Reply review... Hohohoho...

Fansy Fan: Yeah... surely it is... ^^ Well... that, wait and see... hehehe... ^^

Putri: Ohhh... justru sebaliknya... cerita ini bakal mulai dari chap ini... ^^ Justru ini permulaannya...

Yulius: Owww... gitu, ya? Kalo di sini justru Shu yang ancur... (BOHONG! Just joke!) Iya... tiba2 jadi pengen ke kota Chen Liu...

Mocca-Marocchi: Yups... wkwkwkwk... dan yeah, JOURNEY STARTS!

IMPORTANT NEWS! Ngomong-ngomong, saya ada sebuah kabar buruk. Begini, sodara... sodara semua kan sudah tahu kalo saya ini kuliah di jurusan arsitektur. Dan seperti yang sudah saya pernah bilang ke sodara, motonya arsitek adalah 'SAYA BIASA GAG TIDUR'. Kasihan banget, kan? T-T Jadi begini, sodara. Saya sih sudah berusaha semaksimal mungkin buat nulis seperti biasa. Sayangnya, apa mau ternyata memang nggak kesampaian. Jadi, dengan sangat-sangat-sangat-sangat-sangat menyesal, sodara, saya harus mengumumkan bahwa mulai sekarang, UPDATE BUKAN DILAKUKAN SEMINGGU DUA KALI TAPI SEMINGGU SEKALI SETIAP HARI MINGGU. Sekali lagi mohon maaf, sodara... dan oh please jangan bunuh sayaaa... T-T

Nah, yang penting sekarang, selamat membaca... ^^


Lu Xun

Ternyata percuma. Mengambil keputusan secepat apapun tidak membuatku cepat bisa tidur. Tidak peduli sengantuk apapun aku, aku tidak boleh tidur sekarang.

Malam ini aku akan keluar! Aku sudah muak rasanya terkurung di tempat ini! Sejak terkurung di Istana Wei, aku sama sekali tidak punya kebebasan. Di sini pun tidak lebih baik! Malam ini sudah kuputuskan, aku akan mencari Yangmei, sekaligus pergi ke tempat yang dikatakan T'an Mo itu. Tapi aku bingung... Tempat apa yang dimaksudkannya? Dia bilang tempat di barat. Mungkinkah maksudnya adalah di Kerajaan Barat? Kerajaan... Shu? Mungkin saja! Shu adalah Kerajaan yang paling barat diantara tiga kerajaan yang lain, bukan?

Lalu, tentang tebing dimana senja paling terlihat jelas sedang membunuh matahari... Berarti sebuah gunung yang salah satu bagiannya terdapat tebing. Dan tebing itu menghadap ke arah barat juga. Hmmm... Dimana tempat seperti itu, ya? Aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke tanah Shu. Bagaimana aku bisa tahu dimana tebing yang mengarah ke barat?

Tapi... jujur saja, mendengar perkataan dari T'an Mo itu membuatku cukup ngeri. Senja membunuh matahari... langit berwarna merah darah... Apa yang sedang dimaksudkannya dalam kata-kata itu? Seolah dia bukan cuma berkata tentang tempat itu, tetapi juga... apa yang akan terjadi denganku di sana nanti.

Kuletakkan satu tangan di dadaku. Jantungku berdengup kencang sekali, sampai rasanya sakit. Harus kuakui, aku takut sekali. Lagipula, apa yang dimaksudkan T'an Mo dengan menginginkan seluruh darah dan airmataku? Tubuh dan jiwa serta hatiku? Jika dibandingkan dengan kata-kata terakhirnya yang seperti teka-teki itu, bisa kusimpulkan bahwa dia akan... membunuhku. Dan lagi, kalau memang itu yang akan dia lakukan pada Yangmei, pasti dia juga akan melakukannya padaku, bukan?

Ya, apa yang seharusnya akan terjadi pada Yangmei, akan terjadi padaku.

Aku menutup mata sejenak, berusaha menenangkan diriku. Bukannya perasaan tenang yang datang, aku justru semakin takut. Saat menutup mataku, yang terlihat di sekelilingku hanya kegelapan yang pekat. Rasanya seperti aku terjatuh ke dalam jurang yang tidak ada ujungnya... seperti mimpi buruk!

Segera kubuang jauh-jauh pikiran itu dari kepalaku. Aku berusaha mengingat seseorang, yang sangat berarti bagiku. Yang sangking berartinya sampai aku mengambil keputusan seberat ini. Yangmei... agar dia lepas dari T'an Mo, agar dia tidak selamanya diperbudak kegelapan, agar wajahnya bisa tersenyum lagi...

... aku harus pergi meninggalkan semuanya.

Jadi di sinilah aku. Di sebuah tembok pagar istana aku menyandarkan tubuhku. Penjagaan istana mulai melemah, mungkin karena yang perlu dilindungi sekarang berkurang, dan juga banyak prajurit yang tewas beberapa hari ini. Malam ini aku memutuskan untuk meninggalkan istana ini, dan pada saat yang sama aku melepaskan kedudukanku sebagai Putra Mahkota... bukan, sebagai Kaisar. Entah apa yang akan terjadi sesudah ini padaku, aku tidak tahu.

Tidak ada yang kubawa selain sepotong pakaian rakyat jelata, sedikit uang, dan pedangku serta piao milik Yangmei. Bahkan aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Yang pasti aku tahu, aku harus pergi ke Kerajaan Shu, kemudian mencari tebing yang dimaksud T'an Mo itu. Yahhh... pasti bukan perjalanan yang pendek. Perjalanan ke Shu saja sudah jauh, apalagi jika harus mencari tebing tak bernama itu.

Bahkan cuma untuk keluar dari Istana ini saja rasanya perjalananku sudah sangat panjang. Padahal ini hanya permulaan.

Ahhh... kalau melarikan diri pada tengah malam begini, aku jadi teringat saat Yangmei keluar denganku dari Istana Wu. Kejadian itu rasa sudah bertahun-tahun berlalu, meski pada kenyataannya hanya beberapa bulan saja.

Istana ini jauh lebih luas daripada Istana Wu, tetapi penjagaannya tidak seketat itu. Sekarang aku berada di atas tembok pagar, berlari dengan suara sepelan mungkin agar tidak ketahuan. Rute yang kulalui persis dengan yang kugunakan saat akan menyelamatkan Yangmei dari eksekusinya. Sungguh beruntung aku, bahkan sampai di gerbang terluar saja aku belum ketahuan. Tinggal bagaimana caranya aku melompat turun ke bawah. Dengan ketinggian seperti ini, menggunakan ilmu meringankan tubuh pun mustahil.

Aku beruntung saat itu ada naga biru, yang kutebak adalah Meng Zhang, datang menolongku. Sekarang, rasanya dia tidak akan datang lagi.

Untuk itu, aku sudah mempersiapkan semuanya. Kuambil tambang yang memang kusediakan khusus untuk aku melarikan diri. Sekarang aku membutuhkan pasak, yang sayangnya aku tidak punya. Tapi berhubung aku membawa piao Yangmei bersamaku, aku mengingatkan salah satu ujung tali itu pada salah satu piao, kemudian menancapkannya pada celah sempit tembok yang dibangun dari batu bata besar itu.

Sekarang tinggal bagaimana caranya turun. Di bawah hanya ada dua orang penjaga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dengan berpegangan pada tali ini, aku turun dengan suara seminimal mungkin, begitu terus sampai aku hanya terpisah dua meter dari tanah. Baru sesudah itu aku melompat, mengagetkan kedua orang prajurit itu.

Mereka menoleh kaget, kemudian mengacungkan tombak, tetapi tidak berani menyerangku. "P-pangeran Cao Li?"

