UTS sudah dekaat! Aaaaah! –lebay-

Ohoho, mari kita meneruskan sebelum anisha stress lagiii!

DISCLAIMER: I do not own Harvest Moon MFOMT because its owned by NATSUME, but I do won this story and Emily, the OC.

--

--- (Claire's POV) ---

Aku baru saja selesai makan siang bersama Emily dan Jack. Mereka berdua sama-sama ngotot mati-matian mengajakku makan siang. Jadi apa boleh buat, aku mengajak mereka berdua. Untung saja tidak ada pertengkaran lempar gelas tadi, tapi tadi sempat juga ada acara lempar telur yang disponsori Rick. Lho, untuk apa aku ngomong aib itu yah?

"Fuah, kenyaaang~!" Jack berteriak puas sambil mengangkat kedua tangannya, lalu bersendawa keras. "EEEEEEEERRRRRGGGGGHHHHH!!!"

"Ih, Jackkun jorok!" ejek Emily sambil memeluk lengan kiriku. "Bos, kenapa kakaknya bos jorok sih?"

"Enak aja jorok! Aku cuma kenyang aja tau! Lagian, kalau di keluarga kita, sendawa itu kebanggaan untuk tuan rumah karena bisa memuaskan perut para tamu yang datang!" bantah Jack sambil menjawab santai. "Iya kan Ann?"

"Eh? Apa?" Ann yang baru datang langsung ditanyain. "Err... Aku masih banyak kerjaan. Nanti dulu ya Jack," Ann lalu pergi lagi. Jack langsung nangis-nangis darah-ingus-nanah karena nggak ada yang ngebelain dia.

"Eee... Jack, bisa kita ke rumah?" tanyaku pelan. "Aku... Meski kau bilang untuk lupakan apa yang terjadi, aku tetap ingin tahu... Boleh kan Jack?"

Jack tersentak sedikit, lalu berpikir.

Aku dan Jack sama-sama diam.

Emily langsung menoleh memandangi muka kami masing-masing. "Hei, bos, Jackkun, kenapa kalian?"

"Hah?" aku dan Jack sama-sama tersentak. Kami ternyata memang melamun dari tadi.

"Hei! Jangan ngelamun dong! Kan Emily ada disini!" bela Emily membela kehadirannya sambil masih saja memeluk lenganku. "Kalau ada yang terjadi, cerita aja ama Emily! Emily pasti bisa menyebar luaskannya dengan baik—eh salah, maksudnya menjaganya baik-baik! Lho kok jadi salah ngomong gini..."

Aku tertawa kecil. Emily memang selalu menjadi sosok penyegar dan penceria suasana. Meski selalu hobi memeluk orang dan hiperaktif, dia sangat peduli pada lingkungan sekitar.

"Jadii..." Emily memeluk lenganku. "Ada apa ini?"

"Well..." Jack menghela napas. "Bagaimana kalau kita ke rumahku?"

--

Aku, Emily (sambil memeluk lengan kiriku nonstop), dan Jack berjalan menuju rumah Jack. Disana aku melihat sesosok pria yang mirip Gray di beranda rumah Jack.

"Hei, Claire," sapa Blue. Dia mengenakan yukata biru tua, dan memegang kipas di tangannya. Mungkin dipakai olehnya untuk melepaskan rasa gerah angin bulan Fall yang tumben sedang jarang bertiup hari ini.

"Hai, Blue!" sapaku semangat sambil tersenyum ceria. "Kita ketemu lagi!"

"Yah, begitulah," jawab Blue pendek sambil balas tersenyum. "Tumben kesini."

"Yaaaah," jawabku berbasa-basi, "Aku ingin melihat sesuatu dari Jack."

"Ooh. Apa aku harus pergi?" tawar Blue sopan.

"Tak apa-apa."

"Engga ah, aku mau jalan-jalan aja." jawab Blue sambil pergi. "Cari angin." tambahnya sambil keluar sendirian dari pertanian Jack.

Jack mengambil sebuah buku dari lemari buku tuanya. Sebuah buku album yang usang, dengan cover berwarna biru tua. "Coba buka ini."

Aku membuka halaman pertama. Ada sebuah foto bergambar dua ibu-ibu menggendong seorang bayi masing-masing.

