"Chanyeol hyung! Apa-apaan semua ini?!" sungut kesal Baekhyun. Pasalnya ia mengunjungi Chanyeol ke Rumah Sakit bukan sekedar melepas rindu, tapi Baekhyun juga merencanakan kencan saat makan siang bersama. Ia sengaja memundurkan jadwal dan menikmati waktu berdua. Bukankah itu rencana yang romantis?
Semua berjalan lancar sampai dengan sepasang tunangan itu duduk berdua di ruang private sebuah restoran dekat rumah sakitdan melihat banyak makanan tersaji di meja, membuat si mungil kehabisan kata.
Mulai dari ikan bakar, dimsum, sampai beef steak tersaji menggugah selera dengan aroma menguar mengajak air liur menetes terlebih ada jus strawberry dan es krim menyapa. Sayangnya semua itu tak membuat Baekhyun senang. Ia malah menghela napas frustasi, "Aku pilih makan kimbab saja."
Chanyeol menahan piring kimbab yang akan diambil Baekhyun. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu meletakkan piring kimbab jauh dari jangkauan dan mendorong piring yang berisi beef steak yang sudah dipotong kecil-kecil mendekati Baekhyun. "Habiskan ini."
"Tidak. Aku akan tetap makan kimbab."
"Kau semakin kurus, Baek. Kau harus makan semua ini."
"Tapi minggu depan aku ada pemotretan! Makanan disini terlalu berlemak dan bisa membuatku gemuk!"
Chanyeol mengerjap terkejut. Tak pernah sebelumnya Baekhyun memakai nada tinggi seserius ini, napas tertahan tersulut amarah. Ia sedikit terpancing dengan ucapan Baekhyun. Mata bulatnya bergulir mengamati sosok Baekhyun yang telah tumbuh besar.
Ia sudah mengenal Baekhyun dari kecil dan ia tentu paham akan perubahan Baekhyun yang semakin menggilai pekerjaan modeling.
Ya. Baekhyun sekarang bekerja sebagai seorang model yang cukup di gandrungi. Pekerjaan laknat—bagi Chanyeol- itu membuat kekasihnya selalu berusaha supaya tampil perfectionist.
Satu hal yang pasti, Chanyeol sangat tak suka melihat Baekhyun yang hobi mengatur pola makan. Memang semua yang dikonsumsi Baekhyun itu sehat selalu saja sayur dan buah. Tapi bagi Chanyeol, Baekhyun terlalu memaksakan diri untuk memiliki berat badan ideal.
Sewaktu Chanyeol tak pulang ke Korea selama lebih dari setahun karena fokus percepatan semester akhir, ia sangat terkejut melihat Baekhyun yang berubah drastis saat menjemputnya di bandara. Dari segi penampilan memang Baekhyun lebih tinggi tapi tubuhnya tak se-cubby dulu. Awalnya Chanyeol mendukung karena ia pikir itu hasil dari Baekhyun yang rajin olahraga. Tapi saat tahu kebiasaan Baekhyun setelahnya, Chanyeol orang pertama yang membenci pekerjaan model.
Chanyeol menyalahkan profesi model karena bagaimanapun juga ia tak akan pernah menyalahkan Baekhyun.
Muncul rasa rindu akan Baekhyun semasa sekolah yang gemar menikmati makanan manis dan memakannya dengan tawa bahagia. Pipi gembil yang selalu memanggil untuk di cubit.
Bukan berarti ia tak menyukai Baekhyun yang sekarang, namun Chanyeol ingin kebebasan Baekhyun kembali.
Setelah lulus SMA, Baekhyun terjun di dunia modeling menyusul Sehun yang kini sibuk melalang buana menghadiri fashion week ke berbagai negara di temani oleh Luhan yang menjabat sebagai manajer setia.
Ditinggal Chanyeol kuliah serta sahabatnya, Baekhyun seolah larut dalam kesibukan modeling. Memilih kuliah online, Baekhyun memfokuskan diri untuk menjaga penampilan.
Mulai dari mewarnai rambut, menindik telinga, rajin perawatan sampai Baekhyun mendaftarkan dirinya pada klub gym.
Chanyeol bersyukur setidaknya sikap Baekhyun padanya tak berubah, tetaplah Baekhyun mungilnya yang manja selalu ingin diberi perhatian dan kasih sayang.
Hanyalah waktu yang terus berjalan, tak akan pernah terulang dan terus berputar tanpa mempedulikan satupun orang.
Mengingat semua kenangan masa lalu, membuat hati Chanyeol ngilu. Maka dari itu ia memesan makanan kesukaan Baekhyun. Setidaknya si mungil akan menikmati semua makanan ini. Namun mengapa Baekhyun malah marah?
