AN/ terima kasih semuanya, saya tau saya tidak punya kredit apa-apa untuk cerita ini, karena bukan milik saya, tapi review kalian benar-benar menyenangkan hati. Saya sungguh senang mendengarnya.

Aurelian

By: BittyBlueEyes

HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING

Chapter 21. The Imprudent Vigilante

"Potter!" teriak Draco, mengedor pintu rumah Hermione. Ada suara menyeret dan pintu terbuka.

"Malfoy! Apa yang terjadi?" tanya Harry panik.

"Aku di serang," kata Draco.

"Dimana Herm-"

Kata-kata Harry dipotong dengan bunyi 'pop' dan pertanyaannya terjawab ketika dia menatap wanita yang sedang berlutut di depan pria tertelungkup di sampingnya.

"Itu dia?" tanya Harry cepat-cepat.

"Aku hampir yakin," jawab Hermione.

"Hampir tidak cukup," jawab Harry. "Ron, bantu aku."

Draco mendongak dan melihat pria berambut merah bergerak di depan Harry. Ron mengambil kaki laki-laki itu sementara Harry bersusah payah untuk mengangkat bagian atas. Langkah mereka kecil, namun mereka berhasil membawa pria itu ke dalam, mereka mengangkat dan menjatuhkannya di sofa.

"Apa yang terjadi?" tanya Ron. "Ini dia?"

"Aku pikir," kata Hermione.

"Tidak cukup bagus," ulang Ron pada kalimat Harry sebelumnya. "Incarcerous." Tali keluar dari tongkat Ron dan mengikat tangan dan kaki pria itu.

"Apa yang terjadi?" Harry mengulangi.

"Dia mencoba membunuhku!" kata Draco geram marah. Itu pastilah bukan jawaban yang Harry dan Ron harapkan. Hermione memulai.

"Kami ada di Bar. Dan dia ada di Bar juga," kata Hermione, menunjuk pria yang tak sadarkan diri di sofa. "Dia minum dari cangkir, tapi juga minum dari tempat minumnya sendiri. Aku curiga itu polyjuice." Seperti yang Hermione bilang, Ron mengeledah jubah pria itu dan menemukan tempat minum. "Dia mengikuti kami ke apotik dan mendengar dengan telinga terjulur di Borgin dan Burkes. Kami akan meninggalkan Knocturn Alley ketika Draco berhenti. Draco berbalik dan pergi ke arah yang sebaliknya. Aku tidak bisa mengejarnya dan terjatuh dan akau tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak menyadari Draco dibawah kutukan imperius. Ketika aku menemukan mereka berdua.. dia.."

"Dia mencoba membuatku membunuh diriku sendiri. Dia bilang itu keadilan," Draco menyelesaikan. Dia mendidih marah, bibirnya berkedut dan tangannya bergetar. Hermione dengan lembut menaruh tangannya di atas tangan Draco. Draco menatap Hermione, dan menutup matanya, mencoba menenangkan diri.

"Jadi kita tau dia dibawah pengaruh polyjuice," kata Harry, mengendus tempat minum yang diberikan Ron. "Tapi itu bukan berarti dia Dennis."

"Telinga terjulur," kata Hermione. "Tidak banyak orang, kecuali yang tumbuh di sekolah akan berpikir menggunakannya."

"Dan ini adalah salah satu jubah buatan Fred dan George," Ron memberitahu, memeriksa ujung jubah pria itu.

"Aku setuju, tapi kita harus tetap hati-hati. Hermione turunkan semua foto. Aku tak ingin dia tau rumah siapa ini," perintah Harry. Hermione mengangguk dan dari tempatnya di belakang sofa, dia mengayunkan tongkatnya ke semua foto, sihir dan muggle, agar berbalik.

"Dimana tongkatnya?" tanya Ron.

"Ada di aku," kata Hermione, menyerahkan tongkat sihir ke Ron.

"Bagaimana dengan jubah gaib?" tanya Harry tiba-tiba.

"Ada di aku juga," Hermione merona ketika dia berbalik dan mengambil jubah gaib. Dia ingin mengatakan pada Draco untuk pergi, tapi dia tidak tau apa yang harus dilakukan jadi jubahnya tergantung ke belakang seperti ekor. Tidak ada yang melihat keanehan itu.

"Kapan dia meminum ramuan polyjuice?" tanya Draco.

Hermione melihat arlojinya. "Dia akan berubah beberapa menit lagi."

"Baiklah.." kata Harry berat. Dia terlalu khawatir untuk menemukan Dennis dibandingkan apa yang terjadi belakangan ini, tapi akhirnya menemukan Dennis disini, dan tau apa yang hampir dia lakukan itu membuatnya kesal. Dia mendorong pria itu kedalam posisi duduk dan menunjuk dengan tongkat sihirnya. "Rennervate."

Pria itu terkejut terbagun dan matanya melihat ke kanan-kiri.

"Siapa kau?" tuntut Harry langsung.

Mata pria itu terfokus pada pria berkacamata berambut hitam di depannya. "Harry Potter.." Pria berjanggut merah itu bernafas.

"Ya. Dan aku tanya, siapa kau?" tanya Harry tegas.

"D-Dennis," pria itu tergagap.

"Dennis siapa?" tuntut Harry. Dia tak mau mengambil resiko.

"C-Creveey."

"Buktikan," perintah Harry.

"Apa?" kata pria itu sengit dan kepercayaan dirinya di gang itu sebelumnya tiba-tiba tampak gugup.

"Buktikan. Apa yang terjadi pada perjalananmu pertama kali ke Hogwarts?" tuntut Harry.

"A-Aku jatuh ke danau. Cumi-cumi raksasa menyelamatkanku."

Harry dan Ron bertukar pandang dan mengangguk. Ron melepaskan tali di lengan dan kaki Dennis. Harry memandangnya, Dennis menatapnya cemas dan dia menggaruk lengannya tak yakin kenapa Harry masih saja diam.

"Dimana aku? Apa yang terjadi?" tanya Dennis.

