"Bagaimana awalnya sampai kau bisa sangat sial bertemu dengan Yoongi?" nyonya Jung meletakkan kembali list catatan miliknya diatas meja dan menatap Jimin tajam.

Jimin melirik kearah Yoongi yang duduk disampingnya dan hanya mendapatkan anggukan dari Yoongi agar Jimin bisa bicara.

"Jangan coba-coba berbohong!" ibu Yoongi menunjuk Jimin dan Yoongi dengan kipas bulu ditangannya. Dibelakang ibu Yoongi sudah berdiri Hoseok yang bertugas menjadi bodyguard untuk nyonya Jung, berdiri berjam-jam lebih baik daripada kepalanya di pukul pakai kipas tangan ataupun tapak sendal. Kali ini, biarkan Yoongi dan Jimin saja yang merasakan kelenturan tangan ibu mereka.

Jimin berkedip gugup, duduknya pun sudah sangat tegak sangkin takutnya pada Ibu Yoongi yang selalu berdandan ala ibu-ibu sosialita.

"W-waktu itu kami…"

"Jangan coba mengarang cerita romantis, aku tidak akan percaya. Melihat wajah yoongi saja sudah tidak memungkinkan" potong nyonya Jung.

"Eomma, setidaknya biarkan Jimin…"

Tak! Kipas ditangan nyonya Jung sukses mengenai dahi Yoongi. "Bukan giliranmu untuk bicara, sekarang"

Yoongi mendengus menahan marah, di depannya, Hoseok sudah menunduk sambil terkekeh dalam diam.

"Awas kau" ancam Yoongi tanpa suara kearah Hoseok.

.

.

.

DEVIL IN a BLACK COAT

.

.

.

"A-aku mengambil foto Yoongi hyung…" mulai Jimin gugup. Matanya bahkan tidak berani menatap kearah nyonya Jung secara langsung.

Ibu Jimin dan Hoseok menaikkan alisnya. Pertemuan macam apa itu, batin keduanya.

"A-aku mengambil foto Yoongi hyung dan Stevi Kim…" Jimin menelan ludahnya gugup.

Nyonya Jung menaikkan satu alisnya dan menatap Jimin penasaran, tanpa sadar, wanita itu bahkan memajukan tubuhnya kearah meja kerja Hoseok.

"Kau apa?" Tanya nyonya Jung memastikan.

Jimin melirik sekilas dan kembali menunduk saat matanya bertatapan dengan ibu yoongi. "A-aku emnagmbil foto Yoongi hyung dan Stevi Kim, dan aku juga yang membuat berita itu muncul di media" ucap Jimin cepat.

Ada hening yang cukup panjang setelah Jimin bicara sampai…

"Daebak!" Hoseok membolakan matanya dan dihadiahi tepukan kipas bulu di kepalanya.

"Kau hanya bertugas untuk pelengkap penderita, jangan berkomentar!" omel nyonya Jung.

Kali ini, Yoongi tertawa sambil menunduk, meskipun tanpa suara.

"Eomma.. kan sakit" rengek Hoseok sambil mengusap kepalanya.

"Jadi, itu kau yang membuat beritanya?" nyonya Jung bertanya serius.

Jimin mengangguk takut. Kemudian mengernyit bingung saat nyonya Jung menyodorkan kepalan tangannya pada Jimin.

"Ayo tos" ajak nyonya Jung.

Jimin melirik bingung pada Yoongi yang sudah mengusap wajahnya frustasi. Ragu-ragu Jimin melakukan tos bersama nyonya Jung.

"Kau diterima di keluarga kami" ucap nyonya Jung.

Jimin berkedip-kedip bingung.

"Oh, dan soal ibu-mu, aku dan Yoongi akan kesana. Kalian harus menikah secepatnya. Perutmu akan besar dan orang-orang akan mulai berisik bicara. Aku tidak tega melihat ibu-mu. Jadi, tidak peduli kau mau atau tidak, kalian tetap akan menikah" putus nyonya Jung.

Yoongi mengangguk bangga.

"Tapi setelahnya kalau kau ingin bercerai, tidak massalah"

"Yah, eomma!..."

"Diam!" nyonya Jung memukulkan lagi kipasnya ke kepala Yoongi. "Kau belum ku izinkan bicara"

"T-tapi nyonya, aku dan ibu-ku, aku rasa…"

"Aku yang akan mengurusnya." Putus nyonya Jung. "Besok pagi kami akan ke rumahmu. Bersiap saja. Kalian akan menikah secepatnya"

"Tapi aku juga ingin ikut, nyonya" ucap Jimin cepat.

Nyonya Jung menaikkan alisnya.

"Ma-maksudku, aku rasa, aku…" Jimin mendadak takut melihat wajah datar ibu Yoongi.

"Aku tau. Kau yang lebih pahama ibu-mu, jadi, besok kita akan pergi bersama"

"Apa aku sudah boleh bicara?" Tanya Yoongi.

"Nanti saja, Eomma lapar."nyonya Jung berdiri dan menyerahkan tasnya pada Hoseok. "Jimin, kau ingin makan apa? Ayo ikut eomma" ucap nyonya Jung.

Yoongi tersenyum kecil. Meskipun kasar, ibu-nya sebenarnya berhati baik.

.

.

.

