Gift Of Love

.

Naruto milik Masashi Kishimoto.

.

Real Story by Julie Garwood

.

Tachibana Ema

.

Warning AU, OOC, miss typo

.


.

"Oh Tuhan… Sasuke aku sudah menuduhnya bersalah ya?" kata Sakura ketika dia menyadari kalau Hinata tidak salah dalam masalah ini. Kalau dia masih peduli pada Kakaknya untuk apa wanita itu mendatanginya hanya untuk sekedar memperingatinya. Sakura merasa dirinya sangat bodoh saat ini. "Aku tidak menduganya kalau dia… dia juga tidak membela dirinya. Andai dia membela dirinya mungkin aku…"

"Untuk apa?" tanya Sasuke.

"Ya ampun, betapa bodohnya aku," gumam Sakura. "Sasuke, tadi Hinata bilang kalau dia akan pulang, kan? Bukan kah untuk seseorang yang sudah memutuskan hubungan dengan ayahnya itu terdengar sangat aneh? Apa karena itu kau berpikir kalau Hinata tidak bersalah."

"Sejauh ini aku hanya bisa menyimpulkan satu hal."

"Apa itu?" Tanya Sakura kebingungan memandang suaminya.

"Hinata mencintai Naruto. Kau hanya perlu melihatnya dan kau akan tahu kalau dia sangat mencintai kakakmu. Kalau dipikir-pikir untuk apa dia datang ke sini hanya untuk memperingati kita, kalau dia tidak peduli pada kakakmu? Sekarang biarkan aku pergi mengejarnya."

Sebelum sempat Sasuke keluar dari ruang tamu, pelayannya Yamato menahannya, "Maaf Tuan, Anda terlambat," ucap Yamato. "Dia sudah pergi."

"Kenapa tidak kau hentikan?" tanya Sasuke sambil begegas kepintu depan berharap kalau Hinata masih bisa dikejar.

"Maaf Tuan, tadi saya penasaran apa yang sedang Anda bicarakan, jadi saya sibuk menguping," kata Yamato tanpa rasa bersalah sudah mengupin pembicaraan majikannya. "Oh iya, Nyonya."

"Ya? Kenapa Yamato?" sahut Sakura dengan cemas.

"Saya harap Anda tidak keberatan karena saya memberikan beberapa lembar uang pada saudara ipar Anda, karena nona Hinata tidak membawa uang dan dia perlu untuk membayar ongkos taksinya."

"Oh Tuhan," kata Sakura. "Yamato apa kau sempat bertanya pada supir taksinya kemana tujuan Hinata sela…"

Belum sempat Sakura menyelesaikan pertanyaannya, pintu depan rumahnya digedor dan didobrak dengan sangat keras oleh seseorang dan diiringi suara menggelegar yang sudah sangat Sakura kenal. Siapa lagi kalau bukan kakaknya Uzumaki Naruto.

"Dimana Adikku?"

Mendengar suara yang sangat dikenalnya berteriak-teriak di dalam rumahnya, Sasuke segera mendatangi sumber suara tersebut, tapi belum juga Sasuke mendatanginya sang pelaku sudah berdiri tegap di depannya. "Senang rasanya bisa bertemu denganmu lagi Naruto," kata Sasuke perlahan-lahan, berusaha menyindir kakak iparnya itu karena sudah masuk rumahnya seenaknya saja. Bukannya mengucapkan salam malah beteriak seolah dia majikan di sini.

"Aku tidak punya waktu untuk beramah tamah, ada hal penting yang harus segera ku urus," kata Naruto yang tidak tersinggung sama sekali oleh sindiran adik iparnya itu.

"Oh hal penting apakah itu?" tanya Sasuke masih jengkel atas sikap kurang ajar kakak iparnya itu. "Atau jangan-jangan karena kau terlalu kangen ingin bertemu Sarada, kau sampai tergesah-gesah seperti ini? Tapi sayang anak itu sedang tiidur sekarang."

"Sarada baik-baik saja, kan?" tanya Naruto sedikit cemas kalau keponakan satu-satunya itu dalam bahaya.

Seolah menjawab pertanyaan pamannya, tangisan Sarada terdengar dari lantai atas. Yamato yang mengerti keadaanya segera mengajukan diri untuk mengurus anak majikannya itu. "Biar saya yang mengurus Sarada Nyonya," kata Yamato begitu Sakura hendak bangun dari duduknya.

