"Bagaimana kemajuannya?"
"Seperti yang kau lihat, jiwa mereka berubah menjadi iblis dalam waktu singkat. Hanya saja mereka belum bisa dikendalikan."
"GRAAARRH!"
"Bagus, cepat selesaikan agar kita bisa menciptakan dunia iblis tanpa ada manusia."
"Baik, Kaguya-Sama!"
"GRAAARRHH!"
.
.
.
KONOHA VILLAGE SEASON 2 : ARCH ZOMBIE
Chapter 1. Awal yang baru
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama/Mysteri
Rating : T
Warning : AU/OOC/ Typo/DeathChara/DLDR!
Pair : NaruHina, SasuHina dan GaaHina.
Pair ending : NARUHINA
Summary : Kaguya bekerja sama dengan Orochimaru untuk menciptakan kloning iblis dan memusnahkan manusia. Para penduduk Konoha harus berlari demi menyelamatkan hidup mereka. Akankah dunia ini tetap sama?
.
.
.
"Selamat pagi, Senpai!"
"Pagi, Senpai!"
"Hallo, Senpai!"
Sapaan demi sapaan terus terdengar di sepanjang lorong yang dilalui Naruto. Pemuda pirang itu tersenyum lebar sambil membalas sapaan dari para Kouhainya hingga sebuah celetukan menyadarkannya akan satu hal.
"Siapa sih dia?"
"Entahlah, tiap kita menyapa Sasuke-Senpai selalu saja dia yang kegeeran."
Bahwa sapaan-sapaan itu bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk Sasuke yang berjalan di sebelahnya.
"Grrr! Dasar kalian ini! Aku juga Senpai kalian, tahu!" gerutu Naruto sambil mengacungkan tangannya dengan kesal. Para Kouhai yang berada di sekitarnya pun segera membubarkan diri begitu melihat Naruto akan mengamuk.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak insiden kebangkitan Ratu Iblis. Kini Naruto dan Sasuke sudah naik ke kelas 2. Ada banyak hal yang berubah. Mulai dari kehadiran sosok ibu di kehidupan Naruto. Hingga mata birunya yang kini bisa melihat makhluk tak kasat mata.
Bagi Akatsuki, mata baru Naruto jelas sebuah anugerah. Itu artinya mereka bisa berburu hantu dengan lebih percaya diri. Tapi tidak bagi Naruto. Ia menganggap penglihatannya adalah musibah dan bencana. Bagaimana tidak? Setiap hari ia harus melihat makhluk-makhluk aneh dengan berbagai wujud.
Naruto yang tidak biasa dengan hal tersebut tentu saja kesulitan. Ia bahkan menderita radang tenggorokan beberapa minggu yang lalu karena terlalu sering berteriak. Tapi syukurlah sekarang pemuda pirang itu sudah sedikit terbiasa. Terlebih lagi, ia diperintahkan untuk merahasiakan penglihatannya itu dari orang-orang sehingga Naruto harus bisa mengontrol rasa kagetnya saat melihat makhluk-makhluk yang menyeramkan.
Di pertigaan lorong, Naruto melihat dua orang yang tidak asing lagi dimatanya. Ia pun refleks bersembunyi di balik salah satu pilar. Sasuke yang menyadari itu pun berhenti berjalan dan berkata, "Apa yang kau lakukan, dobe?"
"STTTT! Jangan ajak aku bicara! Aku sedang bersembunyi!" omel Naruto pelan.
"Baiklah aku tidak peduli," sahut Sasuke cuek sambil melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Sudah beberapa bulan ini, Naruto tidak pernah berani untuk muncul di hadapan Hinata secara sengaja. Salahkan saja pada Ibunya yang tiba-tiba saja menyetujui perjodohan yang diusulkan oleh Hiashi. Dengan seenaknya mereka memutuskan untuk melangsungkan acara pertunangan setelah mereka berdua lulus sekolah.
Naruto tahu betul kalau perjodohan ini dilakukan demi kebaikannya dan juga Hinata. Tapi bukankah menikah itu tentang perasaan? Bagaimana mungkin dirinya menikahi orang yang tidak dia cintai. Sebenarnya tidak ada alasan bagi Naruto untuk menghindari Hinata. Hanya saja dirinya selalu salah tingkah, rasanya akan sulit mencari alasan untuk menolak perjodohan itu jika dirinya terus bertemu Hinata.
