Oke, ini chapter terakhir sebelum hiatus. Selamat membaca!
One Piece © Eiichiro Oda
Two Schools, Two Worlds
Chapter IV
Battle of Student Council – Part 1
Rivals
"Yosh! Apa kabar?"
Luffy dengan pedenya membuka pintu ruangan OSIS sambil memasang senyuman lebar, menghiraukan Marguerite yang berusaha menahan dia. Semua mata pun tertuju padanya.
"Luffy!" Ace dan Sabo langsung bangkit dari kursi mereka dan menghampiri Luffy… dengan double lariat (hantaman lengan), yang dihindari Luffy dengan menunduk. Dia lalu menendang tulang kering kedua kakaknya, membuat mereka berguling-guling kesakitan.
"Sambutan yang benar-benarhangat…" pikir anak-anak OSIS, sweatdropped. Mereka yang cowok memicingkan mata, membayangkan rasa sakit yang diderita kedua anak itu.
"Wow… inikah persaudaraan antar cowok?" pikir Marguerite kagum.
"U-ukh, selamat datang, Luffy," Ace bangkit perlahan, lalu merangkulnya dengan ekspresi penuh dendam. "Senang kita punya pikiran yang sama."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya, anak-anak sudah merekomendasikanmu sebagai calon ketua OSIS yang baru," kata Marco di sisi lain ruangan. "Tapi, ternyata kamu punya inisiatif sendiri. Bagus deh."
"Shishishi," Luffy menggosok hidungnya. "Makasih!"
"Buat adikku, semua bakal kulakukan…" Ace membusungkan dada. "Tapi, sebenarnya Hancock-san lah yang berusaha keras meyakinkan anak-anak untuk mendukungmu, Luffy."
"Oh, benarkah?" Luffy menoleh ke arah Hancock, membuat cewek itu buru-buru memalingkan wajahnya. "Makasih juga yah, Hammock!"
"Y-yang benar Hancock," katanya. Dia berbalik dan mengambil selembar kertas. "S-sekarang segera isi formulir pendaftaran-"
Hancock menoleh, dan tercekat melihat Luffy sudah ada di depannya sambil cengar-cengir. Wajahnya langsung memerah.
"Mana bolpennya?"
"I-ini!" Hancock buru-buru meminjamkan bolpen miliknya, dan untuk beberapa detik tangan mereka saling menyentuh. Tentu saja dia segera menariknya sambil bersikap sok cool… walaupun dia tak bisa menyembunyikan rona merah di wajah cantiknya.
"Eh..." Ace dan Sabo yang sedang curi-curi pandang ke sang ratu, menyadari ada yang aneh. Mereka melongo.
"Oi, Marguerite! Bisa bantu aku mengisi ini?" Luffy melambaikan tangannya, menyelamatkan Marguerite dari kerumunan cowok-cowok OSIS yang penasaran.
Sementara itu, Ace dan Sabo sibuk mengucek mata mereka, nggak mempercayai apa yang barusan terjadi.
"Oi oi, kau lihat yang tadi itu?" tanya Sabo.
"Pukul aku karena aku yakin ini mimp-" Sabo memukul kepala Ace. "Ow. Ini sungguhan."
Mereka mengucek mata mereka lagi.
"Tadi Hancock-chan… tersipu?"
"Jadi, kapan kita bisa mulai... apa namanya... sampanye?" tanya Luffy.
"Oh, masa kampanye sudah dimulai sejak kamu mendaftarkan diri, Luffy-kun," jawab Tashigi.
xxx
Setelah mengisi formulir, Luffy "dilepas" kakak-kakaknya dengan tangisan lebay seolah mereka adalah orangtua yang menginginkan anaknya memenangkan pemilu daerah. Dia dan Marguerite pun keluar dr ruang OSIS dengan penuh semangat, di mana Zoro dan yang lain sudah menunggu.
"Kalian sejak kapan di sini?" tanya Luffy.
"Kami segera mengejarmu begitu Robin menjelaskan situasinya," Nami berjalan ke depan Zoro. "Aku heran, kapan kamu memikirkan itu semua?"
"Memikirkan… apa?" Luffy memiringkan kepalanya, tampak serius sebentar, lalu mulai berasap.
