Tahun baru telah tiba. Seharusnya musim semi sudah menggantikan musim dingin tahun 232 yang begitu dahsyat. Sejak kembali dari gunung, Permaisuri Zhang terlihat begitu kalem dan damai. Tidak banyak yang ia ungkapkan, baik secara emosi maupun kata-kata. Ia mengutarakan keinginannya untuk mengikuti perdana mentri Zhuge Liang berkampanye ke utara, namun tidak diizinkan oleh sang Kaisar.
"Bila kau pergi, siapa yang akan membantuku mengurus masalah-masalah negara? Xing Cai, negara ini butuh kau di sini." Bujuknya.
Atau di lain waktu, "Belum puaskah kau pergi selama lima tahun lamanya? Tidakkah kau rindu padaku? Tidak apa-apa, perang itu urusan lelaki, kita sebagai anggota keluarga kerajaan sebaiknya tetap tinggal di sini. Lagipula, aku butuh bantuanmu, Xing Cai."
Ia telah kembali pada kehidupan nikmat yang serba instan. Setiap pagi ada dayang yang sudah siap dengan baskom untuk mencuci wajah, sarapan diantar ke dalam kamar, bila ia lelah, ada yang menawarkan untuk memijit bahunya. Hidupnya terjamin, makanannya enak-enak, nasinya jelas terasa lebih empuk. Pakaian bagus dan indah bisa ia pakai setiap hari. Ia bisa bereksperimen terhadap riasan wajahnya, membaca buku apapun yang ingin ia baca, menonton seniman bernyanyi sambil menari, dunia telah kembali dalam genggaman tangannya lagi.
Namun semuanya terasa hampa.
Permaisuri Zhang jadi benci bercermin, ia merasa tidak mengenal siapa gadis yang terpantul dari cermin itu sama sekali. Kala malam datang dan orang-orang akhirnya meninggalkan dia sendiri, ia hanya menatap bulan dan menangis.
Kadang ia mengadu, "Kenapa dunia tidak mengizinkanku terus bermimpi?"
Seberapa inginnya dia untuk melupakan mimpi itu, namun setiap hal yang ia lakukan, mengingatkannya kembali kepada sang kekasih.
"Beberapa orang hidup untuk mengejar peruntungan
Beberapa orang hidup demi kejayaan
Beberapa orang lain hidup memperebutkan kekuasaan
Beberapa orang hidup hanya untuk bermain-main.
Beberapa orang mengira bahwa benda-benda duniawi dapat memapankan hati
Tidakkah kehidupan seperti itu membosankan?
Begitu dangkal …
Beberapa orang ingin segalanya.
Tapi aku tidak ingin apapun
Bila itu bukan kau
Bila aku tidak dapat memilikimu
Beberapa orang ingin cincin berlian
Beberapa ingin segalanya
Namun segalanya tidak berarti apa-apa
Bila aku tidak dapat memilikimu
Beberapa orang mencari keabadian
Beberapa orang butuh berlusin-lusin bunga
Hanya untuk membuktikan cinta.
Berikan padaku seluruh dunia ini,
Sajikan di atas piring perak
Apa bagusnya itu, dengan tidak ada seorangpun untuk berbagi,
Atau seseorang yang sungguh-sungguh mempedulikanku?
Beberapa orang ingin segalanya.
Tapi aku tidak ingin apapun
Bila itu bukan kau
Bila aku tidak dapat memilikimu
Beberapa orang ingin cincin berlian
Beberapa ingin segalanya
Namun segalanya tidak berarti apa-apa
Bila aku tidak dapat bersamamu
Tak ada satupun di seluruh dunia luas ini yang berarti
Bila aku tidak bersama denganmu di sini, kekasihku"
Suatu saat, ketika sedang mengerjakan pekerjaan sang Kaisar dan melihat-lihat petisi dari seluruh negeri, Permaisuri Zhang mendapat laporan bahwa terjadi keributan di ruang pertemuan kaisar. Kaisar merasa sangat bingung harus berbuat apa dan mengharapkan kehadiran Permaisuri Zhang sekarang juga.
Permaisuri Zhang segera meninggalkan pekerjaannya, kemudian ia berjalan agak cepat menuju ruang pertemuan. Betapa terkejut sang permaisuri saat melihat ada seorang lelaki yang sedang dikepung. Ia sedang dibentak-bentak Perdana Mentri Zhuge Liang, dengan Ma Dai menodongkan pedang ke arahnya.