"Aku bukan Cao Li." Balasku dengan suara pelan, yang membuat mereka makin kaget. Hei, aku tidak bohong, bukan? Dengan langkah cepat aku berlari ke arah seorang prajurit, sebelum memukul leher belakangnya dan saat itu juga membuatnya pingsan. "Katakan pada para jendral dan mentri itu, Phoenix bukan untuk dikurung dalam sebuah istana."

Sebelum prajurit yang satunya berbuat apa-apa, aku melakukan hal yang sama padanya. Kedua prajurit itu tak sadarkan diri sekarang.

Baru saja aku akan menarik kembali tambang yang kugunakan, tahu-tahu piao itu sendiri sudah melesat kembali... tepat di tanganku! Eh? Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya piao ini milik Yangmei? Dan hanya akan kembali pada Yangmei saja? Kenapa sekarang bisa kembali padaku?

Ah, sudahlah. Bukan saatnya untuk mengurusi ini. Aku kembali melanjutkan perjalananku. Sebelum aku pergi lebih jauh, aku mengarah pada kandang kuda yang ada di luar istana. Untung saja, penjaganya sepertinya kelelahan dan ketiduran malam ini. Dengan mudah aku menyusup masuk dan menemukan Huo Li di sana.

Seperti yang dulu pernah kualami, kuda malas ini enggan untuk bangun. Parahnya, kali ini aku dan dia sama-sama tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Ah! Huo Li, perlukah kau tidur di saat genting seperti ini?

Rasanya kalau boleh, kuda ini ingin kutinggal saja.

Tapi Huo Li sudah menemaniku sejak kecil, bahkan sampai di sekarang. Mana mungkin aku bisa meninggalkannya di tempat ini? Jadi, dengan sedikit memaksa, kubangunkan kuda ini. "Huo Li, bangun!" Bisikku tepat di telinganya. Dia sepertinya kesal, karena sesudah itu dia mendengus. "Sudah, kau jangan protes lagi! Kali ini kita akan pergi selamanya dari tempat ini! Aku tidak janji kita akan kembali ke Wu, tapi yang pasti aku tidak akan kembali lagi kesini. Jadi kalau kau mau ikut, ayo ikut sekarang. Kalau tidak, ya sudah, selamat tinggal!"

Dengan satu ancaman itu, dia langsung mengikutiku, kemudian mengendus-endusi kepala dan leherku seperti merajuk. Sampai di luar kandang kuda itu, barulah aku berbalik dan membelai tenguknya. "Maaf. Kita harus pergi sekarang juga. Kalau tidak, bisa-bisa selamanya kita akan terus dikurung di tempat ini."

Huo Li sepertinya mengerti. Anehnya, dengan kedua matanya yang bulat hitam itu, dia menatapku teliti sekali, dari atas ke bawah, berulang-ulang begitu terus. Aku sampai tidak enak ditatap seperti itu, bahkan oleh kuda sekalipun. "Kalau kau heran, sebenarnya aku kemari menjadi menantu Kaisar, dan bahkan menjadi Putra Mahkota. Itulah alasannya pakaianku terlihat mungkin agak..." Aku mencari kata-kata yang tepat. "... mewah." Kataku pada akhirnya.

Mungkin aku terlihat seperti orang gila berbicara sendiri dengan seekor kuda. Tapi, biarlah. Lagipula di tempat ini hanya aku seorang yang ada.

"Huo Li, kita ke Tiantan dulu, baru sesudah itu perjalanan kita dimulai." Sambil naik ke atas punggungnya, aku memberinya perintah. Sesudah itu, aku memacunya, dan ia pun berlari dengan sangat kencang.

Di tengah malam yang tadinya hening ini hanya terdengar suara derap langkah kaki kuda.

-o-o-o-o-o-o-

Sepanjang perjalanan ke Tiantan, aku menceritakan apa saja yang terjadi padaku, tidak peduli Huo Li mengerti atau tidak, tidak peduli orang lain menganggapku gila. Lagipula, tengah malam seperti ini, mana ada orang yang masih bangun? Selama perjalanan, tidak kutemui satu pun orang.

"... Jadi, Huo Li, sekarang aku sudah bukan siapa-siapa lagi yang tinggal di Istana. Aku jadi seperti pengembara saja." Entah kenapa, otakku memikirkan sesuatu yang lucu. Beberapa bulan lalu, aku, Yangmei dan Huo Li bertemu tiga orang Gaibang bermarga Ruo yang baik hati menolong kami di daerah He Fei. Kalau tidak salah, saat itu aku berangan-angan bagaimana kalau aku menjadi Gaibang. Huo Li malah melarangku mengatakan hal itu, karena takut akan terjadi betulan.

Ternyata, mulai saat ini kehidupanku memang akan berubah seperti Gaibang.

"Hey, Huo Li. Ternyata aku benar-benar menjadi seorang Gaibang, bukan?" Tanyaku bercanda sementara kuda itu mendengus. "Tapi tidak sepenuhnya Gaibang, sih... Sebab biasanya Gaibang berjalan kaki, bukan menunggang kuda."

Tak lama, kami sampai di Tiantan. Tempat itu tidak ada gerbangnya, juga tidak ada penjaga. Tetapi, sama seperti Kunning Gong di Istana Wei, tidak ada satu orang pun yang berani dekat-dekat di tempat itu. Hanya keluarga Kaisar saja yang boleh masuk, dan itupun hanya pada waktu yang sudah ditentukan. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku berani pergi kemari, tetapi kupikir aku akan mendapat bantuan di sini. Lagipula, tempat inilah yang seolah rasanya mengundangku untuk masuk.

Sebaris pohon gu shu yang seperti pagar pembatas itu memberitahuku bahwa mulai dari tempat ini aku harus berjalan seorang diri. "Huo Li, kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana." Pesanku pada kuda itu sebelum turun dari punggungnya. Seluruh barang bawaan dari Istana juga ikut kubawa ke dalam Tiantan, terutama pedangku itu.

Seperti saat pertama kali masuk kemari, ada sebuah gua berbentuk lorong yang sangat panjang dan gelap. Naik ke lorong ini harus sedikit mendaki, karena memang lorong ini dibangun di atas bukit. Aku terus berjalan melewati lorong yang serasa tidak ada ujungnya ini, dengan tangan berpegangan pada dinding yang kasar tempat ukiran-ukiran itu dipahat. Aku bahkan tidak bisa memberanikan diri untuk melihat ukiran-ukiran itu.

Ternyata, kali ini keadaannya jauh lebih buruk daripada di legenda itu.

Pikiranku kembali melayang pada perkataan T'an Mo, tentang tempat perjanjian itu. Matahari...

Di sebelah barat... Tempat matahari terbenam. Dia mengibaratkan 'senja membunuh matahari'. Kalau memang yang dia katakan tentang matahari itu juga mengacu padaku, maka mungkin... aku akan mati di tempat itu, bukan? Di sebelah barat.

Sementara itu, aku lahir di sebelah timur, bukan? Di tempat matahari terbit. Aneh. Apa ini kebetulan atau tidak, aku tidak tahu. Rasanya aku benar-benar diibaratkan sebagai matahari, yang terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat. Bukan hanya itu, Yangmei, atau siapapun yang berada dalam kegelapan seperti T'an Mo dan para Yaoguai itu mengatakan aku memiliki cahaya. Bahkan saat aku menyentuh Yangmei, dia mengatakan panas. Bukankah sudah sifat matahari untuk memancarkan cahaya dan panas?

Iya, itu benar. Bodohnya aku! Bagaimana aku bisa lupa? Bukankah dari dulu aku sudah tahu bahwa kedua Phoenix melambangkan matahari dan bulan? Feng melambangkan matahari, sementara Huang melambangkan... bulan.

Bulan...

