It's Only My Secret – Several Years Ago
Kokone duduk di bangkunya yang ada di tengah-tengah ruang kelas. Kokone duduk sambil menggambar desain gaun di buku sketsanya. Meskipun suasana kelas begitu riuh dan berisik, Kokone tidak terganggu sama sekali, jurstu bibirnya melengkung manis dan perasannya terasa hangat. Lebih baik seperti ini dari pada diam di ruangan yang sepi dan sunyi.
Kelas saat musim dingin di tahun terakhir membuat Kokone sedikit tertekan. Dia menggambar model baju untuk menangkan pikirannya, dan kabur sejenak dari tugas-tugas belajarnya.
"Kokone." Seseorang memanggil namanya, rambutnya berwarna pink seperti buah persik dan memakai jepit rambut bergambar kucing.
Kokone mengangkat kepalanya, menatap mata gadis itu. "Ya, Iroha, ada apa?" tanya Kokone.
Iroha mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnha ke telinga Kokone. "Aku dengar, katanya Rinto itu menyukaimu," bisik Iroha.
Kokone,terkekeh sambil mendorong pelan Iroha, berusaha menjauhkan Iroha darinya. "Tidak mungkin." Iroha melirik kepada Rinto yang ada di dekat pintu masuk kelas.
Rinto sedang bercanda dengan teman-temannya yang lain. Dikelilingi oleh laki-laki dan perempuan. Tertawa lepas sambil saling melempar candaan satu sama lain. Menjadi pusat perhatian kelas dan menjadi penghibur kelas sudah menjadi pekerjaan Rinto sehari-hari. Tanpa kehadirannya mungkin kelas akan terasa sepi. Rinto melirik ke arah Kokone sampai mata mereka nerdua bertemu.
Kokone segera mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Iroha. "Aku rasa tidak mungkin dia menyukaiku. Dia kan suka bercanda, mungkin ucapannya itu hanya sebagian kecil dari candaannya." Kokone mencondongkan kepalanya kepada Iroha. "Aku juga mendengar dari orang-orang kalau itu playboy."
Iroha menegakkan badannya tapi tangannya masih bertumpu di meja Kokone. "Hmm... tapi bukannya dia tidak pernah pacaran?"
Kokone mengangkat bahunya sambil mengangkat satu alisnya dan kembali menggambar desain baju di biki sketsanya.
Yang Kokone pikirkan, Rinto adalah orang yang tidak serius, penuh canda, dan ramah kepada semua orang. Tapi itulah yang membuatnya tertarik dengan Rinto, tapi tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk mendekati Rinto seperti yang dilakukan oleh murid perempuan lainnya.
.
Gulungan ijazah dipegang Kokone dengan tangan kanannya. Kokone berjalan keluar dari gedung sekolahnya sambil bercanda dengan teman-temannya yang berjalan berdampingan dengannya. Mata Kokone menangkap sosok Rinto. Mata coklatnya memperhatikan Rinto.
Rinto berada di depan gerbang depan gerbang sekolah, berkumpul dengan teman-temannya. Rinto berada di tengah, tertawa, dan rambutnya di acak-acak oleh teman-temannya. Rinto melirik kepada Kokone dan mulutnya membungkam seketika.
Keduanya saling bertatap-tatapan dan Kokone merasa asa perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Telinganya terasa panas. Kokone berhenti ketima kedua temannya yang ada di sampingnya menyuruhnya berhenti.
Rinto keluar dari kelompoknya dan berjalan mendekati Kokone dengan membawa gulungan ijazah dan juga buket bunga mawar, Rinto memanggil namanya, membuat semua perhatian tertuju pada mereka berdua. Kokone merasa gelagapan ketika kedua temannya itu meninggalkannya.
Rinto kini berdiri di depannya kemudian menjulurkan tangannya, memberikan buket bunga mawar tersebut kepada Kokone. "Kokone, mau kah kamu menjadi pacarku?"
Jantung Kokone seketika berdebar dengan kencang ketika Rinto mengutarakan perasaannya. "Eh?" telinganya terasa terbakar.
Rona merah muncul di pipi Rinto. "Saat ini aku hanya bisa memberimu bunga, aku tidak bisa memberi barang mewah seperti yang kamu miliki... tapi... maukah kamu menjadi pacarku?"
Jantung Kokone berdebar tapi perasangka-perasangka buruknya pada Rinto berputar-putar di otaknhya. "Kamu pasti bercanda kan?" Kokone menundukkan pandangannya sambil memegang gulungan ijazah dengan kedua tangannya. "Kamu kan dekat dengan para gadis... kenapa malah memintaku untuk menjadi pacarmu?"
"Tapi cuman kamulah yang kusuka."
Jawaban itu membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Lelaki yang menarik hatinya tiba-tiba mendatanginya dan memberinya bunga. Padahal, mereka tidak pernah dekat sebelumnya, bicara saja jarang sekali. Hanya dari lirikan-lirikan mata yang tak sengaja bertemu, mereka berkomunikasi.
"Akan kutanya sekali lagi, maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Rinto, wajahnya sangat memerah. Alisnya sedikit menyentak.
