Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 15-Chapter 21
Yoongi duduk di kursi, di dekat tempat tidur itu dan termenung. Di atas ranjang di depannya, tubuh Jungkook masih terbaring tak sadarkan diri. Alat-alat pemonitor kehidupan masih tersambung di badannya, memonitor detak jantung dan pernapasannya.
Yoongi mengamati lelaki itu dan mengeryit. Tabrakan itu cukup keras menghantam Jungkook sehingga menimbulkan cedera serius di kepalanya dan jahitan melintang di dahinya. Luka itu mungkin disebabkan karena Jungkook terbanting dan dahinya membentur aspal. Luka di kepala adalah luka yang paling ringan, masih banyak luka-luka lain di sekujur tubuhnya, di organ dalamnya.
Yoongi mengernyit. Dokter bilang lelaki ini akan sembuh, meskipun membutuhkan waktu pemulihan yang lama. Kalau nanti lelaki di depannya ini bangun... siapakah yang akan muncul? Jimin... atau Jungkook? Siapakah yang sebenarnya paling dia inginkan? Jimin yang baik dan penuh kasih saying kepadanya... atau Jungkook yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Yoongi?
Pikiran Yoongi menjadi kalut. Dia bingung... bahkan dia tidak bisa membaca perasaannya sendiri. Pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan. Dia memang membenci Jungkook. Sangat. Jungkook telah merenggut seluruh keluarganya. Membuatnya sebatang kara di dunia ini hanya karena obsesi gilanya untuk memiliki Yoongi. Tetapi pada saat yang sama, bayangan akan Jungkook yang bersimbah darah di aspal, terluka karena menyelamatkannya, lalu menanyakan keadaan bayinya menyentuh hatinya yang paling dalam.
Bagaimanapun juga, Jungkook telah dua kali menyelamatkan Yoongi, dia telah menyelamatkan Yoongi dari percobaan permerkosaan mengerikan yang dilakukan oleh Hoseok, lelaki itu dulu juga merawat luka-lukanya.
Jungkook bilang dia sudah menguasai tubuh ini sejak sebelum mereka menikah. Tetapi dia memutuskan berpura-pura sebagai Jimin dan berlaku baik padanya, bercinta dengannya setiap malam dengan lembut, tidak pernah menyakitinya dan menjaganya. Kenapa Jungkook repot-repot berbuat seperti itu?
Dia masih ingat akan kata-kata Jungkook yang diucapkannya dengan ekspresi sedih malam itu... Tidak pernah ada yang menginginkannya. Mungkin selama ini Jungkook hanya ingin seseorang menginginkannya dengan sepenuh hati. Lelaki itu selama ini selalu sendirian, hidup dalam bayang-bayang Park Jimin, kesepian jauh di dalam sana, dan ketika dia muncul yang didapatinya hanyalah penolakan dan ketakutan. Tiba-tiba Yoongi merasakan simpati yang dalam kepada Jungkook.
Digenggamnya tangan lelaki itu, dia berbisik lembut. "Aku tahu kalian mendengar di dalam sana. Bangunlah... aku menginginkan kalian berdua."
Air matanya menetes, dia mengelus perutnya, tempat buah hatinya dengan lelaki yang sekarang terbaring tak sadarkan diri ini bersemayam. Anak ini adalah buah cintanya dengan Jimin, begitu juga dengan Jungkook. Anak ini adalah anak mereka berdua. Yoongi tidak bisa mengakui yang satu dan menolak yang lain. Seperti kata Jimin dulu, Jimin dan Jungkook adalah satu kesatuan. Kalau Yoongi mau mencintai Jimin, dia harus bisa mencintai dan menerima Jungkook sebagai sisi gelapnya.
Yoongi bisa. Dia bisa mencintai mereka berdua. Meskipun ingatan tentang kekejaman Jungkook membuatnya takut, tetapi lelaki itu tidak pernah sekalipun menyakitinya dengan sengaja. Dan mungkin tanpa sadar, karena mencintai Jimin, Yoongi mencintai Jungkook juga.
