Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.
(Both were KibaIno stories XD)
.
Disclaimer : I only own the story
.
Love and Hatred
.
Warning! : Mainstream Idea
.
.
.
Chapter 20
Osaka
Mansion Hyuuga
TIK... TOK... TIK... TOK...
Detakan jarum terpanjang dari jam dinding terdengar cukup nyaring karena suasana ruang tamu yang mendadak senyap. Empat orang dewasa duduk saling berhadapan di atas sofa, sementara seorang anak berumur lima tahun tampak tertidur dengan pulas di pangkuan salah satu dari mereka.
Berbagai roman muka tergambar begitu berbeda. Sepasang wajah penuh rasa canggung dan salah tingkah, sebentuk ternaungi ekspresi datar dan dingin serta sisanya memendarkan aroma kegelapan yang cukup mampu membuat bulu kuduk meremang.
Tidak ada yang mau memulai sebuah konversasi, entah mereka terkuasai oleh sebuah ego atau memang tidak ada topik tepat yang sekiranya cocok untuk dilontarkan.
Naruto terduduk gelisah. Jika ada, ingin rasanya dia menggali lantai di rumah Hyuuga ini dan menenggelamkan kepalanya di sana. Sedikit merutuki nasibnya yang selalu sial. Mengapa pula harus bertemu dengan dua orang ini saat waktu terasa begitu tepat untuk mendekati Hinata?
'Aarrrghhhhh!' teriaknya dalam hati. Sebentar mengusak helaian pirangnya hingga berantakan.
"Permisi, aku akan menidurkan Boruto di kamar."
Ucapan lembut Hinata justru bagaikan gemuruh badai petir bagi Naruto. Apa katanya tadi? Mau membawa Boruto ke kamar? Dan meninggalkan dirinya di sini, menghadapi sepasang suami istri yang rumah tangga mereka pernah dia recoki?
Hell no!
"Aaa... Biar aku saja Hinata. Kau pasti tidak kuat mengangkat Boruto sendirian."
Alasan yang menurutnya cukup bagus untuk dilontarkan. Meski justru memperlihatkan kebodohannya dengan sangat jelas. Bagaimana mungkin Hinata tidak kuat mengangkat Boruto padahal itu adalah pekerjaan sang wanita setiap hari?
Mengabaikan pandangan sinis nan meremehkan dari bungsu Uchiha, Naruto berkeras menarik tubuh kecil Boruto dari Ibunya.
"Ti-tidak perlu. Aku bisa membawanya sendiri, Namikaze-san."
Dan suasana menjadi semakin canggung kala Hinata menepis kasar tangannya. Wanita itu mendekap sang anak dalam gendongan dan membawanya pergi. Naruto menelan ludah gugup. Sungguh rasanya ingin mati saja. Meremas erat kedua tangannya dalam satu genggaman, kemudian berbalik dan kembali duduk berhadapan dengan pasangan suami istri tersebut.
Oh!
Sepertinya sebuah keberuntungan bagi Naruto. Atau justru kemalangan?
Karena ternyata wanita musim semi yang tadi duduk di seberangnya saat ini tidak terlihat. Sepertinya Sakura mengalami kecanggungan yang sama dengan dirinya, suatu hal yang wajar mengingat apa yang pernah mereka lakukan.
Naruto duduk bersandar di sofa. Mimik putus asa tergambar jelas pada wajahnya.
Menit demi menit berlalu, tapi tak ada satu katapun terucap di antara dirinya dengan pria stoic di hadapannya. Hinata belum juga kembali, yang menurutnya memang tidak akan pernah kembali ke ruangan ini. Begitupula dengan Sakura, yang dalam pandangannya itu merupakan hal baik. Netra birunya sedikit melirik ke arah Sasuke. Kemudian mengalihkan tatapan ke arah lain, sedikit menyesali keputusannya. Karena nyatanya mata jelaga Sasuke memincing tajam padanya. Mengirimkan kilatan murka yang tiada henti.
"Hahhh..."
Akhirnya pria pirang itu terpaksa berdiri demi menyelamatkan jantungnya yang sudah kebat kebit tidak karuan. Namun, belum genap langkahnya mencapai pintu, suara datar sang Uchiha tertangkap pendengarannya.
"Jangan pernah mengganggu Hinata lagi, Namikaze!"
Naruto berhenti dan terdiam. Sedari tadi waktunya terbuang demi mendengar kesunyian, dan kini saat dirinya sudah hendak melepaskan diri, pria itu justru menyapanya? Oh bukan menyapa, melainkan mengancam.
"Bukan urusanmu, Uchiha!"
