca.

Bisa-bisanya Siwon tidak curiga dan tidur dengan nyenyak semalam. Kyuhyun tidak terlihat dan dia mengijinkan rasa lelah menenggelamkannya. Siwon tidur begitu selesai mengisi perut. Dia dilayani dengan baik di rumah Park dan terbuai dengan itu. Sekalipun niatnya hanya berbaring sebentar tapi keblabasan hingga pagi.

Dan apa yang didapati saat pagi? Pelayan paruh baya disana sudah menyiapkan makanan saat dia keluar kamar. Mempersilahkannya untuk sarapan dan bersiap karena sopir keluarga Park sudah menunggu.

Dia berangkat dengan bingung, sempat menolak karena dia ingin bertemu Kyuhyun dulu, tapi apa yang dikatakan sopir itu?

'Saya mengantar anda untuk bertemu tuan muda Kyuhyun.'

Nah! Itu artinya Kyuhyun sejak kemarin tidak ada di rumah. Lebih tega lagi Jungsoo yang tidak mengatakan apapun padanya. Siwon merasa sedang dikerjai. Dia kesal dan tersinggung, tapi saat sampai di tempat tujuan dia hanya bisa bungkam.

Rumah sakit bukan tempat yang bagus, menurutnya. Bau, kotor dan penuh penyakit. Dia yang selalu merasa sehat, sekalipun sakit tidak akan mengaku demi tidak pergi ke tempat seperti ini. Sayangnya Siwon selalu ketahuan sang ibu dan berakhir diseret untuk berobat. Beruntung dia tidak pernah mengalami sakit yang parah.

Satu orang yang dikenalnya dengan penyakit serius adalah orang yang saat ini ada di ruangan didepannya. Sopir itu langsung pergi setelah mengantarnya. Yeun ahjussi sempat cerita jika Kyuhyun dirawat di ICU dan dipindahkan pagi ini. Yang membuatnya mamaki Jungsoo dalam hati karena sikap terlalunya. Kyuhyun sampai mendapat perawatan di ICU, berarti keadaannya serius, tapi Jungsoo tidak mengatakan apapun.

Siwon mengusap wajah, mengurangi kemarahannya pada Jungsoo. Dia bisa protes nanti. Sekarang yang penting adalah melihat Kyuhyun.

"Kau sudah datang."

Siwon batal mengetuk pintu dan menoleh. Wajahnya langsung kecut lagi begitu melihat Jungsoo. Rasa kesal yang sempat berhasil ditahan kembali meluap.

Jungsoo menepuk bahu Siwon. Paham dengan perubahan wajah pemuda itu padanya. "Kau kesal?"

"Menurut anda?" balas Siwon ketus.

"Aku tidak bisa menoleransi kekesalanmu. Kyuhyun adikku, terserah aku mengatur kapan kau bertemu dengannya."

Wajah Siwon langsung terkejut luar biasa. Matanya membulat syok. Dalam pikirnya, Jungsoo sangat kejam. Kasihan Kyuhyun punya hyung seperti ini. Jangan-jangan selama di Seoul Kyuhyun dikekang sana sini.

Jungsoo tertawa. Bisa juga dia mengerjai Siwon. "Benahi ekspresimu." kata Jungsoo mengangkat kantong plastik. "Ini makanan, tolong berikan pada Kibum. Aku tidak masuk."

"Wae?" Siwon tidak langsung serta merta mengambil alih kantong tersebut.

Mana mungkin Jungsoo masuk dengan wajah itu. Sekalipun Kyuhyun sangat diam bahkan sejak kemarin sadar sepenuhnya. Jungsoo sadar situasi, memar wajahnya akan menimbulkan beban baru untuk Kyuhyun. Kemarin mungkin Kyuhyun belum menyadari kondisi nya.

"Ambil saja dan minta Kibum makan. Dia tidak mengisi perutnya sejak kemarin."

Siwon mengalah. Mengambil kantong itu dan bersiap masuk. Tapi lagi, Jungsoo menahan lengannya. Wajah pria itu nampak serius bercampur resah.

"Kyuhyun memikirkan banyak hal. Itu yang membuatnya colaps. Mungkin dia sangat kecewa pada kami. Sejak sadar dia tidak membuka mulutnya sekalipun. Tidak berbicara dengan kami. Jadi bisa kau bersabar padanya?"

Siwon mengangkat ujung bibirnya. Senyumya nampak remeh dan mengejek Jungsoo. "Jangan meremehkanku. Hampir lebih dari 10 tahun aku jadi hyungnya. Dia tidak akan diam kepadaku."

Siwon masuk meninggalkan Jungsoo yang tercenung. Tertohok dengan ucapan pemuda itu. Tersenyum bodoh, Jungsoo berjalan ke kursi tunggu dan memilih duduk. Benar juga, kenapa dia harus memberi nasehat pada seseorang yang bahkan lebih lama menghabiskan waktu bersama sang adik dibanding dirinya yang hanya bisa meninggalkan. Dengan kedatangan Siwon, Jungsoo berharap Kyuhyun akan terhibur.