Kokone menganggukkan kepalanya. "Iya..." bisiknya sambil menatap mata Rinto yang mulai berkaca-kaca.
Bibir Rinto seketika membentuk tawa bisu. Dia berteriak kemudian menarik tangan Kokone dan memberikannya bunga buket tersebut. "Setelah aku bekerja, aku janji aku akan membelikan cincin untukmu."
Murid-murid yang ada di halaman depan sekolah ikut bersorak-sorai memanggil nama Rinto dan Kokone. Rinto memegang tangan Kokone sambil tertawa bahagia. Kokone terkekeh malu-malu.
"Ayo kita foto mereka!" teriak teman-teman Kokone sambil menjerit-jerit mentertawakan Rinto dan Kokone.
One Year Later
It's Only My Secret – Little Secret
Luka berjalan sambil memeluk berkas-berkas OSIS. Luka menoleh ke jendela, memperhatikan daun-daun merah yang berguguran jatuh di taman. Memperhatikan daun yang gugur membuatnya sedikit lebih tenang. Luka menarik nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dia berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah. Luka kemudian mengetuk pintu ruang kepala sekolah tersebut.
Seseorang membuka pintu ruang kepala sekolah. Orang yang membuka pintu tersebut adalah Mikuo. Mikuo mempersilahkan Luka masuk ke dalam ruangan.
Luka berjalan masuk dan melewati Mikuo. Luka terus berjalan mendekati Gakupo yang duduk di bangkunya.
Mikuo menutup pintu ruang Gakupo. Dia kembali ke mejanya yang ada di sisi ruangan Gakupo. Mikuo kembali duduk dan mengerjakan pekerjaannya.
Luka menaruh tumpukan berkas yang dipeluknya di atas meja Gakupo, menyebabkan suara dentuman yang keras. "Padahal aku ketua OSISnya... tapi aku masih mengantarkan berkas-berkas ini ke sini..."
Gakupo terkekeh sambil melepaskan kacamatanya. "Tapi kan kamu sendiri yang ingin mengantarkan berkas-berkasnya ke sini." Gakupo berdiri dari tempat duduknya kemudian menaruh kacamatanya di atas mejanya.
Wajah Luka memerah, telinganya memanas dan Luka menundukkan pandangannya. "Ya... habisnya anak kelas satu tahun ini banyak yang masuk fans clubmu... aku berharap mereka masuk fans club Len," bisiknya sambil menggerutu.
Gakupo berdiri di depan Luka. "Aku suka kalau melihatmu cemburu."
Luka menggembungkan pipinya dan menyentakkan alisnya, tapi telinga panas dan wajahnya merah. "Apa yang kamu suka? dasar aneh."
Gakupo menggenggam tangan Luka dan mendekatkan wajahnya kepada Luka. "Semuanya. Aku tidak menyangka kalau kamu akan menerimaku sebagai pacarmu."
Luka membuang mukanya dari Gakupo. "Ya ampun... aku bosan mendengarmu bicara hal yang sama setiap kita bertemu."
Gakupo terkekeh. "Kalau begitu..." Gakupo melirik ke atas, kemudian menatap Luka lagi. "Aku tidak sabar melihatmu lulus dari sekolah ini, jadi kita tidak perlu menyimpan rahasia soal hubungan kita." Gakupo memeluk Luka sambil terkekeh.
Luka berteriak dan sedikit meronta-ronta.
"Izinkan aku mengingatkan tuan dan nona muda." Sela Mikuo sambil menyeringai kepada Gakupo dan Luka. "Kalian berdua masih berada di dalam ruangan, dan sekarang masih waktu sekolah, siapapun bisa datang ke ruangan ini. Jadi, tolong jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Mikuo berseringai sambil terkekeh.
Luka menoleh ke belakang sementara Gakupo melongo memperhatikan Gakupo. Gakupo masih memeluk Luka, dan dia mengangkat satu alisnya. "Aku heran... dari siapa kamu berlajar menyeringai? akhir-akhir ini kamu sedikit lebih ekspresif dari biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Wajah Mikuo kembali datar. "Tidak terjadi apa-apa."
Gakupo mengernyit. "Aku tahu... ini pasti kerjaan Len... setahun ini kalian sangat dekat, bahkan kalian sering pergi berdua tanpa mengajakku." Gakupo mendengus kemudian mencibir Mikuo.
"Uhm... Gakupo... lepaskan aku..." bisik Luka yang masih berada di dalam pelukan Gakupo.
Gakupo menyeringai dan semakin mengeratkan pelukannya. "Biarkan aku memelukmu," bisik Gakupo.
Mikuo mengalihkan pandangannya, memutar matanya dan menatap berkas yang dikerjakannya. "Tahun lalu aku harus menyimpan rahasia soal kakak ipar... dan sekarang aku menyimpan rahasia tuan muda..." gumam Mikuo.
It's Only My Secret – Ring
Lily duduk di bangku cafe sambil memainkan ponselnya. Layar ponselnya menampilkan foto seorang gadis berambut hitam dan beberapa pesan dengan pelayan pribadinya. Lily mengetikkan pesan di ponselnya tapi berhenti ketika matanha menangkap bayangan sosok seorang laki-laki dengan kemeja dan jas duduk di kursi depannya.