Sakura mengangguk setuju. "Tolong ya Yamato."

"Baik Nyonya."

Setelah Yamato naik ke lantai atas, Sasuke kembali menatap Naruto hendak menegurnya karena telah mengusik tidur putrinya, tapi ketika melihat raut wajah kakak iparnya, Sasuke berubah pikiran. Ekspresi wajah Naruto saat ini belum pernah Sasuke lihat, kakak iparnya itu terlihat sangat ketakutan dan juga cemas. Apa hal ini ada hubungannya dengan kedatangan Hinata tadi?

"Oh, Naruto. Syukurlah kau datang," kata Sakura cemas.

"Duduk," perintah Naruto segera saat Sakura hendak berdiri dari duduknya, dan tanpa banyak bantahan Sakura langsung menuruti perintah sang kakak.

"Kuatkan dirimu. Keluarga Hyuuga sudah tahu tentang ayah kita, dan hanya masalah waktu sebelum berita itu tersebar. Paham?" kata Naruto tegas dan penuh tuntutan agar adiknya itu mengerti. Karena dia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan berita itu lebih rinci.

Begitu Sakura mengagguk, Naruto langsung berbalik hendak melangkah pergi. Tapi Sakura langsung menahannya, "Tunggu," panggil Sakura. "Naruto ada yang ingin kubicarakan denganmu, jangan pergi dulu,"

"Aku tidak punya banyak waktu," seru Naruto.

"Kenapa harus buru-buru? Duduklah dulu, ada yang ingin kami bicarakan denganmu," kata Sasuke mewakili istrinya.

"Aku harus mencari istriku!" kata Naruto nyaris membentak Sasuke. "Dia hilang."

Naruto sudah hampir mencapai pintu keluar ketika kata-kata Sasuke menarik perhatiannya. "Istrimu yang cantik itu baru saja dari sini."

"Hinata? Ke sini?!" kata Naruto nyaris membentak karena saking kagetnya.

"Haiss… tidak bisa kah kau tidak mebentak ketika membuka mulutmu? Duduklah, nanti kami jelaskan."

"Untuk apa istriku kemari?" tanya Naruto tanpa mempedulikan saran Sasuke.

"Dia ingin bicara pada kami," kata Sakura menjawab pertanyaan kakaknya.

"Kenapa kau biarkan dia pergi? Berengsek, kemana perginya dia sekarang," umpat Naruto kesal.

Sasuke mengisyaratkan pada kakak iparnya untuk mendekat sebelum dia memberikan jawabannya. Dan ketika Naruto menuruti perintahnya Sasuke berkata, "Hinata datang untuk memperingati kami. Tapi dia tidak seterang-terangan kau."

"Apa dia bilang padamu kemana tujuan dia berikutnya?" tanya Naruto.

Ketika Sakura hendak menjawab pertanyaan kakaknya, Sasuke langsung menggelengkan kepalanya. Melarang Sakura untuk memberitahukan tujuan Hinata. Karena Sasuke ingin Naruto duduk dan menjelaskan semuanya padanya. "Kami akan mengatakan padamu ke mana Hinata pergi setelah kau duduk dan bicara pada kami," kata Sasuke. "Sekali saja Naruto, kau harus bersikap sopan. Mengerti?"

"Aku tidak punya waktu untuk semua ini. Aku harus menemukan Hinata. Apa perlu aku patahkan lenganmu demi mendapatkan informasi yang kubutuhkan?" ancam Naruto.

"Aku berani jamin, saat ini Hinata cukup aman," kata Sasuke sambil kembali duduk disamping sang istri. "Duduklah," perintahnya kembali dengan nada yang lebih tegas. "Lagi pula ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu dan aku tidak akan memberitahumu ke mana Hinata pergi sampai aku mendapat jawaban."

Naruto tahu tidak ada gunanya berdebat pada saat seperti ini. Menghajar adik iparnya habis-habisan sekarang juga tidak akan membantu. Karena Sasuke akan balas menghajarnya dan waktu berharganya mencari Hinata terbuang sia-sia, dan ketika perkelahin selesai, Sasuke juga masih akan tetap keras kepala dengan tidak memberitahukan dimana Hinata sekarang.

