Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Punya adik perempuan yang sangat manis dan imut, hebat dan berbakat menjadi ninja, serta menjadi idola banyak orang tentu menjadi kebanggaan buat seorang kakak. Tapi itu tidak berlaku untuk Bolt, apa yang bisa dibanggakan dari adik perempuan yang sombong, egois, suka seenaknya, menyebalkan, pemarah, dan ceroboh seperti Himawari? Tentu saja, TIDAK ADA. Disinilah kesabaran seorang kakak di uji. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family

Rate : T

Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Jum'at, 25 Desember 2015

Happy reading . . . . .

.

My Cute Sister? Nonsense

By Si Hitam

Chapter 21. Pengganti Adik, Part I.

Seperti hari-hari lainnya, hari ini seharusnya seperti hari-hari biasa untuk Bolt. Ketika cuaca sedang panas begini disiang bolong, lebih baik tidur dikamar dan menghidupkan pendingin ruangan. Seharusnya seperti itu, namun bagi Bolt pada kenyataanya tidak untuk hari ini.

Bolt menatap bingung pada dua orang gadis yang sekarang tengah asik-asik nongkrong di kamarnya. Anggota tim 7, ada Amaru yang sedang membaca buku medis dan juga Mirai yang sedang merokok dekat jendela. Ryuzetsu tidak ikut, dia mungkin sedang bermain shogi dengan Shikadai, itu memang sudah keseharian Ryuzetsu jika tim 7 tidak ada kerjaan.

Untung saja ibunya, Hinata sedang ada urusan di Klan Hyuga, dan Naruto bekerja di kantor hokage seperti biasa. Jika tidak, mana mungkin Bolt berani memasukkan dua orang gadis kedalam kamarnya. Bisa-bisa dia ditendang dari rumah dan dicoret dari daftar pewaris harta keluarga Uzumaki-Hyuga yang jumlahnya tidak ketulungan karena mencoreng nama baik ayah dan ibunya karena disangka melakukan perbuatan tidak bermoral.

Karena tidak tahan melihat saja kelakuan dari dua gadis yang seenak jidat menginvasi kamarnya, akhirnya Bolt buka suara.

"Katanya kau malu jika hobimu dilihat orang lain, Mirai-nee? Tapi kenapa kau malah merokok di kamarku?" tanya Bolt penasaran. Dulu Mirai pernah memberitahu Bolt kalau ia senang merokok, namun minta dirahasiakan karena malu kalau ketahuan orang-orang, apalagi kalau sampai ketahuan ibunya, Kurenai, bisa-bisa Mirai jadi gila karena di genjutsu ibunya sendiri.

"Sudahlah,,, disini hanya ada kau dan Amaru-chan. Lagipula Amaru-chan sudah tau kok hobiku ini, iya kan Amaru-chan?" jawab Mirai sekenanya, tidak peduli dengan Bolt yang seperti kesal padanya.

"Huh, aku masih belum bisa menerima sepenuhnya hobimu itu Mirai sensei. Merokok itu tidak baik untuk kesehatan tahu!" balas Amaru sewot.

"Amaru, sejak kapan kau tau hobi Mirai-nee ini? Tidak mungkin kan dia yang sengaja memberitahumu?" tanya Bolt pada Amaru sembari menatapnya.

"Sudah cukup lama sih, aku masih bisa menyadari tanda-tanda seorang perokok walau Mirai sensei menyembunyikannya dengan baik. Aku ini ninja medis, walaupun dia selalu memakai penyegar mulut, perona bibir atau apapun, itu tidak akan bisa mengecohku" kata Amaru menjawab pertanyaan Bolt.

"Oooh~~, , , , ," Bolt lalu mengalihkan tatapannya dari Amaru ke Mirai, "Aku sudah menerima hobimu ini, Mirai-nee. Tapi masalahnya sekarang adalah kenapa kau merokok di kamarku?" tanya Bolt pada Mirai yang kelihatan asik mengepulkan asap rokok dari mulutnya didekat jendela kamar. Malah Mirai bermain-main mengepulkan asap rokok, memonyongkan bibirnya lalu meniupkan asapnya seperti cerobong asap kereta api sehingga jadilah bentuk seperti cincin.

"Memang kenapa? Disini tempatnya sangat tenang, dan yang pasti aman dari jangkauan orang-orang, serta tidak akan ada yang mengira apa yang kulakukan disini. Tidak mungkin kan, ada yang berani memata-matai keseharianku hingga sampai ke rumah Hokage" jawab Mirai setelah berhasil berkreasi dengan asap rokok kesukaannya.