"Oliver." Lily menyimpan ponselnya di atas meja sambil tersenyum kepada Oliver yang duduk di depannya.
"Terima kasih sudah mau menungguku, tadi aku ada urusan sebentar dengan ayahku." Oliver tersenyum kepada Lily. Dia menjulurkan lehernya melihat ponsel Lily yang masih menyala dan menampilkan jendela pesannya dengan pelayannya. "Apa ada kabar dari pelayanmu?" tanya Oliver.
Lily tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, ada. Pelayanku sudak menemukan anak yang bernama Rui itu dan dia baru saja mengirimkan alamat gadis itu." Lily sedikit memiringkan kepalanya dan dengan hati-hati menghindari mata Oliver. "Um..." Lily memainkan rambutnya dan menggulungnya di jari telunjuknya. "Terima kasih sudah datang untuk menemuiku... sebenarnya aku memintamu untuk menemaniku menemui anak ini..."
Oliver terkekeh. "Baiklah, aku bersedia membantumu. Sekalian kita jalan-jalan setelah lama tidak bertemu." Oliver tersenyum dan memegang satu tangan Lily yang menelungkup di atas meja.
Lily mengangguk dan ikut terkekeh. "Iya, benar juga. Sudah sepuluh bulan kita tidak bertemu karena bisnis luar negerimu."
Oliver mengangkat satu alisnya. "Waw, karena aku pergi, kamu jadi bermulut manis lagi. Ya, jadi lebih jinak dari sebelum aku pergi." Oliver sedikit menganga. "Kamu jadi seperti Lily yang aku kenal sewaktu kita kecil dulu." Oliver tertawa samlai bahunya terangkat.
Lily mengernyitkan alisnya. "Aku bersikap seperti ini karena aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Lily mencengkram tangan Oliver. "Apa maksudmu aku lebih jinak? memangnya aku binatang buas?"
Oliver terkekeh sambil berteriak kecil meminta Lily melepaskan tangannya. Lily melepaskan tangan Oliver dan Oliver mengusap-usap tangannya yang sakit. "Maafkan aku," Oliver tersenyum canggung kemudian menatap Lily dengan lembut. "Kamu jadi lebih halus setelah semua masalah keluargamu selesai, bersyukurlah pada Len, hahahaha." Oliver kemudian membungkan mulutnya karena melihat Lily mengernyitkan alisnya. "Bagaimana keadaan Rin dan Len?"
Lily menarik ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas selendang yang ada di atas pahanya. "Mereka berdua baik-baik saja. Terutama Rin, kondisi kesehatannya berangsur-angsur membaik. Kalau Len... dia sekarang cukup sering ke rumah untuk menjenguk ibunya dan menceritakan banyak hal di sekolahnya."
"Bagaimana dengan bibi Lenka?" tanya Oliver.
Bibir Lily melengkungkan senyuman tipis. "Mama sekarang mulai menerima keberadaan Rin, Len dan mama Kokone. Karena Rin juga setiap minggu pulang dan mengajak bicara mama, meskipun awalnya mama menjawab ketus, sekarang mama bisa menjawabnya dengan sedikit ramah."
Oliver tersenyum. "Kalau masalah keluargamu sudah semakin reda, dan aku pekerjaan di luar negeriku juga sudah selesai, artinya akan lebih mudah bagiku untuk melamarmu." Oliver mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus oleh kain beludru merah marun.
Wajah Lily memerah, dan matanya membulat.
Oliver membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya terdapat cincin emas putih dan terdapat permata kecil berbentuk lingkaran. "Maukah kamu menikah denganku?" tanya Oliver sambil melembutkan tatapannya.
Lily tersenyum kemudian terkekeh. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan? kamu sudah melamarku, beberapa hari setelah pertunangan kita, dan kamu juga pasti sudah tahu jawabanku kan."
Oliver tertawa canggung kemudian menghela nafasnya. "Apa kamu tidak bisa menjawab iya saja?" Oliver cekikikan kemudian mengeluarkan cincin dari kotak cincin tersebut. "Tapi itulah yang membuatku menyukaimu." Oliver menatap mata Lily dengan lembut kemudian meraihnya. Oliver mengambil cincin yang terpasang di jari manis kiri Lily kemudian memasukkan cincin yang dia berikan ke jari manis kanan Lily.
Oliver menunpu sikutnya kanannya di meja kemudian mengistirahatkan dagunya di kepalan tangan kanannya. "Karena aku sudah memasang cincin di jari manis kananmu, kalau begitu, kapan kita akan berdua dalam satu kamar?" tanya Oliver sambil menyeringai.
Urat menonjol di kening Lily, tapi bibirnya menyeringai. "Aku tidak akan melakukan hal itu sampai kita benar-benar menikah di depan papa dan mama." Lily berdiri dari tempat duduknya. "Ayo sekarang temani aku menemui Rui."
Oliver menghela nafasnya sambil menunduk. "Aku baru saja melamarmu, tapi masih tetap seperti biasanya. Mana sekarang sudah mau pergi lagi." Oliver berdiri dari tempat duduknya dan memasukkan kotak cincin ke dalam saku jasnya.