"Apa yang terjadi? Kau mencoba 'membunuhku' sialan, kau pengecut. Aku harusnya mem-"

"Apa yang dia lakukan disini?" teriak Dennis dengan kemarahan dan ketakutan. Karena Hermione dan Draco ada di belakangnya, Dennis tidak menyadari mereka sampai Draco bicara.

"Aku? Aku disini u-"

"Malfoy!" Harry menginterupsi, wajahnya tegas. Dia menahan amarahnya yang begitu besar hampir nyata terlihat. Dia tampak agak menakutkan. Draco diam, rasa ingin taunya untuk melihat apa yang akan di lakukan Harry membuat kemarahannya sendiri sementara menghilang. "Malfoy disini karena undangan. Dia bekerja dengan kami," Harry menjelaskan dengan tenang.

"Kau masih bekerja dengannya? Dia pelahap maut! Aku melihatnya. Kau seharusnya melihatnya disana di Knocturn Alley! Dia-"

"Aku melihatnya," Hermione menyela marah. "Aku melihat apa yang dilakukan dari dia melangkah ke Knocturn Alley sampai dia ber-apparate kesini. Dia hanya melakukan apa yang telah kami diskusikan."

"Apa? Tapi dia-"

"Tapi, aku apa? Aku hanya minum di bar, membeli beberapa limpa kelinci, dan menutup bisnis lama ayahku," Draco mengamuk. "Apa yang akan kau tuduhkan? Kau mencoba membunuhku, banci sialan! Kau bilang keadilan? Lalu-"

"Berhenti," kata Harry tenang. "Tidak perlu berdebat. Dia bekerja dengan kami. Kecurigaan itu agar menarikmu keluar. Kami menduga kau akan mengikutinya." Harry berhenti. Semua orang tau bahwa dia ingin melanjutkan, tapi berpikir lebih baik bersabar dulu.

"Apa maksudmu dengan mencoba menarikku keluar?" tanya Dennis, menatap masam. Harry melihat tubuh Dennis mulai berubah, kulitnya bergelembung. Otot tulangnya bergeser dan menyusut. Yang lain, walaupun sudah berkali-kali melihat perubahan transformasi ini, memalingkan kepala mereka. Ketika mereka menatap kembali, mereka menatap anak remaja delapan belas tahun dengan rambut coklat dan mata hazel yang waspada. Meskipun dia takut tapi emosinya membuat matanya terlihat memberontak.

"Kami mencarimu. Kami sedang menyelidiki kasus dan mengetahui bahwa kau menghilang, dimana itu sangat mengejutkan orang tua dan juga kepala sekolah," kata Harry.

Dennis menjadi pucat. "Orang tuaku berpikir aku menghilang?"

"Ya. Setelah kami bicara dengan Professor McGonagall, dia bicara dengan orangtuamu secara personal. Aku terkejut kau melakukan semua ini pada mereka setelah apa yang mereka hadapi," Harry menegur dengan datar.

"Kau tidak tau apa-apa!" Dennis teriak marah.

"Aku tidak tau? Tidak kah kau pikir apa rasanya kehilangan seseorang karena perang?" Kontrol Harry menghilang cepat, kata-katanya keras dan panas. "Kau tidak berpikir, aku marah dengan apa yang menyebabkan orang-orang menderita? Ini pekerjaanku. Itulah kenapa aku mendedikasikan hidupku. Aku tau apa yang aku lakukan. Aku tau kau sedang memburu pelahap maut dan aku ingin tau, apa yang salah denganmu?"

"Bagaimana apanya?" tuntut Dennis marah.

"Maksudku, apa yang kau pikirkan, meninggalkan sekolah begitu saja? Tidak bilang dimana kau berada? Lari mengejar pelahap maut? Hal paling bodoh yang pernah aku dengar!" Harry memarahi.

"Kau tak punya hak untuk memarahiku!" balas Dennis marah.

"Ya, aku punya. Akulah orang yang melacakmu. Penyelidikan kami harus terhenti untuk mencarimu! Kami berempat menghabiskan waktu seminggu, kecapekan hanya untuk menemukanmu. Keluargamu, guru, teman-temanmu tidak tau dimana kau berada dan masih ketakutan sekarang. Apa yang kau pikirkan tentang perasaan mereka kalau kau ditemukan mati? Atau kau bahkan kau tidak berpikir? Kau bodoh! Dan ceroboh."

"Aku tidak bodoh! Aku hati-hati. Aku tau apa yang aku lakukan," kata Dennis.

"Omong kosong! Kami menemukanmu tidak lebih dari semingggu!" kata Harry tak percaya. "Dan kau beruntung karena kami melakukannya. 'hati-hati' katamu, kau dihadapkan pada apa yang kau pikir pelahap maut. Bagaimana jika dia memang pelahap maut? Bagaimana jika ada orang lain bukan Hermione di bawah jubah gaib? Kau mati sekarang."

"Bagaimana jika dia pelahap maut?" kata Dennis tak percaya. "Dia pelahap maut."

"Dia dulu pelahap maut. Sekarang bukan," Harry mengoreksi.

"Karena kau memaafkannya. Kau melepaskannya," teriak Dennis marah.

"Aku membiarkannya membela dirinya dan menyelesaikan semua yang dilakukannya. Tapi kau tidak tau kasusnya- apa yang dia lakukan atau tidak dia lakukan. Kau tidak berhak untuk menghakimi apa yang kau tidak tau. Tidak semua adalah hitam atau putih. Tapi, kau seharusnya percaya sekarang. Aku pikir kau adalah anak baik dan aku pikir kau berjuang untuk kebaikan, tapi kau baru saja menggunakan kutukan tak termaafkan untuk mencoba membunuh orang tak bersalah!"

Dennis mengambil kesempatan melirik pria yang masih terlihat marah di belakangnya dan kembali menatap Harry. Dia tiba-tiba tampak khawatir. "A-apa yang akan kau lakukan?"

"Aku? Aku tak tau apa yang akan aku lakukan," teriak Harry tidak percaya, mondar-mandir dalam lingkaran kecil dengan tangan mengepal di pinggulnya. Dia berbalik menghadapi Dennis. "Ya, aku tidak tau apa yang akan aku lakukan, setidaknya sekarang. Kau akan mengatakan padaku apa yang kau tau. Aku ingin tau apa yang kau lihat dan dengar."

