29 Agustus 2015. Indonesia.
Sekarang author sedang dala masa pencarian tujuan hidup. Setelah digoncangkan oleh suatu syok, dan mengalami status quo setahun lebih, author kembali bertanya-tanya apa tujuan hidupnya. Mungkin, tujuan hidup itu nggak akan jauh-jauh dari dunia tulis menulis, karena memang itu passion saia dari SMP. So, saia ingin melatih lebih lanjut skill hasut-menghasut n provokasi saia ini (?) lewat kegiatan menulis yang kasual. Hm. Does that make sense?
Cinta. Oh. Sebuah topik yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan anak muda. Apalah rasanya hidup tanpa cinta. Betapa hambarnya.
Ya. Hambar. Persis seperti itulah rasa hidup Tifa saat itu. Tiada berasa. Sama sekali tidak menggairahkan. Betapa merana. Memang benar, tanpa cinta, tak ada yang indah dalam hidup ini. Oh, derita cinta.
Tifa sering memandangi matahari terbenam sendirian dari dalam kamarnya. Kadang ia menutup gorden segera setelah cahaya terakhir matahari, kadang ia bertahan lebih lama, memandang jauh ke arah horizon yang membentang dari utara ke selatan. Ah. Andaikan seseorang ada di sampingnya, meminjamkan pundaknya sambil menyenandungkan nada-nada syahdu selagi dirinya memejamkan mata.
Tapi tidak. Tidak ada siapapun bersamanya. Tifa hanya sendirian. Tangan memegang sebuah buku harian dan pena kayu berukir kata-kata bijak dari seseorang yang terkenal.
Love is not a well.
Cahaya terakhir mentari hari itu baru saja sirna. Saat Tifa sedang menimbang-nimbang apakah ia akan merenung lebih lama, abangnya memanggilnya.
"Tifa, kemejaku yang hijau kembang-kembang itu di mana, ya?"
Alis Tifa bertaut. Ah. Kemeja disko nyentrik itu. Mau ke mana abangnya dengan kostum seperti itu malam ini?
"Tunggu sebentar, Zack."
Tifa meletakkan buku hariannya yang masih belum selesai ditulisinya itu dengan hati-hati ke atas ranjang.
.
Tifa
and a well
.
Wahai mentari tua, kau tampak membosankan hari ini.
Datarnya hidup. Tak ada yang menarik, seperti biasanya. Kapan, ya, pangeran berkuda putihku sendiri datang dan menyelamatkanku dari rutinitas ini?
Kata orang cinta itu buta. Ya, itu benar. Aku nggak bisa membedakan, ini cinta atau perbudakan. Andaikan ini cinta, kuharap aku menemukan sepasang tangan menuntunku kepada cahaya.
Orang lain berkata cinta itu tak ada logika. Aku jadi ingin menguji apa benar dengan cinta satu tambah satu bisa tidak sama dengan dua. Sepertinya, satu tambah satu bisa jadi minus tiga per empat, bahkan minus seperdelapan puluh dua. Karena aku merasa terbagi-bagi dan terkurangi oleh cinta.
Cinta membuat hidup menjadi berwarna, kata orang lain lagi. Benarkah? Jadi selama ini aku bak memakai kacamata 3D ya? Hidupku… hanya terdiri dari dua warna. Pantas saja membosankan.
…
.
.
.
Tifa Lockhart sepuluh tahun yang lalu adalah seorang siswi berprestasi di sekolahnya. Ia unggul dalam segala macam pelajaran. Semua guru menyayanginya karena ia begitu pintar dan sopan. Semua siswa lain di sekolahnya mengenalnya karena posturnya selalu paling tinggi, dan dia juga terkenal cantik, dan, ehem… seksi. Oh iya. Tidak ada seorang pria pun dalam hidup Tifa pernah mengalahkannya dalam hal pelajaran sampai ia lulus SMA. Tifa adalah seorang siswa teladan legendaris. Gadis manis, menawan hati tingkah lakunya, cerdas dan cekatan. Siapa yang tak terpikat jika sudah mengenalnya?
Tak hanya itu, menghabiskan masa kecilnya di peternakan, Tifa bisa mengendarai kuda. Tifa tahu cara membetulkan bajak yang rewel. Tifa tidak takut keluar tengah malam berbekal senter bercahaya kuning remang-remang. Tifa tidak takut pada hantu, tidak juga pada penjahat (dia bisa bela diri dengan tangan kosong). Tifa bukan tipe yang menjinjing rok sambil lari terbirit-birit melihat kecoa, bukan juga yang berteriak-teriak sambil melempar sandal. Ia melihat si kecoa tepat di mata dan menyemprotnya dengan Baygun, merek insektisida. Singkatnya, Tifa tipe yang tahu bagaimana memecahkan persoalan, apapun persoalannya. Tidak heran semua orang yang mengenalnya bisa mengatakan ini:
Tifa. Tidak. Butuh. Seorang. Pria.
