Chapter 21
.
.
.
Pye jal? Aku telat updatenya.. aku berusaha cepat, tapi dua minggu kena tifus ma cidera tulang blakang kambuh.. kan ngenes ya tidak bisa ngapa-ngapain..
Banyak ide di otak tapi menguap begitu saja. Ketika aku mencoba menulis, eh.. rupanya tanganku sulit bergerak...
.
.
Pokoknya, dengan kebesaran hatiku, aku akan berusaha sebaik yang aku bisa.. terimakasih sudah membaca, mampir, review... semua itu sangat berharga untukku...
.
.
Oh iya, buat Sakura]s Love Storynya masih on the way... sabar...
.
.
Ini tak banyak, tapi.. aku menyukai chapter ini... Kalian bisa bilang ini adalah END PART 1
.
.
.
Dozo minna...
.
.
.
LIKE A FOOL
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku no Gaara,
Namikaze Naruto, Hinata Hyuga, Ino Yamanaka, Uzumaki Karin, Shimura Sai, Neji Hyuga, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
Cameo cast: Hyakuya Yuuichirou, Hiragi ShNARUTOa, Mikasa Ackerman, Eren Yeager. Mugiwara no Luffy… Nanti ada juga yang lain. Maaf minjem-minjem karakter anime tetangga.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
Genre: Frienship, romance, hurt, humor, comfort
.
Rated: M, Ecchi? Harem?
memang nanti ada adegan rada dewasa sedikit, tapi tidak sampai rated M yang bahaya. Hanya membuat FF yang kiranya tak merusak otak…?XD
sok alim jarene…
rapopo…
.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC, rada gemblung, XD
ALUR SINETRON
.
.
===========ITADAKIMASU==========
..
.
.
.
.
...TIME SKIP...
...10 TAHUN KEMUDIAN...
Kyoto Rail Station pukul 10.00 pagi..
Harunya musim semi...
Musim semi adalah musim penuh keindahan dimana bunga Sakura bermekaran. Sudah atau butuh kelanjutan? Butuh puitisasi untuk melengkapinya? Haru no Sakura... sakura musim semi.. indah dan menawan.. tersapu angin dan berterbangan.. melayang jauh menghiasi awan.. satu per satu berjatuhan.. menyapa bumi tanpa kesakitan.. Tak perlu belakangan atau bahkan rebutan.. semua sudah kehendak alam.. siang ataupun malam.. berguguran atau tenggelam... bukan hal asing meski awam.. ini adalah maha karya Tuhan...
.
.
Seorang laki-laki beranjak dewasa mondar mandir kesana kemari. Mata hazelnya memfokuskan targetnya. Dimana dia? Dimana? Dimana? Lari kesana, tidak ada! Balik kesini, tidak ada! Di ujung lorong itukah? Tidak ada!.. Mungkinkah disana? Di taman, di depan stasiun kereta? Juga tidak ada!.. Ia menyeka keringatnya, sudah hampir 20 menit ia mencari, tapi nihil, ia sama sekali belum menemukannya. Dimanakah sosok yang ia cari itu? Kenapa selalu seperti ini? Ia hanya bisa merutuki diri. Ia menyesal karena telah membuat kesalahan yang berulang. Jika ia paham konsekuensinya, harusnya ia tak perlu melakukan hal yang sama, kan? Lagian ia adalah seorang yang sudah dewasa, harusnya juga sudah bisa berfikir lebih jernih lagi. Apalagi menyangkut soal anaknya sendiri. Sebagai seorang ayah, ia masih perlu banyak belajar. Anaknya itu memiliki banyak ekspresi dan terlalu aktif. Keingintahuannya selalu membuatnya kewalahan. Anaknya tumbuh berbeda dengan anak seusianya. Anaknya itu bisa dibilang, terlalu jenius di banding yang lain. Ia tak seharusnya berdebat dengan anaknya tadi. Anaknya sudah beranjak 10 tahun, sudah bisa merasakan banyak perasaan. Didukung dengan otak jeniusnya, tentu saja anaknya itu sudah bisa memikirkan banyak hal.
