Derek menceritakan padaku kenapa Peter bisa sampai ada di sini—tepatnya, kenapa Peter hidup. Ia bilang, di malam pesta ulang tahun Lydia, gadis itu pergi ke tempat persembunyian Derek dan meniupkan Wolfsbane sampai pemuda itu tidak bisa bergerak. Gadis itu menyeretnya ke rumah Hale, lalu membuat tangan Peter yang ada di bawah rumah Hale mencengkeram tangan Derek, setelah itu memantulkan cahaya bulan penuh masuk ke dalam rumah. Dan Peter pun hidup lagi. Peter bilang bahwa ia tahu bagaimana cara menyelamatkan Jackson, makanya Derek ingin membicarakan ini dengan Scott.
"Kau percaya pada Peter?" bisikku pelan.
"Setidaknya cara yang ia beritahu padaku itu cukup masuk akal," jawabnya pelan lalu ia menempelkan dahinya pada dahiku. "Aku tidak punya pilihan, Val, terutama ketika aku sudah tidak punya Beta lagi sekarang, mereka sudah pergi."
"Isaac masih di sini," gumamku.
Derek menyerngit. "Isaac?"
Kuanggukkan kepalaku. "Tadi sore memang ia bilang padaku dan Scott kalau ia akan ikut Erica dan Boyd. Tapi di tengah pertandingan tadi, dia datang dan membantu kami, bilang bahwa ia akan tetap di Beacon Hills."
Ia tersenyum lembut. "Kau benar, Val, mungkin Isaac akan jadi Beta-ku yang paling setia, sesuai perkataanmu waktu itu."
.
.
Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon yang baik, rated M hanya lebih kepada bahasa yang agak menjurus. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.
.
The Sister
Chapter 21
by Fei Mei
.
.
Derek memastikan semua anak sudah keluar dari ruang loker, semuanya kecuali Scott dan Isaac. Lalu ia menggandengku masuk keruangan itu. Aku membalas gandengan Derek itu dengan erat dan sambil agak takut berjalan di sampingnya mengingat ada pamannya berjalan di belakang kami.
"Tapi kenapa kau dapat kaosnya, sedangkan aku dapat sepatunya?" Itu suara Isaac.
Kulihat pintu loker Stiles rusak dan Scott berdiri di depan loker itu dengan Isaac. Scott memegang baju Stiles, sedangkan Isaac memegang sepatu. Waktu Scott berbalik badan, ia terkejut melihatku.
"Val!" sahutnya. Langsung saja aku melepaskan tanganku dari Derek dan setengah berlari memeluk kakakku. "Astaga, kau dari mana saja?! Aku dan mama kebingungan setengah mati saat sadar kau tidak ada di lapangan!"
"Saat lampu mati, Derek membawaku ke lobi," jawabku sambil melepas pelukanku. "Kenapa kalian memegang barang Stiles? Mana Stiles?"
Scott langsung saling lirik dengan Isaac, tapi kemudian kakakku menatapku lagi dengan cemas. "Kami berniat mendapati bau Stiles biar bisa mencarinya. Stiles hilang, Val."
"H-hilang?" ulangku.
"Kami akan menemukannya, Val. Sheriff sudah mengontak kepolisian untuk mencari Stiles juga. Tenanglah, oke?" ujar Scott. Akhirnya aku mengangguk juga.
Derek berdeham, membuatku, Scott, dan Isaac menoleh padanya. "Kita perlu bicara," katanya.
"Kita semua," sambung Peter yang muncul dari balik loker.
Scott memegang tanganku dengan erat. Kulihat wajahnya terkejut. Sedangkan Isaac, yah, mungkin ini adalah pertama kalinya ia melihat Peter, jadi Isaac hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat pamannya Derek itu.
Kakakku mengumpat pelan. "Apa-apaan ini?!"
"Kau tahu, aku memikirkan hal yang sama saat kulihat kau berbicara dengna Gerard sewaktu di kantor polisi," ujar Derek tanpa ekspresi.
"Oke, tunggu dulu," kata Scott. "Dia—dia mengancam akan membunuh mamaku dan juga Val. Dan aku harus berada di dekatnya. Apa yang harus kulakukan kalau begitu?!"
"Aku harus setuju dengna Scott untuk yang satu itu," sahut Peter. "Apa kau sudah pernah melihat mamanya? Ia menawan. Dan kau lihat sendiri, Derek, adik Scott begitu cantik sampai kau tergila-gila padanya."
"DIAM!" bentak Scott dan Derek bersamaan.
Wajahku memanas perlahan karena mendengar perkataan Peter tadi. Derek memang pernah bilang bahwa ia terobsesi padaku, bahwa ia, eh, mencintaiku. Tapi, tergila-gila?
"Siapa dia?" bisik Isaac di sebelahku dan Scott.
"Itu Peter, paman Derek," jawab Scott. "Beberapa waktu lalu, ia mencoba untuk membunuh kami semua, dan kami membawakarnya, dan lalu Derek mencakar lehernya sampai mati."
Peter melambaikan satu tangannya dan tersenyum. "Hai."
"Senang bisa tahu," gumam Isaac.
"Bagaimana dia bisa hidup?" tuntut Scott.
"Dengar, pendek kata dia tahu bagaimana cara menghentikan Jackson. Dan mungkin tahu bagaimana cara menyelamatkannya," kata Derek.
"Yah, itu akan sangat membantu," ujar Isaac. "Tapi Jackson sudah mati."
"Apa?" tanyaku dan Derek bersamaan. Lalu aku menoleh pada Scott, "kapan? Bagaimana?"
"Yah, Jackson mati. Itu baru saja terjadi di lapangan. Ia melakukannya pada diri sendiri sewaktu lampu mati tadi," jawab Scott.
Aku melirik pada Derek dan Peter yang memasang wajah keras—bahkan ekspresi Peter yang dari tadi hanya senyam-senyum saja sekarang ikut mengeras.
"Oke, kenapa tidak ada yang menerima ini sebagai kabar baik?" tanya Isaac.
"Karena kalau Jackson mati, itu tidak terjadi begitu saja," kata Peter.
"Gerard menginginkan itu terjadi," gumamku pelan.
"Pacarmu pintar, Derek," puji Peter.
"Tapi kenapa Gerard menginginkan itu?" tanya Derek bingung.
"Yah, itu yang harus kita cari tahu. Dan sesuatu memberitahuku bahwa pintu kesempatan untuk kita sudah tertutup, dengan cepat," jawab Peter.
Lalu Peter bilang bahwa kita bisa mencaritahu tentang Kanima di rumah Hale. Jadinya kami berlima—aku, Derek, Peter, Scott, dan Isaac—naik mobil Derek. Derek mengendarai mobilnya sendiri, Peter duduk di depan, sedangkan aku duduk di bangku tengah dengan Isaac dan kakakku.
Dalam perjalanan, aku menyempatkan diri untuk menelepon mama, mengabari kalau aku baik-baik saja dan sekarang aku sedang bersama Scott menuju rumah Hale. Lewat telepon, mama berulang kali menanyakan 'Bagaimana keadaanmu' dan 'kau yakin baik-baik saja'. Sepertinya mama memang tidak puas kalau aku hanya menjawab sekali atau dua kali.
Waktu kami baru saja masuk ke rumah kediaman Hale yang telah terbakar, ponsel Scott berbunyi. Ia langsung melihat layar ponselnya dan menerima panggilan itu. Wajah cemas Scott langsung agak cerah sedikit. Ia menggumamkan terimakasih lalu mematikan ponselnya.
"Mereka menemukan Stiles," lapor Scott sambil mengantongi lagi ponselnya.
"Sungguhan?" tanyaku.
Scott mengangguk. "Ia baik-baik saja, sudah ada di rumahnya."
"Apa itu, buku?" tanya Derek.
Aku dan Scott menoleh pada Derek dan Peter. Peter sedang duduk di salah satu anak tangga sambil memegang laptop yang entah ia dapatkan dari mana.
"Bukan, ini laptop. Kau tinggal di abad berapa, sih?" tanya Peter. "Beberapa hari setelah aku selamat dari koma, aku mentransfer semua yang aku punya. Sebenarnya tidak hanya para Argent saja satu-satunya yang menyimpan data-data itu."
Sewaktu Peter bilang ia akan membutuhkan meja, ponsel Scott berbunyi lagi. Scott langsung merogoh kantong celananya lagi, menyerngit saat melihat layar ponselnya, lalu menjawab panggilan telepon itu.
"Hei, ma, aku sedang tidak bisa bicara sekarang," kata Scott.
Itu telepon dari mama? Jadi mama sudah mau berbicara dengan Scott sekarang?
Wajah Scott jadi cemas. "Apa yang terjadi?"
Tidak lama kemudian Scott menutup teleponnya lagi dengan cemas.
"Pergilah," kata Derek.
Scott mengangguk, lalu ia menoleh padaku. "Val, tetap di sini." Waktu aku membuka mulut ingin bertanya sekaligus protes, Scott bilang lagi, "Aku tidak akan lama."