Yes.
Karena alasan ini juga mungkin, banyak pria yang terdiskualifikasi. Mereka kalah jantan dengan targetnya sendiri. Beberapa pria mungkin bahkan takut untuk mencoba merebut hati si jelita. Menyadari hal tersebut, Tifa tahu, mungkin ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan seseorang yang pantas untuk dirinya. Seseorang yang lebih jago menunggang kuda. Seseorang yang lebih kuat. Seseorang yang lebih berjiwa besar, lebih berani, lebih pintar, lebih dewasa! Lebih 'Tifa' dari dirinya.
Kadang, karena terlalu bosan, rasanya Tifa ingin mengklon dirinya sendiri dan menikahi dirinya sendiri.
Akibat dari semua ini, Tifa mendambakan seorang pria yang sempurna. Tifa tahu, tidak ada pria yang sempurna. Setidaknya, selama hidupnya, belum ada. Bukan berarti ia memandang rendah kaum adam, sama sekali tidak. Ia sangat kagum pada Zack, abangnya yang tak pernah berhenti mencintai kehidupan. Ia sayang almarhum ayahnya yang luar biasa bertanggung jawab dan berwibawa. Ia berterima kasih pada teman-teman laki-lakinya di sekolah yang mendukungnya, entah apa pun motif mereka. Tapi, sebagai seseorang yang akan didampinginya seumur hidup, Tifa ingin pria itu—
"Kribo. Bagaimana menurutmu, Teef?"
"Ya tuhan, kau apakan rambutmu, Zack?!" tanya Tifa setengah berteriak. Ia tak percaya abangnya benar-benar mengeriting rambut hitam kebanggaannya.
"Oh, ayolah, Teef. Ini nggak seburuk itu, kok. Aku cuma terlalu mabuk waktu ke tukang salon," ujar Zack membela diri. Membela harga diri yang sudah minus tiga per empat itu. Tifa tahu Zack hanya ingin terlihat tegar, walau jiwa meraung.
"Malam yang sangat pas untuk kencan. Kencan pertama dengan penampilan baruku. Kuharap Cissney tidak jadi ingin menceraikanku."
"Kamu belum menikah, Zack."
Di luar, bulan bersinar terang. Cahayanya yang lembut menerangi bemper belakang mobil Zack yang berlalu menjauh. Kembali Tifa harus menghabiskan malam itu sendirian. Berniat membuatkan dirinya secangkir coklat hangat, Tifa kembali masuk dan menutup pintu. Eh, ada bunyi kendaraan diparkir di depan rumahnya.
Bulan masih bersinar kala gadis itu menengok siapa yang datang. Cahaya keperakan itu jatuh di atas figur seorang—
"Cloud?"
Hoo boy. Sekarang Tifa menyimpulkan cowok ganteng tampak sepuluh lebih ganteng saat bulan purnama. Ia membiarkan matanya dimanjakan lebih lama, menunggu pemuda itu mendatanginya dan melakukan sesuatu… Menyapanya… Menanyakan kabarnya.
"Zack di mana?"
Sesuatu robek.
"Baru saja per-gi," Tifa menjawab dengan sedikit terbata. Oh, Teef, dia hanya Cloud. Tak perlu grogi, batinnya menenangkan diri.
"Kalau dia pulang, tolong kasih ini ke dia," pinta Cloud, yang kedengarannya seperti perintah. "Dan tolong bilang, jangan datang ke rumahku lagi besok, atau besoknya besok. Makalahku tidak akan selesai kalau ada dia di teritoriku."
Oh. Meski selama ini terus memaafkan sikap buruk Cloud yang satu ini, sebenarnya Tifa tak pernah suka perangai Cloud yang dingin dan kasar. Cloud lah satu-satunya pria yang bisa menolaknya mentah-mentah.
"Selamat malam."
Dan pergilah si tuan Pirang. Aduh. Padahal kalau nggak pakai sembarang perintah begitu Cloud jauh lebih ganteng. Yah, sentimen memang punya pengaruh besar.
Tifa menutup pintu dengan bimbang. Tidak ada satu pria pun dalam hidupnya pernah mendapat kehormatan dibilang ganteng olehnya. Kecuali almarhum ayahnya, tentu saja. Namun, rasanya Tifa bisa dengan mudah bilang Cloud ganteng. Well, tentu saja itu hanya karena Tifa adalah pribadi yang objektif. Ia mengakui fakta. Cloud ganteng, dan itu fakta.
… Oh ya?