"Sarada, kau dimana? Maafkan ayah..." Gumamnya beberapa kali sambil masih berlarian kesana kemari mencari anaknya, namanya Sarada.
Laki-laki beranjak dewasa, usia 28 tahun itu adalah Sabaku no Gaara. Mantan juara tennis tingkat nasional di SMA. Ayah satu anak ini sedang merintis perusahaan di bidang kontruksi bangunan, dengan dirinya sebagai arsiteknya. Sangat tampan dengan rahang yang semakin tegas. Jauh berbeda dengannya saat di SMA, kini ia terliat jauh lebih bijak.
Bijak apanya? Gaara bahkan merutuki dirinya yang sempat bertengkar dengan malaikat kecilnya itu. Dari semua kesalahan yang pernah ia buat, jika menyangkut soal putrinya, ia pasti merasa sangat, sangat bersalah. Rasanya ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Seperti sekarang ini, ia bertengkar dengan anaknya, anaknya marah lalu kabur, ia sudah mencarinya begitu lama, bahkan sampai menggunakan jasa mikropon stasiun tapi tetap saja ia belum bisa menemukan anaknya.
Stasiun utama Kyoto itu cukup luas, tapi Gaara yakin ia pasti akan menemukan anaknya. Anaknya itu jenius, mungkin saja Sarada bersembunyi? Memang sudah seperti itu. Biasanya akan membaik, tapi tidak tahu kenapa kali ini berbeda. Sarada justru menghilang cukup lama.
.
.
Flash back on.. 20 menit yang lalu..
Gaara menghampiri anaknya yang duduk di bench mengatakan jika kereta akan datang dua jam lagi. Kereta yang ia targetkan rupanya sudah penuh, terpaksa ia harus ikut kereta selanjutnya.
"Sarada, sesampainya di Tokyo nanti, kita akan menemui paman Naruto dan bibi Ino. Apa Sarada kangen dengan mereka?" Tanya Gaara.
"Hn. Tentu saja, ayah.. aku kangeeen sekali dengan paman Naruto, aku akan menunjukkan nilai-nilaiku yang sempurna di ujian kemarin. Paman Naruto sudah berjanji padaku kalau nilaiku bagus, dia akan mengjakku ke kantornya." Jawab Sarada dengan semangatnya. Ketahuilah, Sarada itu fans berat Naruto yang kini mencoba peruntungan di departemen kementrian Jepang. Tidak menyangka, kan jika si dobe akan menjadi sosok seperti ini?
Sarada selalu menunjukkan semangat dan antusiasnya pada banyak hal baru. Dia ingin tahu banyak hal. Cepat belajar. Ingatannya tajam. Kesana kemari seperti tidak mengenal lelah...
Jika seperti ini, Gaara jadi ingat sosok Sakura yang penuh semangat. Sakura ya... Rasanya ada yang panas di jadi ingat masa lalu. Indah dan menyesakkan di saat yang sama. Sarada memiliki karakter dominan Sakura. Bisa sangat cerewet dan aktif. Tapi kadang bisa juga nunjukkin sifat dinginnya, sangat mirip dengan Sasuke, ayah kandungnya. Gaara tidak pernah menyangkalnya atau mencoba menyangkalnya, nyatanya memang secara fisikpun, Sarada sangat mirip dengan Sasuke.
Melihat ayahnya yang terdiam, Sarada memegang lengan Gaara.. "Ayah..."
"Ah... Maaf Sarada, ayah jadi melamun..."
"Ayah teringat Mama ya?"
"..."
"Ayah...?"
Gaara menggeleng... "Mamamu akan selalu di hati kita.." Gaara mengelus pucuk kepala Sarada lalu tersenyum.
"Jika bukan karena orang itu, Mama tidak akan meninggalkan kita." Suara Sarada terdengan sarkastik jika menyangkut 'orang itu'.
"Sarada, kau tidak boleh berbicara seperti itu! Dia juga ayahmu.." Yang dimaksud adalah Sasuke, ayah kandung Sarada.
"Jika dia ayahku, dia tidak akan membuat aku dan mama berpisah!" Sarada naik pitam. Kekesalannya itu memang bukan hal yang tak berdasar. Ia sangat mengerti. Tentu saja dalam takaran sosok Sarada, anak kecil yang baru menginjak kelas 5 SD.
