Maaf, Matsuno.
Untuk sekarang kami tidak bisa menampilkanmu lagi di sini.
Karamatsu nyaris menjatuhkan telepon rumahnya bersamaan ditutupnya panggilan itu. Pengurus event yang mempekerjakan para musisi buat tampil di kafetaria mewah itu memberhentikannya lantaran sudah menemukan penyanyi yang lebih baik lagi dari dirinya.
Bukannya salah. Dari awal Karamatsu memang tidak dijadikan penyanyi tetap di sana. Namun, jadwal yang diterimanya tanpa kepastian lain dari pihak kafetaria terlanjur membawanya pada angan-angan bahwa ia bisa lebih sukses lagi dan mungkin saja ia akan memfokuskan karirnya di bidang itu.
Sekarang, apa yang karir?
"Heh, habis manis sepah dibuang, ya?" Karamatsu terkekeh, miris. Tiba juga masa di mana ia kehilangan pekerjaan meski itu paruh waktu. Apa anak dari keluarga Matsuno memang paling tak bisa yang namanya bekerja?
Choromatsu muncul dari balik koridor, melihat kakaknya yang membungkuk lemah.
"Kak?" panggilnya penasaran. Karamatsu hanya menoleh tanpa niat.
"Udah, nggak apa-apa. Mungkin rezekimu udah nggak di situ lagi." Osomatsu mengelus pundak adik pertamanya. Mereka sedang duduk-duduk di pekarangan belakang, bersama saudara yang lain juga, lebih tepatnya cuma dua anak tertua yang duduk bersebelahan. Choromatsu agak membungkuk sembari sedikit menekuk lututnya. Di sebelahnya ada Jyushimatsu, berdiri menghadapi kerubungan mereka. Todomatsu berdiri di sisi samping Karamatsu dengan siku yang menopang pada tiang kayu rumahnya. Ichimatsu sendiri berdiri di sekitar depan Karamatsu.
"Nggak apa, lah, Kak. Sambil pakai simpanan yang udah ada, Kakak cari kerja lagi aja," ujar Todomatsu yang jarang-jarang bisa (mau) menghibur.
"Tapi aku udah cocok di situ," kata Karamatsu singkat.
"Tidak semua yang kau suka mesti datang padamu, Karamatsu," ucap Ichimatsu bijak. Karamatsu terdiam sebentar, kemudian mendongak dengan muka tercengang. Adik ungunya itu mulai mengerutkan alis sebal.
"Kamu yang bilang, Dik?" tanya Karamatsu agak pelan, tetapi masih dapat didengar kelima saudaranya.
"Nggak usah bikin kesal, deh. Kau pikir aku tak bisa berucap demikian?" Ichimatsu tersenyum lebar dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Haha." Karamatsu tertawa hambar. Ia melihat rerumputan di bawah kakinya yang mulai meninggi. Osomatsu mengikuti arah pandangnya. Ia menepuk-nepuk punggungnya lagi.
"Udah, udah. Nggak usah sampe larut gitu. Kita-kita juga, kan, sama-sama nggak kerja," ucap lelaki itu biasa.
"Enak banget, ya, kau bicaranya, Osomatsu." Karamatsu meraup muka ke atas hingga belakang rambutnya.
"Ya, habis, kau sudah seperti Choromatsu saja yang sibuk ngomongin pekerjaan, tapi nggak kerja-kerja." Lalu, Osomatsu meralat. "Bedanya, kau kerja beneran."
"Sial. Lihat aja, ya, nanti kalau aku beneran dapat pekerjaan lagi." Choromatsu melipat kedua tangannya di bawah dada. Urat emosi muncul di pelipisnya.
"Kau itu lebih baik diam saja, Choromatsu. Nggak usah sibuk-sibuk mau cari kerja, lah, ngajak cari kerja. Diam, tapi tiba-tiba lamaranmu diterima. Kek abangmu ini, loh. Ditawarin orang yang ada, malah."
"Tapi sudah pergi." Karamatsu berlaku setengah puitis.