Tidak berapa lama pintu ruang rawat Kyuhyun kembali terbuka. Kibum keluar, berjalan gontai menuju kursi tunggu yang sama dan menjatuhkan diri di sebelah Jungsoo.

"Kenapa keluar?" heran Jungsoo.

Kibum meletakkan makanan yang dibelikan Jungsoo di antara mereka. "Aku diusir."

"Kyuhyun?"

"Pemuda itu." jawab Kibum. "Dia bilang sebaiknya aku makan di luar saja. Lalu Kyuhyun mengangguki. Aku tidak bisa membantah lagi, jadi keluar." Kibum melenturkan punggung serta menyandarkan kepala. Tidak berniat membuka makanan yang sudah dibeli Jungsoo.

Jungsoo tersenyum kecil. Kibum kesal dia paham. Tapi lebih setuju jika Kibum keluar. Membiarkan bungsunya berdua saja dengan Siwon. Mungkin dengan begitu keduanya akan lebih nyaman berbicara. "Makanlah."

"Sebentar. Aku belum lapar." Kibum malah memejamkan mata.

0o0o0o0o0

Setelah Kibum pergi, Siwon yang duduk di tempat bekas Kibum. Tersenyum bangga pada Kyuhyun karena berhasil mengusir Kibum.

"Dia pasti sangat mengganggu sejak kemarin." seloroh Siwon bergurau.

Kyuhyun tersenyum lemah. Siwon menarik kursinya agar lebih dekat.

"Kupikir aku akan melihatmu lebih sehat setelah sekian lama. Tapi apa ini, Kyuhyun?"

"Aku berusaha." jawab Kyuhyun lirih.

Siwon memegang tangannya. "Jangan menyerah, arra!"

Kyuhyun mengangguk. Siwon tersenyum, menepuk pelan tangan Kyuhyun dengan bangga.

"Jungsoo-ssi bilang kau banyak pikiran. Kau juga marah pada mereka. Bahkan tidak mau berbicara dengan mereka. Jadi kenapa, heum?"

Kyuhyun menatap Siwon dengan mata sayu. "Kau dikirim untuk membujukku?"

"Anni." Siwon menggeleng. "Aku datang sebagai hyungmu. Temanmu. Sahabatmu. Aku siap jadi pendengarmu. Kau tidak harus menanggungnya sendiri."

Ada kilat ketidak percayaan di mata Kyuhyun, namun kemudian tersenyum tulus. "Hahhh aku bertanya-tanya dimana kekonyolan seorang Siwon yang dulu itu? Kenapa hyung jadi begitu dewasa?"

Siwon tergelak pelan. Menepuk bahu Kyuhyun sangat pelan. "Menghadapimu harus dengan sikap ini Kyuhyunie. Tapi aku tetap konyol. Nah, lihat." Siwon memainkan wajahnya. Membuat waja lucu demi Kyuhyun. Matanya dilebarkan. Bibirnya dilipat sedemikian rupa sampai sampai ke pipinya pun jadi terlihat aneh.

Kyuhyun tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa kegelian. Siwon membiarkannya. Bahkan hingga perut Kyuhyun terasa sakit karena lama tertawa, Siwon masih hanya diam melihat.

Hingga saat tawa itu menciptakan air mata dan berubah jadi isakan. Siwon menatapnya prihatin. Kyuhyun berusaha menutup mulutnya. Merasa malu tapi Siwon mengahalau tangannya.

"Kau bisa menangis. Tidak akan ada yang menertawakanmu. Menangislah."

Tangis Kyuhyun pecah. Dia menangis keras dan sesenggukan. Siwon menggenggam tangannya, tapi Kyuhyun meremasnya lebih kuat. Seolah bersandar. Seolah berpegangan. Mencari kekuatan.

Siwon menemaninya disana. Diam tapi memberikan semua yang dibutuhkannya.

0o0o0o0o0

Kibum membuka mata saat mendengar suara tangisan. Dia berdiri dan hendak menerobos masuk ke ruang rawat Kyuhyun namun dicegah Jungsoo.

"Hyung,"

Jungsoo menggeleng tegas. Meski tidak rela, perlahan Kibum kembali duduk. Menunduk dalam.

Jungsoo mengambil nafas dari mulutnya. Mendongak menahan sendu selagi tangannya tanpa sadar meremas kuat lengan Kibum.

0o0o0o0o0

Donghae menyumpit makanannya dengan ogah-ogahan. Masih dengan perasaan kacau. Dia lebih banyak menghela nafas. Dia memikirkan masalah itu sampai waktu yang seharusnya digunakannya untuk istirahat, habis untuk berfikir.

Apalagi ucapan Heechul mempengaruhinya juga.

Melupakan masa lalu.

Melupakan Kyuhyun.

Karena kecewa, seharusnya keputusan itu menjadi benar. Tapi entah kenapa seolah ada bagian dari dirinya yang menolak. Berat tapi juga ingin. Kecewanya tidak main-main. Sakitnya terasa sekali. Melangkah pergi dan melupakan adalah hal yang terbaik. Tapi sekali lagi, bahkan jika itu masih jadi rencana, Doghae penuh dalam keraguan.

