27 Agustus (15 Tahun Yang Lalu). Kirigakure
Yagura menatap tidak percaya gurunya. Telinganya serasa panas dan tidak menerima perkataan yang baru saja keluar dari mulut sang guru. Ao sendiri berlari penuh keterkejutan seperti wanita yang diputuskan pacarnya karena mendengar berita itu dari sang sensei. Mei sendiri bingung dengan perasaannya kepada gurunya sekarang, antara senang atau sedih.
Dua menit yang lalu, guru atau ninja pembimbing Yagura dan kawan-kawannya tersebut mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Yang pertama, Nidaime Mizukage dikabarkan menghilang dan terindikasi sudah tiada saat bertarung one on one dengan Nidaime Tsuchikage di perbatasan bagian timur Kiri dengan Iwa. Pertarungan puncak dari Perang Dunia Ninja kedua itu akhirnya membawa konklusi untuk perdamaian antara Kiri dan Iwa-Kumo. Khususnya Kiri dan Iwa, mereka kehilangan Kage masing-masing.
Yang kedua, ini yang begitu mengejutkan. Yagura bahkan memandang penuh rasa shock kepada gurunya. Sang guru menatap serba salah kepada muridnya. Entah kenapa angin Agustus terasa berat menerpa surai hijau Yagura.
"Aku diangkat sebagai Mizukage ketiga menggantikan Nidaime-sama, jadi…mulai hari ini, aku tidak menjadi Jounin pembimbing kalian lagi…"
Bohong.
Yagura tidak terima. Dia kira gurunya bohong. Namun melihat senyuman sedih dari sensei-nya, dia tahu itu adalah suatu kebenaran. Memang sewajarnya jika Yagura dan kawan-kawannya senang, begitu pula dengan sang sensei…tetapi Yagura teringat janji gurunya saat mereka berempat bertarung melawan segerombolan ninja Iwa bulan Juli lalu.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian! Aku berjanji! Sebagai guru kalian, dengan tim yang baru terbentuk, aku akan menjadi tameng serta pengarah kalian yang baik!"
"Sensei…kau telah berjanji kepada kami," kata Yagura dengan mata tidak percaya. Gurunya mengangkat tangan kanan dan berusaha menggapai Yagura untuk menenangkannya.
"Tim kami masih baru terbentuk, dan kau sudah tidak membimbing kami lagi. K-kau meninggalkan kami…"
Mei menatap cemas teman satu tim-nya "Ya-Yagura, k-kau tidak boleh berkata seperti itu. Seharusnya kita senang dan bangga karena guru kita diangkat menjadi pemimpin desa ini."
"Tidak." Yagura mundur dua langkah ke belakang "Sensei…kau bohong. Kau mengkhianati janjimu kepada kami," Yagura membalikkan badannya dan berlari menjauhi Mei dan sang guru dengan teriakan penuh kemarahan.
"KAU PENGKHIANAT, SENSEI!"
Mei memandang khawatir Yagura. Dia mengalihkan pandangannya kepada sang guru yang kini akan menyandang gelar Sandaime Mizukage. Gurunya nampak serba bersalah dengan tangan kanan yang masih menggapai kosong di udara.
"Sensei…" gumam Mei pelan dengan alis berkerut khawatir di wajah cantiknya.
THE UZUKAGE
BY DONI REN AND ICHA REN
NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO
THE UZUKAGE PROJECT
STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR
GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA
PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION
POV: NORMAL POV
HAVE FUN READ, BRO AND SIS!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 21
10 Desember (Saat Ini). Kirigakure
Naruto memuntahkan cairan kemerahan itu dari mulutnya. Matanya memandang tidak percaya tangan kanannya bergerak sendiri untuk menembus abdomennya. Tubuhnya sedikit goyah. Dia memandang Yagura dengan tatapan kesakitan. Apa yang telah Yagura lakukan? Tampaknya dia sedang menghadapi bahaya.
"Kau pasti pernah mendengar tentang Fuinjutsu: Seigyo-ta ini, Uzukage-sama," Yagura menggerakkan satu tangannya-tangan kanan-yang membentuk segel harimau dan menggerakkan tangan itu ke atas. Tiba-tiba tangan kanan Naruto bergerak menuju wajahnya. Tangan itu menghantam pipi kanan Naruto hingga setetes darah keluar dari sudut bibir sang Uzukage.
"Kau belum pernah mendengarnya?" Yagura tertawa. Antara senang dan mengejek "Oh Uzukage-sama, kau yang dijuluki Master Fuinjutsu ternyata tidak mengetahui salah satu Fuinjutsu dari desamu."
"Aku terlalu banyak julukan, Ghook…" Naruto memandang tajam Yagura dengan napas terengah-engah. Tiba-tiba mata itu berkilat cepat dan tubuh Naruto berlari kencang menuju ke arah Yondaime Mizukage "Maaf saja jika aku belum pernah mendengarnya!"
DHUAARHH! Tubuh Naruto terhujam ke permukaan es Danau Kimura dengan kepala yang lebih dulu menghantam permukaan es tersebut. Tubuh Naruto tenggelam perlahan di air super dingin danau, namun dia langsung melompat ke atas dan terhujam kembali ke permukaan es danau tersebut. Yondaime Uzukage seperti dikendalikan sesuatu. Tubuhnya bergerak sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Hahahaha!" Yagura tertawa senang saat melihat percikan darah muncul dari kepala Naruto. Mizukage menggerakkan tangannya mendekati dadanya dan tubuh Naruto berlari cepat ke arah Yagura. Yagura meluruskan tongkat kesayangannya ke arah perut Naruto dengan senyuman penuh kemenangan. Sebelum mata Naruto berkedip, suara perut yang terkoyak menghampiri gendang telinganya.
CRAASHH! "Uhuk!" Naruto memuntahkan darah kental dari mulutnya dengan wajah kesakitan. Tongkat Yagura, hingga ke tengahnya, menembus perut Naruto hingga ke punggungnya. Hiasan bunga tersebut bahkan tersangkut-maaf-usus-usus putih bersih sang Uzukage. Yagura menarik napas senang.
"Selesai sudah…Yondaime Uzukage-"
WHOOSH! Mata Yagura melebar. Hawa membunuh langsung menusuk seluruh tulang punggungnya. Belum sempat dia menoleh ke belakang, Naruto telah muncul di belakangnya dan menonjok pipi kanannya dengan keras.
Tubuh mungil itu terpental dan terseret mulus di permukaan danau. Naruto berdiri tegak di depan mayatnya sendiri dengan wajah datar. Dia mengangkat sesuatu dengan kedua tangannya. Begitu Yagura berdiri, Naruto mengangkat sebuah panah dengan anak panah yang terbentuk dari chakra. Lima tanda fuin muncul di ujung anak panah chakra tersebut. Mata Naruto mendelik ke tanda fuin tersebut.
"Kau tahu apa maksudnya itu, Sagishi?"
Sagishi terkekeh pelan. Kekehannya persis ketika klon human-nya-dengan perut terkoyak-menghilang perlahan. Dia menatap senang Uzukage keempat.
"Karena aku pernah bekerja sama dengan Nidaime Uzukage, biar kuberitahu kau salah satu rahasia senjata Kage terdahulu…"
"Aku siap mendengarkan,"
"Pilih tanda Fuin yang kuning dengan pikiranmu dan lepaskan anak panah chakra itu!"
"Are? Itu bukan penjelasan, musang!"
"Tidak cukup waktu!" kata Sagishi sedikit kesal. Naruto memandang ke depan. Yagura berlari cepat ke arahnya sambil menggerakkan segel tangan. Naruto bersyukur, dengan mengganti Goriko menjadi Sagishi sebagai back-up Sumi-kyo nya, tanda Fuin di lengannya hilang. Luka di perutnya masih ada. Naruto terbebas dari jutsu berbahaya tersebut. Naruto memandang lima tanda Fuin dan melihat lima warna berbeda. Kuning, hijau, merah…
'Ah, tidak sempat memperhatikan!' Naruto memikirkan warna kuning dan melepaskan anak panah chakranya. Yagura berhenti berlari. Anak panah itu berlipat ganda menjadi ribuan anak panah kematian lainnya.
.
.
.
Beralih ke pusat Kiri. Kini desa itu dilanda kepanikan terbesar sepanjang sejarah Kirigakure selain invasi Iwa saat Perang Dunia Ninja Kedua. Para Rebellion bentrok dengan ninja-ninja Pro Yagura. Beberapa bangunan di pusat desa terbakar dan membumbungkan asap ke langit. Ledakan sesekali terjadi dan teriakan ketakutan warga sipil diikuti teriakan penuh kebencian dari dua kubu berbeda yang saling bertarung.
Di markas pusat Rebellion, Hareni Michiru melompat ke belakang dua kali saat pedang Kabutowari Akebino Jinin hampir menghancurkan batok kepalanya. Matanya memandang tajam tiga ninja yang berdiri di depannya dengan senyuman kemenangan.
"Kau membuatku bergerak dari ruang operator Ujian dan menyerang markas busuk ini…" Jinpashi menghela napasnya "…Ternyata aku dibayar mahal karena melihat wanita cantik ini adalah salah satu pemimpin pemberontak bodoh tersebut."
"Aku tidak sabar menghancurkan kepala pirangnya itu…" kata Jinin sambil menghempaskan palu besarnya ke lantai. Michiru memandang sosok ketiga, Kisame Hoshigaki, yang kini sedang dihubungi seseorang.
"Apa permintaan terakhirmu, Mizukage-sama?" gumam Kisame pelan. Kedua temannya menoleh ke arah Kisame dengan pandangan kebingungan. Michiru pun dapat mendengar suara dari ninja berwajah absurd tersebut.
"Hm…aku mengerti. Ya, ya. Hehehe…ide bagus, Mizukage-sama," Kisame terdiam sebentar "Jadi dia belum mati ya…"
"Ada apa Ki-" kata-kata Jinin berhenti saat Jinpashi membuat gerakan menahan di depan ninja pemegang pedang tumpul tersebut. Jinin memandang tajam temannya.
"Aku mengerti. Tetap rahasiakan kebenaran ini ya?" Kisame menghela napas perlahan "Selamat berjuang…Mizukage-sama."
"Ada apa, Kisame?" Tanya Jinin tidak sabaran. Kisame menyeringai.
"Sebelum itu, mari kita habisi wanita ini dulu…" mata Michiru menajam mendengar perkataan ninja dengan mata melotot seperti ikan hiu tersebut "Setelah itu aku akan menyampaikan cerita yang menarik untuk kalian, dan juga rencanaku. Aku berterima kasih kepada Mizukage-sama yang telah mengatakan seluruh rencana kalian dan lokasi markas ini. Semuanya berkat kecerobohan Ao-san yang bodoh."
Michiru mundur dua langkah saat Kisame maju satu langkah mendekatinya "Bagaimana kalau aku," tiba-tiba Kisame melompat cepat di hadapan Michiru dan melayangkan Samehadanya yang masih terbungkus kain putih ke leher Michiru "Menggesek leher jenjangmu itu!"
Trak! Lima rantai dari lantai ruangan mengikat tubuh Kisame dan membuat sang Bijuu tanpa ekor tidak bisa bergerak. Mata Kisame bergetar kaget.
"Rantai ini?! K-kau…jangan-jangan…"
Michiru mundur tiga langkah. Wajah cantiknya sangat amat serius sekarang. Dia tidak senang akan hal ini.
"Kau telah membuatku mengeluarkan jutsu yang membongkar identitasku." Michiru memiringkan kepalanya sedikit "Karena kalian pasti tahu, mungkin dengan sopan aku akan memperkenalkan diri…Uzumaki Michiru,"
Telinga Jinin maupun Jinpashi terasa sakit mendengar kata-kata yang keluar dari wanita bersurai pirang tersebut.
"Anggota intel di bawah arahan Uzumaki Konan, para Uzumaki dari tanah Uzushiogakure!"
~TU~
"Anggota intel di bawah arahan Uzumaki Konan, para Uzumaki dari tanah Uzushiogakure!"
Jinin dan Jinpashi terpaku. Sangat mengejutkan. Benar-benar suatu hal yang mengejutkan. Keduanya tidak percaya bahwa orang-orang dari desa yang telah mereka hancurkan di bulan lalu ternyata masih ada yang hidup. Bagaimana mereka bisa lolos dari serangan sistematis lima desa besar yang benar-benar ingin melenyapkan Uzushiogakure beserta orang-orangnya dari peta dunia Shinobi?!
"JININ! JINPASHI! JANGAN TERDIAM SEPERTI ORANG BODOH!" Kisame meraung marah. Urat mata merah muncul di matanya "BUNUH WANITA ITU DAN HANCURKAN RANTAI SIALAN INI DARI TUBUHKU!"
MIchiru menggerakkan handseal saat Jinin dan Jinpachi melompat maju di hadapannya. Sebuah lingkaran Fuin muncul di depan kakinya. Ketika cahaya Fuin itu menghilang, puluhan kunai melesat ke atas menuju ke arah Jinin dan Jinpashi. Keduanya menahan serangan kunai tersebut dengan kedua pedang mereka yang selalu dibanggakan. Michiru berlari cepat ke belakang dua ninja elit Yagura tersebut dan melompat. Dia memukul tenguk keduanya saat tubuhnya tepat berada di belakang Jinin dan Jinpashi yang melayang di udara.
"Tidak sakit bodoh!" Jinin melayangkan pedang tumpulnya ke belakang dan Michiru hanya melompat tenang ke bawah. Dia menggerakkan handseal dan sebuah rantai keluar dari tanda fuin yang ada di kedua leher musuhnya tersebut.