Sekali lagi Mirai meniupkan asap rokoknya, dan bhooww,,,,, jadilah lima bentuk cincin asap sekaligus yang keluar berturut-turut dari mulutnya.

"Bukan begitu, kau tau kan ibuku tidak suka jika ada orang yang merokok disekitarnya? Beliau bisa marah besar kalau ada bau rokok dirumah" kata Bolt minta pengertian Mirai.

Mirai tidak menjawab, dia bangkit dari jendela, mendekat pada Bolt membuat Bolt bingung, lalu

"Fhuuuuu…."

"Uhhuk, ukhhuuuk , , , "

Mirai meniupkan asap rokok kewajah Bolt sehingga membuat Bolt tebatuk-batuk karenanya.

"Mirai-nee,,,, Hentikan kelakuanmu!" teraik Bolt marah..

Mirai kembali berdiri didekat, melanjutkan kegiatan merokoknya disana.

"Haaaah~~ , , , aku ini merokok di kamarmu, jadi baunya tidak akan tercium hingga keluar" kilah Mirai.

"Ibuku sering masuk kekamarku tau" Bolt jadi makin kesal dengan kelakuan Mirai.

"Ugh,,, ternyata kau memang benar-benar pemalas Bolt-kun. Sudah besar masih saja ibumu yang membereskan kamarmu" cibir Mirai.

"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" kata Bolt tajam. Menghela nafas sebentar Bolt melanjutkan ucapannya, "Jadi, jangan bilang kau kesini hanya untuk merokok?" tebaknya.

Mirai mematikan puntung rokoknya karena sudah hampir habis, mengambil tissu di nakas dekat tempat tidur Bolt dan menggunakannya untuk membungkus puntung rokok tadi, lalu menyimpannya disaku untuk dibuang di jalan nantinya. Menghilangkan barang bukti…. Kini Mirai memasang ekspresi serius.

"Tidak, tentu ada maksud lain kami berdua disini, iya kan Amaru-chan?" kata Mirai menatap Amaru kemudian dibalas anggukan kepala oleh Amaru.

"Terus, bisa jelaskan kenapa apa kalian ada disini?" tanya Bolt tanpa basa-basi.

"Setelah Hima-chan pergi, kau pasti kesepian. Jadi kami berdua yang sedang tidak ada kerjaan, datang kesini hanya ingin mengunjungimu saja" Amaru yang menjawab.

"Heiiii,,,,, itu tidak perlu. Sebenarnya aku merasa lebih tenang setelah adikku yang cerewet itu pergi. Tapi kuhargai perhatian kalian berdua padaku. Terima kasih ya" Bolt sudah tidak kesal lagi karena kepedulian dua gadis itu, sehingga dia berkata dengan lembut membuat Mirai dan Amaru tersipu.

Amaru memalingkan wajahnya malu, sedangkan Mirai tersenyum dengan wajah merona tipis.

"Hmm,,, Apa Hima berpamitan pada kalian?" tanya Bolt.

Amaru menggeleng saja, sedangkan Mirai wajahnya menjadi sendu. Hening sesaat.

"Sebenarnya aku kesal padanya" kata Amaru lebih dulu menjawab pertanyaan Bolt. Raut wajah kesal tercetak jelas diwajahnya.

"Jujur, aku marah sekali pada Hima-chan" sambung Mirai menimpali pernyataan Amaru. "Selain sebagai murid, dia juga ku anggap sebagai saudaraku dan aku yakin dia juga beranggapan seperti itu padaku. Tapi dia pergi tanpa bilang-bilang pada kami. Rasanya sakit, sedih, dan marah tentunya, seakan aku ini bukan apa-apa baginya" Mirai berkata dengan nada marah yang belum pernah dia tunjukkan sekalipun didepan orang lain, "Aku menghargai keinginannya, tapi aku masih belum terima dengan cara yang seperti ini." nada bicara Mirai meninggi. "Selain itu dia juga tidak pernah sekalipun mengirimiku pesan atau menelpon. Aku, . aku. . . Hiksss,,,, Wajar saja kan kalau aku marah?" beberapa bulir air mata mengalir dipipi Mirai.

"Ya" jawab Bolt singkat diikuti anggukan kepala Amaru.