Hari ini merupakan hari presentasi klub. Dimana semua murid berkumpul di aula untuk melihat aksi para klub yang akan mempromosikan klub mereka masing-masing.
Dan disinilah Naruto sekarang, berdiri di atas panggung setinggi setengah meter sambil memegang mic. Pemuda itu akan menjadi perwakilan klub Akatsuki untuk mempromosikan klubnya.
"Ekhm, Halo semuanya. Aku adalah salah satu anggota Akatsuki dari kelas XII. Kalian pasti bertanya-tanya apa itu Akatsuki. Apa ada yang tahu kami ini klub apa?" tanya Naruto sambil menatap para kouhainya. Mereka semua menatap Naruto dengan ekspresi datar. Kemudian ada seseorang yang mengangkat tangannya.
"Apa itu semacam klub memasak?' tanya anak berambut cokelat pendek.
"Tentu saja bukan. Klub memasak kan sudah presentasi tadi," jawab Naruto. "Masih ada yang mau menebak?"
Kemudian seorang anak laki-laki berambut hitam mengangkat tangannya.
"Kita dapat apa kalau bisa menjawab?"
Naruto berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, "eto... yang bisa menjawab dengan benar akan masuk klub Akatsuki dengan mudah!" seru Naruto dengan cengiran lebar yang khas. Namun para kouhainya tetap menatapnya dengan datar.
"Jadi kau tahu jawabannya?" tanya Naruto pada anak laki-laki tersebut.
"Tidak. Aku tidak tertarik dengan hadiahnya."
"O-oh begitu ya," sahut Naruto kikuk. "Apa masih ada yang mau menjawab?" lanjutnya.
Krik...
Krik...
Krik...
"Woi, durasi! Cepatlah!" bisik Neji pada Naruto yang berdiri mematung diatas panggung.
"Ah, baiklah kalau begitu akan aku jelaskan saja. Akatsuki adalah klub pemburu hantu! Jika kalian penasaran apa saja yang kami lakukan, silahkan simak video berikut ini!" Naruto merentangkan tangannya sambil menunjuk sebuah papan tertutup kain putih yang digunakan untuk menerima cahaya dari infokus.
Dari layar tersebut terlihat sebuah video yang mulai berputar. Dimulai dari hitungan angka mundur yang mainstream.
3
2
1
Kemudian muncullah wajah Pein dan Itachi memenuhi layar tersebut. Mereka berdua berdiri berdampingan dengan wajah yang di close up sehingga garis wajah Itachi terlihat jelas.
"Halo, Minna! Kami sekarang sedang berada di sebuah hutan angker yang ada di desa Konoha. Kami mendapat laporan bahwa ditempat ini sering ada penampakan-penampakan yang mengganggu para petani yang pulang berkebun," ucap Pein dengan wajah yang nampak seram dengan cahaya yang menyorot wajahnya dari bawah.
Itachi merebut mic yang Pein pegang, kemudian ia menerangkan, "Konon katanya, tempat ini merupakan tempat favorite orang-orang untuk bunuh diri. Beberapa mayat ditemukan gantung diri dalam kurun waktu 1 tahun. Apa kalian tahu kenapa mereka bunuh diri ditempat ini?" tanya Itachi dengan wajah serius.
"Tidaak!" terdengar suara Tobi menyahut dalam video tersebut.
"Baiklah kalau kalian tidak tahu, akan kami jelaskan," lanjut Pein sambil merebut mic yang di pegang Itachi.
"Woi! Yang bertugas menjelaskan itu kan aku," protes Itachi sambil merebut mic dari tangan Pein.
"Hei! Jangan merebut mic-ku!"
"TIIIIIIIIIIITTTTTTTT!"
Video tersebut menampilkan Pein dan Itachi yang sedang berebut mic dengan suara mic yang melengking membuat para penonton menutup kuping mereka.
TUUUUTTTT!
