Tiada Yang Mustahil

by: Shin Chunjin

Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.

Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.

Warning alert: typo, ooc, gaje

Enjoy~

Kepada yang mereview, kubalas di sini ya~

To: Yose Hyuann

Halo, Hyuann-san! Terima kasih sudah meninggalkan komentar~ Iya, Tatsuya sukanya sama Yuki. Memang nih kebalik-balik tapi bukan berarti tidak mungkin kan hehehe~ Selamat membaca dan kutunggu komentarmu! ^.^

.

Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~

Selamat membaca!

.

.

Akashi's POV

"Yo, Akashi-kun."

Aku tidak membalas sapaan tersebut, tidak sanggup membalas lebih tepatnya. Entah mengapa bulu kudukku seakan meremang sehingga aku tidak bisa berkata-kata. Itu suara Shiki, aku tahu pasti. Tetapi, gadis ini seperti bukan Shiki. Ada aura misterius yang membuatnya terlihat berbeda.

Shiki tidak berlama-lama menatapku. Dia kembali disibukkan dengan pertanyaan teman-temannya. Mereka membawa Shiki kembali ke dalam tenda untuk ganti pakaian. Kuroko juga hendak kembali ke dalam tenda jika tidak kupanggil.

"Kita harus bicara, Kuroko."

"Sekarang?"

"Sekarang."

Aku berjalan mendahului ke tempat yang aman dari curi dengar. Tidak jauh dari tenda karena aku tidak mau mendapat masalah. Kuroko mengikutiku, diam seribu bahasa.

"Apa yang terjadi?"

"Aku tidak bisa tidur karena Kagami-kun berisik, jadi aku bangun untuk mencari udara segar. Aku melihat Shiki-san sudah duduk di pinggir danau terlebih dahulu. Karena dia tidak bergerak, aku mendekatinya untuk memeriksa."

"Lalu?"

"Kami mengobrol banyak hal. Ketika kami mau kembali, dia terjatuh ke dalam danau. Maafkan aku, Akashi-kun. Aku tidak sempat menahannya. "

"Bagaimana bisa tiba-tiba terjatuh?" Aku semakin tidak sabar. Hatiku mengatakan ada hal yang aneh, tetapi aku tidak tahu apa.

"Aku memang merasa ada yang aneh. Dia tersenyum mengucapkan terima kasih padaku. Kenapa tiba-tiba mengatakan seperti itu?"

"Jangan balik bertanya, Kuroko. Aku juga tidak tahu."

"Ah, tapi aku merasa familiar dengan suatu hal."

Kuroko menatapku dalam-dalam, membuatku bingung. Aku menunggu hingga dia kembali membuka mulut.

"Mendengar tutur katanya tadi, rasanya seperti bicara pada Akashi-kun yang dulu."

Aku membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Memang aku sempat memiliki dua kepribadian. Dia menyatu saat pertandinganku bersama anggota Kiseki no Sedai melawan Jabberwock dulu. Aku tidak terpikir bahwa Shiki juga memiliki dua kepribadian seperti diriku yang dulu.

"Kau yakin, Kuroko?"

Kuroko hanya mengangguk. "Auranya berbeda, ditambah bola matanya juga berbeda warna. Mirip seperti dirimu yang dulu, bukan?"

Aku tidak menjawab, masih berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. Tiba-tiba, aku terpikir sesuatu. Himuro. Seharusnya pria itu tahu apa yang sedang terjadi, bukan?

"Akashi-kun! Kau mau ke mana?"

"Menemui laki-laki itu," jawabku tanpa menoleh ke belakang. Aku mempercepat langkahku menuju tenda pria berambut hitam tersebut. Dapat kurasakan bahwa Kuroko mengikutiku dari belakang.

Sesampainya di tenda, Himuro sudah dikelilingi oleh Kagami dan anggota Kiseki no Sedai yang lain. Para perempuan tidak ada, tanda masih mengurus Shiki di tenda mereka. Aku melangkah mendekat sambil menatap tajam ke arah Himuro.