Yoongi lama duduk di kursi itu, menatap tubuh lelaki yang terbaring masih tak sadarkan diri di ranjang di depannya. Lelaki itu adalah ayah anaknya.
Siapakah yang benar-benar dia inginkan?
.
.
.
Namjoon melangkah mendekati Yoongi yang masih duduk di kursi di tepi ranjang. Hari ini sudah hari ketiga sejak Jimin ataupun Jungkook tidak sadarkan diri. Dan Yoongi masih menunggu dengan cemas. Namjoon berdiri di dekat Yoongi dan menatap berganti-ganti.
"Tuan Jungkook menyelamatkan nyawa anda." Namjoon menghela napas panjang, "Dari semua hal yang dilakukannya, saya tidak pernah menyangka dia akan melakukan ini."
Yoongi ikut menghela napas panjang. "Dia mendorongku dan membiarkan dirinya tertabrak. Kadang aku mengira mungkin saat itu Jimin yang melakukannya, bangun seketika dari dalam tubuh itu dan menyelamatkanku. Tetapi ketika aku mendekat dan dia berbicara denganku, aku yakin kalau itu memang Jungkook... Dia... dia menanyakan kondisi bayiku sebelum dia tak sadarkan diri..." mata Yoongi terasa panas dan dia ingin menangis.
"Tuan Jungkook menyamar sebagai Tuan Jimin karena tidak ingin anda menjadi emosi dan kehilangan bayi anda." Namjoon menatap ke arah tubuh lelaki yang terbaring itu. "Mungkin bayi itu telah mengubahnya, tetapi mungkin juga anda yang telah mengubahnya."
"Aku tidak tahu..." Yoongi mengusap air matanya, "Saat ini aku hanya ingin dia bangun."
Namjoon menatap Yoongi ragu,"Siapakah 'dia' yang anda maksud itu Nyonya Yoongi? Apakah itu Tuan Jimin? Ataukah... Tuan Jungkook?"
.
.
.
Tengah malam, ketika Yoongi tertidur sambil duduk di kursi, kepalanya menelungkup di tepi ranjang. Tangan itu bergerak, dan mengelus rambutnya dengan lembut. Yoongi langsung terjaga dan mengangkat kepalanya waspada.
"Jungkook?"
Mata itu membalas tatapannya, masih tampak berkabut. "Yoongi? ... apa yang terjadi kepadaku?"
Jantung Yoongi langsung berdegup kencang. Ini Jimin. Yang ada di depannya adalah Jimin.
"Jimin?" Yoongi mendekatkan wajahnya ke arah lelaki itu, "Jimin?"
Jimin mengernyitkan matanya, menatap Yoongi lama lalu menganggukkan kepalanya. "Ya sayang... ini aku."
"Aku akan memanggil dokter." Yoongi memencet tombol di sebelah ranjang, menunggu dengan cemas. Seorang suster langsung menengok dalam beberapa menit,
"Dia sadar." Yoongi berkata kepada suster itu, suster itu langsung keluar lagi untuk memanggil dokter.
"Apa yang terjadi denganku?" Jimin memegang kepalanya dengan tangannya yang tidak diinfus, "Yoongi?"
Yoongi menggenggam tangan Jimin lembut, "Nanti akan kujelaskan, Jimin."
Lalu dokter datang dan memeriksa Jimin.
.
.
.
"Jungkook menyelamatkanmu." Pagi itu Jimin setengah terduduk di ranjangnya, dia masih memakai infus dan perban di beberapa bagian tubuhnya. "Dia menyelamatkanmu." Jimin mengulang-ulang kata-kata itu seolah masih tidak mempercayai apa yang didengarnya.