"Kalian akan merasakan kesakitan secepatnya," kata Michiru tenang. Sebuah kunai mengenai betis kiri Jinpashi dan membuat ninja itu mengerang kesakitan.
Michiru menangkap kedua rantai yang terjulur ke arahnya dan mengenggamnya dengan bebas. Dia menarik kedua rantai tersebut dan membuat tubuh Jinin serta Jinpashi tertarik ke arah gadis Uzumaki tersebut.
"Dasar Uzumaki sialan…" gumam Kisame kesal saat tahu teman-temannya sangat tidak berguna menghadapi bawahan Uzumaki Konan itu. Michiru sudah menyiapkan dua kunai di dinding-yang berada di belakangnya, dia menancapkan pegangannya ke dinding hingga ujungnya tercuat bebas-dan menarik dua ninja tersebut menuju kunai di dinding agar menyelesaikan pertarungan singkat ini. Jinin dan Jinpashi berteriak kesal.
"PEREMPUAN JALAAAANG!" Jinin menggeliat ganas "AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMUUU!"
Jinpashi memandang datar ke arah Michiru dan melemparkan pedang Shibukinya ke arah gadis tersebut. Sebuah rantai muncul di samping kiri Michiru dan menangkap pedang peledak itu, lalu melilitnya bagai benda hidup. Mata Jinpashi perlahan-lahan melebar.
"Banyaklah berdoa di neraka sana saat-"
Dhuakh! Michiru pingsan seketika. Rantai-rantainya langsung longgar dan menjadi benda mati biasa. Di belakang tubuh Michiru berdiri Kushimaru dengan topeng khasnya. Dia menghantam tengkuk Michiru menggunakan tangan kirinya.
"Jadi," Kushimaru memandang ke arah Kisame yang terjatuh ke lantai diselimuti rantai "Apa rencanamu Kisame?"
Kisame bangkit perlahan sambil tetap menyeringai. Khas dirinya.
.
.
.
Yagura memandang penuh amarah, kekesalan dan sedikit takut ke arah sosok bersurai merah yang berdiri di depannya dengan mata tenang. Puluhan anak panah chakra menancap di tempurung kura-kura yang muncul di lengan tangan kanannya dan dijadikan tameng bagi Yagura untuk melindunginya dari serangan Naruto. Tempurung tersebut berukuran besar dan menutupi seluruh tubuh mungil Yondaime Mizukage. Yagura berdiri perlahan dan melirik tajam anak panah chakra Naruto yang menghilang.
'Untung di tahap ekor kedua ini aku masih bisa menggunakan teknik Sheru dari Sanbi, jika tidak…' Yagura mendengus pelan '…Aku bisa mati dengan serangan gila itu!'
'Fuinjutsu: Seigyo-ta sudah tidak kurasakan lagi. Jutsu yang sudah kumodifikasi dengan mengendalikan air di plasma darah lawan. Ck! Uzukage muda itu memang keparat…' bagi Mizukage, dia benar-benar tidak puas. Rentetan serangan pertamanya gagal. Dia hanya berhasil melukai perut Naruto saat serangan pertama Fuinjutsu-nya tersebut. Dia tidak bisa menahan diri. Dia harus mencoba menghancurkan Naruto dengan mode Jinchuuriki ekor tiganya, sebelum masuk ke mode Bijuu sempurna-nya.
"Hm? Bisa kita coba lagi…Sagishi." Gumam Naruto pelan saat melihat perubahan jumlah ekor Yagura. Menjadi tiga ekor. Tampaknya Yagura mulai emosi dalam keseriusannya sekarang. Sagishi mengangguk pelan di tubuh Naruto. Sang Uzukage mengeluarkan anak panah chakranya yang muncul di panah itu sendiri dan membidiknya tepat ke tubuh Yagura.
"Mata Uzukage tidak pernah salah."
"Kau sudah pernah membidik sebelumnya, Yondaime Uzukage?"
"Belum pernah," Naruto memandang Fuin berwarna merah dan memilihnya. Dia menatap tajam Yagura yang melesat ke arahnya dengan hembusan angin kuat menerpa tubuh sang Uzukage "Tetapi suatu ledakan tidak memerlukan bidikan!"
Syuut! Naruto melepaskan anak panah chakra tersebut tepat lurus ke kepala Yagura. Yagura dengan cepat mencengkram anak panah tersebut menggunakan tangan kanannya dan sedetik kemudian bunyi ledakan menggema di telinga Naruto. Asap membumbung tinggi dan tubuh Yagura kembali terpental ke belakang. Naruto takjub dengan senjata Nidaime Uzukage.
"Lebih berguna daripada senjata Shodaime ya…" gumam Naruto tanpa sadar.
"Jangan kualat, Yondaime-sama."
Belum sempat Naruto membalas perkataan Sagishi, Yagura muncul dari balik debu akibat ledakan anak panah tadi dan menarik tangan kirinya ke belakang untuk meninju sang Uzukage. Naruto memiringkan tubuhnya dan menendang lutut Yagura yang bebas. Mata Mizukage itu mendelik cepat ke arah Naruto dan melayangkan tendangan samping kaki kanan ke rusuk sang Uzukage. Naruto dengan cepat mendudukkan tubuhnya hingga berjongkok, dan berguling cepat tiga kali ke samping kiri.
"Jangan lari, Uzukage keparat!" Yagura melesat cepat ke arah Naruto dan melayangkan kembali pukulan tangan kirinya.
"Sangosho.." gumam Yagura pelan. Naruto yang menghindar dengan mundur ke belakang dua langkah dikejutkan oleh munculnya sebuah kerang dari atas langit dan melesat menuju dirinya. Perhatian Naruto sedikit teralihkan, Yagura melayangkan kaki kirinya ke dada sang Uzukage dengan cepat. Untungnya, reflek Uzukage muda itu cukup hebat. Naruto bergerak ke kanan untuk menghindar, walaupun akhirnya kaki kiri Yagura masih menghantam bahu kirinya karena keterlambatan momentum pergerakan.
Dhaarh! Kerang itu menghancurkan permukaan es Danau Kimura selagi Naruto terseret cukup jauh dengan bahu kiri yang terasa panas. Tendangan seorang Jinchuuriki Sanbi yang telah memasuki tahap akhir memang mengerikan. Naruto memegang bahunya dan melebarkan matanya ketika Yagura sudah melesat ke arahnya dengan gigi-gigi bergelemetuk marah.
Mizukage bertubuh mungil itu tampaknya tidak akan membiarkan Naruto bernapas tenang sejenak.
DHAAARH! Tangan kiri Yagura menghantam bola kekkai Naruto yang berwarna biru-Fuinjutsu: Boru no Kokubo- dan membuatnya retak di seluruh bagian kemudian pecah. Naruto mundur jauh ke belakang saat Yagura langsung memukul dari atas ke bawah dengan tangan kirinya hingga permukaan es Danau Kimura yang tadi dipijak Naruto pecah. Mizukage melompat sejauh dua langkah dan berdiri tegak sambil mengepalkan tangan kanannya yang berasap dan diselimuti chakra Sanbi kembali.
"Regenerasi dengan chakra Bijuu...bagaimana menurutmu, Sagishi?" Tanya Naruto kepada Sumi-Kyo tercerdasnya. Sagishi menghela napas bosan.
"Kau akan kesusahan, kecuali menyegel kembali chakranya dengan Hakke Fuin."
"Aku perlu mengikat pergerakannya-" mata Naruto menajam "Lihat dia sudah bergerak menyerang!" dan menghindar ke samping kanan saat Yagura menghantam kaki kanannya ke bawah hingga permukaan es Danau Kimura hancur berkeping-keping. Naruto berpijak di pecahan es danau Kimura dan melihat Yagura bergerak ke samping kanannya. Yagura menyabet pipi sang Uzukage menggunaan ekor chakranya. Naruto berputar 180 derajat dan berdiri tegak di sisi kanan Yagura. Pipi sang Uzukage tergores.
"Kau tidak bisa membalas seranganku, Uzukage-sama?" Tanya Yagura angkuh. Naruto mendecih dan melompat jauh ke belakang kembali. Dia membuka sebuah gulungan ninja dan mengembalikan senjata Nidaime ke gulungan tersebut. Naruto memandang Yagura yang berlari cepat ke arahnya bagai monster yang kelaparan. Gigi ompong Mizukage terlihat jelas saat dia menyeringai penuh kemenangan kepada Naruto.
"Aku akan coba mengalirkan chakraku ke pisau ini-"
"Buka dulu segel batas penyimpana chakra senjata ini, baru alirkan chakramu…Shodaime Uzukage selalu melakukan hal tersebut sebelum menggunakan senjatanya."
Tidak ada waktu untuk berdebat. Naruto menggerakkan handseal untuk segel pembuka Uzumaki dan menapakkan tangan kiri ke pisau lipat di lengan bawah kanannya dengan cepat. Saat itu Naruto merasakan suatu kekuatan di senjata sang Shodaime yang dia anggap bisa dijadikan pisau dapur. Yagura sudah berjarak 10 langkah di depannya.
"Terima kasih atas tips-nya, Sumi-Kyo ketujuh!" tiba-tiba muncul lapisan chakra di luar mata pisau tersebut. Lapisan chakra itu bahkan lebih panjang dari pisau itu sendiri. Naruto mengayunkan pisau lipatnya ke arah Yagura dari samping kanan dan berteriak kencang.
"KAU SUDAH MENUNGGU BALASANKU KAN, MIZUKAGE?!" Yagura melirik cepat ke samping kanannya. Dia melompat ke atas bagai kodok yang ingin menyerang lalat terbang di atasnya. Naruto membalikkan mata pisaunya ke atas, dan menggerakkan pisau berlapis chakra panjang itu ke atas. Menuju tubuh Yagura.
"SEKARANG TERIMA KADO DARI UZUSHIOGAKURE!" kata Naruto berteriak dingin. Yagura menapakkan kedua tangannya dan ledakan besar kembali terjadi.
Saat kepulan asap raksasa itu perlahan menghilang, Naruto tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Di hadapannya berdiri sosok Sanbi yang sebenarnya. Kura-kura raksasa dengan ekor tiga. Matanya memandang Naruto bagai semut bodoh yang siap diinjak, tetapi Naruto tidak akan pernah membiarkan dirinya terinjak.
"Kita masuk ke tahap selanjutnya, Uzukage-sama…" kata Sagishi sambil tertawa senang. Naruto tidak melongo. Tentu saja.
Safirnya tetap tenang dan kalem. Walau ada kekhawatiran di iris indah itu.
27 Agusutus (15 Tahu Yang Lalu). Kirigakure
Pengkhianat harus mati.
Itulah yang ada di pikiran Yagura dan menjadi pancangan kuat di hatinya. Entah kenapa dia melarikan diri dari sang guru dan duduk termenung di depan Danau Kimura sambil meresapi kata-kata sang sensei kembali.
"Aku diangkat sebagai Mizukage ketiga menggantikan Nidaime-sama, jadi…mulai hari ini, aku tidak menjadi Jounin pembimbing kalian lagi…"
"Tsk, Kuso!" Yagura meninju tanah berumput tersebut dengan keras. Terdengar bunyi 'buk' pelan. Bocah bersurai hijau gelap itu mendongakkan kepalanya menatap dahan pohon yang meneduhi tubuhnya dari sinar matahari, walaupun dahan tersebut sudah banyak menggugurkan daun karena musim gugur sudah tiba.
"Yagura…"
Yagura bangkit dan memasang posisi bertarung. Wajahnya terkejut. Dia mengira ada musuh bodoh yang ingin melawannya dan menyebut namanya dengan tolol, tetapi di hadapannya kini berdiri sosok yang lebih menyebalkan daripada deskripsi musuh yang ingin dihadapinya. Sosok gurunya berjalan dengan senyuman khasnya, sambil memasukkan kedua tangannya di kedua kimononya yang lebar. Juga rambut hitam panjangnya yang nampak dishampo empat kali sehari. Norak. Kata itu kembali menghinggapi kepala Yagura.
"Mau apa kau ke sini?"
"Nada bicaramu tidak sopan, anakku…"
"Sudah kubilang aku bukan anakmu!"
Sensei-nya masih berjalan perlahan mendekatinya, walaupun senyumannya sedikit memudar. Yagura menjauhkan tubuhnya saat sang guru tidak berhenti di hadapannya. Yagura terus mundur dengan wajah kesal dan setetes keringat di dahinya. Sang sensei berjalan tenang mendekati muridnya masih dengan senyuman menenangkan yang sering dia tampilkan.
Cburr! Akibat dari gerakan tidak penting tersebut, Yagura tercebur ke Danau Kimura yang terkenal dingin. Untung saja bukan musim dingin.
"HAHAHAHAHA! Makanya Yagura, jangan berjalan mundur seperti itu…kau harus menoleh ke belakang karena itu akan membuatmu dapat berpikir tenang…"
Yagura yang duduk di bawah pohon dengan tubuh basah hanya menatap kesal ke depan. Apa-apaan orang tua berambut norak ini? Dia yang membuatnya seakan-akan calon korban pedo, yang dipaksa terus mundur ke belakang karena takut di serang, dan setelah dirinya basah kuyup, orang yang membuatnya seperti ini tertawa lebar. Yagura mendelik marah ke arah gurunya saat tawa itu berhenti.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" ya, Yagura tidak mengerti. Bagaimana apa yang dimaksudkan orang ini.
"Perasaanmu, kau tetap membawa batu-ku kan?"