"Ketahuilah Sarada, ini bukan kesalahan sepihak ayahmu. Takdir yang membuat seperti ini..."
"Jangan menggunakan kata yang sulit dimengerti anak kecil, Ayah!"
Gaara memang tidak bisa menjelaskan secara gamblang. Dia kesulitan. Dia bingung harus bagaimana. Menangani Sarada dalam berdebat adalah bukan tandingannya. Anaknya memang jenius, tapi ia harus ingat, bagaimanapun itu, sejenius apapun itu, Sarada itu masih bocah SD! "Maafkan ayah sayang... Tapi, kau tidak boleh melampisakan kemarahanmu pada ayahmu itu! Jika nanti kita bertemu dengannya, ayah ingin kau menyapanya dengan sopan" Gaara memegang kedua pundak Sarada... "Mengerti?"
Sarada menangkis kedua tangan Gaara dari pundaknya.. "Kenapa ayah selalu memaksaku mengakui orang itu sebagai ayahku? Orang itu adalah orang jahat yang membuat mama tidak bersama kita!Orang itu adalah penyebab mama meninggalkan kita!" Sarada bangkit dari duduknya.
"Mama tidak meninggalkan kita, Sarada.."
"Tapi nyatanya mama tetap pergi.. Hiksss..." Sarada langsung mengusap air matanya, ia tak ingin membuat ayahnya ikut bersedih.. Ia beranjak pergi.
"Sarada kau ingin kemana?"
"Toilet."
"Ayah akan mengantarkanmu..."
"Tidak usah, toiletnya hanya berbelok di lorong itu." Memang benar, di tembok ujung sana ada tanda panah bertuliskan 'toilet'.
"Tapi.."
"Ayah mau mengintip ke toilet wanita?"
Gaara terperangah.. astaga.. anaknya memang penuh kejutan tak terduga. Sebenarnya darimana kata-kata seperti itu Sarada dapatkan? Naruto? Yuu?... "Maafkan ayah, Sarada... Ayah kembali membuatmu kesal..."
Anaknya sudah berlari menuju arah toilet. Gaara merunduk dan mendesah panjang. Berdebat dengan Sarada itu jauh melelahkan daripada berdebat dengan Sakura dulu. Ia memang pasti kalah dengan keduanya, namun terasa penuh kenangan.
Gaara, Naruto, Ino, dan Yuuichirou tidak menyembunyikan apapun soal kebenaran ayah Sarada. Mereka berfikir jika hal seperti itu bukan hal yang perlu disembunyikan. Ini demi mental Sarada. Mereka hanya tak ingin jika semumpama Sarada mengetahui dengan sendirinya dan menganggap jika mereka telah membohonginya. Itu pasti akan jauh lebih menyakitkan.
Namun, rasanya prediksi para orang tua baru ini salah, nyatanya Sarada justru menujukkan sikap memberontaknya. Sarada melampiaskan apapun yang terjadi pada hidupnya saat ini adalah hasil dari kesalahan ayah kandungnya, Sasuke. Sarada enggan mengakui ayah kandungnya. Jangankan itu, sampai saat inipun, Sarada tidak pernah menyebut nama Sasuke lewat bibirnya.
Gaara hanya bisa mencoba memahaminya, anaknya masih kecil, ia hanya perlu perlahan-lahan membuat anaknya mengerti. Ia yakin seiring berjalannya waktu, Sarada pasti akan memahaminya.
Pertanyaannya, jika suatu hari nanti Sarada memahami siapa ayah kandungnya, apa Sarada akan meninggalkannya?
Memikirkan kemungkingan seperti itu terasa menyakitkan. Rasanya seperti ditinggalkan untuk kedua kalinya.
.
.
Flashback off...
.
.
.
Depan toko ice cream...
Sarada berjalan sambil menggerutu. Ia merasa sangat kesal. Sangat kesal jika menyangkut ayah kandungnya. Kenapa semua orang selalu membicarakan ayah kandungnya yang katanya sangat hebat itu. Katanya sangat tampan itu. Katanya sangat jenius itu. Katanya sangat kaya itu... Katanya bla bla bla... Dalam hatinya, jika memang ayah kandungnya sehebat itu, lantas kenapa ayah kandungnya tidak bersamanya? Kenapa ayah kandungnya tidak menjenguknya? Kenapa ia bahkan tidak pernah melihat langsung sosoknya?