Hening melanda ketiga orang itu, "Yosh, kalau begitu kita jalan-jalan saja bertiga. Bukan, berempat dengan Ryuzetsu juga. Kita berfoto lalu posting di sosial media, tulis disitu bahwa kita masih bisa bersenang-senang walaupun dia tidak ada. Aku yakin dia pasti iri jika dia melihatnya" seru Bolt semangat.

"Itu ide bagus" Amaru kelihatan senang, tidak lagi menampakkan wajah kesal.

Mirai pun kembali tersenyum.

.

.

.

Salah satu fasilitas kesehatan terbesar di kota Konoha, yakni Rumah Sakit Besar Konoha (RSBK), keadaannya hari ini tampak lebih tenang dari biasanya padahal masih jam kerja dan pelayanan kesehatan tutup saat jam 4 sore nanti. Tidak ada orang mengantri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di lobi ada sepasang anak muda yang baru saja masuk kesana untuk suatu urusan. Yang satu, seorang gadis 17 tahunan berambut hitam pendek berkacamata, dan satunya lagi seorang pemuda sebaya gadis tadi, berambut pirang dan beriris mata biru.

"Kau pulang saja duluan Bolt, hanya tinggal menyerahkan laporan ini kepada ibuku setelah itu kerjaan kita selesai" kata si gadis berkacamata.

"Nanti saja Sarada, lagipula kalau pulang sekarang pun, aku juga tidak ada kerjaan dirumah" si pemuda bersurai pirang kelihatan malas untuk pulang. Siang-siang begini di rumahnya pasti sepi, tidak ada siapa-siapa.

"Baiklah kalau itu maumu. Kau tunggu saja di ruangan ibuku, aku ingin mencari Bibi Shizune, ada yang ingin ku bicarakan sebentar dengannya" kata Sarada lalu berjalan meninggalkan Bolt sendiri.

"Ya, akan ku tunggu disana" jawab Bolt. Diapun berjalan menuju ruangan kepala rumah sakit, Uchiha Sakura, ibunya Sarada.

'Huuuuuh,,,, untung saja hari ini Bibi Sakura memberiku tugas, jika tidak aku bisa mati kebosanan dirumah. Shikadai lebih mementingkan bermain shogi dengan Ryuzetsu sih, jadinya kan aku tidak ada teman untuk bermain game atau tidur malas-malasan.' keluh Bolt dalam hati.

Tidak lama berjalan, akhirnya sekarang Bolt sudah berada didepan ruangan kepala rumah sakit konoha. Niatnya untuk mengetuk pintu ruangan itu terpaksa ditunda dulu karena jelas terdengar suara berisik dari dalam ruangan itu. Ada orang lain didalam, kan tidak sopan kalau asal masuk saja dan menyela urusan orang? Lebih baik menunggu, pikir Bolt.

Suara berisik itu lumayan keras, dan sepertinya Bolt kenal dengan suara itu. Aaahh, , , itu pasti suara ayahnya. Tidak ada orang lain yang seberisik ayahnya jika berbicara. Dan sepertinya tidak ada suara orang lain lagi, mereka pasti hanya berdua saja didalam.

Bolt jadi bingung, ada urusan apa ayahnya di ruang kerja ibu sahabatnya itu?

"Ngapain papa di ruang pribadi Bibi Sakura? Apa jangan-jangan? Aaarrrgh, , , , , Tidaaaak. Ini tidak mungkin. Papa dan mama selalu kelihatan mesra dan harmonis, mereka juga saling setia. Tapi, , , , tapi menurut cerita yang ku dengar, papa dulu pernah menyukai Bibi Sakura. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Tidak akan ku biarkan. Aku sangat menyayangi mama dan tidak mau melihat mama menangis. Hal seperti ini harus dihentikan. . . Yah harus, , , Tapi lebih baik aku dengarkan saja dulu apa yang mereka bicarakan' pikir Bolt ngaco.

"Sakura-chaaan, Ayolah" jelas tertangkap oleh telinga Bolt suara memelas ayahnya.

"Tidak bisa Naruto, uang segitu masih kurang" lalu terdengar sanggahan dari suara feminim yang Bolt kenal, yaitu ibunya Sarada.

'Ini tidak benar, apa-apaan papa? Kenapa memanggil Bibi Sakura dengan nada manja seperti itu? Kenapa mereka berdua saling memanggil nama depan begitu lagi?' tanya Bolt dibenaknya.

Kita lihat apa yang sedang terjadi didalam ruangan kepala rumah sakit. Memang benar didalam ruangan itu ada dua orang paruh baya, Naruto dan Sakura yang sedang terlibat pembicaraan serius. . . . . .