Mata Yagura sedikit melebar. Dia menoleh cepat ke arah gurunya dengan pandangan lebih. Lebih ingin mendengar sesuatu.
"Maksudmu?!" Tanya cepat Yagura.
"Yah…" guru itu menggaruk belakang kepalanya "…Aku hanya takut, takut kau akan melempar batu itu ke danau mengerikan ini dan melepaskan semua kepercayaan di batu itu dari hatimu. Aku takut itu terjadi…" sang sensei kembali menampilkan senyum menenangkannya "Kau masih memegangnya di hatimu kan, Yagura…"
Yagura tidak menjawab. Sebenarnya dia malas menjawabnya. Tetapi getaran hatinya yang besar tersebutlah yang membuatnya mengatakan satu kata umpatan untuk gurunya.
"Kuso…"
"Hm?" sang guru memiringkan kepalanya ke kanan.
"Kuso…kau tidak perlu menanyakannya," Yagura mengangkat kepalanya tegak dan memandang penuh amarah ke gurunya "Tentu saja aku selalu memegang batumu, sensei norak! Hanya saja kenapa…kenapa kau tidak memegang batu kami di hatimu? Kenapa kau sudah membuangnya ke kolam besar yang dinamakan Mizukage itu?!"
Tep…kata-kata protes Yagura terhenti seketika saat tangan lembut itu mengusap pucuk kepalanya. Gurunya tidak tersenyum. Matanya memandang penuh kasih sayang ke Yagura. Yagura bagai melihat sosok orang tua berprinsip kuat namun dipenuhi beban yang banyak. Gurunya membuka mulut perlahan, dan berusaha menjelaskan kepada muridnya tersebut.
"Aku tetap menjaganya…" kata gurunya. Tentu saja "Hanya saja, aku mendapat satu batu besar dari rakyat Kiri. Sebuah batu yang tidak mampu kuangkat sendiri karena batu tersebut sangat amat berat."
Hembusan angin Agustus kini terasa nikmat bagi hati Yagura.
"Ya, batu itu adalah amanah yang kau sebut Mizukage. Aku tidak akan bisa berdiri tanpa dibantu rakyat Kiri untuk mengangkat batu itu, Yagura…mereka mengangkat batu itu bersamaku karena mereka percaya denganku," usapan kepala senseinya semakin lembut "Aku membutuhkan dirimu untuk mengangkatnya, walaupun batu itu lebih besar dari batu pemberian ketiga muridku…"
Hyuushh…sehelai daun terbang diantara keduanya dan jatuh di air Danau Kimura membentuk riak pelan yang lembut.
"Aku sudah meletakkan batu kalian di atas batu besar itu karena aku tahu kepercayaan kalian akan selalu kujunjung nomor satu…"
"Se-Sensei…" Yagura tidak bisa berkata apa-apa. Dia, ya…perasaannya tercampur aduk. Yagura merasa senang sekaligus merasa bersalah dengan gurunya. Meneriakkan gurumu seorang pengkhianat bukanlah suatu sikap yang bagus untuk diingat.
"Gomen sensei, aku…aku terlalu berlebihan…" Yagura menundukkan kepalanya. Gurunya berdiri tegak dan memandang air danau yang indah disinari matahari. Dia menoleh ke arah Yagura dan tertawa pelan.
"Kau lebih baik daripada Ao yang berlari tidak jelas dan ternyata berada di kedai ramen karena lapar. Aku kira dia merenung di atas rumahnya sambil memikirkanku, ternyata si rambut biru itu tetap ingin mendapatkan jitakanku hahahaha!"
Yagura tanpa sadar tersenyum. Dan ikutan tertawa. Tiba-tiba gurunya berjalan di atas permukaan air Danau Kimura dan berada di tengah danau tersebut. Yagura memiringkan kepalanya kebingungan.
"Nah, aku akan buat penawaran…" kata sang guru sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Yagura. Kimononya bergerak pelan ditiup angin bulan Agustus.
"Kita akan mengadakan pertarungan. Jika kau menang, aku akan menolak jabatan itu…jika kau kalah,"
Yagura menyeringai dan sudah ada di depan gurunya dengan cepat. Mata gurunya nampak berkilat berbahaya seperti muridnya.
"KAU AKAN MENJADI MIZUKAGE NORAK DENGAN RAMBUT LURUSMU ITU!" kata Yagura sambil menyeringai senang.
"KAU TERNYATA TIDAK TAHU PERTARUNGAN TERHORMAT YA, YAGURA! KITA HARUS MENDAHULUKAN SOPAN SANTUN NINJA SEBELUM BERTARUNG!" teriak sang sensei dengan wajah tak kalah iblisnya dari sang murid.
Akhirnya, keduanya mempertemukan jari tengah dan jari telunjuk mereka kepada lawan, mundur tiga langkah…dan tanpa ba-bi-bu, langsung menonjok pipi orang di depannya. Walau tertonjok dengan kuat, senyuman mengembang tidak menghilang di wajah guru-murid tersebut.
Mei dan Ao yang bersembunyi di balik pohon tersenyum melihat pemandangan itu. Sepertinya tim mereka akan baik-baik saja.
.
.
.
28 Agustus (15 Tahun Yang Lalu)-12 April (14 Tahun Yang Lalu). Kirigakure
8 bulan sudah Sandaime Mizukage menjalankan roda pemerintahannya di desa berkabut Kirigakure. Semuanya nampak sedikit tenang karena gejolak api di dunia shinobi menjadi lebih kecil diakibatkan gencatan senjata militer dari semua desa. Pertemuan 5 Kage tiga bulan yang lalu menghasilkan berbagai perjanjian yang berdampak untuk seluruh ninja di dunia ber-kunai dan ber-pedang tersebut. Rapat yang dilakukan di Kirigakure, lebih tepatnya di Pulau Ashigiri mendapatkan perhatian besar bagi semua elemental ninja yang mengharapkan hasil terbaik untuk desa-desanya. Begitu pula dengan warga Kirigakure. Juga Yagura.
Gurunya memang tipe pemimpin lembut yang hati-hati dalam bertindak. Di sifat itu, kau akan menemukan kelebihan dan kelemahan sekaligus untuk jabatan seorang pemimpin. Tetapi Sandaime Mizukage sudah banyak mendapatkan kritikan dari para warga Kirigakure sejak 4 bulan masa kepemimpinannya karena dinilai terlalu lembek menghadapi 4 pembesar desa ninja lainnya. Para warga Kiri menilai Kage mereka ini banyak memberikan toleransi dan mengalah kepada 4 desa besar Shinobi sehingga Kirigakure dinilai menjadi rugi. Walaupun begitu, Mizukage ketiga tetap menyapa ramah warga desanya-tentu saja dengan senyuman khasnya-dan mendapatkan tanggapan dingin, bahkan cibiran, dari para warga desa berkabut tersebut.
Yagura duduk di atap salah satu hotel desa Kiri dan menatap orang yang lalu lalang di jalan utama pusat desa. Matanya memandang sendu.
"Mau es kola?" Tanya Ao sambil membawa sebuah gelas berwarna hitam gelap di kedua tangannya. Sebenarnya Yagura ingin menolak, dia lebih menyukai pucuk teh hijau, tetapi dia tetap saja menerimanya dengan sedikit rengutan. Mei muncul di sisi kirinya sambil duduk dengan wajah bercampur aduk. Senang maupun lelah.
"Kau pasti selalu bertanya apa sensei bisa melalui cobaan berat di masa kepemimpinannya sekarang. Dia sudah baik, juga bagus…" Mei tersenyum "Dia Kage yang lembut."
"Terlalu lembut. Bahkan membuat para warga di sini berani memandangnya rendah," nada suara Yagura terdengar sedikit menggeram "Seharusnya si rambut norak itu bisa lebih keras…desa-desa lainnya juga berbuat seenaknya. Kau lihat hasil perjanjian di Pulau Ashigiri 3 bulan yang lalu?"
"Karena Kiri kalah-"
"Kita tidak kalah!" protes Yagura terhadap ucapan Ao. Ao menghela napas sejenak.
"Karena Kiri bisa dikatakan kalah pada Perang Dunia Ninja Kedua yang begitu membosankan, maka beberapa hasil laut Kiri dikirimkan ke Kumo dan Iwa sebagai pergantian perang. Kiri juga harus menanggung biaya kerusakan akibat perang tersebut." Ao memutar-mutar gelasnya, membuat air kola hitamnya bergoyang pelan.
"Ini membuat Kiri dipandang sebelah mata!" umpat Yagura kesal. Saat itu matanya memandang sesosok Mizukage dengan kedua tangan dimasukkan ke kedua lengan kimononya yang lebar dan berjalan sendiri tanpa pengawalan. Guru mereka, sekaligus pemimpin desa ini, sedang berjalan dengan tetap memasang senyuman menenangkan itu kepada para warga desa. Yagura tahu selanjutnya…
Semua warga memandang tidak hormat kepada Sandaime Mizukage.
Yagura, Mei dan Ao hanya bisa melihat. Mereka pernah ingin membantu, tetapi gurunya langsung menjitak kepala mereka bertiga dan sambil tersenyum bahwa ini adalah masalahnya. Yagura berusaha berdebat dengan gurunya bahwa dia harus percaya kepada mereka untuk menyelesaikan masalah ini bersama…tetapi sang sensei mengatakan bahwa dia percaya Yagura dan kedua temannya mempercayai dirinya untuk menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan ketiganya.
"DASAR KAGE SIALAN!" seorang penjual ikan melemparkan seekor ikan tuna ke kepala Mizukage ketiga dengan wajah kesal "KAU TELAH MEMBUAT PARA NELAYAN KECIL SEPERTI KAMI LEBIH CEPAT MATI KARENA KELAPARAN DAN KEMISKINAN! PERGI SAJA SANA KE SAMPAH SIALAN!"
Yagura ingin melompat dan menghajar wajah orang tersebut. Mei menahannya dengan tatapan tenang.
"Ara ara…maaf tuan," Mizukage ketiga mengambil ikan tersebut dan meletakkannya dengan sopan di tempat sang penjual meletakkan ikan jualannya "Ikan ini terlalu mahal untuk dibuang…"
Cproott! Sebuah tomat pecah tertempel di belakang kepala Mizukage. Seorang penjual buah mendengus seperti banteng yang menatap kain merah dari matador. Mizukage ketiga menoleh ke arahnya, masih dengan senyuman, dan kedua tangan disatukan di lengan kimono lebarnya. Dia berjalan mendekati pedagang tersebut.
"Jangan melakukan hal itu…"
Semua pedagang di pasar Kiri nampak tidak dapat menahan emosinya. Beberapa warga juga nampak sudah meledak marah. Tentu saja, perjanjian 3 bulan yang lalu benar-benar menjatuhkan Kirigakure secara martabat, harga diri, hakikat desa dan juga ekonomi-sosial secara bersamaan. Mata Yagura bergetar bagai singa yang menatap kelaparan seonggok daging segar. Mei tahu…dia tidak dapat menahan amarah temannya. Yagura tentu saja langsung panas, bukan, lebih tepatnya mendidih. Sang sensei masih saja tersenyum saat sepuluh lusin barang berbeda dilempar ke arahnya dengan caci maki penuh emosi warga Kirigakure.
"Yagura, sensei bilang…"
"PERSETAN DENGAN SENSEI BILANG!" Yagura melompat dari atap hotel dan menerjang salah seorang kepala warga dengan kaki kanannya saat tahu orang tersebut ingin memukul kepala Mizukage. Gurunya terkejut memandang Yagura saat sebuah telur busuk mengenai kepala hijau muridnya.
"HENTIKAN INI, ORANG-ORANG BODOH!" tidak berhenti. Malah semua yang ada di situ makin emosi. Mereka tahu siapa bocah bersurai hijau tersebut. Dia adalah murid pemimpin pecundang itu. Seorang pria beruban maju ingin menghajar Yagura, dan sedetik kemudian, orang itu dijatuhkan oleh seorang Anbu Kiri. Akhirnya, para warga desa yang berani melempar Sandaime Mizukage diringkus oleh sekumpulan Anbu pengawal Mizukage. Mei dan Ao turun dari atap hotel dan berlari mendekati sensei mereka dengan wajah khawatir.
"Sensei…" sebelum Mei melontarkan kata-kata khawatirnya, guru mereka mengusap wajahnya perlahan dan menggelengkan kepala dengan tenang. Yagura menggeram marah. Masih saja orang tua norak itu tersenyum penuh ketenangan.
"Ada apa denganmu, sensei? Mereka sudah keterlaluan…" Yagura memandang para Anbu yang membawa para warga desa dengan tangan yang dipiting. Meskipun memakai topeng, Yagura dapat melihat mata senang di lubang topeng tersebut. Anbu-Anbu Kiri sengaja datang terlambat menyelamatkan pemimpin mereka karena ingin menonton adegan memalukan dari Sandaime Mizukage. Yagura tentu saja tahu itu karena dia dapat merasakan chakra-chakra para bajingan tersebut. Yagura kembali memandang sensei-nya dan sang guru menghela napasnya perlahan.
Puk. Sang sensei mengelus pelan kepala hijau tersebut.
"Ketika kau sudah menyandang gelar pemimpin, kau akan mengerti…Yagura" Yagura mengibaskan tangan gurunya dari kepala. Ao dan Mei nampak terkejut melihat sikap Yagura.
"Aku tidak akan menjadi pemimpin lemah lembut sepertimu, sensei…" Yagura meninggalkan gurunya dengan tatapan dingin.
