WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Mpreg, Typo
Previous
"Kalian tidak perlu secemas itu, Jin Ho sudah sehat sekarang. Dia baik-baik saja, dia seperti bayi sehat yang lain." Ucap Sehun memberi penjelasan kepada semua orang.
"Kamar untuk Jin Ho sudah siap, tapi Ibu pikir sebaiknya Jin Ho tidur satu kamar dengan kalian. Ayah juga sudah membuat janji dengan dokter spesialis anak terbaik yang akan datang satu minggu dua kali untuk Jin Ho."
Sehun terkejut dengan kalimat sang ayah, ia bergegas memeluk laki-laki yang biasanya bersikap dingin itu. "Terimakasih sudah menerima Jin Ho dengan tangan terbuka." Bisik Sehun menahan tangis.
Tuan Oh hanya tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk pelan punggung putra tunggalnya.
BAB DUA PULUH SATU
Untuk bayi berusia satu bulan berat badan Jin Ho masih sangat kurang. Seharusnya dia memiliki berat badan antara 3.4 Kg sampai 4.3 Kg, namun melihat semua perjuangan Jin Ho untuk bertahan hidup. Bayi yang ditinggalkan untuk mati dengan berat kurang dari 2 Kg, memiliki berat badan 2.8 Kg adalah sebuah keajaiban.
Sehun memangku Jin Ho di atas kursi, menghadap jendela, memegangi botol susu Jin Ho. Di luar salju turun cukup lebat. Sehun menatap kedua mata jernih Jin Ho yang balas menatapnya. "Dengar Jin Ho, kau boleh menangis lebih keras. Bangunkan Ayahmu, Ayah tidak akan marah. Ayah membuatkan susu setiap saat, kapanpun kau memintanya. Bangun di tengah malam, atau di pagi buta. Memiliki kantung mata, Ayah tidak akan keberatan. Jadi mulai hari ini menangislah lebih keras. Mengerti?"
Seolah mengerti Jin Ho melepaskan silikon dot susunya, kemudian tersenyum. Sehun meletakkan botol susu kosong di atas nakas di samping kursi. Mengangkat lembut tubuh Jin Ho. Memeluk dan mengusap punggung mungil Jin Ho. "Ayah akan mencintaimu, tidak akan ada yang menyakitimu dan menginginkan kau pergi. ayah berjanji padamu."
"Aku juga akan mencintai Jin Ho."
"Jongin?!" Sehun menoleh ke belakang, menatap Jongin terkejut.
Jongin masih mengenakan piyama tidurnya, tapi wajahnya terlihat segar dan ujung poninya terlihat basah. Tersenyum menatap Sehun. "Aku tidak mendengar Jin Ho menangis, maafkan aku."
"Tidak masalah, kau butuh istirahat. Membuat susu bukan pekerjaan yang sulit."
"Hmm." Jongin menggumam, perhatiannya sudah tertuju pada Jin Ho. Bayi itu tersenyum menatapnya. Telunjuk kanan Jongin menyentuh ujung hidung Jin Ho. "Menangislah lebih keras Jin Ho."
"Aku sudah mengatakannya tadi." Protes Sehun.
"Aku mengulangi supaya Jin Ho lebih jelas."
"Kau ini tidak pernah mau kalah." Keluh Sehun.
"Aku turun sarapan. Kau?"
"Aku ikut." Ucap Sehun, tersenyum lalu mengikuti langkah kaki Jongin meninggalkan kamar.
"Kau sudah mencuci muka?" Sehun menggeleng pelan. "Cuci mukamu, biar Jin Ho aku gendong."
"Hati-hati Jongin."
"Aku tidak akan menjatuhkan Jin Ho."
"Perutmu?"
"Aku baik-baik saja, diam dan masuk kamar mandi sekarang!" Sehun tersenyum canggung setelah menyerahkan Jin Ho kepada Jongin. Jongin menggendong lembut tubuh Jin Ho, mengayun-ngayunkan Jin Ho. Bayi itu mulai menutup kedua kelopak matanya.
"Pagiiii…..," Nyonya Oh menyambut kedatangan Jongin dengan senyuman ramah. "Jin Ho tidur?"
"Iya."
"Biar Ibu gendong, kau sarapan ya."
"Terimakasih Ibu."
Tubuh mungil Jin Ho kini berpindah ke tangan Nyonya Oh. Bayi mungil itu sama sekali tak terganggu meski dia telah dipindahkan dua kali. Nyonya Oh memilih duduk di dekat perapian, Jin Ho tersenyum tipis, merasa nyaman dengan udara hangat di sekitarnya.