Video pun mati, dan pahlawan yang sudah menyelamatkan kuping para penghuni aula adalah Tobi. Ia segera menyabotase aliran listrik sehingga infokus dan speaker mati total termasuk lampu pendukung yang digunakan untuk menerangi panggung. Aula pun mendadak gelap karena lampu aula memang sengaja dimatikan untuk mendramatisir video Akatsuki.
"Sudah ku duga, dia payah dalam presentasi," celetuk Pein.
"Woi! Aku dengar itu, sialan! Lagi pula kenapa video pertengkaran kalian tidak di potong saja?!" gerutu Naruto.
"Maaf, aku lupa," sahut Deidara.
Naruto memandang Deidara dengan tatapan sebal meskipun tidak kelihatan karena gelap.
Setelah lampu dinyalakan kembali, Naruto pun kembali bicara diatas panggung.
"Baiklah, karena ada kesalahan teknis, jadi aku akan menjelaskan secara singkat saja," ucap Naruto. "Bagi kalian yang penasaran dengan makhluk lain. Silakan bergabung dengan Akatsuki. Karena bersama kami, kalian akan merasakan langsung sensasinya," lanjut Naruto.
Pemuda pirang itu kemudian maju satu langkah lebih dekat pada audiens. "Ingat, Akatsuki hanya untuk orang-orang yang punya nyali. Sekian," tutup Naruto kemudian menunduk hormat lalu turun dari panggung.
.
KVs2
.
Hinata membawa beberapa peralatan memasak menuju dapur sekolah. Ia sedang membereskan properti presentasi bersama teman-teman klubnya dan Hinata bertugas menyimpannya di dapur.
Sebelum Hinata membuka pintu, sayup-sayup ia mendengar suara-suara kecil dari dalam ruangan. Ini cukup aneh mengingat semua orang kini sedang ada di aula. Mata lavendernya pun mengintip kaca yang berada di atas pintu.
Memang benar ada seseorang disana. Hinata pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sambil membawa barang bawaannya yang cukup banyak, Hinata pun menyapa wanita berambut pendek itu.
"Halo, Shizune-san. Tumben sekali anda-"
Praankk!
Hinata menjatuhkan barangnya begitu saja ketika melihat Shizune yang kini menengok ke arahnya dengan mulut penuh darah. Tangannya pun berlumuran darah dengan sisa potongan ayam mentah.
Mata merah Shizune melihat Hinata dengan tatapan mengintimidasi. Ia memamerkan gigi-giginya yang kini berwarna merah karena darah. Seakan menyeringai dan siap menerkam Hinata.
Sontak Hinata berlari keluar dan menutup pintu dapur dengan keras. Terdengar suara geraman Shizune dari dalam sana. Ia juga menggedor pintu seakan meminta Hinata untuk membukanya. Padahal Hinata tidak menguncinya. Tanpa pikir panjang lagi, Hinata berlari menjauh dari ruangan tersebut.
Dengan nafas terengah dan keringat bercucuran gadis berambut indigo itu terus berlari menyusuri lorong yang sepi. Tak ada seorang pun yang berkeliaran di lorong seperti biasanya karena semua orang memang sedang berada di aula.
Tepat di pertigaan lorong, seorang pemuda berambut merah muncul tiba-tiba. Hinata yang sedang berlari pun kaget dan menabrak pemuda itu. Beruntung pria itu dengan sigap menahan tubuh Hinata agar ia tidak jatuh.
"Hinata, ada apa?!" tanyanya.
Hinata mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Ia bernafas lega karena pemuda itu ternyata adalah Gaara.
"Gaara-senpai!" seru Hinata panik. "I-itu!" Hinata menunjuk ke ujung lorong.
"Hei tenanglah... tarik nafas lalu hembuskan," titah Gaara dengan lembut sembari memegang kedua bahu Hinata. Hinata pun menuruti perkataan Gaara.
"Sudah lebih tenang?"
Hinata mengangguk pelan, "Aku melihat Shizune-San memakan daging mentah di dapur. Dia seperti bukan Shizune-San. Matanya merah dan tubuhnya juga dikelilingi dengan benda merah. Dia bahkan sempat mengejarku sebelum aku keluar dapur."