"Tolong jelaskan apa yang terjadi."

Yang ditanya hanya diam dan memasang ekspresi sedih, membuat emosiku semakin memuncak. Sebelum aku kembali membuka mulut, dia sudah bicara.

"Shiki-chan tidak bisa berenang. Beruntung Kuroko-kun segera membangunkanku untuk meminta bantuan."

"Bukan itu!" Nadaku meninggi tanpa bisa kukendalikan. "Kau tahu apa yang kumaksud, Himuro."

"Ya, Shiki-chan punya dua kepribadian. Dia menahannya agar kepribadiannya yang satu lagi tidak muncul. Setelah sepuluh tahun, ini kali kedua dia muncul."

Semua yang ada di dalam tenda mendengarkan dengan serius. Tidak ingin memotong atau bertanya. Himuro kembali melanjutkan penjelasannya.

"Pertama kali dia muncul tepat setelah Shiki-chan selamat dari laut. Trauma yang cukup hebat membuatnya terlihat seperti orang gila. Ayahnya marah besar karena sikapnya itu mencorengkan nama baik keluarga. Shiki-chan dikurung di kamar selama dua minggu. Tidak boleh dijenguk oleh siapapun. Setelah dua minggu, ketika aku menemuinya, aku sadar dia berubah."

"Lalu?" tanya Kagami. "Apa kau tahu apa penyebabnya?"

Himuro mengangguk. "Untuk melupakan sesuatu. Haha.. Bahkan keluarganya sendiri tidak menyadarinya. Selama dia menguasai tubuh Shiki-chan, hanya aku yang bisa bicara banyak dengannya. Hanya aku yang tahu rahasianya ini."

Aku hanya mendengarkan tanpa berkomentar apa pun. Kepribadianku bisa terpecah karena aku merasa sangat terpukul dengan kepergian mendiang ibuku. Sebagai sesama pemilik kepribadian ganda, kurang lebih aku bisa merasakan saat-saat kepribadian yang satu lagi berkuasa. Orang-orang di sekitarku memandangku dengan tatapan yang berbeda.

"Shiki-chan ingin melupakan suatu hal dan tetap bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa. Itulah alasan mengapa kepribadian Shiki-chan yang satu lagi keluar."

Himuro menatapku dengan tatapan iba, membuatku mengerutkan kening. "Akashi-kun, aku punya firasat buruk."

"Apa maksudmu?"

"Dia keluar, berarti ada hal yang menyakitkan dan sangat ingin dilupakan oleh Shiki-chan. Aku rasa ini berkaitan dengan dirimu," jelas Himuro sambil tersenyum lemah. "Mungkin karena kau tidak menolak saat dicium Yuki-chan."

"Gadis itu melakukannya karena kalian berciuman lebih dulu!" Aku tidak peduli jika aku terdengar seperti lelaki yang sedang cemburu. Aku memang cemburu.

"Kami tidak pernah ciuman," sanggah Himuro dengan ekspresi panik. "Ah, hanya tadi saat memberikan napas buatan. Itu hanya pertolongan pertama, Akashi-kun. Jangan anggap itu sebagai ciuman."

Jadi, aku salah paham? Rasanya aku ingin keluar dari tenda diam-diam dan menceburkan diri ke danau. Aku hanya bisa diam, menahan malu. Untung saja tidak ada yang berani tertawa. Himuro hanya tersenyum lembut dan melanjutkan ucapannya.

"Shiki-chan menyukaimu. Jatuh cinta padamu, lebih tepatnya. Dia bukan tipe yang menarik kata-katanya sendiri tanpa alasan. Aku tidak tahu apakah Akashi-kun tahu atau tidak. Shiki-chan sangat heboh untuk membatalkan pertunangan karena ia tidak suka dijodohkan, siapapun calonnya. Tapi, begitu tahu calonnya adalah Akashi-kun, dia tidak menolaknya, bukan?"

