kookynachita : makasih kembali yah eka udah support kami :D
Icha yukina clyne : alter ego? Ngga kok, dia bukan punya alter ego tapi labil, hahahaha.
Ran Murasaki SS : yeay, makasih yah… syukur deh ternyata masih bagus, kadang kalo mau update tuh suka deg-degan hehehee
Aozu Misora : hey hoo mariaaa :D makasih udah nganggep aku begitu… aku jadi tersipu ./.
Laura Pyordova : yeaaay, ide narukarin berterima kasihlah pada mommy-mu, hahahahahaa XD
Retno UchiHaruno : pasti tetep lanjut kok fict ini, hehehe… sakura di latih sama oro bakalan ganas, hahahaha
Saqee-chan : ShikaIno? Mungkin chapter depan yah, hehehee
Doremi saku-chan : aku juga kangeeeeeeeeeen! XD
Wakamiya Hikaru : yeay! Alhamdulillah kalo tetep keren, hehehehee
Gracia De Mouis Lucheta : padahal rencananya chapter itu g mau aku bikin sedih, tapi malah kebalikannya, hehehee -_-
Tsukiyomi Aori Hotori : pake emosi yang apa? ._.a
Miyank : hehehee, makasih yaah, mudah2an aja dia bener2 bangga sama aku XD
ndybLackCherry : pada seneng narukarin yaaah XD aku juga seneng, sejak bikin fict ini banyak hal baru yg aku seneng, hehehe
skyesphantom : yeepp! I'll keep strong ^^9
: yaaah, jangan sedih doong, makasih yah udah ma uterus ngikutin fict ini, walaupun aku tahu banget balesan reviewnya ngga akan seasick dulu, tapi aku sebisa mungkin pasti jawab pertanyaan kalian kok :D
Yukina Itou Sephiienna Kitami : :D terima kasih yah ^^
Karasu Uchiha : ngga kok :D
Kim Na Na Princess Aegyo : iya, pasti ada yg kurang :D iya makasih banyak yah udah mau support aku, kalau bukan demi kalian mungkin aku udah nutup akunnya raffa ini :D
Michelle : hahahaha, justru awalnya aku ngga niat bikin narukarin -_-a karena bujukan seseorang jadinya begini deh, hehehehee… kakahina? Itu juga bisa terjadi kok :3
Raiha Laf Qyaza : Karin itu lesbi kok, tapi berkat kebaikan dan kehangatan naruto dia udah mulai mau jadi normal XD iya, Hinata rambutnya jadi pendek kayak waktu dia masih genin :3
scarlet uchiha : hahaha, sakura di latih sama dua guru sekaligus soalnya dia telat dikasih pelatihannya :3
Aoisunoire : kurang panjang? Susah tau bikin plotnya, heheheheheee T_T
FairyLucyka : typo, typo dan typo… aku nyerah kalo soal itu, nyahahahaa XD aku juga bingung kenapa aku selalu miss di typo, bahkan udah di cek berkali2 pun pasti ada aja typo-nya… makanya sekarang sedikit mengandalkan beta :3
hasnihacci : korban lagi pasti ada kok fufufufu~ :3
Michelle Aoki : hehehehe, yang punya pikiran supaya orochi jadi protagonist itu di raffa XD dan yang punya pikiran yg jadi antagonis asuma-kurenai itu aku :3 jadi begini deh ceritanya XD
Cool Drifter : oh my god! *sumpah baru sadar kalo review udah sampe 1000* DAN KAMU YG KE 1000! Silahkan ambil hadiah di penitipan barang XD yeay! Doain yah supaya chapter ini dan kedepannya tetep bagus T^T
Bluremi : :3 iya soalnya kamu sering nongol dif b aku, dan juga sering nyemangatin aku, hehehee… jadi penasaran pengen liat kamu :3
Luthfiyyah Zahra : aku ngga maksain diri kok :3 *cipokbalik
NeaYouichi Devil : aaahhhhh, suka stress sendiri kalo ada yg nagih lover eternal, hahahahahaa *gantung diri* untuk fict itu bener deh… mood aku ilang bgt T^T mungkin kalau fict love ini selesai aku akan coba nyicil yah T_T
YashiUchiHatake : penasaran endingnya? Aku juga penasaran sama ending ini, bagus atau ngga nanti aku bikinnya, hahahhaa -_-
