Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, ficlet collections, for #NulisRandom2015

.

Frühling;

.

.

Spring

.

.

Chapter 21: Change

.

.

Belum seratus hari aku mengenalmu, belum pula kita saling terbiasa dalam sebuah ikatan statis yang kasual. Namun, senyummu memaksaku menerima kehadiranmu tanpa ragu, menghalau ranjau yang sudah sejak lama aku pasang ketika kedatangan orang baru. Lakumu mematikan segala asing yang hinggap begitu sedikit, membuang segenap angkuh yang selama ini hinggap hingga segala tulang-belulangku. Entah bagaimana caranya, kau membuatku terbuka, pada segala kata dan rupa yang seringnya kau hadirkan.

Di hari pertama kau bilang cinta. Dan saat itu pula aku merasa kau berbeda. Hari-hari berikutnya kau terus berusaha, seakan kepongahanku hanyalah kerikil kecil yang tak seberapa.

Dirimu mengacaukan logikaku. Juga mendiferensiasikan rasa pada Nii-sama yang telah lama kugenggam erat. Begitu erat hingga rasanya tak ingin kulepas. Menyubtitusi kestatisan yang telah lama kami rasa. Meluruskan segala hati yang nyataannya tak wajar. Karenamu, segala perilakumu, juga senyum-senyummu.

Kau, Ichigo. Kau berani mengubah sudut pandangku. Pada segala cinta yang tak ingin kuubah rasanya. Kau berani menembus segala zona nyamanku dengan Nii-sama yang kami tutupi sewajar mungkin. Kau, kau memberi cahaya baru, rasa baru, warna baru, dan hari-hari baru. Dan kau, memberikan kesederhanaan baru pada cinta dalam bentuk kesederhanaan yang indah.

Ichigo, bagaimana caranya aku mengatakan padamu, juga pada Nii-sama, bahwa hati ini telah berubah? Bahwa rasa ini tak lagi berlabuh di tempat yang lama. Melainkan telah menaut pada satu hati yang baru.

Dan, Nii-sama, aku minta maaf.

Maafkan aku, maafkan aku.

Mungkin, pada akhirnya aku bisa belajar menjadi seorang adik yang baik bagimu.

Maafkan aku, dan … terima kasih.

.

.

Rukia menarik netra dari gumpalan kumulonimbus di atas sana, sekaligus menarik diri dari monolog tak terarah yang barusan saja melekat di kepalanya. Matanya melirik pintu roof top. Menunggu-nunggu dua orang yang kini menjadi entitas berarti baginya keluar dari tempat itu. Entahlah, dirinya tak ingin menerka-nerka.

Butuh beberapa detik ia berhasil keluar dari kemelut pikirannya. Hela napas ia embuskan dalam-dalam. Dan saat itulah, ia melihat Byakuya keluar dari pintu itu dengan langkah lebar yang tergesa—seperti penuh dengan beban.

Belum sempat ia memanggil, Byakuya sudah lebih dulu menangkap pandangannya. Pria itu hanya menatap datar—tatapan khas Byakuya. Langkahnya mendekat, membuat Rukia bertanya-tanya apa yang terjadi selama mereka (Byakuya dan Ichigo) berbicara di sana. Ketika sampai di hadapan Rukia, Byakuya mengangkat sebelah tangan untuk menyentuh sisi wajah Rukia. Membelainya lembut di sana.

"Apa pun yang terjadi, kau tetap adikku, kan?"

Dengan satu kalimat itu, segalanya terasa melegakan bagi Rukia.

.

.

tbc

a/n: lanjuuut ke chap 22 :3 :3