"Kadangkala ketika Jungkook menguasai tubuh ini, aku masih bisa sadar... melihat apa yang dilakukannya, seperti ketika masih awal-awal kau ada di rumah itu, ketika Jungkook mendatangimu, kadang-kadang aku bisa sadar dan melihat semuanya. Tetapi kadang Jungkook terlalu kuat sehingga kebanyakan ketika dia menguasai tubuh ini, aku dalam kondisi tertidur dan tidak ingat apa-apa lagi." Jimin menatap Yoongi dengan sedih,
"Karena itu aku hampir tidak ingat sama sekali apa yang terjadi. Kalau kau bertanya, memang benar-benar Jungkook yang waktu itu menyelamatkanmu."
"Jadi kau juga tidak mengingat pernikahan kita?"
Jimin menggelengkan kepalanya, lalu meraih jari Yoongi yang mengenakan cincin itu di tangannya, "Aku tidak mengingatnya dan itu adalah penyesalanku yang paling dalam..." dikecupnya jemari Yoongi, "Meskipun aku sangat senang mengetahui bahwa kau sudah menjadi istriku."
Kata-kata Jimin membuat Yoongi tersenyum lembut, "Aku juga senang menjadi istrimu."
"Apakah Jungkook menyakitimu selama aku tak ada? Apakah dia menyakiti anak kita?"
"Tidak." Yoongi menggelengkan kepalanya, "Dia berpura-pura sebagai dirimu, aku bahkan tidak menyadarinya sampai akhir."
"Kalau begitu, aku asumsikan dia memperlakukanmu dengan lembut dan penuh kasih sayang." Dahi Jimin berkerut,
"Aku tidak tahu Yoongi, aku bingung. Jungkook yang aku kenal tidak begitu. Untuk apa dia repot-repot berpura-pura sebagai aku kalau yang diinginkannya adalah menguasaimu? Aku yakin dia pasti akan sangat senang menunjukkan dirinya kepadamu dan mendominasimu secara terang-terangan. Tetapi dia malah menyamar sebagai aku dan memperlakukanmu dengan baik. Itu bukan Jungkook yang aku tahu."
"Aku juga tidak tahu apa tujuannya." Yoongi menatap Jimin bingung, "Tetapi Namjoon mengatakan bahwa Jungkook menyamar sebagai dirimu karena tidak mau aku terkejut dan terlalu emosi sehingga mempengaruhi kandunganku."
"Dia memikirkan bayi itu." Jimin tercenung, "Sebuah kejutan lagi."
Yoongi menatap Jimin lembut, "Apakah kau merasakan dirinya di dalam dirimu sekarang?"
Jimin menggelengkan kepalanya, "Tidak Yoongi, ini aneh. Jungkook selalu terasa, bahkan ketika aku sadar penuh, dia selalu terasa mengawasi dari sudut yang gelap... Sekarang yang kurasakan ini, hampir seperti perasaan...kosong."
Yoongi merasakan jantungnya serasa diremas. Apakah itu berarti... Jungkook sudah tidak ada? Apakah kecelakaan itu telah melenyapkan Jungkook? Kalau begitu kenapa dia tidak merasa senang?
Bukankah ini yang dia inginkan karena hidupnya akan lebih mudah bersama Jimin? Tetapi kenapa dia merasakan seolah-olah sesuatu yang berharga direnggut dari dalam dirinya? Kenapa seolah-olah dia merasa... patah hati? Apakah tanpa sadar selama ini dia juga mencintai Jungkook?
Jimin menyentuh dagu Yoongi dan mengangkatnya, "Kau sedih?"
Yoongi tidak bisa berkata tidak. Dia menganggukkan kepalanya. Air matanya menetes membuat Jimin langsung mengusapnya dengan lembut.
"Apakah kau... mencintai Jungkook juga?"
Yoongi tercenung lama. Benarkah? Jadi siapa yang sebenarnya dia cintai? Jungkook? Atau Jimin? Tetapi bukankah mereka memang satu? Mencintai Jimin berarti juga mencintai Jungkook bukan? Begitu juga sebaliknya. Bisakah Yoongi mencintai dua lelaki di saat bersamaan? Dua lelaki yang terjebak di dalam satu tubuh, saling bertolak belakang. Yoongi menghela napas, dia telah menemukan jawabannya.