Maa, Sarada bahkan enggan melihat foto ayah kandungnya sendiri. Ia akan menutup telinga saat ada yang berusaha menyebut nama ayah kandungnya. Baginya, ayah kandungnya adalah penyebab ibunya tidak lagi bisa bersamnya. Ayah kandungnya adalah penyebab ibunya menderita. Doktrin pemikiran seperti itu sudah Sarada tanam dalam-dalam dalam pikirannya. Meski ayahnya dan paman-bibinya mencoba mencabutnya, itu akan sangat sulit.
Sarada sungguh menolak ayah kandungnya masuk ke dalam hidupnya meski ayahnya sendiri berusaha memasukkannya.
"Selalu orang itu, jika ke Tokyo nanti ayah mencoba mempertemukan aku dengan orang itu, aku akan kabur. Aku akan pulang ke Kyoto sendiri! Dengan begitu, aku yakin ayah pasti akan menurutiku, ayahkan sangat menyayangiku, ia tidak akan tega jika aku ngambeg... Maafkan aku, ayah.. aku hanya tidak bisa menerima orang itu!"
Sarada mendekati toko ice cream yang ada di komplek bangunan stasiun itu, ia membeli tiga bungkus ice cream coklat. Ia membayarnya dengan uang cash pemberian ayahnya. Ice cream coklat adalah kesukaannya. Jika hatinya sedang kesal, maka ia pasti akan membeli ice cream coklat untuk membuat suasana kembali nyaman.
"Arigatou gozaimasu, Obaa-san.." Sarada berbalik dan meninggalkan toko itu. Sarada berjalan sambil menunduk karena mencoba mengambil ice creamnya yang ada di dalam keresek. Saat itupula, ia tak sengaja menabrak seseorang di depannya... "Gomenasai..." Sarada menoleh ke arah orang yang ditabraknya.
Satu kata. Tinggi.
Orang yang ia tabrak sangat tinggi, sedikit lebih tinggi dari ayahnya, Gaara. Lebih kurus dari ayahnya juga. Dan... tampan. Tentunya dalam takaran matanya. Walau ayahnya juga tampan sih. Ia ingin meminta maaf pada ayahnya karena saat ini ia melihat ada manusia lebih tampan dari ayahnya.
Saradanya hanyalah anak kecil polos yang berkata jujur.
Laki-laki tinggi itu tertunduk dan mengambilkan kresek berisi ice cream Sarada yang terjatuh ke lantai. Satu ice cream di tangan Sarada, satu di dalam keresek, dan satunya lagi ada di lantai, keluar dari kereseknya. Laki-laki itu mengambil satu ice cream yang keluar dari kereseknya. Dingin. Sensasi itu menjalar di permukaan ujung jemarinya. Ia menatap ice cream itu. Rasa coklat. Aah.. tasa coklat ya? Rasanya seperti... hmm... anak kecil memang sangat menyukai rasa coklat.
"Ini.." Kata laki-laki tinggi itu.
"Te-terima kasih banyak, paman. Ano... go-gomenasai karena membuat baju paman kotor terkena ice creamku.. "Sarada merunduk. Ia merasa tidak enak karena sudah menumpahkan ice cream coklat ke baju laki-laki tinggi itu.
Laki-laki tinggi itu memeriksa baju yang anak kecil di depannya maksud. Memang benar ada noda ice cream coklat di sana. Maklum saja, ice cream itu adalah ice cream cup, sangat mudah terbuka... "Ini hanya terkena sedikit, tidak apa-apa.."
Sarada mengambil sapu tangan dari dalam tas gendongnya. Ia lalu mengelap ice cream yang ada di baju itu. "Maaf paman, sapu tanganku tidak banyak berguna. Nodanya tidak hilang..."
"Paman sudah bilang tidak apa-apa, kan?" Laki-laki tinggi itu celingak-celinguk kesana-kemari.. "Kau sendirian?"