Oh! Baru sekarang aku sadar! Kalau bulan itu memang melambangkan Huang, melambangkan Yangmei, maka aku tahu kenapa bulan itu tidak bersinar! Bukankah Yangmei sudah berada dalam kegelapan? Seperti bulan yang gelap itu, begitulah keadaannya sekarang. Dan juga, aku merasa ada sedikit misteri dibalik kelahiran Yangmei, sama sepertiku. Tapi, bukankah bulan tidak pernah 'terbit'? Lalu, bagaimana ceritanya, ya? Apa ada orang yang tahu?

Tiba-tiba lamunanku terputus saat aku merasakan sesuatu mendekatiku. Bukan... bukan mendekati tapi mengelilingi! Cepat-cepat aku menyingkir ke bagian tengah dari lorong itu. Di situlah aku bisa dengan jelas melihat, apa yang sebenarnya terjadi.

Makhluk-makhluk kegelapan, para Yaouguai itu, sekali lagi muncul! Wujud mereka sekarang bukan berupa ular lagi, tetapi berwujud bayangan hitam berbentuk manusia! Para Yaoguai itu secara mistis merangkak keluar dari tembok-tembok itu, dan ada pula yang muncul begitu saja dari belakangku! Astaga! Bahkan di tempat sesuci Tiantan ini para Yaoguai itu bermunculan? Apa yang terjadi sebenarnya?

Cepat-cepat kukeluarkan pedangku. Makhluk-makhluk ini, apa mereka tidak tahu kalau mendekatiku hanya berarti kematian mereka? Sementara mereka mulai perlahan mendekatiku, aku sudah terlebih dahulu menebas mereka satu persatu. Ini terlalu mudah untukku, sungguh. Aku sendiri tidak tahu kenapa dengan bodohnya mereka menyerangku.

Tapi jumlah mereka tidak sedikit. Entah sudah berapa puluh Yaouguai yang kutebas, mereka tetap saja berdatangan! Memang benar mereka tidak akan bisa melukaiku, tetapi kalau begini sampai kapan aku harus menghadapi mereka? Ini akan sangat menghabiskan waktuku! Sampai kapan serangan Yaoguai ini akan berhenti?

"Gunakan kekuatanmu!"

Hah? Siapa di sana?

"Kekuatanmu..."

Kekuatan? Kekuatan apa?

Kekuatan... menggunakan kekuatan seperti Yangmei? Hanya saja aku menggunakan kebalikannya?

Tapi... aku punya kekuatan seperti apa?

Hanya dengan menuruti kata hatiku, aku memegang pedang dengan tangan kiriku, kemudian mengarahkan ujungnya ke langit tepat di depan wajahku. Sementara itu, tangan kananku mengangkat jari telunjuk serta jari tengah, sejajar dengan dahiku, di depan pedang itu. Benar... aku merasakan ada kekuatan yang mengaliri tubuhku!

Mataku kututup, sambil berusaha memusatkan kekuatan itu agar keluar dari tubuhku. Jari telunjuk serta jari tengah kananku yang menyentuh pedang itu merasakan betapa panasnya permukaannya. Panas seperti api, tetapi sama sekali tidak menyakitkan untukku. Sayup-sayup dari telingaku, kudengar Yaoguai itu seperti menjerit-jerit kesakitan saat semakin lama aura yang terpancar dari tubuhku semakinn kuat!

Sekarang, mataku kubuka lebar-lebar. Dengan gerakan cepat, pedang itu kutusukkan ke tanah!

"API SUCI YANG DALAM TANAH! JIKA KAU MENDEGAR PERINTAHKU, BANGKITLAH! DAN USIR KEGELAPAN DENGAN PANAS CAHAYAMU!"

Detik itu juga, sesuatu terjadi! Di atas tanah tempat aku berpijak, muncul lingkaran dengan tulisan-tulisan kuno di atasnya! Dari setiap garis dan kurva yang terbentuk itu, muncul cahaya yang terang, sebelum kemudian bagian terluar dari lingkaran itu mengeluarkan api yang berkobar-kobar. Panas... dan terang sekali! Tapi aku sama sekali tidak merasakan apapun di tengah kobaran api itu, seolah justru kobaran api yang mengelilingiku seperti tembok itu sedang melindungiku. Sementara aku melihat, tanah di luar lingkaran itu pun itu mengeluarkan pilar-pilar api! Seluruh Yaoguai yang ada di sana hanya bisa menjerit-jerit, sebelum kemudian mereka hilang sama sekali di dalam kegelapan.

Baru sesudah itu cahaya serta api itu hilang.

Kutatap lorong Tiantan yang sekarang kosong itu. Tidak ada seekor Yaoguai pun di sana. Tetapi bekas api yang membakar tembok batu serta lantai batu itu juga tidak ada. Seolah tidak pernah terjadi apapun.

Pedangku kembali kuselipkan di pinggangku.

Sebelum aku berjalan, kedua belah tanganku ini kutatap lekat-lekat. Kekuatan apa itu tadi? Aku bisa mengendalikan api? Tapi api yang kukendalikan ini... hanya perasaanku ataukah memang benar api ini bukan api biasa? Bukankah biasanya api akan meninggalkan bekas, atau setidaknya bau hangus dan asap? Tetapi kenapa tidak ada bekas sedikit pun di tempat ini?

Tiba-tiba aku teringat akan suatu kejadian. Tiga tahun yang lalu, kalau tidak salah aku pernah mengalami hal seperti ini bukan? Hampir sama, tetapi sedikit berkebalikan. Waktu itu, saat perpustakaan Istana Wu di Jian Ye terbakar, aku bisa mengusir api itu, dan dengan suara yang aneh itu memberitahuku! Waktu itu aku mengusir api, sekarang aku memanggil api! Aku bisa mengendalikan api! Dan api yang kukendalikan itu... tidak bisa menghancurkan apapun...

Benar juga... Bukankah Phoenix itu disebutkan sebagai makhluk yang baik dan peramah? Yang tidak memiliki unsur kekerasan? Kalau memang demikian adanya, pantas saja api yang kukeluarkan ini tidak bisa menghancurkan apapun, selain tentunya Yaouguai-yaoguai dari kegelapan itu. Bukankah bagaimanapun kegelapan pasti terusir begitu ada cahaya?

Api, ya...? Kekuatanku... mengendalikan api... api yang lembut, tetapi bisa mengusir kegelapan...

Semakin aku berjalan, memang aku semakin kelelahan, seperti pertama kali saat aku kemari. Apalagi aku baru saja menghabiskan banyak tenaga untuk melawan para Yaoguai itu, sekaligus mengeluarkan kekuatanku untuk mengendalikan api. Mau tidak mau tanganku sekarang harus berpegangan pada tembok lorong itu, dengan tubuh bersandar padanya kalau tidak mau jatuh. Ahhh... ini benar-benar melelahkan sekali...

Sesudah keluar dari tempat itu, aku disambut oleh angin sepoi-sepoi yang melambai-lambaikan rambutku. Pohon-pohon gu shu yang tumbuh di sana seperti membuka jalannya untukku. Rupanya, keadaan di Tiantan pada malam hari sangat mencekam, tidak seperti dulu saat aku kemari. Benar-benar sepi, suara yang timbul hanya langkah kakiku, juga nafasku, dan dahan-dahan pohon yang bergerak ditiup angin.

Tempat seperti ini bisa mendatangkan perasaan tidak enak pada siapapun.

Apalagi aku. Rasanya benar-benar sendirian, menapak satu demi satu langkah di atas tanah yang datar, dengan sedikit batu-batu kecil. Kedua tanganku memeluk tubuhku sendiri erat-erat. Bukan, bukan karena aku kedinginan... tapi ada perasaan yang sendiri yang membuatku seperti ingin pergi dari tempat ini. Semakin lama hatiku terasa semakin berat. Terutama saat aku mengingat apa tujuanku kemari.

Ya, aku ke Tiantan bukan tanpa alasan.