"Aku tidak butuh seorang yang tidak tahu malu seperti kau dalam pasukanku!" bentak Zhuge Liang dengan marah pada lelaki itu.
Namun pria itu tetap tegar. "Aku telah memahami kesalahanku, dan izinkanku untuk menebusnya."
"Tidak! Pergi atau kuperintahkan Ma Dai untuk memenggalmu!"
Guan Suo berlutut dengan tegar. "Anda boleh cabut nyawa saya sekarang juga, saya tetap pada pendirian saya! Saya ingin ke utara!"
Wajah Zhuge Liang sudah memerah karena marah sekarang.
"Penggal dia, Ma Dai!" perintahnya.
Mendengar itu, Permaisuri Zhang segera menyeruak kerumunan dan berdiri di antara Guan Suo dan Ma Dai. "Tunggu dulu, ada apa ini? Perdana Mentri, coba terangkan duduk permasalahannya. Kenapa anda begitu tidak menghormati kaisar dengan membunuh seseorang di ruangan ini, sementara kaisar sendiri tidak memutuskan apapun?"
Perdana Mentri Zhuge Liang melirik tajam pada Permaisuri Zhang. Lirikan getir yang seakan meludah ke wajahnya, mengatai sang Permaisuri dengan sebutan munafik. "Aku tidak percaya kata-kata itu muncul dari seorang permaisuri yang …"
"Perdana Mentri…" tegur Permaisuri Zhang dengan sabar.
Zhuge Liang terdiam. Sesuai perjanjian, Xing Cai meminta agar tidak ada yang mengungkit masalah skandalnya dan tidak memberitahu Liu Shan. Sebagai gantinya, ia tidak akan kembali pada Guan Suo dan tidak akan meninggalkan Shu lagi.
Kemudian Zhuge Liang menghela nafas, menenangkan diri dan berbicara. "Ampuni kelancangan hamba, permaisuri. Orang ini datang tadi pagi, dengan kurang ajar langsung menghadap ke tempat ini. Ia mengungkapkan keinginannya untuk ikut dengan pasukanku, berangkat ke utara. Ia bilang ia ingin berbakti pada negara."
Guan Suo melanjutkan. "Seumur hidupku, aku sadar aku hanya berjalan ke sana kemari dan membunuh orang yang kubenci saja. Aku sama sekali tidak merasa ada sesuatupun yang berguna dari hidupku yang bisa dibanggakan. Aku bukan orang cerdas dan hanya bisa mengandalkan kekuatanku. Bilapun tenagaku tidak bisa dibutuhkan oleh strategi-strategi Perdana Mentri, setidaknya biarkan aku menjaga Perdana Mentri sebagai pengawal pribadi."
Tanpa beranjak dari sisi Guan Suo, permaisuri Zhang berkata, "Ia berniat tulus untuk bertobat, dan ingin dirinya dimanfaatkan agar berguna. Kenapa tidak kita beri dia kesempatan?"
Mengingat hubungan gelap sang permaisuri dengan Guan Suo, Zhuge Liang yang masih marah itu menjadi serba salah. Ia ingin sekali mendebat permaisuri yang dirasanya berat sebelah, namun ia tidak mungkin bicara seenaknya di hadapan kaisar.
"Ampun, Paduka Permaisuri, sejak saya mendengar apa yang telah dilakukannya, saya sudah gemas sekali ingin menghajar dan membunuhnya. Beruntung jendral Zhao Zilong menghalangi saya untuk ikut pergi saat itu sehingga saya tidak mendatangi dia dengan pasukan saya dan memerintahkan untuk memenggalnya di tempat. Tapi sekarang dia berani-beraninya muncul di hadapan saya dan malah bicara seperti ini!"
Ma Dai yang juga tidak ingin membunuh Guan Suo, kemudian berusaha membujuk Zhuge Liang. "Perdana Mentri, saya masih ingat ketika pertama kalinya Guan Suo muncul di perkemahan kita yang akan menuju ke Nanman. Saat itu saya bersikeras untuk membunuhnya, namun anda bersikeras tidak setuju. Kenapa anda tidak mengingat masa-masa itu dan mengampuni dia?"
Beberapa saat kemudian, datanglah pembawa pesan darurat tergopoh-gopoh masuk ke ruangan untuk melaporkan kabar buruk. Melihat ruangan kaisar sedang ribut-ribut, ia sangat terkejut sehingga tidak bisa berkata apapun.
