Sabtu pagi di musim panas, rumah mewah bercat putih di kawasan perumahan kota Seoul memang selalu punya cerita untuk diusik.

Seperti halnya sekarang.

Yukari, Franca dan Sungmin mengangkat gepalan tangan mereka ke atas layaknya supporter.

"Deeto! Deeto!"

"Date! Date!"

"Kencan! Kencan!"

"Diam!" Tanpa belas kasih sedikit pun, Yesung menghajar kepala-kepala itu dengan gulungan koran. "Kalian tahu nggak udaranya panas gini? Bikin tambah gerah saja."

"Asal kau tahu, hyung, kau yang bikin tambah gerah."

"Kyu, kau mau kulempar ke danau es abadi dunia Sihir atau ku tendang ke Antartika?" Balas Yesung sinis.

"Antarkan saja aku ke sana. Lumayan numpang dingin."

"Daripada itu, mending kita kencan. Iya 'kan? Iya 'kan?" Teriakan Yukari disambut anggukan Sungmin dan Franca.

"Setuju! Kencan! Kencan! Kencan!"

Ryeowook yang berstatus sebagai Ibu dan Kage yang selalu datar cuma bisa facepalm. Menyantap sarapan tanpa melirik jitakan yang Yesung berikan pada ketiga kepala tersebut.

"Berisik! Pergi saja sendiri! Tidak usah buat rusuh di sini." Omelnya.

Kyuhyun berdeham sok penting saat menaruh gelas susunya. "Kupikir mereka ingin kau ikut."

"Benar. Tidak seru kalau pergi sendiri." Yukari mengangguk setuju.

"Tidak seru? Lalu bagaimana dengan si naga hah? Memangnya dia punya pacar?"

"Hush, kau menyakitinya." Ryeowook reflek menyikut namja itu yang langsung dibalas sengit oleh serangkaian kata, "Memangnya aku peduli?"

Ryeowook menghela nafas lelah sebelum bertepuk tangan sekali, tersenyum manis. "Cha, sudah kuputuskan. Hari ini kita pergi kencan."

"Yosha! Ayo, kita pergi!" Yukari berhi-five ria dengan Franca. Lalu setelahnya ia menggaet lengan Kage. "Kage-kun, akhirnya kita bisa pergi kencan."

Tidak mau ketinggalan, Hikari muncul di tengah mereka lalu merangkul kedua pundal. "No way. Kalian berdua yang kencan denganku."

"Aku! Aku!" Franca mengacungkan jari. "Aku akan berperan sebagai anak hilang lalu Kyuhyun oppa menemukanku terus membawaku ikut kencan dengan Sungmin oppa."

"Intinya kau mau berperan jadi anak angkat mereka." Sahut Yesung tak niat, berdiri dari kursi. "Aku mau ke kamar."

Tidak ada yang mencegah, jadi Yesung bisa bebas mendesah malas selama perjalanan ke kamarnya itu.

"Cih, kencan ganda lagi."

"Kau kecewa?"

Yesung menoleh ke arah Kyuhyun. Ternyata anak itu mengikutinya. Dengan dengusan, kalimat naif terlontar keluar.

"Buat apa kecewa? Ini cuma kegiatan bodoh."

"Bilang saja tidak mau diganggu." Kyuhyun terkikik. "Tenang, aku bisa mengaturnya."

.

.

.

Everytime You Kissed Me © Park Hyesung

Artist characters is not mine but OC and this story is mine

Enjoy reading ^^

.

.

.

Episode XX

Velvet Tread

.

.

.

Seperti yang pernah dijelaskan, musim panas di dunia Sihir tidak separah itu. Angin dingin dari bongkahan es di tengah kota Zillivo hampir selalu menemani. Dan itulah yang dirasakan rombongan itu sekarang. Menginjak permukaan dunia Sihir dengan perasaan yang berbeda-beda.

Ada yang senang, kagum, tidak sabar, namun khusus Yesung, itu adalah perasaan marah.

"Kyuhyun, tolong jelaskan kenapa kita di sini." Geramnya melipat tangan di dada.

"Biar aku saja!" Akuma Yukari maju berhadapan dengan sang pemuda, lantas berdeham. "Begini, karena kencan di dunia nyata sudah terlalu mainstream, kenapa kita tidak coba saja di dunia penuh misteri ini? Aku yakin ini akan menyenangkan."

"Setuju!" Sungmin menunjukkan gepalan tangan. "Dunia penuh misteri. Pasti seru sekali~"

"Ogah, mending pulang." Yesung nyaris menyiapkan portal jika saja Ryeowook tak menahan tangannya.

"Ayolah, Yesungie, ikut saja ne? Lagipula di sini dingin." Rayunya dengan puppy eyes.

Yesung bukan tipe penurut. Perlu ditekankan, dia bahkan pernah melawan Sesepuh dulu. Tapi karena ini permintaan sang kekasih, akhirnya kepalanya mengangguk berat.

"Banzai~!" Yukari kembali berhigh-five ria.

"Yosh, Kage-kun, Hikari-kun, kita jalani rute kita!" Dua Song Brother cuma bisa ber-"Heeee?" ria kala tangannya di peluk.

"Tidak secepat itu," Yesung menahan kerah belakang Yukari. "Kau pergi dengan Franca. Jangan mengganggu kencan orang lain."

Yukari mendecih, berbalik berkacak pinggang. "Cih, aku tahu kau ingin menjadikanku seorang yuri, tapi maaf saja, Franca masih terlalu kecil. Dia bukan seleraku dan aku belum mau jadi lolicon. So please, let me go."

"Dasar ja—" Yesung terdiam, menurunkan nada suaranya. "Berhenti merengek, jangan jadi penggangu hubungan orang."

'Sejak kapan dia seperhatian ini?' Begitulah batin semua orang dalam tatapan yang sekejab menjadi datar.

"Sudahlah," Hikari akhirnya angkat bicara. "Kalau Yukari ikut, dia 'kan bisa jadi pemandu jalan bagi kami, ya 'kan, Kagecchi?"

Bagaikan robot, si wajah tembok pun mengangguk saja. Ia tak maaalah selama itu keinginan kakaknya.

Sementara Yesung? Dia malah jadi jengkel sendiri sambil mengumpat, "Dikasih hati kok malah nerima yang busuk?"

Mengambil napas beberapa saat, yang Yukari bayangkan seperti orang mau melahirkan, Yesung menyahut, "Terserah kalian. Franca, kau tetap mainkan peranmu sebagai anak hilang."

"Memang daritadi itu mauku kok." Tidak sopan, Franca menjulurkan lidah panjang-panjang lalu kabur menyusul Kyuhyun dan Sungmin yang sudah memisahkan diri entah sejak kapan.

Akhirnya, setelah tersisa berdua, Yesung bisa memijit keningnya sok pening. "Kenapa yeoja dikelompok kita pengganggu hubungan orang semua?" Keluhnya.

"Yah, siapa yang tahu." Ryeowook bergidik, tidak benar-benar ingin menjawabnya. "Jadi kita kemana sekarang?"

"Duduk diam di cafe." Balas Yesung menyusupkan tangan ke saku. "Seperti katamu, kita bersantai saja."

Duduk diam di cafe? Empat kata itu sama sekali bukan keinginan Ryeowook. Sekarang 'kam sedang liburan. Siapa juga yang mau duduk seperti patung? Orang bodoh pastinya.

Tapi sesaat mulutnya terbuka hendak protes, Yesung sudah keburu jalan dengan angkuhnya. Dan sialnya, saat berhasil menyusulnya, pintu cafe telah terbuka oleh tarikan seorang pelayan pemilik senyum ramah.

Sebagai malaikat yang telah melewati banyak penderitaan, Ryeowook tak bisa mengabaikannya, jadilah bibirnya terpaksa menyunggingkan senyum.

Saat sadar, dia sudah di samping Yesung yang mendongak menatap menu di papan. Cih, berarti dia gagal protes sekarang.

"Kau mau apa?" Tanya pria berumur fisik lima belas tahun tersebut.

Ryeowook menunjuk malas salah satu item. "Itu, yang itu. Pakai es sedikit."

"Kau lihat 'kan? Expresso pakai es satu, Long Black satu." Pesan Yesung sedatar mungkin.

"Baik, saya mengerti. Mohon tunggu sebentar." Lantas pelayan itu pergi, membiarkan Yesung bersender di tepi meja dengan gaya khasnya.

"Kau pesan Long Black?" Ryeowook bertanya.

"Ne, waeyo?"

"Kupikir kau suka yang lebih pahit."

Yesung tersenyum menanggapi kekehan Ryeowook yang terkesan—garing? Yah, mungkin itu perasaannya saja.

Setelah membayar kopi, Yesung benar-benar memenuhi perkatannya—duduk tenang di salah satu meja kosong. Tentu saja itu menimbulkan penurunan mood bagi Ryeowook.

Bosan dengan keheningan yang entah sejak kapan menyelimuti, Ryeowook iseng memibum kopinya perlahan.

Irisnya melebar seketika. "Enak sekali!" Dia bahkan tak pernah merasakan Expresso senikmat ini.

Yesung mendengus bangga, bersandar menaikkan kakinya ke kaki lain. "Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Biji kopi pilihan di sini memang yang terbaik."

Ryeowook terus menyeruputnya, tampak ketagihan. "Apa ini karena sihir?"

"Apa kau pikir rasa se-nyata ini adalah kebohongan?"

Ryeowook menggeleng polos.

Yesung menghela nafas kemudian berdiri. "Sudahlah, ayo pergi. Mumpung mendung."

"Eh, kemana?"

"Bukannya kau mau melihat-lihat?" Yesung memiting leher kekasihnya dari belakang, tersenyum jahi.

Pipi Ryeowook mengembung sebal, menyamarkan rona pipinya. Ah, sial, diejek balik.

Lagipula, sungguh, sejak kapan pria tsundere ini ketularan kemampuan pembaca pikiran orang milik Kyte?

Entahlah, cuma Tuhan dan Yesung yang tahu.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian di tengah kota,

"Keren~!"

Suara nyaring Ryeowook merambat kemana-mana. Tangannya menarik-narik blazer kain Guardiannya ke sebuah gerobak pedangang buah. "Yesung! Apelnya ungu! Ungu! Tunggu, apa ini busuk?"

Yesung menyikutnya, sejurus menatap sang penjual. "Maafkan dia. Dia memang 'target' yang kurang ajar."

