Sakit. Sesak. Hinata tak bisa mendeskripsikan perasaannya lebih dari dua kata itu, dan semua karena Naruto. Pemuda itu membuat perasaannya campur aduk. Hinata menyukainya. Sangat amat suka sampai ke tahap ia rela melakukan apapun untuknya. Untuk menjaga Naruto tetap bersamanya.
Ia tahu Naruto tidak melakukan hal yang baik saja. Ia tahu pemuda itu punya sisi gelap yang berbahaya. Ia mengerti, dan ia menerimanya. Ia sudah memutuskan sejak pertamakali menyadari perasaannya pada Naruto. Jika ia tidak bisa membawanya ke permukaan, Hinata tidak keberatan untuk tenggelam bersamanya. Asal Naruto ada disampingnya, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi Hinata tidak tahu apa yang Naruto rasakan. Ia juga tidak tahu apa yang ada di pikiran pemuda itu. Baginya, Naruto seperti sebuah bayangan samar. Hinata dapat merasakan kedekatan mereka. Naruto selalu ada saat ia membutuhkannya. Namun saat ia mencoba untuk balik mendekatinya, pemuda itu bergerak menjauh. Dan jika Hinata membiarkannya, maka Naruto seolah bisa menghilang kapan saja.
Ia merasa frustasi akan kenyataan itu. Ia tidak bisa menjauh, tidak pula Naruto mau melepasnya. Tapi pemuda itu juga tidak mengijinkannya mendekat. Tiap kali Hinata menyatakan perasaan, balasan yang diterimanya adalah sikap pasif-semacam-tidak membalas, tidak menolak. Hinata ingin tahu apa Naruto sengaja mengabaikannya. Sikap dingin pemuda itu menyakitinya, lebih buruk lagi bahwa pemuda itu membiarkannya tidak tahu apa-apa, bahkan berencana pergi begitu saja. Alih-alih berjanji untuk kembali dengan selamat, Naruto justru memaksanya untuk menjajikan hal lain. Dan itu bukan sesuatu yang Hinata harapkan. Ia tidak berharap untuk bertahan sendirian. Ia hanya punya Naruto. Jadi bagaimana ia bisa bertahan jika ia kehilangan satu-satunya hal yang menjadi alasannya hidup?
"Naruto-kun bodoh!" teriaknya marah. Hinata terlalu baik untuk memberikan umpatan lain, seperti brengsek dan bajingan. Jadi ia memilih kembali menangis dan menggulung diri di sudut perpustakaan, satu-satunya tempat sepi yang ia tahu di markas akatsuki, sambil berharap orang lain tidak menemukannya dalam kondisi sekacau itu. Ia butuh waktu untuk sendirian.
.
.
.
Fanfic ini murni hasil pemikiran penulis seperti yang tercantum di bawah!
DISCLAIMER : Masashi kishimoto – Naruto
Rosarypea – HERO X HEROINE
Rate : M
Main character (s) : Naruto U. & Hinata H.
Genre : Romance, Hurt/comfort & Drama
Warning : AU, OOC, typo (s), masih pendek, alur kadang cepat-kadang lambat.
Jika tidak suka apa-apa yang berkaitan dengan cerita ini, lebih baik segera tekan tombol back!
.
.
.
"Kau baik-baik saja?"
Naruto mendengar Yahiko bertanya kalem. Lelaki itu menyelinap masuk dan menutup pintu.
"Naruto, kau dengar aku?"
Tidak ada jawaban. Naruto masih diam saja. Ia menolak bicara dan mengabaikan semua pertanyaan. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit sejak Hinata pergi, dan Yahiko menemukan dirinya sendirian di kamar. Terduduk, terbatuk, ditambah sesak napas. Ini bukan pertama kalinya lelaki itu melihat Naruto sangat kacau, tapi ini yang pertama sejak tujuh tahun lalu.
