Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
19. Jelang Musim Panas
.
.
SELAMAT datang di kekaisaran Konoha!
Di tempat ini kau akan menemukan kekaisaran kecil dengan pemandangan yang luar biasa indah. Kau akan disambut oleh burung-burung aneka warna, berkicau di setiap sudut hutan. Ada juga kawanan angsa di pinggir danau, dan juga para tupai serta kelinci hutan kecokelatan yang berubah menjadi seputih salju begitu masuk musim dingin.
Saat ini, kami sedang dalam suasana musim semi, dan angin sejuk akan selalu mengelilingimu. Sambutan hangat dari para penduduk juga akan kau dapatkan. Kami tak khawatir dengan ancaman keamanan, karena kelima panglima kekaisaran kami sungguhlah trampil dan kuat. Istana selalu terbuka lebar bagi siapapun termasuk para pendatang. Dan jangan lupakan puteri kaisar yang terkenal karena sifat ceria dan keramahannya…
Tunggu, tunggu.
Saat ini bukan musim semi, tapi musim panas!
"DAN—yaaaa, SAKURA! Hentikan malas-malasanmu itu! Sampai kapan kau mau tidur seperti itu, tahu! Ini musim panas! MUSIM PANAS! Ayo keluar, jangan bergelung saja di kasur—memangnya kamu tidak kepanasan, hah?!"
Bentakan keras terdengar dari istana utama bagian timur, membuat dengungan keras ke pojok-pojok lorong. Di sisi lain istana, rombongan dayang yang tengah mempersiapkan air mandi, hanya berhenti sejenak, saling berpandangan, lalu kembali melanjutkan tugasnya. Tak usah dicek lagi, karena sudah bisa dipastikan itu pasti suara Yamanaka Ino, dayang muda yang cerewet dan blak-blakan, termasuk kali ini. Tugasnya pagi ini adalah membangunkan Sakura, sang puteri yang tadi dipuji-puji karena keceriaan dan keramahannya. Dan seperti yang terjadi seperti biasanya, dayang berambut pirang ini tidak segan-segan berteriak agar Sakura bangun—bahkan menggulingkannya dari kasur, kalau perlu.
…ternyata masih tidur.
"Mmmmm… tunggu, tunggu, biarkan aku… lima menit lagi saja…" terdengar gumaman pelan, dan berikutnya, dengkur halus—lagi.
"Huh!" Ino berkacak pinggang, namun matanya sama sekali tak menyiratkan ekspresi pasrah. Sebaliknya, sepertinya dia malah makin semangat. "He, Sakuraaaaaaa," ia berbisik setengah meledek, "Tahu tidak? Meskipun musim panas, para tentara masih giat berlatih, dan… hari ini mereka akan melakukan latihan keliling istana. Tentu saja mereka akan lewat depan kamarmu—yang sudah kubuka jendelanya—dan tebak siapa yang akan lewat? Uchiha Sa—"
Belum selesai Ino membisikkan kata-kata itu, tiba-tiba saja selimut tipis yang tadi masih bergelung rapat itu terlempar ke udara, dan secepat itu juga seorang gadis berambut merah jambu pucat melompat dari dalamnya, langsung duduk di atas kasur dengan wajah yang merah padam. Mata hijaunya melihat sekeliling dengan waspada, seakan-akan tiba-tiba saja akan muncul orang aneh yang siap menangkapnya.
Ino nyengir. Sukses.
"Tentu saja, mereka latihan di lapangan barat. Dan tidak ada rencana latihan keliling hari ini."
Detik berikutnya, wajah merah padam itu seakan-akan siap meledak.
"IIIIIINOOOOOOO!"
"HABIS, kau tidak bangun-bangun juga, sih!" komentar Ino sewot sambil merapikan futon, sementara Sakura ada di pojok kamar menghadap cermin—seperti biasa, Hinata masuk untuk membantunya menata rambut. "Sudah kuduga, kalau tuan Uchiha Sasuke yang hebat lewat di depan kamar ini, mungkin kau akan bangun. Dasar anak kecil. Sampai kapan kau akan terus tidur sampai siang? Memalukan, tahu!"
"Uh," Sakura merasa wajahnya dihiasi semburat merah lagi, dan langsung berpura-pura sibuk merapikan bagian pinggiran rambutnya. "Bukan begitu… aku sebenarnya bisa saja bangun pagi, tapi…"
Hinata yang menyadari perubahan sikap itu tersenyum geli. Ia mengambil sebuah sisir berhiaskan jade hijau di laci, lalu kembali mengurus rambut Sakura. "Sakura-chan… kau tadi malam kembali melihat bintang lagi, kan? Kau sudah semangat lagi, ya? Baguslah," komentarnya sambil menyematkan sisir itu di rambut merah jambu Sakura. Terlihat kontras sekaligus serasi dengan mata hijaunya. "Kemarin-kemarin, teleskopmu yang ada di pojok sana sampai berdebu."