"Bagaimana kalau uangnya ku naikkan 20% menjadi 120 milyar ryo, uang segitu sudah sangat banyak untukmu. Ini yang terakhir, aku yakin kau pasti mau" kata Naruto membujuk Sakura dengan nada meyakinkan.

"Hm,,, tidak… naikkan 30%...!" kata Sakura tegas.

"Sakura-chaaan. Untuk apa juga kau uang sebanyak itu?" tanya Naruto yang tidak mengerti, kenapa sahabatnya itu tidak mau menerima uang yang ditawarkannya, padahal jumlahnya sangat banyak.

"Aku tau seberapa kaya keluargamu itu, Naruto. Uang yang ku minta itu tidak sampai seperseribu dari total seluruh kekayaan keluargamu" sergah Sakura.

"Aaaaarrgghh, kenapa kau sekarang jadi serakah sih" gerutu Naruto kesal.

"Jangan sebut aku serakah..!" balas Sakura dengan nada keras.

"Terus apa?"

"Aku hanyaaa,,,, Heheeee,, yaaahh, kau tahu lah... Kehidupan sosialita itu perlu ditopang banyak dana. . . ." kilah Sakura dengan alasan yang dibuat-buat.

'Coba saja sifat Sakura-chan ini seperti Hinata atau Hanabi yang selalu hidup sederhana walau bergelimang harta, tidak akan jadi begini juga kan?" sindir Naruto dibenaknya, "Kalau begitu, suruh suamimu Si Teme itu cari kerja yang jelas, jangan menganggur dan hanya nonton dorama di rumah seharian penuh!" kata Naruto mengejek sahabatnya sendiri.

"Sasuke-kun tidak bisa diharapkan untuk mencari uang banyak. Dia tidak akan bisa mencukupi kehidupan sosialitaku" sahut Sakura.

"Kalau begitu suruh dia mengemis di jalanan,! Aku sering dengar berita di TV kalau pengemis itu penghasilannya besar. Si Teme itu kan tangannya hanya satu, jadi pasti banyak orang yang kasihan dan memberinya banyak uang."

"Aaaahh, aku tidak mau membicarakan kecacatan suamiku." Sakura merajuk, "Kau jangan pelit begitu padaku,,, aku ini bukan orang lain bagimu, Naruto. Kita ini sangat dekat sejak dulu" giliran Sakura sekarang yang memelas.

"Gh. Bawa-bawa masa lalu. Baiklah, aku menyerah. Kau bisa miliki uang 130 milyar ryo" kata Naruto pasrah.

"Yeiiy, terima kasih Naruto. Aku sayang padamu. Yuhuuu..., dengan begini aku bisa membuka cabang klinik baru dan cepat kaya" kata Sakura kegirangan. Sakura memang ingin membuka cabang klinik baru ditempat lain, tujuannya hanya satu, menambah penghasilannya karena anggaran kehidupan sosialita yang meningkat.

Sementara diluar, kembali lagi pada Bolt yang masih berdiri didepan pintu ruangan pribadi Sakura, yang masih fokus dengan kegiatan mengupingnya. . . . . . .

'Apa,,, ini mustahil kan? Papa brengsek, beraninya dia mengeluarkan uang milyaran ryo untuk selingkuh. Bibi Sakura juga, ternyata tidak sebaik kelihatannya. Dia matre, mata duitan.' Bolt menyumpah serapah dalam hatinya.

"Ya, sudah. Sekarang tanda tangani kontraknya. Aku ingin ini segera terealisasi, aku sedang sibuk sekarang, jadi tidak bisa berlama-lama disini" kata-kata Naruto dari dalam ruangan kembali terdengar di telinga Bolt.

"Mana surat perjanjiannya?, sini biar ku tanda tangani. Jadi kita bisa mulai dari sekarang" Bolt menangkap dengan jelas suara sahutan dari Sakura

'Sudah cukup, aku harus masuk sekarang!' Bolt yang sudah tidak tahan lagi, benar-benar berniat akan langsung melabrak dua orang tua yang melakukan hal terlarang.

"Kau harus selesaikan desain rumah sakit baru itu secepatnya dan sekalian juga daftar kebutuhan peralatannya. Gunakan uang 130 milyar Ryo itu untuk biaya pembangunan rumah sakitnya dan membeli peralatannya. Kau bisa memiliki 15% dari 130 milyar itu sebagai imbalan untukmu yang merancang bangunan rumah sakit dan membuatkan sistem manajemen pelayanannya. Dengan begini, urusanku selesai." Ucapan tegas Naruto dari dalam ruangan kembali terdengar.