"Yang pergi bakal ada penggantinya, Karamatsu." Lelaki ber-hoodie merah itu menepuknya untuk yang terakhir kali. Ia berdiri menghadap Choromatsu. "Main, yuk! Atau ngapain, gitu."
"Kerjaanmu cuma main doang, Kak."
"Macam kalian tidak saja," ledek Osomatsu setengah datar. "Ayuklah … Ngapain gitu. Yuk." Ia berjalan menjauh.
Choromatsu mendekati kakak keduanya. "Osomatsu-niisan benar. Jangan terlalu sedih juga, Kak. Lagian emang bukan pekerjaan tetap," katanya menasihati. "Kalau memang kau sudah sadar benar bekerja itu sebuah keharusan, aku bakal ajak cari lowongan kerja pas kita ada waktu."
"Jadi, menurutmu selama ini aku nggak sadar?"
Choromatsu tertegun. Karamatsu terus terang menanggapinya.
"Ya, bukan." Ia hanya bisa mengatakan itu sebagai balasan. Karamatsu menggeser kepalanya untuk melihat keberadaan Osomatsu. Sudah tidak ada. Ia bangkit dari duduknya, membuat seluruh saudara yang masih berada di dekatnya menengok secara tak sadar.
"Pekerjaan tetap?" tanya Karamatsu. "Kita ini cuma lulusan SMA. Mau berharap apa, kamu, Choromatsu?"
Choromatsu kembali terdiam. Dibanding tertegun, kali ini ia antara percaya tidak percaya mendapati sikap Karamatsu. Lelaki itu membelakanginya, mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
Todomatsu ikut masuk, disusul Ichimatsu mengekor di belakang. Namun, sebelum itu lelaki berambut acak-acakan itu berhenti di sebelah Choromatsu.
"Karamatsu tak salah, Choromatsu," celetuknya. "Sumbumu jangan pendek terus, ah. Nggak lucu kalau masalah lampau kejadian lagi."
Entah Choromatsu harus menerimanya atau tidak. Bahkan, Ichimatsu membelanya? Karamatsu? Yang biasa dia tindas dan paling muak untuk dia lihat itu?
Choromatsu bukannya tersinggung, hanya saja ….
Cuma heran?
Karamatsu sedang bercermin dengan cermin kesayangannya ketika rutinitas tanpa kerja para enam bersaudara Matsuno sedang berlangsung di kamar. Meski tidak berpose yang dikira keren atau terlalu narsis, Karamatsu sangat menikmati waktu untuk menyisir rambutnya berulang, serta melirik dan sedikit menoleh ke kanan dan kiri, memeriksa apakah masih ada yang salah dengan wajah pemuda itu. Tak sekali dua kali juga ia menyentuh pipi serta area mukanya yang lain tanpa maksud pasti.
Choromatsu menyudahi bacaan manga-nya. Ia melihat Karamatsu, tak jauh darinya yang sedang duduk di dekat lemari buku. Ia berdiri dan memasukkan buku yang selesai ia baca pada rak, lalu menghampiri Karamatsu.
"Kak, ada waktu?" tanyanya, sedikit membungkuk.
Karamatsu mendongak. "Hm, iya. Ada apa?"
"Sekarang aja, yuk. Mumpung cuacanya tidak terlalu panas." Choromatsu berharap Karamatsu mengerti maksud ucapannya.
"Oh." Karamatsu meletakkan cerminnya di lantai. Ia berdiri dan menoleh ke belakang. "Aku dan Choromatsu mau keluar. Titip cerminku, ya. Jangan diinjak."
Lalu, setelah mereka tiba di depan pintu, keduanya menoleh (lagi untuk Karamatsu). "Kami keluar dulu," pamit mereka, kemudian berjalan keluar menuruni tangga.
"Ini mau ke mana? Hello Work?" tanya Karamatsu, masih berjalan melalui koridor ke teras depan.
"Iya, coba dulu." Choromatsu membalas sambil sudah duduk untuk mengenakan sepatu, lantas keluar rumah.