"Yesung!"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Tersenyum hangat, wanita tua renta itu menggoyangkan tangan turun-naik. "Banyak kok yang bilang begitu akhir-akhir ini. Oh ya, kau Kim Yesung ya?"

"I...ya? Kenapa?" Jawabnya berkerut kening.

Senyum yeoja itu kini berbalik menghadap mimik polos setengah melongo Ryeowook. "Apel ini langka. Biasanya panen lima tahun sekali. Kau boleh membawanyaa pulang kalau mau."

"Benarkah?" Matanya berbinar, namun seketika jadi murung. "Ah, tidak usah, nek. Ini pasti mahal. Bagaimana kalau kami membelinya saja?"

"Tidak apa-apa. Ambil saja beberapa. Yang lainnya juga boleh."

"Tapi—"

"Sudah ambil saja." Kata Yesung pada akhirnya. Meski begitu, Ryeowook tetap merasa tak enak memasukkan beberapa buah ke dalam kantung plastik.

Perjalanan kembali berlanjut. Yesung melenggang angkuh sebagaimana menggambarkan dirinya yang pemarah, mengundang segala macam bisik dari para gadis dalam berbagai sudut.

Berbeda dengan sikap cuek bebek Yesung, Ryeowook, kekasihnya, malah tampak gelisah. Jarinya mencengkram kuat kantung belanjaan sebelum mendongak.

"Yesung, mereka kenapa sih? Kenapa kita diperhatikan terus?"

Yesung yang mengerti arah pembicaraan mengarah kemana—ke arah tatapan penduduk yang bukan hanya dari kalangan perempuan, cuma bisa membalas,

"Abaikan saja. Mungkin mereka heran melihatku di sini."

"Kenapa?"

"Aku jarang keluar rumah. Anak kutu buku. Dan kurasa nenek tadi memberikan apel secara cuma-cuma juga gara-gara itu."

"Hng? Gara-gara kau jarang keluar?"

"Bukan, bodoh. Gara-gara aku Guardian Wizard paling hebat di sini."

Ryeowook membuat suara muntah yang dibuat-buat "Tidak biasanya kau narsis. Harusnya kau bilang karena aku anak kesayangan Sesepuh, makanya mereka takut padamu."

"Ryeong..." Desis Yesung tajam.

"Ara, ara. Aku cuma bercanda. Jangan marah ne?" Ryeowook tersenyum tipis.

Anak kesayangan Sesepuh? Ia rasa nenek raksasa itu mencintai siapa saja di sini. Mereka saja yang iri.

"Oh ya," Namja mungik tersebut teringat sesuatu. "Kita mau kemana setelah ini?"

"Terserah kau saja." Yesung mengangkat bahu.

"Hm... Gimana kalau kesana?"

"Kesana?" Yesung mengikuti arah tunjuk Ryeowook, ke bongkahan es. "Sekarang?"

"Ne!"

Yesung tampak menimbang-nimbang. "Oke, kita jalan kaki kesana. Jangan protes." Tegasnya melenggang duluan.

"Hmph! Dasar pelit!"

.

.

.

"Eh? Sekarang? Tidak bisa, hyung. Susah cari yang kosong sekarang. Kau juga masih dibawah umur."

Kyuhyun buru-buru menarik ponselnya dari telinga saat Yesung berteriak soal umur aslinya.

"Ne, ne. Nanti kuurus. Bye."

Sungmin memiringkan kepala dari permen gulalinya. "Ada apa, Tuan?"

Kyuhyun meringis. "Yesung buat masalah lagi."

"Bertengkar dengan seseorang?"

"Bukan, bukan. Maksudku dia punya rencana aneh lagi. Yah, walaupun aku cukup mendukungnya."

Sungmin terus mengerutkan kening bingung. "Apa itu berarti kita harus pergi dari sini?"

Namja berwajah pucat menepuk kepalanya. "Tentu saja tidak. Kita bahkan belum naik rollercoster. Sayang 'kan kalau semua permainan tidak dicoba."

.

.

.

"Kau menelpon siapa?"

"Bukan urusanmu."

Ryeowook mendengus, memandang sinis Yesung yang kembali berdiri di sampingnya.

Aneh. Kenapa tiba-tiba menyendiri buat menelpon? Biasanya juga cuek bebek. Tunggu, tunggu, tunggu. Bukankah ini gelagak orang selingkuh?

"Hoi, jangan melamun! Nanti kalau setan lewat, aku yang susah." Satu toyoran membangunkannya dari lamunan.

Ryeowook mendecih. "Ya! Sakit tahu!" Teriaknya mengundang tatapan beberapa orang.

Yesung menggeser tubuhnya menjauh. "Berisik. Dasar tak tahu malu."

"Ukh... Yesung sialan! Sini kau!"

Bongkahan batu es Iqres memang selalu jadi daya tarik kota ini. Dengan tinggi 50 meter serta berdiameter yang kurang lebih 20 meter pastilah harus dibuat 'kukungan' memutar.

Mirip seperti stadiun tua di Roma, Italia. Hanya saja bentuknya lebih kecil. Ditembok-tembok memutar itulah kios-kios berjajar. Tak lupa jarak antara kios dan bonkahan es selalu dijadikan tempat bermain anak-anak.

Makanya, para pengunjung maklum-maklum saja kalau ada acara kejar-kejaran, seperti yang Ryeowook lakukan sekarang.

"Kau menyebalkan!" Sentak Ryeowook kehabisan nafas.

Yesung menggidikkan bahu, tetap memasang tampang jahil yang kelewat bikin emosi. Sialnya, gerakan lompat-terbang yang digunakannya benar-benar merosotkan semangat.

"Sudahlah, aku capek!" Jeritnya lagi, kembali menyeret kaki ke tempat awal mereka datang.

Dalam benaknya, Yesung bakal menyusul lalu mengemis maaf. Tapi ternyata salah, saat ia berbalik untuk memastikan, dia tak melihat Yesung di mana pun.

Decakan kesal tak dapat dihindarkan. "Aku benci dia." Ujarnya menikmati angin dingin yang digerakan penyihir di atas sana.

"Kau yakin huh?"

Duak! Sebuah tangan memukul kepalanya dari belakang. Ryeowook seketika naik pitam, "Apa yang kau lakukan—Eh? Untukku?" Pandangannya langsung fokus pada benda yang di sodorkan Yesung.

Es serut dalam mangkuk gelas. Dengan sirup dan susu yang menggoda. Dalam sekejab, Ryeowook merasa dirinya haus parah.

Yesung menarik sudut bibirnya. "Ayo, cari tempat duduk."

.

.

.

Di waktu yang sama namun berbeda tempat. Akuma Yukari tampak semangat menarik dua tangan lelaki tampan.

"Ayo, ayo, ayo! Mumpung lagi diskon!"

Mendengar kata diskon, laki-laki manapun pasti paham tujuan para gadis. Kalau tidak tas, yah pasti baju.

Tapi sejauh yang mereka tahu, Yukari bukanlah orang yang repot soal penampilan. Apalagi biasanya cuma mengenakan kaos dan celana panjang.

Jadi gerangan apa yang membuatnya terbalik begini?

Seolah tidak mau main rahasia-rahasiaan lebih lama, akhirnya mereka sampai di depan sebuah tempat berpapan nama 'Chlosy'.

Hikari sempat terlena oleh arsitektur khas grafiti klasik kalau saja dia tak menurunkan kepala untuk mengintip isi toko itu.

"Eh? Toko perhiasan? Cincin?" Bahkan Kage yang tergolong datar pun bisa menyeletuk dengan kagetnya.

Yukari mengangguk. "Ne. Aku ingin kita punya sesuatu untuk mengenang persahabatan kita." Ucapnya jujur.

Tanpa sadar Hikari berdecak kecil, tidak sepenuhnya sedang dengan kata 'persahabatan' yang dia pakai. "Oke, kita masuk dan cari apa yang kau inginkan." Putusnya cepat.

"Yah, kenapa cuma aku?" Yukari menggenggam lembut kedua tangan pemuda itu. "Kalian juga boleh pilih. Karena untuk kita bertiga, jangan biarkan aku egois, ya?"

Ketika masuk, seorang karyawati berambut sepunggung langsung membungkuk pada mereka. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sesuai prosedur pekerjaan.

Yukari mengangguk sekilas, meminta agar mereka dibiarkan melihat-lihat dulu. Kemudian Hikari mengusulkan agar mereka berpisah dulu lalu berkumpul lagi di waktu yang ditentukan.

Kage, yang entah untuk keberapa kalinya, setuju-setuju saja walau sebenarnya ingin menolak. Hal seperti ini tidak diperlukan, bukan?

Tapi demi kakaknya tercinta, ia terpaksa harus berjalan sendiri ke sisi kanan toko. Mengamati jajaran cincin berkilau emas dan berlian tanpa minat sama sekali.

Well, setidaknya ia menduga misi dadakannya akan berakhir kala maniknya tertuju pada sepasang cincin perak berhias berlian mungil di atasnya.

"Permisi, tapi apa ada lagi cincin bermodel polos seperti ini?" Kage menunjuk benda yang dimaksud pada seorang Karyawati.

Sang karyawati muda mengangguk sekali. Berjalan memutar untuk masuk ke celah meja kaca tersebut. Lalu setelah berjongkok sebentar, ia mengeluarkan beberapa jenis cincin polos berbeda ukuran, termasuk cincin yang Kage tunjuk tadi.

"Jika ini kurang memuaskan, masih ada model lain yang menggunakan permata atau rubi." Jelas si Karyawati gugup.

Sepertinya baru kali pertama melayani, batinnya sambil mengangkat satu persatu kotak cincin yang menurutnya menarik.

"Ah, tapi aku butuh tiga cincin yang berbentuk sama, bukan pasangan." Ujar Kage memberitahu.

Ringisan kecil terdengar dari karyawati tersebut. "Maaf, tapi ini bagian khusus pasangan. Kalau mau, anda bisa kembali ke tempat pertama anda datang." Singkatnya, itu wilayah yang Yukari jelajahi sekarang.

Kage diam beberapa saat, terus meneliti cincin yang terpampang. Well, tampaknya dia mulai tertarik soal perhiasaan.

"Tolong yang ini." Kali ini Kage menunjuk sepasang cincin berlingkar tipis. Permata biru safir senantiasa bertengger di atasnya.

"Menurut kepercayaan negeri ini, permata biru safir bisa memberikan kebahagiaan abadi pada setiap pasangan yang mengenakannya." Jelas sang karyawati itu, masih gugup.

