DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Twenty One: Two Choice
Kedatangan Kaoru, Ibu mertua Kuonji, Rei dan Aoi telah membangunkan siapa sebenarnya Kuonji selama ini. Telah ditunggu-tunggunya kehadiran mereka di rumah sepi ini membuat Jinno – selaku sahabat kecil Kuonji – mengharuskan menemani Kuonji di saat-saat bahagianya.
Mereka berempat duduk diam membisu di ruangan tengah dibantu oleh Jinno – tak sengaja iseng – untuk meramaikan acara, namun digagalkan oleh Subaru Imai seenaknya menghalangi tindakan tak pantas Ayahnya.
"Maafkan tindakan Ayah saya, Kaoru-sama."
"Nggak apa-apa, Subaru. Aku sudah lama nggak melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Jinno," senyum Kaoru menenangkan ketegangan di ruangan ini.
Kuonji, sedang mempersiapkan segala sesuatunya sedang berjalan pelan-pelan dibantu para dayang di belakangnya dan begitu pula ajudannya. Sesaat tiba di depan pintu ruangan itu, Kuonji menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu tersebut.
"Kaoru."
Wajah Kaoru berpaling dari Ayah dan anak ke suami tercinta – masih sah dalam hukum dan belum bercerai – sedang berdiri dan memanggil namanya. Kedua mata merah menyalanya berkaca-kaca melihat laki-laki sehat, segar bugar, dan memasang wajah senang sekaligus kerinduan amat mendalam.
Kuonji mendekati Kaoru dan duduk di hadapannya, membungkuk dalam-dalam, mengatakan semua rasa penyesalannya tengah berdiam dan bersarang di benaknya selama ini. Bertahun-tahun!
"Maafkan aku, Kaoru. Aku telah membuangmu demi harga diriku yang tinggi dan membuatmu harus mengalami masa-masa kelam selama ini. Aku juga sudah membuatmu hancur berkeping-keping sambil mengandung anak kedua kita. Nggak seharusnya aku melakukan itu hanya demi ego yang tinggi. Maafkanlah aku yang merupakan orang yang pantas mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatanku ini!"
Air mata turun dari kelopak matanya yang indah, menyentuh punggung tak bisa dilupakannya selama ini. "Aku memaafkanmu, Kuonji. Suamiku. Ayah dari anak-anakku. Kau nggak bersalah. Akulah yang memantapkan diri untuk meninggalkanmu. Aku nggak seharusnya melakukan itu padamu," lirihnya menundukkan kepala sambil menutupkan mulutnya dengan satu tangan.
Kuonji mengangkat kepalanya meraih tubuh istrinya ke pelukan hatinya. "Kita telah memafkan satu sama lain, istriku. Kau bukanlah alasan kesalahanku untuk menjauhkan keluarga ini darimu. Kaulah kekuatanku sekaligus penyeimbang rasa amarah dan kesedihanku. Maafkan aku."
Dibenamkan wajah Kaoru ke dada – pusat rasa sakit juga kerinduannya di kala itu – menghirup aroma kuat-kuat dan berharap mereka takkan bisa pergi lagi. Selamanya!
"Sudah lama aku nggak melihat kalian begini."
Suara tenang dan lembut membuat Kuonji menatap di samping Kaoru, seorang wanita berambut putih dan paruh baya masih duduk bersimpuh dengan tegaknya menghadap kepala keluarga Sakura.
"Ibu…"
"Apa kabar, Anakku?"
"Baik, Bu."
"Kau harus melihat anak kedua kita." Kaoru mendorong tubuhnya agar Kuonji melepaskan pelukan tersebut. "Dia sudah besar dan ingin bertemu denganmu."
Kaoru merangkul seorang anak perempuan berusia 10 tahun di sampingnya, memperkenalkan kepada Ayahnya, siapa gadis kecil yang sangat mirip Ibu dan juga Ayahnya.
"Inikah anakku?"
"Benar, Kuonji. Ini anak kita yang belum kau sempat melihatnya di kala itu," jawab Kaoru mempersilakan Aoi mendekati Ayahnya.
Aoi mengulurkan kedua tangan mungilnya ke wajah orang paling dirindukannya. Sosok Ayah yang sering dieluk-elukkan teman-temannya. Sosok Ayah sering diejek karena Aoi tak memiliki Ayah yang baik di sampingnya.
Air bening keluar. Ada senyuman hangat terpampang di bentuk bibirnya.
"Ayah…"
"Anakku." Diraih tubuh mungil itu ke pelukannya.
Pemandangan ini benar-benar terindah juga hangat. Tidak ada satu pun orang-orang marah karena mereka bercucuran air mata. Semuanya bisa kembali seperti semula. Kembali ke tempatnya lagi tanpa ada lagi kehancuran yang menyelimuti keduanya.