Aku menghela dan akhirnya mengangguk juga. Scott mencium keningku dengan agak lama, lalu ia keluar dari rumah Hale dengan Isaac. Derek menggandeng tanganku dan kami masuk ke ruangan yang tadi di masuki Peter. Di sana Peter duduk di kursi, berhadapan dengan layar laptop yang ia letakkan di atas meja.
.
.
Ponsel Derek berbunyi. Ia melihat layar ponselnya dan bilang Scott meneleponnya. Kuharap tidak ada masalah yang aneh-aneh yang terjadi di tempat kakakku sampai ia menelepon Derek.
"Ya?" tanya Derek lewat ponselnya. Ada jeda beberapa saat. Mungkin Scott sedang menjelaskan sesuatu pada Derek. Kemudian ia menoleh pada pamannya. "Mereka bilang ada sesuatu yang teransparan membungkusnya, terbuat dari racun yang keluar dari kukunya," lapor Derek.
"Itu terdengar menyeramkan," komentar Peter yang masih menatap layar laptop yang menyala.
Oke, kalau bahkan Peter saja sudah memberi cap menyeramkan akan kondisi Jackson saat ini, berarti memang Jackson sedang dalam tahap mengerikan, kan?
"Dan mereka bilang ia sudah mulai bisa bergerak," lapor Derek lagi.
"Oh, lihat, aku menemukan sesuatu," kata Peter. Aku dan Derek langsung ikut mengerubungi layar laptop itu. "Sepertinya Jackson yang sekarang hanya baru bentuk Beta-nya saja."
"Berarti akan ada bentuk Alpha-nya?" tanyaku.
"Dia bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar?" tanya Derek.
"Lebih besar dan lebih jahat," jawab Peter.
"Dia akan berubah menjadi itu?" tanya Derek. "Itu punya sayap."
"Aku bisa lihat itu," balas Peter.
Derek mendecak. "Scott, bawa dia ke sini," pinta Derek lewat ponselnya.
"Lihat, seseorang membuat animasinya," kata Peter. "Mungkin tidak akan begitu mengerikan kalau kita—"
Aku terkejut melihat video yang dimainkan Peter di laptopnya. Kanima di video itu jauh lebih mengerikan dari yang kulihat dari Jackson, bahkan suaranya lebih melengking dari yang pernah kudengar. Karena kaget sekaligus takut, aku memekik pelan dan berbalik badan, langsung membenamkan wajahku di dada Derek.
"—tidak, tidak sama sekali," kata Peter sambil buru-buru menutup laptopnya.
"Ssh, Val, tidak apa-apa," kata Derek lembut sambil membelai kepalaku. "Kami tidak akan membiarkan Jackson berubah jadi makhluk seperti itu." Aku mengangguk pelan dan Derek mencium puncak kepalaku.
"Mungkin kita bisa bertemu dengan Scott di tengah jalan," usul peter.
Derek mengangguk lalu mengangkat ponselnya lagi. "Scott, bawa dia keluar dari sana sekarang—pergi sekarang," kata Derek lalu ia mematikan ponselnya.
Peter mematikan laptopnya dan ikut Derek dan aku keluar dari ruangan. "Derek, kita butuh Lydia."
Aku menyerngit. "Lydia?"
"Begini—"
"—Kita sudah tidak ada waktu!" potong Derek.
Peter menghela. "Itulah masalahnya. Kita sedang buru-buru. Kita bergerak terlalu cepat. Dan saat semua orang tahu bahwa target yang bergerak itu lebih sulit untuk diserang, di sinilah kita, meluncur tepat menuju rencana Gerard."
"Jika aku punya kesempatan untuk membunuh Jackson, aku akan melakukannya," desis Derek. Lalu ia menoleh padaku. "Val, tunggu di sini."
"Oh, tidak, aku tidak akan diam saja di sini," tolakku.
"Val, ini berbahaya. Dan bagaimana kalau tidak ada di antara kami nanti di sana yang sempat datang untuk melindungimu?" tanya Derek cemas.
Aku mendecak lalu merogoh tas yang dari tadi masih tergantung di bahuku. Kuambil Crossbow dari dalamnya, merentangkan busurnya lalu memperlihatkan pada Derek—dan Peter—. "Aku akan berusaha melindungi diriku sendiri."
Derek menggeleng sambil menghela, sedangkan Peter malah bersiul pelan.
"Kau dapat pacar yang menarik, Derek," komentar Peter. "Saat kubilang 'menarik', maksudku memang 'menarik'."
"Aku ingin kau aman," ucap Derek pelan sambil mengelus pipiku. "Berjanjilah kau tidak akan gegabah, dan berhati-hati di sana?"
Aku tersenyum kecil. "Kalau kau berjanji untuk tidak gegabah serta bertindak hati-hati, maka aku juga akan menjanjikan hal yang sama."
Derek mengembangkan senyum kecil juga. Ia mencium keningku dengan lembut, lalu kami keluar dari rumah Hale.
Ia menyuruhku untuk naik ke punggungnya. Derek bilang ia akan berlari menyusul Scott dengan berlari. Menurutnya, mobilnya terlalu mencolok saat ini, ia tidak ingin memancing kecurigaan para pemburu.
Dalam perjalanan menuju tempat kakakku menunggu, Derek memberitahuku alasan kenapa tadi Peter bilang bahwa mereka membutuhkan Lydia. Sesungguhnya aku setuju dengan cara Peter, dan aku sendiri tidak senang kalau Derek hendak membunuh Jackson.
Sampai di tempat janjian, aku melihat ada sebuah mobil di sana, tapi kutahu itu bukan mobil mama. Ada Scott dan Isaac, dan seorang laki-laki lain juga di sana. Itu adalah Mr Argent, papanya Allison. Sedang apa ia di sana? Berarti mobil itu juga adalah mobil Mr Argent?
"Aku ke sini untuk Jackson, bukan kau," kata Mr Argent.
Derek membantuku turun dari punggungnya. "Entah kenapa aku tidak merasa lega mendengarnya."
"Dan kenapa kau bawa Valion?" tanya Mr Argent sambil menyerngit.
"Eh, itu karena aku yang minta," akuku sambil memaksakan senyum kecil.
"Bawa dia ke dalam," kata Derek pada Scott dan Isaac.
Kedua Beta itu menurut, lalu membawa semacam kantong tidur yang di dalamnya pasti berisi Jackson, menuju ke dalam sebuah bangunan tua. Mereka meletakkan kantong tidur itu di lantai.
"Mana mereka?" tanya Scott.
"Siapa?" tanya Derek.
"Peter dan Lydia," jawab Scott. Derek tidak membalas, dia malah berlutut di samping kantong tidur itu dan membuka resleting kantong itu. "Wah, tunggu dulu. Kau bilang kau tahu bagaimana cara menyelamatkan dia."
"Lupakan saja," tepis Derek.
"Bagaimana kalau—"
"Pikirkan, Scott," kata Derek dengan tampang kesal. "Gerard mengendalikan dia sekarang. Dia mengubah Jackson menjadi semacam anjing penjaganya. Dia merencanakan ini semua biar Jackson bisa tumbuh besar dan makin kuat!"
"Tidak," kata Mr Argent. "Tidak, dia tidak akan melakukan itu. Jika Jackson adalah seekor anjing, dia menjadi fanatik. Dan ayahku tidak akan membiarkan anjing fanatik tetap hidup.."
"Tentu saja tidak," kata sebuah suara. Kami menoleh ke asal suara. Aku melihat Gerard berjalan dari ujung sana. "Sesuatu yang berbahaya, yang di luar kendali—lebih baik mati."
Tiba-tiba aku mendengar erangan Derek. Aku menoleh pada pemuda itu. Kulihat Jackson, yang matanya masih tertutup mengangkat tangannya, menancapkan kuku-kukunya ke dada Derek. Ia lalu melempar tubuh sang Alpha.
"Derek!" pekikku.
"Kerja bagus akhirnya, Scott," kata Gerard. "Kau membawa Jackson pada Derek untuk menyelamatkannya. Kau tidak sadar kalau kau juga membawa Derek kepadaku."
Lalu aku melihat sebuah anak panah meluncur lurus ke arah kakakku. Scott dengan mudah menyingkir, tapi anak panah itu malah mengenai orang yang ada di belakang kakakku, yakni Isaac. Isaac terjatuh ke lantai sambil memegangi dadanya yang terkena panah. Aku berlutut di sampingnya untuk melihat kondisinya.
"Allison?" panggil Scott.
Aku menyerngit, lalu melihat ke arah obyek yang ditangkap pandangan mata Scott. Pacar—tepatnya mantan pacar—kakakku itu berjalan sambil memegangi busur dan siap melepaskan anak panah lagi. Ia membidik, kupikir antara ia akan menembak Isaac lagi atau kali ini berusaha mengenai Scott.
Begitu panahnya ia lepaskan, aku langsung berdiri dan menodongkan Crossbow-ku. Dengan cepat aku melepaskan anak panah untuk ditabrakkan dengan panah yang ditembakkan Allison, sampai akhirnya kedua anak panah kami jatuh ke lantai.
