Little Piece of Heaven
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: This is an Indonesian translation of Leanne Ash's story with the same title. Done with permission.
Summary:
"Aku tidak melakukannya karena aku mengangapmu lemah! Aku melakukannya karena-! Karena... aku... Sudahlah." Bertahun- tahun kemudian, kejadian ini akhirnya terjadi. Sayangnya, Sakura sudah tidak peduli. Sebuah kisah tentang cinta dan ironi, dimana yang satu tidak sadar, dan yang lainnya adalah Sasuke.
Chapter 21
.
.
Dengan gigi bergemeletuk, Sasuke membersut marah melihat darah melumuri jemarinya; mencengkeram leher dengan kuat, kulitnya sobek karena remasan kukunya sendiri. Tanda kutukan itu berkedut nyeri, menyalurkan getar menyakitkan ke seluruh tubuhnya. Rasa terbakar itu semakin parah dengan semakin dekat jaraknya dengan Orochimaru.
Sasuke mencengkeram dinding batu di sebelahnya untuk menahan getaran nyeri, tidak lagi mencengkeram kulit lehernya.
Kutukan Orochimaru di leher Sasuke; tiga koma hitam yang terpatri selamanya di kulitnya. Titik penolong dan juga sumber masalah dalam waktu yang sama. Bisa ular yang menembus hidupnya- sebuah kutukan yang Sasuke terima bertahun silam.
Kutukan yang menghubungkan Sasuke dengan pria ular itu. Kutukan itu terbakar seperti sebuah sistem radar, radar yang menggila, memberi tanda bahwa Orochimaru sudah semakin dekat.
Sasuke harus bisa menahannya, dia harus berjaga- jaga. Akan selalu ada kemungkinan bahwa rencananya akan gagal, dan jika benar hal itu terjadi, dia harus sudah siap dengan segalanya. Sayangnya rasa sakit yang bersumber dari lehernya melemahkan mental dan fisiknya. Sasuke sudah mengira hal seperti ini akan terjadi, selama ini dia sudah menjauh dari Orochimaru. Sasuke sudah tahu bahwa semakin lama waktu yang ia habiskan bersama Orochimaru, semakin sedikit rasa sakit yang ia rasakan. Rasa sakit dari tanda itu sudah berhenti sama sekali saat itu. Namun pergi dari Orochimaru kemudian kembali lagi tak urung membuat lukanya kembali membakar.
Mendengar suara langkah kaki di belakangnya, Sasuke dengan cepat menstabilkan tubuhnya dan mencoba menyembunyikan kebencian yang meletup di kedua matanya. Sasuke tetap tenang dan tegap, terus melangkah ke arah yang sama dengan suara langkah di belakangnya tanpa menoleh.
"Kau akhirnya kembali, Sasuke-kun."
Dengan satu tangan menyentuh belakang leher, Sasuke mengedikan bahu santai. "Terserah."
Kabuto terkekeh, "Jadi kau sudah mendengar pesan Orochimaru?"
Sasuke menahan desiran untuk mematahkan leher Kabuto dengan sekuat tenaga. "Dengan sangat jelas."
"Dan kau tidak marah?"
"Memangnya penting?" Sasuke mencibir. "aku di sini untuk membayar hutangku."
Alis Kabuto terangkat heran. "Bagaimana dengan Sakura-san?"
Ragu sejenak, Sasuke menutup matanya menyesal sebelum menjawab. "Aku hanya butuh dia untuk membangun kembali klan-ku. Dia hanya barang, jika kau membunuhnya di balik punggungku, aku masih bisa mencari yang lain."
Ninja bersurai perak itu menatap balik sang Uchiha. Dengan sebuah seringai, Kabuto menggelengkan kepala. "Masih sedingin biasanya ya, Sasuke-kun?"
Akhirnya, Sasuke memutar kepalanya untuk melihat Kabuto. "Dimana dia?"
"Orochimaru? Dia ada di kamarnya. Akan aku sampaikan padanya bahwa kau ada di sini,"
"Baiklah... Aku tunggu kalau begitu."
