Selepas pembicaraannya dengan ayah Baekhyun yang terbilang cukup mengejutkan, Chanyeol di perbolehkan untuk menemui Baekhyun di kamarnya.

Ngomong-ngomong ini pertama kalinya Chanyeol masuk kamar Baekhyun lewat jalan yang benar.

Setelah mengetuk pintu dua kali dan mendengar Baekhyun menyahut, Chanyeol memutar knop pintu dan mendorongnya pelan.

Disana, Baekhyun duduk dengan tenang di tepi ranjang.

Seakan-akan sudah menanti sedari tadi.

Chanyeol menutup pintu dan berdiri diam di tempatnya. Wajahnya jelas masih terkejut dan setengah tegang.

Chanyeol menggeleng beberapa kali. Awalnya pelan tapi lama kelamaan bertambah cepat dan di iringi tawa yang terdengar sumbang.

"Aku tak percaya,"

Baekhyun mengangguk.

"Aku juga,"

Chanyeol dengan konyolnya jongkok dan memegang kepalanya.

"Rasanya otakku akan meledak. Sungguh, itu mengejutkan,"

Baekhyun balas tertawa dan sekarang kamarnya penuh oleh tawa dari keduanya.

.

.

"Jadi, sekarang aku sudah direstui?"

Chanyeol berkedip menatap Baekhyun yang bersandar di dadanya.

"Menurutmu?"

Sebuah kecupan di puncak kepala menjawab pertanyaan Baekhyun. Si mungil itu membalasnya dengan pelukan yang kian erat.

Berpelukan sambil tiduran merupakan satu dari sekian posisi yang keduanya sukai.

Baekhyun suka saat Chanyeol berbaring di sisinya dengan sebelah tangan yang dia jadikan bantal. Kepala yang bersandar di dada membuatnya dapat mendengar dengan jelas detak jantung si jangkung itu.

Dan Chanyeol lebih dari sekedar suka posisi seperti saat ini. Karena dengan berpelukan seperti ini dia merasa menjadi pemuda paling beruntung yang dapat melindungi si mungil menggemaskannya.

"Chan?"

"Ya?"

"Bagaimana kabar Naomi?"

Kali ini Chanyeol bergerak dari posisinya. Bangkit untuk duduk dan membuat Baekhyun ikut duduk.

"Kenapa bertanya soal Naomi?"

Baekhyun mengangkat bahunya sekilas.

"Entah. Hanya saja aku merasa tidak enak dan mungkin perlu meminta maaf?"

Chanyeol tersenyum. Manis sekali.

"Kenapa harus?"

"Ya, akhir-akhir ini aku merasa sangat jahat telah merebutmu dari dia dengan cara seperti itu,"

Baekhyun memang kadang seperti itu. Mungkin kemarin dia bisa berbuat sejahat penyihir, tapi percayalah. Baekhyun tak lebih dari pemuda mungil yang masih sering memikirkan perasaan orang di sekitarnya.

"Dia baik kok. Kadang aku masih bertukar pesan dengannya,"

Jawabannya sukses membuat Baekhyun mendelik.

"Hei jangan memandangku seperti itu, Baek. Aku hanya sekedar bertukar informasi biasa. Kau tahu sendiri dia mahasiswa yang sangat aktif. Dia juga bilang padaku kalau dia juga tahu batasan sebagai mantan. Dia sangat menghargaimu sebagai pasanganku,"

Tangan Chanyeol bergerak mencubit hidung Baekhyun.

"Jangan cemburu. Sungguh, Naomi bukan tipikal gadis pendendam seperti yang pembaca harapkan. Dia tipe gadis yang akan berteman kembali seperti sedia kala dengan mantannya. Toh sekarang dia sudah punya Bambam,"

"Baguslah. Aku jadi tak perlu khawatir kau diambil kembali,"

.

.

Hari Baekhyun masih berjalan seperti biasa.

Yang berbeda hanya bagian Chanyeol yang mulai bebas datang ke rumahnya kapan saja. Ya benar, kapan saja.

Seperti dua hari lalu. Chanyeol yang memang kadang punya otak ajaib itu datang ke rumahnya pukul satu dini hari.

Alasannya?

Katanya mengantar donat yang Baekhyun inginkan. Padahal Baekhyun update jam 10 malam.

Kata Chanyeol, "Tak apa telat tiga jam. Daripada tidak sama sekali. Nanti bayiku menangis,"

Saat itu Baekhyun langsung menyubit perut Chanyeol. Padahal tak dapat apa-apa. Ya, bagaimana ya? Perut Chanyeol mana ada lemak, yang ada hanya otot yang rutin dilatih tiap hari Kamis.