"Val, Crossbow itu dari mamaku. Mamaku tewas karena makhluk-makhluk ini, dan sekarang kau menggunakan benda itu untuk melindungi mereka? Menjijikan," kata Allison dengan tanpa ekspresi sambil membidik lagi.
"Tidak hanya mamamu, Allison," desisku pelan. "Ini juga dari papamu. Dan lihatlah di sisi mana papamu berdiri sekarang!"
Aku melirik pada Mr Argent yang berdiri di dekatku. Ia menoleh padaku dan mengangguk, berarti ia menyetujui perkataanku.
Isaac berusaha berdiri setelah ia berhasil mencabut panah yang tertancap padanya. Kulihat Derek bangkit juga setelah tadi dilempar Jackson. Ketiga pemuda ini langsung berubah menjadi manusia serigala, lalu langsung mengeroyok Jackson yang sudah berubah menjadi Kanima. Mr Argent menghampiriku dan menyuruhku untuk segera mencari tempat bersembunyi karena ini terlalu berbahaya untukku. Aku menurut dan akhirnya aku mengintip semuanya dari balik tiang.
Kulihat Allison menyerang Isaac dari belakang dengan kedua pisaunya sampai pemuda itu terjatuh. Lalu gadis itu berjalan menghampiri Derek yang tergeletak di lantai karena sudah kena racun Kanima.
"Allison, jangan!" seru Scott.
Tepat saat itu juga, Kanima langsung menahan Allison, siap untuk mencekik gadis itu. Aku menyerngit. Kalau Kanima dikendalikan oleh Gerard, harusnya Kanima itu tidak akan melukai Allison, kan? Mana mungkin seorang kakek akan melukai cucunya sendiri?
"Belum saatnya, Sayang," kata Gerard.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Allison dengan wajah takut.
"Dia melakukan apa yang menjadi tujuannya di sini," ujar Scott tanpa nada.
Gerard tersenyum, tapi senyumnya itu menyebalkan. "Berarti kau sudah tahu."
"Apa yang dia bicarakan?" tanya Allison.
Jangankan Allison, aku pun juga bingung apa yang kakakku dan Gerard bicarakan. Lalu aku teringat akan cerita Scott. Kakakku itu bilang bahwa Gerard menginginkan gigitan agar bisa menjadi manusia serigala dan bebas dari kanker. Jadi ini adalah kesempatan Gerard untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Ini tentang malam itu, di luar rumah sakit, iya kan, waktu aku mengancam soal ibu dan adikmu. Aku tahu aku melihat sesuatu di matamu. Kau bisa mencium baunya, kan?" tanya Gerard.
"Dia sedang sekarat," kata Isaac.
"Ya. Sejak beberapa saat lalu. Sayangnya, sains belum punya penawar untuk kanker. Tapi supranatural punya," ujar Gerard.
"Kau monster," desis Mr Argent.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Allison lagi, lalu kulihat Kanima mencekiknya lebih keras.
"Kau akan membunuhnya juga?" tanya Mr Argent.
"Jika ini menyangkut untuk bertahan hidup, aku akan bunuh putraku sendiri!" seru Gerard.
Oh, aku jadi tahu dari mana asal sifat gila dan psikopat milik Kate Argent, ternyata itu dari papanya. Tapi aneh, kenapa Mr Argent sendiri tidak menuruni sifat dari Gerard?
Gerard menoleh pada Scott. "Scott," panggilnya.
Wajah Scott kembali menjadi manusia biasa. Ia lalu mengangkat wajah Derek, memaksa pemuda yang tubuhnya masih kaku karena Kanima itu untuk berdiri dan kepalanya menengadah ke atas.
"Scott, jangan," pinta Derek. "Kau tahu dia akan langsung membunuhku setelahnya. Dia akan jadi Alpha."
"Itu benar," kata Gerard."Tapi kupikir dia sudah tahu itu, ya, kan, Scott? Dia tahu kalau hadiah terbesarnya adalah Allison. Dengan melakukan tugas kecil ini, dan mereka bisa bersama. Kau adalah pion yang tidak cocok, Derek. Dan jika kau belum mengetahuinya, kuberitahu kau bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan cinta anak muda."
"Scott, jangan!" pinta Derek lagi.
"Derek!" bisikku. Dari jauh aku bisa melihat matanya mencari-cari sesuatu. Kupikir mungkin ia bisa mendengar suaraku. Terkadang aku lupa kalau mereka punya pendengaran super. "Derek, kau bisa dengar aku? Derek, Scott punya rencana. Kau akan baik-baik saja, Gerard tidak akan membunuhmu, dia tidak akan melukaimu. Percaya padaku, Derek."
Gerard melipat lengan kemejanya, memperlihatkan lengannya. Lalu lengannya itu ia taruh di dalam mulut Derek yang dipaksa terbuka oleh Scott. Gerard mengerang pelan, mungkin karena taring Derek sudah menancap di tangannya. Setelah itu Gerard menarik tangannya, memperlihat gigitan di lengannya pada kami dengan wajah bangga dan tertawa. Lalu Scott melepaskan Derek sehingga sang Alpha terjatuh ke lantai.
Aku menyingkir dari tiang tempat aku mengintip, berencana menghampiri Derek, tapi begitu akan melewati Mr Argent, papanya Allison itu menahanku, bilang saat ini masih berbahaya. Mr Argent kemudian memasang wajah jijik sambil memerhatikan ayahnya sendiri. Penasaran, aku ikut melihat ke Gerard. Lengan kakek itu yang kena taring Derek mengeluarkan cairan hitam—itu mengingatku sewaktu Derek kena tembak Wolfsbane oleh Kate, darahnya berwarna hitam begitu juga.
Gerard yang tadinya tertawa bangga dan memamerkan bekas gigitan di lengannya, mungkin akhirnya sadar kalau kami melihat ke arahnya dengan tampang aneh. Ia pun akhirnya menurunkan tangannya lagi, melihat ke arah bekas lukanya sendiri, melihat cairan hitam yang keluar dari setiap bekas gigi Derek.
"Apa? Apa ini? Apa yang kau lakukan?" tanya Gerard.
"Semua orang bilang Gerard selalu punya rencana," kata Scott. "Aku juga punya rencana."
Gerard merogoh sesuatu dari kantong jaketnya, ternyata itu tempat obat. Ia mengeluarkan isinya ke telapak tangannya, kemudian meremas obatnya sendiri dengan tangannya. "Mountain Ash!" pekiknya.
Lalu aku bisa melihat cairan hitam itu tidak hanya keluar dari bekas gigitan saja, melainkan keluar juga dari hidung, telinga, dan mata seakan tangisannya mengeluarkan cairan hitam. Itu terlihat mengerikan, sekaligus menjijikan menurutku.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Derek.
"Karena kau mungkin adalah seorang Alpha, tapi kau bukan Alpha-ku," jawab Scott, lalu ia menoleh padaku. "Lagipula, kau tadi juga sudah diberitahu oleh Val, kan? Aku mendengar suaranya juga barusan, dan aku langsung merasakan tubuhmu tidak setegang tadi." Scott menoleh pada Derek yang masih tergeletak di lantai. "Val Anchor-mu, kan?"
Derek, yang sudah mulai bisa menggerakkan kepalanya, menoleh kepadaku perlahan. "Ya," jawabnya pelan.
Mr Argent melepaskan tanganku perlahan, lalu aku setengah berlari menghampiri Derek, membantunya untuk bangkit.
Gerard mengerang. "Bunuh mereka!" serunya. "Bunuh mereka semua!"
Kulihat Kanima itu melepaskan tangannya dari Allison, ingin menyerang, tapi Allison keburu pergi dan jip Stiles tiba-tiba datang menabrak Kanima sampai jatuh terguling. Tetapi Kanima itu dengan cepat bangkit lagi lalu melompat ke bagian depan jip Stiles. Aku mendengar suara pekikkan laki-laki dan perempuan dari dalam jip. Suara yang laki-laki pasti Stiles. Tapi siapa yang perempuan? Aku mendapati jawabannya ketika kedua pintu depan jip itu terbuka dan dua orang yang memekik tadi turun. Yang satu benar Stiles, yang satu lagi ternyata adalah Lydia.
"Jackson! Jackson!" panggil Lydia. Gadis berambut pirang stroberi itu berhadapan dengan Kanima yang tampak siap untuk menghajarnya.
Tepat saat Kanima akan menghajar Lydia, gadis itu menunjukkan sebuah kunci berwarna coklat. Kanima terdiam, kepalanya memiring sedikit, lalu aku bisa bagian kepala Kanima itu mulai berubah menjadi Jackson lagi. Dengan kuku-kuku Kanima-nya, Jackson mengambil kunci itu perlahan.
Kulit manusia Jackson mulai tampak. Sisik-sisik reptil Kanima perlahan menghilang. Bahkan ekornya pun sudah tak nampak. Jackson mundur perlahan sambil menggenggam kunci yang diberikan Lydia, lalu ia mengangguk. Tiba-tiba Derek beranjak dari sisiku, menghampiri Jackson dengan cepat dan menancapkan kukunya ke perut Jackson. Waktu kuperhatikan, ternyata di belakang Jackson juga ada Peter yang menancapkan kukunya di punggungnya—entah Peter datang dari mana dan kapan.