"Tentu saja itu urusanku. Segala yang menyangkut Hinata adalah urusanku! Terlebih jika itu berkaitan denganmu."
"Biarkan Hinata mencari sendiri kebahagiaannya. Biarkan Hinata memutuskan semua atas kehendaknya sendiri."
"Kau tidak pantas berucap tentang kebahagiaan, Namikaze! Apa kau lupa justru kau sendirilah yang berkelana kesana kemari demi menghancurkan kebahagiaan orang lain!"
Naruto berbalik. Tangannya terkepal di setiap sisi tubuhnya. Berjalan mendekat seolah mengirimkan isyarat tantangan.
Kini keduanya berdiri berhadapan. Dalam jeda kurang dari satu meter, pendaran amarah tampak jelas menyepuh dua pasang iris kontras itu.
"Semua yang baru saja kau katakan tidak ada hubungannya dengan Hinata. Karena hanya aku sendirilah yang tahu dimana letak kebahagiaanku dan Hinata sendiri yang bisa menilai kebahagiaannya. Jadi, sebaiknya kau jauhkan hidungmu dari mengendus masalah orang lain, Uchiha!"
Satu serangan Sasuke berhasil ditepisnya. Naruto bahkan nyaris mendaratkan satu tendangan di perut pria itu, namun gagal. Kakinya justru mengenai sudut meja. Tubuhnya sedikit berputar sebagai impak besarnya kekuatan tendangan yang dia keluarkan. Sebuah kemalangan kala Sasuke memanfaatkan keadaan itu dengan menendang keras punggungnya hingga tubuh itu tersungkur.
"Hentikan!"
Naruto sama sekali tak mengacuhkan teriakan tersebut, pun rasa sakit pada tulang punggungnya. Teriakan yang memberikan keuntungan padanya karena sempat membuat lawannya lengah. Secepat mungkin Naruto berdiri dan mendorong kasar tubuh Sasuke. Melayangkan tinju pada wajah tampan bungsu Uchiha bertubi-tubi.
"Hentikan, Naruto! Kumohon hentikan!"
Teriakan pilu Sakura terdengar menyayat hati, terlebih saat tinju Naruto mengenai perut Sasuke yang sedang lengah. Rasanya sia-sia ketika tangan mungilnya berusaha menarik Naruto menjauh.
Isakan tergugu wanita merah muda itu sempat menyeru kepanikan. Hinata datang tergopoh-gopoh, membelalakkan kedua bola matanya terkejut. Tubuh kecilnya berlari mendekat, membantu Sakura untuk menarik sebelah tangan kekar Naruto yang bagaikan kesetanan.
Tidak mempan.
Karena kekuatan sang pria pirang yang jauh melebihi kekuatan kedua wanita itu. Ditambah keadaan Sasuke yang sedang tidak fit memberi keuntungan pada Naruto. Membawanya seolah berada di atas angin.
"Hentikan, Namikaze!"
Tidak ada tanggapan. Tubuh Sasuke bahkan mulai melemah. Entah dimana keberadaan pria dewasa lain di rumah ini.
"HENTIKAAANN!"
Hinata terpaksa menambahkan semua beban ke dalam lepasan suaranya demi bisa mengalihkan perhatian Naruto. Dan nyatanya usaha itu cukup membuahkan hasil, ketika Naruto menghentikan pukulannya. Terduduk dan bersandar pada kaki meja, nafasnya tersengal-sengal. Seolah disadarkan dari mimpi buruk, Naruto membelalakkan iris birunya, tak percaya dengan efek yang ditimbulkan akibat tindakannya yang terbilang keterlaluan.
Pria itu menoleh ke samping, dimana seorang Hinata tengah menangis tersedu. Air mata membanjiri pipi sang wanita, mencipta sebuah raut sendu pada wajah kecokelatannya.
"Hinata..."
Plaaakkk!
Sebuah tamparan keras nyaris membuatnya terjengkang, namun tertolak oleh posisi duduknya yang menyandar. Naruto menatap nanar pada pelaku penamparan, dengan sebelah tangan memegang erat pipi bergoresnya.
"Hi-Hinata?"
"Pergi dari sini!"
Cukup satu kalimat, Naruto enggan mengeluarkan bantahan. Berdiri sedikit tertatih sebagai efek punggungnya yang kesakitan. Pria itu berjalan meninggalkan kediaman Hyuuga.
.
.
.
Sepagi ini wanita itu sudah uring-uringan. Bukan hanya masalah kejadian semalam yang terasa melekat di ingatannya, melainkan ulah sang anak yang mendadak membuatnya naik pitam.