"Ini karena Hinata-kan?" pertanyaan retoris. Melihat saja sudah menjelaskan semuanya. Hinata dan Naruto, mereka bertengkar. Dan untuk beberapa alasan, Yahiko tampaknya tahu apa sebabnya.
"Rupanya kau memilih menyulitkan dirimu sendiri." Lelaki itu berkomentar singkat. Dia berdiri menyadar di dekat pintu. "Diam saja tidak akan membantumu, Naruto."
"Pergilah… pergi saja sana. Aku sedang tidak ingin dengar omong kosongmu." Naruto menyahut tak bertenaga. Ia malas berdebat. Kepalanya pusing , tenggorokannya sakit dan ia benci diganggu. Tapi seperti biasa, Yahiko tidak meninggalkannya.
"Aku tidak bicara omong kosong. Aku sedang membantumu."
"Tidak butuh." lagi, ia menyahut ketus. Naruto bukan tipe orang yang senang urusannya dicampuri. Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi entah mengapa, setiap berhadapan dengan Hinata ia kehilangan kata-kata. Keadaan selalu berubah memanas dan terjadi salah paham. Hinata mungkin menyangka Naruto mengabaikannya. Tapi itu tidak benar. Naruto hanya sulit mengungkapkan pemikirannya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Di dekat pintu, Yahiko menghela napas, "Dilihat darimana pun kau ini butuh bantuan. Tidak perlu berlagak kuat di depanku. Itu tidak berguna, hanya membuatmu tampak menyedihkan saja."
Kening Naruto berkerut. Telinganya gatal mendengar ejekan Yahiko. Memangnya dia pikir ini salah siapa?
"Ini salahmu karena ikut melibatkannya. Harusnya kau tidak membawa Hinata kemari dan memaksanya menggunakan kemampuan yang ia miliki!"
"Tidak ada yang memaksanya, Naruto. Dia melakukannya karena dia ingin membantumu." Yahiko menjawab tenang.
Kebalikannya, Naruto makin kesal.
"Tutup mulutmu, sialan! Kau hanya memanfaatkan hubungannya denganku demi keuntungan sendiri. Aku tahu kau bekerja sama dengan keparat Otsutsuki! Jadi jangan membual seolah kau berpihak padaku dan berharap aku meladeni omong kosongmu." mana bisa Naruto percaya begitu saja? Akatsuki telah dengan lancang membawa Hinata pergi. Dan sekarang dia berkata seolah Akatsuki melakukan itu untuk dirinya. Kalau Yahiko mau memanipulasi, sebaiknya dia cari orang lain saja. Naruto enggan masuk perangkapnya.
"Dengar, aku tidak berpihak pada siapapun. Tidak kau, tidak Otsutsuki, tidak pula pada pihak manapun. Aku berperan dalam mengetuai organisasi dan Akatsuki memilih netral. Kami tidak membela yang lemah, dan tidak bersekutu dengan pihak yang menang. Kami adalah penyeimbang." Yahiko membantah. Ia tidak peduli betapa buruknya prasangka Naruto terhadapnya. Tapi pemuda pirang itu perlu tahu bahwa tindakan yang Akatsuki ambil tidak berdasarkan keuntungan pihak tertentu. Sebagai mantan anggota, Naruto seharusnya mengerti. Hanya saja bocah itu mungkin terlalu marah untuk dapat memahami situasi. "Konoha tidak sedang dalam kondisi stabil dan menjadi sasaran perang bagi wilayah lain. Jika Konoha kalah, kemudian Suna memutus aliansi, keadaan akan semakin kacau. Yang terburuk, Konoha akan hancur seperti Ame dan Uzushio." Naruto tersentak. Mungkin akhirnya pemuda itu menyadari apa yang ia maksud. "Di sisi lain, meskipun Iwa kalah, mereka masih mendapat dukungan dari Kumo dan Kiri. Tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Itu keputusan terbaik yang bisa diambil saat ini."