Wajah Sakura kembali tersipu. "Ah, iya, memang—" katanya cepat, sambil berdiri dan membetulkan kimononya. "Akhir-akhir ini aku kembali bersemangat untuk meneropong bintang lagi. Lagipula, ini langit musim panas, pasti lebih bersih daripada biasa, kan?" tambahnya dengan antusias. "Ada banyak yang bisa dilihat di musim panas, dan aku sangat menantikan itu!"
Ino mengerjapkan mata. "Oo, sepertinya kau sudah kembali semangat, Sakura?" ia melirik sekilas ke arah Hinata yang langsung membalasnya dengan senyum, lalu melirik Sakura. "Seandainya saja aku juga mengalami hal yang sama sepertimu sewaktu festival kemarin—hmmmm?" matanya mengerling usil, membuat yang dilirik segera memalingkan wajah.
"Ehh... er... maksudnya? Iya, festival kemarin dulu itu menyenangkan. Ehm—aku sangat bersyukur karena para pengungsi itu bisa kembali bergembira setelah desa mereka diserang."
Ino mengernyitkan kening mendengar jawaban Sakura. Heh! Dan berikutnya yang mendarat di pipi gadis berambut merah jambu itu adalah cubitan ganas Ino—"HOI, dasar pelit! Begitu, yaaa... kau tidak mau bercerita pada kakak, heh? Kalau begitu, biar kupaksa saja! Apa yang kemarin terjadi, hm, hm?"
"Huwaaa! Sakiiit, Ino! Apa-apaan, sih!" Sakura berteriak mencoba menghindar, namun tangan Ino adalah tangan dewa untuk urusan cubit-mencubit, sayangnya—"Hinata! Tolong!"
—dan Hyuuga Hinata sayangnya bukan orang yang dapat melawan nona Yamanaka Ino untuk urusan paksa-memaksa. "Ehhh, tapi, tidak bisa begitu, Sakura-chan—" ia tersenyum manis dengan wajah tanpa dosa, "aku tidak bisa membantumu kali ini... bagaimana kalau kau bercerita saja? Aku juga ingin tahu, kok."
"Ehe," Ino nyengir penuh kemenangan. "Jadi, apa yang dia katakan, Sakura?" tanyanya sambil melebarkan pipi gadis itu, "Apakah dia bilang 'Sakura-channn... aku mencintaimu, sayaaang?' hmm?" tanyanya iseng, sambil memperagakan gaya yang benar-benar norak. Dan Hinata tak dapat berbuat apa-apa kecuali tertawa.
Sakura merengut meskipun urat-urat wajahnya sedang dikuasai Ino. "Hfia hifak herfafa heferfhi ifhuuu!" teriak Sakura kesal, kakinya menghentak-hentak. Ino tertawa dan akhirnya melepaskan cubitan mautnya. "Aduuuuh... Ino, sakit, kan! Harusnya kau hentikan kebiasaanmu itu—memaksa sambil mencubit..." Sakura mengelus-elus pipinya, yang kini jadi berwarna kemerahan.
"Eh? Jadi dia tidak bilang apa-apa?" gadis pirang itu melongok ke luar sambil berkacak pinggang, "cowok payah! Ternyata pangkatnya sebagai jenderal juga tidak berguna kalau harus berhadapan dengan wanita. Huh!"
"Euh—memangnya dia harus bilang apa, Ino-chan...?" Hinata menatap Ino ragu-ragu. "Menurutku... mereka bisa bicara secara biasa juga sudah cukup, kan?" komentar gadis itu. Ya, tentu saja menurutnya itu yang terbaik—melihat Sasuke dan Sakura yang bisa mengobrol bebas sudah cukup membuatnya iri. Bagaimana tidak, setiap bicara dengan Naruto—tidak, kadang dengan yang lain juga—ia selalu terbata-bata. Huh, kadang ia kesal dengan keadaannya yang seperti ini. Meskipun teman-teman dan Neji-nii-san berkata itu tidak apa-apa, tapi kan...
"Heh!" Ino mencibir ke arah Hinata. "Tentu saja kalau itu terjadi padamu, aku akan berkata 'WOW, BAGUS SEKALI! AKHIRNYA KAU BISA JUGA, HINATA! KYAAAA!'" Hinata langsung bergerak mundur melihat ekspresi dan lagak Ino yang berubah tiba-tiba—"Tapi untuk yang ini, tidak. Menurutku, si Sasuke-be-bodoh itu, dia seharusnya bisa melakukan sesuatu selain sekedar memeluk dan minta maaf saja!"