"Baekhyun-ah, ini hanya daging. Makan satu atau dua porsi tak akan membuatmu gemuk, sayang." Chanyeol masih mencoba membujuk. Mengatur nada ucapannya selembut mungkin. Ia meraih garpu dan menusuk potongan daging dan mulai menyuapi Baekhyun. "Makan ini."
Si mungil sedari tadi hanya menunduk dengan bibir mengerucut, memaksakan diri menerima suapan Chanyeol dengan berat hati.
.
OoooO
.
Perhaps Love Season 2
.
OoooO
.
Cast:
Chanyeol, Baekhyun beserta orang-orang disekitarnya
~Royal OTP~
.
Chanyeol milik Baekhyun. Baekhyun milik Chanyeol. Baekhyun dan Chanyeol milik orangtuanya. FF ini milik Cactus93
.
OoooO
.
Happy reading^^
.
.
Membuka pintu rumah dengan kasar, Baekhyun menyita perhatian dari sang ibu yang tengah membaca majalah fashion di ruang tamu. Si bungsu terlihat begitu kesal dengan wajah berkerut dan berjalan menghentakkan kaki.
Hyekyo menatap Baekhyun berlalu melewatinya begitu saja dengan alis terangkat. Padahal biasanya si bungsu selalu memberi salam ceria ditambah kecupan manis di pipi lalu bercerita singkat mengenai hari yang dilalu.
Ada apa gerangan?
Berpikir sebentar, ibu dua anak itu memutuskan meletakkan majalah di atas meja dan berjalan menyusul putra bungsunya yang sudah dalam kamar di lantai dua.
Mendengar suara aneh di kamar mandi, Hyekyo bergegas masuk ke dalam.
Dahi Hyekyo berkerut menyaksikan Baekhyun berjongkok di depan kloset dan merogoh tenggorokan dengan jari dan berusaha keras muntah.
"Baekhyun-ah, kau kenapa?"
"Oh?" Baekhyun menoleh sejenak sambil menekan flush handle membiarkan air mengalir. "Aku tadi makan terlalu banyak dengan Chanyeol hyung. Aku hanya ingin memuntahkan makanan, eomma. Karena tak ingin besok berat badanku tiba-tiba naik." Ia berdiri dan berjalan ke arah wastafel lalu berkumur.
Begitu santai Baekhyun mengucap terdengar jika tak hanya sekali dua kali ia melakukan hal itu. Mesti samar, sebagai seorang ibu, Hyekyo merasa khawatir. Ia berjalan mendekat, memegang pundak si bungsu. "Kau tak usah terlalu memaksakan dirimu, sayang. Makan banyak sekali juga pasti tak akan membuat berat badanmu langsung bertambah begitu saja. Lebih baik kau banyak minum air putih dan olahraga."
Sudah berulang kali ibu dua anak itu mengingatkan, tetap saja Baekhyun keras kepala. Kebiasaan buruk Baekhyun dari kecil itu sangat sukar untuk dihilangkan.
Baekhyun menggeleng lemas.
Perkataan ibu sama seperti Chanyeol hyung. Mereka tak tahu jika berat badanku mudah sekali bertambah.
"Kau tiduran saja, eomma akan bawakan susu hangat." Hyekyo menuntun Baekhyun sampai duduk di tepi ranjang. "Aku ingin tidur saja eomma."
Sekarang masih pukul 4 sore, dan Baekhyun ingin tidur? Hyekyo tak habis pikir dengan sikap anaknya itu. "Baiklah, kalau begitu eomma ke bawah dulu."
Setelah Hyekyo menutup pintu kamar, Baekhyun kembali berdiri berjalan menuju lemari lalu mulai melepas sepatu serta berganti baju piyama.
Helaan nafas panjang terhembus setelah berhasil berbaring di ranjang, menatap sekeliling kamar yang kini sudah tak berhias Pikachu ataupun Little mermaid lagi. Kamar Baekhyun di dekorasi ulang setelah lulus SMA dan tema yang sekarang hanya mengusung warna yellow gray polos. Tak ada gambar maupun corak ke kekanakan.
Ya. Baekhyun sudah dewasa—bagi Baekhyun sendiri. Bocah yang dulu cengeng itu berusaha keras menjalani pendewasaan. Selebihnya ia berguru pada Luhan yang sering curhat dan saling berbagi cerita masalah kehidupan percintaan.
Bertahun-tahun ia berpacaran dengan Chanyeol, bahkan sudah terikat jalinan pertunangan. Tapi tak pernah sekalipun Chanyeol memaksanya seperti apa yang dilakukan tadi siang. Baekhyun bisa merasakan emosi Chanyeol saat ia menolak makan, maka dari itu Baekhyun pasrah tak ingin membuat Chanyeol semakin marah.
Yang seharusnya marah bukannya aku?