Blitz21 : yoooshh! Ayo semangaaat ^^9
Devi Lauramora : makasih yaaah :D
Kamishiro Mashiro : oh kamu narukarin lover XDkarena aku suka incest, aku juga suka narukarin (incest? Berhubung mereka satu marga jadi aku bilangnya incest hahahahaa)
sakuraBELONGtoSASUKE : iya, aku usahain untuk tetep nulis kok :D
zetta hikaru : siaap! ^^7
Minami-to-yuri no hana : 1. Te-terfavorit? Aahh ngga mungkin! Aku ini biangnya typo dan segala macem, hehehhee 2. Iya, kami pernah jadian :D 3. A-aku jadi malu… aslinya aku ngga ramah, aku ini jutek, sombong n blagu loh (kata org) ._.a 4. T_T tabah pada akhirnya, awalnya kan tetep aja cengeng dan g ikhlas, hehehee… makasih yah kamu udah nganggep aku begitu, seneng deh bacanya :3
Untuk para reviewer GUEST, maaf yah aku ngga bales review kalian, habis aku bingung mau bales gmn, nama kalian sama semua, hehehehee ^^
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Aneh.
Ada yang aneh memang suasana di rumah kediaman White Organization saat ini, karena saat ini terlihat Itachi dan Deidara yang sedang beradu tatap dengan aura gelap yang membuat Hidan angkat tangan. Sasori dan Gaara lah yang kini menjadi penengah mereka. Sasori tengah memegangi Deidara sedangkan Gaara memegangi lengan Itachi. Memisahkan kedua laki-laki itu dari pertengkaran hebat yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Sudah kuduga kau ini bermuka dua," desis Itachi.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku, jangan sok menjuluki seperti itu," ujar Deidara.
"Apa saat kau meniduri Sakura juga memakai topeng? Hah!" bentak Itachi.
Belum Deidara jawab, Sasori sudah menengahi mereka lagi, "Sudah hentikan kalian berdua! Ingat tujuan awal kita."
"Katakan Deidara, sebenarnya ada di pihak mana dirimu saat ini?" tanya Gaara.
"Aku berada di pihak yang menurutku benar," jawab Deidara menepis tangan Sasori dari tubuhnya.
"Ini sudah tidak berjalan sesuai tujuan awal. Kita tidak lagi sejalan, lebih baik kau keluar dari-"
"Tidak ada yang perlu keluar dari W.O, Itachi… Kita saling membutuhkan satu sama lain," potong Sasori.
Deidara menatap Itachi dengan tatapan sinis, begitupula Itachi yang tidak mau kalah. Saat keadaan mulai hening, Deidara teringat akan kenangannya bersama Ino sewaktu mereka kecil dulu. Saat Ino masih sangat manja padanya, sebelum sang ayah memisahkan mereka.
Namun suara pintu membuyarkan lamunannya dan juga mengalihkan tatapan pada pintu yang terbuka itu.
"Kau…" ucap Gaara.
"Bisakan kupinjam sebentar si pirang itu?" ujar pria berambut putih yang ternyata adalah Jiraiya.
"Ada hubungan apa kalian?" tanya Itachi.
"Itachi, tidak semua yang anak buahmu lakukan kau harus tahu juga kan?" ujar Jiraiya sambil tersenyum, dan begitu Deidara mengikuti langkah Jiraiya, laki-laki itu menambahkan, "Ah, dan juga… kita semua masing-masing mempunyai rahasia yang tidak ingin diketahui siapapun, termasuk dirimu."
Ucapan jiraiya membuat Itachi bungkam. Memang benar, tapi itu bukan berarti Itachi mempunyai rahasia tersembunyi yang tidak ingin orang lain tahu. Semua yang ia lakukan hanyalah untuk melindungi adiknya dan Sakura.
Setelah mereka berjalan menjauh dari tempat W.O, Deidara membuka pembicaraan, "Ada perlu apa?"
"Aku dengar… kau juga berhubungan dengan Asuma, apa benar?" tanya Jiraiya.