"Jadi 20 milyar Ryo lebih ya untuk bagianku.? Eheheee, , , , dengan uang segitu aku bisa membeli perhiasan dan batu permata paling mahal didunia. Aku akan menjadi sosialita paling kaya dan Ino tidak akan bisa menyaingiku lagi. Hahahahaa" tawa Sakura nista.

'Eh, desain rumah sakit?' Bolt jadi bingung, padahal sudah memegang knop pintu. Dia membatalkan niatnya untuk masuk sekarang. Bolt bukanlah orang yang bertindak tanpa berpikir seperti ayahnya, dia harus medengarkan dahulu sampai jelas.

Sekarang, kita masuk lagi kedalam ruangan kepala rumah sakit, melihat apa yang sebenarnya terjadi . . . . . . .

"Kenapa tidak langsung Hanabi saja sih yang kesini?" tanya Sakura.

Yah, Hanabi lah yang mengutus Naruto untuk urusan ini. Aneh juga sebenarnya, posisi Naruto sebagai Hokage ternyata kalah dengan posisi adik iparnya itu. Pembicaraan Naruto dan Sakura sebenarnya hanyalah pembicaraan tentang bisnis. Rencana bisnis Klan Hyuga untuk membangun rumah sakit swasta paling modern di Konoha dan akan menjadi rujukan utama untuk penyakit jantung dan kanker.

Sakura adalah klien, sedangkan Naruto hanyalah sebagai mediator untuk klan Hyuga. Awalnya, penawaran itu hanya 100 milyar ryo, namun akhirnya disepakati 130 ryo, naik 30% dari tawaran awal. Padahal sebenarnya, total uang yang diberikan Hanabi kepada Naruto untuk kesepakatan ini adalah 150 milyar ryo. Hanabi hanya mau tahu hasil akhir langsung beres saja, sehingga Naruto yang jadi mediator berhak melakukan apapun. Berkat tampang memelasnya, Naruto berhasil meraup untung 20 milyar ryo dari negosiasi tadi. Lumayan lah buat masuk rekening sendiri, bisa buat beli villa super mewah baru untuk keluarga kecilnya. Ternyata Naruto cukup perhitungan untuk urusan uang.

Yah, beginilah adanya sekarang ini. Uang adalah segalanya, lebih bernilai dari sebuah persahabatan yang sudah bertahun-tahun mereka jalin erat. Bahkan jabatan Hokage yang sejak kecil jadi impian Naruto, menjadi tidak penting lagi karena uang. Buktinya, Naruto yang seharusnya saat jam kerja begini ada di kantor Hokage melakukan tugasnya, malah kelayapan untuk urusan bisnis.

"Hanabi sangat sibuk, bahkan lebih sibuk dari aku yang hokage ini" kata Naruto menjawab pertanyaan Sakura. "Ada banyak perusahaan yang harus diurusnya. Lalu sekarang dia malah menambah usaha bisnisnya dengan rencana membuat rumah sakit besar swasta. Setelah ini bahkan dia berkata ingin sekalian mendirikan pabrik farmasinya juga. Haaaahh,,,,, pusing aku memikirkan kelakuan adik iparku."

"Ya iya lah kau pusing kalau memikirkannya. Otakmu itu kan, otak pas-pasan, Naruto" sahut Sakura mengejek.

"Cih . . ."dengus Naruto kesal. "Oh iya, Hanabi juga berpesan untuk memintamu yang menjadi penanggung jawab Rumah sakit dan menjadi salah satu dokter bedah utama rumah sakit itu nantinya, Sakura-chan" tambahnya lagi.

Membahas tentang Hanabi Hyuga, sekarang dia didaulat sebagai wanita karir termuda paling kaya di dunia shinobi. Dia adalah ketua klan Hyuga yang baru beberapa tahun ini di angkat, menggantikan ayahnya yang sudah udzur. Dia meneruskan kepemimpinan Klan Hyuga yang merupakan klan terkuat dan memiliki dominasi politik terkuat di Konoha, Hokage Ketujuh yang saat ini memimpin Konohagakure juga bagian dari Klan Hyuga. Hanabi merupakan satu-satunya wanita yang menjadi ketua klan sepanjang sejarah klan dari jaman nenek moyang Hyuga.