Baekhyun si senang-senang saja punya gebetan pengertian macam Chanyeol.

Tapi kadang juga kesal.

Yang bikin kesal itu kalau ada yang bertanya seperti ini, "Udah jadian?"

Atau ini, "Udah ditembak?"

Paling parah ini, "Lengket mulu, pacaran engga,"

Tau lah siapa yang berani bicara seperti itu. Tentu saja Sehun, memang siapa lagi?

"Kerjamu melamun. Aku penasaran apa yang ada di otakmu,"

"Yang jelas bukan kau,"

Saat ini Baekhyun tengah duduk di bangku kantin FISIP. Di hadapannya ada sepiring kentang goreng yang hanya tersisa separuh dan segelas susu cokelat. Juga satu makhluk yang sebulan lagi resmi menjadi adiknya.

"Uhh, jahatnya."

Sambil menjawab, tangannya maju mengambil kentang goreng milik Baekhyun. Gerak Sehun otomatis membuat Baekhyun mendelik.

"Pesan sendiri bisa?"

"Tidak,"

Alasannya berkunjung ke kantin FISIP katanya si untuk menyicipi jajanan di sana. Tapi semenjak duduk hingga sekarang pun Sehun tak memesan apa pun. Malah mengganggu pesanan Baekhyun.

"Hun,"

"Hmm,"

"Chanyeol kapan nembak yah?"

"Maunya kapan?"

Iya yah, maunya kapan?

Baekhyun bingung kalau sudah di tanya begitu. Tapi sebenarnya dalam hati pun dia mengakui bahwa dia siap kapan pun Chanyeol menyatakan cintanya.

"Emang bakal langsung jawab iya kalau Chanyeol nembak?"

Kalau itu si jangan di tanya. Jawabannya sudah jelas.

Jadi yah, daripada Baekhyun berpikir yang tidak-tidak, lebih baik dia biarkan saja hubungan ini mengalir apa adanya.

Toh tanpa status pun, Chanyeol sudah paten miliknya. Iya kan?

.

.

Chanyeol tersenyum pada setiap mahasiswa yang dia temui di koridor siang itu.

Beberapa mahasiswa sampai merasa tingkah Chanyeol itu aneh.

Senyumnya kelewat cerah. Menyilaukan.

Tapi toh Chanyeol tak peduli. Yang penting sekarang dia harus menemui pujaan hati terlebih dahulu.

Baekhyun baru selesai kelas ngomong-ngomong. Dan Chanyeol kembali pada rutinitas lamanya yang selalu menunggu di depan kelas sampai Baekhyun keluar.

Langkahnya di percepat saat melihat Kyungsoo yang baru saja keluar. Tangannya reflek menarik pemuda bermarga Do tersebut.

"Apa?"

Tipikal Kyungsoo sekali. Tidak sabaran dan tanpa basa-basi.

"Tunggu sampai Baekhyun keluar,"

Lalu Baekhyun menampakkan diri dan langsung menyapa Chanyeol yang tengah berdiri bersisian dengan Kyungsoo.

"Tidak ada kelas lagi kan?"

Chanyeol bertanya pada keduanya yang langsung di jawab sebuah gelengan.

"Bagus. Ayo ikut aku,"

Keduanya diarahkan ke parkiran. Baekhyun si otomatis mengerti, pasti Chanyeol akan membawanya pergi.

Yang Baekhyun tidak mengerti, kenapa harus mengajak Kyungsoo?

Dan pertanyaannya terjawab saat melihat tiga mobil berderet rapi di parkiran dengan beberapa pemuda yang tampak sedang menunggu.

Disana ada Sehun, Namjoon, Mingyu, S.Coups, Joshua, Hoshi, Bobby, Hanbin dan tentu saja Kai yang menjadi alasan Chanyeol mengajak serta Kyungsoo.

"Kemana?"

Baekhyun menghentikan langkah dan menggapai lengan Chanyeol.

"Pantai. Yuk,"

Baekhyun hanya mengedikkan bahu tak peduli dan kembali mengikuti langkah Chanyeol.

Kedatangannya langsung disambut ramai obrolan khas pemuda. Berisik dan kadang sedikit kotor.

"Wahh, pengantin kita sudah datang,"

Tadinya Baekhyun ingin menyahut ucapan Hoshi yang seperti menggodanya. Tapi niatnya batal ketika mendengar celetukkan Mingyu.