"Tidak ada urusannya denganmu," jawab Deidara dingin.
Jiraiya tersenyum licik dan memandang terangnya bulan di malam hari yang menyinari mereka, "Kau tahu, terkadang manusia baik bisa menjadi jahat dan manusia jahat bisa menjadi sangat baik. Tapi ada juga manusia yang memilih untuk menjadi abu-abu."
Deidara tidak melontarkan jawaban ataupun kata-kata. Dia hanya diam mendengarkan apa yang akan Jiraiya lanjutkan dari ucapannya tadi. Jiraiya menoleh padanya dan memandang sedikit meremeh pada diri Deidara, "Dan kau adalah termasuk manusia abu-abu itu."
Tersentak.
Itulah perasaan Deidara saat Jiraiya mencap dirinya abu-abu.
"Kau lebih memilih menjadi abu-abu, melihat siapa yang akan menang, dialah yang kau ikuti. Aku tidak tahu apa tujuanmu yang jelas-"
"Kau sendiri sama saja!" bentak Deidara, "Kau juga memilih abu-abu, kau tidak jelas berada di pihak mana. Kau memang guru dari para Elite, tapi bukankah kau juga sahabat Asuma?!"
Jiraiya tersenyum seolah mendapatkan apa yang dia mau, "Dari mana kau bisa tahu kalau aku sahabat Asuma, eh?"
Deidara menutup mulutnya dan melangkah mundur satu langkah ketika Jiraiya mendekatinya.
"Asal kau tahu anak muda, aku bukannya abu-abu… tapi aku memainkan putih di atas hitam," bisik Jiraiya.
"Kau… siapa kau sebenarnya?"
"Tidak semua orang harus tahu siapa diri kita sebenarnya. Yang aku perlukan denganmu adalah… katakan pada Asuma, sedikit saja dia menyentuh Sakura, aku tidak akan segan untuk membunuhnya," ucap Jiraiya dengan wajah serius kemudian meninggalkan Deidara sendirian. Sedangkan Deidara masih terdiam, bingung dan bertanya-tanya, apa hubungannya Jiraiya dan Sakura?
.
.
Sementara itu di kediaman Elite Assassin, tepatnya di ruang pelatihan bawah tanah, Tsunade dan Orochimaru sedang melatih Sakura secara pribadi. Walaupun begitu bukan berarti yang lainnya tidak boleh melihat, pelaksanaan pelatihan Sakura dilakukan setelah anggota yang lain berlatih. Sakuya dan Ino yang saat ini paling lelah sedang meluruskan kedua kakinya sambil meminum air mineral yang diberikan oleh Shikamaru. Sasuke sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya, menatap kekasihnya yang kini sedang mati-matian mengayuh pedang sambil bergerak cepat.
"Bagus Sakura! Jaga keseimbanganmu! Ayuhkan lebih kuat dan cepat!" tegas Tsunade.
Sakura mengikuti setiap perintah Tsunade, dan setiap kali Sakura melakukan sedikit kesalahan Orochimaru akan menghampirinya dan menyuruhnya melakukan gerakan yang salah itu sekali lagi. Sering kali Orochimaru juga menjadi lawan latihannya Sakura.
Sudah sebulan mereka berlatih dan perkembangan Sakura bisa dibilang sangat pesat mengikuti ajaran yang Tsunade dan Orochimaru berikan. Sama dengan Hinata yang sudah berlatih oleh Kakashi untuk meracik senjata dan beberapa alat peledak.
"Ya! Hari ini cukup sampai di sini," ujar Tsunade saat Sakura berhenti menggerakan tangannya mengayuh pedang.
"Loh? Kalian masih di sini rupanya," ujar Karin yang tiba-tiba datang dengan pakaian perginya.
"Karin nee-chan mau kemana?" tanya Sakuya.
"Aku ada perlu sebentar dengan Naruto keluar. Tidak usah menunggu kami untuk makan malam ya," jawab Karin. Naruto memunculkan kepalanya dari belakang Karin dan menambahkan, "Ini kencan pertama kami setelah resmi menjadi sepasang keka-"
"Diam kau! Jangan bicara yang tidak-tidak!" sewot Karin yang menutup mulut Naruto memakai kedua tangannya.