"Makan dengan benar, Aiden."

"Apanya yang belum benar dari cara makanku?" balas Donghae yang sedang sensitif. Dia menghempaskan sumpit dan bangkit pergi. Beralih ke ruang santai. Menyalakan TV dengan saluran yang dipilih acak.

Zhou Mi menghela nafas. Buru-buru menghabiskan makanannya dan menyusul Donghae. Membiarkan meja makan dalam keadaan kotor, bukan kebiasaannya. Zhou Mi hanya tidak sabar menghadapi Donghae.

"Kau tahu, sikapmu ini sangat kekanakan."

"Mwo?!" Donghae menatap Zhou Mi tersinggung.

"Masalahmu adalah dengan adikmu! Jangan melampiaskannya pada makanan dan padaku! Lalu kau berfikir kau akan pergi? Menghindari masalah ini? Itu bukan sikap seorang pria."

"Kau menasehatiku?"

Zhou Mi mengambil nafas dan menghembuskannya kasar. Dia mengambil duduk disebelah Donghae. Menepuk kakinya. "Apa kau tidak berfikir untuk mendengarkan adikmu? Mungkin tidak seperti yang kau pikirkan."

"Jika benar, dia pasti sudah menjelaskannya. Dia bisa meneleponku. Dia bisa langsung menemuiku. Dia tahu alamat apartemen ini juga." Donghae menghembuskan nafas. "Aku masih tidak habis pikir, bisa-bisanya dia berbuat ini kepadaku."

"Tapi tidak ada salahnya berbicara sekali lagi."

Donghae menggeleng. Meski ragu dia sudah harus mengambil keputusan. Karena selama itu juga dia sudah harus meneguhkan hati.

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Hanya dua hari di Seoul, Jungsoo sudah harus kembali ke Gwangju. Keadaan Kyuhyun sudah membaik begitu pula lebam di wajahnya. Jungsoo lega saat pagi itu memasuki kamar rawat Kyuhyun untuk berpamitan.

"Berangkat sekarang?" tanya Kyuhyun seperti tidak rela.

"Akan kuselesaikan dengan cepat."

"Kita pasti merayakan natal bersama, kan?"

"Iya." janji Jungsoo menepuk pelan kepala adiknya. Dia melirik Siwon sebentar dan Kibum yang berada di sofa. Dia berpamitan pada mereka juga.

Kyuhyun merebahkan diri lagi sepeninggal Jungsoo. Siwon memainkan ponssel sedangkan Kibum membaca majalah.

"Won hyung, pinjam ponselnya."

Siwon mengalihkan perhatian pada Kyuhyun. "Kau punya ponsel sendiri, kan?"

Kyuhyun manyun. "Tidak ada yang membawakannya untukku." Kyuhyun mengerling pada Kibum yang sedang tidak melihatnya.

Siwon mengangguk paham. Memberikan ponselnya lalu pamit keluar.

Tinggal berdua. Itu memang tujuan Kyuhyun. Meski dia bermain game di ponsel Siwon, tapi perhatiannya tertuju pada Kibum. Beberapa kali Kibum ketahuan sedang menatapnya. Jika begitu Kibum akan dengan cepat berpaling dan pura-pura membalik majalah.

Kyuhyun merasa Kibum menjauh. Entah kenapa. Bersalah atau menghindari pembicaraan?

Sesungguhnya Kyuhyun ingin meminta maaf. Pikirannya sudah tenang kembali setelah bersandar pada Siwon. Dia sudah membuat Kibum merasa bersalah telah membebaninya. Seharusnya tidak begitu. Bagaimanapun Kyuhyun harus tahu pangkal masalah keluarganya. Hanya waktunya saja yang salah. Kyuhyun sendiri menyesalkan kondisi tubuhnya. Sama sekali dia tidak marah pada Kibum dan Jungsoo. Hanya kecewa dan merasa buntu.

"Bum hyung," Kyuhyun memanggil tanpa mengalihkan mata pada Kibum.

Tapi Kibum langsung bereaksi. "Ya."

"Kenapa tidak membawakan ponselku?" Kyuhyun mengangkat kepala, menggoyangkan ponsel. "Aku bosan sekali."

"Kondisimu baru saja stabil dan kau bilang sudah bosan? Amazing, Kyuhyun. Lebih baik istirahat daripada bermain ponsel."

"Amazing Kyuhyun." gumam Kyuhyun sangat pelan. Tersenyum kecut. Seolah diingatkan kembali pada Donghae. Pada tujuannya. Keinginannya yang sederhana tapi mustahil menurut saudaranya.

Tidak! Itu tidak mustahil! Seperti paman Yesung yang selalu optimis, Kyuhyun juga harus begitu. Apa yang tidak mungkin di dunia ini, bukan?

"Hyung, aku sudah memikirkannya."