"Er... bukannya kalau lebih dari itu... terlalu cepat, ya?"
"Tentu tidak!" Semangat Ino rupanya sudah membakar sampai ubun-ubun kali ini. Ilusi Sakura dan Hinata memperlihatkannya memakai ikat kepala. "Sebagai remaja—eh, orang yang menjelang dewasa—USIA SEMBILAN BELAS DAN DUA PULUH TAHUN! Menurut kalian apa yang dapat dilakukan, eh? KALIAN HARUSNYA SUDAH MELAKUKAN PIIIIP DAN PIIIIP DAN PIIIIIIP—"
Hinata dan Sakura nyaris pingsan mendengarnya.
MUSIM semi terasa berlalu begitu cepat dan istana sekarang diliputi cuaca panas. Kadang matahari begitu ramah, memberikan kesejukan dan kehangatan. Namun kali ini cuaca panas tak bosan-bosannya menerjang. Angin tak lagi membawa harum bunga dan semilir embun, namun menderu dengan membawa debu. Matahari bersinar terik mencoba mendidihkan darah dan memecahkan konsentrasi. Namun untunglah pagi yang sejuk masih ada meskipun terasa diburu hari.
Dan sepertinya sindrom akibat-musim-panas juga menyergap seluruh penghuni istana. Kalau diperhatikan, entah mengapa para dayang jadi lebih menyukai kegiatan mencuci. Tukang kebun melewatkan hari dengan menyiram tanaman perlahan-lahan. Di berbagai sudut istana, ada saja yang sedang bermain air. Menciptakan hujan dan pelangi berukuran mini. Anak-anak dayang senior mondar-mandir membawa gelembung sabun dan ember-ember berisi air—untuk bermain siram-siraman, tentu saja. dapur istana membuka pintu lebar-lebar untuk penyuplai bahan makanan yang membawa es batu. Karena begitu es datang, langsung diserbu dan bongkahan besar itu langsung berubah jadi es serut. Malang sekali nasib es di musim panas.
Musim panas rupanya tetap membawa keceriaan bagi mereka.
Lho, kalau begitu, ungkapan 'mendidihkan darah dan memecahkan konsentrasi' itu kurang tepat, kan?
Hah?
Tentu saja tepat kalau ungkapan itu diberikan kepada para tentara.
"SUDAH KUBILANG, JANGAN BEGITU! GERAKANNYA SALAH!"
Teriakan menggelegar itu sempat membuat beberapa pasang kepala menoleh ke arah lapangan barat. Seorang pria berambut pirang yang biasanya selalu tersenyum ceria, kali ini tampaknya sedang kena masalah. Tongkat panjang yang sedang dipegangnya diketuk-ketukkan ke tanah lapangan yang langsung berkepul debu. Tentara-tentara berseragam jingga itu menoleh ke arah pemimpinnya dengan muka takut-takut.
"Bukan begitu...," Naruto menggaruk-garuk kepalanya bingung, "sebisa mungkin jangan buang-buang waktu. Aku bilang 'kan kalian bisa memakai cara apapun, karena di dalam pertarungan pasti serangan apapun tidak bisa diperkirakan—tapi terlalu banyak gerakan tidak perlu. Ya sudah, lanjutkan! Biar aku melihat dulu!"
Kumpulan tentara itu langsung kembali menyebar dan melanjutkan latihannya, meskipun agak sedikit heran dengan komentar pemimpinnya tadi. Biasanya Naruto selalu menyuruh mereka 'bebas berekspresi' alias tidak ada pakem tertentu. Tapi, sepertinya Naruto kali ini lebih banyak mengoceh. Kalau kemarin-kemarin? Tentu saja lebih banyak porsi otot dibanding otak—Naruto dengan kagebunshin-nya melawan mereka satu per satu. Sekaligus menjaga stamina, katanya. Namun kali ini, latihan yang mereka lewati terasa agak berbeda. Tepatnya, atasan mereka lebih banyak omong.
Sai yang juga sedang mengawasi pasukannya berlatih cuma tersenyum kecil. "Tumben kau mementingkan teknik, Naruto?" komentarnya sambil lalu. "Ada apa?"
Naruto hanya menggeleng. Ia melompat dan duduk di bangku kayu itu, bersebelahan dengan Sai. Sai kembali memusatkan perhatiannya ke arah gerombolan tentara berseragam kelabu yang dipimpinnya. "Aku hanya kurang puas dengan hasil kerja kemarin."
Sai mengangkat alis. "Maksudmu, waktu kita pergi ke Nijigakure?"
Kepala Naruto tertengadah ke arah langit, yang hari itu bersih tanpa awan—sebiru warna matanya yang sekarang menatap sayu. "Aku hanya berpikir... mengapa waktu itu kita tak dapat datang lebih cepat..." ia menghela napas panjang, "jadi desa itu tidak usah hancur seperti itu."