"A-apa?" tanya dennis, tidak mengharapkan respon seperti itu.

"Aku mau tau apa yang kau lihat. Apa yang membuatmu memulai ide yang sangat hati-hati ini. kau melihat Lestrange, ya kan? Dimana?" Harry menginterogasi.

"B-bagaimana kau tau?"

"Ini pekerjaanku, ingat?" kata Harry kecut. "Sekarang bicara."

"Tapi tunggu.. apa yang akan terjadi denganku?" tanya Dennis gugup. Dia mengambil kesempatan lagi melirik Draco dan Hermione, dan kemudian menatap Ron. Dia merasa bicara dengan Harry tidak akan membantu.

"Aku tidak tau," jawab Harry jujur. "Aku tidak suka melihat anak sepertimu dalam masalah, tapi itu bukan wewenangku. Aku tidak akan mengatakan apapun tentang kutukan tak termaafkan yang kau gunakan, kepada pria itulah seharusnya kau memohon," kata Harry serius, menunjuk Draco yang melirik pada Dennis. "Itu terserah dia, apakah dia akan membawanya ke pengadilan."

Dennis menelan ludah dan menatap Draco, dengan semua tindakannya yang terasa menekan. Dia mengerti apa yang telah dia lakukan dan pastilah menakutkan. "A-aku..." dia tak sanggup bicara.

"Kau ingin aku mengambil rasa keadilanmu? Atau Potter?" tanya Draco mengejek, menatap Dennis dengan jijik.

"Aku..." Dennis gemetar dibawah kemarahan Draco.

"Dennis," kata Harry, memanggil perhatian Dennis kembali padanya. "Bicara."

Dennis menelan ludah dan mengangguk. Dia berpikir mungkin ini lah maksud Draco. Mungkin saja bisa menolong, dia bisa menebus perbuatannya. Dia menatap Draco lagi. Nasipnya berada pada pria yang tadi dia coba bunuh.

"Dennis," panggil Harry lagi.

"Lestrange bersaudara," Dennis memberitau.

"Kapan?" tanya Hermione.

"Beberapa minggu sebelum akhir tahun ajaran sekolah. Aku menyelinap malam hari. Aku hanya ingin menemui Colin," jawab Dennis. "Ketika aku sampai disana, disana ada dua pria. Aku tidak tau siapa. Aku melihat mereka menggali kuburan seseorang. Aku ingin pergi, tapi aku marah. Aku pikir.. jika itu adalah kuburan Colin.. siapapun kuburan itu, itu adalah seseorang yang dikasihi. Aku hanya ingin dekat untuk bisa melihat jika aku bisa mengetahui.."

"Dan?" paksa Draco.

"Dan aku mengenali mereka dan aku panik. Aku bersembunyi sampai mereka pergi. Tapi aku mendengar mereka bicara. Tidak banyak, tapi aku mendengar mereka akan mengambil sesuatu pada hari selasa di Brim's Goblet. Aku kembali ke sekolah dan mulai berpikir. Aku marah.. dan lebih aku pikir aku semakin marah. Aku ingin menghukum mereka."

"Kenapa kau tidak melapor?" tanya Hermione frustasi. "Kau bisa langsung pergi ke Harry jika kau mau."

"Aku.." Dennis membuang muka, tidak mampu bicara apa yang dia rasakan.

"Kau ingin mereka menderita," kata Hary. Dennis terkejut karena tuduhan Harry, terutama karena itu adalah benar. "Jangan berpikir aku tidak memiliki perasaan yang sama. Tapi membuat orang menderita karena apa yang telah mereka lakukan bukanlah keadilan, itu adalah balas dendam."

"Azakaban sepertinya bukan hukuman yang cukup keras untukmu, tapi sekarang itulah kemungkinan yang menunggummu, bagaimana perasaanmu?" tanya Draco muram. "Keadilan harusnya tidak diambil oleh orang-orang yang bias."

"Siapa?" tanya Ron tiba-tiba, mengejutkan mereka semua. "Makam siapa yang mereka galih?"

Dennis menatap Harry. Pembangkangan di matanya telah hilang. Dia terlihat menyedihkan dan menyesal, tapi dia tampak ketakutan untuk menjawab. "Nymphadora Tonks."

Bukan tanpa alasan perhatian Dennis teralihkan karena reaksi mereka. Tangan Harry terkepal erat mencoba menahan diri. Dennis menatap mereka berempat saling menatap saling penuh arti.

"Kita selesai disini," kata Harry akhirnya.

"Apa maksudmu? Apa yang terjadi?" tanya Dennis panik.

"Kita akan bekerja dan kau akan pulang ke rumah," kata Harry.

"Apa? Aku bisa pulang?" tanya Dennis berharap.

"Aku bilang tadi, masalahmu dengannya bukan denganku," Harry mengingakan, dan itu benar. Harry tidak ingin Dennis dihukum karena menggunakan kutukan tak termaafkan, tapi itu bukan wewenangnya. Apapun hukuman yang Dennis dapatkan, itu adalah keputusan Draco. Harry dapat memperkirakan karena dia percaya Dennis tidak akan dihukum sepenuhnya.

"Mal.. Dra..uh.. Mr Malfoy," kata Denis ragu.

Draco menyerigai jijik, mendorong tangannya ke saku dan berbalik memberikan punggungnya pada remaja idiot itu. Ruangan terdiam sesaat semua mata menatap punggung Draco.

Ketika sepertinya Draco tidak akan berkata, Harry memulai untuk bicara, tapi suara Harry seperti kumur-kumur ketika Draco berkata tegas. "Keadilan bukan sesuatu yang dibuat oleh orang yang bias." Draco berbalik dan menatap mata Harry. "Keadilan Potter, bukan belas kasihan. Aku serahkan padamu. Tangani dia."