Lily mendekati Oliver kemudian merangkul tangannya dan sedikit menarik Oliver ke bawah sambil menjinjit mendekati pipi Oliver. Lily mengecup pipi Oliver.
Oliver menyeringai kemudian tertawa. "Hanya ini saja?"
Lily mencengkram lengan Oliver. "Jangan meminta lebih!" bisiknya.
Oliver tertawa canggung. "Baiklah... baiklah... lepaskan cengkramanmu... sakit." Oliver kembaki terkekeh sambil melepaskan cengkeraman Lily. "Ayo kita pergi menemui Rui."
Mereka berdua kemudian berjalan menjauhi meja mereka ke pintu keluar cafe. Saling bergandengan satu sama lain sambil saling melempar candaan satu sama lain. Mata mereka saling menatap dengan lembut, melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu karena terpisah dengan jarak. Tapi, cincin yang melingkar di jari mereka berdua tetap mengingat mereka, baik status dan juga hati mereka.
It's Only My Secret – Bet
Mikuo menatap ponselnya, menatap pesan yang baru saja dia dapatkan dari Len:
Hah, mana? aku dapat info dari Gumiya, dia bilang kamu kemarin gagal mengutarakan perasaanmu pada Rin, hahahah. Mikuo payaaaah. Sekarang sudah ke 200 kali kamu bilang akan mengutarakan perasaanmu pada Rin. Kalau kamu gagal, masakan makan malam untukku selama 3 hari ( w ) stok makananku habis~ ahaha tapi aku akan menang taruhan lagi dengan Gumiya kalau kamu gagal~. Hah, kamu cuman berani bilang padaku akan melamar Rin, bahkan memanggilku kakak ipar, tapi mengutarakan perasaan saja tidak berani :p
Mikuo mengunci layar ponselnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya. Mikuo melirik Rin yang berjongkok di sebelahnya, mengambil gulma yang tumbuh di antara tumbuhan yang tumbuh. Mikuo kembali mengenakan sarung tangan kebunnya. Mikuo menoleh kepada Rin. "Nona, sebentar lagi waktu istirahatnya akan habis, biarkan saya yang menyelesaikan semua ini."
Rin menoleh kepada Mikuo. "Tapi aku masih ingin membantu tuan Mikuo."
Mikuo melepaskan sarung tangan kebun yang dipakai oleh Rin. "Sudah saya katakan berkali-kali, nona tidak perlu membantu saya. Ini sudah menjadi pekerjaan saya mengurus taman ini."
Setelah Mikuo melepaskan sarung tangan kebun dari tangan Rin, mereka berdua bediribdan saling bertatap muka. Rin menoleh ke sekitar taman lalu menilik ekspresi Mikuo yang sulit ditebak. "Aku heran, kenapa tuan Mikuo hanya menjaga taman yang ini saja? padahal kan banyak tukang kebun di sekolah ini."
"Karena kebun ini adalah hadiah dari tuan muda untukku. Aku harus menjaga apa yang telah tuan muda berikan." Mikuo kemudian melipat sarung tangan kebun yang Rin pakai.
Bunyi bel sekolah yang berbunyi pun membuat perhatian Rin teralihkan pada gedung sekolahnya. Setelah bel berhenti, Rin menoleh kepada Mikuo. "Terima kasih sudah meluangkan waktu tuan untukku. Aku harus kembali ke kelas." Rin tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Mikuo menganggukkan kepalanya kemudian memperhatikan Rin yang berbalik dan berlari-lari kecil. Mikuo menundukkan kepalanya dan memperhatikan sarung tangan yang baru saja di lipatnya. Lagi-lagi gagal... tapi masih ada waktu sampai pulang sekolah nanti. Tapi kalau aku gagal lagi, aku harus menunggu sampai senin untuk kembali berusaha mengutarakan perasaanku.
.
Mikuo berjalan menuju asrama guru, ini sudah waktu baginya pulang. Langit sudah berwarna oranye dan udara semakin dingin. Jalan menuju asrama guru melewati jalan yang menuju asrama murid. Tanpa sadar, pandangannya terfokus kepada Rin yang mengenakan mantel dan membawa tas bersamanya. Mikuo menghentikan langkah kakinya, menunggu Rin yang berjalan mendekatinya.
Rin menghentikan langkahnya ketika dia melihat Mikuo berdiri di jalanan yang menuju asramanya. Rin melengkungkan senyumannya kemudian berjalan mendekati Mikuo, dan ketika dia berada di depan Mikuo, Rin berhenti. "Tuan Mikuo."
Mikuo melirik tas yang dipegang oleh Rin. "Nona Rin akan pulang ke rumah?" tanya Mikuo kemudiam menatap mata Rin.
Rin menganggukkan kepalanya sambil menguatkan senyumannya. "Iya, kak Lily bilang, ada keluarga yang akan tinggal bersama kami, dan dia ingin aku ikut menyambutnya." Rin sedikit membungkukkan badannya. "Kalau begitu, aku permisi dulu ya, tuan Mikuo." Rin kemjdian berjalan melalui Mikuo.