Kage sekilas menengadah, memberikan tatapan yang sulit diartikan. "Kebahagiaan semacam itu tidak mungkin abadi jika salah satu dari mereka sudah mati."

Keheningan merayap di antara mereka. Dalam hari, karyawati tersebut merutuki nasibnya yang harus melayani laki-laki seaneh Kage di hari pertamanya bekerja.

"Ja, aku ambil yang ini. Terima kasih atas bantuannya." Kage menutup kotak cincinnya. Melangkah ke tempat awal.

Di lihatnya Hikari sudah berdiri di sebelah Yukari, mereka mengobrol seru sekali sampai-sampai tak menyadari kehadirannya.

"Jadi, apa yang kalian pilih?"

Satu pertanyaan biasa itu mengundang teriakan kaget kedua keluarganya. Yukari mengelus dadanya sedangkan Hikari ngomel-ngomel tidak jelas layaknya ibu-ibu di pasar.

"Aku pilih cincin polos. Lalu membordir huruf 'KA' dalam huruf kapital di atasnya." Ujar Yukari berjinjit-jinjit kecil, pegal akibat kelamaan berdiri.

"'KA'?" Ulang Kage, alisnya bertaut lucu.

"Yukari, Hikari dan Kage. Kesamaan nama kita terletak di 'KA'. Inisial yang antimainstream 'kan?" Penjelasan singkat Hikari dijawab gumaman rendah oleh Kage.

Selama menunggu proses bordir, sebuah panggilan masuk menggetarkan ponsel Yukari.

"Yeobosaeyo? Ah, Kyuhyun. Waeyo?"

"..."

"Cincin? Buat apa?"

"..."

"Hah? Yang benar saja? Dia menginginkan itu? Cih, kurang ajar. Dia mau melangkahiku?"

"..."

"Iie. Ha'i, ha'i. Akanku kucarikan. Sampai jumpa nanti.." Yukari memasukkan ponselnya ke saku. "Uh, merepotkan."

"Kenapa?" Hikari bertanya saat melihat wajah keruh Yukari.

"Ukh, kita disuruh cari cincin couple. Katanya harus yang bagus. Soalnya mau buat—"

"Tidak perlu." Buru-buru Kage menyela, menghentikan langkah Yukari dengan mengulurkan sebuah kotak yang tersembunyi sebelumnya di balik punggung.

"Pakai ini saja. Aku yakin Yesung appa setuju."

.

.

.

"Kyaa, tempat apa ini?" Pekik Ryeowook akjub, menapaki anak tangga terakhir.

Dari ketinggian lima puluh meter, dan tentunya setelah memanjat beberapa ratus anak tangga, akhirnya Ryeowook bisa melihat sesuatu yang luar biasa.

Sejak tadi dia terus bertanya-tanya kenapa mereka harus berbelok ke sayap kiri kota. Di sana hanya ada bangunan-bangunan tua yang tampak rapuh dan berdebu—Oh, jangan lupakan sarang laba-labanya, menjijikkan!

Tetapi kini dia tahu alasannya. "Yesung! Buruan! Aku minta penjelasan!" Lambainya heboh pada pria berumur fisik lima belas tahun tersebut.

Sudah lelah tingkat dewa, napas Yesung putus-putus bagaikan suara pluit kode morse. Dalam hati mengutuk kebolehannya yang memperoleh nilai tujuh puluh dalam pelajaran olahraga. Tambah satu lagi, ia jugamerutuki idenya untuk membawa bocah itu kesini.

"Ya ampun, Yesung. Kenapa lelah begitu? Sudah bapak-bapak?" Ledek Ryeowook, menepuk-nepuk punggung kekasihnya.

Yang diledek balas mendesis. "Padahal tadi kau mengomeliku selama di perjalanan."

"Salahmu sendiri tidak bilang kita datang ke tempat keren seperti ini." Ryeowook memeletkan lidahnya senang.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Ryeowook tidak berlebihan. Bangunan setinggi 150 meter berdiri di kejauhan. Dengan arsitektur gothic serta pilar-pilar yang memagarinya, kemudian ukiran-ukiran unik yang terlihat oleh matanya sangat menakjubkan.

Ryeowook tidak bisa membayangkan bagaimana isinya. Gereja seram yang pernah dipakai dipernikahan Roku saja mewah bukan kepalang, apalagi ini, pasti lebih hebat! Well, dia tidak berharap setinggi itu—ini jelas-jelas peninggalan sejarah.

"Begini ya, aku bosan kita jalan tanpa arah, jadi kuajak kesini agar kau lebih pintar se—Hoi! Kau dengar tidak?!"

"Iya, iya! Aku dengar!" Ryeowook tertawa disela larinya. Merentangkan tangannya bagaikan burung merpati yang terbang bebas.

"Dasar susah diatur." Tersenyum aneh, Yesung menyisir poninya ke belakang, menikmati hembusan angin sebelum berjalan menyusul.

"Hoi, pelan-pelan jalannya!"

Dari tangga menuju gedung membutuhkan waktu lima menit. Beruntung Ryeowook terlalu fokus pada pilar-pilar sehingga saat Yesung telat tiba tidak ada perdebatan.

"Ukh, apa ini berat?" Teringat pintu yang ada di Istana, Ryeowook jadi mulai menganggap semua orang zaman dahulu tinggi bukan kepalang.

"Tentu saja berat. Kau mundur dulu." Yesung menjulurkan tangan kanannya, mengucapkan serentetan mantra pendek lalu sepasang pintu itu otomatis terbuka.

Ryeowook bersorak-sorai sebelum berhambur ke dalam. Relief yang pertama kali ditangkapnya adalah kolam air mancur di tengah hall. Lalu sambutan lain datang dari kilauan cahaya yang menembus kaca-kaca jendela di atap yang berbentuk memutar itu. Ryeowook tak bisa menahan decak kagumnya.

Meski ada retak di beberapa bagian, dan warna yang agak memudar, diputuskan ini jadi tempat terbaik yang pernah ia kunjungi.

"Kita seperti lagi jalan-jalan keluar negeri saja ya." Ryeowook duduk di tepi air mancur. "Bangunan ini mirip bangunan-bangunan kuno jaman Victoria atau Kerajaan."

"Dan ketahuilah, ini museum, anak muda."

Sementara Ryeowook memekik kaget, Yesung berjalan memutari air mancur untuk melihat seseorang di seberang sana.

"Yo, Leben. Lama tak berjumpa." Sapanya.

Ryeowook mendengar dengusan keras sewaktu bersembunyi di belakang Yesung. Dan ia yakin itu bukan berasal dari kekasihnya.

"'Lama tak berjumpa?' Kepalamu terbentur di mana, Yesung? Oh, aku mengerti. Jadi gosip itu benar? Kau menemukan pengganti Yukari?"

Tak! Ryeowook berjengit ngeri, sebuah tombak di lemparkan ke arah orang itu. Beruntung, tombak itu meleset ke sebelah kakinya.

Leben, si laki-laki bertopi bundar tersebut tetap tak bergerak sedikitpun dari tumpuan tongkatnya. Ia menunduk, mengeluarkan kekehan kecil yang sedikit menakutkan bagi Ryeowook.

"Khekhekhe... Kau menang, Tuan."

Tak! Dengan sigap tongkat Leben menangkis dua tombak, mengetuk permukaan lantai lalu bersandar di atasnya. Tak lupa dengan sebuah senyuman.

"Tuan, perlukah aku menjadi pemandumu?"

"Berhenti memanggilku begitu." Yesung menggeram rendah lantas mengedarkan pandangan. "Di mana Sterben?"

"Jadi kau datang kesini untuk mencari kembaranku? Malang sekali nasibku." Leben menggeleng dramatis, berjalan ke arahnya.

"Dia mengurus beberapa benda peninggalan di Qölkuu. Baru ditemukan pagi ini."

"Ada buku kunonya tidak?"

"Kalau mencari buku, seharusnya kau pergi ke barat, Tuan. Di sana tempat perpustakaan dibangun."

Tak! Lagi-lagi dua serangan tombak dipatahkan sekaligus olehnya.

"Kupikir kita seangkatan, Leben."

"Argh, kalian membuatku pusing!" Pekik Ryeowook tiba-tiba. "Yesung, sebenarnya siapa orang ini? Tempat apa ini? Dan apa yang terjadi di sini?"

"Cerewet." Yesung meneleng kepalanya ke arah si topi bundar. "Dia Leben, pemilik tempat ini. Seangkatan denganku juga."

"Seangkatan? Tetapi kenapa dia memanggilmu 'Tuan'? Lalu di mana 'target'nya? Guardian harusnya punya kontraktorkan?"

Belum sempat melontarkan jawaban, Leben lebih memilih tergelak duluan. Keras sekali hingga kawanan burung yang hinggap di jendela terbang semua.

"Kau mirip sekali dengannya." Ungkap Leben di sela tawa. "Huft, perkenalkan, Nona. Namaku Leben Aldous. Senang bertemu denganmu."

Pletak! Ryeowook memukul kepalanya saat Leben membungkuk ala bangsawan.

"Aku laki-laki, bodoh." Dengusnya berkacak pinggang.

Leben terkekeh lagi, melirik Yesung sebentar sebelum menelengkan kepala sekali pada jalan lebar yang dilaluinya tadi.

"Silahkan kalau ingin berkeliling. Museum ini terbuka untuk Tuan Muda Yesung dan kekasihnya."

"Hoi, hoi, hoi, kalau mau ngajak ribut, bilang. Kulayani dengan senang hati."

Leben menyunggingkan senyum tipis. Sebuah lingkaran sortal sihir yang muncul secara vertikal menelannya entah kemana.

Ryeowook menggerutu tidak jelas, lalu berbalik menghadapnya. "Jadi, kenapa dia memanggilmu 'Tuan'?"

Yesung diam beberapa saat, agak enggan menjawab. "Seingatku, itu karena gosip aku anak kesayangan Sesepuh."

"Lalu, dia dari golongan mana? Dilihat-lihat dia tak punya target."

Memanfaatkan keadaan, Yesung menyatukan tangan mereka, mengenggamnya erat. "Drimin. Dia mewarisi kekayaan orang tuanya."

"Eh? Kekayaan orang tuanya? Jadi ini semua miliknya?"

"Milik Aldous bersaudara, tepatnya. Perpustakaan yang tadi dibicarakan juga punyanya."