"Tidak, aku bersama ayahku. Ayahku seorang polisi. Dia sedang menunggu di bangku sebelah sana..." Jawab Sarada mantap.
Laki-laki tinggi itu hanya nyegir. Entah kenapa, rasanya ia ingin tertawa, ia tahu jika anak kecil di depannya itu sedang berbohong. Ia hanya penasaran bagaimana orang tuanya mengajari anaknya saat berbicara dengan orang asing. Bagaimanapun dulu ia juga pernah kecil, ia familiar dengan kata-kata ini. Jadi... ingin bermain sebentar... "Nah, siapa namamu, nak?"
"Ayahku bilang tidak boleh memberitahukannya pada orang asing.."
Tuh kan, sudah ia duga jika gadis kecil ini tidak akan mudah memberitahukannya. "Apa paman terlihat seperti orang asing yang jahat?"
"Iya.."
Perempatan langsung muncul... sabar... "Benarkah?"
"Iya, pamanku bilang, orang yang merokok adalah orang jahat. Ayahku dan pamanku tidak merokok."
Orang jahat ya? Ia hanya bisa tersenyum... ia lalu mematikan rokoknya dan membuang ke tempat sampah.. Harusnya ia memang tak boleh merokok di depan anak kecil. Sesungguhnya ia baru saja keluar dari ruang smooking area... "Kau mendapat didikan bagus dari keluargamu, nak..." laki-laki tinggi itu mengelus pucuk kepala Sarada. Ada perasaan menentramkan. Seperti slow motion yang indah.. aaahh, rupanya rambut gadis kecil ini sangat halus.
"Kereta api Tokyo Express 21 akan berangkat dalam 5 menit lagi, semua penumpang dimohon segera masuk ke kreta..."
"Sudah ada peringatan rupanya.."
"Paman akan pergi ke Tokyo?"
"Iya. Paman tinggal di sana.."
"Aku juga akan ke sana."
"Benarkah?"
"Hai. Menjenguk bibiku yang mau bertunanagan..."
"Hmm, kalau kita bertemu lagi, bagaimana kalau kita berkenalan? Paman ingin tahu siapa namamu.."
"Baiklah, aku akan membawa ayahku juga..."
"Eh, bawa ayahmu juga ya.. Padahal paman ini bukan penculik anak kecil loh.."
"Paman masih terlihat mencurigakan.. Wajah paman itu terlihat licik.."
Njirr, anak kecil ini... haiiish... "Haha, kejam.. Baiklah, sampai jump..."
"Ini!" Potong Sarada cepat. Ia memberikan ice cream coklat kepada laki-laki tinggi itu. "Permintaan maafku dan bukti janjiku pada paman. Saat kita bertemu lagi, aku akan memberitahu siapa namaku pada paman.."
"Janji..?"
"Janji..."
Laki-laki tinggi itu tidak menyangka jika gadis kecil ini akan mempercayainya, bahkan membuat janji dengannya. Walau gadis kecil itu tidak mempercayainya, namun nyatanya berbeda. Gadis itu hanya mencoba melindungi diri. Dia cerdas.
"Jaa.."
"Bye bye, paman..." Sarada melambaikan tangannya. Setelah paman itu menghilang dari pandangan matanya, ia baru sadar jika ia telah melakukan kesalahan besar... "HEEEEEEE... apa-apaan aku ini? Apa yang baru saja aku lakukan? Aku membuat janji dengan orang asing... Aku akan dimarahi ayah..."
"SARADA!"
"A-ayah..."
Gaara berjalan cepat menuju Sarada. Sarada memegang roknya. Ia gemetaran. Ayahnya terlihat sangat marah. Ia izin ke toilet tapi ia justru keluyuran tidak jelas. Ayahnya pasti mencarinya kesana-kemari. Dan lagi, apa ayahnya melihat ia berbicara dengan orang asing?
Gaara semakin dekat dan syuuuuuttttt... memeluk sarada dengan sangat sangat eratnya...
"Jangan tinggalin ayah!"
"A-ayah.."
Gaara mengeratkan pelukkannya.
"Jangan menghilang seperti ini, maafkan ayah.."