"Ini bu Annie," tunjuk Jack pada seorang ibu-ibu berambut pirang sebahu berparas lembut sambil memangku seorang bayi berambut cokelat. "Ini ibu kita dulu. Yang ini," tunjuknya pada seorang ibu-ibu berambut pirang juga, tapi rambutnya panjang sampai sepinggang bertampang angkuh sambil menggendong seorang bayi berambut pirang. "Ini bu Yukiyomi."

"Ini... Ibuku...?" tanyaku sambil melihat sosok ibuku yang asli. Terpancar aura benci dan arogan pada beliau, membuatku langsung merasa takut saat melihat air mukanya. "Ini..."

"Sssh, Claire, jangan nangis," Jack langsung membuka beberapa halaman. Terlihat sepasang balita. Yang satu berambut cokelat sedang bermain lego, yang satu berambut pirang sedang menangis. "Ini kita waktu kecil. Masih inget enggak?"

"Aiiiih! KYAAAA! Boss waktu kecil imut bangeeetttt!!!! Emily jatuh cintaaaa!!!" teriak Emily lantang sambil loncat-loncat kegirangan, sambil bergaya peace sesekali padaku, membuatku tersenyum sambil sweatdropped. Emily benar-benar menunjukkan bahwa dia benar-benar gemas padaku. "Mau kubawa pulaaaangggg!!!!!"

"Oi! Balikin album fotonya!!" teriak Jack saat melihat Emily berniat membawa album itu ke Inn. Emily malah menjulurkan lidahnya cepat dan langsung ngibrit sebelum kakinya ditangkap oleh tali lasso Blue yang baru mau balik ke rumah Jack. Emily langsung jatuh kepeleset, nangis seketika dan meminta pelukan padaku.

"HUWEEEEE, JACKKUN JAAA-HAAAAAAAAAT! BLUE-KUN JUGAAAAAAA!!!!" isak Emily sambil mencengkram leherku—maksudnya memeluk—sambil menangis kencang.

"Sudah kukira pasti bakalan ada keributan..." Blue menggulung kembali tali lasso miliknya. "Kalau tak ada aku, dia pasti bakalan bikin banyak masalah lagi di Inn..." omelnya perlahan. Untung saja Emily tak mendengarnya karena terlalu serius menangisi kepalanya yang benjol kejeduk tanah.

"Sudah, sudah, kau jangan nangis, ya?" aku menepuk kepala Emily perlahan-lahan.

Emily lagi-lagi terdiam saat kutepuk-tepuk kepalanya. Sama seperti saat aku pindah rumah dulu. Aku langsung gemetaran. Jangan-jangan...

BRAKK!

Emily membantingku ke dinding, sama seperti saat dulu. Kepalaku teratuk dinding hingga membuatku sedikit pusing.

"Claire!" teriak Jack dan Blue sama-sama, lalu berlari menghampiriku.

Emily langsung berjongkok dan gemetaran.

Aku terkejut. Reaksinya sama seperti saat itu. Saat aku menepuk kepalanya. Aku berusaha untuk bangun dan mendekati Emily sambil merangkak menahan sakit di kepalaku. "E... Emily, kamu kena—"

BRAKKK!

Sekali lagi Emily membantingku. Kali ini dia membantingku ke meja makan, membuat meja makan Jack terdorong karena bebanku dan membuat kursi meja makan terjatuh. Jack dan Blue ikut tersentak saat melihat reaksi Emily.

"Aduh, sakit..." rintihku kesakitan. Saat kusentuh dahi kananku, aku melihat cairan berwarna merah kental membasahi telapak tanganku. Darah?

"Maaf... Maafkan aku, semuanya... Maaf... Maaf..." desis Emily sambil tiba-tiba menangis, disertai muntah-muntah lagi. Sama persis seperti waktu dulu. "Maafkan aku... Maafkan aku..."

"E, Emily..." bisikku perlahan sambil berusaha menenangkan Emily.

BRAKK!

Lagi-lagi Emily membantingku. Kini dia membantingku ke dinding lagi, membuat kepalaku mulai nyut-nyutan.

Jack langsung berlari mendekati Emily dan mengguncang-guncangkan badannya. "WOI, EMILY, SADAR!!!!"

"Heh? Oh? Ah? Apa yang terjadi?" tanya Emily. Tiba-tiba nada suaranya kembali seperti semula. "Kyaaa! Bos kok dahinya berdarah!? Kita ke Clinic sekarang!!!" teriaknya nyerocos panik berat dan mencoba menyeretku ke Clinic.