"Aku rasa kau sebaiknya ke kamar lamamu, masih ingat kan?"
Sasuke mencibir dingin menatap koridor di hadapannya. "Akan aku cari..."
"Aku masih ingat saat di mana kau mengenal tempat ini sebaik kau mengenali punggung tanganmu. Setelah bertahun- tahun, mungkin akan sedikit membingungkan."
Sasuke menatap Kabuto tajam. "Katakan saja padanya aku sudah di sini."
Mengangkat bahu, Kabuto berjalan melewati Sasuke menuju salah satu lorong dengan sedikit pencahayaan. "Masalahmu dari dulu adalah ketidaksabaranmu." kata Kabuto ringan.
Sasuke melirik pria yang lebih tua itu dengan teliti, keraguan menari dalam matanya. Ade kemungkinan Kabuto mencurigainya, sulit menentukan hal itu sekarang. Sasuke menunggu ninja medis itu hilang dari jarak pandangnya sebelum menekan sesuatu pada kerah bajunya. "Dobe, kau dengar itu?"
"Yeah," suara Naruto menyahut dari alat itu. "Apakah kita tidak ketahuan?"
"Entahlah, sepertinya."
"Jangan bertindak bodoh dulu; kita tidak boleh lengah. Cepatlah ke kamarmu seperti katanya."
Sang Uchiha mendesah, menatap sepanjang lorong. "Sepertinya akan menyenangkan." gumamnya.
Sasuke dan Naruto sudah meninggalkan Konoha tepat satu bulan yang lalu. Setengah bulan dihabiskan untuk perjalanan dan sisanya untuk berlatih. Mereka sudah sampai di dekat persembunyian Orochimaru beberapa minggu lalu, memastikan tenda mereka berada dalam radius aman. Mereka harus tetap hening, sebisa mungkin tidak menarik perhatian. Minggu selanjutnya digunakan untuk berlatih dan menyiapkan segala sesuatu yang mungkin akan datang menghadang. Sasuke sudah mengajari Naruto cara mempertahankan diri dari serangan vital jika nanti dia menghadapi Orochimaru.
"Pastikan kau mengingat jalannya! Kau harus menggambarkan peta untukku!"
"Berhentilah cemas," desis Sasuke. "Aku akan menemuimu setelah matahari terbenam. Kita tidak bisa terus mengobrol lewat benda ini- terlalu beresiko."
"Baiklah. Oh, hey, Sasuke?"
"Apa?"
"Bisa bawakan sesuatu untuk dimakan?"
Meringis sebal, Sasuke menekan mati tombol pemancar kecil dan kembali berjalan mencari kamarnya. Dia sudah berjalan melewati lorong ini berkali- kali; kadang dengan bersimbah darah setelah berlatih. Di saat yang lain dia berjalan dengan angkuh dengan seringai kemenangan, karena menerima tekhnik baru atau sekedar mengalahkan Orochimaru.
Membelok di koridor yang ia kenali, Sasuke berhenti menatap sebuah cekungan di dinding. Dia tahu dia tidak salah jalan. Bertahun silam, setelah dikalahkan Orochimaru dalam latihan dengan pedang, Sasuke melangkah kembali ke dalam kamarnya dengan amarah menyala, mengabaikan pelajaran pria ular itu dengan keras kepala. Namun sebelum mencapai kamarnya , Orichimaru muncul tiba- tiba di hadapannya dan dengan santai menusukan katana ke perut Sasuke dan menekannya kuat ke dinding, menembus tubuh sang bocah Uchiha.
"Jika kau tidak bisa melindungi dirimu dari benda ini," Orochimaru terkekeh di telinganya, "kau tidak akan bisa melindungi diri dari apapun."
Semudah menusukan pedang itu, Orochimaru menariknya kembali dan membiarkan bocah laki- laki itu jatuh ke lantai, meringis nyeri meremas lukanya. Menggelengkan kepala kecewa, Orochimaru meninggalkan Sasuke muda yang tengah sekarat, menyuruh Kabuto menunggu beberapa menit sebelum mengobatinya.