Namun Kaisar Xiaohuai yang pusing dengan perdebatan antar anak buahnya yang tidak dapat ia mengerti duduk permasalahannya itu, mengijinkan pembawa pesan itu untuk bicara.
Pembawa pesan itu berkata dengan sedih. "Jendral Zhao Zilong…ia baru saja meninggal dunia!"
Seketika ruangan itu menjadi begitu rusuh. Orang-orang sibuk bicara sendiri dan merasa panik. Zhao Zilong adalah pilar utama negara ini dan tanpa dia, mereka semua seperti kehilangan rasa percaya diri. Tidak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan.
Zhuge Liang begitu sedihnya hingga ia terjongkok di atas lantai sambil mengusap matanya penuh duka dan keputus-asaan. Ketika mengangkat wajahnya lagi, Perdana Mentri tua itu rupanya baru saja menangis.
Dengan marah ia menunjuk Guan Suo sambil berteriak, "sudah, bunuh saja serigala tidak berguna ini!"
Guan Suo tidak mengerti dimana logikanya, mengapa Jendral Zhao Zilong tewas, ia yang harus dibunuh.
Melihat para pengawal menyeret Guan Suo dan menarik kepalanya, terlebih saat salah seorang pengawal menghunus pedangnya siap memenggal kepala Guan Suo seperti hewan jagal, hati permaisuri serasa dicabik-cabik. Ia tahu bahwa ia harus dapat mengatur perasaannya, ia harus menahan diri agar tidak memeluk lelaki itu dan memerintahkan semua orang agar tidak menyentuhnya dengan kasar seperti itu. Ia berharap seseorang muncul untuk melakukan sesuatu demi menyelamatkan Guan Suo.
Kaisar kebingungan harus memutuskan apa, ia terbiasa menyerahkan segala keputusan di tangan permaisurinya. Sementara itu, Ma Dai membuang mukanya dengan sedih, sibuk menyesali sahabatnya dalam hati. Serta-merta, Permaisuri Zhang berlari kencang dan mencegah si prajurit yang hendak mengayunkan pedang yang sedang terayun untuk memenggal kepala Guan Suo.
"Tahan, jangan bunuh...tunggu sebentar. Jangan ada yang mengayunkan senjata!"
Semua mata terbelalak melihat permaisuri menahan mata pedang itu dengan kedua telapak tangannya. Tetesan-tetesan darah yang mengalir keluar dari telapak tangan sang permaisuri dan terjatuh di lantai istana, menghisap perhatian semua orang di ruangan tersebut.
Zhuge Liang semakin tidak karuan hatinya melihat apa yang dilakukan sang permaisuri. Ia hanya bisa menunjuk-nunjuk Permaisuri Zhang dengan gemas dan wajah memerah tanpa bisa berkata apapun.
Permaisuri Zhang menghampirinya dengan sabar. Sekalipun kedua tangannya terluka cukup lebar, wajahnya terlihat anggun seperti biasa, dengan senyum tipisnya yang hampa, sepasang mata yang berkaca-kaca tanpa berkedip, sang permaisuri berkata pada Perdana Mentri. "Kau salah paham. Aku tidak mencintai dia. Aku hanya mencintai kaisarku."
Guan Suo sangat sakit hati mendengar pengakuan itu. Kaisar Liu Shan mengangguk dan tersenyum pada permaisurinya, sang permaisuri membalas dengan senyum dan sebuah hormat.
Kemudian permaisuri kembali bicara pada Zhuge Liang. "Anda lihat? Aku tidak mencintai dia…jadi …"
Sebutir air mata bergulir mulus dari pelupuk matanya, sementara suaranya agak terbata-bata, "…jadi tolong….jangan bunuh dia, …"
Melihat air mata itu, Zhuge Liang menghela nafasnya sambil memejamkan kedua matanya, mencoba untuk kembali pada kesabarannya. Dengan nada bicara yang lebih tenang, Perdana Mentri bertanya, "kau tahu kenapa Zhao Zilong meninggal dunia?
Keduanya bertarung hebat, kadang tebasan Guan Suo merobohkan pohon, tanah-tanah terkuak lepas saat kaki mereka berpijak mencari sebuah tumpuan.
Pada akhirnya, Zhao Zilong menyerang senjata yang digunakan Guan Suo hingga terjatuh dari tangannya. Guan Suo bertindak cepat menangkap senjata Zhao Zilong dan melontarkan tinjunya menghantam dada Zhao Zilong. Serangan itu dengan telak berhasil membuat pakaian pelindung Zhao Zilong menjadi penyok.