"Kim Taehyung…"

Taehyung menunduk dalam saat namanya disebut. Didepannya sedang duduk kedua orangtua Jungkook, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

"Bukannya ini sudah keterlaluan?"Nyonya Jeon memulai.

Taehyung menatap kosong pada karpet dibawah kaki-nya. "Bukan aku yang meminta Jungkook untuk mengatakan itu di media. Dia yang mengambil keputusan itu sendiri" ucap Taehyung pelan.

"Harusnya kau mencegahnya!" bentak nyonya Jeon.

Taehyung memundurkan tubuhnya kesudut sofa. Dia ketakutan.

"Sayang, tenang sedikit" ucap tuan Jeon menenangkan istrinya.

"Kita sudah lama saling kenal, Kim Taehyung. Kau seharusnya tidak melakukan itu pada Jungkook. Demi Tuhan, karirnya sedang bagus!" amarah nyonya Jeon keluar tanpa bisa ditahan.

"Bukan aku yang melakukannya, Nyonya" guman Taehyung pelan.

"Jungkook baik-baik saja selama ini. Jungkook tidak pernah terkena masalah seberat ini. Dan sekarang kau muncul lagi! Apa kau sengaja memakai anakmu untuk mengembakikan Jungkook?" tuduh nyonya Jung.

Taehyung menutup erat matanya dan menahan diri agar tidak ikut meledak. Dia yang korban, kenapa Taehyung yang disalahkan.

"Nyonya, aku tidak melakukan apapun" tegas Taehyung.

"Kau menghancurkan karir anakku dan kau bilang kau tidak melakukan apapun?" sinis nyonya Jeon.

"Nyonya, tuan, tolong keluar" pinta Taehyung pelan. Dia tidak ingin bersikap tidak sopan, apalagi pada yang lebih tua.

Nyonya Jeon mendecih sinis. "Dengar, aku tau kau kesulitan keuangan. Aku bisa memberikanmu uang dan katakan di media kalau anak itu bukan anak Jungkook. Aku sedang melakukan penawaran padamu"

Taehyung merasa hatinya pecah sekrang. Dia benar-benar sedang direndahkan. Dua orang kaya di depannya ini bahkan tidak mau mendengarkan dari sisi Taehyung dan hanya menganggap Taehyung sebagai pembuat masalah.

"Pertama, aku tidak sedang dalam kesulitan keuangan, meskipun aku tidak sekaya kalian, setidaknya aku masih bisa membiayai semua keperluanku sendiri tanpa kekurangan. Kedua, bukan aku yang membuat gempar media, jadi silahkan bayar anak anda dan suruh anak anda membuat klarifikasi di media."

Nyonya Jeon membolakan matanya. "Kalau kau tidak muncul lagi. Ini tidak akan terjadi!"

"Nyonya, tolong keluar" pinta Taehyung putus asa.

"Kau harus bertanggung jawab atas hal ini, Kim Taehyung"

"Nyonya, ku mohon" pinta Taehyung.

Nyonya Jeon mendecih kesal dan melemparkan segepok uang pada Taehyung dengan keras. "Aku harap kau bisa menutup mulutnya dan berhenti mencari perhatian!" nyonya dan tuan Jeon berjalan meninggalkan apartemen TAehyung.

Saat pintu tertutup, Taehyung menangis keras.

.

.

.

"Tae? Ada apa?" Jimin sedang makan bersama Yoongi, Hoseok dan nyonya Jung saat Taehyung meneleponnya.

"Jim, kau sibuk?" suara Taehyung terdengar parau ditelinga Jimin.

"Tidak. Kau menangis?" Tanya Jimin khawatir.

"Bisa temani aku di rumah?"

"Bisa. Tunggu sebentar, aku akan ke tempatmu, oke?. Kau ingin sesuatu? Kau sudah makan?" Tanya Jimin cepat.

"Aku tidak lapar. Aku hanya butuh teman bicara…" ucap Taehyung pelan.

"Aku akan kesana." Putus Jimin.

"Kenapa?" Tanya Yoongi penasaran.

"Taehyung, sepertinya dia butuh teman. Hyung, aku boleh pergi?" Tanya Jimin pelan.

Yoongi menatap lurus ke mata Jimin dan menggeleng sekilas.

"Ada apa?" Tanya nyonya Jung penasaran.

"Nyonya, temanku seperti dalam kesulitan, aku rasa dia butuh teman bicara…" ucap Jimin pelan.

"Harus sekarang?" Tanya nyonya Jung lagi.

"I-itu, aku rasa sebentar lagi juga tidak masalah" jawab Jimin gugup.

"Aku rasa Yoongi keberatan" nyonya Jung menatap pada Yoongi yang terlihat dingin.

Jimin melirik kesampingnya dan mendapati wajah tidak suka dari Yoongi.

"Hyung…" cicit Jimin pelan.

"Ku larang pun kau akan tetap pergi kan?" ucap Yoongi tanpa memutus kontak mata dengan Jimin.

"Kita antar saja" ucap nyonya Jung enteng.

Jimin membolakan matanya, gugup. "Tapi, nyonya…"

"Aku tidak suka dibantah" nyonya Jung tersenyum lebar membuat Jimin tidak bisa membantah.

.

.

.

TBC

Lama ya updatenya kakak yorobun XD…

*lari naruto