Blue dan Jack terkehenyak kaget melihat reaksi Emily yang tadi brutal mendadak normal kembali. Aku juga. Kenapa setiap kali kutepuk kepala Emily pasti dia membantingku? Apa ada sesuatu yang membuatnya melakukan itu?

"Bos! Bos! Bos! Kita ke Clinic, !!!" teriak Emily lantang dan memaksaku pergi keluar.

"Tak usah, Emily," Jack mengambil kotak P3K didekat lemari. "Aku punya kotak P3K disini. Emily, kamu harus tanggung jawab karena sudah membuat adikku terluka. Nih," katanya sambil melemparkan sebungkus perban putih di telapak tangan Emily. "Perbani kepala Claire dengan itu."

"Eh? Ah? Ba, baik!" Emily menjawab ragu-ragu sambil membuka bungkus perban putih itu. Lalu Emily mendekatiku sambil melapisi kepalaku dengan perban yang diberikan Jack tadi.

Beberapa menit kemudian, Emily sudah kembali seperti semula. Dia sudah berteriak-teriak polos kalau dia mengajakku kembali ke Inn untuk makan malam. Tapi ada satu yang membuatku selalu heran. Kenapa Emily selalu bertingkah aneh saat kepalanya ditepuk?

"Jack-niichan," panggilku pada Jack.

"Apaan?"

"B... Boleh kusimpan album foto yang tadi...?" tanyaku perlahan, setengah berbisik.

Jack tertegun, lalu dia tersenyum kecil. "Boleh. Kalau mau, kau boleh memilikinya."

Aku membalas senyum Jack dengan senyumanku sebisa mungkin. Dan sekali lagi kutatap foto ibuku dan ibu Jack. Sekali lagi aku bergidik ketakutan melihat sosok ibuku yang sesungguhnya. Membuatku...

"... Okaa-sama?" sahut Emily pelan saat melihat foto itu.

Aku menoleh. Emily menyebut 'ibu' saat melihat foto itu. Dia melamun, dan seketika reaksinya sama seperti tadi.

"Ahahahahahahaha, hahahahahahahahaha!!!" tawa Emily melengking keras, sambil menangis. Dia segera melempar dan menginjak cover album foto itu dan membuat kami bertiga panik kembali.

"EMILY, BERISIK!" teriak Blue tepat di telinga Emily.

"KAU YANG BERISIK, DASAR IBU BRENGSEK!" teriak Emily sambil mendorong Blue hingga jatuh ke lantai. "KAU, IBU BRENGSEK YANG PALING KUBENCI SEUMUR HIDUPKU! Ahahahahahahahaa! Ahahahaha!"

Aku terkejut. Apa maksudnya 'ibu brengsek'? Apa yang dimaksud Emily!?

"KAU, IBU YANG PALING KUBENCI SEUMUR HIDUPKU!" teriak Emily sambil menginjak-injak tubuh Blue tanpa ampun. Jack segera menahan kedua lengan Emily dengan kedua lengannya juga.

"Emily, sadarlah! Sadar! Itu Blue, bukan ibumu!" teriak Jack menyadarkan Emily.

Emily terkejut. Lagi-lagi dia kembali seperti semula. Dia kebingungan. "Apa... Yang terjadi, minna-sama?" tanyanya kebingungan.

Blue mencoba bangun, disertai sedikit batuk dari penderitaannya yang sebelumnya. "A... Apa-apaan sih maumu... Tiba-tiba menyerang seenaknya..." rintihnya sambil mengerutkan kening kesal.

"A... Aku... Aku 'begitu' lagi, ya...?" tanya Emily. "Aku memang selalu begitu... Entah kenapa..."

Aku terdiam. Mulai penasaran dengan apa yang terjadi dengan Emily. Kenapa dia selalu histeris saat kepalanya ditepuk? Kenapa dia menyebut 'ibu' pada foto itu? Kenapa dia bereaksi sama seperti tadi?

"Emily..." panggilku perlahan.

"... Ya boss?" tanya Emily.

"... Ceritakan masa lalumu pada kami. Sekarang."

-_-_-_

Chapter ini selesai! -joget tari kebahagiaan-

Oke, anisha akui. Kayaknya anisha bakalan nge-update lebih lama dari biasanya, coz bulan Desember nanti bakalan ada UAS. Huwaaaaaaaa~ -ngelempar gitar Mr.B ke tempat sampah-