Seketika Mikuo teringat akan ancaman Len yang menyuruhnya untuk membuatkan makanan jika hari ini dia gagal mengutarakan perasaannya pada Rin. Ah... besok dan lusa aku ada tugas dari tuan muda yang harus aku kerjakaan, tidak mungkin aku kerumah kakak ipar. Kalau aku tidak menuruti kemauam kakak ipar, dia pasti akan memaksaku untuk menemaninya di rumah itu, tapi aku sedang sibuk.
Mikuo berbalik kemudian menderap mendekati Rin. Dia meraih tangan Rin kemudian memegang tangan Rin, membuat Rin berhenti melangkahkan kakinya.
Rin menoleh kepada Mikuo, mengangakan mulutnya dan menhangkat kedua alisnya. "Ada apa, tuan Mikuo?"
Mikuo melepaskan tangan Rin kemudian sedikit menundukkan kepalanya. "Ada yang harus saya katakan kepada nona."
Rin sedikit memiringkan kepalanya. "Apa itu?" tanya Rin.
Mata Mikuo menatap Rin dengan penuh penghayatan, tapi matanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya sehingga dia menatap Rin dengan datar dan dingin. "Saya menyukai nona Rin."
Wajah Rin memerah. Mulutnya menganga, dia tak bergeming, tak menjawab. Hanya wajahnya saja yang bergerak. Mata yang membulat, mulut menganga dengan rahang yang sedikit jatuh, alis yang sedikit terangkat. "Apa?"
Kenapa kata-kata itu dengan mudah keluar dari mulutku? Jantung Mikuo berdebar melihat wajah Rin yang merah sepeeti tomat. Mikuo segera menundukkan kepalanya kemudian menatap Rin lagi. Meskipun telinganya panas, bibirnya terasa kaku dan rasa malu menyelimutinya, Mikup berusaha keras untul menatap mata Rin. "Iya, saya menyukai nona Rin."
Rin kemudian tersemyum dan memegang tangan Mikuo. "Aku juga menyukai Mikuo. Dari dulu." Rin terkekeh dan merah di wajahnya memudar, tapi meninggalkan sedikit rona merah di pipi Rin. "Kalau begitu, karena kita saling menyukai, kita jadi pacaran?"
Alis Mikuo terangkat dan mulutnya menganga. Dia segera membungk mulutnya kemudian melengkungkan senyuman seperti yang Len ajarkan padanya. Lengkungan senyuman dan tatapan mata lembut menghiasi wajah tampannya. "Kalau itu keinginan nona Rin, akan saya jalankan." Mikuo menghela nafasnya pelan-pelan. Akhirnya kakak ipar kalah taruhan...
Mulut Rin menganga. Alis Rin terangkat kemudian bibirnya kembali melengkung senyuman. "Waw, sekarang kita pacaran." Rin terkekeh kemudian mendekatkan dirinya kepada Mikuo. "Dan, tuan Mikuo sekarang bisa tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat tuan Mikuo tersenyum." Rin menegakkan badannya. "Tuan Mikuo tampan sekali."
Jantung Mikuo berdebar kencang. Dia mendatarkan lengkungan bibirnya. "Terima kasih." Mikuo berjalan ke sisi Rin. "Ayo, aku antara nona sampai ke mobil."
Rin berbalik sambil terkekeh kemudian mereka berdua mulai berjalan berdampingan. "Jangan panggil aku nona lagi, panggil aku Rin." Rin kemudian merapatkan jarak mereka kemudian berusaha menyandarkan kepalanya ke lengan Mikuo.
Mikuo sedikit menghindar. Jantungnya berdebar dengan kencang. Dia menatap lurus ke jalan depan, berusaha fokus agar matanya tidak melirik Rin.
Rin merapatkan jarak lagi dan kembali menyandarkan kepala ke lengan Mikuo. Mereka kemudian berjalan berdua menuju mobil jemputan Rin.
It's Only My Secret – Fans
IA dan empat orang temannya bersorak-sorak di dalam lorong asrama kelas satu sambil meneriakan nyanyian yel yel fans clubnya.
Seorang teman IA mendakati IA yang memimpin kelompok mereka. Dia menepuk bahu IA dan membuat IA berhenti melangkahkan kakinya dan membungkam mulutnya. "Ketua IA, sebaiknya kita jangan teriak-teriak di dalam lorong asrama lagi. Minggu ini sudah ke empat kalinya kita mendapat teguran dari ketua OSIS."
IA memutar matanya kemudian mendengus dan mencibir. "Ketua OSIS? hah dia tidak akan berani denganku, aku ini anak pemilik saham di sekolah." IA berbalik menatap teman-temannya kemudian memegang pinggangnya. "Kalian jangan takut dengan ketua OSIS sok seperti Luka! kalau kalian cinta dengan Len Kagamine, kalian harus berjuang mendapatkan lebih banyak anggota, agar fans club kita yang hampir sekarat ini terselamatkan dari fans club lainnya! apalagi sekarang muncul fans club baru, fans club Gumi!" IA mengepalkan tangannya dan mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. "Apa kalian mau kalah dengan fans club pendatang baru itu?" tanya IA sambil berteriak.