Tidak pernah sebelumnya, seminggu yang lalu Harry percaya Draco mampu membuat keputusan seperti itu, tapi itu adalah bukti bagaimana perubahan hidupnya dalam memori pada mereka. Dia menemukan rasa hormat baru dan dengan kepercayaan, keperayaan yang Draco juga miliki padanya. Harry tau Draco melihat secuil dalam dirinya pada Dennis. Situasi Draco tidaklah sama dengan Dennis, karena Dennis membuat keputusan tanpa ancaman, tapi Draco melihat kebodohan, anak yang kebingungan seperti dia dua tahun yang lalu. Draco tak ingin Dennis mendapatkan apa yang dia dapatkan. Tapi anak ini tidak layak menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Draco tau Harry juga merasakan hal yang sama. Harry memberinya kesempatan kedua, dan Draco akan melakukan hal yang sama untuk Dennis.

Harry juga melihat dirinya pada Dennis, mungkin dari yang Draco lihat. Mengetahui apa yang dia lakukan, berada di tempatnya. Harry dengan mudah melihat semua kesalahan Dennis dan mencaci maki dia karena itu, tapi dia telah main hakim sendiri, ceroboh walaupun masih remaja. Harry berpikir dia tau lebih banyak dan lebih tau dibanding yang lain. Kebenarannya adalah dia bisa bertahan hanya karena dia mendapat banyak keuntungan dan bantuan.

"Ron," kata Harry. "Aku ingin kau mengurus berkas. Dennis sekarang menjadi tahanan rumah karena menganggu penyelidikan dan akan dibawa ke sidang displin."

"Apa maksudnya itu?" tanya Dennis.

"Itu berarti Harry dan Malfoy baru saja menyelamatkan pantat sialanmu itu membusuk di Azakaban," Ron berseru. "Jika aku menjadi kau, aku akan mulai melihat kataloq untuk menemukan keranjang hadiah untuk dikirimkan."

"Atau mengirim burung hantu pada kepala sekolah untuk menjadwal ulang ujian NEWTmu," saran Harry.

"Kau membawanya pulang, Harry?" tanya Ron.

"Ya. Aku akan kembali dalam satu jam, aku harap," kata Harry pada Hermione dan Draco.

"Kami akan disini," jawab Hermione. Harry menunggu sampai Draco menatap matanya. Harry mengagguk pelan dan memberikan apresiasi dan hormat. Draco membalas mengangguk pelan hampir tak terlihat, malah dengan mudah bisa disalah artikan menjadi kedutan, tapi Harry melihatnya. Dia mengambil lengan atas Dennis, mengiringnya ke luar rumah Hermione dan ber-disapparate.

Ketika Harry pergi, Ron mengambil tempat minum yang ada di kursi untuk dibawa ke kantor sebagai barang bukti. Ron menatap Hermione dan Draco dan memutar matanya. Mereka hanya berdiri melihat Ron, ide bawa mereka bersama membuat Ron malas. Dia berhenti dan menatap mata Draco dengan awas penasaran. Setelah suasana tak nyaman dan aneh, Ron mengangguk kepada Draco dan keluar pintu depan. "Sampai nanti makan malam, Hermione?"

"Aku akan disana."

Dengan mengangguk lagi, Ron keluar pintu dan ber-disapparate dengan bunyi 'pop'.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hermione pada Draco.

"Aku tak apa," kata Draco muram.

"Tidak, aku serius," kata Hermione, dengan lembut menempatkan tangannya ke lengan Draco lagi. "Kau baik-baik saja?"

Draco menghela nafas, menjatuhkan tangannya dan mengangguk. Hermione memiringkan kepalanya ke samping untuk memeriksa lehernya.

"Kau memar. Aku akan mencari salep dan sesuatu untuk meredakan sakitnya," Hermione menawarkan, saat Hermione akan berpaling, Draco mengambil pergelangan tangan Hermione dan menahannya. Hermione terkejut dan menatap pada Draco. Mata Draco mengunci pada Hermione dan Hermione dapat melihat kesakitan di dalamnya.

"Aku minta maaf, aku meneriakimu," kata Draco sunguh-sungguh.

Hermione tersenyum lembut. "Tak masalah."

"Tidak. Itu tidak," kata Draco serius.

"Tak apa, Draco. Aku mengerti. Kau takut. Aku juga takut.." mengakui ketakutannya lagi, bibirnya bergetar dan matanya mulai berair. "Aku benar-benar takut.."

Setiap Hermione menatap mata abu-abu itu, dia merasa kewalahan. Semua terjadi sangat cepat. Seminggu yang lalu mereka tak bisa bertoleransi satu-sama lain, tidak pernah membayangkan dapat seperti ini, tapi setiap hari berganti semakin Hermione mengetahui Dia ingin bertemu dengan Draco lagi dan lagi. Menunggu untuk bertemu dengannya besok. Tetap, Draco menemukan daya tarik baru. Ini sangat memukul Hermione melihat Draco di gang, mencekram lehernya sendiri. Hermione sangat ketakutan. Itu benar-benar sebuah teror untuknya, Hermione mungkin akan merasa hal yang sama jika dia melihat orang lain di posisi Draco, tapi setelah dia menyelamatkan Draco, magnet itu bagai memukulnya, Hermione merasa hampir kehilangan Draco, mungkin ini adalah pikiran konyol, karena Hermione belum benar-benar memiliki Draco, tapi Hermione tau itu bisa apa saja, dan konyol. Pikiran bahwa dia tak akan melihat Draco lagi menghancurkannya. Dia baik-baik saja tanpa Draco sebelumnya, tapi sekarang seperti menjadi keharusan. Dia tak bisa bilang belum mencintainya.. tapi dia sangat berarti. Hermione tak tau apa. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan. Draco adalah sederhana, miliknya dan dia akan hancur tanpa Draco. Menatap kedalam mata Draco, walaupun membuatnya merasa cukup sombong, dia percaya bahwa Draco berbagi perasaan yang sama.

Hermione melirik pada lengannya yang di pegang Draco dan dilepaskannya. Hermione menaikkan tangannya dan dengan lembut menakup pipi Draco. Sudah terlambat untuk melindungi hatinya dari Draco. Dia terjatuh terlalu dalam dari yang dia perkirakan. Dia berjinjit dan dengan lembut memandu Draco menunduk sampai bibir mereka bersentuhan dalam ciuman lembut. Hermione menarik dan tersenyum hangat pada Draco. Hermione mengelus pipi Draco dan tersipu. "aku akan mengambil salepnya."