"Hee, keren sekali." Ujar Ryeowook terkagum-kagum. Maniknya semakin melebar kala penampakan di dalam jauh lebih unik dan cantik dari bayangannya.

Bagaikan sebuah kalimat peringatan, serentetan bahasa Kaijurago terpahat baik di atas pintu koridor. Begitu indah dan tanpa cela kerusakan. Mungkin ini disebabkan oleh sihir pengawet.

"Yesung, ini apa? Bentuknya aneh!"

Pemuda tampan itu tersenyum aneh. Sekedar memastikan jika sejuta pertanyaan juga decak kagum akan mengisi kejenuhannya beberapa jam ke depan.

.

.

.

Kakak-beradik Tsukito lagi-lagi harus dikejutkan oleh tingkah Yukari.

Semenjak dari toko perhiasan lalu berkeliling mencari rantai kalung sebagai hiasan lain cincin —karena Song Brother tak mau memakainya di jari, gadis itu jadi sering bergumam sendiri, tampak memikirkan sesuatu yang sangat penting.

Hikari sewot sendiri melihatnya. "Yukari-chan, kalau ada masalah bilang sa—"

"Ah, ketemu!" Pekik Yukari menyeret kedua penyihir Song ke tempat tersebut.

"Eh? Toko pakaian? Pakaian... pernikahan?" Lucunya, bagaikan kaset rusak, Kage mengulang pertanyaan satu jam yang lalu—dengan gagasan pokok yang berbeda tentunya.

Otak Hikari konslet lima detik. Rencana konyol apalagi ini? Tunggu, jangan bilang mereka mau menikah?!

"Yuka—"

Seakan telinganya telah tuli, Yukari menggumamkan lagu kesukaannya selama memasuki toko. Warna putih bersih yang mendominasi ruangan, tampak menyilaukan mata. Bagaikan pola polkadot, para karyawati berseragam hitan muncul dari berbagai tempat.

Gadis pemilik marga Akuma itu segera menepi ke tempat terpajangnya gaun-gaun cantik, berusaha membandingkan model mana yang cocok di tubuh langsingnya.

Dilupakan keberadaannya, Song Brother menyusul dengan hati dongkol. Hikari berdecak mengetahui ketertarikan ganjil Yukari. Entahlah, rasanya geli melihat gadis yang biasanya tomboy mendadak feminim seperti ini.

"Kau juga pilih sana!" Yukari, yang baru menangkap aura si sulung Hikari, mendorongnya ke sudut ruang lainnya, di mana jejeran tuxedo terpajang.

"Kage mana? Ajak dia pilih juga."

"Memangnya kita mau kemana?"

Yukari nyaris memekik mendengar napas Kage di sebelahnya. "Ya! Sejak kapan kau—Ah, tidak, lupakan. Cepat pilihnya ya. Nanti kujelaskan. Bye, jangan ganggu aku sampai aku panggil."

Hikari dan Kage resmi terbengong-bengong di tempat. Butuh satu menit agar kesadaran mereka pulih.

"Cih, kurasa aku tak punya pilihan lain."

Hikari memandang sejumlah tuxedo pada manekin tanpa rasa minat sedikitpun. Jika tidak takut menyinggungnya, mungkin Hikari sudah mengomeli Yukari daritadi.

Sumpah demi gadis-gadis yang pernah ditidurinya, Hikari jauh lebih suka perempuan yang tampil apa adanya. Tidak masalah jika gadis itu suka mempermalukan diri sendiri, selama tidak keterlaluan dan masih tahap menjaga harga diri, dia akan tetap bersamanya.

"Ah, mendokusai! [Menyebalkan!]"

Berbeda dengan kemumetan Hikari, Kage malah tampak asik berpose di depan cermin dengan gantungan tuxedo yang mondar-mandir menepel di depan tubuhnya.

"Permisi, apakah kalian sudah selesai?" Dua puluh menit berselang, seorang Karyawati memberanikan diri bertanya. "Gadis di sana menyuruh saya memanggil anda."

Kage, yang baru keluar dari kamar ganti, melonggarkan kemejanya dengan membuka kancing paling atas. "Bilang padanya kami datang sebentar lagi."

Pegawai wanita itu pergi setelah mengiyakan. Kage sedang membenarkan letak jasnya saat Hikari muncul dari kamarsebelah.

"Argh, ini tidak cocok dengan gayaku." Gerutu Hikari, menurunkan tangan ke dalam saku.

Disertai tepukan pelan, tangan Kage terulur merapikan setelan abu-abu kakaknya. "Tapi kau terlihat tampan." Katanya jujur.

"Yah, aku tahu." Kekeh Hikari, mengelus pipi mulus Kage dengan punggung jarinya. "Kudengar Yukari menunggu kita. Ayo pergi."

Begitu sampai, Yukari sedang berdiri memunggungi mereka. Rambut panjangnya tersingkap sebagian ke belakang. Mahkota bunga palsu melingkar di kepalanya. Gaun putih berenda-renda dengan hiasan manik menyelimuti kulit mulusnya.

"Yukari-san," Suara Kage menarik perhatian Yukari dari buket bunga di tangan. Tubuh itu berbalik, menyebabkan ekor gaunnya melilit berputar.

"Bagaimana menurut kalian? Tidak terlihat aneh 'kan?" Semburat merah menghiasi pipinya. Menambah kesan cantik beribu kali lipat sampai-sampai Hikari terhipnotis.

"Cantik sekali."

"Ekhem!" Kage berdehem, berharap dapat membangunkan kakaknya dari dunia fantasi yang 'liar'.

"N-Ne, kau cantik sekali. Mataku sampai tak bisa berpaling darimu."

"Berhenti merayunya, Joonki. Kau sudah punya satu." Suara bass menasehati. Kyuhyun muncul tiba-tiba di belakang mereka. Tentu saja dengan Sungmin berdri di sampingnya.

Franca sudah terlebih dahulu berlari ke arah Yukari. "Kau tampak hebat, eonni!"

Yukari tergelak. "Menggelikan. Panggil nama saja."

"Nanti aku dibilang tidak sopan. Kau tahukan mulut Yesung seperti apa."

"Lalu kalian?" Tanya Kage, memandang curiga sepasang kekasih lain di sana.

"Kami mencari baju, tentu saja."

"Sebenarnya kita mau ngapaian sampai harus pakai baju ini?" Hikari menyahuti jawaban Kyuhyun dengan risih.

Yukari tertawa kecil, memeluk lengan namja Song manja sebelum menjawab, "Dariapada memikirkan hal yang tidak perlu, bagaimana kalau kita berfoto sebagai kenang-kenangan?"

Kyuhyun tampak setuju. Memunculkan kamera kesayangannya, yang berisi kumpulan moment YeWook, dalam sekali jentik. "Franca, pakai ini."

"Okie, dokie~!" Bocah sepuluh tahun itu menyenggol keras Kage agar merapat pada Yukari. Dikunci sedemikian rupa oleh gelayutan manja gadis tersebut.

Franca bersiul, memberi tanda agar bersiap karena sejak tadi Hikari tak bisa diam. Aneh sekali, biasanya namja itu akan menerima permintaan Yukari bahkan setidak penting apapun.

"Ayolah, Hikari oppa, cepat sedikit. Aku harus pergi ke toko lain untuk mencari baju." Keluh Franca berkacak pinggang.

Seolah tuli, Hikari tetap memberontak. "Lepaskan, Yukari-chan. Aku tidak mau."

"Hei, apa kau sakit atau semacamnya? Mabuk mungkin? Kita 'kan hanya berfoto! Rewel sekali."

"Kurasa dia tak suka kau pakai gaun." Timpal Sungmin lewat dengan aetelan di tangan.

"Iya, aku tidak suka perempuan yang sok cantik. Puas?" Ceplos Hikari sebal.

Yukari merasa sesuatu keluar dari tenggorokan, sebuah tohokan. "Ya ampun. Kupikir kenapa. Dengar ya, mengenakan gaun pengantin adalah mimpi semua wanita. Dan saat wanita mengenakannya, berarti dia siap menempuh jalan baru bersama lelaki di sampingnya. Mengerti?"

Hikari bergegas memalingkan wajah, berdehem supaya salah tingkahnya hilang. Kage sendiri mengikuti jejak kakaknya, menutupi setengah wajah.

Sial, senyuman Yukari terlalu polos sampai-sampai menembus hati mereka.

Franca geleng-geleng kepala. "Kau seperti melamar mereka secara tak langsung, tahu."

"Yah, terserah saja. Aku sudah pegal, jadi bisakan kita memulai sesi fotonya?"

"O-Oke!"

"Nah, katakan kimchi!"

"Kimchi!"

.

.

.

Kim Ryeowook menarik tangannya ke atas kuat-kuat "Ukh, segarnya~! Ternyata duduk di ujung tebing enak juga!"

"Sst, jangan keras-keras. Penunggu museum bisa marah."

"Hah? A-Ada penunggunya?"

"Pikir saja sendiri. Museum yang dibangun tahun 801 sebelum somanira sudah memakan seratus jiwa. Lebih. Jadi apa mungkin hantu—yang termasuk hantu penunggu disetiap barang, tidak ada?"

"Iya, iya! Sudah jangan dibahas lagi, aku merinding." Ryeowook meluruskan kepalanya ke hamparan kota Ziquilla yang bermandikan cahaya jingga mentari. Pantulan kilau bongkahan es tampak bagaikan permata dari atas sana.

Pukul 16.17, Yesung bergerak gelisah di tempat. Satu tangan bersembunyi dalam saku sedangkan satunya lagi terus-terusan naik turun untuk memperlihatkan jam.

"Argh, mereka sudah siap belum ya?"

"Apanya?" Ryeowook mendongak tinggi.

"Abaikan saja." Yesung mengibaskan tangan gusar, Ryeowook mengembungkan pipi sebal.

Tidak lama kemudian sebuah portal teleport muncul. Serta merta wajah gembira Yesung pupus kala melihat sosok yang ada di dalamnya. Yah, karena dia mengharapkan itu adalah Kyuhyun.

Seringaian penuh ejek terpampang oleh orang itu. "Ada apa? Wajahmu kusut sekali." Sterben berbicara, memainkan buku-buku yang melayang di sekitar tangannya.

Karena berwajah sama dengan kakaknya, Leben, Ryeowook cepat mengambil kesimpulan bahwa mereka orang yang sama sehingga buru-buru berdiri dan mengucapkan salam terima kasih atas ijinnya untuk menggeledah museum.