Klan Hyuga selama kepemimpinan Hiashi, sejak berakhirnya perang dunia shinobi keempat, walaupun banyak kehilangan anggotanya akibat tewas saat perang, namun mampu tumbuh menjadi klan yang paling kuat secara politik dan militer nomor satu di Konoha hingga saat ini, berkat sikap Hiashi yang tegas, bijaksana, dan pemikirannya yang matang. Setelah pensiun dari jabatan ketua klan, dia menjadi salah satu tetua Hyuga sekaligus tetua Konoha dan menduduki satu kursi di Parlemen Konoha. Sampai saat ini, Klan Hyuga yang sekarang dipimpin oleh Hanabi masih eksis mempertahankan posisinya sebagai klan terkuat, Hanabi patut diberi penghargaan untuk itu. Namun tidak hanya dari segi itu saja, Hanabi adalah pioner dalam kerajaan bisnis Klan Hyuga.

Selama Hiashi memimpin klan dan memperkuat posisi Hyuga secara politik dan militer, Hanabi lah yang berusaha paling keras merintis kerajaan bisnis Klan Hyuga dari nol sehingga bisa mendominasi kekuatan ekonomi dunia shinobi saat ini. Hal ini berkat kemampuan Hanabi yang sangat mumpuni dalam berdiplomasi dan berbisnis. Bermula dari bisnis perhotelan dan tempat hiburan, lalu merambah ke bidang lain seperti teknologi, kesehatan dan yang paling besar adalah bidang pertambangan. Saat ini Hanabi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus pemilik saham terbesar perusahaan multinasional Hyuga Mining Corporation (HMC) yang merupakan perusahaan tambang terbesar yang memonopoli seluruh bahan tambang di dunia seperti batubara, minyak bumi, tembaga, emas, batu-batu permata langka hingga bahan-bahan radioaktif seperti uranium, iridium, dan paladium. Ditambah HMC memiliki lahan tambang yang tersebar di hampir seluruh negara di dunia shinobi, sehingga membuat HMC menjadi penguasa ekonomi dunia. Jika mau, mudah saja bagi Hanabi untuk mengendalikan suatu negara, dengan hanya permainan harga dari batubara dan minyak yang merupakan poros ekonomi ummat manusia.

Dan sekarang, posisinya sebagai presiden direktur sekaligus ketua klan terkuat nomor satu di Konoha bahkan di dunia shinobi, menjadikannya sebagai wanita paling sukses sepanjang sejarah. Dia adalah orang super sibuk, paling sibuk didunia bahkan kesibukannya melebihi seorang Hokage. Dan mungkin inilah salah satu penyebab Hanabi masih berstatus single hingga saat ini, kesibukannya membuat dia tidak sempat memikirkan pasangan hidup. Sebenarnya sudah tidak terhitung banyaknya pemuda-pemuda dari kalangan orang berada baik bangsawan maupun pengusaha yang datang ke Klan Hyuga untuk meminang Hanabi, karena selain dia wanita paling sukses dan kaya, dia juga sangat cantik dan keturunan bangsawan. Namun selalu Hanabi tolak dengan alasan berkeluarga akan mengganggu karirnya.

"Baiklah, aku bersedia menjadi penanggung jawab rumah sakit itu nanti. Hmmmm, keluarga istrimu semakin kaya saja Naruto" Sakura terpana dengan cerita Naruto.

"Entahlah. Aku jadi bingung sendiri, kenapa dia suka sekali berbisnis ya? Apa dia tidak ingin menikah dan berkeluarga? Kurasa umurnya sudah jauh lebih dari cukup" kata Naruto bingung mengingat adik iparnya yang baru saja melewati umur 30, tapi tidak ada tanda-tanda akan menikah. Walaupun sudah berkali-kali lamaran berdatangan pada Hanabi, tapi selalu dia tolak.

Bagaimana nantinya nasib Klan Hyuga kalau tidak ada penerus? Bolt tidak mungkin karena tidak memiliki Byakugan. Kalau Himawari, punya Byakugan dan juga sangat kuat, tapi anak perempuannya itu manja, bodoh, dan sama sekali tidak punya bakat jadi pemimpin. Naruto cukup sadar bagaimana putri yang selama ini selalu dimanjakannya. Kalau benar Hanabi serius tidak ingin berkeluarga, Klan Hyuga bisa merosot karena ketidakadaan pemimpin. Naruto juga harus memikirkan ini karena dia juga bagian dari Klan Hyuga. Aaahh, nanti pulang dia harus membicarakan ini dengan Hinata. Membuat adik baru untk Bolt dan Himawari, lalu dididik sejak kecil untuk menjadi penerus Hyuga merupakan suatu ide yang cemerlang,, hehehehe,,, pikir Naruto nista.