...

"Hermione?" panggil Harry ketika dia masuk ke dalam flat Hermione.

"Disini, Harry," panggil Hermione balik.

Harry berjalan masuk ke dapur dan menemukan Hermione dan Draco.

"Maaf, kami tidak berpikir kau akan kembali dengan cepat," Hermione meminta maaf.

"Kita bisa berangkat kalau kau siap," kata Draco.

"Tidak, tak masalah, aku tidak tau kalian berdua belum makan," jawab Harry.

"Kau sudah makan?" tanya Hermione.

"Uh, ya. Ron dan aku mencuri makanan china sisamu," Harry mengakui, menggaruk bagian belakang lehernya merasa bersalah. "Aku akan membayarmu kalau kau ingin, aku-"

"Tidak, Harry, tak masalah," Hermione tertawa. "Sejujurnya, aku senang kau memakannya, mungkin saja malah akan menjadi sampah kalau tidak. Jadi? Bagaimana?"

Harry menghela nafas dan bersandar di konter. "Baik, aku rasa. Aku membuatnya bicara pada kedua orang tuanya apa yang dia lakukan. Mereka sangat marah, seperti yang kau bayangkan. Aku tidak membuatnya bicara tentang yang terjadi di gang. Aku merasa itu bukan hakku," Harry menjelaskan. "Aku menyakinkan mereka bahwa kita mengejar orang yang Dennis juga cari. Aku mengatakan bahwa kami percaya mereka tidak tau tentang Dennis, tapi kita sudah mempersiapkan mantra perlindungan di sekitar rumah mereka. Aku juga membuat perlindungan yang membuat Dennis tidak bisa meninggalkan rumah. Orang tuanya cukup senang dengan itu, tapi mereka cukup cemas tentang sidang pelanggaran displin. Aku bilang mereka akan mendapatkan surat undangan sidang, juga informasi bagaimana cara mengontak kementrian untuk datang dan penjelasan kepada mereka."

Hermione mengangguk. "Bagaimana dengan pertemuanmu di Gringotts, hari ini?"

Harry berdiri di depan lemari es Hermione yang terbuka, menuang segelas jus labu dan berhenti ketika Hermione mengajukan pertanyaannya. Dia gusar dan menaruh botol kembali ke lemari es dan menutup pintunya. "Aku benci Goblin. Bajingan serakah, semuanya."

"Harry, itu tidak adil," Hermione mengingatkan. "Kau tak bisa menilai mereka berdasarkan pada-"

"Baik, semua goblin yang pernah aku temui itu bodoh, bajingan serakah," kata harry memutar bola matanya. "Aku bilang pada mereka tentang informasi yang aku inginkan tentang Mr Parkinson adalah bukan untuk keuntunganku. Aku meminta karena aku perhatian dengan keselamatan keluarganya. Apapun yang mereka percaya atau tidak, mereka tidak sama sekali terlihat khawatir. Mereka seperti tidak peduli dengan keselamatan klien mereka. Aku bilang pada mereka aku tidak butuh melihat isi berangkas mereka, tau nomer berangkasnya, berapa jumlahnya, atau bahkan rekening deposit atau penarikan. Aku mengatakan bahwa satu-satunya hal yang aku ingin tau adalah catatan waktu Mr Parkinson memasuki berangkasnya dalam enam bulan terakhir."

"Dan apa yang mereka katakan?" tanya Draco penasaran.

"Ya, mereka sedikit terkejut. Aku mengerti bagaimana mereka menjaga privasi klien mereka, jadi aku tau untuk menayakan sesedikit mungkin. Untuk mereka, permintaan ini bukan informasi yang personal sama sekali. Jika seseorang menginginkannya, mereka hanya perlu berdiri diluar pintu masuk setiap hari dan membuat catatan yang aku inginkan. Itu bukan rahasia. Tapi, kemudian mereka menyadari permintaanku itu ada bisa dimengerti dan beralasan. Mereka tiba-tiba menayakan apakah aku akan memberikan imbalan penganti informasi," Harry menggerutu. "Mereka tidak pernah membantu tanpa imbalan, dan biasanya hadiah yang mereka minta cukup berlebihan."

"Apa yang kau tawarkan?" tanya Hermione.

"Well, aku mengambil saran Bill. Dia tidak ada disana hari ini, tapi dari apa yang aku bicarakan dengannya kemarin. Dia bilang untuk menghindari tawar-menawar dengan barang, terutama emas dan barang-barang berharga. Ada alasan dibalik itu, jadi aku mengambil nasihatnya lagi dan pergi ke kantor hubungan Goblin dan meminta untuk melihat file mereka. Ada tida dari mereka dalam hal ini, Croubat, dia punya masalah. Sepertinya dia ditolak oleh penyihir untuk tempat tinggalnya karena dia adalah goblin. Keluhan pada goblin biasanya pertama akan langsung kesana, dan kasus seperti Croubat biasanya akan memakan waktu beberapa bulan. Aku tanya pada Wayne Hopkins, dia bekerja di divisi itu sekarang, jika ada kemungkinan kasus ini akan menjadi masalah jika aku memintanya dan dia bilang itu tak masalah. Jadi aku menawarkan itu."

"Dan?" tanya Hermione.

"Dan mereka bilang padaku, mereka akan memikirkannya lagi dan mereka akan menghubungiku," jawab Harry. "Bill bilang itu pertanda baik. Mereka tidak bisa tawar-menawar denganku. Itu sesuatu yang pastinya akan menarik Croubat. Goblin tidak pernah setuju tanpa memberikan tawaran pertimbangan dan seperti yang Bill bilang, Croubat akan membuat tambahan tawaran untuk dua lainnya. Tapi, Bill bilang padaku untuk siap untuk penerimaan mereka besok."

"Itu bagus," kata Draco. Dia sangat cemas dengan Parkinson. Pastinya, mereka percaya kalau Parkinson diancam karena uang. Itu satu-satunya kemungkinan yang mungkin, tapi lebih seperti pendapat mereka sendiri dan juga yang paling mudah mereka selidiki.

"Apa kau mau lagi atau kau sudah selesai?" tanya Hermione, menunjuk piring Draco yang kosong.