Menjaga berat badan ideal sebenarnya bukan hanya Baekhyun lakukan untuk sekedar tanggung jawabnya sebagai model, namun ada satu alasan lain yang enggan Baekhyun ungkapkan.
Kembali Baekhyun menghela napas.
Meraih ponsel bercase merah, Baekhyun berselancar di internet. Setelah muntah paksa, tubuhnya terasa tak bertenaga tak ingin melakukan apapun.
Bahkan Baekhyun belum membalas pesan chat dari Chanyeol. Baru kali ini Baekhyun merasa sekesal ini dengan Chanyeol.
Amat sangat kesal.
Kelopak mata terasa berat, Baekhyun tertidur hingga melupakan makan malam. Lebih tepatnya ia sengaja melewatkannya.
Pagi hari ia bangun pukul 6 dan langsung berolahraga di ruangan khusus gym meski di dalamnya hanya ada elliptical dan treadmill.
Minggu depan ada jadwal pemotretan majalah W, tubuhnya harus fit dan jangan sampai ada gumpalan lemak!
Semangat Baekhyun!
Baekhyun tidak ingat jika pemotretan minggu depan hanyalah pemotretan yang mengusung tema pakaian casual, bukan mengenakan pakaian terbuka yang harus memperlihatkan perut buncit.
Si putra bungsu keluarga Byun berusaha keras membakar lemak sampai ia mengabaikan sarapan dan keluar dari ruang gym di saat jam menunjuk pukul sembilan lebih.
Ia berjalan kembali ke kamar mengabaikan Hyekyo yang menyuruh sarapan.
Hyekyo berdecak, ia meminta Ryeowook untuk mengantarkan makanan yang telah disiapkan ke kamar sang putra. Mengambil ponsel, Hyekyo menelpon nomor calon menantunya. Tak butuh nada tunggu lama, suara berat Chanyeol memberi salam.
"Chanyeol-ah, apa yang kau lakukan pada Baekhyun kemarin?" Hyekyo langsung bertanya ke inti permasalahan.
"Apakah terjadi sesuatu pada Baekhyun, eommonim? Baekhyun sama sekali tak membalas pesan maupun menerima panggilan saya."
"Memang saat kalian terakhir bertemu apakah kalian bertengkar?"
Sejenak Chanyeol memberi jeda untuk berpikir, "Maaf eommonim. Mungkin karena saya memaksa Baekhyun memakan yang telah saya pesan, meski awalnya Baekhyun menolak."
"Mengapa kau lakukan itu, Chan—
"Nyonya Hyekyo, Tuan muda Baekhyun pingsan!"
Teriakan Ryeowook membuat Hyekyo reflek mendongak ke lantai 2 meski tak terlihat. Wanita itu langsung berlari melupakan Chanyeol yang terus memanggil namanya lewat sambungan telepon yang masih aktif.
"Astaga! Ryeowook tolong panggil Jongwoon kemari untuk menggendong Baekhyun turun dan kau bantu panasi mobil!"
Semua kelimpungan membawa Baekhyun ke Rumah sakit. Di jalan Hyekyo kembali menelpon Chanyeol untuk bersiap menangani Baekhyun.
Raut khawatir begitu kentara di wajah dokter muda itu. Tanpa basa-basi ia langsung menggendong Baekhyun begitu mobil berhenti. Merebahkan Baekhyun di atas ranjang pasien lalu membantu perawat untuk mendorong ranjang menuju IGD.
Hyekyo hanya bisa menunggu dengan resah di temani Jongwoon yang ia suruh untuk menelpon suaminya.
Di saat Jongki tiba dengan nafas terengah, bersamaan pintu IGD terbuka. Kedua orang tua Baekhyun langsung memborong pertanyaan begitu Chanyeol mendatangi mereka.
Chanyeol sambil melepas masker dan sarung tangan yang kemudian ia masukan ke dalam saku jas putih. "Baekhyun mengalami peradangan lambung. Perutnya kosong dan itu menyebabkan luka pada lambung. Apakah sebelumnya Baekhyun pernah mengidap maag, eommonim?"
Tubuh Hyekyo terasa lemas setelah mendengar kondisi putra bungsunya. Untung Jongki dengan sigap merangkul dan menjawab pertanyaan Chanyeol. "Sewaktu kau kuliah di Inggris dan Baekhyun mulai dunia modeling-nya, Baekhyun melakukan diet ketat dan berakhir mengidap maag."
Chanyeol merasa sangat bersalah tak mengetahui apa-apa mengenai penyakit itu.
"Apakah maag Baekhyun makin parah, Chanyeol?" Hyekyo mulai bersuara.
"Tidak terlalu. Hanya saja saya kira Baekhyun terlalu menekan jumlah yang seharusnya dikonsumsi—
Hyekyo mengingat sesuatu dan memotong perkataan Chanyeol, "Baekhyun melewatkan makan malam dan sarapan, Chanyeol-ah. Bahkan sewaktu pulang kencan bersamamu kemarin, anak itu memaksakan diri memuntahkan makanannya."