Sasuke merengut mengingat kejadian itu, meraba cekungan di dinding dengan jemarinya. Itu bukan satu- satunya saat dimana Orochimaru hampir membunuhnya. Tentu Orochimaru akan menyangkal bahwa tindakannya adalah hal sadis. Dia ingin Sasuke belajar, untuk bertahan, mencoba menyadarkan pemuda Uchiha itu bahwa dia tidak bisa mencapai tujuannya tanpa Orochimaru.
Berminggu- minggu setelah kejadian itu, giliran Sasuke melihat gurunya terbaring di lantai, menjilat bibir pucatnya melihat darah mengalir dari lengan Orochimaru yang terluka. Bocah Uchiha itu tetap diam, menendang pedang dari tangan Orohimaru dan melayangkan pedangnya ke tenggorokan pria ular itu:
"Jadi, selanjutnya apa?"
Sasuke mengibaskan ingatan mengganggu yang berlombaan muncul di kepalanya dan membuka pintu kayu menuju kamarnya. Tanpa memandang, Sasuke menjatuhkan ranselnya ke lantai, tidak ada barang berharga di dalamnya- hanya shuriken dan beberapa baju ganti. Semua barang yang menunjukan tujuannya yang sebenarnya ada bersama Naruto.
Dalam hening Sasuke duduk di tepi ranjang, menatap kosong dinding, lantai, dan baju latihan-masih berada di tempat yang sama, tergeletak di atas nakas sebelah ranjangnya. Awalnya Sasuke menolak mengenakan pakaian itu; pakaian kuno yang biasa dikenakan para penguasa desa bunyi. Memalingkan wajah dari baju itu, Sasuke langsung mengembalikannya. Sambil memutar bola mata, Kabuto memberikan baju itu kembali -kali ini dengan lambang Uchiha terjahit di bagian punggungnya. Sasuke menerimanya setelah menyetujui penambahan lambang di sana.
Mengulurkan tangan, Sasuke menyentuh baju itu. Berada di ruangan ini membawa ingatan masa lalu hidup kembali. Sasuke berbaring dan melipat kedua lengannya di belakang kepala, merengut merasakan ketidaknyamanan berada di tempat yang pernah ia anggap sebagai rumah kedua ini. Menolehkan kepala ke samping, dia mendecak saat menyadari satu tonggak ranjang menghilang.
Sasuke selalu dalam suasana hati yang buruk tiap bangun tidur.
Suatu pagi sebuah perkelahian terjadi antara ia dan Kabuto saat sang ninja medis masuk ke kamarnya. Mencoba mengontrol emosinya, Sasuke dengan dingin membuka pintu kamarnya dan mendesis pada pemuda yang lebih tua agar menghilang dari pandangannya. Kalimat senada bersahutan, dan dengan segera, Kabuto terlempar pada salah satu tiang tenpat tidur Sasuke, yang kemudian patah. Setelah itu, semua orang diingatkan agar tidak mengganggu Uchiha yang sedang tertidur.
Mata hitam kelam Sasuke terus menyapu ruangan. Satu pintu, satu ranjang, satu nakas, satu lampu minyak... Semuanya masih sama seperti terakhir kali dia tinggalkan, namun rasanya berbeda. Ruangan ini terasa lebih sempit, atau... lebih besar? Sasuke kemudian menyadari bahwa walau bertahun- tahun pernah ia habiskan di tempat ini, tidak pernah sekalipun dia benar- benar memperhatikan sekitarnya. Dia hanya menekan dirinya untuk satu tujuan. Keinginan tak tertahankan untuk membunuh kakaknya selalu memenuhi kepala Sasuke siang dan malam. Tidak ada yang penting selain itu.
Sasuke menggeser posisinya, meletakan punggung tangannya di atas dahi. Mengerutkan kening, pikiran Sasuke melayang pada satu-satunya orang, yang ironisnya tidak pernah terlintas dalam benaknya saat ia berada di sini dahulu.