Sterben, yang notabene selalu mengenakan topi model ushanka berbahan tipis mengeryitkan kening. "Kurasa kau salah orang, Nona. Namaku Sterben Aldous, adik Leben."

Dagh! Ryeowook melayangkan pukulan tepat k ubun-ubunnya. "Dasar, kakak beradik sama saja. Aku laki-laki, tahu. Laki-laki! Lihat! Dadaku rata!"

"Perempuan juga ada kok yang rata."

"Apa kau bilang?"

Sterben mundur selangkah. "M-Maafkan aku, Tuan. Aku bercanda, lagipula aku kesini untuk menemui Tuan Yesung."

"Aku?"

"Yup. Leben bilang padaku untuk memberimu oleh-oleh." Sterben mendorong lembut tiga buku tersebut.

"Bagus," Sejenak Yesung dapat mencium bau apak yang khas dari benda tersebut. Begitu yakin tulisannya masih bisa di baca, ia memberikan tatapan lelah pada Sterben.

"Kau tahu, kalian berdua bisa les di rumah bibi Ellika untuk memanggil nama dengan benar."

Tersenyum tipis, Sterben membungkuk hormat padanya. "Terima kasih atas sarannya, Tuan. Tapi pekerjaan kami jelas lebih aman daripada belajar bersama bibi Ellika. Kalau begitu, sampai jumpa."

"Hoi, tung—"

Yesung terlambat. Sterben sudah menjejakkan kaki lebih dulu dari tanah, terbang sangat jauh ke atap museum.

Decakan lepas dari mulutnya. Yesung kembali menatap buku tua yang ia perkirakan telah ada sejak ratusan tahun lalu. Ah, mungkin umurnya sama dengan Sesepuh.

"Jadi, kapan kita pulang?" Ryeowook bertanya tiba-tiba, menepuk sisa tanah yang menempel di celananya.

Yesung menggeleng, menyimpan bukunya ke dalam dimensi kecil. "Ada satu tempat lagi yang ingin ku datangi."

"Ke mana?"

Tidak ada jawaban. Pria itu malah pergi ke pintu museum dan menyilpkan sesuatu.

Ryeowook menaikkan alisnya bingung kemudian memutuskan untuk menyusulnya. Terengah-engah akibat berlari, ia mengutarakan pemikirannya. "Apakah kita akan pergi ke restoran? Atau taman hiburan? Festival?"

"Konyol sekali. Tempat wisata tidak itu-itu saja. Aku bisa membawamu ke jurang kematian sekarang kalau kau mau."

"Lalu mendorongku? Tidak, terima kasih. Aku masih ingin hidup. Ngomong-ngomong apa yang kau selipkan tadi?" Sambil berjalan terbalik, Ryeowook memandangi sebuah surat di sela pintu.

Yesung menyunggingkan senyum aneh. "Bukan hal penting." Kemudian merentangkan tangan, mencegat Ryeowook di tempat.

Dengan suara lantang, ia menyerukan, "Lalleta fogi nus illa aqel politus!"

.

.

.

"Sampai."

Mereka tiba di sebuah ruangan berukura meter. Tampak sangat luas hanya dengan meja make-up dan sebuah sofa berwarna putih yang mencolok ditengah-tengah kupasan wallpaper dinding. Tak lupa sebuah lemari berdebu menjulang berhadapan dengan meja rias.

Bingung tingkat dewa, Ryeowook menoleh secepat kilat. "Tunggu, apa maksudnya i— Ya! Kim Yesung! Kau di mana?!"

Ryeowook celingak-celinguk layaknya anak hilang sebelum menemukan secercah sinar temaran membentuk tulisan di permukaan lantai.

'Pakai baju yang ada di lemari. Rias wajahmu. Kita pergi ke acara penting sepuluh menit lagi.' Itulah yang tertulis.

"Huh! Seenaknya saja memerintah orang."

Walau begitu ia tetap melaksanakannya. Memakai setelan dan merias wajahnya senatural mungkin. Siapa tahu Yesung akan mengenalkannya pada orang penting di dunia ini.

Sebagai pacar, dia tak mau menjatuhkan harga diri Yesung, apalagi Yesung terkenal sebagai Wizard tertangguh angkatan ini.

"Oppa, sudah selesai?"

Ryeowook melirik ke celah pintu. "Tunggu, sebentar lagi selesai."

"'Sebentar lagi?' Pfft, oppa seperti perempuan saja." Sindir Franca. "Aku yakin bedaknya sudah tiga lapis."

"Enak saja." Cibirnya. Merapikan tataan rambut sekali lagi sebelum mengekori Franca melewati koridor.

Usia koridor yang nampak tua ini terlihat familiar. Dinding-dinding rapuh, permukaan berupa kayu lapuk yang menimbulkan derit setiap diinjak, Ryeowook rasa tahu ini tempat apa.

"Katakan, apa kita sedang di gereja gothic waktu itu?"

Franca bergumam sambil mengangguk.

"Jadi, salah satu guru Yesung menikah lagi?"

"Tidak juga."

"Terus siapa kalau bukan?" Ryeowook berpikir keras. "Song Brother dengan Yukari?"

"Bisa jadi."

"Franca, aku serius."

"Aku seratus kali lebih serius." Franca berjingkrak di atas high heelsnya, sesekali berputar hingga ujung gaun yang ia kenakan melebar membentuk kibaran kecil.

"Kau cantik sekali." Puji Ryeowook tanpa sadar.

Franca tertawa nyaring. "Oppa juga cantik! Maksudku, tampan."

Akhirnya, setibanya mereka di altar, Franca menyuruh Ryeowook agar tetap diam di sana.

"Tapi kenapa? Ini 'kan tempat orang akan menikah!" Sergahnya.

"Tenang. Kupanggilkan yang lain dulu." Sesaat senyum Franca tampak seperti seringaian. Kakinya berlari menuruni tangga, langsung menggapai pegangan pintu gereja dan menariknya.

"Selamat datang!"

Seketika, sinar putih membutakan matanya. Sampai-sampai haruz ditutup telapaknya lima detik ke depan. Berangsur-angsur hilang, kelopaknya mengedip pelan.

"Tidak mungkin... Kalian semua–!" Ryeowook tak dapat menyelesaikan kalimatnya.

Desain gereja yang suram seketika berubah cerah dengan cat putih polos. Berton-ton bunga wisteria menggantung indah di langit-langit. Kursi panjang yang tadinya memenuhi ruangan kini hilang setengah sebagai tempat berdirinya meja hidangan khas pernikahan.

Teman-teman seperjuangannya pun hadir. Kelompok Kyte melambai heboh di bawah sana. Kelompok Eunhyuk yang agak rusuh di meja minuman, bertengkar tidak jelas. Lalu perlakuan Leben dan Sterben berupa bungkukan hormat sangat mengejutkannya.

Semuanya sempurna. Rahang Ryeowook tak bisa menutup, terutama saat Yukari memasuki ruangan dengan langkah anggun.

Diiringi tepuk tangan, tubuhnya yang ideal pas sekali dengan gaun berekor panjang yang diangkat oleh Franca. Di belakangnya, Hikari melenggang santai sementara Kage memasang wajah stoic.

Ryeowook semakin bertanya-tanya, apalagi saat Yukari menyodorkan sebuket bunga padanya.

"Hentikan! Ini bukan lelucon yang lucu, tahu! Aku tidak mau menikah denganmu." Sentaknya sewot.

Awalnya Yukari memiringkan kepala, kemudian terkekeh dengan ritme yang menurut Ryeowook seram. "Kau cepat tanggap rupanya."

Yukari menarik jas Ryeowook, membelai pipinya dan menaruh buket di atas telapaknya paksa. "Terima-ini-atau-kau-mati-uke-manis."

Dari balik punggung Yukari, Ryeowook mendengar decakan prihatin Hikari. Tidak tahu harus berbuat apa, Ryeowook memegangnya erat, berputar menghadap meja altar tempat di mana pendeta akan membaca deretan janji yang akan diulang kedua pempelai.

Masalahnya, benarkah Ryeowook akan menikah dengan Yukari? Yesung kemana? Rencana miring ke berapa ini? Kapan Yesung lelah mengerjainya?

"Pfft, lihat wajahmu. Benar-benar memalukan." Cibir Yukari. Menggumamkan sederet mantra pendek dan buff!—awan tipis menutupinya, mengubah gaunnya menjadi dress hitam ungu tua yang berkilau.

"Kalau kau pikir aku mau menikungmu, kau salah besar, sayang. Aku sudah mati rasa. Dan rasa lain telah tumbuh dengan jiwa bernama fangirling. Do you understand?"

Ryeowook refleks menggeleng polos.

Yukari memijit dahu sok pening. "Sudahlah, ayo kita mulai."

Brak! Perhatian tertuju ke pintu utama Gereja. Yesung masuk tergesa-gesa. Rackle dan Raphael menyusul di belakang.

"Apa aku terlambat?" Tanya Yesung bebas.

"Sepuluh menit, nak." Sahut Kyte yang dibalas acungan jempol Yesung.

Benak Ryeowook dipenuhi berbagai pertanyaan sekarang. Kenapa Rackle dan Raphael di sini juga? Mereka diundang? Lalu siapa yang akan menikah?

Serius, andai saja otak Ryeowook lebih pintar sedikit lagi, dia pasti bisa langsung mengerti kala Raphael bergegas berdiri di balik meja altar.

"Yesung, kau sudah siap?" Tanya Raphael.

Sebuah seringai tersungging di bibirnya. "Kau bercanda? Kalau tidak siap, buat apa aku merencanakan ini?"

"Yesung, apa maksudnya—"

"Dasar lemot." Hina Raphael dan Yukari kompak. Bahkan Yesung juga ikut-ikutan dengan tatapan jengah.

Emosi Ryeowook naik aampai ubun-ubun. Memutuskan untuk menonton daripada di hina lagi.

Yukari mengibas rambut hitamnya tak peduli, menghampiri Franca di tengah tangga.

"Saudara-saudara sekalian, selamat datang di pernikahan pasangan Kim." Franca mengumumkan dengan suara nyaring.

"Setelah melompati pembukaan acara, menyaksikan keterlambatan pendeta dan mempelai prianya, mari kita saksikan pembacaan sumpahnya." Imbuh Yukari dengan gaya dramatis.

Tepuk tangan terdengar selama Raphael menarik beberapa halaman dari sebuah kitab yang terbaring di atas meja. Berdehem, ia membacakan, "Bersediakah kau, Kim Yesung, menerima Kim Ryeowook sebagai istrimu dalam keadaan sehat maupun sakit, senang maupun sedih, suka maupun duka sampai ajal menjemputmu?"