"Hahahaha.. Kalian bersenang-senang saja, urusan rumah serahkan padaku," ujar Ino.
"Ok, terima kasih. Kami pergi dulu," pamit Karin dan Naruto yang melambaikan tangannya sambil menyengir.
Saat kedua orang itu pergi, Sakura tersenyum lembut pada pintu yang baru saja di tutup oleh Karin itu. Senyuman Sakura ini di sadari oleh Sasuke yang membawakan handuk untuknya, "Apa yang kau senyumkan?"
"Mereka," jawab Sakura lembut, "Aku lega Karin sudah mulai ceria dan... mata mereka… begitu serasi."
Sasuke menatap lembut Sakura yang masih tersenyum. Di tutupi kepala Sakura memakai handuk dingin itu dan mengacaknya sambil membersihkan keringat wanitanya itu, "Mereka itu kuat," ucap Sasuke pelan.
"Ng, mereka sangat kuat," gumam Sakura yang entah kenapa senyumannya itu memudar karena tiba-tiba dirinya teringat kembali akan ucapan Asuma.
Dia hampir mati penasaran dengan apa yang dimaksud oleh laki-laki itu. Apa benar dia adalah anak kandung dari Asuma? Lalu kenapa saat dia kecil ayahnya menganggap Sakura itu sangat berharga? Kalau memang Sakura bukanlah anak kandungnya, harusnya Sakura diperlakukan tidak selayaknya anak kandung. Apalagi dulu Asuma sering berkunjung ke rumah mereka.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sasuke sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sakura.
"Ah? Tidak, bukan apa-apa. Aku lelah.. aku mandi dulu ya," ucap Sakura.
"Mau kubantu?" goda Sasuke tanpa mereka sadari bahwa yang lain sudah melemparkan pandangan jengkel oleh sikap mesra mereka yang kadang tidak kenal tempat itu. Dan Sakura hanya bisa tersenyum kaku oleh perlakuan Sasuke.
.
.
"Apa lagi yang kita perlukan? Bahan-bahan kue, peralatan dekorasi rumah, dan-"
"Naruto, lihat itu," potong Karin saat Naruto sedang membaca secarik kertas yang isinya daftar belanjaan yang mereka perlukan. Saat Naruto melihat ke arah yang Karin tunjukkan, wajahnya tersenyum lebar.
"SEMPURNA! Sakuya pasti terlihat sangat cantik memakai gaun itu!" seru Naruto.
Saat ini mereka diam-diam membeli alat-alat untuk persiapan pesta ulang tahun Sakuya besok. Mungkin lebih tepatnya mereka tidak tahu kapan Sakuya berulang tahun. Namun sejak kematian Neji, diantara semuanya yang paling terpuruk adalah Sakuya dan Hinata. Memang ini bukan saat yang tepat untuk berpesta, tapi untuk mengubah suasana apa salahnya untuk mencoba sesuatu yang menyenangkan. Sampai akhrinya Naruto mencetuskan ide untuk membuat acara ulang tahun Sakuya.
"Baiklah, aku akan ke dalam untuk membelinya, kamu tunggu di sini," ucap Karin.
"Ok, jangan lama-lama. Barang-barang ini sangat berat," protes Naruto.
Karin mengacungkan jempolnya dan berlari ke arah toko baju tersebut. Saat Karin memasuki toko itu, Karin melihat gaun-gaun yang lain untuk Sakuya, dirinya, Sakura, Ino dan dia juga berpikir untuk membelikan Hinata. Saat ini Karin memakai topi modis berwarna coklat tua. Saat dia bercermin dan melihat satu matanya tertutup oleh penutup mata, Karin tersenyum sambil menyentuh matanya itu. Dia berpikir sangat beruntung Naruto lah yang menerima matanya itu.
Saat Karin membalikkan tubuhnya…
BRUKK
Dia menabrak seseorang sehingga baju-baju yang dipegang orang itu jatuh semua ke lantai.
"Ah, maaf maaf, aku tidak sengaja," ujar Karin sambil membantu mengambil baju yang berserakan di lantai.