Gerbang untuk pergi ke altar Tianxinshi sudah kulalui. Altar batu yang luas itu, entah kenapa sekarang terlihat semakin besar dan semakin tinggi, rasanya tingginya sampai ke langit. Sambil merapatkan pakaian luarku, aku menapak anak tangga itu. Angin berhembus makin kencang, membuat jubah yang kupakai berkibar-kibar. Kedua tanganku kulipat dan kuletakkan di dadaku dengan kepala tertunduk. Langkahku melambat, sementara punggungku mulai membungkuk perlahan. Aku menuju ke altar itu dengan sikap yang hormat dan khusuk, meski aku bukan memakai pakaian upacara, dan tidak ada satu batang hio pun di tanganku.

Sampai di tingkat ke sembilan, tingkat yang teratas, baru aku sadar bahwa kakiku sudah tertekuk. Kakiku terlalu lelah, tidak bisa digerakkan lagi. Aku hanya berhenti sampai di tepi altar di tingkat ke sembilan itu saja, tanpa berjalan ke tengah-tengah.

Justru setelah susah payah sampai di atas, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Jadi aku hanya bisa tetap berlutut, dengan kedua tangan terkulai di sisi kiri-kanan tubuhku. Mataku tertutup rapat sambil aku perlahan mengambil nafas. Aku tidak berani melakukan apapun, kecuali memikirkan apa yang akan dan harus kulakukan sesudah ini.

Melepaskan cahayaku.

Itulah tujuanku kemari.

Aku akan melepaskan cahayaku, agar Yangmei bisa menyentuh dan mendekat padaku, meskipun ia masih menggunakan kekuatan kegelapan.

Tapi aku tahu betapa beresikonya melakukan hal ini. Kalau aku melepaskan cahayaku, Yangmei bisa dengan mudahnya melukaiku. Bahkan saat cahayaku masih ada padaku saja, ia bisa menyakitiku dengan memaksaku berjalan dalam Paoluo. Apalagi kalau sekarang, saat aku harus melepaskan cahayaku. Jangan-jangan, benar perkataan T'an Mo. Yangmei akan berusaha membunuhku kalau aku melakukannya.

Dan bukan hanya itu. Para Yaouguai itu dengan bebas bisa menyerangku! Meski aku masih punya pedang untuk melawan mereka, tentu tidak akan semudah hari ini aku mengalahkan mereka. Dan berkaitan dengan Yaoguai itu... aku masih penasaran. Akan seperti apa malam di tebing yang dikatakan T'an Mo itu?

Mungkinkah... dengan aku kehilangan cahayaku sekarang, dia dan seluruh Yaouguai itu bisa memperlakukanku sesuka mereka malam itu nanti?

Aku tidak tahu... aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Adakah yang bisa memberitahukannya padaku?

Hanya keheningan yang menjawab pertanyaanku itu.

Hening...

Tanpa aku sadari, tiba-tiba saja sebuah tangan menjambak rambutku dari belakang! Kuat sekali! Uhhh... Bahkan untuk berbalik dan melihatnya saja aku tidak bisa! Tangan yang menjambakku itu seperti memaksaku menengadah ke atas terus, dimana aku melihat sesuatu yang lain.

Ini... dimana?

Aku tahu pasti ini bukan di Tiantan! Dimana hiolo berukuran raksasa yang selama ini ada di pusat altar itu? Dan dimana sebenarnya kakiku berpijak sekarang? Yang kulihat hanyalah... kegelapan yang pekat. Sementara tangan itu masih menjambak rambutku, sesuatu yang lain, sebuah tangan yang lain yang tersembunyi di balik kegelapan ini menyambar pipiku.

"AHHHH!"

Aku mengerang kesakitan. Sial... Apa ini? Para Yaoguai itu berulah lagi? Kugigit bibirku untuk menahan sakitnya luka cakaran di pipiku. Luka itu sepertinya dalam, dan sangat perih sekali! Jadi cuma ini yang bisa mereka lakukan? Menyerangku sambil bersembunyi?

Tapi... kenapa mereka tidak terpengaruh cahayaku, ya?

Peduli setan dengan itu! Aku langsung menggerakkan tanganku untuk mengambil pedang yang terselip di pinggangku. Tapi... tanganku tidak bisa kugerakkan! Rupanya tanganku sekarang ada di balik punggung, diikat dengan kuat! Berdasarkan rasa sakit yang kurasakan di pergelangan tanganku, aku sadar... kedua pergelangan tanganku diikat dengan duri, begitu juga kedua pergelangan kakiku!

Lalu aku mendengar sesuatu yang lain... Suara teriakan...

"Mati kau! Kau harus mati!"

Pada saat yang sama, sepasang tangan yang lain muncul dari belakang, kemudian menggenggam dadaku erat-erat! Sampai rasanya aku tidak bisa bernafas! Aku memekik kesakitan, tetapi tangan itu sama sekali tidak mebebaskan aku! Dan yang lebih mengejutkan... tangan itu... bukan tangan manusia! Tangan yang mengerikan seperti itu juga bukan milik binatang manapun! Milik siapa lagi kalau bukan milik para Yaoguai yang sangat kubenci itu?

Sebelum pertanyaanku terjawab, tangan lain meraba dadaku pula! Kelima jarinya berhenti di celah-celah tulang rusukku, dan aku tidak tahu lagi apa yang dilakukan tangan Yaoguai yang ini. Kemudian sesuai yang lain muncul... sebuah pisau. Pisau itu sangat tipis, pendek, dan kecil, tetapi siapa yang tahu bagaimana menyakitkannya benda itu? Tiba-tiba saja... pisau itu dihujamkan ke salah satu sela tulang rusukku!

"AHH! Lepaskan! Lepaskan aku!"

Aku berusaha meronta, tetapi rasa sakit di seluruh tubuhku rasanya makin bertambah! Dan tidak hanya itu, saat mulutku terbuka ketika menjerit, sesuatu yang lain dengan cepatnya masuk ke dalam mulutku! Aku tidak berani membuka mataku untuk tahu apa itu, yang pasti bukan sesuatu yang ingin kulihat... terutama sesudah 'sesuatu' itu menyemburkan cairan langsung ke kerongkonganku!

Saat mataku kubuka, barulah aku tahu apa itu. Seekor ular... dan cairan yang disemburkannya itu tentulah racun...!

Suara yang lain kemudian terdengar dari jauh, tetapi terdengar jelas di telingaku.

"Rasakan itu! Kau pantas mendapatkannya!"

A-apa...? Pantas mendapatkan apa? Apa yang kulakukan memangnya?

Seutas tali yang lain, lentur tetapi tajam seperti pisau, tiba-tiba memberet wajahku. Tetapi tidak hanya sekali. Benda itu, yang baru kusadari adalah cambuk, menyambar setiap bagian dari tubuhku! Kenapa... Kenapa ini? Ada apa sebenarnya?

"Dasar makhluk hina! Itu untuk hati busukmu yang hitam seperti arang itu!"

Hah...? Suara itu... ditujukan untukku...?

"Pembunuh! Kau pembunuh! Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?"

Pembunuh? Aku... pembunuh?

"Heh! Kau sungguh menjijikkan! Pengguna cahaya, tetapi kemudiam memakai kegelapan!"

Aku... pemakai kegelapan?

Ejekan-ejekan seperti itu terus terdengar di kepalaku, sementara tangan-tangan mereka tak hentinya menyiksaku. Aku sama sekali tidak mengerti... apa yang dimaksudkan mereka dengan semua perkataan itu?

Tapi tiba-tiba... aku merasakan sesuatu yang aneh...

Perasaan yang benar-benar menyiksa hatiku...

Bukan, ini bukan perasaan tidak adil. Bukan karena aku merasa tidak bersalah tetapi kemudian aku diperlakukan seperti ini... Ini bukan perasaan tidak terima...

Justru sebaliknya...