"Kenapa kau tidak bisa bersikap sepert Sai, sih? Merepotkan saja," dumal Naruto kesal sambil duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut. "Sakura seharusnya kau menikah dengan Sai saja. Sai jauh lebih menyenangkan dibanding orang ini."

"Tapi aku tidak mencitai Sai, Naruto. Apa kau tega aku menikah dengan seseorang yang bukan aku cintai?" jawab Sakura sambil memandang suaminya.

"Baiklah, baiklah," kata Naruto berusaha mengalah walau tidak rela. "Cepat ajukan pertanyaanmu."

"Katakan padaku bagaiamana keluarga Hyuuga sampai mengetahui tentang ayah kalian?"

"Aku tidak tahu," kata Naruto sambil mengendikkan bahunya. "Lagi pula tidak penting juga bagaimana kebenaran itu bisa terkuak."

"Tidak penting? Yang benar saja," potong Sasuke. "Apa kau percaya kalau Hinata memberitahu keluarganya?"

"Mungkin saja," jawab Naruto.

"Kenapa?" tanya Sakura.

"Kenapa dia memberitahu mereka atau kenapa aku percaya dia melakukannya?" tanya Naruto yang mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini.

"Kenapa kau percaya kalau dia memberitahu keluarganya?" ulang Sakura. "Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Naruto. Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan topik ini. Aku tidak akan berhenti menanyakannya, jadi sebaiknya kau jawab saja."

"Ya… karena Hinata adalah seorang perempuan," jawab Naruto.

"Aku perempuan," kata Sakura yang tidak terima Hinata disalahkan karena dia seorang perempuan. "Apa hubungannya dengan masalah yang kita bicarakan ini?"

"Ya, tentu saja kau seorang perempuan," jawab Naruto. "Tapi kau lain, Sakura. Kau tidak seperti seorang perempuan."

Sakura tak tahu apakah dia baru saja dihina atau dipuji. Dia menatap Sasuke untuk melihat bagaimana reaksi suaminya atas pandangan Naruto tentang perempuan.

"Naruto, apa kau masih belum mempelajari apa pun tentang perempuan selama kau bersama Hinata?" tanya Sasuke frustasi atas pandangan Naruto tentang seorang perempuan.

"Sasuke, aku tidak menyalahkannya," kilah Naruto. "Aku hanya sedikit marah padanya, tapi itu juga karena dia tidak mau mengakui kalau dia sudah memberitahu keluarganya. Seharusnya dia tidak berbohong padaku. Tapi… mungkin dia…"

"Coba aku tebak," potong Sasuke. "Apa karena dia tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu itu? Benar, kan?"

"Astaga… Naruto. Pandanganmu tentang perempuan sangat menjijikan," kata Sakura penuh emosi. "Aku tidak tahu kalau kau sangat… kau tahu Naruto? Kau pria yang sangat arogan," lanjut Sakura masih dengan penuh emosi. Ketika Sasuke berusaha menenangkannya Sakura kembali bertanya pada kakaknya itu. "Apa karena dia seorang Hyuuga, maka kau begitu sulit untuk mempercayainya?"

"Bukannya itu sama saja seperti maling teriak maling?" cemoh Sasuke kesal atas pandangan Naruto tentang perempuan. "Jika Naruto saja tidak punya rasa percaya pada istrinya karena latar belakang keluarganya. Seharusnya Hinata juga sama sepertinya, yang tidak seharusnya mempercayainya."

Naruto yang diberondong pertanyaan-pertanyaan menyudutkannya mulai merasa tidak nyaman dan ingin segera mengakhir pembicaraan yang tidak berguna ini. "Hinata tidak seperti itu, dia mempercayaiku," gumam Naruto. "Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak menyalahkannya."

"Kalau sekali lagi kau mengatakan karena dia seorang perempuan, aku yakin aku akan mencikikmu Naruto," kata Sakura penuh ancaman.

"Cukup!" kata Naruto sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. "Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada gunanya. Cepat katakan padaku Sasuke, kemana Hinata pergi?" tuntut Naruto pada Sasuke sambil beranjak berdiri dari duduknya.