"Siapa yang mau menolak Akashi? Dia orang yang sangat berpengaruh di Jepang," komentar Aomine, diikuti anggukan beberapa kepala.

"Shiki-chan lebih dulu bertemu Akashi-kun sebagai orang biasa. Dia baru tahu siapa calon tunangannya belakangan. Kurasa, karena orangnya kebetulan adalah Akashi-kun, dia tidak jadi membatalkannya. Bukankah karena dia memang menyukai Akashi-kun?"

Perkataan terakhir Himuro membuat hatiku bagai diremuk menjadi beberapa keping. Aku dibutakan dengan rasa cemburu yang seharusnya tidak ada dan menyakiti hati gadis yang kusukai untuk kesekian kalinya. Kami semua kembali ke tenda masing-masing karena harus bangun pagi untuk training camp hari terakhir. Aku ingin segera bertemu dengan Shiki. Hatiku tidak tenang karena perkataan Himuro. Semoga firasat pria itu tidak benar.

.

.

Hari terakhir tidak seberat dua hari sebelumnya, membuatku sedikit bersyukur. Aku tidak akan bisa sefokus kemarin. Beban pikiranku banyak. Ketika sarapan, aku mencari sosok yang ingin kutemui. Gadis serupa tapi tak sama yang duduk disebelahku tidak kugubris sama sekali. Aku tidak mau terpengaruh lagi. Tiba-tiba aku bertemu pandang dengan Shiki, dan sensasi merinding seperti waktu itu kembali kurasakan.

Shiki tersenyum, namun hanya di bibir. Sorot deep brown-baby blue itu dingin, tidak seramah yang kukenal dulu. Aku tidak suka tatapannya yang sekarang. Tak sanggup lama-lama bertemu pandang, aku mengalihkan perhatian. Hatiku semakin sakit jika memikirkan bahwa akulah penyebab dia seperti itu.

"Akashi-kun, kau baik-baik saja? Kau tampak pucat."

Aku melirik ke samping, memperhatikan Yuki yang memiliki sepasang netra coklat tua tanpa berkata apa-apa. Dulu, Shiki juga memiliki warna bola mata seperti itu. Namun, karena diriku-

"Yo, Akashi-kun, Yuki-neesan." Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku mendengar panggilan untuk Yuki juga berubah. Diam-diam aku melirik gadis tersebut, penasaran apakah dia menyadari adiknya berubah atau tidak.

"Oh.."

"Lusa, ya. Jaga kesehatan kalian, jangan sampai salah satu dari kalian tidak hadir. Itu akan menjadi sangat memalukan, bukan?"

Shiki hanya tertawa pelan sambil berlalu. Aku tahu maksudnya. Pertemuan keluarga, pertunangan yang resmi. Firasatku semakin buruk. Aku kembali melirik ke arah Yuki, dan tebakanku benar. Dia gemetar.

"Bagaimana ini, Akashi-kun? Aku rasa dia akan setuju. Tatsu-chan.."

"Ah, firasatku juga tidak enak."

.

.

-to be continue-

Hi minna! Shin's here! Selamat datang untuk pembaca baru~ Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff ini. Maaf sekali karena aku tidak update beberapa bulan lamanya dan juga tidak bisa memenuhi janji spoilernya. :( Kuharap kalian masih mau menunggu dan terus mendukungku ^^

Spoiler for next chapter : Pertemuan resmi pertunangan. Tolak atau terima? . Happy end? Sad end? Tunggulah di next chapter yang sekaligus menjadi final chapter.

Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi.. Mau nebak kelanjutannya apa juga boleh~ :D Kurasa 22 chapter selama dua tahunan sudah cukup. Tidak perlu dipanjang-panjangin lagi. Dukung kami yaaa 3

Semoga kalian menyukai cerita ini~

Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~

Salam sejahtera,

Shin Chunjin