"Tidak, aku sudah selesai, terima kasih. Dan aku siap berangkat," kata Draco pada Harry, Hermione menganggu setuju.

"Baiklah, kalau begitu kita berangkat," kata Harry, menaruh cangkirnya yang kosong ke westafel. Hermione dan Draco mengikuti. Setelah di luar pintu, Harry berbalik menghadap mereka. "Aku akan bertemu dengan kalian di depan gerbang."

Hermione ber-apparate permata, tiba hanya beberapa detik sebelum mereka. Mereka bertiga berdiri di punjung gerbang besi besar di pintu masuk pemakaman peringatan perang di pinggiran Hogsmaede. Hanya terdapat lengkungan sebagai dekorasi hiasan, sebagai batas pemakaman ditandai dengan pagar pendek. Kuburan dibangun setelah kekalahan Voldermort. Banyak kehilangan di kedua belah pihak, tapi pemakaman ini untuk peristirahatan mereka yang dengan gagah berani berjuang untuk perdamaian, juga korban tak berdosa dari Voldermort dan pelahap maut selama masa pemerintahan kedua Voldermort. Ada keluarga yang lebih suka bahwa orang yang mereka cintai beristirahat di pemakaman keluarga, tapi kebanyakan mereka bangga bahwa orang yang mereka cintai dihormati dan dimakamkan di pemakaman peringatan. Awalnya itu merupakan pemakaman kecil, tetapi banyak orang hilang selama tiga tahun, kuburan telah di perluas untuk membuat seratus plot.

"Makam Colin ada di sebelah sana," Harry mengarahkan, menunjuk tidak jauh disebalah kanan mereka. Harry mulai bergerak menuju makam itu. "Dan makam Tonks dan Lupin ada di barisan belakang sana." Harry menunjuk ke bagian barisan kiri belakang. "Jadi, jika dia berlutut di makam Colin, mereka tidak akan melihatnya dengan jelas. Dia bilang dia bisa mendekat. Dia harusnya bergerak agak jauh jika dia bisa mengidentifikasi mereka, ya kan? Bagaimana dia bisa yakin?"

"Kalau aku di posisinya," kata Hermione. "Aku akan merangkak ke depan nisan dan bersembunyi di belakang obelisk. Itu tak membutuhkan banyak gerakan dan banyak yang bisa menutupi. Aku pikir aku bisa cukup dekat."

Harry mengikuti saran Hermione, dia berjalan enam makam ke kiri dan dua ke belakang dan mendapati dirinya berdiri di depan monumen di tengah pemakaman. Itu adalah monumen yang didedikasikan untuk semua orang yang berjuang dalam perang, patung obelisk hitam halus setinggi enam kaki di dengan dua kaki beralas bertuliskan 'kami tidak akan pernah lupakan'. Harry mencoba mengintip ke tepi dan menemukan bahwa Hermione benar. Masih jauh dari makam Tonks, tapi Dennis akan bisa menghitung batu nisan dan mungkin mengidentifikasikan Lestrange bersaudara. Mereka, bagaimanapun adalah orang yang mudah dikenali. Dia bahkan tidak mencoba membuktikan bahwa mungkin Dennis salah, dia ingin mempercayainya, tapi penyelidikan ini mengharuskannya mencari bukti bahwa cerita Dennis sangat mungkin, karena itu dia butuh untuk mencoba membuktikan hal itu. Dia cukup lega menemukan tidak ada kekurangan.

"Oke.. ayo.." Harry memimpin jalan mereka lagi menuju makam di kiri belakang. Dia berhenti dan menatap sedih ke makam Nymphandora Tonks Lupin dan Remus John Lupin. Dia tidak berpikir sebanyak apapun waktu berlalu, selalu terasa sakit ketika mengunjungi mereka disana. "Baiklah Hermione, ayo kita lihat."

Hermione mengeluarkan tongkat sihirnya dan berlutut di samping makam.

"Tunggu!" kata Draco cepat-cepat. "Lihat? Kau tidak bermaksud untuk-"

Hermione terlihat sedikit bingung sebentar dan kemudian matanya membesar mengerti. "Apa? Tidak ! tidak. Kita tidak akan me- menggali atau apapun. Merlin. Tidak."

"Hermione cukup ahli dengan mantra untuk melihat secara ultrasonic," Harry menjelaskan. Draco terlihat bingung, Harry mencoba menjelaskan lagi."Seperti mesin ultrasonic." Harry menyadari apa yang dia katakan itu sama sekali tidak membantu. "Hermione?"

Hermione menghela nafas dan memutar bola matanya. Harry dan Ron keduanya sudah sering memintanya bekerja dengan mereka dibandingkan orang lain di departemennya dan ketika ditanya mengapa oleh rekan-rekan mereka, mereka sangat suka bicara tentang kemampuannya. Awalnya mereka hanya menjelaskan keputusan mereka, tapi kemudian itu seperti berubah menjadi membual, karena Hermione, sebagaimana sibuknya dia, hanya membutuhkan beberapa menit untuk membantu salah satu dari mereka dengan sesuatu yang istimewa. Bagian paling lucu untuknya adalah bahwa Harry dan Ron hanya mengerti setengah dari apa yang Hermione selesaikan dan sangat sulit menjelaskan pada orang lain.

"Gelombang ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi tinggi. Mantra yang aku gunakan untuk mengirim gelombang itu, kemudian akan menerima gelombang itu kembali dan akan membuat gambaran dalam pikiranku," Hermione menjelaskan. "Jadi,, hem,, well, kita ambil contoh. Kita tau disana ada Tonks, seperti yang lain, di kremasi. Jenazahnya berada dalam logam kecil. Jika aku mengirim suara kedalam tanah, tanah akan beresonansi pada frekuensi tertentu, logam akan beresonansi pada frekuensinya sendiri, begitu juga dengan abu punya frekuensinya sendiri yang berbeda. Suara akan diterima dalam urutan dan waktu jadi akan bisa memetakan bentuk dasarnya, tapi akurat tentang gagasan apa yang ada tanpa melihat. Apa itu masuk akal?"

"Ya.. tapi dimana kau belajar tentang hal seperti ini?" tanya Draco takjub.