"Astaga." Chanyeol memijat pelipisnya, tak habis pikir Baekhyun melakukan hal gila itu.
"Apakah kami bisa melihat Baekhyun?"
"Saat ini Baekhyun masih belum sadar. Beberapa perawat sedang menyiapkan kamar dan sekarang kami akan membawa Baekhyun ke sana. Mohon tunggu sebentar."
Chanyeol kembali masuk ke IGD memastikan persiapan telah selesai lalu meminta perawat mendorong hati-hati ranjang Baekhyun.
Dokter muda itu menempatkan Baekhyun di ruang VIP yang dirasa menjaga privasi dan kenyamanan terbaik untuk tunangan mungilnya. Chanyeol sendiri yang menggendong dan memindahkan di atas ranjang. Tak lupa ia mengecup lembut dahi sang kekasih dan membisikkan doa kesembuhan.
Setelahnya, pria tinggi itu membiarkan Hyekyo duduk di sanding ranjang sang putra.
Sedangkan Chanyeol berdiri di samping Jongki menatap pilu tubuh Baekhyun yang masih belum sadar. "Mungkin sekitar satu sampai dua jam lagi Baekhyun akan sadar," terangnya.
"Terima kasih, Chanyeol-ah."
"Tidak, abeonim. Ini kewajiban saja." Chanyeol hanya mampu tersenyum canggung kala Jongki menepuk punggungnya. Bisa dikatakan kedua lelaki itu belumlah terlalu akrab meski telah bertahun-tahun saling mengenal. Salahkan saja Jongki yang masih over protective dengan Baekhyun.
Kencan saja harus izin lewat pesan dengan menginformasikan pergi ke mana dan pulang pukul berapa. Jika lewat jam, siap-siap Chanyeol harus mendengar siraman rohani dari calon ayah mertua.
Untung saja Baekbeom sudah melonggarkan kadar penjagaan pada si bungsu. Si sulung Byun yang telah mendapatkan pacar sehingga Chanyeol lebih bisa bernapas lega.
Kembali ke situasi kamar VIP rumah sakit yang hening. Chanyeol membuka suara memecah kesunyian. "Maaf. Semua gara-gara saya yang memaksa Baekhyun makan banyak kemarin," sesalnya.
Hyekyo menggelengkan kepala, "Eomma malah setuju dengan tujuanmu memaksa Baekhyun makan, Chanyeol-ah. Empat tahun ini Baekhyun semakin mengurus dan eomma kurang suka. Mungkin ini juga salahku yang mengenalkan dunia modeling padanya."
"Tidak, eommonim. Ini salah saya."
"Kau sudah melakukan hal benar, Chanyeol-ah. Sebagai seorang ibu aku merasa gagal tak bisa menjaga Baekhyun dan terlalu memanjakannya."
"Tapi eom—
"Ehem!" Jongki berdehem sembari memutar bola mata. Ia heran melihat sang istri dan Chanyeol saling bertengkar menyalahkan diri.
"Kalau begitu apakah aku harus melarang Baekhyun untuk berhenti menjadi model—
ucap Jongki terhenti saat mendapat lirikan tajam dari sang istri. Lantas ayah dua anak itu memberi senyum polos seolah tak terjadi apapun. "A-aku hanya bercanda, sayang."
Hyekyo membuang muka, berganti menatap Chanyeol. "Apakah kau ada jadwal periksa hari ini?"
Sejenak Chanyeol mengingat jadwal. Seingatnya hanya ada urusan Chaeyeon yang ingin berdiskusi.
"Tidak ada, eommonim. Saya akan disini menunggu Baekhyun tersadar." Urusan dengan Chaeyeon bisa lain kali, yang utama adalah Baekhyun.
Seulas senyum lembut tertoreh, "Kalau begitu aku titip Baekhyun. Jam 3 aku ada klien di butik dan mengambil keperluan di rumah." Hyekyo menilik jam tangan penuh alibi.
"Kalau begitu aku yang menja—
"Kau ikut aku, saja." Hyekyo cepat merangkul lengan suaminya. "Chanyeol-ah, kami titip Baekhyun." Wanita cantik itu melambaikan tangan perpisahan dan menarik pergi sang suami, meninggalkan sepasang tunangan itu berdua di kamar.
"Hei, aku ingin menunggu anak kesayanganku." Rutuk Jongki tak terima dengan perlakuan istrinya. "Baekhyun masih sakit dan butuh kasih sayang ayahnya."
"Kau diamlah, seperti anak kecil saja. Percayakan semua pada Chanyeol. Aku lebih mempercayakan Baekhyun kepada Chanyeol daripada denganmu—
Jongki menelan senyum pilu menerima hunus kata menusuk dari sang istri.