"Istirahat, Kyuhyun. Jangan banyak berfikir. Kau masih muda jadi bersikaplah seperti remaja lainnya." Kibum menutup majalah, melemparnya ke meja dan bangkit.

Kyuhyun melihatnya yang berjalan ke kamar mandi. "Sayangnya, keluargaku tidak seperti keluarga lain. Ditambah dengan penyakit ini. Hyung pikir sejak kapan aku merasa berbeda?"

Kibum berhenti di depan pintu. Dia berbalik, menghampiri Kyuhyun. Menatap adiknya dalam.

"Kalian tidak ada yang memahami perasaanku. Kau juga Jungsoo hyung mengatakan hal yang sama. Tolong mengalah sedikit padaku, hyung." Kyuhyun mengatupkan kedua tangan, memohon melalui matanya. Membuat Kibum tidak tega.

Kibum meraih tangan itu. Menyelimutinya dengan kedua tangannya sendiri. Meremasnya pelan. Nafasnya keluar dengan lelah. "Apa yang kau inginkan, heum? Katakan. Kepada hyungmu, tidak perlu memohon seperti ini. Katakan saja."

"Kau tahu apa yang kuinginkan."

Kibum mengangguk. "Kau ingin bertemu dengan Donghae?"

Kyuhyun mengangguk. "Heechul hyung juga."

Hampir saja Kibum mendengus keras. Namun dia mampu menahan diri. "Kyuhyunie. Hyung tidak melarangmu." senyum Kyuhyun terbit. "Tapi hyung juga tidak akan membantumu."

Kyuhyun mengangguk senang. Dia sudah optimis saja. "Aku tahu. Aku harus berjuang."

"Itu tidak mudah, dongsaeng."

"Iya. Iya. Aku paham. Terima kasih, Bum hyung!" Kyuhyun menarik tangannya dan berbalik memeluk Kibum. Kibum tersenyum kaku. Mengusap punggung adiknya. Sejujurnya dia masih tidak rela.

0o0o0o0o0

Heechul ingin sekali membalikkan meja. Dia kepanasan dan duduk dengan tidak nyaman. Apa pula dengan para orang tua ini. Mengundangnya dan memberikannya ceramah yang tidak berarti.

"Jungsoo akan datang. Jadi kalian bisa duduk dan berbicara."

Heechul bangkit! Geram. "Kalian berbicara panjang lebar hanya untuk membelanya. Apa urusan kalian?"

Kangin menahan nafas. Tuan Choi mencoba rileks di sisi lain.

Heechul berbalik menuju pintu. Kangin dan tuan Choi buru-buru menyusul untuk menahannya. Namun lebih dulu Jungsoo sampai disana memblok jalan keluar Heechul.

Keduanya kembali berhadapan. Kali ini dengan dua orang penengah dan dibatasi sebuah meja tua peninggalan sang paman. Berbanding dengan Jungsoo yang tenang, Heechul sebaliknya. Ekspresinya yang keras diliputi perasaan ingin segera pergi. Heechul hanya tidak ingin para orang tua ini ikut campur.

"Aku ingin urusan kita selesai, Heechul. Jadi mari bicara saja. Kita selesaikan hari ini."

"Terserah."

"Kau menginginkan tanah paman Yesung, bukan." Jungsoo menggeser map yang dia bawa sebelumnya. Membukanya tepat di depan Heechul. "Aku mempersiapkan ini. Kau juga tidak perlu cemas dengan tanah yang dibeli perusahaanku. Aku mempersiapkan tanah ganti yang sepadan. Kau bisa memiliki sebagian saham dalam proyek ini."

Mata Heechul memicing. "Aku?"

"Donghae. Tentu saja. Bukankah kau menuntut untuk Donghae."

Heechul diam. Sejak kericuhan dan gossip ditangani tuan Choi, pembangunan proyek kembali berjalan. Hanya dalam dua hari dan semua usaha Heechul diredakan dengan mudah oleh tuan Choi yang berkuasa. Dan sekarang dia disudutkan sebagai orang serakah.

"Ini juga surat rumah, surat tanah dan kepemilikan usaha." Kangin juga menumpuk berkas di atas meja. Memang selama ini dia yang menyimpan semua itu.

Heechul menggeram tertahan. Berkas pembagian saham dan surat-surat properti Yesung berada tepat di depannya. Tangannya mengepal kuat dibawah meja. Berkas terbuka itu seolah mengejek dan menghinanya. "Kau serius?"

"Aku belum mengatakan ini pada Kyuhyun. Tapi kupastikan dia tidak akan keberatan dengan penyerahan ini. Kau, anni, Donghae bisa memiliki semuanya."

Nafas Heechul kembang kempis, wajahnya memerah dnegan cepat. Kemarahannya sampai ke kepala. Dia berfikir kenapa dia harus marah? Puaslah! Kenapa dia merasa sakit hati malah?!

Menyambar map-map itu, Heechul bangkit berdiri. Tanpa kata dia berbalik.

"Heechul!"

Lelaki itu berhenti di pintu. Jungsoo berdiri. "Apa masalah kita selesai?"