"Kau tidak akan pernah bisa mengerti isi hati perempuan, Naruto. Hahahaaa. . . Jika Hanabi tidak menikah, kurasa anakmu si Bolt yang akan mewarisi aset-aset kekayaan Hyuga nanti. Hmm, aku jadi semakin ingin menjodohkan Bolt dengan Sarada kalau begini" yah, walau tidak punya Byakugan, tapi Bolt masih bisa mewarisi harta kekayaan keluarga Hyuga yang melimpah.

"Jangan berpikir seperti itu dulu Sakura-chan. Aku tidak ingin menjodohkan dia atau mengatur kehidupan cintanya. Biar Bolt sendiri yang menentukan pasangannya nanti. Siapapun gadis yang dipilih Bolt, asal gadis itu baik untuknya aku pasti setuju"

"Yahhh kau ini, tidak bisa bercanda sedikit. Baiklah, aku janji, sebulan lagi desain rumah sakit khusus kanker untuk kerajaan bisnis Hyuga akan selesai berikut kebutuhan peralatannya"

"Iyaaa. Ku pegang janjimu, Sakura-chan. . . . . Seharusnya sih, Hinata lah yang kesini menggantikan Hanabi. Tapi istriku itu kelihatannya sedang tidak enak badan akibat kesibukannya belakangan ini, karena itulah aku yang menggantikannya. Aku tidak mau dia kelelahan"

Hinata adalah ibu rumah tangga yang selalu menomorsatukan keluarganya. Dulu dia selalu di rumah untuk mengurus kebutuhan keluarganya dan mendidik putra putrinya. Itu dulu, saat Bolt dan Himawari masih kecil. Sekarang Bolt dan Himawari sudah remaja, dan lebih sering berada diluar rumah. Naruto juga masih lumayan sibuk dengan tugasnya sebagai Hokage walaupun sudah jarang lembur. Karena itulah Hinata sering merasa kesepian saat sendirian di rumah ketika siang hari. Hal inilah yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan lain.

Kedudukannya sebagai ibu negara, seringkali mengharuskannya untuk menghadiri berbagai macam acara besar dengan tujuan amal dan kepedulian sesama manusia. Selain itu, Hinata juga dibekali otak cerdas, sama seperti kebanyakan keturunan Hyuga lain, membuat Hinata sangat dibutuhkan perannya dalam pengambilan keputusan bisnis Hyuga. Untuk urusan diplomasi dan negosiasi, Hanabi memang pandai berbicara. Tapi Hinata lah yang lebih berperan untuk meyakinkan stakeholder, relasi, kolega dan rekan bisnis serta semua klien.

Dua wanita Hyuga bersaudara ini di sebut-sebut sebagai wanita paling sukses di berbagai majalah terkenal, terutama majalah bisnis. Hanabi di contoh karena kepiawaiannya memimpin klan besar serta kerajaan bisnis Hyuga, sedangkan Hinata dikatakan sebagai sumber inspirasi bagi kaum hawa. Mereka berdua menduduki top famous woman di seluruh penjuru dunia shinobi bahkan lebih terkenal daripada top artis sekalipun. Jangan lupakan kalau Hinata juga memiliki aset kekayaan pribadi yang hampir sama besarnya dengan milik Hanabi.

Dan semua kesibukan itulah, yang kadang kala membuat Hinata kelelahan. Walaupun hampir tidak pernah sakit, tapi tetap saja membuat Bolt dan Himawari terutama Naruto, khawatir dengan keadaan Hinata.

"Umm, kau perhatian sekali dengan istrimu. Tidak seperti kau dulu yang tidak pekaan" puji sekaligus sindir Sakura.

"Sudah, aku tidak ingin membahas sifatku dulu. Itu membuatku malu. Hm.. Oke, sampai disini saja. Aku masih ada pekerjaan. Terima kasih Sakura-chan kerjasamanya. Jaa ne." kata Naruto pamit, lalu beranjak pergi karena urusannya disini sudah selesai.

'Oh, ternyata cuma urusan bisnis, tidak seperti perkiraanku tadi. Kenapa aku bisa lupa ya? Papa kan pernah bilang kalau Bibi Hanabi berencana mendirikan rumah sakit. Huuuh, untung saja aku belum masuk, jika tidak aku pasti malu. Tapi untuk pemikiranku kalau Bibi Sakura itu supermatre sepertinya tidak perlu ku ralat' pikir Bolt yang ternyata masih menguping diluar ruangan.