"Boruto, ayo kita berangkat. Ini sudah siang, memangnya Boruto mau terlambat masuk sekolah?"
Bocah itu bergeming. Kepala kecilnya bersandar pada lipatan tangan di atas meja. Matanya melirik malas sosok sang Ibu dan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
"Boruto tidak mau."
"Kenapa tidak mau? Boruto mau membolos sekolah? Mau jadi anak nakal, ha?"
Hinata merasakan tepukan pelan pada bahunya. Menoleh sejenak pada si pria berrambut merah dan menatap penuh tanya. Pria itu mengangguk sebagai sinyal untuk menenangkan dirinya.
"Boruto, mengapa tidak mau sekolah? Paman akan mengantar Boruto lho."
Bocah itu kembali melirik melalui ekor mata, kemudian mendesah pelan. Kepalnya menggeleng pertanda sebuah penolakan.
"Boruto tidak mau diantar Paman Gaara."
Kedua makhluk dewasa di hadapannya saling memandang dan mengerutkan dahi. Bukannya tidak mengerti, mereka berdua cukup paham tentang sifat sang bocah yang mendadak keras kepala. Untuk anak seusia Boruto memang sudah merupakan suatu hal yang wajar. Kala terkadang merajuk dan menolak untuk berangkat ke sekolah.
Namun seharusnya dengan sedikit bujukan sang anak mampu terluluhkan, bukan malah semakin susah dirayu seperti saat ini.
"Boruto mau berangkat bersama Kaa-san saja?"
Bocah itu menggeleng, semakin menyemai raut bingung pada wajah Hinata dan Gaara.
"Lalu Boruto ma-"
Deru redam suara motor sport memotong perkataan Hinata. Membuat perhatian ketiganya kini teralihkan sepenuhnya pada daun pintu yang membuka. Sosok laki-laki dewasa berjalan mendekati pintu.
Kaki kecil Boruto melompat, berlari menyongsong laki-laki itu.
"Paman Naru!"
Sebaris nama yang mampu membekukan aktivitas sepasang Hinata dan Gaara. Pucat nan pasi menjadi penghias wajah dilengkapi dengan netra yang memberikan tatapan nyalang pada sang bocah. Yang dengan penuh kegembiraan memeluk pria dewasa duplikatnya.
"Hei, jagoan! Jadi kau sudah siap berangkat sekolah?"
"Yosh!"
Kontradiksi dengan apa yang baru saja terjadi, bocah itu begitu riang menyambut uluran tangan Naruto.
"Sudah berpamitan pada Kaa-san?"
Boruto menggeleng membuat pria itu tersenyum. Tangan kekarnya mengacak rambut pirang yang mirip dengan miliknya.
"Boruto harus berpamitan pada Kaa-san-"
Iris safirnya melirik sejenak, memindai keberadaan pria lain di samping Hinata.
"-dan Paman Gaara."
Senyum lembut yang tersemat membingkai penuh seringai tajam pada bibirnya. Matanya mengekori langkah kecil sang bocah yang berlari mendekati Hinata.
"Kaa-san, Paman Gaara, Boruto berangkat sekolah dulu. Ittekimasu."
"Itterashai."
Lirih jawaban yang Boruto terima, serta senyum terpaksa dari sang Ibu. Tapi Boruto tidak peduli, entah mengapa entitas bernama Namikaze Naruto selalu berhasil meraih perhatian inklusif darinya.
Keduanya berlalu pergi meninggalkan untaian asap encer yang mengepul. Serta perasaan berkecamuk dan campur aduk yang menyesaki dada Hinata dan Gaara. Keduanya berdiri kaku, enggan melantunkan sedikitpun suara. Rikuh dan segan seakan menjadi alasan keberdiaman mereka. Hingga desahan nafas pelan sang pria mengembalikan mereka pada kenyataan.
"Apa kau mau pergi ke butik sekarang, Hinata?"
Hinata mendongak. Senyuman datar Gaara yang pertama kali tertangkap netra amethystnya. Wanita itu tahu, bahkan terlalu tahu mengenai suasana aneh semacam ini. Dan sedikit mengumpat dalam hati karena mereka berdua sama-sama jenis manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk mencairkan ketegangan suasana.
"Iya."
.
.
.
Hokage Photo Studio
Seminggu sejak insiden pengusiran dirinya dari rumah Hyuuga, kesibukan Naruto semakin bertambah. Pelanggan jasa fotografinya semakin meningkat, termasuk pelanggan lamanya yang rela menempuh perjalanan Tokyo-Osaka. Bukan hal yang aneh mengingat kepiawaiannya dalam bidang fotografi sudah tidak diragukan lagi. Atau bisa disebut sebagai suatu kebetulan? Naruto bahkan sempat memegang beberapa tender dari perusahaan iklan yang cukup besar memberikan keuntungan.