Langit putih keabu-abuan seperti mendung, tetapi tidak menampakkan adanya tanda-tanda akan hujan adalah cuaca yang sangat pas untuk digunakan jalan-jalan. Sembari berjalan kaki ke Hello Work, Karamatsu dan Choromatsu juga mencari-cari barangkali ada kertas-kertas tertempel menunjukkan lowongan pekerjaan yang bisa mereka penuhi kriterianya. Di saat mereka tidak terlalu sibuk dan hanya menoleh atau melirik sana sini, Karamatsu bertanya, "Kamu bawa CV?"
"Enggak." Kesannya seperti tidak niat untuk melamar kerja. "Berkas untuk lamaran beda-beda untuk tiap perusahaan. Daripada dibawa-bawa karena pasti ada yang kurang, lebih baik kita cari lowongan yang kita mau dulu."
"Oh." Karamatsu menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, menatap langit. "Waktu kita pertama kali ambisi buat daftar kerja tempo lalu itu, ya, pada nggak bawa, ya."
"Aku bawa," koreksi Choromatsu yang menoleh padanya. "Sampe bawa rencana kerja sama rancangan pendapatan segala lagi."
Karamatsu tertawa. "Buat apa?"
"Ya … kupikir waktu itu, kali aja membantu."
Entah kenapa Karamatsu gemas melihat Choromatsu. Ia berjalan dengan jarak yang lebih dekat dengan adiknya, lalu mengacak rambut si hijau itu dengan satu tangan. "Kamu itu lucu, ya."
Choromatsu berkerut dahi, jengah. "Heh, apaan, sih, kau ini." Ia mencoba menyingkirkan tangan Karamatsu dari kepalanya. "Apa yang kau tertawakan? Seperti paham saja."
Karamatsu masih tersenyum. "Paham nggak paham, aku pengin ketawa aja."
Choromatsu tak membalas apa-apa. Ia hanya melihat kakak birunya dengan lirikan.
Setelah lumayan lama berjalan dan kembali memperhatikan sisi gedung atau apa pun bidang yang bisa ditempel kertas lowongan pekerjaan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya masuk dan mengantre menunggu giliran untuk dipanggil sampai nama salah satu dari mereka dipanggil, yang berujung pada Karamatsu mengekor di belakang adiknya untuk mendengarkan pembicaraan lelaki itu dengan pegawai lawan bicaranya.
"Maaf, lowongan pekerjaan hanya untuk lulusan SMA sekarang sedang tidak ada. Minimal harus lulus perguruan tinggi atau sekolah kedinasan," ucap pegawai yang dihadapi Choromatsu itu. Ia tak sengaja melihat Karamatsu yang berdiri membungkuk di belakang pelamar di hadapannya. Wanita berambut pendek kecokelatan itu pun segera melihat berkas antrean berikutnya.
"Anda Karamatsu Matsuno?" tanya wanita itu. Karamatsu masih pada posisinya, mengangguk. Kebetulan saat mereka dipanggil sudah tidak ada antrean lagi untuk hari ini.
"Maaf." Wanita tersebut berupaya memasang senyum prihatin.
"Choromatsu, kau juga memasukkan pengalaman kerja kita sewaktu mencari uang untuk wanita jejadian Chibita dan Iyami kemarin?" Karamatsu hampir muntah ketika kalimatnya hendak selesai ia ucapkan. Choromatsu ikutan mual melihat wajah kakaknya.
"Sudah, tetapi mereka tidak terlalu menganggapnya. Butuh skill lain lagi." Choromatsu bangun dari duduknya, kemudian memberi hormat. " Kalau begitu, terima kasih sudah melayani kami."
Wanita tersebut juga berdiri dan membalas beri hormat. Di tengah itu, Karamatsu baru tersadar jadi ia agak terlambat melakukannya. Choromatsu kemudian berjalan melewati Karamatsu yang disusul lelaki biru itu setelahnya.
Berjalan beberapa langkah dari Hello Work, tak disangka langit justru sedikit menjadi terik. Choromatsu mengambil topik pembicaraan.