"Ya Jimin. Aku... sepertinya aku juga mencintai Jungkook."
Jimin langsung meraih Yoongi ke dalam pelukannya, dengan sebelah tangannya yang tidak diinfus.
"Oh Tuhan. Yoongi.. maafkan aku. Maafkan aku karena kau harus mengalami ini.."
.
.
.
Setelah dirawat intensif beberapa lama, Jimin akhirnya boleh pulang dari rumah sakit. Dia masih belum pulih total, luka-lukanya masih dalam proses penyembuhan. Jalannya masih agak pincang dan beberapa jahitannya masih belum dilepas. Tetapi kondisi Jimin sudah jauh lebih baik daripada setelah kecelakaan itu. Ia bahkan sudah bisa berjalan meskipun kadang masih harus berhenti untuk menarik napas.
Dokter menyuruhnya menggunakan kursi roda dulu selama tubuhnya masih lemah, tetapi Jimin tidak mau. Kakinya tidak akan lemas dan membaik kalau dia harus menggantungkan dirinya kepada kursi roda. Dengan tekad yang kuat, lelaki itu akhirnya bisa berjalan meskipun kadang masih meringis menahan sakitnya.
Mereka keluar dari rumah sakit itu tengah malam. Kali ini benar-benar memastikan tidak ada wartawan yang bersembunyi dan mengambil gambar mereka. Masalah kecelakaan Jimin sempat menimbulkan kehebohan di kalangan pers apalagi beberapa rumor mengatakan Jimin sedang bersama Yoongi, anak gelap Heechul. Tetapi Taehyung telah menangani semuanya dengan baik. Semua kabar itu hanyalah menjadi rumor tanpa bukti dan konfirmasi.
Yoongi merangkul Jimin, membantunya berjalan memasuki rumah, menaiki tangga menuju kamar mereka. Dengan langkah pelan, Yoongi membimbing Jimin dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Apakah kau ingin sesuatu sebelum tidur?"
"Tidak, aku hanya ingin memelukmu. Kemarilah." Jimin mengulurkan tanganya dan Yoongi langsung jatuh ke dalam pelukannya. Mereka berbaring dan berpelukan bersama.
"Aku mencintaimu Yoongi."
"Aku juga Jimin."
Tetapi ada sesuatu yang menggantung di benak Jimin. Rasanya berbeda. Seperti yang dia katakan kepada Yoongi kemarin. Ada rongga kosong yang terasa di dadanya. Rongga kosong yang terasa hampa, yang dulu diisi oleh Jungkook sebagai bagian dirinya. Dan Yoongi... istrinya itu juga mencintai Jungkook. Si brengsek itu telah berhasil membuat Yoongi jatuh cinta kepadanya. Dan Jimin tidak bisa menyalahkan Yoongi, bagaimanapun, dia dan Jungkook adalah satu.
Tetapi Jungkook tidak ada di mana-mana. Alter egonya yang jahat itu sepertinya menghilang tanpa bekas. Ini sebenarnya yang diharapkan oleh Jimin, sudah sejak lama dia menginginkan Jungkook menghilang dari kehidupannya. Dan sekarang itu semua terwujud. Tetapi kenapa dia sama sekali tidak merasa senang?
Jimin berusaha mengenyahkan pikiran tentang Jungkook, direngkuhnya tubuh Yoongi ke dalam pelukannya, dan dikecupnya dengan lembut,
"Maukah kau bercinta denganku, sayang? Rasanya sudah lama sekali, dan aku sangat merindukanmu."
Yoongi menatap Jimin tak yakin, "Jimin, kondisi badanmu..."
"Aku tidak apa-apa..." Jimin meraih tangan Yoongi dan menyentuhkannya ke kejantanannya yang mengeras, "Kau rasakan itu sayang? Dia begitu keras, dia siap untukmu dan menginginkanmu..."