Sehun berjalan menuju meja makan dan melihat sang ibu yang memangku Jin Ho membuatnya teringat akan masa lalu. Foto bayinya dalam gendongan sang ibu.
"Temani Jongin sarapan, Ibu akan menjaga Jin Ho."
"Ibu tidak ke kantor hari ini?"
"Tidak, hari ini kita ajak Jin Ho jalan-jalan bagaimana? Mengunjungi calon besanku."
"Siapa?!" teriak Sehun.
"Tentu saja Ibu Jongin, memang siapa lagi? Aku tidak mau berbesan dengan orang lain dan kau Bocah! Jangan mencoba untuk selingkuh. Jika kau berani berselingkuh dari Jongin, namamu hilang dari daftar waris."
"Aku anak satu-satunya, memang Ibu mau mewariskannya pada siapa?"
"Kucing."
"Jahat."
"Ibu tidak jahat, Ibu ini tega."
"Ibu…," rengek Sehun.
"Cepat temani Jongin sarapan."
Dengan bibir mengerucut Sehun berjalan menuju meja makan, menyusul Jongin. Dan melihat sikap kekanakan Sehun hanya ditanggapi dengusan oleh Jongin. "Kau membiarkan Jin Ho digendong Ibu."
"Memang ada yang salah?"
"Tidak ada."
"Lalu?"
"Ibu membuatku kesal." Jongin hanya melempar tatapan malas kepada Sehun sebelum melanjutkan sarapannya. "Jongin…,"
"Jangan merengek seperti anak kecil, habiskan sarapanmu."
"Hari ini Ibu ingin membawa Jin Ho jalan-jalan. Berkunjung ke rumahmu. Bagaimana menurutmu?"
"Kurasa—itu hal yang baik. Jin Ho butuh udara segar."
"Apa tidak masalah?"
"Bogum sudah memastikan keadaan Jin Ho baik-baik saja, dokter spesialis anak juga datang setiap dua hari sekali jadi kau tenang saja."
"Aku cemas Jongin."
"Aku mengerti Sehun." Jongin tersenyum lembut di akhir kalimat. "Tapi kau tidak bisa mengurung Jin Ho di dalam rumah, meski kau mencemaskan keadaannya."
"Aku hanya—tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Jin Ho."
"Percayalah, aku juga menginginkan hal yang sama."
"Baiklah, semoga keputusan membawa Jin Ho keluar rumah adalah keputusan yang baik." Jongin hanya tersenyum menanggapi kecemasan Sehun.
.
.
.
Jongin berdiri di sisi kanan Sehun memerhatikan kesibukan Sehun mengganti popok Jin Ho. Sebenarnya Jongin heran, darimana Sehun belajar semua itu. Mengganti popok, membuat susu, menggendong bayi. Dan semua hal yang terlihat aneh bagi Sehun.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku memikirkan apa? Jangan bercanda."
"Kau pasti sedang berpikir darimana aku belajar semua ini." Jongin menatap Sehun takjub, sementara Sehun hanya tersenyum tipis. "Kau ingin tahu jawabanku?" Jongin mengangguk antusias. "Dari internet. Bukankah aku jenius?"
Tatapan takjub Jongin tiba-tiba berubah malas. "Jenius—ya kurasa kau benar-benar jenius."
"Apa Ibu sudah membahas tentang rencana pernikahan?"
"Sama sekali belum."
"Berarti nanti." Sehun mendengar hembusan napas putus asa Jongin. "Kau tidak suka menikah denganku?"
"Bu—bukan begitu!" Jongin gelagapan mencari alasan. "Apa tidak terlalu cepat? Kita tunggu sampai bayinya lahir."
"Aku tidak memaksa, tapi ibuku kau tahu sendiri bagaimana sifat ibuku. Dia bisa membuat semua orang setuju akan pendapatnya."
"Hmmm." Jongin hanya bergumam.
"Apa itu membebanimu?"
"Sedikit banyak."
"Apa itu membebanimu?"
"Aku sudah memberimu jawaban!" Jongin tanpa sadar meninggikan suara merasa Sehun memojokannya. Jin Ho mengeluarkan suara protes. "Maaf." Ucap Jongin sebelum memilih meninggalkan kamar.
Nnyonya Oh yang sedang menata hadiah untuk dibawa ke rumah keluarga Kim melihat Jongin meninggalkan kamar dengan wajah yang tampak tidak senang. Diam-diam Nyonya Oh mengikuti Jongin menuju taman belakang rumah.
Jongin berhenti di pinggir kolam Koi. Dan dia mulai menyesali tindakan kekanakannya tadi. "Astaga aku benar-benar bodoh dan sensitive. Kenapa bisa jadi seperti ini?" Jongin menggumam seorang diri.