Sai maklum mendengar kata-kata Naruto. Mungkin karena nasib mereka juga sebenarnya sama seperti anak-anak kecil penghuni desa yang sekarang menjadi yatim piatu. Dari lima orang jenderal yang ada saat ini—tiga adalah yatim piatu. Sai, Naruto, dan Sasuke. Beruntung dahulu keluarga mereka merupakan orang-orang yang termasuk dekat dengan kaisar, sehingga Kaisar mengambil mereka. Dan untuk membalasnya, mereka menunjukkan kemampuan terbaik mereka—sehingga mereka bisa naik menjadi deretan orang-orang kelas top di militer kekaisaran.
Terlebih untuk kasus pembantaian klan Uchiha, pikir Sai, yang sampai sekarang—ternyata sisa-sisanya masih berlanjut. Yang bisa ia harapkan adalah semoga Sasuke tidak lepas kendali lagi seperti kemarin.
"Tak usah terlalu menyalahkan diri. Kita semua tahu kan, banyak musuh yang menghalangi kita kemarin." Kata Sai pendek, separo menghibur, separo ragu.
"Hmmm." Naruto menengadahkan kepala. "Belum ada perintah lebih lanjut lagi dari Kaisar, ya?"
"Belum. Kemarin Kakashi-sensei dan Iruka-sensei mengadakan investigasi singkat dan kabarnya belum ada tanda-tanda lagi dari pasukan pemberontak itu. Namun tentu saja, kita tak bisa terus bersantai-santai saja."
"Semoga saja kita bisa menekan mereka sebelum mereka maju sampai ke wilayah istana ini," gumam Naruto. "Aku tak dapat membayangkan kalau tempatku dibesarkan dihancurkan oleh mereka. Yah, tak hanya itu—negara ini juga... aku tak akan membiarkan kelompok separatis konyol seperti mereka mengambil alih negara ini. Kaisar harus tetap memerintah, bukan begitu?"
"Hoooo... sudah berapa tahun sejak waktu itu, ternyata kau sudah tumbuh, Naruto?" sebuah suara berat membuat Sai dan Naruto nyaris terlonjak. Mereka berdua langsung berbalik dan melihat seseorang yang sudah sangat mereka kenal—terlebih Naruto...
"AAAAAAAHHHHHHH!"
SUASANA dojo tampak sepi, hanya ada beberapa orang saja yang berlatih. Tim Sai dan Naruto sedang berlatih di luar, karena itu prajurit yang lain diberi waktu libur. Dan sebagian besar prajurit kelihatannya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan libur ini; ada yang pergi keluar, pulang ke rumah orang tua, atau hanya bersantai-santai saja di barak, atau malah: mampir ke tempat peristirahatan dayang. Mencari keberuntungan kalau-kalau dayang incaran mereka sedang tidak ada pekerjaan.
Namun kata 'libur' tidak berlaku bagi Uchiha Sasuke. Baginya, sekarang adalah saatnya pemulihan. Berhari-hari, tidak, berminggu-minggu dia tidak dapat berlatih, bahkan hanya bisa beristirahat di dalam kamar. Dan setiap hari Naruto datang hanya untuk meledeknya 'Tuan Uchiha Sasuke yang hebat sekarang hanya bisa terbaring di kasur'. Setelah masa pemulihannya selesai, akhirnya dia dapat berlatih kembali—ternyata kembali membiasakan diri dengan latihan agak sulit. Hanya melakukan latihan dasar saja tubuhnya sudah pegal-pegal.
Sasuke menghentikan latihannya. Napasnya terasa berkejaran. Membuatnya dongkol sendiri. Dia lalu duduk di atas lantai kayu dojo yang dingin, dan melonggarkan hakamanya, Lalu terdiam lama. Matanya menatap sekilas deretan senjata yang sedari tadi dipakainya—hanya katana saja yang sedari tadi disarungkannya.
Ngomong-ngomong, batinnya, pikirannya mulai melayang entah kemana. Dia juga jarang terlihat akhir-akhir ini... mungkin musim panas membuat para wanita jadi takut kena serangan panas dan dehidrasi?
Kemarin-kemarin juga, karena alasan pemulihannya Sasuke tak dapat keluar rumah kecuali di saat yang diperlukan—termasuk malam hari. Praktis kegiatannya akhir-akhir ini hanya berkisar rumah-ruang rapat bawah tanah istana-rumah-ruang rapat bawah tanah istana. Dan kalau malam hari dia tidak bisa keluar, berarti dia tidak bisa melakukan kegiatan favoritnya; jalan-jalan malam. Dan kalau dia tidak jalan-jalan, berarti dia tidak bisa menemui gadis yang tiap malam menatap langit itu. Padahal setelah beberapa kali, itu jadi kebiasaan—
Sasuke menggelengkan kepalanya cepat dan menggaruk rambutnya kesal. Kelihatannya selain terjadi kesalahan pada tubuhnya, mungkin kepalanya juga sakit...