"Sakura..." gumamnya pelan. Aku harap kau menerima keputusanku setelah aku kembali...
Kalimat Naruto masih berteriak di kepalanya:
"Aku yakin Sakura tidak ingin kau buang lagi,"
Awalnya, ia tidak mengerti apa yang coba dikatakan oleh pemuda pirang itu. Sasuke tidak menyesali keputusannya untuk pergi dari Konoha. Karena dia sudah berhasil membunuh Itachi. Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan, dan itulah hal yang memang benar menurutnya. Menyesalinya sama artinya dengan meludahi kuburan keluarganya.
Aku tidak membuang siapapun. Aku tidak membuang Sakura. Semua yang aku lakukan adalah untuk balas dendamku, tidak ada maksud untuk orang lain, namun dengan keputusanku untuk pergi, berarti aku memutuskan hubungan dengannya. Kenapa aku harus- membuang...
Sekelebat bayangan gadis berambut merah muda muncul di pikirannya. Bayangan saat pertama kali Sasuke melihatnya setelah ia kembali ke Konoha. Di sebuah ranjang rumah sakit, Sasuke membuka kelopak mata mendengar suara langkah pelan di ruangannya. Ada Sakura di sana; meletakan sebuket bunga ke dalam sebuah vas di ambang jendela. Suaranya masih sama: menyebalkan nan manis, namun menenangkan saat ia dengan cermat membungkus perban pada lengannya.
Kemudian dalam satu kedipan mata, Sakura pergi... dan gadis itu tidak pernah kembali untuk menemuinya lagi.
...Aku yang membuang hubunganku dengannya saat aku... pergi...
Semuanya akan menjadi semakin sulit untuknya jika sejarah lagi- lagi berulang... dan... jika meninggalkan Sakura dan menolak permintaan Sakura untuk ikut bersamanya masuk dalam kategori mengulang sejarah, maka kata 'sulit' dirasa masih kurang untuk mendeskripsikannya. Saat Sasuke pergi sebelumnya, Sakura berubah tanpanya. Tidak ada lagi cinta untuknya, tidak ada kesetiaan padanya, tidak ada "Sasuke- kun! Sasuke- kun!"... Tidak ada apapun yang tersisa buatnya. Sasuke tidak menjaga perasaan Sakura- ia membuangnya saat gadis itu menyerahkannya sepenuh hati. Tidak ada yang Sasuke mau dari perasaan Sakura saat itu.
Kemudian perasaan Sakura pergi.
Rasa takut menyelusup pikiran Sasuke saat menyadari bahwa hal ini bisa terjadi lagi. Sasuke meninggalkan Sakura sama seperti sebelumnya... mungkin Sakura akan melupakan perasaannya lagi.
Sasuke mulai menggeretakan giginya marah.
Dan jika ada Neji yang mengambil kesempatan darinya...
Menutup matanya, Sasuke mulai menghitung sampai sepuluh dalam kepala. Dia tidak akan membiarkan pemikiran banci seperti ini menghalangi hal penting yang sedang ia hadapi. Satu- satunya yang bisa Sasuke lakukan adalah tidak memikirkannya; dia akan memikirkannya lagi setelah ia kembali dari misi ini.
Mata Sasuke melayang ke arah pintu. Ia tahu bahwa tangan Kabuto hanya berjarak beberapa inchi dari grendel. "Masuk," cetus Sasuke singkat sebelum suara ketukan terdengar.
Kabuto mendesah dan dengan malas membuka pintu kamar Sasuke. Membenarkan posisi kacamatanya, ia merengut melihat posisi nyaman Sasuke.
"Jadi sedang menyamankan diri,"
Dengan seringai biasa, Sasuke melipat tangannya ke belakang kepala sekali lagi. "Kacamata baru, Kabuto?"
Sasuke tidak luput melihat kilasan kemarahan di balik lensa itu. Kabuto mendesis dan mengangkat dagunya. "Orochimaru ingin melihat perkembanganmu pagi besok. Kau sebaiknya berlatih sebelum itu."