Sehun berjalan mendekati sang ibu dengan Jin Ho di dalam gendongannya. Nyonya Oh menatap wajah sang putra kemudian tersenyum lembut. "Kau ingin berbicara dengan Jongin?" Sehun mengangguk pelan. "Berikan Jin Ho pada Ibu." Sehun mengangguk pelan kemudian menyerahkan tubuh mungil Jin Ho pada sang ibu.
Sehun menarik napas dalam-dalam kemudian melangkah melewati pintu geser mendekati Jongin di dekat kolam Koi. "Astaga!" Jongin berteriak karena seseorang memeluknya dari belakang.
"Kau keluar di hari bersalju, apa yang sedang kau pikirkan Kim Jongin?"
"Udara segar."
"Ayo masuk di sini sangat dingin."
"Sehun maaf, aku pasti bersikap sangat kekanakan tadi."
"Tidak, kau sama sekali tidak kekanakan. Aku senang kau memberitahu segalanya, aku akan berbicara dengan Ibu dan menunda pernikahan sampai kau benar-benar siap."
"Sejujurnya aku tidak tahu kenapa aku—keberatan untuk menikahimu."
"Kita pernah berpisah, dan untuk kembali seperti hubungan kita sebelum perpisahan. Semuanya membutuhkan waktu, aku mengerti."
"Hmm." Jongin menggumam pelan.
Sehun mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin. Mengusap pelan sisi kanan perut Sehun, dia belum bisa merasakan gerakan dari sana namun itu sudah membuat Sehun tersenyum. "Kita masuk sekarang, aku tidak ingin kau jatuh sakit."
"Kapan kolam Koinya diisi kembali?"
"Tentu saja setelah musim berganti dan udara menjadi hangat."
"Kita bisa menunjukkan kolam ini pada Jin Ho."
"Kau benar. Sekarang kita kembali ke dalam."
"Hmm." Jongin menggumam pelan sambil menuruti keinginan Sehun untuk membawanya kembali ke dalam rumah.
Nyonya Oh menyerahkan Jin Ho kepada Sehun ketika mereka kembali ke dalam rumah. Jin Ho sudah terlelap. "Ibu mencoba memberinya susu, tapi dia menolak."
"Dia sudah kenyang." Balas Sehun kemudian tersenyum.
Mereka membawa Jin Ho kembali ke dalam kamar, Sehun membaringkan tubuh mungil Jin Ho ke atas tempat tidur bayi, menaikkan pintu pengaman. Menyelimuti tubuh Jin Ho, memastikan Jin Ho merasa hangat.
"Aku sudah menaikkan suhu ruangan."
Sehun menoleh ke belakang menatap Jongin. "Itu karena kau baru saja berdiri di luar ruangan dengan suhu beku."
"Aku butuh udara segar—atau udara dingin untuk membuatku berpikir jernih." Sehun tertawa pelan. "Dan kurasa aku butuh tidur siang sekarang, aku benar-benar lelah. Dan jujur ini sedikit menyebalkan."
"Katakan saja jika kau butuh bantuan."
"Bodoh." Dengus Jongin sebelum menyelinap di balik selimut tebal tempat tidur.
.
.
.
Pukul empat sore Jongin terjaga, dia langsung mandi, lalu membaca beberapa halaman berita lewat ponsel, makan malam, kemudian tidur lebih awal. Dia hanya sempat sedikit bercanda dengan Jin Ho, setelah itu Sehunlah yang nyaris menjaga Jin Ho seharian.
Jongin ingin bermain dengan Jin Ho lebih lama tapi salahkan tubuhnya yang mudah lelah sekarang dan sepertinya tidur nyaris lima belas jam sehari masih kurang untuknya.
Jongin membuka kedua matanya, menatap jam dinding. Pukul dua pagi. Ia menoleh ke kanan, mendapati Sehun terlelap. Kamar dalam keadaan remang, dan Jin Ho tertidur. Jongin bergerak sepelan mungkin, menapakkan kedua kakinya ke atas lantai kamar kemudian berjalan pelan meninggalkan kamar.
Tiba-tiba Jongin menginginkan cokelat dan ketika dia membuka lemari pendingin, tidak ada persediaan cokelat di dalam sana. Jongin mendengus kecewa. Ia berjalan menuju pintu. Melihat mantel musim dingin dan syal berada pada gantungan di dekat pintu. Jongin meraih mantel musim dingin, mengancingkan mantel, melingkarkan syal pada leher, lalu mengambil sepatu di dalam rak.
"Jongin!"