—terlebih mereka harus menyelesaikan masalah mereka. Awas saja kau kalau mengganggu."
Jongki menganggukkan kepala cepat. Gawat jika nanti malam ia tak mendapat jatah.
o
ooOoo
o
Keheningan tercipta, setiap menit berlalu begitu lambat. Apa yang di takutkan oleh Chanyeol menjadi kenyataan. Baekhyun terbujur tak berdaya dengan energi tambahan dari selang infus terbenam pada kulitnya.
"Baekhyun-ah. Lekas sembuh dan Chanyeol hyung berjanji akan menuruti semua keinginanmu."
Chanyeol tak sanggup menahan air matanya yang telah terbendung di pelupuk mata kini jatuh bebas. Tangannya setia mengelus wajah pucat sang terkasih. Tak pernah sebelumnya ia melihat Baekhyun sakit seperti ini.
Wajah yang biasanya tersipu malu kini pucat. Tak ada suara berisik atau panggilan manja. Belum ada 24jam Baekhyun merajuk, rindu ini makin menyiksa.
Baekhyunnya yang lucu. Baekhyunnya yang selalu tertawa ceria. Baekhyunnya yang gemar bermanja.
Chanyeol merasa menyesal tetap kukuh kuliah di Harvard dan meninggalkan Baekhyun sendirian. "Maafkan Chanyeol hyung." bisiknya lirih. Dadanya sesak memikirkan semua yang telah terlanjur terjadi.
"C-Chanyeol hyungie, jangan menangis—
Suara serak Baekhyun menyadarkan lamunan Chanyeol. Ia langsung berdiri mengecek suhu tubuh dan denyut nadi kekasihnya. "Baekhyun-ah, kau sadar? Apakah kau pusing? Mual?"
Baekhyun mengangguk lemah, "Sangat pusing, hyungie. Mataku berputar."
Sejenak Chanyeol terkekeh menanggapi perkataan Baekhyun, ia mengelus pipi si mungil dan berkata dengan lembut penuh perhatian. "Makan bubur dulu ya, ya?"
"Mual." Si bungsu terus saja merajuk.
"Jika kau tidak makan dan minum obat, kau tidak akan lekas sembuh, sayang. Turuti kata Chanyeol hyung, paham?"
Kembali Baekhyun mengangguk meski bibirnya mencebik maju beberapa senti. Ia menerima bantuan Chanyeol, mencoba untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang yang telah dilapisi bantal supaya empuk.
"Kau minum obat sebelum makan ini," Chanyeol mengulurkan satu butir obat berwarna hijau dan air putih.
Baekhyun langsung meringis menolak dan Chanyeol sigap memberi imbauan positif, "Tenang saja ini rasanya mint tidak pahit. Sebisa mungkin kau kunyah dulu sebelum ditelan."
Badan Baekhyun bergidik dan menjulurkan lidah setelah berhasil menelan obat.
"Anak pintar," Chanyeol mencuri kecupan di dahi Baekhyun. "Sebentar aku akan menelpon perawat untuk membawakan makan siang."
Pria itu meraih gagang telepon dan mendial nomor panggilan.
Baekhyun mengedikkan bahu, kembali menghabiskan air yang masih ia genggam. Entah ia tak tahu berapa lama ia pingsan tapi tenggorokannya benar-benar kering. Pandangan matanya berpendar ke sekeliling ruangan yang didominasi warna putih dan krem yang ia baru disadari jika dirinya sedang berada di kamar Rumah Sakit lengkap dengan piyama rumah sakit yang tengah ia kenakan.
Tunggu sebentar. Ada yang janggal di tangannya. Selang bening tertutup perban?
Infus!
Dan sontak Baekhyun berteriak dan menangis. "Chanyeol hyuuung, Baekhyun tak mau di infus hiks. Jarumnya masuk di tangan Baekhyun huweee. Lepaskan!"
Chanyeol yang baru saja selesai menelpon kelimpungan. Pertama ia mengambil gelas yang masih Baekhyun genggam dan menaruhnya di meja samping ranjang. Lalu ia menahan tangan kanan Baekhyun agar tak bergerak. "Baekhyunee tenang. Ini tak apa-apa. Tenanglah."
Baekhyun menggelengkan cepat. Tak peduli ia masih pusing ataupun mual, yang terpenting ia tak suka jarum itu menempel masuk ke dalam kulitnya. "Ta—tapi Baekhyun ingin ini dilepas." Ia pun tak peduli harus menjaga sikap dewasa sesuai usia atau apalah itu. Yang namanya sakit tak harus jaga image dan Baekhyun masih benci jarum serta darah.