"Tidak, ketua!" jawab keempat orang tersebut sambil berteriak. "Kita akan berjuang mengembalikan kejayaan fans club Len Kagamine seperti dulu!" teriak mereka berempat lagi saling mengangkat tinju mereka ke udara.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan menyanyikan yel-yel kita dan memengaruhi anak kelas satu!" IA berteriak kemudian menurunkan tinjunya. IA berbalik, saat berbalik, jantungnya berdebar dengan cepat ketika melihat Luka berdiri di depannya sambil menatap tajam.
"Apa peringatanku yang kemarin itu kurang jelas?" tanya Luka dengan datar dan dingin sambil menatap IA dengan mata tajamnya.
Alis IA terangkat dan mulutnya menganga lebar. Wajahnya memucat. IA segera merundukkan badannya kemudian memeluk kaki Luka. "Ke-ketua OSIS aku mohon! jangan bubarkan fans club kami! fans club ini sudah hampir krisis, aku tidak akan bisa menampakkan wajahku pada ketua Clara kalau klub ini sampai di bubarkan..."
Luka menghela nafasnya sambil memegang dahinya. "Makanya, sudah kubilang jangan bikin keributan di lorong asrama, apalagi sekarang sudah malam. Kembalilah ke kamar kalian, sebentar lagi kan makan malam." Luka menoel bahu IA, kemudian menarik IA berdiri. "Kalau kamu berjanji tidak akan membuat kerusuhan lagi, aku akan membantumu mencari anggota fans clubmu."
IA memeluk Luka lagi. "Aaaah, ketua OSIS memang teman yanh terbaik! aku akan berjanji tidak akan membuat kerususan, tapi setelah kerusuhan yang satu ini." IA kemudian berbalik dan mengomandokan teman-temannya untuk berbalik dan keluar dari lorong kelas satu menuju ruang makan asrama.
IA dan teman-temannya kembali bernyanyi dan membuat kerusuhan, para murid yang membuka pintu kamar mereka menutup kuping mereka, menghela nafas mereka, tapi ada juga yang ikut bersorak-sorai sambil mengikuti mereka.
Luka menghela nafasnya kemudian berjalan mengejar kelompok IA sambil terkekeh.
It's Only My Secret – Girl in The Past
Len menggerutu sambil memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. "Sialan Mikuo... dia benar-benar pacaran dengan Rin... dan sekarang aku kalah taruhan dengan Gumiya." Len memutar matanya kemudian menghela nafasnya. Dia berjalan membawa plastik besar yang berisi belanjaan dari supermarket.
Jalanan yang dia lalui sedikit ramai karena ada supermarket dan toko kue yang baru di buka di dekat sekolah dasarnya. Jalanan ini lumayan dekat dengan rumahnya, jadi jika dia membutuhkan camilan malam-malam dia tidak harus berjalan ke supermarket yang ada di dekat sekolahnya yang sekarang. Dalam satu tahun, perubahan terjadi sangat cepat, bahkan di perumahannya yang sebelumnya dulunya sepi saat malam, kini telah lumayan ramai karena banyak toko yang buka.
Len berhenti ketika dia menoleh ke arah jalan yang menuju jalanan sekolah dasarnya. Len terkekeh ketika kenangan masa lalunya berputar di dalam otaknya. Waktu berjalan begitu cepat baginya, sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir untuk naik ke kelas tiga.
Len kembali menoleh ke jalanan lurus. Meskipun sekolah dasarnya dekat dengan rumahnya, dia jarang melewati jalan ini karena jalannya yang berlawanan dengan jalan menuju sekolah, asrama, dan juga rumah Kokone. Sesekali dia melewati jalan ini jika dia dijemput oleh mobil menuju rumah Kokone. Len membulatkan matanya. "Ah benar juga, Lily menyuruhku ke rumah untuk makan siang di sana. Aku penasaran dengan anak yang benama Rui itu." Len menggaruk-garuk tengkuk kepalanya kemudian memasukkan tangannya ke saku jaket bertudungnya. "Karena besok aku harus ke rumah mama... hm... berarti saat pulang aku harus mampir ke asrama untuk membayar taruhan."
Len berjalan di sisi sebuah taman bermain. Ujung-ujung matanya menangkap sebuah bayangan gadis berambut hijau-biru duduk di kursi taman bermain. Matanya tertarik, sehingga membuat kepalanha menoleh ke arah gadis tersebut. Len berhenti melangkah dan jantungnya mulai berdebar dengan cepat. Matanya terfokus kepada gadis tersebut–Miku–yang duduk sambil menatap langit. Len berjalan mendekati Miku, tapi Miku tidak menyadari kehadiran Len dan terus menatap bintang di langit. "Miku, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Len.
Miku membulatkan matanya, dia menoleh kepada Len. Rona merah tampak jelas di wajahnya meskipun saat malam, mungkin karena ada bantuan lampu taman yang ada di sebelah bangku taman. Tapi begitulah wajah Miku, merona merah dan membuatnya terlihat imut. "Len, apa yang kamu lakukan di sini juga?"