"Luffy overheat!" Usopp dan Chopper berlarian histeris. Usopp segera merogoh tasnya dan melemparkan sebuah balon air ke kepala Luffy, mendinginkannya.
"… kalian berlebihan," kata Nami, mengeluarkan sehelai sapu tangan. Dia lalu mengelap wajah Luffy yang masih nggak responsif itu. Usopp dan Chopper berniat menggodanya lagi seperti tadi pagi, tapi Robin meletakkan jari di bibirnya, mengisyaratkan 'jangan'.
"Ah," tiba-tanya Luffy sadar. Nami langsung menghentikan kegiatannya dengan wajah merah. "Tadi kamu tanya apa, Nami?"
"Dia tanya, apakah kamu memutuskan jadi ketua OSIS untuk menghalangi ambisi si Eustass?" Usopp menjelaskannya dengan singkat.
"Ambisi? Nggak, aku hanya ingin jadi ketua OSIS."
"A-alasannya?"
"Karena, ketua OSIS adalah siswa yang paling bebas di sekolah ini 'kan?"
Siing…
"Gyahahahaha!" terdengar suara orang tertawa di belakang mereka. "Setuju. Jadi ketua OSIS berarti kau memegang semacam otoritas atas siswa-siswa di sini… dan dengan sendirinya, kebebasan akan datang. Benar 'kan, Monkey-kun?"
Rambut merah dengan tatanan mirip tulip, googles hitam kelam, wajah pucat tanpa alis, dan senyum gila ala Joker… yup, Eustass Kidd muncul dengan segala aura ketidakwarasannya. Di belakangnya, kawan-kawannya dari Supernova berkumpul membentuk semacam formasi lingkaran. Termasuk Hawkins dan Urouge dari OSIS.
"Oh, hei, Kidd! Kenapa kalian berbaris begitu?" sapa Luffy gembira, sementara Nami langsung sembunyi di belakangnya, masih trauma akan perkelahian mereka berdua beberapa bulan lalu.
Kidd terpaku mendengar kata-kata itu. Baris, katanya?
"Gyahahaha! Makanya, sudah kubilang nggak perlu pake formasi segala, kaichou!" Apoo tertawa.
"Heh, kau juga mendaftarkan diri jadi ketua OSIS?" Kidd nyuekin si 'Raungan Sekolah' itu.
"Tentu saja!"
"Ini berarti kita akan jadi rival, Monkey-kun," Kidd nyengir licik. Nami, Usopp, dan Chopper bergidik.
"Shishishi, itu yang kuharapkan."
"Um… R-robin?" bisik Usopp. "Katamu si Eustass ini anak yang brutal, tapi dari yang kulihat, sepertinya dia anak biasa yang menyukai persaingan…"
"U-usopp! Bagaimana mungkin orang dengan senyuman selebar itu normal?" Nami nyeletuk.
"Hm, kalian benar," tiba-tiba Hawkins muncul di tengah mereka, menyebabkan Nami dan Usopp segera berlindung di balik Robin. "Yang kalian lihat dari kaichou saat ini adalah topengnya."
"Ah, aku ingat kau! Si 'Penyihir Tarot' dari OSIS kan?" Nami menudingnya.
"Dan kamu 'Penyihir Cuaca' dari klub geografi," kata Hawkins smb mengocok tarotnya. "Hm. Kupikir, takdir telah mempertemukan kita untuk bersaing mendukung ketua."
"T-takdir? Jangan lebay ah!"
"Aku tidak mau menyebut itu lebay…" Hawkins menarik selembar kartu, dan menunjukkannya pada Nami dan yang lain. "Ah… The World. Tepat dengan apa yang kita hadapi sekarang. Siapapun yang memenangkan pemilihan ini akan menjadi penguasa Seifu… dan kota, tentu saja setelah menaklukkan Ryuugu."
"Luffy nggak mau menaklukkan apapun," Nami menentangnya.
"Oh, tapi ketika kau berada di puncak, rasa haus akan kekuasaan cepat atau lambat akan melingkupimu… aku yakin, bahkan anak polos sepertinya jg akan merasakan itu. Kemungkinannya…" Hawkins mengocok lagi kartunya, menatanya sedemikian rupa di udara, lalu tersenyum dingin. "Hm. Sekitar 47%."