Otak Chanyeol bekerja sangat keras untuk memikirkan cara agar Baekhyun tenang. Meski ia telah berusaha mengamankan tangan Baekhyun. "Jika kau menghabiskan makanan dan obat secara rutin, Chanyeol hyung akan melepas infusmu."
Kepala Baekhyun mengangguk lucu, "Lepaskan sekarang hyungie~"
"Setelah makan, sayang."
"Sekarang saja Chanyeollie hyung~ ung~" Baekhyun mengeluarkan semua jurus maut untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Chanyeol membuang muka. Menengadah menatap langit-langit demi kesehatan jantung yang hampir meledak. Kelemahannya adalah aegyo Baekhyun dan serangan mendadak ini hampir membuatnya pingsan.
"Chanyeollie hyung~" Baekhyun menarik jas putih pantang menyerah.
Setelah menghela napas panjang, mau tak mau Chanyeol menuruti keinginan si mungil.
"Sebentar, aku menyiapkan alkohol dan perban."
Baekhyun memberi senyum lima jari. Tangan kanannya siap ia ulurkan agar Chanyeol segera melepas jarum laknat itu.
Chanyeol menjawil pipi Baekhyun terlebih dahulu sebelum berkonsentrasi mencabut jarum infus.
"Permisi. Selamat siang dokter Park."
Chanyeol hanya melirik sepersekian detik melihat seorang suster yang masuk kamar Baekhyun dengan mendorong meja troli, lalu ia kembali berkonsentrasi menarik jarum. "Letakkan di meja"
Mata sipit Baekhyun melirik mangkuk dan juga potongan buah beserta gelas yang berada di atas nampan telah tertata apik di atas meja. Baekhyun tak bisa mengabaikan suster itu mencuri pandang kepada Chanyeol. Baekhyun memicingkan mata menatap bagai laser yang siap menguliti suster itu hingga mengabaikan Chanyeol telah menarik lepas jarum infus.
"Apakah anda butuh bantuan, dokter?" tanya suster itu.
Chanyeol masih tetap fokus dengan dahi tertekuk menutup bekas jarum infus dengan perban dan plester, tak lupa ia memberi kecupan pada punggung tangan Baekhyun. "Lekas sembuh, sayang."
Baekhyun mengerjap bingung. Tangannya tak merasa sakit yang ada hanya rasa dingin dari alkohol. "Chanyeol hyung cepat sekali melepasnya? Tapi Baekhyunnie suka hehehe." Selanjutnya si mungil terkekeh dan meraih perut Chanyeol, memeluknya. Mengusap pipinya pertanda ingin di manja namun mata sipit itu melirik sombong ke arah suster.
Park Chanyeol adalah milikku! Pergilah menjauh!
Seperti itulah penerjemahan tatapan mata pasien yang mendadak sehat itu. Sedikit tak percaya dengan kenyataan yang beberapa jam lalu pingsan, kini memiliki aura membara pertempuran sengit memperebutkan dokter tampan. Sebut saja itu kekuatan cinta—atau lebih tepatnya api kecemburuan.
Chanyeol mengelus pucuk kepala Baekhyun tapi pandangannya tertuju pada suster yang masih setia menunggunya. "Ini sudah selesai. Kau bisa kembali bekerja membantu pasien yang lain. Biar aku yang mengurus pasien Baekhyun karena dia adalah tunanganku."
Bungah hati Baekhyun saat mendengar pengakuan Chanyeol.
Berkebalikan dengan di seberang. Terdengar ilusi suara retakan bersamaan ekspresi suster itu yang muram. Nampaknya dia suster baru, jadi belum mengetahui status dokter Park Chanyeol. "K-kalau begitu saya permisi, Dokter Park." Suster itu membungkuk dan terbirit keluar kamar.
Baekhyun mengulum senyum kebahagiaan. Rasakan!
"Nah Baekhyun, sekarang waktunya makan." Berat hari Chanyeol melepas pelukan Baekhyun. Menepuk pundak si mungil sebelum beralih mengambil mangkuk bubur.
Terlihat kepulan uap saat Chanyeol mengaduk bubur itu dengan sendok. "Hati-hati, buburnya masih panas." Meniup perlahan lalu menyuapkan pada Baekhyun sampai mangkuk bubur kosong. "Bagus, Baekhyun-ah. Kau mau buah."
"Umm tidak. Perutku sudah penuh~ hehehe. Duduk di sini, hyung. Aku ingin pelukan."
Tergambar senyum terpulas di wajah tampan sang dokter. "Minum obat ini dulu."
Meski memasang raut enggan tapi Baekhyun menuruti kemauan Chanyeol. Lebih baik menderita sebentar menahan rasa pahit dari pada harus di pasang infus lagi.
"Nah, sekarang kau bisa tidur."
Baekhyun menggeleng, belum ada satu jam ia bangun lalu disuruh tidur lagi?