Dengan suara mantap, Yesung menjawab. "Saya bersumpah atas nyawaku sendiri bahwa saya akan terus mencintainya disisa hidup yang ada."

Rona menghiasi wajah cantiknya. Begitu panas hingga khayalan asap mengepul di pucuk kepalanya muncul saat Yesung menatapnya jahil.

Raphael pun menahan tawanya. Jujur saja tingkah Ryeowook hampir mirip dengan Rackle dulu. Kembali fokus, ia membaca lagi.

"Bersediakah kau, Kim Ryeowook, menerima Kim Yesung sebagai suaramu dalam keadaan sehat maupun sakit, senang maupun sedih, suka maupun duka sampai ajal menjemputmu?"

Satu menit berlalu. Tak ada kata yang keluar dari sepasang bibir peach tersebut. Para tamu undangan bisik-bisik khawatir.

Begitu juga Yesung.

"Tunggu apalagi? Jawab." Yesung menyikut Ryeowook tak sabaran. "Kalau mau jawab 'iya'. Kalau tidak ya 'tidak'. Apa susahnya?"

"A-Aku... Sebenarnya... Aku... I-Ini terlalu mendadak." Ryeowook menutup wajahnya dalam bunga-bunga lily. "H-Harusnya kau bertanya dulu padaku!" Sentaknya.

Kening Yesung mengerut. "Hah? Aku tidak tahu kapan aku mati, jadi cepat jawab saja!"

"Mati? Ya, kenapa kau bilang begitu? Pikirkan baik-baik tindakanmu ini, Tuan Pedofil. Pernikahan itu suci."

"Pedofil? Hoi, harusnya kau berterima kasih padaku. Aku memberimu kesempatan sekali seumur hidup, tahu."

"Apa maksudmu?!"

"Ekhem!" Raphael kembali batuk tak sabaran. "Sudah selesai bertengkarnya?"

DUAR!

Ledakan besar terjadi. Bermodalkan gerak reflek, para penyihir bersatu menyiapkan payung transparan sebesar mungkin. Perisai yang melindungi kontraktor mereka dari beton-beton atap yang runtuh ke tanah.

"Wah, wah. Lihat ada apa di sini. Sebuah pernikahan dan kita tidak di undang. Sombong sekali."

Sungmin tertegun. "Suara ini..." Dia yakin pernah mendengarnya. Sekali gerakan, pelindung berupa bulatan batunya hancur seketika. Ia terbatuk akan debu yang hilir kesana kemari.

Rackle berinisiatif mengibaskan lengan, menampar asap debu agar berhenti menghalangi pandangan. "Siapa di sana?!" Seeunya tak mendongak.

Tawa-tawa hina langsung memecahkan kesunyian malam. Bermacam jenis tawa bercampur aduk sehinga Sungmin sulit memastikan suara mana yang dikenalinya.

Sementara semua penyihir berubah wujud, manik foxynya menilik setiap penampilan kumpulan para penyihir hitam. Mereka melayang di udara, berjaga dengan berbagai senjata dan seringaian bengis.

Setidaknya sampai Sungmin memahami betul apa yang dilihatnya di depan barisan. Sejumlah api berukuran bola tenis melayang mengelilingi seorang pria. Rambutnya merah terang, sangat kontras dengan sinar rembulan.

Gigi Sungmin bergeetak marah. "Keparat, kau masih hidup?!"

Lagi-lagi tawa nyaring menggelitik telinga. "Halo, lama tak berjumpa, medusa. Sudah hampir setengah tahun ya." Fairu, penyihir terkutuk berspesialis api teraebut mengangkat sebelah tangannya.

Itu dia. Itu dia! Penyihir yang membunuh keluarganya, Sungmin tak melupakan fakta itu sedikit pun—Begitu pula Kyuhyun. Secepat kilat ia menghadang Sungmin menggunakan pedangnya. Bahaya jika dibiarkan bertindak ceroboh.

Kyuhyun menarik napasnya dalam-dalam. "Fairu, hebat juga kau. Kukira kau sudah mampus atau apa."

Jeda berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Yesung membawa Ryeowook terbang menuju lantai bawah, bergabung bersama Kyuhyun yang telah masuk dalam mode serius.

Keadaan berubah mencekam. Napas dan seringaian penyihir hitam mendominasi. Tak ada yang berminat bergerak, tak ada yang berbicara, seolah-olah seluruh tindakan mereka dibatasi perintah Kyuhyun.

Hingga Rackle jengah sendiri, memutuskan 'tuk mengangkat kaki kanannya, melangkah di atas angin.

"Sebaiknya kalian pergi dari sini." Tekannya, berhadapan lima meter dengan Fairu sang pemimpin kubu hitam.

Sungmin berdecak. "Jangan bercanda! Tak akan kubiarkan!"

"Sungmin!" Kyuhyun menghalaunya dengan tubuh. "Dinginkan kepalamu. Ceroboh sedikit saja kau akan mati!"

Sungmin mendorong bahunya. "Ya! Kau pikir aku bisa diam melihat pembunuh orang tuaku tertawa begitu? Bayangkan, Cho Kyuhyun! Bayangkan! Kau menyaksikan ibumu berbanjir darah! Bayangkan kau menyaksikan orang yang melahirkanmu dihinggapi puluhan luka bakar! Tidak, lebih baik kau bayangkan bagaimana perasaanmu saat meninggalkan rumah yang akan hangus terbkar satu menit ke depan. Tanpa nyawa seorang pun yang bisa kau selamatkan. BAYANGKAN!"

Napas Sungmin putus-putus, air mata berjatuh di pipinya. Atmosfir di sekitar mereka berubah drastis. Semakin berat dan tak tertolong.

Ryeowook hanya tak menyangka—bahkan seorang pun takkan berani bertaruh jika Sungmin akan berteriak sekeras itu. Terutama pada Tuan yang dicintainya, Cho Kyuhyun.

Mimik namja bersurai ikal tersebut mengeras. Matanya terpejam, mencoba menahan hasrat untuk membela diri kuat-kuat. "Ming, dengarkan aku—"

"Waktu habis. Permainan tak bisa menunggu, Cho Kyuhyun!" Teriak Fairu lantang, melempar bola api sebesar lima belas meter ke arah KyuMin semudah melemparkan bola baseball.

Yesung kaget bukan kepalang. "Kyuhyun!" Secepat mungkin ia lilitka. rantainya pada Kyuhyun dan Sungmin, menariknya ke tiang pondasi bersama Ryeowook.

"Sial. Fokuslah, kalian berdua! Musuh kita ada tiga puluh! Berhenti berdebat dan lupakan dulu masalah kekanakkan kalian. Kyu, pakai otakmu untuk membuat rencana, dan kau, pakai batumu untuk mengeraskan mereka! Bukannya berdebat dan mengeraskepalakan ego kalian!"

"Sudah, Yesung. Sudah." Ryeowook mengusap punggungnya lembut, tidak dapat berbuat apa-apa saat kekasihnya menghajar kedua kepala itu dengan pukulan.

Kyuhyun tak bergeming. Terus menunduk seolah sedang bertapa. Sementara Sungmin, ia berbalik, mengamati lautan api yang membakar bunga-bunga kesayangan Yesung, bunga wisteria.

Tangan Yesung menggepal kuat. "Si brengsek itu, seenaknya saja dia menghancurkan pestaku."

"Yesung! Mau sampai kapan diam begitu? Cepat bantu aku!" Kyte membentak, mengejar seorang musuh dengan petirnya.

"Cih, tidak usah sok memarahiku!" Omelnya balik. "Ryeong, kau tetap bersama Sungmin."

"O-Oke." Sahutnya ragu, menengok pada Sungmin yang mematung tak bernyawa.

Ryeowook mengikuti tujuan pandangannya, bertanya-tanya apa penyebab rusaknya hubungan Kyuhyun dan Sungmin yang bisa terbilang harmonis itu.

Dilihat dari pembicaraan tadi, sepertinya yang salah adalah Sungmin. Dia tak bisa menahan hasrat membuhnya. Namun di sisi lain, Ryeowook paham betul perasaannya. Dia sendiri juga ingin membunuh pembunuh ibunya.

Hanya saja, kenapa Kyuhyun tak mendukungnya? Maksudnya, kenapa dia tak langsung membuat rencana di tengah-tengah percekcokan? Kenapa juga dia tak bicara sejak tadi?

"Entahlah." Ryeowook menghela napas, menggidik bahu kemudian mendongak pada langit malam yang ternodai berbagai perperangan.

Roku Raphael terlihat sudah menjatuhkan lima penyihir dengan mudah. Rackle menggulung tiga penyihir menggunakan angin dan dengan di bantu tanaman Leeteuk, mereka musnah seketika.

Di sisi lain, Kangin mengontrol dua penyihir supaya saling menyerang. Eunhyuk di sisinya, menggunakan kemampuan hipnotisnya untuk mengendalikan tiga penyihir agar melindungi mereka.

Disudut lain ruangan, Gackt melebarkan lubang besar yang terhubung dengan laut. Air terjun turun dari sana. Donghae buru-buru mengendalikannya lalu memadamkan api.

Sebagian es terciprat, Hikari manfaatkan itu untuk membekukan para musuh yang terkena cipratan lalu menendang mereka sampai hancur bersama Kage.

Di atas Song Brothera, Yukari yang masih kesusahan memakai sabitnya, berhasil mencabik satu penyihir dengan perjuangan penuh keringat.

"Akh! Aku benci ini! Aku ingin pakai Zafkiel!" Keluhnya nyaring terdengar kemana-mana.

Aldous bersaudara— Ryeowook tak menemukan mereka dimana pun. Entah kemana dua kakak-beradik itu.

Yesung dan Kyte sendiri kerepotan mengurus Fairu, sesekali mendekati Franca untuk meminta kekuatan.

Ryeowook dapat ide, mengatup kecil dua tangan di depan bibir lalu berseru, "Donghae! Cipratkan air pada si api itu!"

Manusia berjiwa keturunan Poseidon itu mengusahakannya tapi gagal. "Jaraknya terlalu tinggi!"

Ryeowook menggigit bibir bawah kesal. "Sial, apa tak ada cara lain?"

Tak lama kemudian, Yukari datang menghampirinya. "Ryeo, cepat sembuhkan ini." Ia mengepakkan sayapnya yang terlihat patah. Bergoyang-goyang seperti kertas mainan.