Baginya batu itu hampir lepas dari tangannya. Baginya sang guru sudah tertimpa batu besar yang diberikan rakyat Kiri kepadanya. Yagura ingin melempar puluhan batu kepada warga Kiri yang menatap tidak hormat gurunya, tetapi juga ingin meninju wajah gurunya sendiri dan membuang batu terakhirnya ke danau ataupun ke laut. Tetapi dia mengurungkan niatnya. Dia masih teringat rasa kepercayaan itu begitu nikmat ketika terasa indah di hati.
Lima hari kemudian, Jinchuuriki Sanbi mengamuk hebat akibat kehilangan kontrol. Sanbi dengan mudah mengambil wadahnya dan menguasai penuh Jinchuuriki tersebut. Bijuu ekor tiga itu mengamuk dan semua orang desa ketakutan. Puluhan ninja elit Kiri berusaha menghentikan monster tersebut dan berakhir dengan kata kematian. Namun, Sandaime Mizukage, yang dikenal lemah lembut dan ramah kepada semua orang…malam itu menggila seperti orang yang kehilangan uang 1 juta Ryo. Dia menyegel Sanbi di sebuah alat segel khas Kiri berbentuk botol besar berwarna hijau tosca dengan keadaan yang menyedihkan. Kaki kirinya putus akibat serangan Sanbi. Jinchuuriki itu mati dan segel botol itu tidak akan bertahan lama.
"Ki-kita butuh wadah lagi, Mizukage-sama!" kata seorang Jounin Kiri dengan wajah ketakutan. Mizukage tidak mampu menjawab. Pandangannya kabur dan kegelapan menelannya dalam sejuta beban.
24 April (14 Tahun Yang lalu)
Seminggu sudah sejak penyerangan brutal dari Bijuu ekor tiga, keadaan Kirigakure masih diliputi ketegangan. Sandaime Mizukage membuka matanya perlahan. Pandangan kabur pada awalnya, dan saat mata itu sudah melihat dengan jelas, tiga sosok muridnya menatap kasihan guru mereka.
"Bagaimana keadaanku?" Tanya sang guru sambil tersenyum lembut.
"Menyedihkan," kata Ao sambil tersenyum sedih "Tetapi juga senang melihatmu membuka mata kembali…"
Sang sensei tersenyum senang. Mei mengangguk pelan.
"Kami membelikanmu buah, sensei…mau memakan apel? Aku bisa mengupaskannya untukmu."
Gurunya menggelengkan kepala perlahan "Tidak, Mei. Arigatou…ano," dia menatap malu-malu langit-langit rumah sakit "Bisa minta tolong panggilkan perawat di lantai dua rumah sakit. Aku butuh sesuatu." Saat ini sang Mizukage berada di lantai 7 Rumah Sakit Kiri. Mei mengangguk siap dan berjalan seperti seorang gadis yang mengejar pacarnya kabur. Sensei menoleh ke arah Ao dan tersenyum lemah kepadanya.
"Ao, bisa ambilkan sebotol jus apel di kantin lantai 1. Aku lebih ingin memakan apel dengan bentuk seperti itu…"
Ao menaikkan alisnya. Tetapi toh, dia bukan tipe yang ambil pusing. Dia segera berdiri dan berjalan meninggalkan Yagura dan sang guru di ruangan tersebut. Yagura yang dari tadi tidak ditegur hanya memandang datar ke jendela rumah sakit. Hari yang indah. Sang sensei mengikuti arah pandangan Yagura dan berkomentar tepat sesuai dengan apa yang dikatakan Yagura di dalam hatinya.
"Hari yang indah ya, Yagura…"
Yagura memandang datar gurunya. Dia menundukkan kepala perlahan dan langsung merangsek maju mendekati sang guru lalu menarik kerah baju pasien itu dengan tatapan marah.
"Ya…dan kau tahu sensei…tidak ada seorang pun yang mengunjungimu! Para tetua brengsek itu malah duduk-duduk di kantor sana sambil membicarakan masalah Bijuu tersebut! Mereka benar-benar sudah tidak menghormatimu lagi! Sialan! Sialan! Sia-"
Plak! Gurunya menampar wajah Yagura dan memandang datar muridnya. Mata Yagura bergetar. Baru kali ini dia melihat tatapan mata datar membesar dari gurunya yang selalu tersenyum ramah.
"Jangan mengatakan kata itu tiga kali. Kau akan mengotori mulutmu…"
Yagura melepaskan kerah baju gurunya dan duduk tenang di atas kursi sambil menundukkan kepala kembali. Sensei menatap jendela rumah sakit dengan tatapan sendu.
"Kenapa…"
Mata sang sensei tetap memandang jendela rumah sakit.
"Kenapa…kenapa kau masih bertahan menjadi pemimpin negeri ini? Kenapa…"
Nada Yagura terdengar menyedihkan. Gurunya tidak menjawab.
"Kenapa sensei? Kenapa?! Semua orang tidak menghormatimu karena tahu sifat lembutmu. Mereka menjadi keras karena ke-lembek-kanmu. Tetapi kenapa kau masih bertahan dengan gelar bodoh Mizukage itu?"
"Karena aku harus tetap menahan batu besar tersebut walaupun orang-orang Kiri mengguncang tubuhku agar batu itu terjatuh,"
Mata Yagura membulat dalam keputusasaan dan kebingungannya. Dia bagai diselimuti cairan kepedihan di jiwa mudanya.
"Karena di atas batu besar itu…" sang sensei menoleh ke arah Yagura dengan senyuman khasnya, tetapi kini berbeda. Air mata indah jatuh dari sudut mata gurunya "…Ada batu kalian bertiga."
21 Januari (10 Tahun Yang Lalu). Kirigakure.
Lima tahun Sandaime Mizukage menjabat, lima tahun dia harus memikul semua beban di pundak kurusnya. Rambutnya yang dulu lurus bersih dan hitam mengkilat kini nampak kusut dan sedikit beruban. Uban karena pikiran.
Masalah dengan kakinya yang putus dan keterbatasan geraknya membuat dia semakin dijauhi rakyatnya, padahal pemimpin ketiga mereka lah yang telah menyegel Sanbi untuk menyelamatkan Kiri dari kehancuran. Sandaime Mizukage masih bisa berjalan sedikit normal karena memakai kaki palsu untuk membantunya dalam berbagai aktifitas sebagai seorang pemimpin.
Hari ini, saat matahari menggantung di ufuk barat, para orang-orang penting Kiri duduk di meja bundar beralaskan taplak biru laut dan memandang serius satu sama lain. Dua hari lagi, segel di botol yang menyimpan monster ekor tiga itu akan lepas. Ketika lepas, maka Isobu sekali lagi akan membuat bencana besar bagi Kirigakure.
"Siapa wadahnya?" Tanya seorang tetua desa sambil melipat kedua tangannya di dada. Semuanya memandang kebingungan.
"Tidak ada yang kompeten. Kita butuh ninja yang berbakat karena mengendalikan Bijuu di dalam tubuh itu…" seorang tetua berbicara, wajahnya tertekuk tidak nyaman "…susah." Katanya dengan nada diberat-beratkan.
Sandaime Mizukage memandang seorang tetua yang protes karena mendengar ninja-ninja Kiri tidak kompeten. Yang lain membalas dan membeberkan bukti-bukti, lalu tersulut kepada cara Mizukage ketiga yang memerintah terlalu lembek. Seorang tetua marah dan menggebrak meja bahwa mereka bukan membicarakan ninja Kiri ataupun Mizukage lembek tersebut. Mereka membicarakan monster ekor tiga yang sudah siap menghirup udara bebas.
"Siapa yang rela anaknya menjadi Jinchuuriki?!" kata tetua yang marah tersebut "Kita sebagai pelindung utama Kiri harus berkorban demi desa ini."
Semua tetua saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang mengangkat tangan. Mizukage ketiga sudah dapat menilai dari mimik-mimik wajah tersebut.
Tidak ada yang mau. Tidak ada yang mau berkorban demi Kirigakure.
"Yang benar saja, Hisako masih harus menghadapi Ujian Chunnin di Suna dua hari lagi."
"Toki baru saja diangkat menjadi Genin. Aku tidak mau merusak kebahagiaannya…"
"Nui-chan, oh Nui-chan manisku. Dia baru berkata kepadaku, Tou-san…sekarang aku adalah seorang Jounin. Jadi tolong dorong tubuhku ke jalan penuh semangat agar aku terus membara ya…a-aku tidak akan mebiarkannya menjadi-"
"Cukup!"
Semuanya memandang Sandaime Mizukage yang terdengar berbeda hari ini. Mereka memandang kebingungan Kage yang selalu dianggap lemah dan mudah dikendalikan itu.
"Kau sendiri bagaimana, apa kau rela mengorbankan keluargamu?" Tanya Sandaime menatap tetua yang tadi mengatakan soal "pelindung utama Kiri." Orang itu berkata "Err," sebentar dan akhirnya menggelengkan kepala mengecewakan.
"Aku tidak bisa. Anak-anakku masih harus mengejar cita-citanya."
Semuanya memandang cemas dan takut. Tidak ada harapan. Dua hari lagi Sanbi akan keluar dari botol itu dan mengamuk menghancurkan Kirigakure kembali. Semuanya nampak putus asa dengan wajah yang dipenuhi berbagai macam emosi.
"Baiklah…" Sandaime Mizukage memejamkan matanya perlahan. Sedih.
"Aku akan mengorbankan keluargaku…"
~TU~
22 Januari (10 Tahun Yang Lalu). Tengah Malam. Kirigakure
BRAAK!
Yagura bangkit dari tidurnya dan berguling ke belakang ketika daun pintu kamarnya ditendang. Dia berdiri tegak dan puluhan Anbu Kiri sudah ada di kamarnya bagai semut-semut hitam. Mata Yagura menajam. Mau apa ninja elit Kiri itu datang tidak ramah ke rumahnya.
"Jangan melawan, Yagura…orang tuamu ada di tangan kami." Kata seorang Anbu dengan topeng macan berwarna biru muda. Dia sepertinya pemimpin para Anbu tersebut. Yagura mendengus keras.
"Melakukan hal rendahan seperti itu…sebutkan apa mau-mu maka aku akan mempertimbangkan kalimat tidak melawan tersebut!"
Menantang seperti biasanya. Mata pemimpin Anbu tersebut menajam. Dia nampak mempertimbangkan sesuatu dan mengangguk pelan. Ketika Yagura ingin kembali bicara, pemimpin Anbu tersebut mengangkat tangannya menyuruh Yagura untuk diam.
"Baiklah, aku akan mengatakannya…kau," dia menunjuk pemuda berumur 18 tahun tersebut dengan tenang "…Dipilih secara hormat menjadi Jinchuuriki Sanbi."
Mata Yagura otomatis membulat sempurna. Dadanya terasa panas. Dia teringat kompor Kaa-sannya dan hawa itu mendesak kemarahannya "Apa kau bilang…"
"Kau menjadi Jinchuuriki Sanbi, Yagura. Besok…jika kita tidak menemukan wadah untuk monster itu, maka fajar di Kirigakure akan dipenuhi darah-darah segar."
"Aku tidak peduli," kata Yagura dengan nada serak "Mengapa kalian memilihku?"
"Heh," pemimpin Anbu itu nampak senang mendengar pertanyaan dari Yagura "Karena kau adalah…"
Seorang Anbu melesat cepat di sisi kirinya sambil melayangkan tangan kanannya ke tenguk Yagura. Ingin membuatnya pingsan. Mata Yagura mendelik marah. Saat dia menangkap tangan Anbu tersebut dengan tangan kiri dan mematahkannya tanpa perasaan, kalimat yang keluar dari pemimpin Anbu tersebut terdengar menyebalkan.
"…Murid Sandaime Mizukage. Kau adalah kepercayaan pemimpin ketiga Kiri."
Dhuakh! Yagura melempar Anbu tersebut ke dinding kamarnya dan memandang marah semua ninja rahasia Desa Kabut. Dia benci pengkhianat. Anbu bodoh itu mengkhianati janji pemimpin mereka untuk tidak menyerang sebelum Yagura membuat keputusan dan mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Para pengkhianat memang perlu dihancurkan!
"Aku menolak," kata Yagura "Aku yakin kalian tidak akan melakukan hal-hal yang mengganggu kehidupan warga Kiriga-"
CRAASHHH! Seorang wanita dilempar ke arah pemimpin Anbu tersebut dan perutnya langsung ditusuk dengan sebilah pisau. Pemimpin Anbu itu menatap Yagura dengan tatapan nanar di lubang topengnya. Mata Yagura sendiri seperti mau copot. Dia tidak percaya ibunya ditusuk tanpa sapaan. Ditusuk hanya karena dia menolak kebijakan desa ini. Bagai badai tektonik, napas Yagura memburu cepat.
"Tou-san mu sudah siap untuk dibelah dua," kata pemimpin Anbu tersebut. Seorang pria paruh baya didudukkan di hadapan Yagura dan di atas kepala pria tersebut-ayah Yagura- , sebuah mata pedang sudah siap membelah batok kepalanya. Yagura menggeleng tidak percaya.
"Kalian…" Yagura menggertakkan gigi gerahamnya, tetapi begitu melihat mata ibunya yang kesakitan, Yagura mengangkat kedua tangannya dan gertakan gigi itu berhenti "Tolong bawa Kaa-sanku secepatnya ke Rumah Sakit Kiri. Juga bayar tagihannya…"
Yagura menyerahkan dirinya kepada Kirigakure. Untuk sebuah pengorbanan yang mengubah segalanya.