Perasaan bersalah yang kuat yang menyiksa hatiku. Ya, aku hanya bisa mengangguk saat mereka mengatakan itu. Entah oleh alasan apa, aku membenarkan perkataan mereka. Aku memang berhati busuk... aku memang pembunuh yang dikuasai kegelapan... Aneh... semua ini menyakitkan, dan aku tidak ingat pernah melakukan apapun yang bersalah... Tapi aku merasa pantas mendapatkan ini semua...

Apa yang mereka sebutkan, itulah aku...

Mungkin saat ini belum, tapi mungkinkah aku akan menjadi seperti itu di masa depan? Di waktu yang akan datang? Dan ini cuma gambaran masa depan saja?

Aku tidak tahu... aku tidak bisa menjawab. Yang pasti, itu benar...

Apakah aku akan jatuh ke dalam kegelapan nantinya? Seperti Yangmei? Padahal, baru saja aku menebas habis para Yaoguai. Aku sama sekali tidak menyangka aku akan melakukan hal yang sama. Bodoh... bagaimana bisa begini? Kalau aku pun jatuh, lalu siapa yang akan menyelamatkan Yangmei?

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku malu, seperti para terhukum pada umumnya. Sementara tangan-tangan itu terus menghukumku, aku semakin termakan rasa bersalah. Ini memang hukuman yang pantas untukku, dan aku tidak boleh menolak. Ahhh... airmataku tidak bisa kutahan lagi.

Rasanya duniaku seperti runtuh di hadapanku...

"Feng...! Feng!"

Suara siapa itu? Siapa lagi sekarang?

Mataku kubuka lebar-lebar, dan tahu-tahu aku sudah kembali di altar Tiantan!

Apa itu tadi? Pengelihatan kah? Kenapa terasa nyata sekali?

Keringat dingin membasahi keningku, sementara nafasku terputus-putus. Tubuhku rasanya sudah kehilangan seluruh kekuataannya, sampai aku nyaris terbaring di tanah kalau tidak ada sebuah lengan kuat yang menopangku. Bahkan untuk membalikkan kepala dan melihat siapa itu saja aku tidak bisa. Tubuhku masih sakit semua, seolah semua yang kujalani itu memang baru saja terjadi.

"Feng? Ada apa?"

Suara yang kudengar kali ini berbeda. Seiring dengan suara itu, aku merasakan tangan lain yang diletakkan di atas pundakku, seolah sedang berusaha menenangkanku. Jangankan untuk menjawab, untuk mengucapkan satu kata terima kasih kepada dua orang itu saja aku tidak bisa. Dan yang terparah, sangking lemahnya aku sekarang, aku sampai tidak berpikir lagi siapa kedua orang yang membantuku itu, mengenali suaranya pun tidak.

Suara yang pertama berbicara lagi padaku. "Feng! Feng! Sadarlah! Apa yang terjadi denganmu?"

Apa yang terjadi padaku? Justru itulah yang ingin kutanyakan pada mereka. Apa itu... yang baru saja terjadi? Kegelapan itu... Tangan-tangan itu...

Aku menengadahkan kepalaku sesudah menghimpun tenaga. Rupanya dua orang itu adalah Fu Xi dan Nü Wa, kedua Abdi Langit yang dulu membantuku menemui Zhi Ming. Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku menggenggam kedua tangan mereka, kemudian berusaha duduk bertumpu pada tubuhku sendiri, sebelum menjawab pertanyaan mereka.

"Fu Xi... Nü Wa..." Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Tadi... gelap... mereka... mereka menghukumku..."

"Tenang! Bicaralah pelan-pelan...!"

Untuk beberapa saat lamanya, aku tidak melakukan apapun selain mengatur nafasku, sambil memeluk diriku sendiri. Perasaan sakit baik mental maupun fisik itu berangsur-angsur hilang. Syukurlah... Sebab, kesakitan itu luar biasa sekali, nyaris membunuhku. Barulah aku memberanikan diri untuk menceritakan ini pada mereka.

"Para Yaouguai... kalian tahu, kan?" Mereka berdua menjawab dengan anggukan. "Entah kenapa, saat aku sendirian, tiba-tiba aku ada di tempat yang gelap sekali, sama sekali tidak ada cahaya. Mengerikan..." Kedua tanganku meremas kepalaku kuat-kuat. Bahkan untuk mengingat itu saja rasanya sakit sekali! Airmataku keluar, campuran antara rasa takut dan sakit itu tadi. "... Dan para Yaoguai itu... mereka bersembunyi dalam kegelapan... mereka menyiksaku..."

Kedua tanganku kuletakkan di dadaku. Ahhh... rasa sesak itu datang lagi...! "Tapi mereka bilang... mereka sedang menghukumku... Karena memang itulah yang pantas kudapatkan..." Kepalaku kutengadahkan ke atas, menatap mereka. Fu Xi dan Nü Wa saling berpandang-pandangan sendiri, sementara aku tidak tahu maksud mereka. "Apa maksudnya itu? Mereka mengatai aku pembunuh berhati hitam seperti arang! Dan mereka mengatakan aku..." Kuhirup nafas dalam-dalam. "... pengguna kegelapan..."

Kupikir mereka akan terkejut. Namun ternyata aku salah. Mereka cuma menundukkan kepala, seolah sudah tahu itu akan terjadi, dan menyayangkan kenapa aku baru tahu sekarang. Mataku melebar karena takut, bukan karena hukuman itu tapi karena aku akan menjadi pelaku kejahatan itu. "Fu Xi, Nü Wa! Ada apa sebenarnya?" Tanyaku hampir berteriak. "Kenapa aku dihukum? Benarkah aku akan menggunakan kegelapan?"

Mereka cuma diam.

Tapi dalam kediaman itu, aku melihat mereka mengangguk perlahan. Jawaban mereka untuk sesaat membuatku lebih dari sekedar kaget. Saat itu juga tubuhku seperti kehilangan kekuatannya. "Aku akan menjadi... pengguna kegelapan...?" Tidak ada jawaban dari mereka, dan aku benci itu! Aku benci jadi yang paling tidak tahu apa-apa tentang diriku sendiri, sementara yang lain tahu dengan jelas! "Kalau begitu, pergilah sekarang! Jangan dekati aku!" Seruku kuat, membuat mereka terkejut. "Kalian pasti membenciku, kan? Sebab aku akan menjadi pengguna kegelapan!"

Seperti Yangmei...

Ahhh... Apa aku sia-sia saja keluar dari istana hanya untuk menyelamatkan Yangmei? Kalau pada akhirnya aku sendiri akan jatuh sepertinya?

Sebuah tepukan di bahuku menyadarkanku dari lamunanku. "Saat itu akan datang, Feng." Jawab Fu Xi tegas dan penuh kepastian. "Tetapi bukan sekarang."

Hah? Apa maksudnya dengan perkataan itu? Apa bedanya membenciku dari sekarang dan nanti?

Sebelum aku diberi kesempatan untuk bertanya, Nü Wa sudah mengalihkan pembicaraan. "Hal itu tidak perlu kau pikirkan sekarang." Begitu katanya, seketika langsung membuatku diam. "Oh iya. Kami ingin memberikan sesuatu untukmu."

Meski aku ingin membantah, menanyakan tentang apa yang baru saja kualami, aku mengurungkan niat. Aku mencoba berpikir jernih. Siapa tahu itu cuma akal-akalan para Yaoguai itu untuk membuatku takut. Ya, kan?

"Apa itu?" Tanyaku.

Entah bagaimana, di atas kedua telapak tangan Nü Wa terdapat sesuatu. Bola cahaya yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Cahaya itu berwarna putih pucat, seperti bulan. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada Yangmei.

"Cahaya ini adalah kepunyaan Huang." Kata Nü Wa sambil mendekatkan bola cahaya itu padaku. "Ia tidak mau lagi memiliki cahaya ini, dan mengembalikannya padamu."