Sang Uchiha seketika berdiri. " Aku sudah siap," Sasuke mengedikan bahu. Tidak lama setelah langkah pertama, kutukan di lehernya mulai berkedut perih lagi.
"Argh!" lutut membentur lantai, Sasuke mencengkeram lehernya keras. Dalam cengkeraman eratnya, Sasuke tahu bahwa ia kembali menyobek kulitnya sendiri. Sakit. Sangat sakit. Rasanya seperti bekas luka terkutuk itu menarik jiwa dan memukul seluruh tubuhnya.
Dengan kepala miring, Kabuto tidak berusaha mengobati pemuda yang tengah menderita di hadapannya. "Itu karena kau terlalu lama pergi," katanya datar. "sekarang luka itu sedikit... sensitif."
Butuh mengumpulkan seluruh tenaga Sasuke untuk melepas cengkeraman tangannya dari lehernya. Sasuke mengepalkan tangannya di atas lantai untuk menahan siksaan di lehernya. Dia harus menyesuaikan diri pada kehadiran Orochimaru atau semua rencananya akan menjadi tidak berguna.
Duduk berlutut, sang Uchiha perlahan bangkit berdiri. Terperangah dengan kecepatan penyembuhan Sasuke, Kabuto hanya bisa melihat pemuda itu dengan pandangan kagum, namun dibalas dengan tatapan mematikan dari Sasuke.
"Ada yang lain?" gertak Sasuke. "karena kau bisa keluar sekarang."
Ninja medis itu menggeser posisi kacamatanya sebelum menggelengkan kepala merendahkan.
"Seperti bernostalgia, huh?"
Memasuki tenda kecil, Sasuke mengerutkan alis melihat pemandangan di depannya. Naruto duduk bersila di tengah tenda mereka, mengangkat dua jari di depan wajahnya dalam perenungan. Pria itu sepertinya tidak menyadari bahwa Sasuke sudah kembali.
Mendesah, sang Uchiha mengetuk kepala Naruto dengan tinjunya, menghempaskan Naruto dari dunianya.
"Ow!" pemuda pirang itu protes.
"Apa yang kau lakukan?"
Mengerdip tak nyaman, Naruto membuka mata biru besarnya melihat pemuda lainnya. "Ada apa? Apa yang kau-!" Naruto membeku, menatap sahabatnya dari atas ke bawah dengan pandangan bingung. "... APA YANG KAU PAKAI?"
Mengangkat satu alisnya, Sasuke melihat penampilannya sendiri. Karena ingin meyakinkan Kabuto bahwa dia berniat untuk berlatih sendiri, dia mengganti bajunya dengan pakaian lamanya. Sebuah kimono terbuka berwarna putih dengan celana hitam, dengan tali khas desa bunyi; berbentuk tambang berwarna ungu. Hal yang berbeda dari Sasuke adalah lambang Uchiha yang terjahit di punggungnya.
"Ini pakaian desa bunyi," Sasuke menjawab sebal. "aku mencoba menjaga karakter."
"Yeah, baiklah..." pemuda pirang itu merengut. "kau cuma cari alasan untuk memperlihatkan dadamu."
Mengabaikan tuduhan menggelikan Naruto, Sasuke memperhatikan gulungan yang berserakan di dekat Naruto duduk. "Kau berlatih?" tanya Sasuke heran.
"Aku sedang berlatih mengontrol chakra sebelum kau datang."
Sasuke tersenyum miring, ia terkesan dengan usaha sahabat pirangnya. "Kau sudah berubah, ya?"
"Heh. Yeah, sudah bertahun- tahun, kan!"
Benar. Misi terakhir mereka bersama setidaknya lima tahun yang lalu, saat mereka masih belum dewasa sepenuhnya. Setelah seringnya latihan bersama sejak kembalinya Sasuke, keduanya sama- sama terkesan dengan perkembangan masing- masing. Namun selama ini pertarungan mereka bisa dibilang 'pertarungan-main-main' mereka belum melihat jutsu baru yang sudah dikuasai satu sama lain. Karena jutsu seperti itu hanya akan dikeluarkan dalam saat- saat tertentu dan dalam pertarungan yang sebenarnya, mereka hanya bisa menunggu untuk melihat kemampuan masing- masing yang sebenarnya.