Memejamkan mata, Heechul berusaha untuk tidak meledak. Tapi nyatanya dia butuh pelampiasan yang tersalur melalui kepalan yang menyakitkan. Yakinlah, Heechul benar-benar merasa muak. Sangat muak!

"Kau ingin aku tidak mengganggumu lagi. Baik! Kau anggap keinginanku tercapai, jadi anggap saja aku tidak pernah ada!" dengan begitu Heechul melangkah lebar-lebar. Memasuki mobilnya dengan bantingan pintu, menginjak pedal gas sebrutal dia meninggalkan tempat itu.

Jungsoo terduduk. Menghela nafas berat namun lega. Dengan begini dia harap tidak akan lagi berurusan dengan Heechul. Dia akan memberikan apa yang Heechul inginkan. Harta bahkan kehormatannya untuk menebus hutang keluarganya.

"Kau yakin ini benar, Jungsoo?" Kangin bertanya. Dia merasa seperti ada yang salah disini. Tapi tidak bisa menemukan apa itu.

"Semua sudah selesai, paman. Terima kasih atas bantuannya." Jungsoo menunduk sopan pada Kangin juga tuan Choi.

Tuan Choi menepuk bahu Jungsoo. Kangin mengangguk mengabaikan perasaannya yang entah kenapa sama sekali tidak jauh dari rasa lega.

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Tentu saja Kyuhyun mencoba menghubungi Donghae. Tepatnya sejak dia memegang ponselnya kembali. Kartunya mungkin sudah dilenyapkan Kibum, tapi nomor Donghae dia hafal benar.

Tapi apa yang dia dapat? Donghae sempat menerima panggilannya namun begitu tahu itu dirinya sambungannya langsung dimatikan tanpa basa-basi.

Kyuhyun tidak menyerah. Dia mengulang dan terus mengulang. Kemudian nomor itu tidak aktif.

Kyuhyun melepas ponsel, meraup selimut dan menggigitinya dengan kesal.

"Donghae hyung kau keras kepala. Dengarkan aku sebentar saja, jebal." keluhnya.

Siwon keluar dari kamar mandi. Mencuci tangannya kembali di wastafel dekat pintu. Seraya mengeringkan tangan dia memperhatikan Kyuhyun yang murung.

"Kenapa?"

"Aku ingin pulang."

"Tunggu ijin dokter."

Wajah Kyuhyun semakin ditekuk. Dia yakin sekali dokter Yoon tidak berniat memulangkannya. Sudah berhari-hari dia disini, sudah merasa sehat, sudah merasa bisa berlari tapi dia dilarang pergi jauh dari kamarnya. Keluar selangkah saja sudha ditarik masuk lagi. Disuruh berbaring dan berisitirahat sepanjang hari.

"Aku stress lama-lama disini, hyung." rengek Kyuhyun.

Siwon menatapnya takjub. Kyuhyun merengek. Sudah sangat lama sejak dia mendengar rengekan Kyuhyun. Dengan semangat Siwon berjalan menghampiri Kyuhyun. "Aigo. Lebih lama saja disini agar aku sering-sering mendengarmu merengek begini."

Kyuhyun menarik bantalnya dan memukulkannya pada Siwon. Siwon tertawa tanpa mengelak. Kyuhyun berhenti sendiri, memangku bantalnya.

"Aku ingin segera keluar dan menemui Donghae hyung. Aku takut dia semakin salah paham padaku dan…" Kyuhyun memainkan sudut bantal. Memilinnya dnegan perasaan takut. "...pergi." lanjutnya lirih. "Jika dia kembali ke New York, akan sulit lagi aku menjangkaunya. Sekarang aku menyesal tidak membuka jati diriku lebih awal. Andai aku tidak sepengecut itu. Andai aku tidak berfikir terlalu rumit. Aku sangat bodoh." Kyuhyun mengakhiri ucapannya dengan memaki diri sendiri.

Kyuhyun sbenar-benar menyesal karena sewaktu dulu tidak langsung saja mengatakan bahwa dirinya adalah Kyuhyun. Tapi mana dia tahu ternyata Donghae masih mengingatnya. Dan terus berusaha untuk bertemu dengannya?

"Aku mengerti, Kyuhyunie."

Kyuhyun menatap Siwon. Siwon tersenyum membalasnya. "Tapi coba pikir realistis. Untuk menghadapi Donghae kau harus sehat dulu. Kau tidak ingin tumbang sebelum bisa menjelaskan apapun, bukan. Jadi kau harus lebih bersabar lagi."

Mata Kyuhyun membulat sebentar. Kalimat itu! Bibir bawah Kyuhyun maju lalu mencebik. "Kau janjian dengan Ryeowook hyung, ya! Kenapa kalimat kalian sama. Menyebalkan!" Kyuhyun menarik selimut. Menata bantalnya lagi dan merebah.

"Apa iya?" Siwon terkejut sendiri. Kyuhyun berpaling memunggungi Siwon. "Kapan kau berbicara dengan Ryeowook?"