"Madam Pomfrey," jawab Hermione. "Dalam dunia muggle, mesin ultrasonic digunakan untuk mendiagnosis. Madam Pomfrey mempelopori penggunaannya dalam dunia sihir. Dia punya ide dan dia memerlukan waktu satu dekade penuh agar sempurna, tapi dia punya banyak subject untuk mengetes. Waktu aku menemukan dia mampu melakukannya, aku pikir bisa sangat berguna dalam mendeteksi di lapangan."

"Luar biasa, bukan?" tanya Harry.

"Yeah," Draco setuju, terlihat agak terkesan.

Hermione merona dan menundukkan kepala sehingga mereka tidak dapat melihatnya. "Tentu saja ini sangat berguna beberapa kali, tapi hanya akan bekerja jika aku bisa berkonsentrasi dan dalam lingkungan yang hening."

"Sorry," Harry dan Draco meminta maaf bersamaan.

Hermione menutup mata dan berkonsentrasi dan berlahan menggerakan tongkat sihirnya bolak-balik di atas makam, berkonsentrasi pada bagian persegi. Tongkat sihirnya perlahan berhenti dan dia menghela nafas, bahunya merosot. Hermione menatap Harry dan menggelengkan kepala. "Tanahnya solid dan dipadatkan disekitar kotak. Artinya tidak tersentuh setelah di kuburkan. Tanah di bagian atasnya tidak padat. Cocok dengan cerita Dennis, baru digali, tetapi tidak ada kalung. Mereka mengambilnya atau orang lain sudah mengambilnya sebelum mereka."

"Kau pikir itu adalah Horcrux?" tanya Harry. Tidak ada dari mereka yang menanyakan itu sebelumnya, tapi dia agak yakin walaupun tak ada yang menanyakan, mereka semua berasumsi hal yang sama.

"Aku rasa, ya," jawab Hermione. "Kita tidak tau pasti dengan informasi yang kita punya, tapi sepertinya. Bellatrix mendapatkan kalung opal pada waktu yang hampir sama saat dia pergi kepada Voldermort. Bukan rahasia bahwa Voldermort menganggapnya berharga diatas yang lain. Kita tau dia berlajar tentang Horcrux. Aku percaya kalau dia belajar dari Voldermort. Itu juga sesuatu yang membuatnya sangat berharga. Tak perlu dikatakan, kenapa lagi Rodolphus dan Rabastan merasa perlu mengambil kalung itu?"

"Aku setuju. Tapi bagaimana kita tau? Dan jika itu memang benar, apa itu masih menjadi Horcrux atau dia sudah mendapatkan tubuh?" tanya Harry. Mereka bertiga berpikir dalam diam.

"Tongkat sihirnya," jawab Draco. "Kita tau dia masih memiliki tongkat sihirnya di memori. Hermione bahkan memiliki tongkat itu sekarang. Tapi,tongkat sihirnya dikubur bersama Bellatrix, seperti kalung itu bersama Nymphadora."

Hermione berdiri dan tersenyum pada Draco. "Jelas sesuatu yang perlu dipertimbangkan, kau tau dimana dia dimakamkan?"

"Ya, dia pemakaman keluarga Black." Kata Draco. Dia menawarkan lengannya pada Hermione dan yang satunya pada Harry. Mereka mengangguk dan memengangnya. Draco menutup mata dan berkonsentrasi sebelum berdisapparate. Ketika mereka bertiga membuka mata mereka, mereka berdiri di pemakaman yang berbeda. Kali ini lebih besar dan mereka dengan mudah dapat melihat dari tempat mereka dibagian belakang pepohonan. Pemakaman itu jelas sudah tua selama berabad-abad. Mereka dapat mengatakan dimana pemakaman itu termakan waktu. Makam di bagian terdepan jauh lebih tua, banyak dari mereka yang sudah lapuk dan bagian belakang dimana mereka berdiri, adalah makam yang lebih baru.

"Disini," kata Draco, memimpin mereka turun beberapa langkah. Mereka berhenti di batu nisan kecil dengan tulisan sederhana 'Bellatrix Lestrange nee Black, March 28, 1951 – May 2, 1998'. Disana tidak ada tulisan harapan seperti 'beristirahat dengan tenang' atau ketulusan. Makam bellatrix sederhana menunjukan dia ada dan tak ada. Paling tidak itulah yang terlihat dari makamnya, nyatanya, tak ada apapun hanya sederhana.

Hermione menelan ludah dan mendekati makam. Rasanya tidak ringan seperti yang dia lakukan di makam Tonks. Kali ini terasa sangat berat, lebih gelap. Hermione dengan gelisah berlutut di samping makam dan menutup matanya. Tongkat sihirnya sedikit tidak mantap dan dia memarahi dirinya sendiri karena dia gugup. Tak ada yang istimewa dari tugas itu. Orang yang didalamnyalah yang menyebabkan. Di dalamnya ada abu tidak lebih, dengan tekad baru, tongkatnya bergerak perlahan di atas tanah berumput.

Hermione membuka mata dan membersihkan lututnya sebelum melihat ke Draco dan Harry. "Tak ada. Tampak seperti makam Tonks. Tanah di bagian kotak padat, tanah di bagian atasnya seperti baru. Tidak ada tongkat disana," katanya blak-blakan.

"Bagaimanapun hal yang pasti membantu untuk diketahui. Tetap tak memberitahu kita apakah Horcruxnya sudah digunakan atau masih tetap tempat jiwanya," kata Draco dengan frustasi. Itu mungkin adalah idenya, dan dia berharap itu bisa menjawab pertanyaan mereka, tapi itu hanya menambah ketakutannya mengetahui tongkat Bellatrix sudah diambil.

Mereka bertiga jatuh kedalam pikiran yang dalam, mencari pemikiran di sekeliling otak mereka lagi dan lagi. Hermione menatap nisan Bellatrix dengan determinasi dan itu tiba-tiba memberinya ide.

"Tulang dari sang ayah," Hermione bernafas berat. "Harry, jika dia belajar tentang Horcrux dari Voldermort, bagaimana jika dia juga belajar bagaimana kembali? Bagaimana jika dia mengikuti ritual yang sama?"