"Oke, tenanglah. Sekarang biar aku mengeceknya. Kau tunggulah disini, Oke?"
Hinata mengangguk ragu, "Hati-hati. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Gaara tersenyum sebelum berbalik menuju dapur. Dia bisa saja menganggap Hinata gila atas semua ucapannya. Tapi ia lebih memilih untuk membuktikannya untuk menenangkan Hinata.
Semenjak pertama kali melihat Hinata, entah kenapa Gaara merasa ada sesuatu yang begitu menarik perhatiannya. Memang wajar sih, Gaara pun takkan menyangkal jika semua pria berpikiran sama dengannya. Siapa yang tidak tertarik dengan paras cantik dan tubuh sempurna yang dimiliki Hinata. Belum lagi sikapnya yang pemalu dan baik hati membuatnya semakin menarik. Gaara bahkan sudah menandai gadis itu dengan sebutan Gadis Anggun Favorite-nya.
Gaara telah sampai di depan pintu dapur. Tidak ada suara apapun dari dalam sana. Ia pun mengintip celah kaca yang ada dipintu. Memang kosong, tidak ada siapa-siapa disana.
Tak ingin sia-sia datang kemari, Gaara pun membuka pintu dan masuk ke dalam dapur. Semua terlihat normal, tidak ada bercak darah di meja maupun lantai.
Begitu membuka lemari es tempat bahan makanan disimpan pun Gaara tidak bisa menyimpulkan apakah ayamnya hilang ataupun tidak, karena dia memang tidak tahu pasti ada berapa ayam yang ada di kulkas.
Gaara pun memutuskan untuk kembali menemui Hinata. Sebelum pergi dari dapur, ia pun tak lupa untuk menutup kembali pintu tersebut.
Di pertigaan lorong, Hinata menunggu dengan resah. Sesekali ia melihat ponselnya, berjaga-jaga kalau Gaara meneleponnya. Ia terperanjat begitu melihat Gaara kembali.
"Tidak ada apa-apa disana. Mungkin kau sedang melamun, Hinata. Mau aku antar ke UKS? Kita buktikan kalau Shizune-san baik-baik saja?"
"Mm, baiklah," Hinata menurut dan berjalan bersama Gaara menuju UKS.
Seperti biasa, Gaara mengintip di kaca pintu UKS. Semua pintu disekolah ini dilengkapi dengan kaca tembus pandang ukuran kecil berbentuk persegi panjang. Hal ini memudahkan para guru yang lewat untuk mengawasi para murid yang berkeliaran diluar kelas saat jam pelajaran.
Dari kaca tersebut, Gaara melihat Shizune sedang duduk di kursinya. Wanita berusia 23 tahun tersebut tampak sedang sibuk berkutat dengan bukunya.
Gaara mengetuk pintu UKS dua kali. Kemudian terdengar suara Shizune yang menyuruh mereka untuk masuk.
Hinata merenggut, ia menarik kecil baju Gaara. Gaara tersenyum dan mengangguk, kemudian menuntun Hinata untuk masuk.
Shizune menutup buku yang sedang ia baca. "Siapa yang sakit?" tanyanya begitu melihat Gaara dan Hinata muncul dari balik pintu.
"E-eto..."
"Ah, ini. Hinata tampak lemas. Makanya aku paksa dia untuk datang ke UKS saja," potong Gaara.
"A-aku baik-baik saja," cicit Hinata.
"Ohh, begitu ya. Sebaiknya aku cek tekanan darahmu dulu, Hinata. Ayo kemarilah," Shizune membuka tirai yang menutupi ranjang rawat kemudian menyuruh Hinata untuk berbaring disana.
"Kau tidak ikut menonton presentasi?" tanya Gaara saat Shizune sedang memeriksa tekanan darah Hinata.
"Tidak, aku sedang tidak enak badan. Makanya aku diam saja disini," sahut Shizune. "Tekanan darahmu rendah. Apa kau kurang tidur akhir-akhir ini?" lanjut Shizune pada Hinata.
"Iya aku rasa begitu. Tapi aku baik-baik saja," ucap Hinata.
Shizune memberikan beberapa butir vitamin penambah darah sebelum Hinata dan Gaara pergi keluar UKS.