"Hawkins! Lagi-lagi dengan ramalan itu?" terdengar suara cewek dari belakang mereka. Oh, Nami ingat cewek berambut pink itu. Dia pernah melawannya dengan Sanji pada turnamen masak Poele a Frire beberapa bulan lalu. Jewelry Bonney, si 'Pemakan Segala'.
"Melloriiiiine!" Sanji menyerobot dengan love hurricane. "Koki cantik yang waktu itu!"
"Minggir," Bonney menendangnya dengan wajah cuek, tapi Sanji malah keliatan senang. "Oi, Roronoa."
"Hmm?" Zoro menoleh dengan tampang enggan yang langsung bertransformasi jadi setengah enek. "Argh. Kau lagi."
"Dengar, aku ingin menyelesaikan urusan di antara kita dalam even ini, jadi jangan lari."
"Tersera-" tiba-tiba saja sebuah tendangan mengarah ke sisi kanan Zoro. Tapi, dia menahannya dengan sarung pedang Shuusui. "Apa maumu, koki?"
"Apa yang kau lakukan pada gadis cantik ini, marimooo?"
"Nggak tau! Tanyakan aja sendiri!"
Dan mereka mulai berantem.
Bonney merengut. Padahal dia ingin ngobrol dengannya lebih lama…
"Jewelry-san, kamu mengenal Roronoa-kun?" tanya Robin, penasaran.
"Hmph, pertemuanku dengannya adalah bencana, itu saja," Bonney berbalik.
"L-law-senpai!" Chopper memanggil sang ketua PMR. "A-apa senpai juga akan terlibat dalam pemilihan ketua OSIS?"
"Yah, kurasa. Mereka memaksaku sih," Law menggaruk dahinya. "Nggak usah sungkan-sungkan menghadapiku nanti, Chopper-kun."
"I-iya!" Chopper tampak penuh semangat.
"A-ah, kenapa jadi ajang pertemuan antar rival begini…" komentar Usopp.
"Karena cuma Eustass-ya dan Monkey yang mengajukan diri sebagai calon ketua OSIS," jawab Law. "Jadi, mengingat kalian adalah anak buah si Monkey, kita akan berhadapan sebagai rival di ajang pemilihan nanti."
"A-tapi aku nggak mau terlibat dalam hal-hal seperti-"
Omongan Usopp dihentikan oleh raungan bel sekolah, yang menandakan mereka harus segera masuk ke kelas. Robin tertawa kecil melihat ekspresi galau Nami dan Usopp.
"Wah, sepertinya keterlibatan kita sudah nggak terbantahkan lagi," kata Robin sambil menunjuk ke arah Luffy dan Kidd yang saling berjabat tangan.
"Akulah yang akan jadi ketua OSIS!" kata Luffy pede.
"Yah... kita lihat saja nanti. Aku mengharapkan pertarungan yang seru, Monkey-kun," balas Kidd. Dia membalikkan badan, tak lupa mengibaskan jaket bulu merahnya, dan berjalan ke ruang OSIS. Dengan itu, anak buahnya mengikuti... mengakhiri sesi tatap muka para calon rival pagi itu.
"'Mengharapkan pertarungan yang seru', eh..." Law nyeletuk. "Benar-benar nggak sesuai dengan sifatmu, Eustass-ya..."
"Gyahahaha, kau benar," Kidd nyengir. Dia mengepalkan tinjunya, dan cengirannya jadi semakin lebar oleh impuls penghancur yang muncul. "Persetan dengan aturan... akan kuhancurkan kelompok kecilnya dalam event ini, tanpa menyisakan apapun!"
Law dan anggota Supernova lain geleng-geleng, sementara anak-anak di sekitar mereka terpaku menyaksikan ekspresi gila Kidd. Senyuman lebar dari telinga kiri ke kanan dan tatapan maniak itu adalah hal yang biasa kau lihat dari seorang psikopat...
"Akan kutunjukkan apa yang terjadi jika kau menolak undangan seorang Yonko."
Sementara itu, kembali ke tempat Luffy dan yang lain...
"Kamu harus segera membentuk tim sukses untuk mendukungmu, Luffy-san," kata Robin.
"Tim sukses... ? Ne, Robin, itu seperti kelompok yang akan selalu menemaniku saat pemilihan 'kan?" tanya Luffy polos, yang dijawab Robin dengan anggukan pelan.