Yoongi merasakan kejantanan Jimin yang panas dan berdenyut di tangannya, Jimin mendekatkan kepalanya ke arah Yoongi dan kemudian melumat bibirnya, mereka berciuman dengan panas dan penuh gairah, lelaki itu melumat seluruh sisi bibir Yoongi untuk kemudian lidahnya menguakkan bibir Yoongi dan menjelajahi mulutnya, bersatu dengan lidah Yoongi dan saling menggoda di dalam sana.
Ketika Jimin mengangkat kepalanya, matanya tampak membara penuh gairah, "Aku mungkin tidak bisa menaikimu, tetapi kau bisa menaikiku."
"Aku bisa melukaimu Jimin..." Yoongi terengah, bergairah atas ciuman Jimin, tetapi sekaligus mencemaskan kondisi Jimin yang baru keluar dari rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa." Jimin tersenyum, "Satu-satunya bagian tubuhku yang kesakitan adalah ini." Dia meremas tangan Yoongi yang masih menangkup kejantanannya yang berdenyut panas, "Aku membutuhkanmu Yoongi..."
Jimin kemudian menghela tubuh Yoongi supaya menaikinya. Dan kemudian mengarahkan tubuh mereka untuk menyatu. Yoongi semula gugup, tetapi Jimin membantunya. Dan pada akhirnya tubuh mereka menyatu, membuat keduanya mengerang.
Yoongi duduk mengangkangi Jimin yang berbaring. Tangan lelaki itu di pingangnya, matanya memandanginya dengan penuh hasrat,
"Bergeraklah sayang, puaskan aku."
Yoongi bergerak, membuat Jimin mengerang parau. Ritmenya semula pelan karena Yoongi tidak mau menyakiti Jimin, tetapi tangan lelaki itu yang mencengkeram kedua pinggangnya membantunya mempercepat ritme, membuatnya bergerak semakin cepat.
Napasnya tersengal-sengal karena gerakan itu, dan kenikmatan yang menjalarinya membuat seluruh tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik, dia mengerang ketika Jimin membantu gerakannya dengan menggerakkan pinggulnya dari bawah, semakin mempertegas penyatuan diri mereka, membuat kejantanan Jimin tenggelam lebih dalam di tubuh Yoongi.
Lalu puncak itu akhirnya datang juga. Yoongi mengerang, merasakan tubuhnya melayang ketika puncak kepuasan melandanya. Jimin menyusulnya di bawahnya, menaikkan pinggulnya dan meledak di dalam diri Yoongi diiringi erangan dalam penuh kepuasan.
Tubuh Yoongi jatuh lemas menimpa Jimin, dan lelaki itu langsung memeluknya, mengelus punggungnya dengan lembut. Napas mereka terengah dan jantung mereka yang berdebar saling berpadu.
Lalu Jimin mendongakkan wajah Yoongi dan menundukkan kepala untuk mengecup lembut bibirnya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sayang." bisiknya parau.
Yoongi tersenyum, lalu merebahkan kepalanya di dada Jimin, menikmati debaran jantungnya yang semakin lama semakin tenang, bagaikan musik pengantar tidurnya.
.
.
.
Hampir dini hari ketika Jimin terbangun tiba-tiba. Dia terduduk di atas ranjang dengan Yoongi yang masih terlelap di sampingnya. Dalam kegelapan dia menggerakkan tangannya, mengernyit ketika merasakan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit.
Ketika itulah Yoongi memiringkan tubuhnya, tampak tidak nyaman dengan tidurnya, apakah Yoongi sedang bermimpi buruk? Jimin mengamati kerut kecil yang muncul di antara kedua alis Yoongi. Dan kemudian jemarinya bergerak lembut ke sana, mengusapnya agar kerutan itu hilang.
Yoongi mendesah merasakan usapan Jimin di kepalanya, kemudian bergumam,
"Jungkook..."
Jimin tertegun.
TBC
PS: jadi yoongi milih siapa hayo iniiiiii
nearly ending nih ayo ayo review~