"Well, kurasa semua wanita di dunia dan akhirat bakal setuju bahwa kulit bersih, tinggi di atas rata-rata dan tubuh bugar adalah unsur ketampanan. Apalagi ditambah mata biru. Hm…"
Yeah, Teef, bisa jadi. Tapi sebaiknya kamu juga yakin, kamu tidak sedang mengagumi Cloud karena sentimen pribadimu.
.
.
.
"Gimana, sih, rasanya ciuman?"
"Ohmaigat Tifa! Tidak sepantasnya seorang lady membayangkan hal-hal tak terhormat macam itu!" tegur teman Tifa. Tapi tanpa jeda berarti temannya ini melanjutkan,
"Yang smooch apa yang pecking?"
Tifa memutar bola matanya. Tak lama kemudian perbincangan gadis-gadis satu gengnya menjadi liar. Tidak ada seorang pun rela kalah atau tertinggal. Semua gadis satu komplotannya punya cerita, entah asli atau tidak. Tifa mendengarkan satu per satu, tangan menyangga dagunya. Satu-satunya alasan dia bertanya seperti itu adalah karena di dongeng mana pun, seorang putri butuh ciuman seorang pangeran untuk bangun dari tidur.
"Benarkah ada yang namanya cinta sejati di dunia ini?"
"Tuan putri kita sedang galau rupanya," komentar seorang temannya.
"Ada, dong. Cinta sejati itu, ketika pemuda itu datang dengan Lamborghini. Uhuy!"
"Hahaha! Atau datang membelikan sepaket besar peralatan make up terbaru, dan sebuket bunga! Lalu dia mengecup tanganmu dan membawamu ke restoran paling mewah di Gaia. Uhuhuy!"
Kembali ia memutar bola matanya. Dunia berputar tiap kali ia memutar bola matanya. Sebaiknya ia tak berada di dekat rekan-rekannya terlalu lama.
Sepulang sekolah, Tifa ingin melegakan tenggorokannya dengan secangkir the hangat, namun kantin tutup. Tapi tunggu dulu! Sepertinya seseorang melambaikan tangan padanya.
Itu Vincent, kakak tingkatnya, pemain biola. Master orkestra. Menurut gosip yang beredar, pria itu masih single. Terus, tampan dan tubuhnya tinggi, pula. Rambutnya memang gondrong. Dari penampilan luar, ia lebih mirip member boyband.
Tifa duduk dengan orang itu. Kebetulan, di konser tahunan berikutnya, Tifa akan menyanyi, pengiringnya adalah orchestra sang master. Mereka perlu berkoordinasi. Mereka berbincang-bincang, sampai topiknya menyerempet masalah cinta lagi.
"Lagu ini, kalau kamu bisa memaknainya, akan sangat menyentuh. Ini tentang cinta yang tak sampai. Aku tak tahu bagaimana denganmu, tapi aku sudah pernah merasakannya, jadi aku benar-benar berharap kamu bisa menghayatinya seperti aku dulu."
Tifa tak tahu harus merasa kagum atau kasihan.
"Cinta itu tak harus memiliki. Intinya seperti itu. Cinta sejati bukan tentang egomu, tapi tentang kebahagiaannya. Ketika kamu tetap melindungi seseorang dengan segenap hatimu, walau pada akhirnya kamu tahu orang itu akan berdiri di altar gereja dengan orang lain, ya kira-kira itulah saat cinta sejati terbukti. Ketika pikirmu, orang itu akan selalu ada di sisimu, tapi ia berdiri dengan gaunnya yang putih di samping pria lain, dan kamu, meski hatimu menangis, tetap mendoakannya dengan tulus."
Tentu saja, Tifa tidak mengira orang yang penampakannya begitu suram bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ia tersentuh.
"Kamu pernah mengalaminya?"
"Ya, tentu. Yang aku kasihi dinikahi oleh seorang profesor yang sudah lumayan udzur."
Tragis.
"Tapi aku tetap bahagia untuknya. Cinta sejati tak mengharapkan balasan. Di situlah keindahannya."
Gadis itu merenungkan perkataan Vincent sebaik-baiknya. Ya, mungkin yang dikatakannya benar. Cinta sejati tidak mengharapkan seseorang duduk di sampingmu waktu matahari terbenam. Cinta sejati mengharapkan orang itu mengalami rasa kagum yang sama seperti yang kamu rasakan, ketika cahaya mentari membelai wajahmu di akhir hari. Cinta sejati bukannya berarti kamu harus berbagi earphone untuk mendengarkan lagu yang sama. Mungkin lebih ke, mendengarkan lagu yang berbeda, namun bisa mensyukuri keindahan dan keagungan musik.
Tifa berterima kasih pada kakak kelasnya itu, lalu pulang ke rumah. Ia mungkin sekarang paham.
Love is not a well.
Karena kamu tidak bisa mengukur kedalamannya.