Ketika Derek dan Peter melepaskan kuku mereka dari Jackson, pemuda itu langsung terjatuh ke lantai, kepalanya tidak terbentur karena berhasil sempat ditahan oleh Lydia. Peter mundur, dan Derek pun kembali ke sampingku.
"Apa kau—apa kau masih—" tanya Jackson pelan. Tapi heningnya malam membuatku bisa mendengar suaranya.
"Ya. Aku masih mencintaimu. Iya, aku masih mencintaimu. Ya, ya, aku masih mencintaimu, aku masih," kata Lydia berulang kali, dan aku bisa mendengar suara isakkan gadis itu.
Aku melirik Stiles perlahan. Pemuda itu tampak sedih dan kecewa. Tentu saja. Ia sedang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, gadis yang ia menjadi pujaan hatinya sedang mengungkapkan perasaan cintanya pada pemuda lain, di saat si pemuda sedang, eh, mungkin sekarat.
Kemudian sebuah tangan besar menyelinap ke telapak tanganku. Sambil agak terkejut, aku melihat ke arah tanganku yang digenggam erat oleh tangan itu. Aku mendongak dan melihat pada orang yang menggenggam tanganku, Derek. Ia menatapku dengan tampang lelah, tapi aku tidak paham arti tatapannya. Jadi aku hanya membalas genggaman tangannya, lalu melirik Lydia dan Jackson lagi.
"Mana Gerard?" kudengar Allison bertanya.
"Ia tidak akan bisa pergi jauh," jawab papanya.
Gadis itu meletakkan kepala Jackson perlahan di lantai sambil menangis. Aku menyipitkan mataku untuk meyakinkan penglihatanku, bahwa setiap kulit reptil Kanima pada tubuh Jackson telah lenyap. Lydia perlahan berdiri, memunggungi tubuh yang baru saja ia letakkan, kemudian hendak berjalan pergi.
Heningnya malam ini membuatku bisa mendengar sebuah geretan kuku pada lantai. Lydia langsung berbalik badan lagi dan melihat pada Jackson. Pemuda itu membuka matanya, memperlihatkan bola matanya yang biru seperti milik Derek waktu ia masih jadi Beta. Jackson berdiri lalu menggeram dengan keras menggunakan suara serigalanya. Kulihat wajahnya berubah menjadi manusia serigala. Waktu wajahnya kembali menjadi manusia biasa, Lydia langsung memeluknya.
Aku paham, Lydia dan Jackson saling mencintai, walau mereka berdua terkenal senang bermain-main saja dalam sebuah hubungan. Tapi aku tahu, keduanya sebenarnya saling sayang satu sama lain, dan itu berbeda dengan pacar-pacar mereka yang sebelumnya. Lydia adalah Anchor Jackson, makanya pemuda itu bisa lepas dari tubuh Kanima.
.
.
Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku baru bisa tertidur dengan pulas ketika sudah lewat dari jam dua subuh. Huh, mengesalkan. Sepertinya antara aku masih agak takut tentang kejadian kemarin, atau aku kepikiran tentang Stiles-Lydia-Jackson.
Kemarin aku langsung berpisah arah dengan Derek. Stiles mengantarku dan Scott pulang ke rumah setelah ia memeriksa jipnya—yang sempat kena kuku Kanima. Lalu sampai di rumah, Stiles langsung membawa pulang jipnya, Scott tidak langsung masuk ke dalam rumah dan ia malah bilang akan pergi ke rumah Allison, jadinya aku masuk ke rumah sendiri.
Mama langsung memelukku dengan begitu erat saat aku masuk rumah. Setelah akhirnya ia melepaskan pelukannya, aku langsung ke kamar, terlalu lelah untuk mandi atau berganti baju, jadi aku hanya meletakkan Crossbow dan segala yang ada di kantongku di atas meja, lalu segera rebah di atas ranjang.
Pagi ini, waktu aku melihat ponsel, aku melihat ada pesan masuk Derek. Langsung saja aku membuka pesan itu.
'Dari Derek
Bisa kita bicara?Kutunggu kau di tempatku jam sembilan pagi kalau boleh.'
Jam sembilan. Aku melihat jam pada ponselku dan aku menyerngit. Lalu aku melihat ke jam dinding, siapa tahu jam di ponselku salah. Tapi ternyata jam ponselku benar. Aku kaget begitu melihat sekarang sudah jam setengah sembilan. Nah, kan, kemarin malam tidurnya sangat sulit, giliran menjelang subuh, tidurku langsung pulas sampai terbangun jam segini!
Langsung saja aku mandi secepatnya dan ganti baju, menyisir lalu mengambil tas kecilku keluar dari kamar. Kupikir aku mungkin sudah tidak sempat sarapan, tapi kuputuskan untuk ke ruang makan, karena aku mendengar ada suara dari ruangan itu. Di ruang makan, aku melihat Scott seorang diri yang baru habis sarapan. Ia tersenyum kecil melihatku.
"Pagi. Mama berangkat waktu masih gelap, katanya mungkin akan pulang jam sepuluh atau sebelas," kata Scott. "Mau sarapan?"
"Pagi, Scott," balasku. "Sepertinya aku tidak sempat sarapan."
Ia menyerngit. "Memang kau mau ke mana?"
"Derek ingin bicara denganku di tempatnya jam sembilan. Sedangkan aku baru terbangun jam setengah sembilan," jawabku.
"Oh, mau kuantar?" tawar Scott.
"Boleh?" tanyaku penuh harap.
Scott terkekeh. "Kutaruh ini di westafel dulu, lalu kuantar kau."
Kakakku menaruh piring dan gelasnya di westafel lalu mencuci tangannya. Setelah itu kami keluar dari rumah. Scott menyuruhku naik ke punggungnya dan ia berlari dengan cepat sambil menggendongku. Ini seperti waktu Derek menggendongku kemarin, tapi Derek berlari lebih cepat daripada Scott.
Sampai di tempat Derek, sebelum masuk, Scott sempat bilang kalau ia dan Stiles akan pergi main Lacrosse nanti siang, menawariku untuk ikut kalau aku sudah selesai bicara dengan Derek dan tidak melakukan apa-apa. Setelah itu Scott pulang ke rumah lagi, sedangkan aku masuk ke tempat persembunyian Derek.
Begitu aku masuk ke dalam, aku melihat Derek baru keluar dari dalam gerbong kereta—sepertinya ia tahu kalau aku sudah sampai. Ia tersenyum kecil sembari aku berjalan agak cepat menghampirinya.
"Hei," sapanya lembut.
"Hei," balasku.
Derek mengelus pelan pipiku. "Kau baik-baik saja? Sejak kejadian semalam?"
Aku mengangguk pelan. "Aku tidak bisa tidur semalam, baru bisa terlelap waktu subuh dan baru terbangun jam setengah sembilan."
"Kau bisa meneleponku tadi dan bilang ketemuan jam berapa saja, maksudku ini bukan pembicaraan penting yang harus segera dibicarakan," kata Derek.
"Tidak apa-apa," ujarku sambil tersenyum. "Lagi pula kalau tadi aku tidak bangun lalu mengecek ponselku, mungkin aku akan tidur sampai siang hari, kemudian mama akan menceramahiku tentang anak gadis tidak boleh bangun siang-siang." Derek menyengir sambil terus mengelus pipiku. "Jadi ... kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?"
Derek mengangguk. "Ini tentang Stiles—tentang kau dan Stiles." Aku menyerngit. "Aku menawarimu untuk berpacaran denganku biar kau bisa melupakannya, tapi Daisy bilang bahwa ini bukanlah cara yang benar—"
"—Kau akan memutuskan aku?" potongku sambil mengerutkan kening.
"Oh, astaga, bukan itu. Aku pasti gila kalau sampai ingin putus darimu," balas Derek. "Maksudku adalah, aku menemukan cara yang mungkin bisa membuatmu melepaskan Stiles perlahan."
"O-oh, maaf, aku salah sangka ... " Aku agak menunduk karena wajahku sedikit merona merah. "Jadi, bagaimana caranya?"
"Kau harus bicara dengan Stiles," jawab Derek dan aku menyerngit lagi. "Ungkapkan semua perasaanmu padanya sampai tidak ada yang tersisa. Katakan semua yang selama ini kau pendam padanya. Dengan begitu, kau bisa siap melepaskannya."
"Derek, Stiles sudah tahu kalau aku suka dia," kataku mengingatkannya.
"Aku tahu, tapi dia mengetahuinya karena Scott, bukan karena kau memberitahunya. Kau harus memberitahunya sendiri, Val, saat kau sedang berdua dengannya," ujar Derek. "Dan kalau kau mau, aku bisa langsung mengantarmu ke rumahnya."