Hinata memainkan jari-jarinya selama perjalanan menuju aula. Dalam hati ia bergumam 'Gaara-senpai pasti mengira aku mengada-ngada. Memang tidak masuk akal sih, Shizune tampak seperti manusia biasa. Mungkin itu hanya halusinasiku saja. Iya, benar. Halusinasi!'
"Tak usah merasa bersalah. Aku tak menyalahkanmu," ucap Gaara menenangkan Hinata.
"Apa kau menganggap aku gila?" tanya Hinata. Pemuda itu terkekeh.
"Tentu saja tidak. Lupakan saja, Hinata. Kau pasti kelelahan. Tapi entah itu benar atau tidak, kau harus tetap hati-hati, mengerti?"
"Baiklah."
.
KVs2
.
Akatuski berkumpul di ruang klub untuk menunggu para murid baru yang akan mendaftar klub Akatsuki. Bahkan mereka sudah menghias ruang klub yang biasanya berantakan itu menjadi lebih menarik. Deidara menyimpan patung-patung kecil berbentuk tengkorak di setiap sudut ruangan. Hidan menaruh sabit besar di salah satu dinding dan Itachi memasang poster Akatsuki yang sedang menggunakan seragam Akatsuki. Konan juga menambahkan aksen burung kertas yang menggantung di langit-langit.
Sudah sekitar 2 jam semenjak selesainya acara presentasi klub. Tapi belum ada seorangpun yang datang ke ruang klub mereka. Padahal Kisame sudah berdiri di pertigaan lorong sambil membawa papan petunjuk agar mempermudah para murid baru menemukan ruang klub Akatsuki. Tapi tampaknya hal itu tidak cukup membantu.
"Ah, pasti mereka akan mendaftar besok. Butuh waktu mempersiapkan mental untuk masuk ke klub ini," ucap Pein memecah keheningan. Ketua Akatsuki itu masih saja berpositif thinking.
"Benar, masih ada beberapa hari sebelum pendaftaran ditutup. Sekarang sebaiknya kita pulang saja," usul Sasori sambil meraih ransel hitamnya yang tergeletak dilantai. Di ikuti oleh Akatsuki yang lain. Naruto membawakan tas Kisame. Mereka semua keluar dari ruang klub dan berjalan menuju pertigaan lorong dimana Kisame berdiri memegang petunjuk arah.
Tidak, bukan hanya berdiri, Kisame menggerakkan tubuhnya layaknya seorang penari salsa. Akatsuki berpikir mungkin itu untuk menghilangkan pegal karena Kisame terus berdiri. Besar juga pengorbanannya.
"Ini tasmu, senpai," Naruto menyerahkan tas Kisame.
"Bagaimana? Pasti banyak yang mendaftarkan hari ini?!" tanya Kisame bersemangat.
"Mmm..." Pein kebingungan mencari alasan. Ekspresi Kisame sungguh terlalu berharap, membuat Pein tidak tega mengatakan kenyataannya.
"Belum ada yang mendaftar," celetuk Hidan.
"Apa?! Padahal aku sudah menari salsa sesuai dengan yang diajarkan Itachi!"
Seketika Akatsuki hanya bisa meratap. Pantas saja tidak ada yang datang. Sementara itu Itachi menepuk bahu Kisame untuk menguatkannya, "Kita akan belajar lagi lebih giat," ucapnya sok menggurui.
"Argh! Hentikan! Untuk apa juga kalian harus menari salsa! Ingat! Kita ini klub pemburu hantu. Tolong lakukan hal misterius yang mengundang orang lain penasaran! Hal yang berbau mistis!" Naruto misuh-misuh, sungguh otaknya bisa meledak jika klub ini terus seperti ini.
"Ahaa! Tobi tahu! Kita harus menunjukkan trik sulap! Itu misterius dan mistis!" usul Tobi.
Naruto memutar bola matanya, "Bukan sulap juga!"
"Kalau begitu bagaimana dengan ilmu mengambil uang tanpa ketahuan? Itu misterius dan menguntungkan loh!"
Usulan Kakuzu langsung mendapat pelototan dari Konan. "Itu sih namanya mencuri, bodoh!"