"Tapi bukan berarti Hinata harus terlibat! Jika para petinggi wilayah lain tahu, mereka akan ikut memburu Hinata! Pikirmu berapa banyak orang yang gugur karena informasi yang Hinata berikan? Gadis itu akan bunuh diri kalau tahu kenyataannya!" Naruto memekik. Salah satu alasan yang membuatnya tak setuju Hinata membantu adalah karena ia tahu Hinata akan terluka. Gadis itu akan menyalahkan dirinya sendiri untuk setiap akibat buruk yang timbul karena informasinya. Naruto tak ingin melihat Hinata menderita. Ditambah, jika benar Hinata menjadi target buruan, Naruto tidak yakin bisa melindunginya. Kenyataan bahwa Akatsuki berhasil membawa Hinata sudah cukup membuatnya marah. Naruto merasa gagal melindunginya. Ia tidak mungkin membiarkan hal semacam ini terjadi lagi!
Di sisi lain, Yahiko paham apa maksud Naruto. Tapi baginya alasan itu tidak cukup kuat untuk membuatnya meyesali keputusan yang telah diambil. "Gadis itu satu-satunya jalan tercepat untuk mengakhiri perang. Tidak ada cukup waktu untuk terus bertempur. Dia punya kemampuan dan dia penduduk Konoha. Dan kurasa Hinata sudah tahu tanpa perlu mendengarnya dari orang lain. Dia gadis yang pintar, Naruto. Dia tahu ini adalah perang. Jika tidak membunuh, maka kau yang akan terbunuh. Hinata mengambil keputusan untuk membantumu, dan tidak akan ada yang menyalahkannya. Otsutsuki juga tidak bodoh untuk buka mulut. Mereka tahu betul tidak ada yang akan diuntungkan jika informasi tentang Hinata tersebar. Selain itu, Akatsuki melindunginya. Tidak ada yang bisa menyentuhnya. Organisasi menjamin identitasnya tak terbongkar sekalipun ia telah kembali kepadamu. "
"Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau telah mengambilnya dariku! Konoha telah memberikan Hinata padaku. Tidak satu pun orang yang boleh membawanya tanpa seijinku! Kau tahu itu melanggar perjanjian dan konsekuensinya-"
"Tidak ada konsekuensi, Naruto. " Yahiko cepat menyela, "tidak ada perjanjian yang dilanggar. Toneri Otsutsuki memang memberitahu tentang Hinata dan Akatsuki membawanya. Tapi kami tidak memisahkannya darimu. Organisasi tidak mengijinkan Toneri atau siapapun mendekati gadis milikmu. Dan kami mengembalikannya padamu dalam keadaan utuh."
"Utuh?" Naruto mendengus. "Hinata baru saja menolak pulang dan kami bertengkar. Itu semua karena kau memanipulasi pikirannya dengan memanfaatkan hubungan kami! Oh, kau juga tidak lupa perlakuan lelaki brengsek yang kuhajar kemarin, kan? Bisa-bisanya kau berkata 'mengembalikan dengan utuh', padahal tindakanmu inilah sumber masalahnya!"
"Tidak, kau salah. Aku memang harus minta maaf terkait perlakuan Hidan padamu. Dia anggota baru dan tidak mengerti situasinya. Tapi mengenai Hinata yang ingin menetap, itu persoalan lain. Kau tidak bisa menyalahkanku karena kalian bertengkar. Akar permasalahan kalian adalah kau yang tidak mau jujur dan terus mengabaikan pendapatnya. Dengan kata lain, itu murni salahmu."
"Apa katamu?" Naruto melempar tatapan tajam. Apa lelaki itu baru saja bilang itu salahnya?
"Persis seperti yang kau dengar." Yahiko menjawab mantap. Ia menatap balik Naruto tanpa keraguan. "Aku tak bisa membiarkanmu melempar kesalahan padaku sementara kau sendiri tidak menyadari apa salahmu. Dan aku mulai kesal karena otakmu begitu tumpul."