Aku menghela sambil menggeleng pelan. "Bagaimana, eh, bagaimana kalau aku malah jadi semakin suka padanya? B-bagaimana jika setelahnya Stiles malah, eh, mengajakku pacaran dengannya biar dia belajar suka padaku?"
Derek mengusap bibirku dengan ibu jarinya, dan ia menatap lekat mataku. "Kalau itu sampai terjadi, maka aku akan memutuskanmu, biar kau bisa berpacaran dengannya. Aku ingin kau bahagia. Dan jika bersama dengan Stiles memang bisa membuatmu bahagia, aku akan membantumu."
Sambil terisak pelan, aku memeluk Derek dengan erat. Derek langsung membakas pelukanku. Ia mencium puncak kepalaku agak lama.
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut cara Derek. Kami naik mobilnya dan ia mengendarai mobil dengan cepat sampai rumah Stiles. Scott bilang bahwa ia dan Stiles akan pergi main Lacrosse nanti siang. Sekarang masih sekitar jam sembilan, berarti kemungkinan Stiles masih di rumah.
Sampai di kediaman Stilinski, Derek meremas pelan tanganku dan bilang kalau aku harus turun sendiri. Aku mengangguk dan membuka pintu. Derek melepaskan tangannya dariku, ia berkata akan menungguiku di ujung jalan.
Kubunyikan bel di samping pintu rumah Stiles dan menunggu seorang diri di depan pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan aku bisa langsung melihat wajah Sheriff di hadapanku. Ia langsung tersenyum melihatku.
"Selamat pagi, Sheriff," sapaku sambil memaksakan senyum.
"Pagi, Val," balas Sheriff. "Kau sendiri?"
Aku mengangguk. "Aku, eh, ingin bicara dengan Stiles. Dia ada di rumah?"
Sheriff mengangguk. "Masuklah."
Kemudian Sheriff mempersilakanku untuk langsung ke kamar Stiles di lantai dua. Jadi aku langsung menaiki tangga, dan tiba di depan pintu kamar Stiles yang tertutup. Aku mengetuk pintu itu tiga kali. Saat pintu terbuka, aku melihat Stiles. Sama seperti papanya, ia langsung tersenyum saat melihatku di depan pintu.
"Val!" sapanya.
"Stiles," balasku. "Kau sibuk?"
"Tidak, masuklah," kata Stiles. Jadi aku masuk ke kamarnya dan Stiles langsung menutup pintu kamarnya. "Oke, jadi apa kita akan membicarakan hal super serius sekarang? Soalnya kulihat wajahmu agak tegang saat ini."
Kuteguk air ludahku dengan susah payah. "Ini bukan hal yang super serius, tapi, eh, ini bukan candaan. Tapi kau tidak perlu tegang—aku tegang hanya karena aku harus mengatakan beberapa hal padamu."
"Oh ... oke?"
"Kau akan mendengarkan aku sampai selesai?" tanyaku dan ia mengangguk. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kepalaku jadi pening, kupikir itu pasti karena aku sedang sangat gugup saat ini. "Stiles ... a-aku suka padamu. Aku sangat suka padamu."
"Val—"
"—Dengarkan aku dulu, dengar sampai selesai, benar-benar selesai," kataku. Stiles menutup mulutnya lagi dan mengangguk. "Sama seperti Lydia untukmu, Stiles, kau pun adalah cinta pertamaku dan aku tidak pernah suka pada orang lain selain kau. Aku tidak mengatakan ini untuk menarik rasa simpatimu atau memaksakan perasaanmu padaku, bukan begitu. Kupahami kau sangat suka Lydia dan—dan aku tidak bohong saat aku bilang aku ingin membantumu sebagai sahabatmu. S-saat ini aku hanya ingin memberitahumu semuanya, segala perasaanku untukmu.
"Aku menyukaimu, Stiles Stilinski, sejak bahkan sebelum kau mengenal Lydia. Ini agak aneh memang, maksudku, kita masih kecil saat itu dan aku sudah langsung merasa suka padamu—tapi itu memang terjadi. Waktu tetanggaku dulu pernah mengusiliku saat tidak ada Scott atau orangtua kami, kau tiba-tiba datang dan langsung melindungiku—sejak itu kita baru berkenalan dan aku langsung merasa kau adalah pahlawanku, jadi aku suka padamu.
"Aku terus menyukaimu sejak saat itu, walau setahun atau dua tahun berikutnya tiba-tiba kau mengajakku mengobrol soal Lydia karena kau bilang kau suka dia. Tapi aku tahu kau adalah temanku, teman baikku, jadi aku ingin membantumu. Lydia adalah teman baikku juga, dan sejak masuk SMP ia terus berpacaran dengan ... yah, kau tahu seperti apa mantan-mantannya. Aku ingin ia mendapat pacar yang baik, dan kutahu kau adalah orang yang tepat untuknya. Jadi walaupun aku ... begitu, yah, aku tetap ingin jadi teman yang baik untuk kalian berdua. Makanya kupikir, aku menjadi temanmu dan ada di dekatmu seperti selama ini, itu sudah sangat cukup untukku.
"Eh, ya, i-ini jadi canggung, bukan? A-aku hanya ingin berusaha untuk bisa melupakan perasaan ini, melepaskanmu, merelakanmu. Hn, Derek sampai memberiku usul untuk mengatakan isi hatiku padamu—dan aku telah melakukannya barusan. Dan, o-oke, aku merasa lebih lega, heh," kataku panjang lebar sambil agak mengisak dan akhirnya mengatur nafasku lagi.
"Sudah selesai?" tanya Stiles kemudian setelah kami hening beberap detik. Aku mengangguk. "Sekarang giliranku," katanya dan aku menyerngit. "Val, kau lihat benang-benang itu?" tanya Stiles sambil menunjuk empat ikat benang di mejanya.
Kuanggukkan kepalaku. "Itu yang kau pakai setiap kali kau sedang berusaha memecahkan kasus, kan? Yang kau sambung-sambungkan di dindingmu?"
"Ya." Dengan cepat Stiles lalu meraih keempat benang warna yang ia tunjuk tadi. "Kau tahu apa saja arti warnanya kalau aku menyambungkan mereka di dinding?"
"Yang merah untuk hal yang belum kau mengerti. Yang kuning itu kalau kau sedang mulai mengerti. Kalau hijau, itu tandanya kau sudah paham. Sedangkan yang biru ... aku tidak pernah lihat kau pakai benang warna biru."
Stiles mengangguk. "Yang biru memang tidak pernah kupakai. Benang biru ini kusimpan karena dia cantik. Biru. Cantik. Seperti kau."
Aku menyerngit. "Aku?"
Ia tersenyum. "Benang biru ini bagiku adalah lambang dirimu. Aku menyimpannya dan tidak pernah kupakai biar tidak habis. Sama seperti benang ini, aku ingin menjagamu dan tidak ingin kau pergi dari hidupku, kau bagian dari hidupku, Val, dan aku tidak yakin bisa hidup tenang tanpa kau." Stiles melempar benang warna merah, kuning, dan hijau ke ranjangnya, lalu ia mengambil tanganku, meletakkan benang biru itu di telapak tanganku. "Kali ini kau dengar aku sampai selesai juga," katanya dengan lembut. "Begini, aku minta maaf telah menyakiti perasaanmu selama bertahun-tahun—dan aku tidak pernah sadar aku telah melakukannya sebelum akhirnya kejadian bulan penuh di kamar kakakmu. Jadi aku sungguh-sungguh minta maaf karena aku tidak pernah menyadari perasaanmu padaku selama ini. Aku tidak peka, dan aku sadar itu sekarang.
"Lydia memang cinta pertamaku, tapi dia bukan gadis pertama yang menarik perhatianku. Kau tahu, sebenarnya kau adalah gadis yang paling pertama kali menarik perhatianku—tidak, dengarkan aku dulu. Waktu masuk SD, aku sekelas dengan Scott. Hari pertama sekolah, kami diminta maju ke depan kelas dan menceritakan soal keluarga kami. Scott cerita tentang kau dan orangtua kalian. Itu adalah pertama kali aku mendengar soal nama Val McCall. Dalam perjalanan pulang sekolah, mobil mamaku mogok tengah jalan lalu aku dan mama turun dari mobil. Saat itu aku melihat seorang gadis kecil diganggu oleh anak laki-laki yang kupikir seusiaku di depan pintu rumah—kupikir itu pintu rumah gadis itu. Jadi aku ke sana dan menolong gadis kecil tersebut. Setelah itu Scott dan mamamu datang—di situ aku baru tahu bahwa kaulah si Val McCall yang diceritakan Scott.
"Kau tahu apa pendapat pertamaku tentangmu? Kupikir kau manis, sungguhan. Sejak aku menolongmu itu, Scott dan aku jadi selalu duduk sebangku waktu sekelas, kami jadi sahabatan. Pembicaraan nomor satu Scott adalah tentangmu, aku jadi tahu banyak tentangmu darinya. Aku masih ingat Val kecil yang menyapaku dengan riang saat aku main ke rumah kalian. Makin hari aku melihatmu semakin menjadi gadis yang manis. Tapi sekarang, ketika sudah remaja, kau cantik, bahkan aku bisa mengakui kalau kau memang lebih cantik dari Lydia.