Saat sedang asyik mengobrol, Akatsuki dikagetkan dengan kedatangan 3 orang murid baru yang berteriak dengan lantang.
"HOI, KALIAN!"
Pein menengok ke sumber suara.
"BICARA YANG SOPAN!" teriak Pein sambil menunjuk wajah kouhainya tersebut.
"AKU AKAN BERGABUNG DENGAN KLUB KALIAN!" teriaknya masih dengan volume yang sama.
"APAAA?!" Pein berteriak semakin keras.
"YEAAH! AKHIRNYAA!" sorak Akatsuki dengan wajah sumeringah.
Beberapa murid yang lewat menatap mereka dengan ilfeel.
Konan menggerutu dalam hati, kenapa mesti teriak-teriak begitu? Memangnya ini di hutan apa?!
"AKU AKAN BUKTIKAN KALAU HANTU ITU TIDAK ADA!"
"YEAA- A-Apa?" Pein cengo. Begitu juga Akatsuki yang lain.
"Iya, kami akan bergabung dengan kalian untuk membuktikan kalau hantu itu tidak ada dan jika aku bisa membuktikannya kalian harus membubarkan klub nista kalian!" teriak anak yang memakai syal navy tersebut di sisi kiri dan kanannya ada dua temannya yang mengangguk-angguk menyetujui pernyataan anak tersebut.
Pein melongo mendengarnya, bisa-bisanya Pein si Preman Ho Akademi di tunjuk oleh anak bau kencur seperti mereka. Bahkan salah satu anak itu masih ingusan. Ingusan dalam arti sebenarnya.
"KALIAN BERTIGA BOSAN HIDUP YA, HAH?" Pein bersiap menghajar ketiga kouhainya, namun Hidan dan Kakuzu dengan sigap memegangi tubuh Pein.
"Lepaskan! Lepaskan! Biar aku hajar anak kurang ajar itu!"
"Sttt! Pein, kau harus tahu kalau dia itu cucunya Tuan Hiruzen Sarutobi," bisik Kakuzu.
"Hah, siapapun itu akan aku hajar siapapun yang bertingkah di depanku!"
"Dasar bodoh, dia bahkan punya pengawal!" ucap Hidan sambil memiringkan kepala Pein ke sebelah kanan dimana terlihat seorang pria memakai baju serba hitam, lengkap dengan kacamata hitam bulatnya.
"Hah? Seberapa hebat anak itu?" tanya Pein yang emosinya mulai meredam.
"Apa kau tidak tahu siapa itu Hiruzen Sarutobi?"
Pein berpikir sebentar, "sepertinya aku pernah dengar."
"Astaga! Dia itu Hokage ke 3!" pekik Hidan sedikit emosi. Bisa-bisanya Pein melupakan nama orang yang memimpin Negara Api saat ini.
"HUAPAAA?!" barulah ia sadar kalau menghajarnya tidak akan menyelesaikan masalah, justru sebaliknya. Namun di tengah acara penyadaran Pein terdengar suara debuman yang cukup keras.
Anak yang tadi menunjuk Pein tersungkur ke lantai, kedua temannya buru-buru menolong anak berambut hitam tersebut. Dan sang pelaku berdiri dengan bangga sambil berkacak pinggang. "Dasar kurang ajar, bicara yang sopan pada senpaimu!"
"KYAAAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" pekik Pein, Kakuzu dan Hidan bersamaan. Padahal Pein sudah menahan emosinya untuk tidak menghajar cucu Hokage itu tapi Naruto malah memukulnya seenak jidat di depan pengawal pribadinya. Oh lihat, bahkan sang pengawal buru-buru berlari mendekati sang cucu Hokage. Tamatlah riwayatmu, Namikaze Naruto!
"Kau baik-baik saja, Konohamaru-sama?"
"Cih," Anak bersyal navy itu menepis tangan sang pengawal. "Sudah kubilang jangan ikut campur urusanku!"
"Ha! Kau memang tidak sopan pada semua orang! Tidak sia-sia aku menghajarmu!" celetuk Naruto dengan pose yang tidak berubah alias berkacak pinggang. Sepertinya pemuda pirang ini belum menyadari tatapan horror di belakangnya.