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Tujuanku kemari adalah untuk melepaskan cahayaku. Sekarang, belum satu cahaya dilepaskan, cahaya lain akan ditambahkan padaku. "Cahayaku akan ditambah lagi dengan miliknya?" Tanyaku dengan nada setengah mengeluh.

"Awalnya, bukankah ini adalah cahayamu?" Tanya Fu Xi. Wah, ini adalah hal baru lagi untukku. "Bulan hanya memiliki cahaya dari matahari. Sekarang cahaya ini dikembalikan padamu. Bagaimana bisa bertambah?"

Aku hanya bisa memiringkan kepala tanda tak mengerti. Dikembalikan? Apa maksudnya dikembalikan? Sejak kapan kekuatan itu milikku dan harus dikembalikan? "Bukankah ini kekuatan Yangmei sendiri? Kekuatan untuk menyembuhkan itu bukan?"

Ternyata bukan hanya aku yang bingung. Mereka berdua juga bingung mendengar pertanyaanku itu. Setelah berpandangan beberapa lama, akhirnya Nü Wa menjawabku. "Kau mungkin lupa." Katanya. "Tapi kekuatan untuk menyembuhkan, atau segala kekuatan yang Huang miliki, itu adalah kekuatan yang kau berikan untuknya, bukan miliknya sendiri." Jelasnya. "Seperti matahari memberikan cahayanya untuk bulan yang ia sayangi..."

"Karena Huang telah menolaknya, kekuatan ini kembali padamu." Lanjut Fu Xi.

Ah! Aku mengerti sekarang! Jadi itulah hal aneh yang sempat aku dengar dari Ling Guang! Saat itu, bukankah dia berkata, "Kami bisa menyembuhkan diri sendiri, tetapi tidak bisa menyembuhkan orang lain. Kalian, sebaliknya, bisa menyembuhkan orang lain tetapi diri sendiri tidak bisa." Saat itu, dia bukan mengatakan 'Huang'. Dia berkata 'kalian'. Berarti, aku juga punya kekuatan itu, dan entah bagaimana kekuatan itu ada pada Yangmei. Kata Fu Xi dan Nü Wa, aku yang memberikannya padanya.

Dan... satu hal lagi. Mungkinkah seperti cahaya Yangmei yang kembali padaku, begitu juga yang terjadi pada piao-nya? Itukah sebabnya kenapa piao itu tidak kembali pada Yangmei, melainkan terus padaku? Jangan-jangan, seperti cahaya itu, piao itu juga kuberikan untuknya, dan saat dia tidak memiliki cahayanya, tentu piao itu juga tidak akan bisa digunakan olehnya. Apakah mungkin yang dimiliki Yangmei itu sebenarnya pemberian dariku? Bukan di kehidupan ini tetapi di kehidupan sebelumnya?

Kurasa, ini misteri baru lagi untukku.

Ya Tian... kenapa begitu banyak hal yang tidak aku tahu, bahkan tentang diriku sendiri?

"Baiklah." Kataku seraya membuka kedua tanganku. Dengan mudahnya bola cahaya itu berpindah dari tangan Nü Wa, kemudian masuk ke tubuhku, seolah tubuhku seperti magnet yang menarik bola cahaya itu ke arahku. Cahaya itu kemudian berhenti di kedua tanganku dan membuatnya memancarkan cahaya perak yang redup.

Akhirnya, cahaya itu hilang sama sekali. Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum bertanya. "Apa ini berarti sekarang aku punya kekuatan untuk menyembuhkan?"

Mereka berdua mengangguk. "Sekarang beritahu kami, apa yang membuatmu datang kemari? Apa kau perlu bantuan kami?"

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Pasti mereka akan kecewa sekali mendengar permintaanku, terutama sesudah aku menerima bola cahaya itu. "Aku kemari karena ingin melakukan sesuatu..." Jawabku. "... Melepaskan cahayaku."

Kali ini, aku melihat mata mereka terbuka lebar karena terkejut. Tetapi keterkejutan itu cepat sekali hilang, secepat datangnya. Kemudian Fu Xi berbicara padaku. "Hal itu tidak mungkin terjadi."

Gantian aku yang terkejut.

"Aku tidak bercanda." Lanjut Fu Xi lagi. "Bagaimana mungkin matahari bisa kehilangan cahayanya? Cahaya itu akan selamanya ada bersamamu."

Apa? Kalau begitu, bagaimana caraku menyelamatkan Yangmei? Dan tentang omongan T'an Mo itu...

"Tapi..." Kali ini, Nü Wa yang melanjutkan. "Cahayamu itu bisa disembunyikan."

"Disembunyikan?" Aku mengulang dengan nada bertanya. "Apa bisa? Maksudku, kalau hanya menyembunyikan, apa nantinya Yangmei bisa menyentuhku? Dia memang mungkin bisa melihatku, tapi kalau menyentuh..."

Sebelum aku diberi kesempatan untuk melanjutkan kata-kataku, Fu Xi sudah memotong terlebih dahulu. "Cahaya itu bukan sesuatu yang kau miliki, yang bisa kau lepaskan begitu saja." Ujarnya. "Cahaya itu adalah keberadaanmu sendiri."

Dahiku berkerut karena bingung akan perkataannya. "Kalau itu memang benar, kenapa Yangmei bisa kehilangan cahayanya? Bukankah aku dan dia sama?" Tanyaku.

"Karena kau seperti matahari, sementara Huang seperti bulan." Jawab Nü Wa. Oh, baru aku sadar! "Apakah bulan memiliki cahaya sendiri? Tidak! Bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari. Kalau tidak, bulan itu akan menjadi gelap." Dia membiarkan aku mencerna kata-katanya sebelum melanjutkan. "Sementara matahari, bukankah cahaya itu adalah keberadaannya sendiri?"

Oh, begitu... Benar juga kata-kata mereka. "Lalu, kalau memang cahayaku hanya bisa disembunyikan, apa Yangmei tidak apa-apa berada di dekatku?"

Keduanya tidak menjawab, melainkan hanya menunjuk sesuatu di atas langit. Dan yang mereka tunjuk itu adalah... bintang yang menunjukkan keberadaanku. "Apakah cahaya bintang bisa ditangkap oleh bulan?"

"Tidak." Jawabku sambil menggeleng.

Keduanya kemudian menurunkan tangannya. "Begitulah. Dengan cahaya yang kecil, tersembunyi di balik kegelapan, kau bisa menyentuh Huang."

Aku mengangguk mengerti. "Begitu. Baiklah! Bagaimana caranya sekarang menyembunyikan cahayaku?"

Atas pertanyaan ini, tidak ada jawaban yang kuterima. Aku berkedip beberapa kali melihat keengganan mereka menjawabku. Memangnya sekarang kenapa lagi? Namun akhirnya, setelah cukup lama menunggu, akhirnya mereka menjawab juga. "Kau..." Fu Xi berkata. "... yakin akan keputusanmu itu?"

Benar-benar aku kecewa. Aku sudah menunggu jawaban mereka, tetapi tidak juga aku mendapatkan jawaban. Malah sekarang mereka balik bertanya padaku. Sambil menyembunyikan sedikit kekesalanku, aku mengangguk mantap. "Asal bisa menyelamatkan Meimei, tidak apa-apa."

"Tapi ini bukan hanya berpengaruh pada Yangmei saja." Fu Xi melanjutkan. "Tapi pada makhluk-makhluk kegelapan lain juga."

Tentu saja aku tahu tentang itu. "Ya, aku tahu..." Sambil menghela nafas, aku menundukkan kepala. Memang benar aku tahu, jika Yangmei bisa mendekatiku, tentu saja makhluk-makhluk itu juga bisa. Bukankah mereka sekarang sama? Aku hanya tersenyum sedih. "Mereka cuma akan lebih mudah menyerangku. Begitu saja, kan?"