"Aku tidak mengantuk. Aku ingin memeluk Chanyeollie hyung," cicitnya manja.
"Baiklah. Baiklah. Karena Baekhyunnee sudah menjadi anak pintar hari ini, Chanyeol hyung akan memberi hadiah pelukan." Chanyeol melepas sepatu pantofel dan jas dokter lalu duduk tepat di sanding Baekhyun.
Ranjang kamar VIP yang lebih lebar dari ranjang pasien umumnya, memberi akses lebih leluasa untuk mereka. Baekhyun langsung melempar dirinya ke dalam dekapan hangat sosok yang sudah lama ia cintai.
"Hyung, apakah penyakitku parah?" tanyanya ragu.
"Um jika dikatakan parah, tidak terlalu tapi Chanyeol hyung berharap agar Baekhyun jangan sampai telat makan apalagi melewatkan jam makan. Makan makanan yang seimbang jangan selalu sayur dan buah. Daging dan karbohidrat itu penting, sayang."
"Lalu bagaimana dengan dietku? Aku itu mudah sekali gemuk." Baekhyun tak berani menatap mata bulat Chanyeol. Ia menyibukkan diri bermain kancing di kemeja biru Chanyeol.
"..."
Chanyeol yang tidak menjawab membuat Baekhyun mendongak menatap paras tampan tunangannya. "Chanyeol hyung?"
"Ada apa, hm?" Pada hakikatnya Chanyeol tak akan pernah sanggup untuk terlalu lama mendiamkan Baekhyun.
"Apakah jika aku gendut lalu Chanyeollie hyung tak suka lagi pada Baekhyunnee?"
"Dari mana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Di sekitar Chanyeollie banyak orang yang cantik-cantik dan langsing, aku takut jika aku tak menjaga pola makanku lalu aku menjadi gemuk dan Chanyeollie hyung tak suka lagi padaku." Semakin dewasa rasa takut itu semakin nyata. Silahkan sinetron jaman sekarang yang mengajarkan anak yang tidak mendidik. Bisa saja tiba-tiba Chanyeol membatalkan pertunangan karena tiba-tiba ada perempuan yang mengaku dihamili Chanyeol mungkin?
Itu sangat menggelikan tapi juga membuat Baekhyun was-was jika menjadi kenyataan. Chanyeol itu semakin lama semakin taman ditambah dengan tubuh atletis dan pekerjaan yang mapan. Baekhyun takut jika kejadian di sinetron itu menimpanya.
Disisi lain, Chanyeol yang mendengar penuturan Baekhyun membuatnya tertegun. Ternyata bukan modeling yang menjadi alasan utama Baekhyun selalu konsisten ingin diet?
Semua karenanya?
Chanyeol kehabisan kata-kata. Mulutnya terbuka tapi tak ada pikiran untuk berucap. Entah harus tertawa atau mungkin harus marah karena Baekhyun meragukannya?
Si mungil malah merangkak naik dan melingkarkan tangannya di leher Chanyeol. Menguburkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu dan membiarkan tubuhnya menindih sang dokter, "Baekhyunee sangat mencintai Chanyeollie hyung. Jangan tinggalkan Baekhyunee."
Tangisan Baekhyun membuatnya lemah dan kalah. Hatinya membengkak hampir meledak menerima segala ungkapan perasaan sang kekasih. Perasaan Baekhyun sangatlah tulus. "B-Baekhyun-ah—
"Uuung." Baekhyun enggan melepaskan rengkuhannya. Membiarkan air matanya mengalir bebas merasakan kesedihan yang terlalu tinggi ia bayangkan.
Meski Baekhyun menindihnya, Chanyeol berusaha untuk mendudukkan diri dan berakhir Baekhyun kini ia pangku. "Baekhyun-ah, dengarkan Chanyeol hyung. Sini lihat aku."
Chanyeol menangkup rahang Baekhyun hingga membuat Baekhyun terpaksa menatapnya. Pertama Chanyeol menyapu pipi tirus Baekhyun dari air mata yang enggan berhenti. "Baekhyun sayang, pernahkah aku melirik wanita atau pria lain?"
"..." Baekhyun tak menjawab hanya mengerucutkan bibir. Setahunya sih tidak. Chanyeol itu selalu memanjakan dan mengabulkan apa yang ia inginkan.
"Tidak pernah, bukan?"
Baekhyun menyerah. Di ingatannya tak pernah sekalipun Chanyeol melirik yang lain. Ia pun menggeleng kepala dan di hadiahi cubitan pipi oleh Chanyeol.
"Aduh mengapa kau itu sangat menggemaskan, hm?"
Baekhyun memincingkan mata kesal. Dalam hati merutuki jika ia tak pernah bisa mencari celah untuk mendapatkan kekurangan Chanyeol.