"Aku sebenarnya senang kau sudah mulai ada keinginan untuk bekerja, Karamatsu," kata Choromatsu agak serius. "Apa, ya? Kemarin-kemarin waktu Kak Osomatsu yang sadar malah kau yang gercep menolak duluan."
Karamatsu terkekeh tanpa suara dan membuka mulut. "Ingin sekadar ingin itu nggak bisa. Memang harus ada pikiran duluan. Harusnya, sudah dari kemarin-kemarin juga aku begini." Ia berhenti sebentar. Iya, walau kesannya merepotkan dan melelahkan, siapa dulu yang harus memulai kalau tidak dia?
"Kamu pun satu, Choromatsu. Paling sibuk menyuruh cari kerja, tapi sendirinya nggak kerja-kerja. Nggak salah kakakmu bilang begitu kemarin," ucap Karamatsu yang merujuk ke Osomatsu. "Tiba sudah dapat, malah kamu buang."
Untuk kali ini, Choromatsu tidak tersinggung. Menurutnya, nada bicara Karamatsu biasa saja. Tidak seperti waktu itu yang seakan-akan dibuat lembut sehingga jatuhnya menggurui baginya.
Karamatsu melanjutkan, "Osomatsu juga satu. Bukankah kemarin dia sempat kerja di restoran cina?"
Choromatsu menghela napas. "Biasa, lah. Nggak bisa jauh dari kita."
Karamatsu diam sesaat. "Kok bisa begitu, ya. Segitunya nggak mau menghadapi perubahan."
Pembicaraan mereka berhenti. Beberapa menit kemudian tak terasa bahwa mereka sudah tiba di depan rumah. Setelah masuk, mereka langsung naik ke kamar atas.
"Bagaimana?" tanya Osomatsu yang duduk di lantai bersandarkan kaki sofa, memakan camilan keripik kentang yang mungkin berasal dari kulkas.
"Nggak ada buat lulusan SMA," jawab Karamatsu yang mulai mengambil tempat duduk di lantai.
"Halah, tumben begitu. Biasanya juga karena nggak memenuhi kriteria sama sekali," balas Osomatsu santai.
Karamatsu berbaring membelakangi kakak satu-satunya. "Orang nggak niat kerja macam dirimu ngerti apa, Osomatsu."
Entah mengapa, Osomatsu merasa tersindir. "Apa maksudmu, Karamatsu?" Ia masih menanyakannya dengan intonasi yang agak lembut.
Karamatsu bangun dari telentangnya, berbalik telungkup dengan setengah badan naik menghadap Osomatsu. "Maksudku? Ya, kau itu makin waktu harusnya makin sadar, lah. Jangan jatuhnya malah putar ulang. Kemarin kau sudah sempat kerja, 'kan? Kenapa malah memberhentikan diri?" Karamatsu mengeluarkan isi pikiran yang selama ini juga tak terpikirkan olehnya. "Bukankah kau jadi sama saja seperti Choromatsu yang membuang pekerjaannya? Tapi, kasusmu beda, Osomatsu. Kau kesepian? Ayolah. Memangnya sampai akhir hayat kita nggak bakalan pisah?"
Nada bicara Osomatsu mulai naik. "Apa, sih, Karamatsu? Kenapa tiba-tiba kau begini? Kalau kau memang punya keinginan buat cari kerja, ya, sudah kerja sana. Nggak usah mengurusku segala. Memangnya kau tahu apa mauku?" Ia membalas dengan model serupa.
"Maumu? Maumu itu cuma leha-leha hidup enak enggak mau keluar dari zona nyaman!"
Osomatsu tak sengaja menjatuhkan camilannya lantaran tiba-tiba berdiri. "Kau itu kenapa, sih?! Ada masalah sama aku?!" Berhenti sebentar, si sulung itu menambahkan, "Ngapain, sih, mengomel begitu segala? Kamu ibuku, Karamatsu?"
"Ngapain panggil-panggil aku pakai 'kamu' segala?!"
"Ya, kamu sendiri kenapa panggil yang lain pakai 'kamu'?"
"Ya, mauku begitu. Kau itu kenapa?"
"Kau yang kenapa, Karamatsu!"