"Waktu kau masuk kelas 1 SD dan aku serta Scott kelas 2 SD, kutahu aku sudah sangat tertarik padamu. Tapi aku berpikir bahwa aku tidak boleh sampai suka padamu. Kenapa? Karena kau adik Scott. Hubunganku dengan Scott akan sangat canggung kalau ia tahu aku suka adiknya. Yah, kau tahu, aku memang sudah berpikiran agak sangat jauh saat itu, aku berpikir bagaimana kalau aku berpacaran denganmu lalu Scott tidak setuju dan kami tidak berteman lagi. Atau, bagaimana jika aku suka padamu, tapi kau tidak suka aku, lantas aku tidak berani main ke rumahmu lagi. Jadi sejak saat itu, Val, aku membatasi diriku untuk tidak menyukaimu sebagai seorang gadis. Aku melakukannya dengan cara melihat dan menganggapmu sebagai adikku juga. Walau kadang, belakangan ini sejak masuk SMA, beberapa kali aku lupa kalau aku menganggapmu jadi adik. Terutama saat kau ... pakai baju untuk ke pesta. Kau cantik sekali, dan aku melihatmu sebagai gadis biasa, bukan adikku. Aku langsung menepis itu, kau tahu, aku mengingatkan diriku lagi bahwa kau adalah adik Scott dan aku tidak boleh menyentuh atau punya perasaan lebih sebagai saudara.
"Ketika kelas 3 SD, aku bertemu dengan Lydia, dan sama sepertimu, kalian cantik. Tapi karena aku merasa aku tidak boleh suka padamu, jadi kuputuskan untuk suka pada Lydia. Makanya, gadis itu jadi cinta pertamaku, dan kau kuanggap adikku. Kumohon maafkan aku, Val."
Aku agak tercengang mendengar perkataan Stiles. Jadi ia pernah nyaris suka padaku?
"Kau tahu, Stiles, aku tidak mengharapkan yang itu tadi. Maksudku, tentang ceritamu yang barusan, aku tidak mengharapkan kau akan menceritakan itu setelah aku ... mengutarakan isi hatiku. Tapi ... yah, aku senang mendengarnya," ujarku sambil tersenyum kecil.
"Sebenarnya aku juga tidak ada rencana untuk mernceritakan itu," katanya sambil mengangkat bahunya. "Tapi kau sangat berani mengutarakan perasaanmu padaku, jadi kupikir aku harus membalas ceritamu."
"Aku sungguh berharap Lydia bisa membalas perasaanmu, Stiles," ujarku.
"Dan kau akan baik-baik saja?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Aku sudah punya Derek. Dan, tentu saja aku akan baik-baik saja kalau perasaan kakakku dibalas oleh gadis pujaannya."
Kini Stiles yang tercengang. Matanya membulat dan satu tangannya menunjuk wajahnya. "K-kakak?"
Mengangguk, aku tersenyum kecil. "Kau menganggapku adikmu, jadi aku harus belajar menganggapmu sebagai kakakku."
Stiles tertawa kecil lalu menggeleng. Ia langsung menarik tubuhku dan mendekapku dengan begitu erat. Stiles menggumamkan bahwa ia sayang padaku lalu mencium pipiku, dan dengan setengah hati aku senang menerimanya—kuharap di kemudian hari aku bisa dengan tidak setengah hati merasa senang saat Stiles memelukku sebagai adiknya.
Dalam pelukan Stiles, lewat bahunya aku bisa melihat ke arah jendela, pemandangan dari luar jendela bisa kulihat. Ada sebuah pohon yang tinggi dan besar, daunnya lebat dan berwarna hijau, itu terlihat dari tempat aku berdiri. Lalu daun-daun dari pohon itu berguguran, berterbangan ditiup angin. Itu berlangsung dengan tidak lambat. Pohon itu sudah setengah botak dan daunnya masih terus berguguran.
Kuharap dengan seribu daun atau lebih yang gugur, itu menandakan perasaanku pada Stiles akan segera gugur juga.
Gugurlah seribu daun bersama air mataku yang ikut berguguran juga.
.
.
Keluar dari rumah Stiles, aku langsung berjalan cepat menghampiri mobil Camaro Derek yang terparkir tidak jauh dari rumah ini. Kulihat Derek sedang bersandar di mobilnya, dan ia langsung berdiri tegak saat aku datang. Baru saja ia membuka mulutnya, aku langsung memeluknya, membenamkan kepalaku di dadanya. Derek lalu membelai pelan rambutku sambil satu tangan yang lain membalas pelukanku.
"Val, ada apa?" bisiknya
"Aku sudah memberitahu Stiles soal perasaanku, dan tadi dia juga sudah menceritakan soal perasaannya," jawabku.
"Dan?"
Aku melepas pelukanku agar bisa melihat wajahnya. "Stiles bilang sejak dulu ia membatasi perasaannya, tidak boleh suka padaku, karena aku adalah adik sahabatnya. Dia melakukan itu dengan cara melihatku sebagai adiknya. Mungkin aku bisa pakai cara yang sama untuk melepasnya—kubilang padanya, aku akan belajar untuk melihat dia sebagai kakakku."
Derek mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Jadi ... kau dan aku ... ?"
"Aku masih pacarmu," jawabku sambil tersenyum kecil. "Kecuali kalau kau berubah pikiran."
"Oh, tidak, tentu saja tidak," ujar Derek sambil terkekeh pelan.
"Derek," panggilku. Ia menjawab dengan 'hm?' pelan sambil mengusap pipiku. "Aku tahu aku berpacaran denganmu awalnya dengan tujuan bisa melupakan Stiles. Tapi sekarang, aku ingin berpacaran denganmu biar aku bisa suka padamu—aku ingin jatuh cinta padamu, seperti kau jatuh cinta padaku."
Ia agak tercengang. "Kau ingin jatuh cinta padaku?" ulangnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak ingin kau membantuku melupakan Stiles lagi—kita bisa mengesampingkan itu saat ini. Aku ingin kau membantuku agar bisa mencintaimu. Jadi ... kumohon jangan pernah menyerah soal aku ..."
Senyum Derek perlahan mengembang. "Aku tidak akan menyerah, Val." Ia menarik tubuhku dalam pelukannya. Dikecupnya keningku perlahan, lalu ia mencium lembut bibirku. "Baiklah, jadi, sekarang kau mau pulang? Atau ke tempatku? Atau kita ingin ke mana?"
Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya aku mendapatkan sebuah ide. "Derek, aku ingin mengenalkanmu pada mamaku."
Derek menyerngit. "Apa?"
Kuanggukkan kepalaku. "Eh, mama selalu ingin tahu siapa pacarku. Dan beberapa hari lalu, setelah mama tahu soal Scott manusia serigala, mama menyuruhku menceritakan semuanya. Lalu ia menebak bahwa pacarku adalah manusia serigala juga. Mau tak mau aku jujur padanya kalau kau adalah pacarku, dan kubilang juga bahwa aku adalah Mate-mu. Mama sudah tahu soal aku dan kau, dan walau mungkin mama sudah mengenalmu, aku ingin memperkenalkanmu sebagai pacarku."
"Val—"
"—kalau kau tidak mau, aku tidak apa-apa. Eh, ini hanya ... kau tahu, tiba-tiba aku kepikiran begitu saja," kataku gugup.
"Aku mau, Val," kata Derek sambil tersenyum lembut. "A-aku hanya tidak menyangka kau akan melakukan itu, aku tidak menyangka kau akan mau mengenalkanku pada mamamu dan bilang aku pacarmu. Kau—oh, astaga, Val ... " Aku bisa melihat senyum bahagia Derek. Ia menggeleng pelan.
"Aku apa?" tanyaku.
"Kau pasti tidak sadar kalau kau baru saja membuatku sangat bahagia," ucapnya pelan sambil menaruh kepalanya di pundakku, menempelkan keningnya pada pundakku. "Aku mencintaimu, Val, aku sangat mencintaimu."
"Jadi kau mau kukenalkan pada mamaku, hari ini?" tanyaku.
Kepala Derek tegak lagi dan ia mengangguk. "Kita bisa langsung ke rumahmu kalau mau. Mamamu ada di rumah?"
Aku teringat Scott bilang mama pergi ke rumah sakit tadi waktu masih gelap, dan akan pulang sekitar jam sepuluh atau jam sebelas. Kurogoh ponselku, kunyalakan layarnya biar bisa melihat jam dari ponsel itu. Ternyata sekarang sudah jam sebelas lewat, berarti mungkin mama sudah pulang.
Kuberitahu Derek kalau mama mungkin sudah pulang. Kalau pun mama belum di rumah, kupikir kami bisa menunggu di rumah. Derek mengangguk, ia mencium punggung tanganku—sikapnya yang satu ini tidak bisa membuatku menahan senyum—lalu kami naik mobil dan Derek membawa mobilnya ke rumahku.