"Sudah ada kalian 'kan?" Luffy menoleh menghadap semua kawannya. "Kalian yang selalu bersama aku dan mendukungku, geng Straw Hats!"
Nami dan yang lain melongo mendengarnya. Zoro dan Robin tertawa kecil.
"A-ah, kami nggak sehebat itu..." kata Nami, Usopp, dan Chopper ge-er.
"Walaupun aku masih baru, aku akan berjuang keras, Luffy-san!" kata Marguerite.
"Tapi, kita masih perlu bantuan, Luffy. Nanti akan kucoba mencari... cewek-cewek untuk menjadi agen kampanye kitaaaa!" kata Sanji.
"Yoosh! Yang penting, tim sukses Luffy sudah terbentuk!" kata Luffy.
xxx
"Aku sudah mendapatkan 2 calon, Monkey D. Luffy dari kelas X-3 dan Eustass Kidd dari kelas XI-13," pak Ray membuka pembicaraan di ruang guru. Peserta rapat babak 2 ini adalah para guru yang terlibat langsung dengan kepemudaan di SMU Seifu.
"Hah? Monkey D. yang itu? Anak dengan rekor catatan pelanggaran tertinggi semester kemarin?" komentar pak Jyabura dengan nada tinggi, jelas-jelas nggak terima keputusan pak Ray.
Yah, bukan pelanggaran berat sih, paling cuma sering telat dan nggak mengerjakan PR. Tapi, tetap saja...
"Pak Jyabura, bahkan berandalan pun suatu saat ingin kembali ke jalan yang benar. Dan anak itu melakukannya dengan mencoba jadi ketua OSIS. Menarik kan? Gurararara," kata pak Newgate.
"Omongan anda ada benarnya, pak Newgate. Tapi, bagaimana dengan lawannya, si Eustass Kidd ini? Aku dengar kabar klo dia bergerak di balik layar mengompori anak-anak sini untuk terus berselisih dengan Ryuugu!" pak Jyabura melanjutkan protesnya.
"Sejak kapan anda percaya pada isu, pak Jyabura?" tanya pak Capone, sang guru Sosiologi berpenampilan mafioso dengan asap cerutu mengepul dari sela-sela bibirnya.
"Pak Capone... tumben anda membela murid?"
"Aku tidak suka ada isu nggak jelas menerpa anak buahku di kelas XI-13, itu saja," pak Capone mengangkat bahunya.
"... kalau begitu, kita dengarkan pendapat Kepsek. Pak Odacchi?" bu Califa menengahi perselisihan kecil itu, membuat semua mata tertuju pada sang Kepsek yang lagi asyik ngupil.
"Ah, maaf," pak Odacchi menyentil upilnya terbang ke asbak di depan pak Capone, membuatnya mengerang jijik. "Benar kata pak Newgate dan pak Capone, mari kita beri mereka kesempatan."
"Baiklah... jika anda sudah berkata begitu," pak Jyabura menjatuhkan diri ke kursinya, kalah.
"Jadi, apa even yang akan diadakan untuk pemilihan tahun ini?" tanya bu Califa.
"Melihat kinerja Hancock-chan dan armadanya tahun kemarin, aku pikir pelayanan mereka sangatlah bagus. Aku harap angkatan ke depannya juga akan begitu, jadi…"
Kacamata pak Ray berkilat-kilat diterpa cahaya mentari musim gugur. Dia tersenyum yakin.
"… untuk tahun ini kita adakan perlombaan public service."
A/N Corner
Hm… Hancock kok jadi tsundere yah? Padahal, aku pinginnya Nami yang tsundere…
Dan kayaknya aku terlalu banyak baca Nisekoi deh, jadinya romance mulai menyusup masuk ke fic ini… tapi yah, rencana awalnya memang begini sih.
Anyway, ini kayaknya adalah update terakhirku sebelum hiatus lagi. Sampai jumpa bulan Agustus!
Next in Two Schools, Two Worlds
"Pertandingan pertama adalah lomba memasak untuk seisi sekolah."
"W-wajar kalau aku kalah! Toh, rivalku hanya si rambut lumut itu!"
"Haa? Lomba makan? Kalau lomba minum aku mau!"