"Er... hai?"
Hampir saja Sasuke terjatuh melihat siapa yang memanggilnya. Buru-buru dia membereskan peralatannya, namun suara itu mencegah. "Eh—tidak usah. Silakan lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu."
"Bukan begitu. Aku juga baru akan selesai." Sasuke menyahut cepat. "—Hanya beristirahat sebentar."
Ia bangkit dan membetulkan hakama seragamnya—hakama berwarna putih yang merupakan bagian dari seragam resmi kekaisaran. Tak ada siapapun di sekitar situ. Liburan rupanya membuat para prajurit memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, apalagi karena Kaisar sekarang menatapkan sistem shift. Sekarang tak ada libur bersama, tiap pasukan diberi giliran libur, dan itu membuat mereka agak kerepotan.
Sakura tersenyum mendengarnya. "Begitu? Bukankah kalian sedang mendapat libur sekarang?" ia duduk di beranda dojo, membiarkan bagian bawah kimono hijaunya tersaput debu. "Sepertinya kau tidak berminat mengambil libur. Apalagi kau juga baru sembuh. Bahkan seorang Hyuuga Neji pun memilih pulang ke rumah keluarga Hyuuga," katanya, terkikik geli mengingat Neji yang kelihatannya heboh sekali saat menjemput Hinata pagi tadi.
"Terlihat begitu?" Sasuke mengambil handuk, melap keringat yang membuat rambutnya lengket, lalu berjalan ke dekat beranda. "Kegiatan liburan bisa apa saja, kan? Dan di atas banyak pilihan itu, aku memilih berlatih." Pria itu berujar sambil berjongkok di sebelah gadis itu—sudah lebih rileks sekarang. "Kemarin aku terlalu banyak libur."
Sakura tertawa. "Itu 'pemulihan', bukan 'libur', kan? Seharusnya liburan itu diisi dengan kegiatan bersenang-senang..." Sakura berpikir sebentar, "kalau aku, mungkin sudah pergi entah kemana. Ini musim panas, mungkin aku akan mencari hutan di dekat sini yang sejuk dan ada danau... sayang sekali di Konoha tidak ada laut."
Lelaki di sebelahnya tersenyum tipis, membuat Sakura merasa wajahnya panas. "Ah. Betul juga. Tapi masih lebih baik daripada Suna yang dikelilingi angin panas dan padang pasir..." tangannya mengambil katana yang dari tadi menganggur saja. "Tapi bagiku sekarang ada yang lebih harus diutamakan. Begitu juga dengan anda—bukan begitu?"
Sakura hanya tersipu mendengar kalimat bernada formal dari Sasuke—pertanda penekanan. "Tentu saja. Aku hanya bercanda, kok. Silakan berlatih sesuai yang anda mau, tuan Jenderal," balasnya pada Sasuke, membuat pria itu meringis. Pandangan Sakura tertumbuk pada benda yang ada di sana. Deretan senjata—kunai, shuriken, panah, dan sesuatu yang berbeda—terbungkus kulit tebal hitam.
"Apa itu?" ia bertanya antara penasaran dan ragu. "...senjata...?"
"Apa? Maksudmu ini?" Sasuke mengambil katana bersarung hitam itu dan meletakkannya di pangkuannya. "Bukan apa-apa. Hanya katana milik Ayah." Perlahan ia membukanya, menimbulkan suara logam yang berdecit.
Pedang itu seukuran pedang panjang biasa. Lambang keluarga Uchiha terukir di gagangnya dengan gagah, berwarna dasar baja yang hitam dengan warna merah yang anggun dari tembaga. Mata pedangnya tampak berkilap meskipun jelas umur benda itu bukan setahun-dua tahun. Terlihat tajam dan siap dipakai menebas siapa saja. Bukan benda yang aneh, tetapi juga tidak biasa.
Sakura mengangkat wajah. "Milik ayahmu?" jemarinya yang halus menyusuri lekukan-lekukan baja pedang itu. Tak berdebu sama sekali. "Benda ini tentu sangat berharga bagimu."
Tatapan Sasuke melembut mendengarnya. Dan Sakura menyadarinya—karena wajahnya tiba-tiba saja jadi panas. Pandangan lelaki itu menerawang. "Hanya ini yang tersisa. Selain aku, kakakku, dan nama keluarga kami." Sasuke menghela napas. "Ayahku—dia selalu bilang suatu saat Itachi yang akan memilikinya. Karena dialah yang paling pantas..."