"Naruto, bagaimana kalau dia tidak bersalah?" tanya Sasuke tanpa mepedulikan tuntutan Naruto. "Apa kau tahu artinya kalau dia tidak bersalah, Naruto?"

"Apa maksudmu?" tanya Naruto.

"Maksudku, kalau kebetulan kau ternyata salah tentang Hinata, berarti ada orang lain yang memegang berkas ayahmu. Dan itu artinya ada orang yang membobol masuk ke Dapertemen Perang, membobol penyimpanan internal, dan berhasil membuka berangkas tempat penyimpanan berkas-berkas. Kita bisa saja menghadapi penghianat lain. Rahasia yang paling dijaga Negara kita tersimpan di dalam sana. Berkasmu, berkasku dan juga Sai ada di sana. Rahasia kita bisa saja beresiko tersebar sama seperti berkas ayahmu."

"Itu tidak mungkin," kata Naruto. "Kau terlalu cepat menyimpulkan. Hal itu tidak mungkin terjadi."

"Tidak, Kak, bisa saja Sasuke benar, bagaimana kalau hal itu terjadi?" bisik Sakura yang masih bisa didengar Sasuke mapun Naruto. "Sasuke, kau harus secepatnya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Itu pasti," kata Sasuke. Lalu kembali menatap Naruto, "Hinata memberitahu kami kalau dia akan pulang. Tapi sebenarnya itu agak bertentangan. Katanya dia ingin menengok ibunya, lalu baru pulang."

"Dia juga mengatakan kalau dia sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya. Aku rasa kau termasuk didalamnya, Naruto," kata Sakura.

"Jika aku harus mengobrak-abrik rumah keluarga Hyuuga dari atap sampai ke bawah tanah, demi Tuhan aku akan melakukannya," kata Naruto sambil beranjak keluar rumah.

"Tunggu Naruto, aku ikut denganmu," kata Sasuke segera menyusul Naruto yang sudah sampai di pintu depan. "Mungkin ada lebih dari satu Hyuuga yang menunggu untuk menyambutmu."

"Aku tidak butuh bantuanmu," tolak Naruto.

"Aku tidak peduli kau butuh atau tidak, pokoknya aku akan membantumu," sanggah Sasuke.

"Berengsek, aku tidak butuh bantuanmu, aku masih bisa menangani semua Hyuuga-Hyuuga lemah itu."

"Aku tidak peduli, aku akan tetap ikut denganmu, walau aku tak ikut bertarung," kata Sasuke tak mau mengalah. "Karena aku ingin melihat pertarungan terbesarmu."

"Sialan kau," teriak Naruto yang kemudian kembali terdengar tangisan bayi dari lantai atas.

Yamato yang tadinya sudah hendak turun ke lantai bawah, setelah sebelumnya berasil menidurkan kembali anak majikannya, terpaksa harus kembali karena tangisan bayi kembali terdengar akibat suara ribut-ribut Naruto.

"Pertaruangan lebih besar apa?" tanya Naruto sedikit cemas sambil membuka pintu depan dan mulai melangkah keluar.

Sasuke yang mengikutinya dari belakang menjawab, "Pertaruangan untuk memenangkan hati Hinata lagi."

Mendengar ucapan itu kecemasan langsung menggerogoti hati Naruto, tapi dia langsung menghilangkan pemikiran itu sambil menggeleng-gelenggkan kepalanya.

"Berengsek kau Sasuke, pelankan suaramu. Kau membuat Keponakanku menangis," kata Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Sialan kau, kau yang membuat anakku menangis," kata Sasuke yang ingin sekali mencekik kakak iparnya itu, padahal dia yang sudah membangunkan anaknya kenapa malah dia yang disalahkan. "Naruto, aku berharap semoga Hinata tidak akan memaafkanmu, sebelum kau menderita."

Untuk sesaat Naruto merasa takut atas ucapan Sasuke itu, tapi langsung dia enyahkan pemikiran itu. Karena hal itu bisa dia urus nanti, yang terpenting sekarang adalah menemukan istrinya dulu.

.

.