Sampai di rumah, aku melihat mobil mama ada di tempat parkir, berarti mama ada di rumah. Turun dari mobil, Derek bilang bahwa ia tidak mendapati bau Scott dari rumah. Kubilang mungkin ia sudah pergi ke rumah Stiles karena mereka mau main Lacrosse—makanya sepeda Scott tidak ada di sini.
Begitu masuk rumah, aku langsung bisa mendengar suara dari arah dapur, mungkin mama ada di ruangan itu. Kuajak Derek pergi ke dapur. Di ruang makan ada satu kantong kertas berisi bahan makanan ditaruh di atas meja makan. Sedangkan kulihat mama sedang membuka kulkas.
"Hai, Ma," sapaku.
"Val, kau sudah pulang—" Mama berbalik muka sambil tersenyum, lalu ia mematung waktu melihat Derek. "—oh."
"Eh, ma, ini pacarku, Derek Hale," ujarku pelan. "Derek, ini mamaku."
"Senang bisa bertemu anda," kata Derek sambil mengulurkan tangannya pada mama.
Mama mendelik pelan padaku dan aku hanya bisa melempar senyum kecil. Lalu mama menoleh pada Derek lagi dan menyambut tangan pemuda itu. "Halo, Derek, senang bisa bertemu dengan pacar putriku akhirnya. Panggil saja Melissa." Mama menoleh padaku lagi. "Val, tolong bereskan belanjaan mama ini, lalu tadi mama ada beli makan siang, ada di dapur. Tolong kau siapkan dan bawa ke meja makan untuk kita bertiga. Sedangkan mama ingin mengobrol dengan pacarmu di ruang tamu."
Ingin mengobrol dengan Derek? Semoga mama tidak menginterogasi Derek seperti seorang polisi menginterogasi seorang tersangka.
Aku melirik Derek dan ia hanya mengangguk padaku. Lalu mama mengajak Derek ke ruang tamu, meninggalkanku di ruang makan seorang diri. Jadi kuputuskan untuk segera merapikan belanjaan mama secepatnya biar Derek tidak perlu berlama-lama ditanyai mama. Dengan hati-hati aku menyiapkan makan siang yang dibeli mama lalu kutaruh di atas meja makan bersama dengan tiga porsi nasi.
Setelah semua selesai, aku langsung keluar dari ruang makan dan pergi ke ruang tamu. Mama dan Derek sedang tidak mengatakan apa-apa saat aku datang memanggil mereka untuk makan siang. Walau memang tidak mendengar pembicaraan mereka sama sekali, tapi aku pikir mungkin pembicaraan mereka tidak semenakutkan yang kubayangkan, karena wajah Derek masih lembut seperti tadi, dan wajah mama pun tidak seperti habis marah. Jadi kupikir keduanya baik-baik saja.
"Val, tadi Derek bilang Scott memberi kalian syarat kalau ingin pacaran," kata mama sambil kami makan. Mendengar itu, spontan aku menoleh pada mama. "Jadi mama akan memberi kalian syarat juga. Mama sudah membicarakan ini dengan Derek, dan ia setuju atas persyaratan mama."
Mataku membulat, lalu aku melirik Derek. Pemuda itu hanya tersenyum kecil. "Jangan khawatir, Val. Itu persyaratan yang mudah. Sekalipun Melissa tidak memberi syarat itu, aku juga tidak berniat untuk melanggar syaratnya."
"Oke, syarat terpenting adalah: mama belum ingin punya cucu," kata mama.
Aku langsung tersedak. "Ma!"
"Apa? Mama hanya ingin kalian—terutama kau, Val—menjalani masa pacaran yang sehat dan 'aman'," kata mama sambil tersenyum kecil. "Bukan mama tidak percaya padamu, Val. Melihatmu yang makin cantik untuk Derek—"
"—Aku tidak melakukannya untuk Derek ..." gumamku.
"—dan nilai-nilaimu di sekolah, mama tahu kalian berpacaran dengan sehat," sambung mama. "Mama tahu usia remaja adalah masanya penasaran akan apa pun, termasuk seks. Kalau kalian ingin melakukannya, pakai pengaman."
Aku menelan makanan dalam mulutku dengan susah payah. "Ma, kita sedang makan dan kau membicarakan soal seks?"
"Hanya kali ini saja, Val, tidak akan lagi," ujar mama. "Syarat kedua dan ketiga sama dengan dari Scott: Derek harus menjamin keselamatan Val—terutama dari segala hal berbau supranatural—, dan minimal kau harus memberitahu mama atau Scott kalau ingin pergi dengan Derek. Syarat terakhir, Derek tidak boleh memaksa Val melakukan apa pun yang ia belum siap atau tidak mau lakukan. Jika itu terjadi, Derek harus masuk penjara, terutama karena Val masih lima belas tahun. Itu saja."
"Empat saja?" ujarku.
Mama mengangguk. "Dan Derek sudah bilang bahwa ia menerima semua syarat itu."
"Sesuai kataku tadi, Melissa, aku memang sudah berniat menjaga Val. Jadi tanpa syarat itu pun, aku tidak akan pernah memaksa Val," kata Derek sambil tersenyum padaku.
"Aku tahu itu, dari cerita Val, aku tahu kau pemuda baik-baik, Derek," kata mama. "Hanya saja, aku tidak ingin tiba-tiba kau mendatangiku dalam waktu dekat dan berkata 'izinkan aku menikahi putrimu'. Aku belum siap mendengarnya."
Dan aku tersedak lagi.
.
.
Usai makan, aku membawa Derek naik ke lantai dua, masuk ke kamarku. Begitu kututup lagi pintunya, aku menghela. Derek menyengir kecil lalu ia menggenggam tanganku dan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
"Ada apa?" bisiknya.
"Aku tidak menyangka mama akan ... seperti tadi," gumamku. "Selain syarat-syarat itu, apa lagi yang kalian bicarakan? Apa yang mama tanyakan padamu?"
"Mamamu hanya minta aku meyakinkannya bahwa aku bukan seorang pembunuh, bukan buronan polisi karena sudah melakukan tindakan kriminal. Tanya kalau kau dan aku sudah melakukan seks apa belum," jawab Derek.
Wajahku merona merah saat dengar kata seks. "Mama menanyakan itu?" cicitku. "Oh, astaga."
Derek terkekeh kecil lalu mencium punggung tanganku. "Oke, kau akan melakukan apa sekarang? Jangan bilang kau akan belajar, ini sedang libur panjang."
Kuangkat bahu. "Mungkin kita bisa menonton film? Aku mengunduh banyak film dan sebagian besar belum kutonton."
Ia mengangguk.
Jadi kunyalakan laptopku dan kubawa ke ranjang. Derek duduk bersandar di ranjang dan memanjangkan kakinya, sedangkan aku duduk di antara kedua kakinya—seperti saat ia akan membantuku belajar. Bedanya, kali ini aku memegang leptop, bukan buku pelajaran.
Kami menonton sampai hari gelap dan mama memanggil kami untuk makan malam. Jadi aku menghentikan filmnya dulu dan kami pergi makan di ruang makan. Habis makan, kami duduk di ranjang lagi dan melanjutkan filmnya. Waktu film itu habis, aku memutuskan untuk mandi dulu. Aku tidak berani tampil di depan Derek hanya dengan berbalut handuk—seperti yang pernah tidak sengaja terjadi, karena ia datang tiba-tiba di kamarku waktu aku keluar dari kamar mandi dengan hanya pakai handuk—, jadi aku langsung mengambil baju bersih untuk kubawa ke kamar mandi.
"Val," panggil Derek saat aku mengambil baju. Aku menoleh padanya. "Tidak usah pakai bra."
Wajahku memerah, tapi aku mengangguk juga. Setelah itu aku pergi mandi dan langsung berpakaian di kamar mandi. Aku kembali ke kamarku dengan gugup. Bahkan aku bisa merasakan udara dingin menembus masuk kaosku.
Kulihat Derek sedang mengotak-atik laptopku di ranjang. Tapi ia langsung meletakkannya begitu saja di meja samping ranjang saat melihatku keluar dari kamar mandi. Ia beranjak dari ranjang dan menghampiriku dengan senyum kecil. Tanpa aba-aba, Derek langsung melumatkan bibirnya pada bibirku.
Dengan cepat Derek memperdalam ciumannya. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sedangkan tangan kanannya meremas pantatku dengan gemas. Kedua tanganku ada di leher Derek. Kakiku berjinjit saat awal Derek menciumku tadi, tapi aku tidak sanggup berjinjit terlalu tinggi lagi karena kakiku melemas akibat remasan di pantatku—akhirnya Derek harus agak membungkuk lagi agar bisa terus menciumiku.
Ciuman Derek turun dari mulutku ke rahang. Ia mencium kecil-kecil rahangku. Lalu turun lagi ke leherku. Derek menyerang leherku habis-habisan, ia menggigit dengan agak keras sampai aku bukan lagi mendesah melainkan mengerang.
"Ssh, jangan keras-keras, Val, mamamu ada di lantai satu," bisik Derek.