Tidak ada jawaban atas pertanyaan itu. Fu Xi dan Nü Wa kedua-duanya diam, sebelum mengizinkanku melakukannya. "Lakukanlah." Katanya. "Seperti bagaimana kau memusatkan kekuatanmu, begitu pula caranya kau menyembunyikan kekuatanmu."

Aku mengangguk. Oh, jadi seperti tadi? Kurasa tidak sulit.

Pedangku kuletakkan di bawah, sementara kedua tangan di depan dada, membentuk tanda silang. Kedua tanganku itu seolah menyembunyikan dadaku. Tepat di titik dimana jantungku terletak, aku merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar, meskipun aku tidak tahu apa itu karena mataku yang tertutup dan kepala yang tertunduk dalam-dalam.

Ugh... aku tidak menyangka melakukan ini juga butuh tenaga, bahkan membuat kepalaku sedikit berputar-putar. Cahaya itu mula-mula membesar, pusatnya terletak di titik potong kedua tanganku yang menyilang. Semakin lama-semakin mengecil.

Baru saja aku akan menghentikan itu, Fu Xi dan Nü Wa berseru bersamaan. "Feng! Kalau cahayamu masih seterang itu, tetap saja Huang tidak bisa mendekat padamu!"

Jadi aku melanjutkan kembali. Lingkaran itu semakin lama semakin mengecil. Tetapi untuk membuatnya seperti itu, aku tidak menyangka aku harus mengeluarkan tenaga yang sangat besar! Perlahan tubuhku seperti akan jatuh , tetapi Fu Xi dan Nü Wa membantuku untuk tetap berdiri, sementara tenagaku terus terkonsumsi.

"Kurasa cukup..." Kata Nü Wa. "Feng, berhentilah."

Aku menggeleng kuat. "Belum..." Konsentrasiku terus kupusatkan ke lingkaran itu. "Aku akan menghilangkan semuanya... cahaya atau kekuatan apapun yang cuma akan menjauhkanku dari Yangmei."

Tanpa sempat lagi kulihat ekspresi mereka, aku terus melanjutkan. Lingkaran cahaya itu benar-benar mengecil sekarang. Sampai akhirnya, yang hanya terlihat di mataku adalah sebuah kerlipan cahaya kecil seperti bintang di langit. "Ahhh... selesai..." Desahku sambil melepaskan kedua tanganku. Kembalilah cahaya itu masuk ke tubuhku.

"Kau tidak apa-apa, Feng?" Tanya Nü Wa dengan nada khawatir.

Aku menggeleng. "Justru sebaliknya, aku merasa lebih baik." Dan aku tidak berbohong. Rasanya aku tidak seolah membawa sesuatu yang lain daripada yang lain seperti biasanya. Meski... rasanya setelah melakukan itu aku merasa sedikit kosong, entah kenapa. Tapi aku tidak mengatakannya pada mereka, takut mereka akan makin khawatir.

"Terima kasih banyak." Kataku pada akahirnya, yang dibalas oleh mereka dengan seulas senyum dan anggukan kepala. "Aku sangat senang kalian bersedia membantuku."

Fu Xi menepuk pundakku. "Sudah seharusnya kami membantumu." Untuk sesaat kami terdiam, sebelum dia melanjutkan. "Kurasa, sudah saatnya kami harus kembali. Feng, jaga dirimu baik-baik." Pesannya. Bersamaan dengan itu, sama seperti cara kami bertemu pertama kalinya, begitu juga terjadi sekarang. Dua buah tirai cahaya terbuka, keduanya masuk melalui pintu yang berbeda sebelum hilang dari pandanganku.

Sekarang, aku seorang diri lagi.

Benar-benar sendirian, tidak ada apapun di tempat ini.

Aku hanya bisa mendesah. Bagaimanapun, ditinggalkan sendirian itu tidak enak.

Kalau begitu, bagaimana dengan Yangmei, ya? Apa dia juga sedang sendirian? Kalau begitu, aku harus cepat mengejar dan menemukannya, agar dia tidak sendirian lagi. Aku harus bergegas pergi.

Pakaianku yang basah oleh keringat dan airmata ini sekarang sudah kering karena hembusan angin. Di sebelah kakiku, terdapat pakaian yang lain yang kuletakkan di bawah pedangku. Pakaian itu adalah pakaian yang sangat berbeda dengan pakaianku sekarang. Beberapa potong pakaian yang sengaja kubawa dari Istana hanyalah pakaian rakyat jelata, yang kugunakan untuk melarikan diri di antara kalangan rakyat. Tidak mungkin kan aku mencari Yangmei dengan berpakaian seperti ini terus?

Dengan melepaskan seluruh pakaian kebesaran yang sangat mewah ini, tandanya aku akan selamanya pergi. Aku akan meninggalkan semuanya.

Tak kusangka, justru kalau aku ingin mendapatkan Yangmei kembali, aku tidak boleh menggunakan kekuasaan. Aku malah harus melepaskan itu. Tapi, bukankah Yangmei memang seperti itu, ya? Dia punya keinginan sendiri, dan tidak boleh dipaksa. Kalau dipaksa, justru dia akan merasa tertekan, dan aku tidak mau itu. Ahhh... memang Yangmei sekali...

Aku melepaskan gelang emas dan cincin yang ada di tanganku. "Siapapun yang menemukan ini, kiranya adalah orang yang pantas memegang pemerintahan Dinasti ini." Sesudah itu, kedua tanganku menggenggam jubah yang terselempang di bahuku. "Dan jangan hanya memegang pemerintahan tetapi juga mengayominya."

Begitulah kini gelang dan cincin itu bukan di tanganku, tetapi tepat di tengah altar Tianxinshi. Jubah itu sendiri diterbangkan angin dan aku tidak tahu berhenti dimana. Aku yakin benar orang yang layak masuk di tempat ini dan menemukannya, pasti bukan sembarang orang. Itulah yang membuatku melepaskan semua ini di sini.

Seluruh hiasan di kepalaku ini juga kulepaskan, tidak ada satupun yang kubawa bersamaku. Dari awal juga bukan milikku.

Akhirnya, sesudah waktu yang lama... aku kembali menjadi Lu Xun. Aku bukan Cao Li lagi.

-o-o-o-o-o-o-

Sesudah hari hampir subuh, kira-kira pada jam tiga pagi, baru aku keluar dari Tiantan. Huo Li masih setia menunggu di situ. Aku tersenyum melihatnya. Tapi tentu saja aku sedikit kecewa saat menemukannya sedang tidur. Ah, biarlah. Dia sendiri pasti masih ngantuk tengah malam kubangunkan begitu. Huo Li sudah menjadi kuda peliharaanku entah berapa tahun, tapi masih juga aku tidak ingat bahwa hobi kuda satu ini adalah tidur.

"Huo Li, bangun," Kutepuk kepalanya. "Sekarang kita pergi dulu. Nanti jika kita sampai di kota, kau bisa tidur sepuasmu."

Akhirnya dia bangun juga.

"Tuan! Apa yang terjadi denganmu?"

Hah? Suara apa itu?

Aku menoleh ke belakang. "Siapa di sana?" Tetapi tidak ada seorang pun dalam kegelapan itu. Yang ada hanya aku sendiri. "Hei! Keluarlah!" Seketika itu juga aku berdiri.

Tiba-tiba Huo Li mendekatkan mulutnya ke leherku, dan aku pun merapatkan diriku padanya sambil menggenggam pangkal pedangku. "Huo Li, kau dengar suara apa itu?" Tanyaku sedikit gugup. Malam-malam begini, siapa yang ada di Tiantan? Apa para Yaouguai itu? Sial... kenapa mereka datang sesudah aku melepas cahayaku?

"Ummm... mungkin itu suaraku, tuan." Jawabnya.