"Tunggu sebentar Naruto, ada yang ingin ku beritahu padamu" kata Sakura tiba-tiba.

"Apa memangnya Sakura-chan?" Naruto berbalik menghadap Sakura lagi.

"Aku agak khawatir dengan murid bimbinganku. Aku sudah pernah melapor padamu kan, kalau aku mengirimkan beberapa ninja medis untuk memeriksa kondisi kesehatan beberapa desa di sebelah barat Kota Konoha karena ada desas desus kalau muncul wabah penyakit"

"Iya, terus?" Naruto mengerutkan keningnya

"Aku memberi tugas hanya sehari saja dan ini sudah hari kedua. Tapi salah satu muridku, si Amaru, dia belum kembali. Sarada yang tempat tugasnya paling jauh saja sudah kembali, dan sekarang dia menuju kesini untuk menyerahkan laporannya padaku"

"Ooh, hmmm. . . . . Kita tunggu saja sampai sore, bila tidak ada khabar kita bisa hubungi dia atau aku akan mengirimkan seorang jounin kesana. Bagaimana?"

"Baiklah, aku setuju denganmu"

Balik lagi keluar ruangan kepala rumah sakit. Si pemuda pirang, Bolt tidak kunjung berhenti dengan kegiatan tidak sopannya, menguping.

'Amaru? Apa dia ada masalah ya? Oh, aku baru ingat. Selain aku dan Sarada yang diberi tugas oleh Bibi Sakura, Amaru juga ditugaskan untuk memeriksa isu wabah itu. Kalau aku tidak salah ingat di daftar tugas itu, Amaru berangkat sendirian saja ke desa Togichi. Aku jadi khawatir padanya. Lebih baik aku kesana saja sekarang mumpung hari masih siang dan desa itu juga tidak terlalu jauh dari sini'

"Ada apa Bolt? Kenapa cuma diam berdiri didepan pintu seperti itu? Tidak mau masuk?" tanya Sarada menghentikan lamunannya Bolt. Dia sudah berdiri disamping Bolt, tanpa Bolt sadari.

"Ah, tidak apa-apa. Sepertinya aku harus pulang sekarang deh Sarada, aku tidak jadi masuk. Kalau begitu aku pergi dulu, Jaa" kata Bolt terkejut, lalu berlari meninggalkan tempat itu

"Aneh" gumam Sarada. "Eh, Nanadaime-sama" Sarada terkejut karena pintu dibuka tiba-tiba oleh Naruto.

"Sarada-chan? Kenapa berdiri disini, tidak masuk?" tanya Naruto.

"Ini aku mau masuk kok Nanadaime-sama" jawab Sarada.

"Ku dengar tadi ada suara Bolt disini, mana dia?"

"Baru saja pergi, tadinya sih kami mau masuk berdua tapi karena mendadak dia ingat ada urusan jadi dia langsung pergi"

"Oh, ya sudah. Masuk saja, tadi ibumu bilang dia sudah menunggumu loh"

"Iya, aku akan segera masuk. Terima kasih Nanadaime-sama" kata Sarada sopan, seraya membungkukkan badannya.

"Ya" sahut Naruto kemudian berjalan keluar rumah sakit dan kembali kekantornya.

.

.

.

To Be Continued. . . . .

Note : Oh iya,,, pada tahu kan dengan PT Freeport di Papua, atau perusahaan tambang minyak SHELL milik Amerika? Nah, kira-kira perusahaan HMC di dunia shinobi ini beberapa kali lebih besar daripada itu.

Emm, konflik terakhir ini tidak akan panjang, mungkin hanya 4 chapter saja termasuk chapter ini. Hehee.

Daftar umur pemeran cerita di fic ini.

Uzumaki Himawari – 14 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 17 tahun

Uchiha Sarada – 17 Tahun

Naruto – 37 tahun

Sarutobi Mirai – 20 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.

And, happy new year.. sampai bertemu kembali pada update selanjutnya di bulan januari. Oh iya, updatenya sedikit lebih lama karena aku mau pergi liburan dulu,, dadaaaaahhh…

Bagi yang Muslim,,,,

. ..: SELAMAT MEMPERINGATI MAULID :.. .

. ..: NABI BESAR MUHAMMAD SAW :.. .

. .. …:: : ::… .. .

.