"Ah!" Jongin tersentak mendengar teriakkan yang sudah jelas dari Sehun. "Kau membuatku terkejut."
"Seharusnya aku yang terkejut, kau tahu pukul berapa sekarang?"
"Dua pagi kurasa."
"Dan kau berniat pergi?"
"Aku ingin makan cokelat."
Pandangan tajam Sehun melembut. "Kau bisa membangunkan aku."
Jongin menggeleng pelan. "Kau tampak lelah."
"Aku tidak akan mengeluh, tenang saja." Balas Sehun lalu tersenyum.
"Aku mencemaskanmu jika kau lelah dan mengemudi, itu tidak akan berakhir baik. Sudahlah, kita kembali ke kamar."
"Bagaimana cokelatmu?" Sehun memandangi Jongin yang tengah melepas syal dan mantel musim dinginnya.
"Aku bisa menunggu sampai matahari terbit."
"Kau yakin?"
"Ya." Suara balasan Jongin terdengar cukup meyakinkan. "Ayo, jangan meninggalkan Jin Ho seorang diri." Ucap Jongin melihat Sehun yang tak juga bergerak dari tempatnya. Sehunpun mengangguk dan berjalan mengikuti Jongin.
.
.
.
"Sore!" Boram menyambut kedatangan Sehun, Jongin, dan nyonya Kim dengan ceria, Jongin langsung memeluk kakak perempuannya kemudian disusul Sehun, Nyonya Kim memeluk Boram dengan tangan kiri, tangan yang bebas dari tubuh mungil Jin Ho.
"Kemarin kami berencana untuk datang, tapi ada urusan menyebalkan jadi harus ditunda. Semua hadianya sampai?"
"Bibi tidak perlu repot." Balas Boram.
"Aku sama sekali tidak merasa repot, dan kau jangan menolak hadiahku atau aku akan merasa kecewa." Nyonya Oh mengancam disertai senyuman ramah, sungguh jenis ancaman yang unik.
"Ibu masih menyiapkan beberapa masakan."
"Aku mencium aroma nasi goreng Kimchi yang lezat." Nyonya Oh bersenandung riang.
"Kita langsung ke meja makan." Ajak Boram.
Jongin menyentuh lengan kanan sang kakak, dan membawa sang kakak sedikit berjalan menjauhi Sehun dan ibunya. "Hari ini toko libur?"
"Iya, ibu ada di dapur memasak banyak makanan." Boram tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Berarti kedatangan kami merepotkan." Ucap Jongin memasang wajah menyedihkan.
"Kau yang merepotkan, Sehun dan Bibi mereka diterima dengan tangan terbuka di sini."
"Jahat sekali!" dengus Jongin. "Hei bagaimana dengan Zelo?"
"Bagaimana apanya?"
Jongin mengerutkan kening. "Noona, jangan berkelit lagi, aku ingin tahu semuanya."
Boram tersenyum tipis. "Zelo dia menarik, tampan, dan baik. Tapi kurasa kami akan cocok berteman, tidak lebih."
"Apapun keputusan Noona aku akan mendukung selama Noona merasa bahagia."
"Aku bahagia Jongin, jangan mencemaskan aku. Terimakasih sudah membantuku."
"Aku menginginkan yang terbaik."
"Ya." Balas Boram singkat disertai senyuman. "Bagaimana jika aku menunggu Jin Ho dewasa? Kurasa kami akan cocok." Canda Boram.
"Aku serahkan semua keputusannya pada Jin Ho." Balas Jongin kemudian tertawa pelan.
TBC
Terimakasih masih mengikuti cerita ini, tahan sedikit lagi palingan dua chapter lagi udah end, maaf chapnya terlalu panjang pasti bosan hehehe. Terimakasih reviewnya doubleuu, dytdyt, Baby Wolf Jonginnie Kim, Wiwitdyas1, oohninibear, NishiMala, dII, Ijissi, Kaisyaa, Nikmah444, fia pcy, Kyungxe, Ongin, Jeyjong, maiolibel, Rachelia Park, Sonyun, cute, Hana, Fao Bazi, micopark, blackfire0611, VampireDPS, Kim Jongin Kai, Kim762, novisaputri09, yoonvi123, TraoOne111, ohkim9488, vivikim406, Park RinHyun Uchiha, Kiki2231, jjong86, kartika8894, GaemGyu92, jongiebottom. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, oh ya sebelum lupa maaf jika cerita tidak berkenan, banyak typo, keluar jalur, penambahan karakter tak sesuai dengan keinginan pembaca, terimakasih kritik, saran, masukan, protesan, semua terimakasih banyak, satu chap paling engga dua chap lagi end.