Sakura diam. Ia sedikit tahu apa maksud Sasuke. Saat Sakura pergi ke Nijigakure, Itachi-lah yang mengawalnya. Dan Itachi banyak bercerita tentang masa kecil mereka. Termasuk keadaan Itachi yang lebih banyak berada di luar karena pelatihannya dan tuntutan ayah mereka.
"...tetapi dia mempercayakan benda ini padaku. Ada banyak alasan, sih—tapi suatu saat aku pasti akan menentukan dengan caraku sendiri siapa yang lebih pantas membawa pedang ini. Aku tak mau memegangnya hanya karena Kakak kasihan padaku," Sasuke menandaskan.
Sakura tertawa mendengar ungkapan yang sedikit terdengar kekanakan itu. Wajah Sasuke merengut dengan ekspresi bertanya 'mengapa-tertawa'. Menyadari hal itu, Sakura mencoba menghentikan tawanya.
"Kalian berdua akur sekali," kata Sakura di antara tawanya, "mungkin begitu ya rasanya punya saudara. Kadang aku ingin merasakannya walau hanya sebentar saja."
Sasuke hanya tersenyum masam. "Ah—sudahlah. Yang pasti aku harus memakainya dengan hati-hati..." ia mengikatkan tali kulit katana yang tadi terbuka, "tak bisa memakainya sembarangan karena ini bukan senjata yang sekali pakai lalu dibuang."
"Lalu?" Sakura menanggapinya dengan senyum, "pada saat seperti apa kau akan menggunakannya?"
Katana Uchiha itu—nyaris saja kemarin dia memakainya. Padahal dulu, dulu sekali—ayahnya sudah berkata agar tidak memakai katana itu sembarangan. Beruntung kemarin dia memutuskan untuk tidak membawanya. Kalau saja dia pergi membawanya, bisa-bisa sekarang dia hanya bisa bersembunyi karena malu. Malu karena pada akhirnya dia harus kehilangan kendali dan mungkin, mungkin—berakhir menyedihkan di tangan Orochimaru.
Eh, tidak. Sebenarnya kemarin saja hal itu sudah cukup membuatnya malu.
Sasuke terdiam sejenak. "Mungkin—saat aku melindungi sesuatu yang penting—bagiku."
Mereka berdua berpandangan. Sesuatu yang penting...
Seperti apa?
"Orang yang penting—seperti..."
"OI, SASUKE!"
Mereka berdua sontak memalingkan wajah ke arah lain—ke arah suara itu berasal. Seorang pria usia pertengahan dua puluhan melambaikan tangannya ke arah mereka, lalu setengah berlari, pergi ke arah Sasuke dan Sakura duduk. Wajahnya sudah tidak asing.
"Ah, Itachi-san!" Sakura membalas lambaian tangannya, "kau datang lagi rupanya?"
Yang dipanggil tersenyum tipis. Lalu membungkukkan tubuhnya memberi salam. "Saya kembali, Sakura-hime," jawabnya tenang. Ia menoleh ke arah Sasuke yang wajahnya sama sekali tidak senang. Sementara Sakura tampaknya tak menyadari hal itu.
Sakura bangkit dan menepuk-nepuk kimononya yang terkena debu, lalu pamit. "Kalau begitu, mungkin kalian ada pembicaraan penting? Aku akan pulang ke Istana timur. Selamat berbincang-bincang, ya?" Ia menganggukkan kepalanya pada Itachi.
Itachi balas mengangguk. Gadis itu tersenyum manis, lalu menoleh ke arah Sasuke yang menopangkan dagu ke tangannya. "Sasuke—aku pergi dulu. Sampai nanti."
Tak lama, sosok gadis itu pun mejauh. Hanya tinggal warna kimononya yang terlihat cerah di antara gersangnya lapangan barat.
Orang yang paling penting.
Yang akan kulindungi dengan katana ini...
"KUKIRA kau sedang beristirahat. Memangnya kau sudah pulih benar?"
Sasuke melirik pria itu tajam. "Bukannya kau sudah kembali ke Suna? Mengapa tahu-tahu kau muncul di sini?"
"Ah—kau marah karena kuganggu rupanya. Maaf, maaf." Itachi terkekeh melihat Sasuke yang langsung memalingkan wajah. "Memangnya aku tidak boleh menjenguk adikku tersayang, eh?" ia menepuk bahu Sasuke keras-keras, membuat Sasuke berjengit. "Tuh, kan. Kau belum pulih benar. Kemarin juga bahumu terluka, tuh."