"Ah tidak apa-apa, namanya juga kecelakaan," ucap laki-laki yang di tabrak oleh Karin tersebut.
"Ini bajunya, sekali lagi ma-" ucapan Karin terhenti saat dia menoleh pada wajah yang dia lihat saat ini.
"Aku bilang tidak apa-apa. Terima kasih ya," ucap laki-laki itu sambil tersenyum pada Karin dan meninggalkannya.
Karin hanya terbengong melihat wajah laki-laki tadi. Benar-benar wajah yang sangat mirip… Tidak. Bisa dibilang wajah itu mirip, hanya saja warna rambutnya berbeda. Mengingat Naruto yang menunggunya di luar, Karin cepat-cepat memilih gaun yang akan dia beli dan membayarnya langsung. Selagi proses pembayaran, Karin berpikir… diantara semuanya, memang hanya masa lalu dari Naruto yang tidak terlalu dia tahu. Naruto juga tidak banyak cerita tentang dirinya. Tidak tahu dengan Sasuke dan Sakura, apakah mereka tahu tentang masa lalu Naruto?
"Lama sekali sih!" protes Naruto saat Karin berjalan ke arahnya.
"Maaf maaf, tadi aku sempat bingung memilih gaun," jawab Karin dengan wajah bingung.
"…" Naruto merasa ada sesuatu yang mengganjal pada Karin, "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Kenapa?" tanya Karin balik.
"Wajahmu terlihat… bingung."
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya… lelah mungkin?" jawab Karin sambil tersenyum.
Naruto mengalihkan semua belanjaannya di tangan kiri. Dia juga mengambil alih belanjaan yang Karin pegang dan dia bawa hanya memakai tangan kirinya, agar tangan kanannya bisa menggenggam tangan Karin seperti saat ini, "Kalau ada apa-apa, ceritakan padaku, jangan dipendam sendiri," ujar Naruto lembut.
Merasakan genggaman Naruto, wajah Karin memerah dan dia hanya menjawab dengan anggukan disertai oleh suara gumaman kecil
Sementara itu dibelakang mereka, anak laki-laki yang Karin tubruk tadi mengawasi sosok mereka dengan wajah menyengir licik sambil mengambil foto mereka dari belakang.
"Lama tak bertemu, kakak!"
"Menma, apa yang sedang kau lakukan di sini!" ujar ujar laki-laki berambut putih dan memakai kacamata.
"Hanya jalan-jalan sebentar, Kabuto. Tidak udah panik begitu."
"Asuma mencarimu dari tadi. Sebaiknya kau menghadapnya dan jelaskan kenapa kau bisa ada di luar. Aku tidak mau kena marahnya karena tindakanmu ini!"
"Geez Kabuto, kau terlalu takut oleh Asuma. Aku keluar juga menemukan hal yang menarik."
"Hal menarik? Apa itu? Tumben sekali kau tertarik pada dunia luar," kata Kabuto sambil membetulkan kacamatanya.
"Hehehe, hal yang kutunggu-tunggu dari dulu."
.
.
"Masa lalu Naruto?"
Karin mengangguk saat dia bertanya pada Sakura yang kini sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Hhmm, setahuku dia itu kabur dari rumahnya. Tentang orang tuanya aku tidak tahu pasti karena Naruto sedikit tertutup kalau mengenai hal itu," jawab Sakura.
"Oh begitu…" gumam Karin.
"Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak… hanya saja, tadi saat aku pergi ke suatu tempat, aku bertemu oleh laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan Naruto. Yang membedakannya hanyalah warna rambutnya," jelas Karin.
"Apa warna rambutnya?" tanya Sakura sambil meletakkan sisirnya dan membalikkan tubuhnya agar bisa melihat Karin tanpa melalui cermin.
"Warnanya sedikit mirip dengan Sasuke. Tapi wajahnya… aku bahkan hampir mengira dia adalah Naruto sebelum kehilangan kedua bola matanya," ujar Karin serius.
"Mungkin itu hanya orang yang kebetulan mirip," jawab Sakura.
"Ya, tadinya aku juga berpikir begitu. Aku tidak ingin memaksa Naruto untuk menceritakan masa lalunya padaku. Hanya saja… aku ingin dia lebih terbuka denganku," ucap Karin.