Yagura di bawa ke sebuah ruangan di bawah tanah desa dengan berbagai macam tanda Fuin di dinding ruangan tersebut. Tubuhnya diikat di sebuah tiang berwarna hitam yang mengkilap. Kedua tangannya diikat ke belakang tiang, dan kakinya diikat di depan tiang. Mata pink-nya menatap datar para tetua desa, beberapa Jounin dan Anbu, serta sang pemimpin Anbu yang kini sedang berbicara dengan bawahannya. Yagura tidak melihat gurunya. Di mana orang tua berambut panjang itu? Seharusnya di saat kejadian penting dan sebagai Pemimpin Kiri, dia ada di sini melihat muridnya yang ditumbalkan demi desa keparat ini.
"Persiapan sudah siap…" dua orang Anbu membawa botol segel Sanbi dengan hati-hati dan meletakkannya di depan Yagura. Yagura menatap datar botol tersebut. Pemimpin Anbu tadi maju mendekati Yagura-cara jalannya sedikit pincang-dan botol segel, lalu berdiri diam seperti orang tolol. Yagura mengangkat kepalanya dan menatap kebingungan.
"Jadi, siapa yang menyegelnya ke dalam tubuhku nanti?" Tanya Yagura. Hening. Yagura menaikkan alisnya perlahan. Pemimpin Anbu itu sepertinya menatap tajam dari balik lubang topengnya.
"Gomen Yagura…"
! iris mata Yagura seakan melihat hantu tanpa kepala ketika Pemimpin Anbu itu membuka topengnya…sosok yang selalu dia anggap norak menatapnya dengan tatapan sedih.
"Gomen...maafkan diriku yang hina ini menjadikanmu Jinchuuriki Sanbi demi desa kita, desa kita yang tercinta-"
"SEN…"
Panas.
Marah.
Uap kemarahan yang menggila.
"..dan desa kita yang telah memberikan batu itu untuk selalu di jaga…"
"SENSEIIIIIIIIIII!" Yagura meraung hebat. Tubuhnya menggeliat. Dia tidak panik. Yagura menggeliat marah karena melihat wajah itu masih SAJA BISA TERSENYUM MENENANGKAN SEPERTI BIASANYA!
"KAU MENGKHIANATI KEPERCAYAANKU SENSEEEEIIII!" Yagura berteriak hingga air liur di sudut bibirnya tersembur mengenai wajah gurunya "AKU BERSUMPAH, DEMI SELURUH BATU BRENGSEK YANG KAU BAWA ITU, AKU BERSUMPAH…" mata Yagura terlihat berkilat mengerikan di ruangan yang agak temaram tersebut. Gurunya sudah menggerakkan handseal dan siap melakukan Fuinjutsu pemindahan Isobu dari botol segel ke tubuh muridnya.
Saat cahaya putih Fuinjutsu bersinar dari mulut botol dan perut Yagura yang ditapakkan telapak tangan sang guru, suara Yagura menggema di ruangan itu bagai terompet perang
"AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!"
~The Uzukage: Rise of Uzushiogakure~
10 Desember (Saat Ini). Kirigakure
Suigetsu menebas dua pasukan Rebellion dengan mudah menggunakan pedang Kubikiribochou-nya. Dia menyengir seperti biasanya. Matanya memandang Chojuro yang sedang mengevakuasi warga Kiri di rumah-rumah mereka. Adik Mangetsu itu sedikit bingung, sejak penyergapan mereka terhadap para pemberontak, dia belum melihat Chojuro bertarung dengan Rebellion. Apalagi membunuhnya. Setelah menebas dada seorang pemberontak yang ingin menyerangnya dari belakang, Suigetsu berlari mendekati Chojuro yang sedang berteriak ke warga Kiri untuk berlindung di tempat yang aman.
"Woi kacamata, daripada mengevakuasi para lalat-lalat ini…lebih baik kau menepuk kecoa pengganggu saja."
Chojuro mendelik sedikit ke Suigetsu "Apa maksudmu, Suigetsu?" sebuah ledakan terjadi 45 meter di kanan mereka.
"Kau ada menebas para pemberontak ini?"
Chojuro terdiam. Dia menepuk pelan pundak seorang pria separuh baya dan menyuruhnya mengikuti orang-orang berlindung di tempat yang aman.
"Belum, dan tidak akan pernah."
Suigetsu menaikkan alisnya dan berkata "Oooh…" dengan nada ingin tahu. Dia melirik ke kiri saat melihat tiga Rebellion sedang dikepung delapan ninja Pro-Yagura. Suigetsu terkekeh pelan dan kembali menatap Chojuro yang masih melakukan kegiatan evakuasinya.
"Chojuro…" Suigetsu menyeringai. Tangan kanannya yang memegang pedang terangkat di belakang Chojuro.
Trang! Kedua pedang itu bertemu. Chojuro menatap tajam Suigetsu. Matanya di balik kacamata nampak serius. Suigetsu mengernyit senang, namun sedikit tidak percaya.
"Kau memihak para kecoa itu, Chojuro temanku…" Suigetsu berputar dan melesatkan pedangnya ke kepala Chojuro. Chojuro menundukkan kepalanya dan melakukan tendangan datar ke betis Suigetsu. Adik mangetsu itu melompat ke belakang. Dia tertawa pelan.
"Aku tidak memihak mereka…" Chojuro memandang sekilas para warga Kiri yang nampak shock melihat dua anggota pedang Kiri saling bertarung. Begitu pula dengan para Rebellion dan ninja Pro-Yagura. Pemandangan yang langka.
"Aku hanya menginginkan revolusi…" kata Chojuro datar. Suigetsu mendecih pelan dan melesat maju dengan mata melebar. Kedua pedang hebat itu bertemu, menimbulkan hembusan angin kencang dari arah berlawanan dan percikan api dari dua besi yang bertemu. Suigetsu dan Chojuro memajukan kepala mereka dan menatap tidak suka lawannya. Kedua pasang mata itu saling memandang tajam.
"SUIGETSU-SAMA, CHOJURO-SAMA, A-APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak salah seorang ninja pro-Yagura kebingungan. Chojuro dan Suigetsu melompat mundur satu langkah, lalu saling melesatkan pedang dengan cepat. Dentingan 1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali, 5 kali…dan puluhan dentingan besi saat pedang itu saling menyerang dan bertahan. Chojuro bergerak ke kanan dan berusaha melesatkan Hiramekarei-nya ke tubuh Suigetsu bagian kanan. Sui menapakkan Kubikiribochou-nya ke tanah-di sisi kanan tubuhnya-dan menjadi tameng yang menahan tebasan Hiramekarei. Suigetsu mendecih tidak senang.
"Heh…Chojuro, otakmu lah yang perlu di Revolusi…"
"Katakan itu saat aku membuatmu berdarah," Chojuro memutar tubuhnya, sekaligus melesatkan Hiramekareinya dengan gerakan berputar ke kanan. Suigetsu membungkukkan tubuhnya. Dia menyeringai, entah senang ataupun marah. Sui mencabut tancapan pedang Kubikiribochou-nya dan langsung menggerakkan tebasan ke dada Chojuro.
"Chojuro…" mata Sui menyipit ketika melihat sobekan baju Chojuro yang melayang di depan wajahnya perlahan. Chojuro berpijak dengan tenang setelah melompat cepat ke belakang. Keduanya sedikit terengah-engah. Ledakan, api, dan asap kehancuran mengiringi pertarungan keduanya.
"…Kau perlu banyak belajar untuk memainkan pedang bekas Nii-sanku heh…"
"Nii-san mu sudah tiada," Chojuro mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangan. Siap bertarung "Aku tak butuh komentarmu."
Suigetsu juga sudah bersiap untuk menari bersama Chojuro dengan kedua pedang mereka, tetapi suara berat Kisame berderak pelan di telinganya.
"Ck, ada apa Kisame-san?"
"Chojuro, Suigetsu…segera ke markas besar Rebellion yang berada di bawah tanah Kiri…ada hal penting yang ingin kubicarakan. Semua pendekar pedang sudah ada di sini."
Suigetsu menatap datar Chojuro. Dia mengatakan "Iya" dan menutup komunikasinya dengan Kisame melalui Mini-Radio. Tampaknya ninja berkacamata itu juga mendapatkan informasi yang sama dari Hoshigaki Kisame.
"Pilihanmu ada di tanganmu kawan," Sui mengangkat pedangnya dan meletakkannya di atas bahu kanan. Dia berbalik dan terdiam sebentar membelakangi teman lamanya. Chojuro hanya memandangnya dalam diam.
"Jika kau masih ingin bergabung dengan kami, berjalanlah bersamaku menuju ke sana…" Sui menolehkan kepalanya sedikit ke belakang "Dan Jika kau masih ingin berpihak kepada kecoa-kecoa itu, berbaliklah dari hadapanku dan berjalanlah dengan arah yang berlawanan dari arahku."
Chojuro menganggukkan kepalanya pelan dan berbalik meninggalkan Suigetsu yang juga berjalan menuju ke arah yang berlawanan. Sekarang Rebellion nampaknya mendapatkan amunisi baru.
.
.
.
Michiru masih memejamkan matanya ketika Suigetsu menutup pintu ruangan tersebut. Setelah beberapa menit menunggu, gadis Uzumaki itu membuka matanya perlahan dan melihat ruang rapat besar Rebellion yang sudah kacau balau karena kerusakan yang ditimbulkan oleh para ninja pedang Kirigakure. Michiru berdiri perlahan, dengan kedua tangan yang terikat di belakang, dan menggerakkan lehernya. Pertama-tama perlahan, kemudian menjadi semakin kuat hingga sebuah mini-mikrofon bergelantungan dari kerah bajunya. Michiru berjalan ke meja kecil di pojok ruangan dengan wajah kesal. Matanya nampak memikirkan sesuatu. Ya…dia memikirkan tentang Yondaime Mizukage, Yondaime Uzukage dan 7 ninja pedang Kiri tersebut.
"Sedikit lagi…" Michiru berusaha menyentuhkan tombol penghubung mini-mikrofonnya yang bergelantung ke sudut meja. Wajahnya mengkerut serius "Ayo…jangan sampai aku menjadi semakin kesal di sini…"
Tit…tombol bicara tersebut hidup dan Michiru langsung berbicara dengan nafas berat karena emosinya sedikit meluap.
"Hachi..oy Hachi. Kau bisa mendengarku?!"
Hachi, yang sedang jatuh berguling-guling karena dikejar para ninja Pro-Yagura membetulkan mikrofonnya dan berbicara kepada Michiru dengan napas ngos-ngosan.
"Hachi di sini-haah..haah-, aku sedang sibuk Michiru-san! Aku sedang dikejar-"
"Jangan berpura-pura lagi! Banyak hal yang terjadi…kau harus melawan para ninja sialan itu dan bebaskan para tawanan di penjara bawah tanah!"
Hachi yang bangkit berdiri dan menoleh ke belakang sedikit dengan wajah bergidik ketakutan berbicara ragu-ragu kepada Michiru.
"Ubah rencana? Maksudku…"
"Tidak ada penjelasan darimu, bertarunglah dengan ninja-ninja Kiri itu dan berhentilah berpura-pura bodoh…" Michiru menarik napas perlahan dan menghembuskannya dengan cepat "…Dan lemah!"
Hachi bersiul pelan dan Michiru memarahinya sedikit. Pemuda bersurai biru itu berhenti hingga membuat bunyi pasir berderak akibat gesekan sepatunya lalu berbalik menatap tajam lima ninja Kiri yang mengejarnya. Para ninja itu berhenti dan tersenyum meremehkan. Mereka memandang Hachi bagai kotoran yang sudah siap dibersihkan.
"Menyerah, sampah Rebellion?"
"Maaf saja," Hachi melempar kunai ke arah ninja Kiri yang mengatakannya sampah dengan cepat. Sangat cepat hingga terlihat tanpa persiapan "Aku bukan hanya sampah para Rebellion yang terhormat…" Hachi melempar satu kunai lagi ke arah kunai pertama yang dia lempar. Ninja yang sudah siap menangkis lemparan kunai Hachi dengan kunainya memandang kebingungan.
"…Aku adalah sampah yang akan menarik kalian ke tempat daur ulang para tinja!" nada Hachi terdengar mantap.
Tang! Kunai kedua memantul ke arah ninja Kiri yang lainnya karena mengenai kunai pertama. Kunai pertama menancap di ninja Kiri lainnya karena arahnya berbelok dan kunai kedua juga menancap ninja Kiri lainnya. Dua ninja tersebut roboh dengan kepala berdarah. Ninja Kiri yang menjadi target pertama-yang berada di tengah mayat kedua temannya-hanya memandang ketakutan ke arah Hachi. Dia menunjuk pemuda bersurai biru itu dengan kunai yang bergetar hebat. Dua temannya juga memandang shock atas kejadian tersebut.
"S-siapa kau?" Tanya ninja itu. Suaranya juga terdengar serak dan mengandung rasa tak percaya "S-SIAPA KAAUUU?!"
"Uzumaki Hachi," Hachi menggenggam dua kunai di tangan kanan dan kirinya "Anggota intel Uzushiogakure, Uzumaki dari tanah Uzu! Ingat itu keparat…"
Hachi telah berubah. Berubah ke sosok yang sebenarnya.
.
.
.
BLAARHH! Mei memandang ke kiri ketika Jounin wanita itu berhasil menghindari pukulannya. Pemimpin Rebellion itu melakukan tendangan kaki kanan berputar menuju kepala Jounin tersebut dan dia menahannya dengan dua tangan disilangkan di atas kepala. Jounin itu menyemburkan air bertekanan tinggi ke arah Mei yang langsung melompat cepat melewati kepala Jounin tersebut. Saat kakinya berpijak di tanah bersalju, dia berbalik dan melesatkan kunai ke leher Jounin itu, namun Jounin wanita tersebut juga berbalik dan melesatkan kunainya.