"A-ayah, se-sesaaaak..." sarada bahkan sulit bernafas karena ayahnya memeluknya begitu erat.
Gaara yang baru sadar langsung meregangkan pelukkannya... "Maaf..."
"Ayah tidak salah, aku yang keterlaluan. Maafkan aku, ayah..."
Gaara menggeleng... "Sarada punya hak untuk memberontak... Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu, sayang..."
"Yang terbaik untukku adalah ayah seorang. Ayahku hanya satu, ayah Gaara..." Sarada memeluk Gaara dengan sangat erat. Ia bahkan sampai menangis sesegukkan.
Gaara tahu, ini memang sangat sulit untuk Sarada. Ia memang harus berusaha. Sarada itu keras kepalanya melebihi ibunya, Sakura. Jika sudah memiliki pendirian, maka akan sulit sekali untuk dibengkokkan.
"Maafkan aku, Sasuke... Untuk sesaat, aku menikmati kebahagiaan ini..."
.
.
.
Like a Fool
.
.
.
Di dalam Kereta menuju Tokyo,,,,,,..
"Kau kemana saja? Merokok lama sekali, kau hampir tertinggal..."
"Maaf, Hinata..."
"Dan itu?" Wanita yang bernama Hinata itu menunjuk ke ice cream cup bergambar imut yang menarik di matanya.
"Ah, ini?... Seorang gadis manis tadi memberikannya padaku..." Ia lalu tersenyum membayangkan apa yang terjadi tadi.
"Jangan mencoba selingkuh, Sasuke!"
Yap.. laki-laki tinggi itu adalah Sasuke. Uchiha Sasuke, si bungsu Uchiha yang breng-uppz-sek itu...
"Aku tidak akan pernah selingkuh... astaga..."
"Nani?"
"Aku membuat janji merepotkan dengan gadis itu."
"Janji apa?"
"Janji bertemu kembali dan berkenalan."
"Kau tahu kontaknya?"
"Tidak."
"Alamatnya?"
"Tidak."
"Haaah, bagaimana bisa kau membuat janji dengannya? Apa yang ada di otakmu sih, tuan?" Hinata tak habis pikir dengan pria di depannya ini. Sudah 28 tahun loh.
Sasuke lalu menceritakan apa yang terjadi. Hinata hanya melongo ria. Ia merasa sangat heran dan sekaligus blow mind... maksudnya.. ini memang tak sama seperti Sasuke biasanya. Ia tahu Sasuke itu dingin, sangat dingin malahan, apalagi semenjak sakura pergi. Kepribadian Sasuke menjadi berubah-ubah. Cenderung labil. Namun kali ini... bagaimana ya dia harus menyimpulkannya... Sasuke semangat bercerita tentang gadis kecil yang ditemuinya.. menunjukkan ketertarikkan.. Sasuke bahkan bisa tersenyum tulus. Tersenyum ikhlas. Tersenyum seperti... sejenak beban menghilang... terasa ringan kata-katanya.. terasa hidup di telinganya... siapa gadis kecil itu? Apakah itu malaikat yang datang memberi secerca kebahagiaan pada Sasuke?
"Hmm, begitukah? Tokyo itu sangat luas, kalian hanya mempercayakannya pada takdir, kan?... Kemungkinan untuk bertemu kembali sangat kecil.."
"Maa ne..."
Sasuke memakan ice cream pemberian dari gadis kecil itu... manis... sangat manis.. ice cream.. rasa coklat.. dingin.. terasa mengerikan di lidahnya... namun itu... Sakura... Nama itu lagi. Nama yang entah sejak kapan begitu tenggelam ke dalam pikirannya...
"Tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi..."
.
.
.
Dan bersambung...
.
.
.
Aku kira bakal bisa end.. eh malah belum bisa. Hehehhe.. tapi ini udah deket kok.. beneran... jadi kalo aku tulis itu panjang banget, jadi aku potong aja jadi beberapa chapter. Aku kan ingin akhirnya membekas di hati.. yang pro ya pro.. yang kontra ya kontra... ato boleh deh nebak-nebak...
Baiklah...
So...
Bagaimana komentar kalian semua?
.
.
Bye bye...