Saat sampai di kediaman keluarga Hyuuga, Naruto cukup beruntung karena kepala keluarga Hyuuga dan Hanabi sedang tidak ada ditempat, sehingga dia tidak perlu menghadapi gangguan saat mencari istrinya. Yang ada di rumah saat itu hanya ada ibunya Hinata dan dua orang pelayan. Tanpa basa basi dengan ibu mertuanya, Naruto langsung mendobrak setiap pintu yang menghalanginya, walau ada beberapa pintu yang memang tak terkunci tetap dia dobrak sampai pintu itu terlepas dari engselnya. Naruto mencari Hinata kesetiap sudut ruangan yang ada di kediaman keluarga itu. Naruto benar-benar membuktikan ucapannya untuk mencari HInata sampai ke ruang bawah tanah, tempat barang-barang yang tak terpakai tersimpan. Tapi tetap saja Hinata tidak ditemukan.

Padahal bisa saja Ibunya Hinata menghemat waktu Naruto dengan memberitahukan kalau tadi Hinata datang sebentar dan telah pergi lagi, tapi Naruto membuat wanita itu ketakutan, dan sepertinya ibunya Hinata juga tak sanggup untuk bersuara. Sehingga wanita itu hanya mampu melihat Naruto yang jalan mondar-mandir di dalam rumahnya dari sudut ruang.

Tapi ketika Sasuke dan Naruto sudah hendak pergi, Ibu Hinata berhasil mengeluarkan suaranya yang terdengar gemetar dan agak serak. "Hinata tadi kemari, tapi dia sudah pergi sejak tiga puluh menit yang lalu."

Naruto yang sempat melupakan keberadaan wanita tua itu, segera menghampirinya tapi langsung berhenti di tengah ruangan ketika perempuan itu terperanjat menjauh. "Apa dia mengatakan ke mana perginya?" tanya Naruto selembut mungkin sambil jalan pelan-pelan menghampiri ibu Hinata. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku sangat mencemaskan Hinata, dan aku ingin menemukannya secepat mungkin."

Berkat suara Naruto yang lembut membantu wanita itu kembali tenang. "Kenapa kau inging mencarinya? Bukannya kau sudah tidak peduli lagi padanya."

"Beberapa minggu terakhir ini justru dia mengatakan yang sebaliknya padaku," sanggah Naruto.

Ibu Hinata perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. Kesedihan terlihat jelas di matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Dari luar wanita itu terlihat mirip dengan Shizune. Tapi Shizune punya semangat hidup, sementara ibu Hinata kelihatan seperti perempuan yang penuh dengan tekanan dan ketakutan.

"Kenapa kau ingin mencari Hinata?" tanya Ibu Hinata lagi.

"Karena dia istriku," jawab Naruto.

"Benarkah kau hanya menginginkan Hinata kembali agar kau bisa mendapatkan hadiah dari Raja? Putriku bertekad akan mencari cara agar kau yang mendapatkan tanah maupun hadiahnya. Tapi dia sudah tidak menginginkanmu," tanya Ibu Hinata lagi. "Kau telah menghancurkan kepolosannya. Selama bertahun-tahun dia selalu menaruh kepercayaannya padamu. Kita berdua sudah menyakitinya," kata Ibu Hinata lagi sambil terisak.

"Hinata selalu mengatakan hal-hal baik tentangmu," kata Naruto. "Jadi tidak mungkin kau menyakitinya."

"Aku sering menyebutnya pembela kecilku," kata Ibu Hinata disela-sela isakannya. "Ketika dia tumbuh menjadi wanita dewasa, Hinata sering membelaku, berjuang demi aku. Dulu rasanya lebih mudah, tapi sayang sekarang semuanya sudah berubah."

"Maaf aku tidak mengerti," kata Naruto. "Berjuang untuk apa?"

"Hanya perselisihan keluarga," jawab Ibu Hinata. "Suamiku Hiashi sering kali membawa-bawa adiknya Hizashi ke dalam perselisihan pribadi kami. Hinata yang selalu membelaku, agar lebih seimbang katanya," sebelum melanjutkan ucapannya Ibu Hinata berusaha merilekskan tubuhnya dan kembali berkata. "Hinata berhak menemukan kebahagian untuk dirinya sendiri. Dia tidak akan menjalani kehidupan sepertiku. Dan dia juga tidak akan kembali kemari. Karena dia sangat kecewa pada kita semua."

"Aku tahu, tapi aku harus tetap menemukannya," kata Naruto berusaha membujuk Ibu Hinata agar memberitahukan keberadaan Hinata kepadanya.

"Apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Ibu Hinata sedikit luluh atas tekad Naruto yang ingin segera menemukan Hinata. "Apa kau sungguh-sungguh peduli padanya? Walau itu hanya sedikit saja?"

"Tentu saja aku sangat khawatir. Hinata membutuhkanku," kata Naruto sambil menganggukkan kepalanya.

"Mungkin kau juga membutuhkannya," kata Ibu Hinata sambil tersenyum penuh makna. "Dia mengatakan padaku kalau dia akan pulang. Kurasa yang dimaksdunya dia akan kembali padamu. Katanya ada beberapa hal yang harus dia selesaikan sebelum dia meninggalkan Negri ini."

"Dia tidak akan meninggalkan negri ini," kata Naruto dengan nada tegas.

"Mungkinkah Hinata pulang ke rumahmu yang ada di kota?" tanya Sasuke sambil mendekati Naruto.

"Aku tidak punya rumah di kota, kau ingat? Rumah itu dibakar habis oleh teman-teman ayahku," kata Naruto sambil mengerutkan keningnya.

"Sial, kau benar. Kalau begitu kemana lagi dia pergi?" Sasuke baru ingat kalau rumah Naruto sudah terbakar habis, dan kakak iparnya itu belum memperbaiki rumahnya. Jadi kemana Hinata pergi? Wanita itu pulang kemana?

Sebelum pergi meninggalkan kediaman Hyuuga, Naruto kembali mengalihkan pandangannya pada Wanita itu, "Terima kasih sudah membantuku. Aku akan mengabarimu secepat mungkin setelah menemukan Hinata."

"Terima kasih," kata Ibu HInata sambil meneteskan air matanya lagi. "Kau tahu? Sejak kecil Hinata sudah sangat mencintaimu, dia selalu mengatakan hal itu padaku. Karena dia tidak berani mengatakannya ke orang lain, karena kalau dia mengakuinya di depan keluarga kami, dia akan diejek dan ditertawakan karena mencintaimu. Dia selalu menyukai fantasi. Di matanya, kau adalah seorang kesatri gagah berani yang akan selalu melindungi dan mencintainya."

"Dan semakin lama si ksatria itu semakin berkurang ke gagahannya," seloroh Sasuke.

Tanpa mempedulikan ejekan adik iparnya, Naruto kembali pamit pada Ibu Hinata, "Sekali lagi terima kasih, kau sudah sangat membantuku."

Melihat ketulusan dan kelembutan Naruto, Sasuke terkejut karena tidak biasanya Naruto mau membungkukkan badannya seperti itu. Merasa tidak enak, Sasuke pun ikut melakukan hal yang sama.

.

.

Ketika Sasuke dan Naruto sudah berada di luar ambang pintu dan sudah setengah jalan menuruni tangga ketika ibu Hinata berbisik dari belakang. "Namanya Hiko. Agarashi Hiko."

Sasuke dan Naruto sama-sama berbalik. "Apa katamu?"

"Orang yang tahu tentang ayahmu," jelas Ibu Hinata. "Namanya Agarashi Hiko. Dia bekerja sebagai penjaga dan suamiku membayarnya banyak sekali untuk melihat isi berkas itu. Hanya itu yang bisa kudengar," tambahnya. "Apakah itu bisa membantumu?"

Mendengar penuturan itu Naruto tidak bisa berkata-kata. Sasuke lah yang menanggapi ucapan Ibu Hinata. "Terima kasih. Tentu saja itu akan sangat menghemat waktu kami."

"Kenapa kau memberitahukannya pada kami?" tanya Naruto.

"Karena perbuatan itu salah. Kali ini Hiashi sudah keterlaluan. Suamiku terlalu hanyut dalam ketamakannya, dan dia tidak memperhitungkan akibat dari rencananya terhadap orang lain. Aku tida bisa membiarkan Hinata menjadi kambing hitamnya lagi. Tolong jangan sampai orang lain tahu kalau aku memberitahumu. Aku bisa terlibat masalah besar nanti."

Ketika selesai mengucapkan hal itu Ibu HInata langsung menutup pintu rumahnya, sebelum keduanya mengucapkan janji.