Beberapa jam kemudian untuk melepaskan kerinduan tersebut, akhirnya mereka berbicara soal pilihan tentang ramalan dibicarakan Hii-sama semenjak kelahiran Mikan pada waktu itu.
"Jadi, Mikan sengaja membunuh perasaannya terhadap Natsume? Kenapa?" tanya Kaoru yang tak suka mendengar hal ini walaupun sangat setuju pada masalah tersebut.
"Mereka nggak boleh menikah, istriku. Daripada melarang mereka, lebih baik menghancurkan hati Mikan soal perasaannya kepada Natsume. Itu lebih baik daripada melihat keduanya menghilang entah ke mana," jawab Kuonji seadanya sambil memangku Aoi tengah bermain-main di pangkuannya.
"Ini nggak adil buat Natsume, suamiku."
"Jika memang nggak adil buat Natsume, kita nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Inilah kenyataannya. Kita nggak bisa membantahnya." Kuonji menundukkan kepala sambil memeluk anak bungsunya.
"Kalau itu memang benar, aku mau membuat beberapa pilihan."
"Dua pilihan saja sudah cukup, istriku."
"Baiklah. Pilihan pertama, izinkanlah mereka bersama-sama sampai waktu ditentukan saat kita mengunjunginya. Biarkan mereka selama dua hari ini bersama-sama. Daripada harus melihat mereka menderita." Kaoru memperjelas keinginannya soal masalah dua anak kesayangannya.
"Aku setuju dengan itu." Kuonji tersenyum masam, tapi bahagia.
"Pilihan kedua merupakan terakhir, saat Mikan meninggalkan Natsume. Aku mau Rei membawa Mikan ke luar negeri. Jangan biarkan Natsume mengetahui keberadaan Mikan. Jangan biarkan Natsume mengejar Mikan lagi, meski mereka nggak bersama-sama lagi." Ditatap Rei penuh permohonan. "Bisakah kau menjaga adikmu, Rei?"
"Aku setuju pada keinginan Ibu." Rei mengangguk pasti, menyetujui pernyataan tersebut.
"Jadi, sebagai istri kedua dari keluarga Sakura. Aku meminta para pengawal untuk mengatakan kepada Natsume dan Mikan bisa bersama-sama lagi. Tanpa diketahui Natsume, Mikan harus berpura-pura senang dan bahagia telah bersama Natsume sampai akhir. Sebelum Mikan dibawa pergi Rei di malam hari menuju luar negeri dengan kapal laut ke Inggris."
"Berpura-pura? Artinya?" tanya Nenek Natsume dan Aoi, mengernyit kebingungan.
"Hanya Mikanlah yang tahu soal kedua pilihan ini, Ibu. Natsume nggak boleh tahu karena pasti Natsume menentangnya. Karena yang jadi korban adalah Mikan bukan Natsume," jelas Kaoru.
"Ini nggak adil, Kaoru."
"Biarlah, Ibu. Ini lebih baik daripada harus menjalani hubungan terlarang." Kaoru menyembunyikan kesedihan soal pembahasan ini.
"Kalau begitu, biarkan saya yang jadi kurir pembawa pesan ini kepada Mikan, Kaoru-sama." Subaru memasukkan dirinya sebagai orang pengantar pesan. "Saya juga mau bertemu dengan adik saya yang tengah berada bersama Mikan saat ini."
"Aku mengizinkanmu."
"Terima kasih, Kaoru-sama. Saya pamit dulu." Subaru bangkit berdiri dan pergi dari tempat itu.
Semuanya mendesah berat pada dua pilihan terberat yang pernah dilakukan di masa kehidupan mereka terdahulu. Demi dua orang paling dicintainya – tak boleh bersama – akhirnya harus mendapatkan kebahagiaan di jalan yang salah. Demi dua orang harus memulai hidup baru di kala itu. Biarkanlah itu terjadi asalkan tak boleh disakiti lagi.
Semuanya terdiam di dalam ruangan tersebut. Rei memohon pamit dari sana untuk mempersiapkan segala sesuatunya besok malam. Dirinya juga meminta pengawal untuk berpesan pada istrinya untuk bersiap-siap meninggalkan kota Tokyo. Kapal menuju Inggris tiba di pelabuhan besok malam sekaligus keberangkatan mereka beberapa jam kemudian.
TBC
Jinno terlihat Out Of Character di sini. Aku mau sekali buat Jinno terlihat aneh begitu menggiurkannya kalau terjadi suatu saat nanti. /ahay/
God bless You…
-Luna Margaretha-