Len mengalihkan pandangannya kepada jungkat-jungkit yang terlihat di ujung-ujung matanya. Len kemudian menatap mata Miku lagi dan berhenti di sebelah Miku. "Aku sedang dalam perjalanan pulang dari supermarket. Apa yang kamu lakukan sendirian di sini?"
Miku bergeser mendekati lampu dan menepuk-nepuk tempat yang baru saja di dudukinya. Len kemudian duduk di sebelah Miku dan menaruh tas belanjaannya di sebelahnya. Miku memperhatikan Len kemudian melengkungkan senyuman tipisnya. "Aku sedang menunggu kedua orangtuaku yang berkunjung ke rumah kerabat mereka. Karena aku sudah lama tidak ke sini, dan setelah aku melihat banyak perubahan di taman ini, aku ingin mengunjungi taman bermain ini."
Len mengangkat satu alisnya. Dia sedikit menoleh kepada Miku. "Hm... kamu tidak takut sendirian di sini?" tanya Len.
Miku menggelengkan kepalanya. Dia terkekeh. "Tidak, rumah kerabat ayah ada di sebrang sana, jadi kalau ada apa-apa aku langsung berteriak dan berlari saja," jawab Miku.
Hubungan mereka sudah membaik, mereka menjadi teman yang dekat seperti hubungan mereka saat Len masih menjadi Ran. Len sering menemui Miku saat Len mengunjungi asrama pada hari Minggu. Tapi, mereka berdua tidak bisa saling bertemu saat liburan, karena Miku yang pergi liburan dengan keluarganya. Dan, Len juga berlibur dengan keluarga Leon.
Miku sedikit menoleh kepada Len dan membuat mata mereka saling bertemu. "Apa rumahmu di sekitar sini?" tanya Miku.
Len mengangguk. "Iya, rumahku di dekat sini." Saat ini, Len mulai berani menatap mata Miku, karena Miku juga sudah tidak mengalihkan pandangannya setiap bicara dengannya.
Mulut Miku membentuk sebuah tawa. "Kalau begitu, kamu sering ke sini? sewaktu kecil aku pernah beberapa kali main di taman ini."
Len sedikit memiringkan kepalanya. "Tidak juga, setelah lulus dari sekolah dasar, aku jarang lewat sini karena jalan ke sekolah menengah pertama dan atasku berlawanan arah dengan taman ini." Len menegakkan kepalanya.
Miku sedikit menundukkan kepalanya. Miku kemudian menatap Len dan melengkungkan senyumannya kepada Len. "Oh iya Len, dulu aku pernah memberitahumu kalau aku bertemu dengan gadis tomboy yang membuatku jatuh cinta itu kan?" Miku terkekeh. "Sayang, dulu aku tidak menayakan namanya, kalau aku tahu namanya, aku bisa menanyakannya padamu, bisa saja kalian satu sekolah. Aku juga tidak ingat wajahnya..."
Wajah Len memerah. Dia segera mengalihkan pandangannya dari Miku kemudian menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Len melirik kepada Miku lagi. "Apa kamu masih menyukai anak itu?" tanya Len. Jantung Len berdebar, ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk memberitahukan rahasianya kepada Miku, tapi debaran jantungnya mengganggu otaknya merangkai kata-kata.
Miku terkekeh dengan canggung. "Tidak..." wajah Miku kemudian memerah. "Sebenarnya sekarang sudah ada orang yang aku sukai..." Miku sedikit menoleh kepada Len.
Len menoleh mata Miku. "Siapa?" hatinya sedikit terasa sakit ketika mendengar Miku memiliki tambatan hati yang baru. Sesaat, dia menyesali jawabannya yang dulu sempat menolak Miku saat dia mengutarakan perasaannya kepada Ran.
Wajah Miku memerah, dia menundukkan kepalanya kemudian menatap lurus ke depan. "Hm... ini bukan pembicaraan yang harus aku bahas dengan laki-laki..."
Len menundukkan kepalanya. "Oh..." Len juga menatap lurus ke depan, memperhatikan taman bermain yang biasa digunakan sebagai tempat perkelahiannya dengan kakak kelas. Harapannya hilang untuk mendapatkan hati Miku.
Keduanya saling diam. Tidak melirik satu sama lain dan tidak berusaha untuk memulai pembicaraan yang baru. Tapi keheningan ini menyesakkan hati Len. "Berarti kamu sudah tidak menyukai Ran lagi?" tanya Len. Ah... pertanyaan bodoh.
Miku menoleh kepada Len. "A-apa?" Miku sedikit mencondongkan badannya kepada Len.
Dari ujung-ujung area penglihatannya, Len dapat melihat dengan samar-samar wajah Miku dan pipinya yang merona merah. Tapi, Len tidak menjawab pertanyaan Miku. Keheningan kembali muncul di antara mereka dan Miku masih tetap diam memperhatikan Len.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Miku mengalihkan pandangannya dan menunduk, melihat kaki-kakinya yang bergesekan dengan tanah taman bermain.
Len menoleh kepada Miku, menatap Miku dalam-dalam, memperhatikan perasaannya akam sampai kepada Miku. Jantungnya berdebar dengan kencang. Panas menjalar telinganya. Dia tidak memperdulikan Miku akan menolaknya atau menerima perasaannya. "Karena aku menyukaimu, Miku."