Sasuke merengut. "Aku tahu," ujarnya sambil menurunkan tongkat yang sedari tadi dipegangnya. "Tapi tak ada salahnya 'kan, berjaga-jaga. Jangan sampai aku malah merepotkan yang lain—atau lebih parah, malah diselamatkan yang lain. Bukannya menyelamatkan orang lain."
"Oh, adikku yang bodoh." Mendengar kalimat itu, Sasuke langsung menatap Itachi tajam. Itachi hanya terkekeh. "Maksudku, bodoh, latihan memang perlu, tapi pemulihan juga tak kalah penting." Ia memperhatikan Sasuke yang masih terbalut perban di balik hakama seragamnya. "Ah. Tapi tak apa-apa juga, sih. Gerakanmu sudah cukup stabil, meskipun masih terluka. Kemampuanmu boleh juga. Tapi memangnya apa sih yang membuatmu terburu-buru?"
Sasuke mengerutkan kening. "Aku tidak terburu-buru. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan."
Itachi menyeringai, mendekati Sasuke, dan menjentikkan jarinya di kening Sasuke—membuat Sasuke mengernyit lagi mendapat perlakuan saat masih kecil itu. Melihat reaksi Sasuke, Itachi hanya tersenyum kecil. "Kau terlihat tak ingin keduluan." Ucapnya. Sebelum Sasuke membantah, dia sudah melanjutkan kata-katanya, "Kau tak ingin kalah dari anak berambut merah itu, ya?"
Sasuke terdiam, tak bisa melawan kata-kata kakaknya. Separuhnya memang benar. Sampai hari ini dia masih tak dapat memaafkan dirinya sendiri soal kemarin. Kesalahannya benar-benar berlipat ganda. Mulai dari lepas kendali, ditahan oleh Gaara—malah pria itu yang membawanya kembali ke desa, lalu berkata kasar pada Sakura, dan lagi-lagi Gaara—kalau bisa dibilang, secara tidak langsung—yang bisa membuat mereka kembali bicara. Euh—tapi tetap saja masih canggung.
Benar-benar pengecut.
"Yah, semangat boleh, sih, tapi kalau begini... tidak baik juga untuk kesehatanmu, kan? Lebih baik tunggu sampai tubuhmu pulih dulu, baru berlatih." Itachi melirik Sasuke, "meskipun mungkin bagimu itu neraka, sih."
Sasuke mendengus, membuat Itachi nyengir. "Memang neraka," gerutunya, "ada di kasur sepanjang hari dan hanya bisa membaca buku... dan dihantui si bego itu sekali sehari. Siapa saja bisa kena trauma otak akut."
Itachi terkekeh mendengar komentar Sasuke. "Maksudmu, Naruto? Waduh, dia yang paling mengkhawatirkanmu lho, kemarin—" melihat ekspresi Sasuke yang langsung bergidik, ia buru-buru melanjutkan. "Di samping Sakura-hime, tentu saja."
"Euhm." Sasuke segera membalikkan tubuh, mengantisipasi kalau-kalau Itachi akan meledeknya lagi, karena tiba-tiba saja wajahnya jadi terasa panas. Uh, mengingat kejadian kemarin malah membuatnya malu sendiri. "Ya sudah. Ngapain lagi kau ke sini? Jangan bilang kau datang untuk liburan."
Itachi tahu adiknya itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan, namun membiarkannya saja. Lagipula, mana sudi dia dibilang datang ke sini hanya untuk liburan. Kalau begitu, lebih baik dia tetap di Suna bersama gadis-gadis cantik itu—ups.
"Bisa dibilang ini mengenai kelanjutan kemarin." Ia menyandarkan tubuhnya di sisi jendela, sambil memperhatikan adiknya itu kembali berlatih. "Sepertinya Kaisar memutuskan kalian butuh latihan tambahan. Maksudku, bukan berarti kemampuan kalian kurang—yah, kau tahu, meskipun pangkat kalian sudah tinggi, toh kalian masih muda, sehingga butuh orang lain yang khusus."
Sasuke berhenti. "Pelatihan khusus? Biasanya juga Kakashi-sensei sesekali datang dan melakukan banyak hal."
"Bukan, bukan oleh Kakashi-sensei. Sebenarnya, misi Kakashi, Shizune, dan Iruka kemarin juga bukan hanya untuk investigasi. Mereka juga memanggil orang itu. Keberadaannya sangat khusus karena ini juga berkaitan dengan orang-orang top di kekaisaran, lho."
"Siapa? Jangan-jangan—"
"Betul," Itachi menganggukkan kepala. "Si mesum itu."