"Hah?!" Naruto tampak tersinggung, tapi Yahiko mengabaikannya.
Lelaki itu mendekat ke arah kursi kecil di sudut ruangan dan mendudukkan diri dengan nyaman di sana. Ia tidak yakin Naruto yang kepekaannya begitu tipis itu mampu memahami maksudnya dalam waktu singkat. Dengan kata lain, mereka akan bicara panjang lebar. Pantang untuknya menyerah sebelum bocah pirang itu tahu kesalahannya. Terlepas dari interaksi dingin mereka, Yahiko selalu menganggap Naruto sebagai saudara. Tiap melihat bocah itu dalam masalah, ia tidak bisa membiarkannya. Mungkin karena Naruto banyak mengingatkannya pada dirinya sendiri.
"Sekarang biar kutanya padamu. Apa kau menyukai gadis itu?"
"Kenapa tiba-tiba membahasnya? Itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Memang tidak. Tapi ini berhubungan dengan kau dan gadis itu. Dan kesalahanmu berawal dari sana."
"Apa maksudmu? Kau ingin bilang bahwa menyukainya itu salah?"
Yahiko menggeleng, "Bukan begitu. Sebaiknya pertanyaannya di ubah. Apa kau pernah memberitahu Hinata kalau kau menyukainya?"
Naruto mengerjap pelan, "Mengapa aku perlu memberitahunya?" katanya tak mengerti.
Dan untuk kesekian kalinya Yahiko menghela napas. Ia tidak tahu harus senang atau prihatin karena dugaannya tepat.
Naruto, anak itu sangat payah jika menyangkut tentang hubungan dan perasaan. Baginya perhatian, rasa suka, dan cinta adalah hal yang asing. Sesuatu yang hampir tidak pernah dia dapatkan di lingkungan yang membesarkannya. Dia tumbuh sendiri, hidup berpindah-pindah, dan menjalin hubungan singkat dengan orang yang berbeda-beda. Bahkan jika ada yang memberinya perhatian, Naruto tidak punya cukup waktu untuk memahaminya. Itu sebabnya Yahiko tidak bisa menyalahkannya. Ia tidak bisa menghakimi seseorang yang seumur hidupnya hanya dididik untuk bertahan hidup dan mengejar ambisinya.
"Aku mengerti kalau kau lebih memilih menunjukkan rasa sukamu dengan tindakan dan perlakuan protektif. Tapi Hinata tidak sepertimu, Naruto. Dia hanya gadis biasa. Dia mengharapkan jawabanmu untuk memberinya kepastian. Kalau kau terus diam saja, Hinata hanya akan berpikir kalau kau mengabaikannya. Semakin kau mencoba melindunginya, semakin dia merasa kau menjauhinya."
Naruto terdiam. Tidak ada alasan untuknya membantah Yahiko. Semua yang dikatakan lelaki itu terasa benar.
"Tapi aku… hanya ingin dia baik-baik saja." pada akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan.
Sebenarnya Naruto tidak berharap banyak. Cukup dengan Hinata yang tersenyum menyambut kepulangannya, merangkai bunga dengan ceria, dan hidup nyaman di rumah kecil mereka. Itu saja. Kalau ditanya apa Naruto menyukai Hinata? Jawabannya, ya. Naruto akui ia menyukai Hinata. Entah sejak kapan, tapi ia merasa begitu terikat dengan gadis itu. Satu-satunya hal yang mencegahnya mengatakan perasaannya pada Hinata adalah… ketakutannya melihat gadis itu terluka. Naruto bukan orang baik. Ia punya banyak masalah. Kehidupannya seolah hanya membawa petaka. Ia takut Hinata terlibat lebih jauh dan akhirnya dalam bahaya.