Kepalanya mengangguk dan dalam satu menit, sayap itu kembali seperti semula.

Ryeowook menepuk punggungnya lembut. "Sudah."

"Hm, oke. Sudah pas. Sankyuu ne! Berhati-hatilah!" Pamit si gadis iblis ketika pergi menghadapi mantan teman lainnya.

Kim Ryeowook tersenyum tipis, lantas berpaling pada kedua namja yang masih setia duduk tanpa dosa.

"Kalian berdua, bangun! Bantu Yesung sana!"

"Cih, aku tak bisa melakukan apapun selama ada gaya gravitasi." Decak Sungmin, yang tentu saja membingungkan otak dangkal Ryeowook.

"Maaf, tapi apa arti—"

"Ryeong, awas di belakangmu!"

TRANG!

.

.

.

Karamelnya membulat sempurna. Telinganya hanya seolah dipenuhi suara detak jantungnya. Napasnya pun terengah-engah.

Kim Ryeowook menggerakkan bibirnya susah payah. "A-Aku—"

"Sst!" Sungmin mendesis. Meruntuhkan tameng berbentuk setengah bolanya dan segera mengeraskan seorang penyihir yang hendak menyerang Ryeowook.

Sekali gepalan tangan, bagaikan karakter Gaara di anime Naruto, tubuh itu tak bersisa lagi.

"Ayo!" Sungmin menarik Ryeowook agar melompat dari sana. Tentu saja namja mungil itu kebingungan. "Bagaimana dengan Kyuhyun?"

"Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Eunhyuk! Tangkap kami!"

"Ya Tuhan, menyusahkan sekali!" Delik si Gummy Smile. Memerintahkan boneka penyihirnya untuk menangkap kedua manusia berjiwa langka tersebut saat tiba di bawah.

Setelah berterima kasih, Ryeowook mengusulkan agar mereka bergabung bersama si kembar Avadonia. Sungmin menyetujuinya, membangun terowongan kecil saat berlari mendatangi sayap kanan bangunan.

Rilliane menengokkan kepala begitu merasakan getaran kecil. "Ryeowook oppa!" Panggilnya mendekati si malaikat.

Allen menjauhi Gackt, merapat pada Ryeowook. "Harusnya hyung tidak kesini."

"Kami harus kesini. Untuk membantu." Ryeowook membalas tidak yakin.

"Tidak. Kita kesini bukan untuk membantu." Sergah Sungmin penuh penekanan.

"Lantas untuk apa?" Allen bertanya.

"Untuk menjauhinya."

Ryeowook mengerjap bingung.

.

.

.

Wajar saja Sungmin emosi. Yesung tak menyalahkan itu.

Kyuhyun pun wajar saja melarangnya. Yesung juga tak mempermalasahkan itu.

Tapi yang tak bisa Yesung maafkan adalah perpecahan mereka.

Dengan muak ia mendesah. Melayangkan sekumpulan tombaknya pada perisai api Fairu yang terbakar dalam sekejap.

Semuanya sia-sia saja. Kyte juga tak bisa berbuat apapun saat petirnya yang harusnya mengenainya malah meleset gara-gara tubuh Fairu terbakar habis menjadi abu lalu hidup lagi tanpa cacat sedikipun.

Persis seperti asap yang muncul dan hilang tiba-tiba.

"Ah, kau tidak berubah. Semakin lemah saja." Ujar Fairu angkuh, melihat kukunya sok.

Yesung berusaha menyeringai agar terlihat lebih memimpin jalannya pertarungan. "Benarkah? Mungkin karena kau sudah berkembang? Tapi jangan meremehkan begitu. Kami juga berkembang."

Fairu bertingkah seperti mau muntah. "Berkembang? Oh, baiklah, Tuan sok pintar. Ku beritahu ya. Kalian itu sebenarnya lemah kalau bertarung secara individu. Lemah sekali. Aku yakin, tanpa bantuan Raphael atau Kyuhyun— atau paling cepat Donghae, kau tidak akan bisa menang."

Untuk sedetik, Yesung termangu. Penjelasan Fairu, mau tak mau Yesung telan bulat-bulat. Kebenaran dalam sindiran itu memang benar adanya.

Dan lagi-lagi dia tak bisa menyalahkan ini.

Karena, semua penyihir punya keahlian masing-masing.

Dan penyihir juga manusia yang punya kelemaham.

Maka dari itu Yesung mengambil keputusan lain. "Cat! Kita pergi dari sini!"

Kyte Herlos melongo. "What? Are you kidding?! He'll kill your contractor!"

"Then I'll protected him. Aish, don't use English when you talking with me!" Yesung menggetok kepalanya. "Kita butuh rencana Kyuhyun."

"Memangnya tidak bisa ya memancingnya ke Donghae?"

"Matamu buta? Dia bahkan tak tertarik untuk mengejar kita. Sudah cepat, kita urus yang lain."

.

.

.

Setengah jam berlalu, gerombolan Yesung tampak kebingungan. Tidak semuanya dapat bergerak selincah tadi.

Para musuh kebanyakan memenangkan pertempuran satu lawan satu. Mereka ada dibawah perintah-perintah panglima Fairu.

Faktanya, tanpa perencanaan yang matang, semuanya tidak berguna. Yesung bahkan kehabisan akal. Padahal Donghae sudah dibawanya tadi. Menyiram si api itu dengan air ternyata tak berpengaruh banyak. Dalam beberapa detik, asapnya mengembalikan wujud manusianya.

"Aku tak bisa lagi."

"Yesung!" Raphael memanggil panik, cemas mendengar gumamannya.

Semakin sulit. Yesung terus mengulang dua kata itu dalam hati seraya terbang menukik pada Kyuhyun. Kaki kanannya terangkat ke belakang, siap menendang rahang Kyuhyun kapan saja.

BRAK!

"Sialan—" Dia baru sadar perisai yang melindungi Kyuhyun dari awal belum hancur juga. Dalam keadaan normal, butuh setahun lamanya menghancurkan perisai trans itu—dan waktu setahun tak Yesung punya saat ini.

"Keparat! Bangun dari tidurmu, Kyu! Jangan seperti anak kecil yang mengurung diri sehabis dimarahin mamanya! Sadar umur, tolol!" Maki Yesung habis-habisan, menggedor perisai dramatis.

Bahkan lagi-lagi tawa hina menggelegar bagaikan kaset rusak.

"Selesai."

PRANG! Perisai itu seketika pecah. Tubuh tegap Kyuhyun berdiri dan saat kepalanya terangkat, cengiran polos anak SD menerangi wajah terperangah Yesung.

"Aku dapat ide!" Pamernya. Langsung terbang menghampiri kontraktornya tanpa menunggu jawaban sang kakak angkat.

"Ming, ikut aku!"

"Eh?"

"Tunggu— Kyuhyun!" Tangan Ryeowook berusaha menggapainya tetapu sudah terlambat sedetik. Sungmin keburu dibawa berhadapan dengan Fairu. Kini keduanya melayang stabil dala. perasaan yang berbeda.

"Kesempatanmu, Ming. Fokuskan tenagamu di telapak tangan dan bidik jantungnya." Bisik Kyuhyun, mengiris simbol kontraknya menggunakan pedang.

"Kalian semua, lindungi kami! Jangan biarkan ada yang menganggu Sungmin. Ryeowook dan yang lainnya, berjagalah di bawah!" Komando Kyuhyun.

Demi Franca yang sedang kelaparan, tak satu pun dari mereka yang memahami tujuan perintah Kyuhyun. Namun karena tak punya banyak pilihan, apalagi musuh terus datang dari berbagai arah, semua segera merapat membentuk lingkaran.

Tiga member KA juga langsung bertindak melindungi Ryeowook berserta si kembar di bawah. "Kami tak akan membiarkan seorangpun di ambil dari sini." Ancam Yukari.

"Mau apa kau?" Kekeh Fairu tenang. Tangannya melebarkan pagar kobaran api yang seketika menaikkan emosi Sungmin berkali-kali lipat.

"Chekku meito, Fairu. Chekku meito." Kyuhyun tak dapat menahan senyum kemenangannya. "Ming, lepaskan sekarang!"

Sungmin mengangguk kecil. Perlahan tapi pasti, telapak tangannya mulai merasakan adanya jantung imajinasi Fairu. Berdasarkan itu, ia bertindak seperti menggenggamnya. Menyalurkan seluruh tenaganya ke tangan tersebut.

Fairu drop untuk sesaat. Gepalan tangannya menepuk dada yang terasa mulai berat. "Uhuk! Apa ini?!"

"Sudah kubilang, chekku meito!" Kyuhyun memunculkan pedang keduanya, melepaskan Sungmin hingga jatuh ditangkap Kage dan menyerang tubuh Fairu dengan persilangan dua pedangnya

"I-Ini—" Sakit yang luar biasa. Pedang listrik dan pedang air. Kekuatan Fairu langsung menyusut ke titik terlemah.

Hal terakhir yang masih sempat ia dengar adalah kalimat penjelas Kyuhyun.

"Api tidak akan merambat kemanapun jika ada benda mati sekeras batu melingkupinya. Air dan listrik saling berkesimbungan, sehingga saat menyatu dan mengenai api yang berada di tubuh manusia, mereka akan menang telak. Ngomong-ngomong, Fairu. Selamat malam."

Matanya pun tertutup ke dalam kegelapan abadi.

.

.

.

Yesung mengumpat saat mematikan ponselnya. "Cih, museum Aldous juga diserang."

"Jeongmal? Haruskah kita ke sana?"

"Kau bercanda? Mereka sudah menang telak daritadi, Hyuk!" Decak Yesung. "Sekarang, kita tunda pesta ini. Bereskan Gereja lagi. Hahh, lama-lama kita seperti tukang bangunan."

"Jangan mengeluh, Yesungie." Timpal Rackle facepalm.

"Roku tak usah menyahut!"

"Selain itu, kau juga harus rela menonton drama numpang lewat."

"Di mana?"

"Tuh," Tuding Kangin ke satu arah.

Benar, ada drama berdurasi lima menit numpang lewat di sana. Pemainnya terdiri dari dua orang, yaitu Kyuhyun dan Sungmin. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, toh Hesung pun tak peduli. Palingan isinya soal permintaan maaf. Terlalu basi untuk disimak.

Bahunya bergidik sebelum kakinya melangkah. "Well, kerja lagi."