Miku menoleh kepada Len. Mulutnya menganga. Jantungnya berdebar dengan kencang dan keras sampai telinganya sendiri mendengar suara jantungnya.
Len menatap Miku dalam-dalam. "Aku menyukaimu Miku, bahkan saat aku masih menjadi Ran, aku menyukaimu." Len diam sejenak, menegak air liurnya kemudian kembali membuka mulutnya. "Aku berfikir, mungkin, jika kamu masih menyukai Ran, akan lebih mudah untukku untuk membuatmu menyukai Len." Len mencondongkan lirikan matanya sambil memiringkan kepalanya. "Yah... tapi kalau kamu sudah menyukai orang lain..." Len kembali menatap Miku sambil mengeluarkan senyuman tipisnya. "Aku tidak masalah, tapi aku tetap ingin mengutarakan perasaanku." Wajah Miku yang kian memerah semakin menggetarkan hati Len.
Miku menundukkan kepalanya. Tangannya mengepalkan tinju seakan untuk menguatkan hatinya. "Laki-laki yang aku sukai adalah Len Kagamine."
Mata Len membulat dan pupil matanya mengecil. Debaran jantungnya semakin cepat. Senyuman pelahan-lahan melengkung di bibir Len. "Apa?"
Miku menganggukkan kepalanya kemudian menundukkan kepalanya dan tangannya bermain di antara kedua pahanya. "Ya... setelah aku menyukai Ran... dan setelah aku memaafkanmu... perlahan-lahan aku menyukaimu sebagai Len." Dia menggumam kecil. "Ya... meskipun selama ini aku sering melihat bayang-bayang Ran dalam dirimu."
Rona merah muncul di pipi Len, menghiasi kulitnya yang putih. Len diam, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Keadaan seperti ini baru pertama kali Len alami, jadi dia tidak tahu harus menjawab apa. Len terkekeh malu kemudian menundukkan kepalanya juga. Len melirik Miku dan memperhatikan Miku, dia baru sadar kalau Miku menggunakan ikat rambut dan jepit yang diberikannya untuk hadiah ulang tahun Miku. Len tersnyum dan membuka mulutnya. "Ah iya, ada yang ingin aku beritahu kepadamu."
"Apa?" Miku menoleh kepada Len.
"Anak yang dikejar-kejar oleh gerombolan anak laki-laki itu, dan anak yang menemuimu di taman ini... adalah aku." Len melirik kepada Miku.
Wajah Miku merah padam. "Tapi... itu kan perempuan."
Len menghela nafasnya kemudian menoleh pada Miku sambil menggaruk tengkuk kepalanya. "Ya... begitulah... sewaktu kecil, karena rambutku panjang, aku sering dibilang mirip perempuan dan ada juga orang yang mengira aku perempuan."
Miku memegang kedua pipinya. "Jadi... anak tomboy yang aku sukai itu sebenarnya kamu?"
Len sedikit mengalihkan pandangannya dari Miku. "Iya... begitulah..." Len kemudian mendekati Miku. "Kalau begitu... kamu mau jadi pacarku?" tanya Len sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.
Miku menundukkan kepalanya kemudian mengangguk. "Iya..."
Jantung Len berdebar dengan kencang. Dia kemudian mendekatkan wajahnya kepada Miku dan menatap Miku dalam-dalam. Matanya memperhatikan kecantikan yamg ada di depannya. Bibir tipis kecil yang dipoles perona bibir pink itu menggoda jiwanya.
Miku sedikit menghindari Len dengan mencondongkan tubuhnya dan tetap menunduk. "Le-Len... jangan terlalu dekat-dekat... aku takut pelanyanku memperhatikan kita..."
Telinganya memanas. Matanya membulat dan pupil matanya mengecil. "Ma-maafkan aku..." Len kemudian menjauhkan kepalanya dari Miku. Len melirik ke langit-langit dan telunjuknya menggaruk-garuk pipinya. "Aku terbawa suasana dan tidak bisa mengontrol perasaanku... maaf..."
Keduanya saling menatap satu sama lain, tersenyum, kemudian tertawa bersama. Tangan mereka perlahan-lahan semakin mendekat kemudian bertaut. Begitu juga dengan ikatan mereka, perlahan-lahan mendekat kemudian menjadi satu.
A.N
yeaaay akhirnya beneran tamat... *mojok di belakang*
Terima kasih kepada semuaaaaaaaaaaaaaa pembaca yang telah setia membaca Re:It's Only My Secret sampai tamat :'''))
Chindleion: Terima kasiiih XD doaka semoga bisa jadi manga beneran yaa hehehe
keirekun: terima kasiih XD. yaa masih banyak cara untuk buat keluarga hahaha XD
Info. Melody of Memories akan menggantikan jadwal Re: It's Only My Secret :3 baca yaa baca yaaa semoga ada nyempil-nyempil OTP kalian XD *dibuang
funfact. sebenernya cover (pic) untuk fic Re:IOMS sudah ada gambarnya (tradisional) tapi karena kerusakan laptop tidak bisa dibuat digital X'D *payah
dah ah curhatnya hehehe
dadaah X3 mind to review this last chapter? :3