"Aku tidak ingin dia masuk kehidupanku, tapi aku tidak bisa melepaskannya." gumamnya miris. "Dia berkata bahwa dia akan menyusulku mati, padahal aku belum menyatakan perasaanku padanya. Entah kenekatan macam apa yang akan ia lakukan jika aku mengaku. Itu membuatku takut setengah mati."
"Itu tanda dia menyukaimu dengan tulus." Yahiko menyahut. "Kau masih punya kesempatan untuk memulainya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."
"Tapi bagaimana kalau hubungan itu nantinya malah membuat Hinata menderita? Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan mutlak saat aku masih berperang. Dan tidak ada yang lebih kejam daripada kebahagiaan semu."
"Kalau begitu biarkan dia memilih. Cobalah membuka diri, ceritakan tentang dirimu padanya. Hubunganmu tidak kau jalin sendiri Naruto, ada dua orang yang menjalaninya. Kau, dan gadis itu. Pada dasarnya dia juga sudah menderita karena kau terus mendiamkannya. Ini satu-satunya kesempatanmu, memilih mencoba segala kemungkinan, atau diam dan menyesal belakangan."
"Kau menakutiku."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Yahiko mengangkat bahu. Ia berdiri dari kursinya dan bersiap pergi. Kalau Naruto sudah mengerti, berarti urusannya sudah selesai. Sekarang tinggal bagaimana keputusan bocah pirang itu.
"Hei, Yahiko…"
"Apa?" Lelaki itu berhenti di ambang pintu. Kepalanya berputar dan menjumpai Naruto yang menatap ke arah lain.
"Itu… hanya mau bilang… terimakasih."
Yah, kalau Naruto bisa berterimakasih, dia pasti sudah jauh lebih tenang. Apalagi yang lebih bagus selain berpikir dengan kepala dingin?
Sudut bibir Yahiko naik, "Itu gunanya keluarga." dan dengan itu dia pergi.
Naruto mematung. Perasaan bersalah mendadak menyergapnya. Selama ini ia hanya menjadikan Akatsuki sebagai bagian masa lalunya yang kelam. Tapi Yahiko, lelaki itu tidak pernah meperlakukannya dengan berbeda. Bagi orang itu, semua anggota organisasi ibarat keluarga. Dia punya rasa peduli yang tinggi dan tanggungjawab yang kuat. Yahiko itu pribadi langka dalam sisi gelap dunia mereka. Naruto saja yang seenaknya menganggap lelaki itu punya maksud buruk. Mau bagaimana lagi, Naruto tidak pernah memiliki kesempatan untuk tahu bahwa ia diperhatikan. Jika ia tidak bertemu Hinata, tidak menjalin hubungan dengannya, Naruto tidak akan pernah tahu emosi semacam ini ada. Dan mungkin bukan hanya Yahiko saja. Mungkin Sakura, Tsunade, Shizune, Jiraiya, Nagato, Konan, dan anggota Akatsuki lainnya, juga orang-orang yang pernah ia kenal, semua dari mereka mungkin tidak selalu bermaksud buruk padanya. Bahkan Kyuubi, astaga, Naruto enggan memikirkannya, meskipun ia tahu, meskipun ia sadar, bahwa lelaki misterius itu tidak selalu menjahatinya. Namun Naruto juga tahu bahwa kenyataan kerap kali membuatnya kecewa. Karena itulah, untuk sekarang ia akan jujur pada Hinata saja. Ia akan mencoba mempercayainya, pada gadis yang ia sukai, pada gadis yang rela mengorbankan diri untuknya.
"Hinata."
.
.
.
To be continued.
.
.
.
Terimakasih banyak sudah membaca dan mengikuti fanfict ini, terlebih untuk yang follow, fav, dan review! Jumpa lagi di chapter selanjutnya!
Bagi Author manapun, apresiasi pembaca selalu jadi semangat. So,
Mind to Review?