Suara besi menggema di tepian danau.
"Maaf saja…aku tidak akan kalah dari jalang sepertimu." Kata Jounin tersebut. Mei tersenyum tipis. Shion dengan mata berkilat merah muncul dari belakang Mei dan melemparkan sebuah bola salju ke wajah Jounin tersebut. Jounin wanita itu berteriak marah dengan mata pedih akibat dinginnya salju. Mei memutar kunainya dan menyabet pergelangan tangan kanan Jounin tersebut yang menggenggam kunainya. Kunai Jounin itu terjatuh, dia ingin mengambilnya tetapi Shion lebih cepat meninju perut sang Jounin dengan tangan kanannya. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup memberi waktu bagi Mei untuk menendang tangan kiri Jounin itu dan melumpuhkannya dengan pitingan yang cepat dari belakang.
"Ghh…sialan! Si-"
Plak! Wajah Jounin itu terbenam di tanah bersalju saat Shion menginjak belakang kepalanya dengan kaki kanannya. Shion menatap penuh keangkuhan dengan safir anggun Ratu-nya yang begitu beraura. Sungguh benar-benar Ratu dari Negeri Iblis.
"Jangan berani mengatakan kata-kata kotor di hadapanku…" mata boneka Shion menajam "…Jalang!"
Mei memandang sweatdrop sang Ratu dengan keringat besar 'Kau juga mengatakan kata yang lebih parah, Ratu…' dan setelah selesai mengikat kedua tangan dan kaki Jounin pro-Yagura itu, Mei memandang pertarungan Uzukage keempat dengan Mizukage keempat, di mana sang Mizukage sudah berubah full-total menjadi Bijuu ekor tiga-Isobu.
"Aku harap Naruto-kun bisa menghentikannya…" gumam Mei pelan dengan nada khawatir. Shion maju selangkah dengan wajah tanpa emosi di samping Mei.
"Aku tahu dia bisa," Shion menatap wajah Naruto yang juga tenang, namun safirnya sedikit bergetar penuh pertimbangan "Karena dia bisa bangkit kembali dari berita kematiannya…"
Naruto menatap datar Bijuu ekor tiga tersebut. Kini levelnya berbeda. Walaupun dia bisa dengan cepat mengalahkan Utakata karena Jinchcuuriki itu belum bisa menguasai penuh Bijuunya, beda ceritanya dengan Yagura. Yondaime Mizukage sudah menguasi Isobu bahkan mengendalikan penuh Bijuu ekor tiga tersebut.
"Terima lah kematianmu…" Isobu membuka mulutnya dan menembakkan dua bola air raksasa ke arah Naruto "…UZUMAKI MENYEBALKAN!"
"Aku tidak tahu kalau menyebalkan," Naruto menggerakkan handseal dengan cepat. Muncul ribuan rantai yang sudah diselimuti kertas segel di tiap biji rantai-nya dan menyatu menjadi dinding rantai yang rapat. Naruto berlari cepat di samping dinding rantai dan melihat Isobu menggerakkan tangan ke arahnya. Naruto melompat ke kiri menghindari libasan tangan raksasa Isobu. Permukaan es danau yang dihantam tangan Isobu pecah seketika. Naruto berlari melewati bawah lengan Isobu dan puluhan naga air keluar dari bawah permukaa es. Mata Naruto melirik cepat ke kanan dan ke kirinya.
"Kau butuh Hayaide, Uzukage-sama…" saran Sagishi "…Tapi terlalu banyak mengganti penggunaan Sumi-Kyo mu akan melukai tubuhmu sendiri."
"Makanya aku tidak mau melakukannya dulu, Sagishi!" Naruto salto empat kali ke belakang saat lima naga air menyerangnya dari berbagai arah. Dua bola air raksasa yang ditembakkan Isobu meledak menghantam Fuinjutsu: Jigoku no Bashota Naruto. Isbou mendecih kesal saat Tsu no Mizutama-nya meledak.
Naruto berdiri dengan kaki terseret di permukaan Danau Kimura dan menggerakkan segel tangan. Beberapa rantai dari dinding rantainya yang terbakar melesat maju dan menyerang naga-naga air Isbou. Ledakan air dan uap-uap panas menghiasi pertarungan tersebut. Naruto menoleh ke atas saat tangan Isobu sudah siap menghujamnya ke bawah. Matahari tertutupi tangan monster tersebut dan membuat mata Naruto terpicing perlahan.
BLAAARHHH!
Mata Isobu bergerak memperhatikan sekelilingnya. Dia mencari sosok Kage berambut merah itu. Tidak ada. Apa Uzumaki itu sudah tenggelam ke air dingin Danau Kimura dengan kepala remuk?
"Fuinjutsu: Bashota Teishi!"
Mata Isobu melebar. Naruto berlari di lengan kanannya dan langsung menembakkan Fuinjutsu peledaknya dengan cepat. Suara kehancuran terdengar bagai bom dan tangan Isobu jatuh berdebum di permukaan Danau lalu tenggelam di air super dingin tersebut. Isobu menatap tidak percaya. Tangan kanan kura-kuranya telah terputus dari tubuhnya. Matanya melirik Naruto yang tepat melompat di depan wajahnya. Dia benar-benar marah. Sangat marah. Bagaimana mungin Bijuu sepertinya bisa dipermalukan oleh seorang manusia.
"Bijuu Onpa Bakuon!" Isobu berteriak kencang. Naruto menghirup napas cepat. Isobu meraung keras hingga gelombang suaranya menghancurkan seluruh permukaan Danau Kimura di depannya dan kepingan-kepingan es danau tersebut terbang ke berbagai arah. Pohon-pohon yang berada di tepian danau, yang berada di depan Isobu, terlepas dari tanah dan berterbangan bagai kertas tanpa massa.
"UZUMAKII SIALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!"
Isobu tidak puas. Dia siap menembakkan Bijuudama dari mulutnya, tanpa tahu Naruto sudah muncul di atas bahu kanannya dengan cahaya yang lembut. Sang Uzukage sudah menanam Hikari Sunshin-nya di tubuh Isobu saat serangan Bashota Teishi-nya.
"Fuinjutsu: Yon Hashira Jinja no Uzu…" gumam Naruto pelan. Fuinjutsu kuat yang pernah dia gunakan saat bertarung dengan 7 Ninja Pedang Kirigakure.
Trak! Trak! Trak! Trak! 4 tiang khas istana Uzu muncul di keempat sisi sudut Isobu. Isobu melirik cepat pergerakan aneh tiang yang juga aneh baginya, tetapi dia tetap ingin menembakkan bom Bijuu-nya. Dia tahu, munculnya 4 tiang tersebut menunjukkan bahwa Uzumaki Naruto masih hidup.
"Bijuu…"
'Tertutuplah, kekkai 4 tiang Uzu, buka segel kekkainya!' Naruto menahan napasnya. Dengan cepat dinding Kekkai terbentuk dari 4 tiang tersebut dan menutupi Isobu dari berbagai arah dengan bentuk balok raksasa.
"…Damaaaa!"
Isobu menembakkan bola hitam besar itu dengan lecutan ledakan di dekat mulutnya. Bola besar itu menghantam dinding Kekkai Naruto dan meledak hebat di sana. Tubuh Isobu sendiri terpental ke belakang dan menghantam kekkai tersebut dengan keras. Tiang 4 Kuil Uzu bergetar pelan. Asap ledakan menutupi ruang kekkai balok itu dan terlihat menghitam.
"A-aku tidak bisa melihat apa-apa…" kata Mei dengan nada shock "Tetapi baru kali ada suatu jutsu yang bisa menahan daya hancur Bijuudama…" gumam Mei takjub. Shion menelan ludahnya perlahan. Khawatir. Dia benar-benar khawatir kepada Kage bermata safir seperti langit itu. Getaran ledak Bijuudama bahkan terasa sampai ke kakinya, apalagi yang ada di dalam Kekkai buatan sang Uzukage.
Tetapi dia percaya kepada janji Pemimpin terkuat Uzushiogakure tersebut.
"Karena Yondaime Uzukage masih disini untuk menjaganya!"
Shion tersenyum. Sangat tipis. Saat asap di Kekkai perlahan menghilang, Uzumaki Naruto melompat tepat di depan Isobu yang berusaha bangkit dari keterpurukannya. Tubuhnya setengah tenggelam di air super dingin Danau Kimura.
"Fuinjutsu: Ten ni Mukahikki," mata Naruto memandang dingin Isobu "Kali ini aku akan menemukan batu-mu, Yagura!"
Yagura yang berada di dalam tubuh Isobu bergerak terkejut. Matanya bergetar pelan. Dia teringat saat pertarungan terakhir dengan sensei-nya. Pertarungan tanggal 24 Januari 10 tahun yang lalu. Di sini. Di Danau Kimura.
"Aku akan menemukan batu-mu, sensei…" saat itu Yagura yang mengatakannya "…Dan menghancurkannya di sini!"
Dia ingat wajah sensei-nya saat itu. Wajah penuh beban yang dipenuhi kesedihan. Tetapi saat itu dia tidak peduli. Toh, dia menganggap sensei-nya juga tidak peduli kepadanya karena telah menggunakan tubuhnya sebagai wadah Jinchuuriki bagi Sanbi.
"Yagura…" sensei-nya, dengan kantong mata menghitam dan iris yang sudah tidak terlihat cahaya bahagia, melengkungkan bibirnya seperti biasa. Sebuah senyuman yang memuakkan.
"Aku tetap menjaganya, bersama dengan batu besar itu." Sensei-nya tersenyum "Batu-ku, ada di bawah batu besar dan batu kalian bertiga…berusaha agar tidak pecah karena kebulatan tekadku."
Yagura tidak percaya. Sudah cukup dengan senyuman dan istilah batu. Dia melesat menyerang gurunya, tanpa prolog penghormatan yang pernah dia lakukan, dan mengoyak dada gurunya tanpa perlawanan. Mata Yagura melebar.
Sensei-nya tidak melawan. Sensei-nya membiarkan tangan kotornya menghancurkan dada sang guru. Yagura memandang wajah sensei dan matanya terbelalak hebat.
Mizukage ketiga masih tersenyum penuh ketenangan, tetapi darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Sen-sensei…" Yagura menatap tidak percaya "Kenapa tidak menahan seranganku? A-aku tahu…kau pasti bisa. Kau bahkan berhasil sendirian menyegel Sanbi di alat segel Kiri…"
"Uhuk!" darah menciprati wajah Yagura saat sang guru terbatuk kesakitan. Mata kanan gurunya tertutup karena menahan rasa maut di dadanya "Tak perlu kau tanya lagi, Yagura…' gurunya mengelus pelan kepalanya dengan senyuman sedih "…Karena aku tidak mungkin membunuhmu setelah apa yang kulakukan kepadamu demi desa ini. Ja-uhuk!-jadilah pemimpin yang kuat jika kau percaya dan loyal kepada Kiri, jadikan dirimu membawa batu besar itu dengan gaya-mu sendiri…dengan tanganmu sendiri…uhuk! Uhuk!"
"Sensei!"
"Cukup…" sang sensei menghela napas kesakitan "Aku percaya, kau bisa melakukannya…anak…" tubuh gurunya perlahan mundur ke belakang hingga tangan Yagura terlepas dari lubang dadanya dan jatuh ke kanan "…Ku." Gumam sang guru terakhir kalinya sebelum jatuh di air Danau Kimura yang begitu jernih. Yagura menundukkan kepalanya.
"Aku bukan anakmu, orang norak…" katanya dengan nada pelan.
Dia yang meminta bertarung kepada Mizukage ketiga di depan para tetua karena tidak terima dijadikan Jinchuuriki tanpa seizing dirinya kemarin.
Para tetua menolaknya, tetapi Sandaime Mizukage langsung menerimanya, masih dengan senyuman norak tersebut.
Seharusnya dia senang, seharusnya dia bisa tertawa lepas sekarang…
Namun, di balik hati kecilnya..dia meraung sedih. Hati kecilnya…berteriak penuh penyesalan.
Dia tahu, Mei dan Ao yang melihat pertarungan dirinya pasti mengatakan di dalam hati bahwa dia adalah seorang murid paling brengsek di dunia.
Tanpa sepengatahuan Yagura-bukan termasuk ingatan Yagura-, Shimura Danzo yang menonton pertarungan singkat dari balik pohon berlalu dengan suara "Heh…" yang pelan dan terdengar bosan.
BLAARHHH! Mata Yagura membulat saat tubuhnya menghantam bagian bawah tempurung Isobu. Tubuh mungilnya terasa tertarik ke atas. Dia tidak mengerti. Tetapi otaknya langsung berputar dan menjurus ke arah Fuinjutsu Naruto dengan puluhan segel berkumpul membentuk kerucut yang menarik lawan ke puncak kerucutnya. Kepalanya berdarah karena menghantam tempurung keras Isobu.
Di luar, Naruto dapat melihat bekas benturan tubuh Yagura dari dalam. Sebuah tonjolan di bagian depan tempurung Isobu-dan di belakang leher Bijuu tersebut-menunjukkan lokasi sang Mizukage. Fuinjutsu: Ten ni Mukahikkinya sangat membantu. Jutsu segel ini dapat menarik lawan dengan jarak cukup jauh dan menghentikan gerakan lawan setelah sampai berada di puncak kerucut. Bisa dibilang jutsu ini mirip Jesucha Teishi namun lebih efisien karena dapat digunakan di berbagai jarak. Di manapun lawannya berada, Fuinjutsu ini dapat menarik lawan yang dituju untuk disegel di puncak kerucut. Naruto menggunakan sifat Fuinjutsu-nya untuk mengetahui di mana Yagura berada di balik tempurung Isobu.