Hal lain yang masuk menjadi jadwal utamanya selama seminggu ini adalah mengantarjemput Boruto ke dan dari sekolah. Pria itu merelakan waktu pagi yang biasa digunakan untuk mendengkur. Bahkan di siang hari, Naruto sengaja mengosongkan jadwal pemotretannya. Acap beberapa kali terpaksa meninggalkan studio di tengah pemotretan yang memang molor dari waktu yang telah disepakati. Atau menolak permintaan memotret yang bergesekan dengan waktu berakhirnya sekolah Boruto.
Semua dilakukannya demi bocah lima tahun yang entah mengapa berhasil menarik penuh rasa sayangnya. Tentu saja karena sejatinya Boruto adalah darah dagingnya sendiri bukan?
Pria itu mendesah lega. Satu dari beberapa kewajibannya hari ini telah tuntas. Meski dikata ruang studionya memiliki pendingin ruangan, peluh tetap terlihat menetes di leher pria pirang itu.
"Naruto..."
Panggilan seorang wanita berhasil menarik atensinya. Matanya melirik sejenak, menelusur fitur tubuh sempurna yang berbalut pakaian minim. Naruto tersenyum, mengenang masa lalunya yang entah mengapa membuat batinnya meringis. Senyum yang disalah artikan oleh lawan bicaranya.
"Ada apa Amaru?"
Gadis yang dia perkirakan berusia beberapa tahun di bawahnya itu tersenyum penuh arti. Matanya mengerling nakal mengirimkan sinyal tertentu yang sayangnya Naruto pura-pura tidak tahu. Mendudukkan diri tepat di samping Naruto yang sedang bersandar pada sofa.
"Kau ada acara setelah ini?"
Tanpa malu-malu bahkan sebelah tangannya mengelus pelan pundak Naruto, mencipta ritme yang mampu memunculkan gelenyar menyenangkan. Seharusnya. Tapi faktanya, Naruto justru mengibaskan tangan itu. Berdiri dan pura-pura meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Ah... Aku ada banyak acara, Amaru."
Gadis itu keheranan. Pasalnya biasanya Naruto selalu mengiyakan setiap ajakan sang model setelah pemotretan selesai.
"Benarkah? Apa ada pemotretan lagi?"
Naruto menggeleng. Iris safirnya memandang lembut sementara bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
"Aku harus menjemput anakku."
Dan berlalu meninggalkan sang gadis yang tercengang dengan mulut membuka lebar.
.
"Naruto, apa pemotretanmu sudah selesai?"
Naruto mengangguk, langkahnya semakin cepat menuruni tangga yang terbuat dari kayu dengan kualitas bagus. Pelitur putihnya semakin terlihat serasi dengan warna dinding ruangan yang memang didominasi warna senada.
"Ada apa Lee?"
Seakan tahu jika asisten sekaligus teman dekatnya semenjak di Osaka itu sedang ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada seorang tamu yang menunggu di ruang depan."
Sebelah alis pirang itu naik, memerikan keheranan yang terlintas di kepalanya. Biasanya klien pemotretannya selalu membuat janji sebelum mendatangi studio. Atau bahkan langsung digiring ke ruang pemotretan tanpa harus menunggu di luar.
"Siapa?"
"Aku tidak tahu, dia hanya ingin aku menyampaikan bahwa dia menunggumu."
"Baiklah, aku akan menemuinya. Lee tolong bereskan peralatanku di atas ya."
"Aye aye captain."
Naruto tersenyum melihat kekocakan sahabatnya yang terbilang unik itu. Bagaimana tidak unik, jika pada masa sekarang orang-orang berlomba-lomba dengan mengubah-ubah model rambut yang berbeda, tetapi Lee masih saja betah dengan rambut model batok kelapa. Belum lagi gaya berpakaiannya yang tidak jauh dari jumpsuit ketat yang menempel erat pada tubuhnya. Beruntung pria aneh itu punya bentuk tubuh bagus, jadi tidak terlalu mengecewakan orang-orang yang kebetulan melihatnya.
Langkah Naruto mendadak terhenti di ambang pintu yang menghubungkan ruang tunggu luar dengan bagian dalam. Matanya terhipnotis pada satu titik pemandangan yang mampu mencipta decakan kagum dari bibirnya.