"Duhh Kyungsoo lama. Kai sudah tak sabar,"

Lalu dia melihat reaksi Kai yang langsung memukul Mingyu dan menendang pantat Hoshi.

"Diem, sialan,"

Baekhyun menatap Chanyeol meminta penjelasan.

"Usaha biar balik lagi,"

Setengah berbisik, Chanyeol menjawab tanya yang ada di otak Baekhyun. Sebelah tangannya tersampir di bahu sempit Baekhyun dan membawanya maju berkumpul dengan yang lain.

"Pembagian mobil?"

Joshua yang pertama memberi kode kepada yang lain untuk berhenti saling menggoda.

"Baekhyun, Mingyu, S.Coups, sama Joshua ikut mobilku,"

Chanyeol menyahut pertama yang langsung membuat tiga pemuda lain berpindah posisi ke samping Chanyeol.

"Yaudah. Bobby, Hanbin, Namjoon,Hoshi di mobilku,"

Sahutan Sehun langsung membuat Kai mendelik.

"Terus ini mobil Bobby?"

"Lu lah yang bawa,"

Jawaban kelewat cepat yang Bobby lontarkan membuat pemuda bergigi kelinci itu langsung dihadiahi tendangan di betisnya.

Tersangkanya? Siapa lagi kalau bukan Kai.

"Okey. Barang bawaan taruh aja di mobil Bobby. Kalau udah langsung masuk mobil masing-masing,"

S.Coups langsung memberi komando pada yang lain untuk mengatur barang mereka.

.

.

Baekhyun si tidak tahu apa rencana yang dibuat sekumpulan pemuda kelebihan energi ini. Yang penting dia bisa menikmati refreshing singkatnya saat ini.

Chanyeol, Namjoon, Mingyu, S.Coups, Hanbin, dan Bobby saat ini sedang bermain volly pantai dengan semangat seperti sedang mengikuti turnamen olahraga nasional.

Sedangkan Baekhyun, Kyungsoo, dan Joshua baru saja kembali dari acara bermain air di tepi pantai.

Kai dan Hoshi masih belum kembali dari acara mencoba berbagai wahana yang ada di pantai tersebut. Keduanya benar-benar menikmati refreshing ini. Mungkin jika diajak pulang keduanya akan menolak dengan alasan belum cukup.

Sehun sendiri hanya diam di pondok yang mereka sewa. Sibuk sendiri dengan ponselnya. Saat diminta untuk bergabung, bocah tinggi itu beralasan malas. Katanya panas.

Ya Baekhyun sebagai calon kakak yang dari awal sering jadi lawan adu mulutnya langsung membalas, "Kalo mau dingin sana masuk freezer. Jangan ke pantai,"

Sehun cuma menjawab dengan bibir mengerucut sok imut.

"Makanannya masih belum datang?"

Sehun menggeleng.

"Baru minum yang datang. Mungkin pesanan kita terlalu ribet jadi lama,"

"Kamu bawa powerbank, Hun?"

Sehun mengambil tasnya dan mengaduknya sebentar. Lalu mengangsurkan powerbank yang diminta kea rah Joshua.

"Abis ini kita kemana? Masih jam empat nih,"

"Kata Namjoon si di sebelah sana bakal ada festival musik dan pesta kembang api. Mungkin abis makan kita langsung ke sana,"

Sehun berkata sambil menunjuk sisi pantai yang tampak sedikit jauh dari posisi mereka.

Kerlip lighting sedikit terlihat dari posisi mereka saat ini. Terlihat ramai oleh manusia yang tampak seperti semut karena jauhnya jarak.

Dan mungkin bukan pilihan yang buruk untuk menghabiskan sisa hari disana.

.

.

Hentak suara musik terdengar sangat bising. Namun hal tersebut tidak membuat ratusan manusia disana merasa terganggu. Sebaliknya, mereka justru menikmati suasana yang sedemikian rupa dan bukan sekali dua kali mereka tertawa bahagia.

Dari ratusan manusia yang berkumpul di depan panggung tersebut, ada sekumpulan mahasiswa yang tengah tertawa lepas menikmati acara.

Hoshi dan Mingyu saling rangkul sambil ikut bernyanyi dengan suara keras seakan ingin menyaingi sang vokalis. Disebelahnya ada Hanbin, Bobby, Sehun, Kai dan S.Coups yang berjoget dengan rusuh tak karuan. Lalu di sebelah kanan dari gerombolan rusuh itu ada Kyungsoo, Joshua dan Namjoon yang berdiri diam menikmati musik dengan santai.