"Dia kelihatan sangat takut sekali pada suaminya," bisik Sasuke. "Aku benci sekali melihat kesedihan di matanya. Dia tidak layak hidup dalam ketakutan seperti itu."

Naruto mengagguk setuju. Tapi saat ini dia tidak memikirkan Ibu Hinata dan ketika menoleh pada Sasuke, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. "Sekarang kemana aku harus mencarinya Sasuke? Ke mana dia pergi? Ya Tuhan, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku sudah mulai terbiasa merasakan keberadaannya di dekatku."

Sasuke sadar, pernyataan Naruto itu bisa dibilang hampir merupakan pengakuan atas cintanya pada istrinya. Sasuke membatin apakah kakak iparnya yang kepala batu itu tahu kalau dia sebenarnya sangat mencintai Hinata.

"Kita akan menemukannya, Naruto," janji Sasuke. "Sebaiknya kita kembali ke dermaga dulu, mungkin Sai punya berita untuk kita. Mungkin saja salah satu anak buahmu ada yang menemukannya."

Naruto berpegangan pada harapan itu. Dia sama sekali tak berkata-kata sampai mereka berdua sampai ke tempat tujuan. Ketakuatannya mengoyak jiwanya. Dia seakan tak bisa berpikir jernih.

.

.

Hari sudah hampir senja ketika mereka sampai ke tepi laut. Jalanan mulai di hiashi bayang-bayang oranye, lampu-lampu jalan juga sudah menyala, begitu juga lampu yang ada di kantor Naruto. Begitu Naruto dan Sasuke memasuki kantor, Sai cepat-cepat berdiri sampai-sampai dia melupakan kalau kakinya yang terluka.

"Ada yang sudah menemukan Hinata?" tanya Sasuke pada adiknya.

Sai mengangguk. "Dia yang menemukan kita," kata Sai. Keningnya dihiasi butir-butir keringat, dan menarik napas dalam berulang kali untuk meredakan rasa nyeri dikakinya akibat dia tadi berdiri tiba-tiba. Baik Sasuke maupun Naruto tidak ada yang mengomentari sakitnya yang begitu kentara, karena mereka tahu simpati hanya akan membuat Sai kesal.

Naruto menunggu sampai Sai berhasil menahan kernyit kesakitannya, kemudian baru bertanya, "Apa maksudmu, dia yang menemukan kita?"

"Hinata kembali kemari."

"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Sasuke.

"Dia mendesak untuk diantar pulang. Jiraya dan Kakashi yang mengawalnya. Hinata sudah kembali ke kapalmu Naruto."

Desah lega Sasuke seakan memenuhi ruangan. "Jadi dia menganggap kapal rumahnya, ya?"

"Ya, karena itu satu-satunya rumah kami," kata Naruto sambil ikut menghela napa lega. Nyeri yang tadi menghimpit dadanya berangsur mereda. Naruto begitu lega mengetahui Hinata selamat sampai-sampai dia mengeluarkan keringat dingin. Ketika Sai menyodorkan saputangannya, Naruto langsung menyambarnya dan menyeka keningnya.

"Sepertinya Hinata tidak membencimu, Naruto," kata Sasuke sambil menyadarkan tubuhnya ke bibir meja dan menyeringai memandang adiknya. "Sayang… padahal aku sangat menanti-nantikan Naruto berlatih."

"Berlatih apa?" tanya Sai.

"Berlutut dan meminta maaf," jawab Sasuke semakin melebarkan seringainnya.

.

.

T B C

Haii… kita ketemu lagi di chap 21 ini. Menurut kalian gie mana chap ini?

Semoga tak mengecewakan ya, dan maaf baru bisa update sekarang. Kemaren dokumen chap ini sempet ilang karna laptop ku koit, mangkanya upnya agak lama. Ini ngetik juga pake laptop ade jadi mohon dimaklumi… hehehe

Buat chap selanjutnya aku usahain up secepatnya, makanya hayo tinggalkan review kalian biar aku semangat ngelanjutinnya, tapi jangan review LANJUT doang ya… karena chap 22 pasti aku up, tapi entah itu kapan, tergantung mod aku nanti. Hehe

Ok sampai jumpa di chap 22 nanti

Bye

.

Oh ya, jangan lupa mampir ke fic baru ku yang judulnya Nightmare ya