Jelas dalam hati mereka masih menyimpan rasa persaingan masa kecil: keinginan untuk membandingkan perkembangan kemampuan mereka. Untungnya, mereka sudah lebih bersahabat daripada bersaing... walaupun seringnya tidak terlihat begitu.
"Oh hey!" tukas Naruto, meraih ransel dan meletakannya di atas pangkuannya. "Ada sesuatu yang ingin aku kembalikan padamu..." tangannya mengobrak- abrik barangnya.
"Apa?" tanya Sasuke tak sabar.
"Aku menemukannya!" dia melempar sebuah benda logam ke arah Sasuke. Menangkapnya dengan mudah, Sasuke menatap ikat kepala berlambang Konoha itu dengan pandangan terkejut. Walau ada goresan dalam di simbol Konoha, jemari Sasuke masih bisa mengenali pelindung kepala itu sebagai miliknya.
"Kau... menyimpannya...?"
"Aku mencoba menjualnya, tapi karena ada bekas goresan..." Naruto menyeringai. "jadi aku simpan."
"Hn." Sasuke menggenggam benda itu erat di tangannya. Merasakan bahan biru yang jatuh di tangannya. "Terimakasih sudah menyimpannya."
Pemuda pirang itu mengangkat bahu. "Aku tahu kau akan kembali," jawab Naruto puas, dia merogoh tasnya sekali lagi, mengambil buku agenda kecil. "Jangan lupa menulis apa yang terjadi hari ini-Baachan ingin laporan yang sedetail mungkin."
Sebelum melanjutkan latihan mengontrol chakra, Naruto memperhatikan raut ingin tahu yang nampak di wajah Sasuke saat pemuda itu mengulurkan tangan untuk menerima buku itu dan mendudukan diri di lantai. Gerakannya kaku, tidak sulit melihat kernyitan tak nyaman di matanya.
"Kau baik- baik saja?"
Sasuke menatap Naruto datar. "Ya, kenapa?"
"Lenganmu terluka atau apa?"
Pemuda Uchiha itu mengernyit dalam hati dengan usahanya menyembunyikan rasa tidak nyaman yang ia rasakan dengan berpura- pura kesakitan. "Hanya tanda kutukan... karena tidak terbiasa berada dalam jarak yang dekat dengan Orochimaru."
Naruto memicingkan mata curiga pada penjelasan Sasuke. "Kau yakin?"
"Tentu saja," gerutu Sasuke. "Tapi sepertinya kita harus tinggal di sini untuk sementara, aku tidak bisa menyerang Orochimaru jika kutukan ini memperlambat gerakanku."
"Kenapa tidak disegel saja?"
"Tidak bisa, aku masih membutuhkan kekuatannya, Dobe."
Naruto membeku seketika, menjaga ketenangannya sambil memperhatikan Sasuke cermat dari sudut matanya. "... Kau butuh?"
"Semakin lama kita tinggal di sini, rasa sakitnya akan semakin berkurang,"Sasuke menggumam, tidak mendengar pertanyaan Naruto. "Saat rasa sakitnya berhenti, kekuatanku akan penuh. Itulah saat kita bergerak."
"Iya, tapi-"
"Sebelum aku lupa..." merogoh sakunya, Sasuke menyerahkan selembar kertas kepada pemuda rubah itu. "Itu peta detail dari persembunyian Orochimaru... Aku sudah menghafal tempat itu."
A/N: Has everyone meet the ridiculously good-looking and hot guy in Taylor Swift's Blank Space video? Sean O'pry is literally the most beautiful human being, i mean, Oh My God look at that face!
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
p.s : Eve baru publish satu oneshot, kalau sempat baca yaap
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