"Lalu, rencanamu selanjutnya Uzukage?" Tanya Sagishi pelan. Naruto yang berpijak di salah satu pecahan es danau membuka sebuah gulungan ninja dan menapakkan tangan kanannya di gulungan tersebut. Napasnya menderu sedikit lebih cepat.
Boof! Sebuah gada besar tergenggam di tangan kanannya dan Naruto tersenyum tipis khas dirinya. Senyuman pemimpin yang sudah menatap jalan kemenangan. Naruto dengan tekad kuat mengangkat gada milik ayahnya untuk mengakhiri semua cerita panjang dirinya dan Kirigakure.
Cbur! Naruto tenggelam karena tidak mampu mengangkat gada tersebut dengan satu tangan. Sang Uzukage berusaha mengangkat gada itu dengan kedua tangannya tetapi cukup berat. Naruto menutup matanya saat tubuhnya perlahan-lahan tenggelam ke bawah danau bersama gada sang ayah. Sebuah senjata berat, seberat amanah yang ayahnya letakkan di pundaknya sebagai seorang pemimpin.
Byuur! Naruto melompat dari dalam air dan berpijak kuat di pecahan es-hingga es tersebut pecah-untuk menyerang tonjolan di tempurung Isobu. Dia melompat ke lengan kiri Sanbi dan melompat cepat ke bahu kirinya, lalu bergerak ke kepala sang monster ekor tiga. Naruto segera melompat di udara sambil mengangkat gada itu dengan mudahnya. Katakan terima kasih untuk Sumi-Kyo keempatnya, Goriko, ketika Naruto menggunakan kekuatannya kembali menggantikan Sagishi. Isobu yang masih terjebak dari posisi tak berdayanya hanya menatap tak percaya saat sang Uzukage terkuat, Uzumaki Naruto, sudah siap mengemas kemenangannya terhadap Yagura. Safir Naruto terlihat bercahaya bagai langit yang disinari aurora penuh gemerlap.
"Kubawakan, batu-mu untukmu…" Naruto yang sudah melihat masa lalu Yagura karena Fuin dari Mitsu no Sankaku Rokku masih ada di tubuh Yagura, berteriak kencang "…YAGURAAAAA!"
DHUAARHHH! Gada itu menghancurkan tempurung Isobu dan memperlihatkan sosok Yondaime Mizukage yang berdiri di dalamnya. Pecahan cangkang Isobu berjatuhan pelan di sekitarnya, Yagura mengangkat kepalanya dan menatap tajam Naruto.
Dhuakh! Naruto memukul wajah Mizukage tersebut dengan tangan kanan sang Uzukage. Mata Yagura melebar. Tubuhnya menghantam cangkang Isobu dan terpental hingga menabrak dinding kekkai Naruto. Tubuh kecil itu perlahan-lahan jatuh ke bawah untuk tenggelam di air super dingin danau. Isobu menggeram kesal dan menghilang dengan kepulan asap putih. Naruto melepaskan Fuinjutus: Yon Hashira Jinja no Uzu -nya dan melesat cepat menangkap tubuh Yagura untuk di bawa ke permukaan danau yang tersisa. Naruto meletakkan tubuh mungil itu dan menatapnya dengan tenang.
"Kau…" Yagura memandang Naruto dengan marah "Kau masih menyelamatkanku?"
"Sudah kubilang," Naruto menepuk dadanya "Aku akan menyelamatkan seseorang dari lubang kegelapan, karena kau sudah baik memberi makan istriku."
"Keparat!" Yagura bangkit dan menendang betis kanan Naruto. Naruto dapat menahannya dengan mengangkat kaki kanannya dan menginjak kaki kiri Yagura yang menendang tadi. Yagura mendecih dan menggerakkan handseal cepat.
"Masih mau melanjutkan, Mizukage?!" Tanya Naruto tenang. Puluhan rantai langsung muncul di sekitar Mizukage dan mengikat sang Pemimpin Kiri tanpa ampun. Tubuh Yagura tidak bisa bergerak, tetapi dia sudah selesai dengan segel jutsunya dan sebuah cermin air muncul di atas kepala Yagura. Jutsu itu lagi, Suiton: Mizukagami no Jutsu. Mata Naruto melebar ketika puluhan rantai muncul di sekitarnya dan mengikat tubuhnya dengan cepat.
JRAASSHH! Sebuah pedang berbentuk jarum menembus punggung Mei Terumi hingga mencuat ke atas perut dengan lelehan darah segar. Mata Mei membelalak tak percaya. Dia diserang secara Silent Kill oleh Kuriarare Kushimaru sang pemegang pedang Nuibari. Kisame muncul di belakang Shion dan membekap mulut sang Ratu dengan kasar. Mata boneka Shion membulat tak percaya.
"Hmmphh! Hmmphhh!"
"Kau tak perlu memanggil nama suamimu!" kata Kisame dengan nada mengejek. Dia melempar tubuh Shion hingga masuk ke sebuah penjara air berbentuk lingkaran di danau tanpa es-nya karena sudah pecah akibat pertarungan. Hiu air Kisame berenang di sisi kanan dan kiri penjara air tersebut. Tubuh Shion terangkat dan kepalanya menembus permukaan air penjara hingga sang Ratu masih bisa bernapas, tetapi tubuhnya tetap bergerak melambat tak berarti di kumpulan air berbentuk bola tersebut.
"NARUTOOOOOOOO!"
Naruto menoleh ke arah teriakan. Matanya membulat tidak percaya. Shion sudah dibawa lari oleh dua ekor Hiu air Hoshigaki Kisame ke tepian Danau Kimura yang menjauhi dirinya. Terumi Mei sendiri sudah tergeletak di tanah bersalju dengan kepala yang diinjak Kushimaru. Sementara Inari dan Ruri dilempar kasar ke kumpulan para Genin yang ketakutan oleh Munashi Jinpashi. Suigetsu berdiri menyeringai sambil menghempaskan Kubikiribochou-nya ke tanah.
'Shion?! Celaka, i-ini para Ninja Pedang Kiri…apa mereka sudah diinstruksikan Yagura sebagai pembantu dia saat dirinya kesusahan?!' Naruto menatap Yagura yang tersenyum mengejek dan memandang kembali Shion yang di bawa mengelilingi tepian danau seperti mencari sesuatu. Kisame terkekeh pelan.
"Nah…nampaknya di sini ada lubang yang akan menembus ke Sungai yang menuju muara laut, sesuai instruksimu Mizukage-sama, berlian ini akan kubawa ke Kumo tanpa memberitahu bahwa suaminya masih hidup!" Kisame menggerakkan handseal dan menenggelamkan kepala Shion kembali ke penjara airnya. Bersamaan, penjara air itu tenggelam ke dalam Danau Kimura yang dingin. Dua ekor Hiu air itu juga mengikuti pergerakan penjara air tersebut. Suara terakhir yang Naruto dengar dari teriakan istrinya adalah "AKU AKAN MENUNGGUMU, NARUTO!".
"Sh-Shioon…" Naruto tidak bisa berteriak. Dirinya dipenuhi rasa tidak percaya karena berpisah kembali dengan Sang Ratu dan ditenangkan dengan rasa optimisme Shion. Yagura terdengar tertawa di depannya.
Naruto memandang Yagura tajam.
"Ternyata istrimu tetap mempercayai kau masih menggenggam batu-nya, Uzukage-sama. Tetapi…" mataYagura melebar dipenuhi luapan emosi marah dan senang. Empat Ninja Pedang Kiri muncul di berbagai sisi Yagura dengan pedang terhunus dan siap menghancurkan rantai-rantai Naruto "…BATU ITU AKAN TERLEPAS DARI TANGANMU KARENA KAU TIDAK BISA MENGGENGGAMNYA UZUKAGE SIALAN! Karena kau…karena kau…" urat kemarahan muncul di kening Yagura. Empat pedang-Nuibari, Kubikiribochou, Shibuki dan Samehada-melesat ke arah Yagura untuk menghancurkan rantai tersebut.
"KARENA KAU AKAN MATI, YONDAIME UZUKAGE!"
CRASSHHH!
Bukan suara rantai yang hancur terdengar di telinga Naruto…tetapi suara tubuh yang dihujami empat pedang tanpa perasaan.
Mata Yagura melebar hampa. Dia terbatuk dan darah kental keluar dari mulutnya.
Empat pedang berbeda menembus tubuh kecilnya dari empat arah.
Kisame, ninja Kiri yang paling dipercayainya setelah Ao dan Mei menyeringai ke arah Mizukage keempat yang menatapnya tidak percaya. Juga kesakitan.
"Permintaan terakhirmu sudah aku penuhi, Mizukage-sama…" Kisame terkekeh "Ada kata-kata terakhir heh?"
Yagura teringat senyuman menenangkan gurunya. Dia merasakan sebuah batu terlepas dari hatinya.
.
.
.
Jinin terengah-engah dengan tangan kanan yang terluka iris di lengannya. Dia menghempaskan pedang Kabutowari-nya dengan wajah kesal. Asap pertarungan membumbung tinggi di atas kepalanya. Dia menatap sosok ninja pengawal rahasia Yondaime Mizukage berdiri tegak dengan satu tangan yang sudah siap. The Last Hyouton Haku menatap tajam salah satu anggota 7 Ninja Pedang Kirigakure tersebut. Mereka kini berdiri di tengah jalan pusat desa dengan niat saling membunuh.
"Aku tak percaya kalian bertindak seperti kecoa-kecoa yang mengganggu Yondaime Mizukage-sama…"
"Heh…" Jinin mengangkat pedangnya dan memanggulnya dengan santai di bahu "…Kami bukan para pemberontak sampah itu…" Jinin tersenyum mengerikan "…Kami para pengkhianat elit!"
Kirigakure hampir memasuki waktu sore. Salju di 10 Desember terlihat buram dan sedih.
TBC
Next Chap: Konklusi arc Kiri. Akhir dan kesimpulan. Babak baru kebangkitan Uzushiogakure sudah tiba.
Author Note:
Maaf jika Sang Ratu kembali berpisah dari suaminya, dan dibawa menuju Kumgakure, ini adalah tuntutan alur dari sang Author mesum fic ini *Lu kan Authornya woy!*
Jadi, beberapa chara sudah semakin jelas arah-tujuannya di chap ini. Chara Yagura memang saya berusaha pertajam dengan masa lalunya, kenapa dia benci yang namanya pengkhianat? Kenapa dia menjadi pemimpin keras dan menindas warga Kiri sendri, kenapa dia selalu teringat gurunya-yang merupakan Mizukage ketiga-, dan memperjelas sifat Ao yang suka berlarian gak jelas ketika mendengar kabar mengejutkan :D
Terima kasih atas saran-saran penggunaan senjata Uzukagenya, sudah saya gunakan ide-ide anda menjadi item kekuatan Naruto dalam bertarungnya selain penguasaan Sumi-Kyo dan Fuinjutsu ful-usernya. Panah Nidaime Uzukage bisa menginterpresentasikan chakra panah Naruto menjadi 5 fungsi. Sudah ketahuan dua fungsi, kuning untuk melipatgandakan anak panahnya-terima kasih atas saran yang ini-, dan merah untuk membuat anak panah yang bisa meledak-terima kasih juga untuk yang ini-masih ada tiga warna lainnya yang bisa Naruto gunakan.
Kekuatan pisau lipat Shodaime Uzukage dan gada berat Sandaime Uzukage juga sudah digunakan dan diketahui. Terim kasih atas ide pisau lipatnya, mengalirkan chakra di sekitar pedang seperti pisau chakra Asuma, tetapi pisau lipat Shodaime bisa membuat lapisan chakra tajam hingga beratus meter tergantung user-nya. Ingat, Uzumaki itu banyak chakra sehingga Naruto bisa membuat lapisan chakranya sepanjang yang dia bisa.
Selanjutnya, saya akan membalas review anda dala session
Q: Yagura minta bantuan Kisame untuk tangkap Shion (lagi)
Lalu dimana Haku.. ?
Dia akan dateng menyalamatkan Yagura ? Karena Naruto bilang di Danau Kimura akan menjadi Padang Es apa Naruto sudah tahu Haku akan datang?!
A: Yap, tebakan anda tepat Wood-san. Namun Kisame bersama teman-teman pendekar Kirinya juga berkhianat kepada Haku. Haku sudah diketahui lokasinya kan gan? Maksud dari Naruto adalah dia menganalogikan permukaan es Danau Kimura seperti padang es, kalimat selanjutnya adalah padang es yang berbahaya bagi anak-anak karena Yagura sudah berubah menjadi ekor tiga sempurna bro. thanks.
Q: Ehh thor kalo nagato yahiko dan konan udah mati siapa yg bakal bikin organisasi akatsuki?
A: Ane gan. Haha. Belum. Akatsuki belum tentu ada atau tidak. Author masih mempertimbangkannya.
Q: Gan tambahin adegan naru shion
A: Ohoho, Shion hilang lagi :v. Tapi akan ane usahakan.
Q: Apakah shion punya lonceng seperti di animenya
A: Tidak ada gan. Penampilan attire Shion berbeda dengan yang di Movie.