"Tunggu sebentar." Satu tepukan melayang pada punggungnya.

"Hm?" Ia menengok malas pada si pelaku, Ryeowook. "Apa? Aku sibuk."

Bukannya menjawab, Ryeowook malah memanggil Kage. Kemudian menengadahkan tangannya seraya tersenyum penih arti. "Mana?"

Alis Kage menaut untuk beberapa saat, sebelum akhirnya bibirnya membulat dan merogoh saku. Meletakkan sebuah kotak biru tua di tangan lentik Ryeowook.

"Ini, aku pergi dulu." Tahu diri, dia pun kabur entah kemana.

Yesung menunggu apa yang Ryeowook lakukan. Ia sendiripun, selaku pembuat acara mendadak ini, belum 'ngeh' kalau yang dipegang kekasihnya itu adalah—

"Aku bersedia menjadi istrimu. Dalam sedih maupun senang, dalam sakit maupun sehat dan dalam suka maupun duka—aku tetap mau menjadi istrimu selama kau setia padaku."

Yesung tertegun, Ryeowook menyelipkan sebuah cincin bermata batu biru safir di jari manisnya.

Padahal inginnya memberi kejutan, kenapa sekarang malah dia yang dapat kejutan? Konyolnya, dia bahkan tak tahu itu kotak cincin. Terlepas dari itu, kotak cincin di negeri Sihir dan dunua Nyata memag berbeda jadi sulit untuk Yesung menerka-nerka apa yang berada di dalamnya.

"Ekhem! Mari, bekerja! Kerja, kerja! Cukup romantisnya!" Ujar Kyte dan Allen serempak, mendorong kedua namja bermarga Kim itu keras-keras.

Yesung berusaha menghindar. "Aish, kalian mengganggu saja!"

"Dilarang tebar drama di sini!—Kecuali bangunan sudah dibetulkan. Penat aku melihatnya. Penat!"

"Shut up, Stupid Kyte. Honestly, he want said he's jealous with you. Trust me!"

"Allen!" Sentak Kyte.

Di kejauhan, urat pelipis Raphael berkedut dalam. "Kalian berempat, kerja! Atau ku tendang ke lubang neraka!"

"Baik!"

.

.

.

"Apa ini?!"

Luxury menutup matanya kala papan berisi kertas laporan menimpa kepalanya. Papan itu jatuh, namun kemarahan sang Penguasa belum enyah sedikit pun.

"Ini caramu bekerja?! Sampah. Tidak ada yang berguna. Mati saja kau!" Yang Mulia mencercanya, mendaratkan sebuah pukulan di kepala yang tengah menunduk tersebut.

"Maafkan saya, Yang Mulia." Luxury menggigit bibir bawahnya. " Saat penyerangan dilakukan, Yesung sedang bersama Rachel dan Raphael. Mereka tak bisa berbuat banyak. Terutama dengan kehadiran Eunhyuk dan Kangin."

"Bukan itu yang ingin kudengar!"

Bugh! Tubuh Luxury terbang menghantam tembok. Dirinya merosot jatuh ke lantai dengan cairan merah mengisi mulut. Ia meludahkannya, mengusap pipinya yang menjadi korban tendangan sang Penguasa.

"Fairu yang sehebat itu, yang telah dilatih selama enam bulan terakhir, kenapa kau sia-siakan dengan rencana bangsatmu itu? Apa kau bisa bertanggung jawab huh? Jelaskan padaku!"

Sekuat tenaga, hanya dengan bermodalkan sandaran dinding, Luxury sekoyong-koyong bangun. Mamasang mimik paling bersalah yang ia punya.

"Saya sangat menyesal, Yang Mulia. Tolong ampuni saya." Sahutnya rendah, sedikit kesusahan menggerakan rahang ketika beberapa gigi yang bergoyang.

"Mengampunimu?" Raja tertawa sarkartis sedetik kemudian wajahnya berubah serius. "Hanya dengan satu cara. Bawakan aku malaikat itu. Ikat dia di atas piring besar, sajikan dengan potongan mayat Kim Yesung. Apa kau mengerti?"

"Saya mengerti, Yang Mulia." Luxury membungkuk susah payah. "Kalau begitu saya permisi dulu."

Diluar ruang singgasana, Luxury jatuh tersungkur setelah berjalan terseok-seok. Pandangannya memburam seiring darah yang terus mendesak keluar dari mulutnya. Sial, rasa-rasanya tenaganya dihisap semua pas ditendang tadi.

"Ini karena kau terlalu lembek, Luxury." Decakan seseorang hadir dihadapannya. Kaki panjangnya menjulang lima senti dari wajah Luxury, namun ia tak mau repot mendongak. Ia kenal postur kalimat menyudutkan tadi.

"Hahh, dasar anak muda. Kalau aku lembek, tidak mungkin aku diangkat jadi asisten pribadi Yang Mulia."

Sterben Aldous menggidikkan bahu. "Yah, mungkin mata Yang Mulia sudah katarak."

"Hush, aku tidak mau membereskan tulangmu sekarang. Aku masih sibuk, tahu."

"Jangan sok kuat, Pak Tua." Sterben berjongkok, menarik salah satu lengan Luxury ke lehernya kemudian memapah pria tersebut. "Sebaiknya kau beristirahat hari ini. Lihat betapa menyedihkannya dirimu. Gigimu rontok semua."

"Hahaha," Luxury tertawa paksa, lantas mengulum sebuah senyum simpul yang menyedihkan. "Terima kasih ya, nak."

"No problem, Baek. And actually, must be me said that words."

Untuk beberapa saat, tawa lega terbang memenuhi lorong Istana yang bercahaya suram.

.

.

.

The And

.

.

.

Katakan saya belum terlambat. KATAKAN. KATAKAN, YA TUHAN /caps

Demi apa, karena diksi nggak kunjung bener seperti dulu, sense ngetik ini pun menurun. YA AMPUN RASANYA SAYA PENGEN BEDAH NIH OTAK SAKING STRESSNYA *abaikan*

Aku berusaha ngasih adegan pertarungan seru dan mudah dibayangkan tapi kayaknya gagal lagi ya? Apalagi dari pembukaan ke scene pernikahan itu lumayan bertele-tele orz

Well, thanks to you all! I tried to copy-paste your name but sorry, I not have anymore time hikssu. Special thanks to Kim Youngbin and ChulZzinPang yang tiap minggu atau kadang pas chat suka nyanyain nih FF /o/

Uhm, and for wookies. Can you follow my twitter (YWDK21403) or add my Line (sujuelf1315) for discuss your complain?

Once again, thanks to you all! I love you! Hope I still have time to write fanfics~

.

.

.

Extra Story

Still You

.

.

.

"Hoi, buat apa kau perban tanganku? Cepat lepaskan! Menggelikan!"

"Hee, tidak mau! Kau kelihatan keren kalau begini."

"Hah?" Alis Yesung meninggi sebelah, pertanda bahwa dia tidak mengerti.

"Kemarin sore, Yukari memberitahuku soal bermacam tipe lelaki. Katanya yang paling keren itu lai-laki yang pakai perban ditangannya. Kupikir itu aneh—Apa bagusnya tangan diperban? Bukannya malah mirip orang cacat? Tapi setelah melihatmu, ternyata lumayan juga. Mirip street fighter."

Yesung mendelik, mencengkram kepala itu tanpa belas kasih. "Hoi, seenaknya saja kau menjadikanku sebagai bahan percobaan. Lagipula, jangan dengarkan Yukari. Dia itu sesat."

Ryeowook berusaha melepaskan diri, tetapi gagal. Jadi dia duduk dengan kaki bersila dan mengembungkan pipi. "Kenapa? Dia 'kan baik."

Entah kenapa, Yesung ingin sekali menggetok namja ini. "Kau ini bodoh atau apa sih? Hahh, mungkin kau tolol tapi sebagai manusia, bisa waspada sedikit tidak sih?"

"Kau ini ngomong apa? Jangan putar-putar begitu, aku pusing." Ryeowook bersedekap sebagai bentuk protes.

"Cih, sini kau, malaikat bodoh." Yesung menahan tawanya, menarik namja itu dalam pelukannya dengan satu tangan. Jari-jarinya bergerak mengelus permukaan pipi tirus tersebut kemudian mengacak rambutnya gemas.

Ryeowook tertohok, memukul dada Yesung lumayan keras. "Berisik. Aku tidak lemah tahu."

"Yah, terserah saja." Yesung mengucapkan sebait mantra sihir yang tidak mengerti Ryeowook. Mereka sudah di rumah sekarang, di kamar Yesung lebih tepatnya dan sihir bahasa Franca sudah habis waktu sehingga Ryeowook benar-benar kehilangan ide untuk menerka-nerka.

Tak lama kemudian, ia menyadari Yesung tersenyum lembut padanya. Sebuah senyum yang ditunjukan hanya pada saat mereka berdua saja—dan seingat Ryeowook, itu tanda-tanda dia sedang membuat kejutan lagi.

"Apa lagi ini?" Ryeowok bertanya bingung. Yesung tak menjawab, memilih mengeluarkan sebuah cincin dari kotak biru beludru yang ia ambil dengam sihirnya, lalu menyematkannya di jari manis Ryeowook.

"Aku nyaris lupa memasangkannya." Yesung mengusap punggung tangan Ryeowook. Sorot matanya mendadak sendu. Menciptakan aura-aura lembut yang mampu membuat Ryeowook nyaman.

Ah, kapan terakhir kali Yesung melakukan ini? Latihan yang semakin padat dan meadaan rumah yang ramai membuat mereka sulit merajut suasana seperti ini. Terutama kegengsian Yesung yang tak ingin berbagi kamar.

"Kaja, kita tidur. Sudah pagi hari. Hari ini giliranmu membuat sarapan 'kan?" Ujar Yesung melepaskan sentuhannya, berbalik berbaring memunggunginya. Kala itu, Ryeowook tidak menduga bakal sehampa ini.

Berdasarkan instingnya, tangan lentik itu menggapai wajah tampan Yesung. Pemuda tersebut menoleh, melemparkan tatapan penuh tanya saat melihat mimik Ryeowook yang seakan-akan mau menangis itu.

"Yesung, kau melupakan sesuatu." Ucapnya memberitahu.

Butuh waktu dua detik agar pria seperti Yesung paham arah pembicaraan ini. Dia beringsut menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, dan meraih tengkuk Ryeowook.

"Yah, aku melupakan ciuman pernikahan kita."

.

.

.

Last, mind to review? ^^