Sedangkan Chanyeol dan Baekhyun berdiri di belakang gerombolan rusuh itu dengan sebelah tangan Chanyeol yang merangkul bahu Baekhyun. Dan tangan yang lain terangkat melambai mengikuti alunan musik.

Baekhyun sesekali akan menendang Bobby yang bertingkah konyol. Lalu ikut tertawa lepas saat melihat gerombolan itu mulai berjoget seakan sedang datang ke konser dangdut.

"Apa?"

Baekhyun bertanya saat merasa Chanyeol diam dan menatapnya dalam.

Panggung yang semula di kuasai oleh sebuah band, kini berganti dengan seorang DJ yang langsung memutar musik dari salah satu musisi terkenal dunia, The Chainsmokers. Otomatis Baekhyun langsung menjerit seakan bertemu langsung dengan musisi tersebut.

Chanyeol hanya tertawa saat melihat Baekhyun mulai meloncat penuh minat. Sebelah tangannya yang bebas maju untuk mencubit pipi Baekhyun.

"Aww!!"

"Senang sekali ya?"

Baekhyun mengangguk dan kembali menikmati hentak musik yang sangat keras.

Chanyeol menelusuri setiap detail wajah Baekhyun. Pipinya sukses merona saat mendapati wajah Baekhyun yang menawan tersebut terkena cahaya lighting panggung.

Tangan yang semula bertengger di bahu, kini merosot ke pinggang.

"Baek?"

Baekhyun mengalihkan atensi dari panggung di hadapannya ke pemuda jangkung di sampingnya.

"Mau jadi kekasihku? Ahh bukan. Mau jadi satu-satunya pemilik mutlak diriku?"

Baekhyun reflek mundur beberapa senti. Terlalu terkejut akan ucapan yang di lontarkan Chanyeol.

Dia sama sekali tidak menyangka si jangkung itu akan mengajukan pertanyaan seperti itu saat ini.

Jauh dari ekspektasi Baekhyun yang mengira mungkin saja Chanyeol akan memintanya dengan sebuah makan malam mewah ataupun kejutan romantis.

Tapi ternyata Chanyeol punya cara tersendiri untuk menyatakan maksudnya.

"Lihat!! Kembang apinya akan dimulai!"

Itu suara Hoshi yang langsung membuat Baekhyun memalingkan muka. Reflek sengaja dengan dalih menutup rona.

Baekhyun tersipu, bung.

DUAR!!

DUAR!!

"Iya aku mau,"

DUAR!!

Nyaris tak terdengar andai saja Chanyeol tidak terus-terusan menatap wajah Baekhyun.

Ronanya masih disana. Dan justru bertambah merah saat jawaban itu terlontar dari lisannya.

Dan Chanyeol menunduk menahan senyum bahagianya.

Heii, kalian pikir hanya Baekhyun yang merona? Lihat, Chanyeol juga bisa. Dan terlihat menggelikkan sampai-sampai Sehun melontarkan ejekan berupa, "Eww menjijikan sekali mukamu,"

Yang langsung dibalas tendangan di pantat oleh Chanyeol.

Heran. Sempat-sempatnya yah? Padahal sedang menahan sipu malu karena bahagia status mereka sekarang resmi.

END

HA HA!!

Iya end. Beneran.

Terimakasih untuk kalian yang mengikuti ff ini dari awal Chanyeol masih masuk kamar Baekhyun lewat jendela sampai akhirnya bisa masuk lewat pintu.

Makasih banget untuk komentar kalian yang lucu-lucu banget. Andai ini wp, udah aku bales satu-satu.Oh ya, setelah baca ini dari awal.Ternyata aku sadar ada satu kesalahan fatal. Sehun ternyata pernah sekali nongol pas Chanyeol main futsal. Huhu, aku ceroboh. Yaudahlah ya, anggap aja Sehun yang itu beda sama Sehun yang jadi adiknya Baekhyun.

Last but not least, aku mau promo wkwk. Karena ini udah end, kuy tengok ff-ku yang satunya. Judulnya Amaranth.

Yang punya Joylada sama Wattpad, bolehlah mampir ke akunku. Namanya baerryriana . Ramaikan lapakku kuy biar aku semangat nulisnya hehe.

Udah ya,

See you di lapak lain,

Phay-phay, muahhh..