Seorang Hyuuga Hinata dengan pakaian setelan kemeja dan celana kerja putih gading yang dibalut blazer abu-abu di bagian atas. Menutup sempurna tubuh mulus itu tetapi memperlihatkan dengan jelas lekuk lesungnya. Rambut indigo yang disanggul tinggi sedikit memetakan sebuah elegansi yang sejak awal memang tak pernah pudar dari aura yang memancar. Hembusan kipas angin sedikit mempermainkan helaian yang tersisa, menambahkan kesan mempesona yang seakan tak berujung.
"Hinata..."
Wanita itu menoleh pelan membuat dua pasang mata mereka saling bersitatap. Tak ada yang menampik bahwa saat ini jantung mereka sedang bergemuruh. Tak ada sangkalan pula bahwa getaran tak kasat mata sedikit membuat mereka terbuai.
"Namikaze-san."
Hinata berdiri dan membungkukkan badannya sejenak. Mencipta roman canggung pada wajah sang pria.
"Jangan terlalu formal begitu. Duduklah."
Keduanya kini duduk bersebelahan. Hening menyapa seperti biasa, mencipta jeda yang cukup lama.
"Ada apa kau jauh-jauh datang ke sini?"
"Aaaa... Ano, aku hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Katakanlah, Hinata."
"Bolehkah aku meminta satu hal padamu?"
Entah hanya perasaannya atau memang wanita itu tengah dilanda kegugupan.
"Hm?"
"Tolong menjauhlah dari hidupku, Namikaze. Menjauhlah dari aku dan anakku. Biarkan masa lalu kita tersimpan rapi dan tidak perlu lagi diungkit-ungkit. Lupakan semua itu dan anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelum hari ini. Kita bisa hidup masing-masing, mencari kebahagiaan masing-masing tanpa harus saling mengganggu ketenangan masing-masing. Kumohon."
Naruto terdiam, jika dilihat dari luar. Namun batinnya bergejolak kuat seakan terombang ambing oleh terjangan ombak yang begitu besar. Rasanya bumi yang dipijaknya nyaris runtuh dan menenggelamkannya ke lapisan terdalam. Kala yang sama, jantungnya berdenyut nyeri memberontak dan menggedor-gedor tulang dadanya.
Tanpa sadar, tangannya mengepal kuat. Naruto menggeser duduknya hingga berhimpit dengan tubuh sang wanita kemudian menyampingkan posisi tubuhnya.
Iris permata safir itu menatap tajam, lengkap dengan sepasang alis yang saling bertautan. Intimidasi dan otoriter terpampang jelas dalam pendaran matanya. Menuai getar ketakutan pada batin Hinata, hingga memaksa wanita itu untuk memundurkan posisinya.
"Kau boleh meminta apapun dariku, Hinata. Bahkan jika kau meminta semua hartaku aku bersedia. Miskinpun jika itu membuatmu senang, akan ku lakukan Hinata-"
Tubuh kekarnya semakin mendesak tubuh ramping Hinata yang tengah bersandar pada sandaran sofa. Jengkal udara nyaris terkikis habis saat wajah kecokelatan Naruto mendekat pada wajah seputih porselen Hinata.
Nafas mereka memburu dan saling beradu, menyemai perasaan hangat di seluruh muka. Ujung hidung mereka kini bersentuhan.
"-jangan pernah memintaku untuk menjauh darimu, jangan pernah memintaku untuk melupakan kejadian masa lalu-"
Netra amethyst Hinata semakin membulat ketika-
CHU-
"-karena aku tidak akan pernah mampu melakukannya dan aku tidak akan pernah mau melakukannya."
Menolak berlama-lama tenggelam dalam suasana yang bisa membunuhnya, Hinata mendorong Naruto menjauh. Berdiri dengan cepat dan segera merogoh sesuatu dalam tas jinjingnya.
"Maaf Namikaze, tapi keputusanku sudah bulat. Aku hanya ingin memberikan ini."
Secarik kertas tebal berwarna ungu pucat, dengan harum lavender menguar. Tergeletak begitu saja di atas meja, saat Hinata mulai melangkah keluar.
Cukup satu lirikan atas cetakan huruf kapital yang tertera di bagian sampul, Naruto tak perlu membukanya untuk mengetahui apa isi kertas tersebut.
Terkekeh pelan hingga berlanjut menjadi tawa putus asa yang membahana. Sempat menyedot perhatian pejalan kaki di luar studio.
"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Hinata! Tidak akan! Hahahahahaha... Kau lihat saja nanti, Sayang!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Huwaaaa... Gomen baru bisa update selarut ini. Nai sedang sibuk di dunia nyata hehehe.
Untuk dua hari ke depan, Nai tidak menjanjikan bisa up karena harus mengikuti seminar. Tapi tetap Nai usahakan up kok.
Ganbarimasu!