"Tulang dari sang ayah, diberikan tanpa sadar," kata Harry, menatap Hermione tak percaya. "Makam ayahnya, dimana?"

"Di sini juga," Draco memberitahu. Draco kembali memimpin mereka ke beberapa makam ke bawah dan berhenti mendadak. Hermione dan Harry melangkah ke samping untuk melihat apa yang Draco lihat. Disitu, di depan mereka, terbaring makam yang kotor yang tanahnya terbalik dan tak ada orang bersusah payah membetulkan. Mata Harry mengikuti ke nisan bertuliskan 'Cygnus Black III'.

"Itu dia?" tanya Harry. "Apa Cygnus adalah ayahnya?"

Draco mengangguk. "Kakekku."

"Tak ada pertanyaan sekarang," kata Hermione pelan. "Dalam kamusku ini akan membuktikan. Tak mungkin ini sebuah kebetulan. Dia kembali."

Harry menatap tak berkedip pada makam itu. Wajahnya seperti batu. "Ini bukan kabar baik, tapi kita tau ini bukan tidak mungkin. Kita tidak akan bertanya-tanya lagi. Kita punya jawaban dan sekarang kita menyusun rencana."

Hermione mengangguk. "Ini waktunya untuk meyusun rencana."

"Tempatku?" Harry menawarkan. Draco mengangguk. "Kau bisa berapparate langsung di depan pintu."

Draco menatap keduanya berdisapparate dan mengambil satu lirikan lagi ke makam kakeknya sebelum bergabung dengan mereka. Ketika dia sampai, pintu depan Grimmauld Place terbuka dan Hermione menunggu penuh harap. Draco tersenyum lembut padanya dan masuk.

"Selamat datang ke rumah, Master Harry," sambut Kreacher. "Dan Master mendapatkan tamu. Bisa Kreacher bawakan teh?"

"Tidak, tapi mungkin jus labu," jawab Harry.

"Itu saja, Master?" tanya Kreacher.

"Um.." Harry berpikir sebentar. "Aku akan ke tempat Weasley untuk makam malam, malam ini. mungkin.. bisakah kau buat dua pai untuk makanan penutup?"

"Ya, Master!?" jawab Kreacher denga senyum mengembang.

Harry menghela nafas. Dia merasa buruk meminta pada peri rumah, tapi sepertinya itu sangat berarti bagi si peri rumah. "Di ruang keluarga."

Hermione melirik pada Draco dan berjalan disampingnya, mereka mengikuti Harry. Harry berdiri di tengah ruangan, tidak membuat gerakan untuk duduk, jadi Hermione mengambil tempat duduk di sofa, menatapnya ragu. Draco duduk disebelah Hermione, membuat gugup dengan sikap Harry yang tegang.

"Kita perlu menyusun rencana," ulang Harry, mengosok dahinya frustasi. "Tapi bahkan aku tidak tau dari mana kita mulai."

"Kita mulai dari dasar," kata Hermione.

"Kita butuh membunuhnya," Draco menyatakan sederhana.

Hermione sedikit terkejut. "Well,,, mereka akan menggunakan kutukan kematian pada kita. Dan kita punya izin menggunakan kutukan kematian kepada pelahap maut yang banyak masih buron di negeri yang besar ini, tapi tujuan kita adalah menangkapnya."

"Tidak 'mungkin' Hermione. Mereka akan menggunakan kutukan tak termaafkan ketika mereka melihatmu. Kau tak bisa ragu," kata Draco.

"setuju," kata Harry tegas. "Dan dia sudah mati Hermione, jadi tak perlu etika."

Hermione mengangguk, tapi masih membuat percakapan ke arah lain. "Dalam memori, kira yakin sekali setelah dia kembali, dia membuat Horcrux baru, jadi kita perlu tau jika dia sudah membuat yang baru atau belum."

Draco tidak merespon. Hermione tidak yakin apakah dia mendengar bagian akhir, dia menatapnya dengan ragu.

"Dia perlu melakukan pembunuhan untuk membuat Horcrux. Belum ada pembunuhan akhir-akhir ini," kata Harry.

"Memang yang kita tau tak ada pembunuhan di dunia sihir, tapi kita tak tau di dunia muggle. Dia bisa saja memilih orang secara acak," Hermione beralasan.

"Baik," kata harry. "Apa lagi?"

"Potter," kata Draco serius. "Aku perlu bicara dengan ibuku."

Harry dan Hermione menatapnya sedikit terkejut.

"Dia punya alasan untuk takut pada Bellatrix. Dalam memori, terlihat tak ada keraguan untuk membunuh ibuku. Dia perlu tau," Draco menjelaskan.

"Ya," Harry setuju.

"Apa yang bisa aku katakan padanya?" lanjut Draco.

"Apapun selama dia bisa dipercaya untuk merahasiakannya," kata Harry, mengejutkan Hermione.

"Terima kasih," jawab Draco sunguh-sungguh.

"Apa kau mau aku disana juga?" Harry menawarkan.

"Sejujurnya... ya," Draco mengakui. "Dia perlu tau ini serius. Aku tak ingin dia meragukannya."

"A-apa kau mau aku j-?"

"Tidak!" jawab Draco cepat. Dia melihat ketakutan dan terluka di wajah Hermione dan cepat-cepat menjelaskan. "Ini akan sangat berlebihan untuknya. Aku tidak tau bagaimana dia menerimanya. Dan... aku ingin mengatakan padanya tentang Aurelian. Aku pikir mungkin akan lebih baik jika kau tidak disana waktu aku menjelaskan. Ini bukan melawanmu.. aku hanya..."

"Aku mengerti," Hermione menyakinkannya. Itu sangat sulit untuknya menjelaskan seminimal mungkin kepada orang tuanya dan itu tak berjalan baik. Itu menakutkan untuk membayangkan jika dia membawa Draco kesana dengannya ketika dia menjelaskan. Hal ini pastilah sama juga.

"Besok, Potter? Makan malam?" tanya Draco.

"Yeah, beri tahu aku detailnya besok," Harry setuju seperti sama sekali tak terkait dengannya. "Sekarang kembali ke rencana."

_TBC_