"Aku meneleponnya karena bosan."

"Curhat juga?"

"Jangan membahasnya lagi! Kalian memang berniat menahanku lebih lama, bukan!"

Siwon tertawa merasa lucu dengan sikap Kyuhyun. "Hey," Siwon mencoba menarik bahu Kyuhyun namun Kyuhyun menepisnya. Siwon semakin keras tertawa.

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Ada pohon natal besar di ruang tengah. Sehari sebelum malam natal Henry membawanya ke rumah. Pesanan Kibum katanya. Tapi seorang fans memberinya cuma-cuma. Kibum mengomel, tapi Henry bilang daripada dibuang lebih baik menghargai pemberian fans. Jadilah mereka menggunakan pohon tersebut alih-alih membeli yang lain.

Siwon yang masih di Seoul, ikut menghias pohon tersebut. Ditemani Kyuhyun dan pelayan lainnya. Namun Kyuhyun lebih banyak duduk dan melihat. Belum lama dia keluar rumah sakit, jadi Siwon melarangnya untuk ikut repot. Baru memasang satu hiasan Siwon sudah menyeretnya untuk duduk. Mewanti-wantinya agar tidak kelelahan.

Tapi duduk saja sangat membosankan. Beruntung ada banyak surat Changmin dan email dari teman sekolahnya yang perlu dia baca. Semua surat dan pesan itu dikirim selama dia berada di rumah sakit.

Semua temannya berlibur. Kembali ke Seoul saat natal nanti. Room chat kelasnya penuh berisi dengan cerita pamer liburan mereka. Jinki bahkan mengiriminya pesan pribadi, berupa foto dan kotak berbungkus kertas kado. Jinki sekeluarga pergi ke kampung halaman orang tuanya, menghabiskan natal mereka disana.

Berbeda lagi dengan Changmin. Suratnya datang banyak hampir sebanding dengan banyaknya email. Tidak habis dibaca sekali, jadi Kyuhyun nyicil membacanya. Sepertinya Changmin sangat cemas karena dirinya tidak segera membalas email dan chatnya.

Untuk beberapa waktu Kyuhyun sibuk membalasi email Changmin. Yang segera di respon cepat oleh pemuda di seberang benua itu. Changmin protes karena kartu Kyuhyun tidak aktif, membuatnya jadi berfikiran buruk. Sebagai gantinya Kyuhyun menelepon balik. Berbicara langsung pada Changmin.

Siwon sesekali memperhatikannya. Kyuhyun larut dalam kegiatan itu bahkan ketika dia menelepon seseorang. Siwon lega karena Kyuhyun terlihat lebih sehat dan kembali ceria. Semua berkat Kibum, bukan. Kibum berhasil diluluhkan, atau sebenarnya mengalah untuk Kyuhyun.

Tapi Siwon juga sedikit cemas memikirkan bagaimana Kyuhyun akan berjuang pada Donghae dan Heechul.

"Won hyung kapan pulang?"

Lamunan Siwon buyar oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu. Dia tidak sadar Kyuhyun selesai menelepon. "Wae?"

Kyuhyun berfikir malam natalnya akan seperti apa. Kibum masih sibuk, tidak terlihat akan mengambil cuti, sedangkan Jungsoo masih di Gwangju. Rasanya Jungsoo sudah pergi lama. Apa saat natal juga tiak akan pulang?

"Besok." Siwon menyerahkan hiasan pada Yeun ahjumma untuk diteruskan dan pergi menemani Kyuhyun duduk. "Kibum-ssi akan ada di rumah besok." infonya begitu melihat ekspresi murung Kyuhyun.

"Kata siapa? Dia masih sibuk sampai sekarang."

"Dia sendiri yang bilang. Sore ini Jungsoo-ssi juga sudah ada di rumah. Jadi jangan cemas kau sendirian."

Bagaimana tidak cemas. Pelayan libur mulai besok pagi, termasuk Yeun ajumma dan Yeun ahjussi. Jika Kibum dan Jungsoo juga tidak bisa di rumah maka hanya akan ada dirinya seorang. Dia juga tidak bisa menahan Siwon yang memang harus merayakan natal dengan keluarganya sendiri.

Siwon merapikan mantel hangat dan kupluk Kyuhyun. Menyisip masuk rambut yang terlihat. Rambut yang dicukur habis itu sudah tumbuh lagi meski ada saja yang gugur. Jadi tumbuh tidak rata dan sangat buruk dilihat. Karenanya Kyuhyun akan memakai wig atau penutup kepala di setiap kesempatan. Tapi jika ada kesempatan dia ingin mencukurnya saja.

"Won hyung datang bersama Jungsoo hyung, kan?"

"Heum. Wae?"

"Apa yang terjadi?"

Siwon yang semula memperhatikan pelayan menghias pohon natal beralih menatap Kyuhyun. "Memangnya apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu apapun. Tapi aku ingin tahu. Terjadi sesuatu di Gwangju, ya? Wajah Jungsoo hyung babak belur waktu itu."