Aku mengangguk pelan. Derek melanjutkan kegiatannya di leherku. Setelah puas melahap leherku, ia kembali mencium bibirku dengan panas. Kedua tangannya mengejutkanku, karena tiba-tiba keduanya ada di dadaku yang masih berbalut kaos. Tangan Derek mulai meremas pelan buah dadaku, dan aku mulai mendesah di mulut Derek. Ketika jarinya mulai memilin putingku, bibir Derek terpisah dariku, jadi aku mendesahkan namanya. Derek tersenyum puas tiap aku mendesahkan namanya.
Kemudian tangan Derek mengangkat pantatku, menggendongku, membawaku rebah di ranjang. Ia melepaskan jaket kulitnya dan dilemparnya ke lantai, setelah itu ia ada di atasku. Derek menciumi bibirku lagi, ia lalu mencium leherku kecil-kecil. Aku begitu menikmati sentuhan bibir Derek di leherku sampai aku memejamkan kedua mataku. Tapi mataku langsung membelalak saat kurasakan mulutnya ada di putingku.
"D-Derek!" panggilku gugup.
Derek tidak menyahut. Ia terus saja mengisap pelan putingku yang mengeras—yang masih tertutup kaos—dan tangannya pun ikut memegang buah dadaku. Aku mendesahkan nama Derek, dan kini ia menggigit pelan putingku lalu menjilatnya. Matanya menatap mataku saat ia menjilat.
"D-Derek! O-oh, D-Derek!Ahn!"
Lalu bibir Derek bertemu dengan bibirku lagi. Kedua tangan Derek melebarkan kakiku, menyuruhku meletakkan kedua kakiku di pinggangnya. Tubuh Derek begitu dekat dengan tubuhku, dan aku bisa merasakan gundukan lagi di selangkanganku—sensasi yang sama seperti waktu di mobil Derek.
Aku tersentak karena kaget merasakan keberadaan gundukan itu di bawahku. Derek lalu menciumiku lagi. Kurasakan pinggangnya naik-turun berkali-kali, dan gundukkan itu menggesek terus di bagian kewanitaanku. Aku mendesah di mulut Derek.
"Val, kau ingat gundukan yang kau bilang saat di mobilku waktu itu?" tanyanya sambil terengah saat bibir kami terpisah. Aku mengangguk. "Yang kau rasakan sekarang adalah gundukan yang sama, kan?" Aku mengangguk lagi. "Kau tahu itu apa? Yang menggesek di tubuhmu—seperti ini?" Derek menggerakkan tubuhnya lagi dan gundukan tergesek lagi.
Aku mendesah. "A-apa itu?" Gundukan itu masih terus menggesekku, jadi aku mendesah lagi.
"Val, uh, itu adalah—oh, Val, astaga!" ujar Derek sambil mendesah juga. "Itu kejantananku—penisku!"
Mataku membelalak dan mulutku mendesah lagi, karena gundukan itu—kejantanan Derek—menusuk-nusuk daerah kewanitaanku.
Derek akhirnya berhenti menggerakkan tubuhnya dan kami berdua sama-sama terengah-engah. "Val, kau lebih senang saat yang di mobil, atau yang barusan?"
"A-aku—"
"Atau kau lebih pilih waktu aku pakai jari?"
"J-jari!" jawabku cepat lalu aku menggigit bibirku.
"Aku tidak menyangka kau akan menjawab pertanyaanku, Val," kata Derek sambil tersenyum kecil.
Ia menyingkirkan pinggangnya. Kini tangan Derek ada di selangkanganku, jarinya mulai menggantikan penisnya untuk menusuk daerah kewanitaanku. Aku mendesah lagi. Yang ini hanya sebentar saja, ia seakan hanya ingin menggodaku. Wajah Derek datang lagi di hadapanku, ia mencium keningku.
"Maafkan aku," kata Derek. "Gara-gara mamamu membicarakan soal seks tadi siang, aku jadi tidak henti-hentinya memikirkan soal seks denganmu. Bahkan sewaktu kita menonton film, aku tidak bisa konsentrasi sama sekali, aku berusaha untuk menahan diriku dari menyentuhmu. Tapi saat kau bilang ingin mandi, perkataan itu menyembur keluar begitu saja, bilang kau tidak usah pakai bra."
"D-Derek, a-aku ingin—"
"Aku bisa mencium baunya, Val, aku tahu celana dalammu sudah basah," ujarnya.
Wajahku memerah saat mendengarnya. "K-kau tahu aku mengompol?"
Derek terkekeh pelan. "Val, itu bukan mengompol. Celana dalammu basah bukan karena mengompol. Kau ingat, setiap kali aku menyentuhmu, ujungnya kau akan merasa ingin pipis? Kau ingin pipis itu adalah karena sentuhanku."
"A-aku tidak mengerti," akuku.
Ia menghela. "Kau bisa tanya Lydia. Dia pasti akan menjelaskan padamu." Aku mengangguk. Lalu Derek mengelus pipiku lagi sambil tersenyum kecil. "Val, ada yang harus kuberitahukan padamu,"
"Apa?"
"Boyd dan Erica menghilang, dan aku akan pergi mencarinya dengan Peter dan Isaac," jawab Derek.
"Tapi bukankah Boyd dan Erica sebenarnya pergi untuk mencari Pack baru?"
Derek mengangguk. "Awalnya begitu. Tapi ternyata keduanya tertangkap Allison. Waktu keduanya dibebaskan, kupikir mereka pasti dihadang oleh—mereka tertangkap oleh Pack lain."
"Tertangkap? Mungkin saja mereka bukan tertangkap, tapi memang sudah menjadi bagian Pack itu?"
"Tidak, aku percaya instingku sebagai Alpha, Val. Aku tahu mereka bukannya sudah bergabung dengan Pack itu, melainkan ditangkap."
Aku mengangguk. "Kau tahu tentang Pack ini?"
Kali ini Derek yang mengangguk. "Tapi aku tidak tahu mereka bersembunyi di mana, jadi kami bertiga akan mencarinya."
"Kau tidak minta tolong Scott? Dan bagaimana dengan Jackson—dia sudah jadi manusia serigala, kan?" tanyaku.
"Ini adalah masalah Pack-ku, Val, sebisa mungkin aku tidak ingin Scott terlibat," jawab Derek. "Dan untuk Jackson, aku akan mengajarinya soal menjadi manusia serigala sambil mencari Boyd dan Erica. Jadi setiap harinya, pagi sampai siang—dan malam bulan penuh—aku akan mengajari Jackson, sedangkan sore sampai malam aku akan mencari Pack itu. Sedangkan Peter dan Isaac akan mencari mereka terus."
"Dan kau memberitahuku soal ini karena ... ?"
Derek mengusap bibirku dengan ibu jarinya. "Ada kemungkinan Pack itu sebenarnya mengincarku, makanya mereka menangkap Boyd dan Erica untuk memancingku. Aku tidak ingin kau terluka sampai terseret dalam masalah ini, Val. Jadi selama kami mencari mereka, kau jangan mengontakku—jangan mengirimiku pesan atau menelepon, takutnya mereka bisa tahu soal kau. Mungkin aku juga tidak akan bisa datang kemari, karena siapa tahu aku diikuti manusia serigala lain."
Aku menatapnya dengan tidak percaya. "Tidak mengontak satu sama lain?"
"Aku tidak janji untuk meneleponmu selama itu, Val. Tapi mungkin aku akan mengirim pesan setiap seminggu atau dua minggu sekali—jangan balas pesan itu, dan sebisa mungkin langsung kau hapus setelah dibaca," kata Derek.
"Berapa lama?" tanyaku sedih. "Apakah ini akan membuatku merindukanmu?"
"Beberapa hari, atau minggu, atau bulan, aku tidak tahu," jawab Derek setelah menghela. "Aku tidak tahu soal kau. Tapi kalau aku, aku pasti akan merindukanmu setengah mati."
"Kapan kau akan mulai mencari Boyd dan Erica?"
"Sebenarnya, bahkan Isaac dan Peter sudah mulai mencari sejak tadi pagi, sebelum kau datang ke tempatku," ujar Derek. "Tapi aku memutuskan untuk bertemu denganmu dulu, setidaknya aku harus memberitahumu soal ini."
"Dan kau menunggu sampai malam hari?" tanyaku sambil agak menyengir.
"Waktu kau bilang ingin mengenalkanku pada mamamu, aku sudah berencana untuk memberitahumu setelahnya. Tapi, ya, itu dia, yang kukatakan padamu—aku tidak bisa konsentrasi setelah makan siang, memikirkan seks denganmu," jawab Derek sambil agak menyengir juga. "Yah, mungkin aku akan mulai pergi mencari mereka setelah ini."
Aku memegang lengan kekar Derek dengan lembut. "Tetaplah di sini denganku malam ini," kataku pelan. "Kumohon?"
Derek agak tercengang. Kemudian ia mencium bibirku dengan lembut. "Tidurlah, Val, aku akan tetap di sini sampai kau terlelap."
.
.
~TBC~
Next: #InnocentButNotInnocent
.
.
A/N: Anak laki-laki kecil yang iseng pada Val itu kejadian nyata pada author.