Adu mulut itu berhenti. Choromatsu yang sedari tadi masih berdiri di dekat sisi pintu dalam kamar sampai bergeming. Pertengkaran anak-anak tertua bukanlah hal biasa yang bisa dikatakan baik.
"Kenapa?" tanya Osomatsu lagi, lebih kepada suara lirih. Hanya ada tiga tertua yang berada di ruangan semenjak Karamatsu dan Choromatsu pulang. Kata tanya yang diucapkan Osomatsu seolah untuk menanyakan keadaan Karamatsu selama ini.
Keadaan setelah kesembuhannya dari rumah sakit hingga sekarang. Perubahan yang dialaminya. Meski ada waktu di mana antara satu dengan yang lain mencoba melalui waktu sebagaimana mestinya, tetapi hingga detik ini—dan detik inilah, sikap Karamatsu membuat lelaki itu mempertanyakan dirinya.
Karamatsu mencoba menangkap maksud lontaran kata kakaknya, mencari-cari sebuah arti di baliknya. Bukan pemahaman maupun pengertian, namun firasat Karamatsu seperti menyuruhnya untuk mengatakan kalimat ini:
"Kau masih tidak sadar juga?" Balasan Karamatsu tak kalah lirihnya dengan si kakak. "Tidak mengerti juga, Osomatsu?"
Osomatsu tercengang. Pikiran lelaki itu kini kosong sekosong-kosongnya, menjadikannya linglung, terheran, kelimpungan melihat sosok Karamatsu yang kini berdiri di hadapannya. Tatapan matanya seakan tak percaya memandang adiknya yang paling tua beberapa detik. Ia gelisah dengan rasa tak enak yang menghampirinya ini, maka ia berjalan keluar sambil menunduk pelan. Karamatsu sama sekali tidak menengok kepergiannya, alih-alih berkerut kening serta alis karena juga merasa lain.
Banyak rasa lain yang dirasa lain bagi Karamatsu. Ia bahkan tidak mampu untuk menghitung atau mengingat berapa jumlahnya.
Osomatsu memasuki dapur dan termenung di sana, menunduk dengan kedua siku tangan yang jatuh di atas wastafel. Lelaki itu tak tahu lagi. Sadar? Sadar, katanya?
"Kurang sadar apa aku?!" pekiknya tak sampai kamar. Osomatsu semakin menunduk dan meremas rambutnya. Ia benci akan yang namanya kebingungan.
Ia tak pernah bingung. Semua ia lewati hanya dengan pikiran sesaat yang muncul dalam benaknya. Kenapa sekarang ia mesti bingung ia harus apa? Ia harus ap—
Ia benar-benar tidak suka menanyakannya, pun hal-hal itu menjadi penuh di dalam kepalanya. Suara kaki menuruni tangga kuat dan cepat terdengar di telinganya. Osomatsu menarik setengah badannya, berdiri tegak dan di saat kakinya sudah berjalan beberapa langkah, ia melihat Karamatsu berdiri di antara sekat dapur dan ruang keluarga.
"Osomatsu," panggilnya. Osomatsu benar-benar tidak tahu lagi. Ia tak tahu Karamatsu memanggil untuk apa, bahkan ia tak bisa menerka suara macam apa yang sedang didengarnya. Langkah kaki lelaki itu semakin kuat semakin dekat ia berjalan ke arah Karamatsu.
"Aku sudah tidak tahu lagi," ujarnya, persis di samping telinga Karamatsu sebelum pemuda itu benar-benar melewatinya. Karamatsu terbungkam. Tak lama, suara gesekan antara sepatu dan rak karena Osomatsu mengambil alas kaki tertutup itu dengan kasar terdengar, disusul suara langkah yang diciptakan benda sepasang tersebut serta suara pintu yang ditutup kuat.
Karamatsu masih tak bergerak dari tempatnya. Perasaan tak nyaman yang saling bergumul di hati pun singgah. Karamatsu ….
Juga sudah tidak tahu lagi.
Mohon review, kritik dan sarannya! Saya merasa semakin tidak jelas untuk yang bagian ini. :")