Sakura tersenyum lembut kemudian menghampiri Karin dan memeluknya, "Aku bersyukur kalian bisa bersama, kalian seakan saling mengisi satu sama lain," ucap Sakura.
"Hahaha, apa yang kau katakan. Kita semua juga sudah saling mengisi satu sama lain, Sakura."
"Tapi ini beda, aku melihat ada perubahan dari sorot matamu ketika kau menatap Naruto. Aku yakin kau mulai jatuh cinta padanya," tebak Sakura.
"Ti-Tidak secepat itu!" tolak Karin dengan gaya yang kikuk, "A-Aku memang sudah berciuman dengannya, dia juga mengatakan kalau dia menyukaiku, tapi, tapi-"
"Kalian sudah berciuman? Wow, itu di luar bayanganku loh," ucap Sakura dengan ekspresi yang pura-pura terkejut.
"Sakura, sejak kapan kau menjadi menyebalkan seperti ini!" sewot Karin dengan wajahnya yang memerah.
"Hahahaha. Tapi aku serius, aku turut bahagia," ujar Sakura tulus.
Karin tersenyum dan mengacak-acak rambut Sakura, "Sebaiknya kau istirahat dan bantu aku besok pagi untuk menyiapkan kejutan buat Sakuya."
"Aku yakin dia akan menyukainya," ujar Sakura.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Sasuke yang datang dengan wajah yang suntuk.
"Ya, aku sudah mau keluar. Selamat malam," ucap Karin.
Saat Karin menutup pintu, Sakura mengulurkan tangan pada Sasuke, "Ada apa? Wajahmu kusut begitu."
"Hhh, Orochi-sensei," gumam Sasuke.
"Ada apa dengannya?"
"…" Sasuke terdiam sebentar dan menatap Sakura dengan intens. Sakura hanya memiringkan wajahnya karena bingung oleh tatapan Sasuke, "Apa aku…"
"Ya? Aku apa?"
"…" Sasuke mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Sasuke ada apa?" tanya Sakura yang mulai khawatir.
"Apa aku… maniak?" tanya Sasuke ragu.
"Maniak? Maniak apa? Maniak bertarung? Ya! Kau memang maniak bertarung," jawab Sakura polos.
Sasuke menatap Sakura dengan tatapan seolah 'ayolah, kau tidak sepolos ini kan?'
"Ah!" Sakura tiba-tiba baru sadar akan maksud Sasuke, "Yaah, dibilang maniak sih tidak juga, kenapa?"
"Dia melarangku untuk melakukan sex dengammu selama pelatihanmu berlangsung," ujar Sasuke kesal.
"Loh? Memangnya ada apa?"
"Mana kutahu!"
Melihat Sasuke yang kesal begitu, Sakura terkekeh sendiri kemudian dia melingkari kedua tangannya di pinggang Sasuke, "Kalau Orochi-sensei melarang kita, bagaimana kalau malam ini kita jadikan malam terakhir sebelum kita bisa memulainya secara normal lagi?"
Sasuke menoleh dan menidurkan Sakura di bawahnya, "Aku harap kau tidak menyesal menawarkanku hal seperti ini," ucap Sasuke tersenyum rakus.
"Tidak akan," gumam Sakura.
.
.
Sakuya berdiri di depan cerminnya. Dia melihat bahwa rambutnya sudah sedikit panjang, tidak lagi seleher. Rambutnya sudah melebihi bahunya. Diambilnya tali yang pernah dia ikatkan ke rambut Neji kemudian dia kuncir rambutnya dengan gaya ekor kuda, lalu mengikatkan tali itu di rambutnya. Sakuya tersenyum dan menyentuh cermin itu, "Neji nii-san, bisa nii-san lihat sekarang? Sakuya sebentar lagi akan menjadi lebih dewasa. Sakuya ingin Neji nii-san bangga melihat Sakuya."
Saat Sakuya memandangi cermin, tiba-tiba wajah Gaara terlintas di otaknya dan itu membuat wajahnya memerah. Dengan cepat Sakuya menggelengkan kepalanya, "Apa-apaan Sakuya ini! Kenapa wajah si panda itu muncul!" gerutu Sakuya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Sakuya.