"Lihat saja sampai aku membubarkan klub kalian!" anak itu pun bangkit kembali.
"Ya-ya, silakan isi dulu form pendaftarannya," ucap Naruto cuek sambil memberikan 3 lembar kertas pada para kouhainya.
Mereka menuliskan nama dan beberapa data pribadi, kemudian mengisi tanda tangan yang ada di bagian bawah kertas.
"Hah? Konohamaru?" gumam Naruto begitu mengintip tulisan anak bersyal Navy.
"Woi, jangan mengintip!" omel anak tersebut tidak terima.
"Heh, isi nama yang benar, bodoh!" titah Naruto.
"Apa maksudmu, namaku sudah benar, Konohamaru Sarutobi," ucapnya sambil membaca ulang namanya yang tertulis dalam form.
"Pppttt! Huahahaha!" tawa Naruto meledak seketika mendengar nama yang disebutkan anak itu.
"Apa ayahmu sangat mencintai Konoha sehingga anaknya di beri nama Konohamaru? Ahahaha, kalau kau tinggal di Suna pasti namamu Sunahamaru, ahahaha" Naruto masih saja tertawa, padahal wajah Konohamaru sudah merah karena kesal.
Akatsuki yang melihat tingkah bodoh Naruto pun segera menariknya ke belakang.
"Ahahahaha"
"Berhenti tertawa, bodoh!" Hidan menabok wajah Naruto sehingga pemuda pirang itu pun berhenti tertawa dan meringis kesakitan. Dasar sadis, begitu mudahnya Hidan merebut tawa Naruto.
"Apa kau tidak tahu dia itu siapa?!" tanya Hidan. Naruto menggeleng, "Bukannya dia Konohamaru? Artinya dia anak dari konoha," jawab Naruto asal.
"Bukan bodoh, dia itu cucu dari Hokage ke 3, Hiruzen Sarutobi!"
"HUAPAAA?! Tapi siapa yang peduli, Hokage kan tidak ada disekolah ini, huahaha!"
PLAAAKK!
Hidan menabok wajah Naruto untuk kedua kalinya. Kali ini si pirang pun protes, "Kenapa kau memukulku lagi?! Dan kenapa kau harus memukulku saat aku sedang tertawa?!"
"Disini memang tidak ada Hokage! Tapi dia itu keponakan Ashuma Sensei!"
"HUAPAAA? ASHUMA SENSEI yang selalu menyuruhku maju ke depan untuk mengejakan soal Matematika?!"
"Ya, menurutmu Ashuma mana lagi."
"TIDAAAKK! Kenapa dunia ini begitu sempit!"
.
KVs2
.
Karui dan Chouji memasuki dapur sekolah, mereka mendapatkan tugas untuk mengecek bahan makanan untuk besok pagi. Chouji bertugas mengecek stok sementara Karui menulisnya dalam buku.
"Telur, 12 Kotak!"
"Ada!"
"Tomat satu kantung?"
"Ada!"
"Ayam 8 ekor!"
"Ad- eh? 8? Ini hanya ada 7," ucao Chouji sambil mengeluarkan ayam-ayam tersebut agar dapat dihitung dengan mudah.
"Hm, mungkin yang kemarin menyetok salah menulis," ucap Karui kemudian mencoret angka 8 menjadi 7. Setelah selesai menyetok bahan makanan, gadis berkulit tan itu pun menyimpan bukunya di rak lalu mengajak Chouji untuk keluar.
"Ayo cepat, atau kau aku kunci."
"Iya-iya tunggu!"
Perhatian Karui terpaku pada sebuah bercak merah yang berada di sekitar pintu. Warna itu begitu kontras dan mengundang perhatian mengingat pintu tersebut bercat putih.
"Noda apa ini?" tanya Chouji yang datang menghampiri Karui.
"Entahlah, aku baru menyadarinya."
"Seperti noda darah, atau saus, atau jus cerry, bisa juga itu-"
"Ha! Yang ada dalam otakmu memang makanan saja, ayo keluar!" potong Karui sambil membuka pintu dan keluar dari dapur diikuti Chouji dari belakang.
.
.
.
TBC
.