Aku hanya memutar bola mata mendengar jawabannya yang tidak masuk akal itu. "Huo Li, kau tahu benar kau tidak bisa bicara denganku kalau aku bukan seekor kucing, kan?"

Eh?

Tunggu. Apa aku baru saja bercakap-cakap dengan Huo Li?

Aku berbalik cepat. "Huo Li!" Seruku, juga membuatnya kaget setengah mati. "Kau bisa bicara padaku?"

"Tepatnya sekarang kau yang bisa mendengarku, tuan."

Cepat-cepat kulihat tanganku. Masih tangan manusia. Bukan tangan kucing yang berbulu dan ditumbuhi cakar itu. Tinggiku juga masih tetap, aku sama sekali tidak mengecil. Dan lagi, aku juga tidak punya ekor. Ya Tian... syukurlah, jangan sampai aku jadi kucing lagi. Aku tidak mau menjalani mimpi buruk itu lagi.

Tapi, bagaimana aku bisa berbicara pada Huo Li, ya?

Mungkin karena serah-terima kekuatan yang aku juga masih misteri untukku itu? Atau jangan-jangan berbicara dengan hewan juga adalah salah satu kekuatan Phoenix! Saat aku menjadi kucing, mungkin aku bisa berkomunikasi dengan hewan karena aku sendiri memang hewan. Sekarang, aku bisa berbicara dengan mereka, meski sebagai manusia...

"Tuan, kau jangan melamun saja!" Seru Huo Li tepat di telingaku.

"Ya Tian! Huo Li, kau juga jangan membuatku kaget begitu!" Balasku tak kalah keras.

Dia mendengus kesal, kemudian langsung mengalihkan pembicaraan. "Tuan, ngomong-ngomong kenapa pakaianmu sekarang jadi seperti itu?" Tanyanya.

Untuk beberapa saat otakku seperti tidak berpikir sesaat. Eh? Memangnya apa yang aneh di pakaianku? Ini kan pakaian rakyat jelata biasa. Pakaian atas, celana serta ikat pinggangnya, juga sehelai kain yang kuselempangkan dari bahu ke pinggang. Sepasang sepatu yang sekarang kupakai juga tentu bukan sepatu yang tadi masih kupakai. Setelah memastikan semua yang kupakai normal-normal saja, aku bertanya padanya dengan dahi berkerut. "Apanya yang salah, Huo Li?"

"Pakaianmu sama sekali tidak keren, tuan!" Jawabnya. Ah! Bukan main kesalnya aku mendengar jawaban itu! "Mana Tuan Lu Xun yang dulunya seorang ahli strategi? Yang cerdik dan pandai tetapi juga gagah berani! Bahkan juga sangking tampannya sampai bisa membuat gadis manapun menoleh padamu!"

"Oh, Huo Li...!" Aku rasanya kehabisan kata-kata menghadapi kuda satu ini! Bisanya cuma mengatakan hal-hal tidak penting saja! "Sejak aku jadi kucing, entah kapan aku bisa kembali seperti itu! Sudahlah, jangan bicarakan masa lalu lagi!" Jawabku sambil melepaskan tali kekangnya. Tentu saja, kalau ia sekarang kuda yang hanya dipakai oleh orang biasa, mana mungkin ia masih mengenakan tali kekang?

"Tapi, tuan, tampangmu sekarang memalukan!" Balasnya lagi tak kalah sengit. Aku terhenyak mendengar kata-katanya yang luar biasa tajam itu. "Kau sekarang terlihat seperti gembel saja! Dulu aku sangat bangga kalau orang sepertimu menunggangiku, tapi sekarang..."

Huo Li tidak melanjutkan kata-katanya, tentu saja. Kakiku yang melemas mendengar perkataannya itu langsung membuatku jatuh di atas kedua lutut. Dia hanya menatapku dengan mata hitamnya yang bulat besar itu. "Huo Li, kenapa kau bisa keterlaluan begini...?" Nyaris saja aku memperdengarkan suaraku yang serak ini karena ingin menangis. Kukira di perjalananku ini aku punya seorang teman...

... ternyata memang bagaimanapun manusia tidak bisa mengandalkan hewan, ya?

"Selama ini aku selalu kesepian, dan aku sangat senang ketika akhirnya bisa keluar dan berpetualang bersama denganmu! Apalagi sesudah kau bisa bicara! Tidak tahunya kau..." Aku menengadahkan kepalaku, memperlihatkan wajahku dengan ekspresi terluka terlihat jelas. "Ternyata kau cuma mau jadi temanku pada saat menyenangkan saja, ya?" Segera aku memalingkan wajah. "Kalau begitu, pergilah! Tinggalkan saja aku seorang diri!"

Sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan kuda ini. Kedua tanganku sekarang memeluk lututku, kemudian membenamkan kepalaku di dalamnya. Ahhh... aku sendirian lagi. Mungkin memang sudah keinginan Langit untuk membiarkan aku sendirian terus-menerus. Padahal, siapa yang tahan ditinggalkan sendirian?

Untuk beberapa saat lamanya, hanya keheningan saja yang terdengar. Kukira memang Huo Li sudah pergi.

Tapi kemudian, alangkah kagetnya aku saat aku mendengar suara tawa! Suara tawa Huo Li!

"Hahaha!" Aku mengangkat kepala menatapnya dengan kaget. "Tuan, tentu saja aku cuma bercanda! Hahaha! Kau lucu sekali, tuan! Sangking seriusnya sampai tidak bisa membedakan mana yang candaan, mana yang serius!" Saat itu juga aku langsung berdiri. Wajahku langsung memerah karena malu... meski cuma di depan kuda tidak tahu diri seperti ini! "Wah, seharusnya kau lihat wajahmu sendiri, tuan! Saat kau terluka begitu, wajahmu benar-benar lucu!"

"A-apa?" Bukan main kesalnya aku! Uhhh... padahal aku sudah hampir menangis memikirkan akan kehilangan kuda yang kupelihara selama bertahun-tahun ini! "Huo Li! Kau ini...!"

"Ahahaha! Jangan salahkan aku, tuan! Kau kan yang punya tampang minta disiksa begitu!" Mendengar itu, aku semakin jengkel saja! "Apalagi kalau kau hampir menangis! Rasanya kau enak sekali untuk disiksa!" Karena tahu kemarahanku yang sudah mulai berapi-api, dia langsung berlari, tetapi juga masih menertawakanku!

Langsung kuambil sembarang batu di dekat kakiku sambil mengejarnya.

"Kurang ajar kau, Huo Li! Kembali ke sini! Dasar kuda tidak tahu diri!"

"Hahaha! Tangkap saja aku kalau kau bisa, tuan!"


Akhirnya Lu Xun bebas juga... Yahhh... baguslah buat semua yang udah menunggu Lu Xun bebas... ^^v

Mulai dari sini, selain kesan RPGnya semakin kuat, yang paling penting juga cerita2 selanjutnya nggak akan seangsty sekarang (meski tetep juga ada angst-nya, sih...) Tapi tenang aja, sekarang ada banyak bumbu-bumbu humornya kok... Hohoho... Tapi ya itu dia... sebagai konsekuensi, untuk sepuluh chap kedepan, canon chara yang muncul di cerita ini cuma Lu Xun doank... sementara sisanya OC yang cuma cameo. *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* Hmmm... tapi tengah-tengah nanti bakal ada juga sih canon chara dari WO, sama kayak Fu Xi, Nü Wa, ama Taigong Wang... Ntar, kira-kira kalau si Lu Xun sudah sampe di tempat yang namanya Cheng Du, nah... mulai deh panen canon-chara... ^^v *SPOILER ENDS HERE*

Okay, updatenya, seperti yang tadi udah saya umumkan, hari Minggu.

Next chap: Run and Run and Run (Ide seorang author cacad yang sudah nggak punya ide lagi diotaknya karena semuanya sudah dituangkan ke buku sketsa dan jadi maket arsitek...)