Luka tenaga dalam. Jangka panjang.
"Orang ini yang membunuh jendral Zhao Zilong perlahan-lahan! Ia mengalami luka dalam setelah pertarungan dengannya!" kata Zhuge Liang sambil menunjuk-nunjuk Guan Suo dengan kedua jarinya.
"Jendral Zhao Zilong juga manusia biasa, beliau bukanlah mesin-mesin perang kita yang bisa kita gunakan terus untuk melawan musuh, bukan? Semua orang bisa lahir dan mati, kita harus bisa menerima kepergian seseorang."
"Tapi tidak ada yang bisa menjamin kesetiaannya!" Zhuge Liang menepis dengan tangannya. "Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak bisa dipercaya!"
"Aku mengenal dia sejak kecil, mungkin dia agak kurang meyakinkan, tapi bila kau beri dia kesempatan, ia akan menunjukkan padamu bahwa kau tidak akan menyesal." Bujuk permaisuri.
Zhuge Liang terdiam saja, bimbang mengambil keputusan. Ia baru saja mengesekusi Ma Su kemarin karena ia salah perhitungan. Ia sadar bahwa dirinya kurang pandai melihat orang berbakat. Maka dari itu ia harus sangat berhati-hati.
Permaisuri Zhang berlutut di hadapan Zhuge Liang. "Aku memohon padamu untuknya yang sudah seperti saudaraku sendiri."
Sang Perdana mentri tidak percaya bahwa permisuri Zhang rela berlutut seperti ini di hadapan orang banyak. Selagi Zhuge Liang berusaha memberdirikan sang Permaisuri, Ma Dai sudah berlutut juga dan memohon agar Zhuge Liang mengampuni dan memberi Guan Suo kesempatan sekali lagi.
Melihat itu, beberapa orang lain yang juga sedikit banyak mengetahui bakat Guan Suo karena pernah berperang bersamanya di Nanman dulu, turut berlutut memohon maaf baginya dan agar ia ikut dengan ekspredisi keempat dan berikutnya ke utara.
Melihat begitu banyak orang mendukung Guan Suo, Zhuge Liang akhirnya luluh. "Baiklah. Guan Suo, kau akan ikut aku ke utara, kau akan menjadi pengawal pribadiku."
Permaisuri Zhang yang pertama kali berterima kasih pada Zhuge Liang atas pengampunan tersebut. Setelah Zhuge Liang meninggalkan ruangan tersebut, teman-teman Guan Suo tertawa-tawa dan menyelamati Guan Suo. Mereka melepaskan ikatan Guan Suo dan bersuka cita untuknya.
"Dengan adanya kau bersama kami, ku yakin kita tidak akan kesulitan."
"Ah sayang Jendral Zhao Zilong baru saja meninggal dunia. Bila tidak, aku ingin melihat kalian berdua berduet mengacaukan formasi lawan."
Ma Dai menghampiri Guan Suo dan memberinya peringatan seirus, "kau telah diberi kesempatan kedua. Jangan kecewakan kami."
Setelah itu Permaisuri Zhang dengan gaya formal, menggandeng Guan Suo untuk dikenalkan kepada Kaisar Xiaohuai.
"Yang Mulia, perkenalkan, ini putra Jendral Guan Yunchang, Guan Suo. Ia sudah seperti saudaraku sendiri."
"Ya, kita kan sudah pernah berkenalan dulu." Liu Shan tertawa damai.
Guan Suo menghela nafas, kemudian ia memberi hormat, berlutut hingga dahi menyentuh lantai. Kaisar menghampirinya untuk mengangkatnya berdiri.
Bila ada yang membaca sampai sini, saya ingin memohon maaf sebesar2nya, tidak bisa meneruskan lagi cerita versi FFN. karena baru ingat kenapa berhenti menulis di FFN. Versi FFN ini tidak lengkap, krn tidak ada muatan prolog dan epilognya.
kalau ingin melihat ending, prolog dan epilognya, mungkin silakan tengok ke wattpad dot com , dengan judul "Folktale".
sori, tak bermaksud bersikap menyebalkan atau sok jago nulis, I'm just simply too lazy to edit everything.
sekalipun begitu, terima kasih banyak kalau anda sudah membaca sampai halaman ini.
salam.
(cerita ini sudah lama tamat, just too lazy to update in FFN)