LAPANGAN barat yang tadi masih penuh dengan dentingan senjata atau teriakan para prajurit kini terhenti. Yang ada hanya mata-mata yang saling berpandangan kaget atau memandang ke arah bangku itu sambil setengah menggosok-gosok mata. Seorang lelaki tua, dengan rambut yang panjang dan putih, di tubuhnya menggantung botol-botol arak yang sebagian kosong, sebagian berisi. Pakaiannya benar-benar tidak mencerminkan penampilan kakek-kakek bijak. Namun yang paling mengerikan adalah: wajahnya yang mengandung kemesuman tingkat tinggi.
Sai, seperti biasa, tersenyum dengan wajah tanpa dosa—lalu menundukkan kepalanya memberi salam. "Selamat datang, Jiraiya-sama. Sudah lama tidak melihat wajah anda di lingkungan istana—apa yang membuat anda kembali?"
"Ha, Sai, kau juga, seperti biasa selalu memasang wajah sok suci itu, ya—hik!" Dia menggoyang-goyangkan botol-botol arak yang dipegangnya, tampak tidak seimbang. Sai mengernyitkan kening mendengar komentarnya, namun tetap mempertahankan senyumannya. Lelaki itu menoleh. "Dan Naruto—sedih sekali kau malah menyambutku seperti itu."
Wajah Naruto sama sekali tidak senang.
"SANNIN MESUM!" Naruto langsung melompat mundur melihat sosok kakek-kakek bergaya sok muda yang hanya berjarak dua langkah itu. "NGAPAIN KAU DI SINI, HAH? PULANG SANA KE GUA KATAK!"
"Mengapa harus 'Sannin mesum', sih?" Jiraiya menggeleng-gelengkan kepala. "Aku 'kan datang ke sini untuk tujuan penting, tahu. Kalau tidak, ngapain aku repot-repot datang ke sini dan meninggalkan haremku yang indah di daerah selatan?"
Sai mengernyitkan kening (lagi) mendengar kata 'harem' yang dilontarkan kakek tua tak tahu malu itu, sementara mulut Naruto sudah menggantung di bawah dagu. Sai tersenyum lagi dengan ekspresi super sinis kali ini. "Maksud anda kedai-kedai minum yang menjadi wilayah kekuasaan anda itu, kan, Jiraiya-sama?" tukasnya cepat.
Tawa Jiraiya kembali membahana. "Yah, begitulah! Kau tahu kan Kaisar memberiku wilayah bagus di sana—dan kulakukan tugasku dengan baik! Ngomong-ngomong... aku belum menjelaskan tujuanku datang ke sini ya, sepertinya?" pria tua itu duduk seenaknya di bangku, lalu melambaikan tangannya ke arah para prajurit untuk berlatih lagi, karena tadi sepertinya sempat terhenti.
"Memang," Naruto mendengus, "karena kau terlalu sibuk membanggakan harem-mu!" Ia berkata sebal, namun jelas-jelas wajahnya menunjukkan ekspresi iri.
"Hahahahaa! Nanti kau juga akan merasakan, Naruto—kalau kau sudah dewasa," tukas Jiraiya. "Aku harus segera pergi menghadap Kaisar setelah ini. Namun kubocorkan pada kalian saja dulu, ya... aku datang ke sini untuk..."
Hening lagi,
Lagi,
Lagi,
Dan lagi...
"APAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!"
"Memberi para panglima pasukan kekaisaran latihan khusus—ya, kalian maksudku!"
To Be Continued
thanks to
.hoshi. Na-chan
Akina Takahashi
Ambudaff
Aria-themosquitorepellent
Cattleya Queen
Deeandra Hihara, Philip-William-Wammy, dan Darbi Arks XIII
Dhien Archuleta
Dilia Shiraishi
Emi Yoshikuni
Evey Charen
Eye-of-blue
Faika Araifa
Hayate-Yuuya
Hazelleen
Hyuuga Nala
Juraquilejana
Kakkoii-chan
Karupin.69
Kobayakawa Zerou
Kosuke 'Gege' Maeda
Kristi Tamagochi
Lawra-chan
M4yura
Maa-chan-tik
Mel-chan Toyama
Miyu201
Mizuhashi Azumi
Moo-chan the Authoress
Myuuga Arai
nyXb3La
Pink to Blue
Pink-Violin
Rhea-Rhea
Rie-s4n
Rin Kajuji
Sabaku no gHee (15205060)
Sabaku no rAy
Sahara ZhafachieQa
Sakura_momo
SheilaLuv
Tazzu Aldehid
TensaIsBaka
TheIceBlossom
Toya-chan_LuvHinagiku
Uzumaki Khai
Vita Way (terima kasih untuk e-mail penyemangatnya!)
and others
Ngomong-ngomong, chapter depan mungkin akan ada sedikit aksi lagi. Yah, tahu kan, siapa 'si mesum' itu. Dan dia datang untuk... menjamah dada Tsunade? BUKAN!
Terima kasih sudah membaca.
blackpapillon