Q: Hebat, jadi yagura akan kalah di chapter depan? Lalu lebih baik di bukin semi dark naruto nya, buat pembalasan ke desa yang ngancurin uzushio, bayangin gimana perasaan mu saat di khianati? Dendam kan? Ya buat semi dark aja
A: Semi-dark atau istilah agak jahat dari Naruto memang ada. Tetapi karena sifat kepemimpinan yang telah dia tempa, makanya Naruto lebih ke arah Good Chara dengan pemikiran simpel sebagai pemimpinnya. Thanks gan.
Q: Kapan Naruto dan Shion punya anak?
A: Haha, pertanyaan mendasar nih. Mungkin setelah mereka berduaan di hotel cinta *dibogem*
Q: mau nanya .. soal konan,nagato,yahiko apakah udah mati
dan kmanakah uzukage dan putri shion setelah dari kiri .. mohon blsan nya
A: Keadaan trio itu masih belum diketahui gan. Yap, Uzukage akan menuju ke Kumo!
Q: Akan jadi membosankan kalau Shion kembali ditawan. Sumi-kyo? Lalat (penglihatan 360 derajat), ular (akselerasi atau penajaman indra), sifut (regenerasi tubuh), bunglon (tubuh trasparan), dll
A: Shion bukan ditawan lagi gan, tetapi dibawa kabur ke Kumo. Ide yang bagus. Anda banyak memberikan saya inspirasi.
Q: Oke -ghook-, Apa nanti Yagura mati ya -ghook-? Atau gak -ghook- ? Di bawa orang lain mungkin? :/ hmmm
A: Haha, ghook (?) sudah tahu kan bung. Thanks.
Q: Hmm, jadi kelemahan Sumi-Kyo adalah sifat asli Sumi-Kyo bakal tertular ke tubuh Inangnya selain kekuatannya.
Lanjutkan, Pak
A: Hanya Goriko yang membuat Naruto menjadi seperti itu gan. Yang lainnya aman.
Q: Btw, bisa aja ya update fic sebagus ini cuman dalam beberapa hari. Atau sekarang sekarang ini memang lagi ada waktu? (Kepo dikit)
A: Ciee Kepo Ciee. Haha, terima kasih atas pujiannya di review Ikanatsu-san. Yap, saya memang lagi free karena tugas pekerjaan saya tidak terikat seperti PNS. Tinggal menunggu request dari bos, baru saya melesat ke pekerjaan. Walaupun memang saya punya beberapa kesibukan lain di dunia nyata. Dengan agak free-nya saya, kenapa tidak menyelesaikan hutan ini ke kawan-kawan FFn saja? Haha…terima kasih atas perhatiannya Ikanatsu-san*acungkan jempol*
Q: Kemana Yagura akan membawa Shion? Konoha, Iwa, Suna atau Kumo.
Kemana para Rebelion, kenapa tidak membantu Me?
A: Yap, jawabannya ke Kumo. Para Rebellion kini sedang berkutat dengan ninja-ninja Pro-Yagura bro.
Q: apa nanti yagura akan berubah jadi yonbi terus karna terlalu berbahaya naruto akan menyegelnya?
apa zetsu nonton pertarungan narutovsyagura
A: Naruto berhasil mengalahkan Yagura dengan pukulannya gan. Soal Zetsu, hmm…masih misteri.
Q: Sejujur nya saya agak kurang srek sama saran saya sendiri,tapi begini... Kecoa adalah makhluk yang walau kepala,dan tubuh nya terpisah masih bisa tetap hidup,dan hanya akan mati karena kelaparan... Jadi bagaimana dengan Sumi-Kyo berbentuk Kecoa,yang akan memberi Naruto Immortality seperti Hidan,hanya saja tidak menjadikan Naruto pengikut Jashin,saya rasa walau kecoa itu agak kurang sreg,tapi bisa membuat Naruto gak mati lho walau ditebas :v silakan dipertimbangkan saran nya ya Doni-san... Galo gak sreg sama kecoa ganti aja sama yang lain boleh ko,nama Sumi-Kyo nya Koroma(psst-plesetan dari Korma/Kurma,merujuk pada bentuk Kecoa yang terkadang terlihat seperti Korma dibulan puasa :v
A: Haha, ide bagus. Tetapi untuk membuat suatu kekuatan Sumi-Kyo Naruto yang immortality rasanya agak sedikit Godlike gan, istilahnya Extremly-Strong lah. Sagishi dengan tipuan klon human-nya sudah cukup membuat Naruto bisa melakukan trik terhindar dari kematian. Saran anda sangat bagus dan mungkin bisa saya pertimbangkan.
Q: nah nah nahh,, hhmmm pertama, keknya ane belum ngeliat nih perkembangan atau hasil yg didapat naru ketika mempelajari beberapa gulungan jutsu terutama tentang sumi-kyo dirumah? hantu uchiha.. apa belum saatnya untuk diperlihatkan ?
kedua, kemana perginya OC para rebellion ? kemana sii aduh lupa namanya, yg cwo itu ? yg pernah akrab sama naru, salah seorang anggota rebellion yg punya rambut biru? adug lupa hahaha.. apa jgn2 dia kisame :v zehahahaa.. atau pengkhianat kah? naahh yg cwe juga kmn ? siapa itu mi mi michiru ?_? ? terlalu lemah kalau seluruh anggota rebellion mampu dilumpuhkan dgn mudah oleh sisa 7pendekar pedang kiri, naahh si Ao juga kmn nih -.-'
terus soal rencana kisame sama yagura,, hhmm keknya bener nih hipotase ane dulu, kalau shion gk bakalan tetap terus bersama naru, ketemu iyaa. tapi untuk terus bersama keknya masih terlalu dini heheee masih ada 4 desa ninja besar yg lain, yg sedang menunggu amukan sang uzukage.. penasaran interaksi atau yaa kolaborasi hiraishin minato sama hikari shunsinnya naru entar saat pertarungan dikonoha ngelawan danzo sama dedengkotnya :v zehahaha...
A: Haha, karena Naru masih membaca sedikit bukunya gan, makanya beliau masih belum mengetahui kekuatan para Sumi-Kyo-nya. Yap, Hachi dan Michiru adalah seorang Uzumaki. Mereka adalah satuan anggota intel dibawah pimpinan The Blue Hair Woman, Uzumaki Konan-chan. Daan Jackpot, anda benar, Naruto harus menghadapi 4 desa lainnya. Kumo sudah menunggu. Thanks gan.
Q: Tetapi masih misteri nih, apa maunya si cebol sampai mnta tolong Kisame? wah...penasaran. next
A: Yap, Yagura menyuruh Kisame membawa Shion untuk diantar ke Kumo gan. Thanks.
Q: Hahaha, apa permintaan terakhir Yagura ya? Semangat doni san hentai...
A: Sudah diketahui kan gan.
Q: Wah saya terharu ramalan saya diliat author ternyata pernyataan saya bener ya lawan yagura . Btw author - san terus smangat ya ini cerita bagus bener . Tapi saya harap autor tidak memasukan super dede kedalam fict ini . Terimakasih selamat hari Rabu
A: Ape ni bro :v ada super dede lagi.
Q: oh iya apakah sensei si yagura adalah pengawal mizukage pertama? soalnya ciri-cirinya mirip (berambut hitam panjang). aku juga mau kasih saran, bagaimana setelah konflik di part kirigakure berakhir author agak merefresh pikiran para pembaca dengan menurunkan tensi cerita dengan cara membuat filler. saran aku sih fillernya tentang malam pertama Naruto dan Shion-sama hehehe *senyum mesum. kam kasian naruto belum dapet jatah pasti 'adiknya' udah gatahan *if you know what i mean :v
A: Sudah tahu kan gan siapa guru Yagura , Filler seperti apa itu? *sok polos* wkwkwk.
Q: Om .-. Sorry kalo manggil om :v Saran Sumi-Kyo bisa? :v Sumi-Kyo tipe racun, bentuk ya mungkin King Kobra karena terkenal akan kesadisan racun/bisanya :3
A: Ga apa-apa Kakek :v, haha…hm, saran yang bagus. Akan ane masukkan ke list ide gan. Thanks bro.
Q: Oming omong TBT-snake journey dtunggu yh updetannya...hehehehehe
A: Oke gan
Q: Apa nanti shion d pindahkan ?
Lanjut
A: Yap, seperti itu gan. Sang Ratu akan dibawa menuju Kumo.
Q: Apa ada hubungan antara bijuu dan sumi-kyo?Kemampuan naruto hanya fuinjustu sajakah?Kalau bisa fuinjutsunya ada fuinjutsu ruang-waktu, soal sumi-kyo saya saranin yang bisa mengendalikan alasan kisame memberitahu tempat yagura itu sebenarnya rencana madara.
A: Ada gan. Jika Bijuu adalah pecahan dari Juubi atau Buah Chakra yang dimakan Kaguya, Sumi-Kyo merupakan hewan peliharaan Rikudou Sannin yang merupakan hasil riak dari chakra besar sang Sannin. Penjelasan lebih jelas mungkin akan ada di story. Saran yang bagus gan, akan ane masukkan ke list. Hm…kita lihat apa maksud dari Kisame nantinya khukhukhu.
Q: Oi Thor .. Bikin ajj Naruto Bertemu Rikudo Sennin,Trus Di Beri Mata Rineggan dan 5 Elemen dasar.
A: Wahaha, yap…terlalu terkesan mudah gan. Lagipula Naruto sudah kuat dengan Sumi-Kyo, Fuinjutsu dan 3 senjata Uzukage-nya.
Q: Ide sumi kyo gorila ane kepake ya thor? Hahaha..
A: Yap, sebenarnya saya sudah memikirkan hal tersebut gan, eh,,,pikiran ide kita sama. Haha,thanks bro.
Q: Apa kumis kucing uzukage-sama permanen?
A: Tidak gan. Itu adalah cat kulit hitam yang dia beli di Netairi no Kami. Ingat kata penjualnya kan, cat itu tidak bisa hilang dengan air biasa, ada zat penghilang khususnya.
Q: Oh, mau tanya nie, apa naru jadi master fuinjutsu? Kalo iya, berarti kan dia harusnya bisa mindah bijuu dari tubuh Yagura ke benda. Terus, Hachi kok lum muncul lagi? Tebakan saya tentang HachiKonan tu salah ya?
A: Yap, pasti ada jutsu-nya. Masalahnya, Yagura terlalu 'liar' untuk dikalahkan bung. Meskipun Naruto sudah berusaha mengalahkan Mizukage itu karena Yagura juga Jinchuuriki yang full-controle Bijuu-nya, beda dengan Utakata. Yap, Hachi muncul dengan kejutan. Thanks bro.
Jutsu Update
Uzumaki Naruto-The Forth Uzukage, Uzumaki Prodigy's
Fuinjutsu: Jigoku no Bashota. Naruto membuka segel dan memunculkan rantai-rantai Uzumaki dari dalam tanah dengan balutan kertas peledak. Bisa dijadikan pertahanan dan alat serangan.
Fuinjutsu: Ten ni Mukahikki (UPDATE). Fuinjutsu ini ternyata berprinsip sama dengan Jesucha Teishi, hanya saja Ten ni Mukahikki akan menarik lawan dari jarak apapun menuju puncak kerucutnya dan pergerakannya tersegel di puncak kumpulan fuin tersebut. Jutsu ini bisa digunakan untuk menemukan musuh-yang telah diketahui sebelumnya-yang sedang bersembunyi.
Naruto Tools-Weapons
Pisau lipat-Shodaime Uzukage (UPDATE). Pisau ini ternyata bisa dialiri chakra setelah dibuka tempat penyimpanannya dengan Fuin dan setelah dialiri chakra, maka pisau ini akan dilapisi lapisan chakra yang bahkan bisa berjarak sangat jauh, sebanyak aliran chakra yang diberikan pengguna.
Panah dan anak panah chakra-Nidaime Uzukage (UPDATE). Naruto tinggal mentransfer chakranya ke panah tersebut dan otomatis chakranya akan terakumulasi membentuk anak panah. Saat ingin dilepaskan, ada 5 warna fuin yang meng-konversi serangan anak panah sesuai pilihan.
Gada-Sandaime Uzukage (UPDATE). Gada berat dan bisa menghancurkan apapun. Dalam keadaan normal, Naruto bahkan susah mengangkatnya dan menghambat pergerakannya. Tetapi jika dikombinasikan dengan Sumi-Kyo keempat Goriko, Naruto bisa meggunakannya secara maksimal.
Yagura-The Forth Mizukage, Jinchuuriki Sanbi
Fuinjutsu: Seigyo-ta. Fuinjutsu yang dicuri dari Uzu. Fuinjutsu ini akan bekerja pada lawan setelah ditanam Fuin dan membuat pengguna bisa mengendalikan tubuh lawannya. Yagura menggunakan penguasaan Suiton-nya untuk mengendalikan tubuh musuh karena air yang berada 80 persen di plasma darah manusia. Fuinjutsu ini termasuk suatu jutsu larangan di Uzu.
Sangosho. Gerakan pukulan Yagura yang akan memunculkan kerang dari atas. Berguna menghancurkan lawan dari depan dan dari atas. Dimodifikasi sedikit dari jutsu aslinya di Canon.
Tsu no Mizutama. Dalam mode sempurna Sanbi. Isobu menembakka dua bola air raksasa yang sangat kuat
Bijuu Onpa Bakuon. Raungan ultrasonik bentuk sempurna Isobu.
Bijuudama. Bom Bijuu dari energi positif dan negatif.
Terima kasih atas review semuanya, minna…terakhir, silahkan beri komentar anda di kotak review di bawah.
Thanks dan Terima kasih
Tertanda. Doni Ren