Padahal Jungsoo berusaha menutupinya. Tapi terlihat juga. Siwon tidak bisa langsung menjawab. Berfikir sebentar kemudian tersenyum. "Bukan masalah serius. Itu hanya tentang proyek yang dikelola Jungsoo-ssi."

Kening Kyuhyun mengernyit. "Apa hubungannya?" Kyuhyun sedang malas berfikir.

"Euhmmmm." Siwon tidak tahu apa dia harus cerita atau diam saja. Wanti-wanti dokter yang disampaikan Kibum, agar Kyuhyun tidak banyak berfikir, membuatnya diam. "Aku mana tahu juga, kan. Kenapa tidak bertanya langsung pada Jungsoo-ssi?"

Merengut, Kyuhyun berdecak. Jungsoo saja sudah kembali ke Gwangju. Lagipula sekalipun ada entah akan dijawab atau malah diabaikan.

0o0o0o0o0

Usai syuting Kibum menghampiri produser Mi dan sutradara Ahn yang sedang berkumpul. Menginterupsi mereka, meminta cuti natal.

"Ah, Kibum-ssi kami takut tidak bisa memberi ijin. Kita sudah menunda syuting berhari-hari saat kau dan Donghae-ssi kecelakaan. Sedangkan Film ini harus segera selesai."

Produser Mi mengangguki. "Donghae-ssi akan segera kembali ke New York. Kita mengejar waktu untuk itu juga."

"Tapi ini natal. Aku punya keluarga."

Kedua petinggi team film itu tertawa canggung. "Kami pun. Semua kru juga. Tapi semua bekerja keras untuk film ini dan mengorbankan hal itu."

"Mereka pasti juga ingin libur." Kibum keukeuh.

Sambil minum Donghae melirik apa yang dilakukan Kibum. Dia mendengar samar-samar keinginan libur itu. Donghae tidak tertarik. Jika boleh berpendapat dia ingin tetap bekerja agar bisa segera pergi.

"Aku juga ingin berlibur." celetuk Zhou Mi yang memperhatikan juga.

"Keluargamu tidak disini." sahut Donghae.

"Jangan dingin. Kau sendiri tidak ingin merayakan natal dengan Heechul hyung?"

Benar juga.

"Semua orang ingin menghabiskan natal bersama keluarga. Dan aku akan menghabiskan malam itu dengan kalian juga." Zhou Mi menggosokkan telapak tangannya. Mendekati natal suhu udara semakin dingin saja. Dia berharap salju turun disaat yang tepat.

Donghae memutar botol air mineralnya. Kembali memperhatikan Kibum lagi. Mereka berdebat, Kibum terlihat keras kepala namun tegas dan tenang.

"Baiklah. Kita libur malam natal." akhirnya sutradara Ahn kalah.

"Besok."

"Ok. Besok. Tapi setelah itu, jangan mengeluh dengan jam syuting." sutradara Ahn menegaskan.

"Kau pernah mendengarku mengeluh?" Kibum tersenyum tampan dengan sedikit rasa sombong. Sutradara Ahn kicep. Kibum menunduk sekilas kemudian pergi. Melewati Donghae tanpa meliriknya barang sedikit. Begitu juga Donghae, tidak ada keiginan keduanya untuk menyapa dan berbasa-basi.

Sejak kembali syuting keduanya berbeda. Tidak ada interaksi sama sekali di luar skenario film. Para kru merasa heran. Produser Mi menggigit jari melihat kebekuan mereka yang kembali terbangun. Bagaimana dia akan menjelaskan ini kepada Hangeng.

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Para pelayan libur setelah mendapat uang saku untuk natal kemarin sore, diserahkan sendiri oleh Jungsoo. Yeun ajussi dan ahjumma menyusul libur pagi ini. Begitu juga dengan Siwon.

"Siapa yang akan memasak?" Kyuhyun bertanya setelah melepas kedua orang kesayangannya. Kyuhyun termasuk anak yang dekat dengan pelayannya. Mengingat mereka lebih sering ditemui dibanding kedua hyungnya.

"Kita masih punya Jungsoo hyung." Kibum merangkul Kyuhyun, mengajaknya masuk.

"Jungsoo hyung bisa masak?"

"Tentu saja."

"Aku sudah minta Yeun ahjumma memenuhi kulkas dengan bahan makanan." Jungsoo pergi ke dapur. Memeriksa kulkas, memilih bahan masakan seraya berfikir apa yang akan di masak hari ini. "Sudah lama tidak memasak. Tapi kalian akan tetap memakan ini apapun jadinya nanti."

Kyuhyun meringis. "Asal ada rasanya." dia duduk di kursi konter.

Sedangkan Kibum ikut masuk ke area dapur. "Aku tidak akan membiarkanmu meracuni uri Kyuhyun."

"Heee kau mengejek sekali, Kibum! Ingat di singapur dulu setiap hari kau makan masakanku."

Kibum berlagak ingin muntah. Berbisik pada Kyuhyun. "Masakannya sangat standart. Aku makan hanya karena kasihan."