Saat pintu dibuka, terlihat Hinata yang sedang menggenggam sesuatu di tangannya, "Boleh aku masuk?"
"Silahkan," jawab Sakuya.
Hinata masuk dan menyerahkan sesuatu pada Sakuya. Ketika Sakuya melihat benda itu… itu adalah foto Neji dan Sakuya yang sengaja Hinata cetak untuk Sakuya, "Hanya ini yang bisa kulakukan."
Foto itu adalah saat Neji merangkul Sakuya dari belakang. Saat Sakuya sedang memandangi foto tersebut Hinata berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Namun sebelum dia menutup pintu, "Rambutmu akan lebih indah jika kau panjangkan. Neji pasti menyukainya, begitu pula dengan Gaara."
Dan Hinata pun menutup pintu membiarkan Sakuya merasakan wajahnya memerah sendirian lalu heboh dengan sendirinya, "Aaaahhh! Kenapa harus si panda?! Memangnya ada apa dengan Sakuya dan dia?! Sakuya tidak menyukai dia!"
Mendengar Sakuya menggerutu, Hinata tersenyum lembut dari luar kamar. Hinata berpikir, ternyata Neji menemukan pengganti dirinya selama ini dan penggantinya itu lebih manis dibanding dengan sikapnya yang manja dan nona besar ini.
.
.
Ke esokan harinya, Karin, Sakura, Ino dan Hinata sengaja bangun jauh lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkan makanan dan kue ulang tahun untuk Sakuya yang ke- 15. Dan para laki-laki menyiapkan dekorasi rumah, kecuali Naruto.
"Kemana sih dia pagi-pagi buta begini!" sewot Shikamaru.
"Katanya mau lari pagi sebentar. Sudah lama dia tidak olah raga," jawab Karin.
"Ino, dimana aku harus memasang ini?" tanya Tsunade yang menunjukan pita panjang berwarna merah.
"Ah, Tsunade-sensei bisa memasangnya dari ujung sana," tunjuk Ino pada ujung tembok, "Sampai sana."
"Kau ini wanita, tapi tidak bisa menghias ruangan sama sekali," ledek Jiraiya.
"Kau mau pita ini melilit di lehermu, hem?" ancam Tsunade.
"Ahhhh~ tidaaak. Kau ini wanita yang sangat mahir dalam hal apapun Tsunade," kata Jiraiya sambil sweatdrop.
Saat ini Naruto berlari mengelilingi taman kota. Hari masih sedikit gelap, sang mentari masih belum mau menampakkan wujudnya. Sebelum melanjutkan larinya, Naruto meminum air yang sudah dia bawa sebelumnya dari rumah. Dia terlihat sangat lelah. Matanya pun sedikit ngilu akibat beberapa debu yang masuk. Saat Naruto akan kembali melanjutkan larinya, tatapannya terpaku pada sosok yang berada di seberangnya.
Sosok yang kini sedang menatapnya dengan senyuman seolah mengejek dirinya. Saat ini Naruto seperti sedang bercermin. Sosok itu perlahan mendekati Naruto dengan wajahnya yang tersenyum seolah dia puas menampakkan dirinya di hadapan Naruto. Saat jarak mereka sudah dekat sekitar 5 meter, sosok itu berbicara terlebih dahulu.
"Lama tak jumpa, Naruto-nii."
"Menma?"
A/N : don't yell at me or kill me please! aku minta maaf banget karena sangat ngaret updatenya... dan chapter ini sangat pendek, bener deh... alurnya aku sedikit lupa, aku bakal usaha sebisa mungkin untuk inget gimana alurnya T_T
ah, makasih untuk isty dan suu yang udah nge beta-in fict ini, maaf juga kalo masih ada typo... aku, suu dan isty hanyalah manusia biasa yang kadang ngga fokus oleh apa yang kami kerjakan (apasih!)
dan ada sedikit perubahan dalam cerita ini, hhmmm bukan perubahan sih, lebih tepatnya adalah penambahan :p
aku harap chapter ini bisa menghibur kalian...
sekali lagi maaf dan terima kasih yah semuanya.
regard
V3Yagami
