Jendela yang dibiarkan terbuka. Membawa masuk angin mengacaukan beberapa lembar kertas yang bertebaran di atas meja. Keringat sedikit demi sedikit menetes dari pelipisnya.

Namun gerah dan panas membuat seringaiannya terkembang.
Tak lain ada sebuah pemandangan menarik di depannya.

Terduduk seorang pemuda seumuran dengannya, berambut coklat kehijauan. Memakai kemeja berwarna putih tipis, sama sepertinya. Tubuhnya juga berpeluh. Membuat kemeja tipisnya melekat dengan tubuh.

Dan memperlihatkan sesuatu yang Tsukishima tunggu.

Sebuah kain yang mengikat erat di sekitar punggung terlihat menembus di balik seragam putih samar yang menempel pada di kulit. Kedua tali tipis yang menggantung kuat di pundak. Salah satunya ada yang hampir jatuh di ujung bahu.

"Ini Tsukki!"

Dia berbalik dengan selembar kertas yang dioper dari depan. Dengan begini Tsukishima dapat melihat cetakan dua segitiga yang menutupi dua planet merah kesukaannya.

Yamaguchi, pemuda di depannya tersebut segera berbalik. Pasti merasa malu. Tapi yang Tsukishima tahu adalah semburat merah yang menjalar sampai telinga. Menggoda seolah minta dibisikkan kata mesra.

Meskipun kedua planetnya teretelan ke dalam lubang hitam atau puting Yamaguchi yang kembali masuk ke dalam. Ataupun dilapisi plester dan planetnya tertutup kabut luar angkasa. Tsukishima tak lagi peduli untuk saat ini.

Karena semua susunan konstelasi dan tata surya itu atas kehendak Tsukkishima – yang dia yakin bukanlah sebuah paksaan – ditutupi kain bermotif manis, hadiah darinya.

Bra bermotif strawberi.