Kibum sukses kena pukul sendok kayu di kepalanya oleh Jungsoo. Kyuhyun tertawa melihat kedua hyungnya bercanda. Bertepuk tangan seolah menonton lawakan receh.

0o0o0o0o0

Donghae membiarkan Zhou Mi menghias pohon natal kecil. Dia tidak tertarik untuk melakukannya. Donghae melihat tumpukan tinggi di sudut ruangan. Kotak dengan sampul warna warni menumpuk banyak. Ada yang berpita, besar, kecil. Semuanya hadiah kiriman fans, juga tidak menarik perhatiannya.

Dia hanya malas-malasan di kursi. Menikmati liburan yang rasanya membosankan.

"Aku tidak mengerti denganmu, Aiden. Dia sudah meneleponmu, kan. Bukannya bicara malah di matikan."

"Aku tidak siap."

"Kau hanya perlu mendengarkan."

"Aku takut goyah lagi. Menjadi orang bodoh lagi."

Zhou Mi tertawa kering. "Kau memang bodoh." ujarnya ringan.

Donghae mengerang keras. Mematikan TV dan akan beralih ke kamar. "Hey, nona Hae Jin mengundang makan malam."

"Aku tahu."

"Baguslah. Aku bisa makan makanan rumahan malam ini."

Donghae menenggelamkan diri ke dalam kamar. Memejamkan mata meski tidak tidur.

0o0o0o0o0

"Yunho hyung mengundang makan malam." Kyuhyun menunjukkan ponselnya. Ada pesan dari Yunho agar dibaca kedua hyungnya. "Aku harus balas apa?"

"Kita akan datang." kata Jungsoo, meraih gelas minumnya. Yunho dekat dengan Kyuhyun. Berkat itu juga Yunho sudah seperti teman. Jungsoo merasa banyak dibantu Yunho dalam menjaga sang adik.

Kyuhyun membalas undangan Yunho kemudian meletakkan ponselnya. Melanjutkan sarapan mereka, dengan masakan Jungsoo feat Kibum. Kyuhyun merasa senang hari ini. Nafsu makannya menanjak tinggi tiba-tiba. Melahap racikan sederhana yang kurang bumbu menurut orang lain.

Henry datang hari itu mengusung banyak kado dari fans. Kibum tidak terlalu antusias. Sebaliknya Kyuhyun yang heboh dengan hadiah-hadiah itu dan membukanya secara acak.

"Hyung, aku tidak dapat hadiah natal?" tanya Kyuhyun ingat akan diri sendiri, dia berseru pada Jungsoo di dapur.

"Aku tidak biasa memberi kejutan. Jadi katakan saja kado apa yang kau mau." Jungsoo mengupas beberapa buah .

Meninggalkan kado-kado yang berserakan karena ulahnya, Kyuhyun menjatuhkan diri di sebelah Kibum. "Kalau Bum hyung?" giliran menagih pada Kibum.

Kibum menunjuk ke depan, pada tumpukan kado yang sisanya sudah di buka Kyuhyun. "Kau bisa ambil semuanya."

"Hishh. Changmin saja mengirimiku kado."

"Jangan disamakan. Lagipula kau keterlaluan sekali pada temanmu itu. Dia memberimu hadiah tapi apa yang kau kirim untuknya?"

Kyuhyun merengut. Dia sudah merasa sebelum diingatkan. Tapi bahkan dia belum menyiapkan apapun untuk Changmin.

Jungsoo datang membawa sepiring buah manggis yang tadi dikupasnya. Ditaruh di pangkuan Kyuhyun. Kode agar Kyuhyun memakannya.

"Belanja sekarang pun percuma." ujar Jungsoo duduk di single sofa. Tapi Kyuhyun masih murung. "Nanti kita cari kado untuk Changmin. Apa yang biasa kau kirim untuknya?"

"Aku sering mengiriminya makanan. Dia paling suka makanan."

"Jenis apa yang bisa dikirim sejauh dan selama itu?" tanya Jungsoo takjub.

"Kimchi dan beberapa bahan makanan. Paman tidak punya uang banyak. Jadi hanya makanan yang bisa kukirim." Kyuhyun memasukkan satu sisir manggis.

Kibum melirik Jungsoo. Jungsoo nampak serius membicarakan soal Changmin. Mungkinkah ada hubungannya dengan berkas kesehatan yang dibicarakan dokter Yoon. Mungkin saja Jungsoo mempertimbangkan untuk mengirim Kyuhyun berobat ke Amerika. Pada ayah Changmin yang dengar-dengar menyanggupi untuk membantu pengobatan Kyuhyun.

0o0o0o0

TBC

Wednesday, March 15, 2017

7:23 PM

Sunday, October 29, 2017

7:56 PM

Up nya akan semakin lelet. Terasa berat juga untuk saya. Semoga yang masih mampu membaca ff ini berkenan untuk bersabar. Seperti saya yang bersabar menunggu ide buat nglengkapi draf ff nya.

Terima kasih

Sima Yu'I

(SY'I)