"Aku kira Chanyeolie hyung memaksaku makan banyak agar aku jadi gendut lalu Chanyeollie hyung punya alasan untuk memutuskanku."
"Dari mana kau dengar cerita itu?"
"Minggu lalu Luhan bercerita ada model yang mendadak gendut lalu pacarnya memutuskan sepihak. Bukankah dia sangat malang?"
Setelahnya Chanyeol hanya tertawa. Mungkin sebaiknya ia harus bicara dengan Luhan agar tidak bercerita macam-macam dengan kekasihnya. "Dengarkan Chanyeol hyung." Mata bulat itu menatap lembut pada sosok mungil yang tengah ia pangku bak semua pusat dunia ada pada sosok itu. Debaran jantung saat ini masihlah sama saat pertama kali ia merasakan cinta. "Sama seperti Baekhyunnee, Chanyeol hyung juga sangaaaaat sangat mencintai Baekhyunnee. Jangan pernah meragukanku karena dasar dari sebuah hubungan adalah sebuah kepercayaan dan kejujuran—
Baekhyun diam memperhatikan dengan tenang, meresapi kata demi kata yang Chanyeol ucapkan seakan menjadi hujan di hatinya yang tandus.
—Kita sudah saling mengenal sejak lama, bukan sekedar setahun atau dua tahun. Kita juga pernah terpisah jarak. Apakah Baekhyunee pernah bosan dengan Chanyeol hyung?"
Mata sipit Baekhyun mengerjap mengingat ulang bagai roll film yang berputar mundur. Bukan rasa bosan, malah ingin selalu bersama tak mau berpisah. "Aku—Baekhyunnee ingin disisi Chanyeollie hyung, tidak pernah merasa bosan." Ya. Bersama Chanyeol adalah tempat teraman dan ternyaman yang pernah ada.
Chanyeol mendekatkan wajah. Menggesekkan hidung mancungnya dengan hidung mungil Baekhyun, diakhiri dengan kecupan sebelum ia kembali berkata. "Begitu pula denganku, sayang. Kembali ke inti, tak masalah dengan kau semakin gemuk. Itu artinya Baekhyunee sehat. Jika Baekhyunnee sehat, kita bisa melakukan semua apapun yang kita suka tanpa ada batasan. Chanyeol hyung lebih suka saat kau memakan semua yang kau suka, umm itu artinya saat Baekhyun menginginkan sesuatu itu bisa menjadi alasan kita untuk berkencan. Apakah kau setuju?"
Chanyeol memilih cara penyampaian yang berbeda namun tentu mempunyai maksud yang sama. Jika ia langsung berucap melarang Baekhyun ini dan itu, jatuhnya ia seperti pengengkang yang tak mengerti perasaan si bungsu dasarnya keras kepala.
Lihatlah si mungil sekarang yang berbinar melihat hal fantastis. "Benarkah boleh begitu? Kalau begitu kalau aku sehat Chanyeol hyung akan menuruti semua keinginanku?"
"Iya!" Chanyeol mengangguk penuh percaya diri.
"Apapun itu?" tanya Baekhyun dengan senyum penuh misteri.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, ayo kita besok menikah~!"
Tawa ceria Baekhyun saat mengucapkannya membutakan mata Chanyeol karena betapa cantiknya Baekhyun saat tersenyum lebar. Namun saat memahami maksud perkataannya—
"Apa?" Mendadak Chanyeol tuli.
"Ayo kita menikah, hyungie~"
Brak.
"Aku tidak mengizinkan!"
"Seharusnya aku yang lebih dulu menikah!"
Pasti kalian bisa menebak sumber suara dua argumen tersebut yang langsung masuk menerobos kamar mengganggu momen romantis Chanyeol dan Baekhyun.
Entah sejak kapan mereka datang, Jongki dan Baekbeom mulai cekcok tak mutu meributkan pernikahan yang belum pasti ada.
Mendapat celah situasi, Chanyeol buru-buru menundukkan Baekhyun di atas ranjang lalu ia bergegas berdiri mengenakan sepatu. Tak lupa memberi salam meski canggung kepada keluarga Baekhyun.
Dengan kedua tangannya, Hyekyo siap sedia menjewer pria yang nyatanya dewasa tapi sifat kekanakannya masihlah tidak pernah berubah. "Kalian itu niat menjenguk atau bertengkar, hah?"
Melihat semua itu Baekhyun menghela napas dengan wajah berkerut kesal. Selalu saja menganggu.
o
ooOoo
o
THE END
o
o
TBC?
o
ooOoo
o
A.N
Pengen namatin tapi eeee baru inget kemarin aku janji ada nyempil mpreg hehehehe
Maap aku tuh pikun sangat -"
Mungkin bakal ada special chapter kedepan tapi tak tahu publish kapan karena idenya belum matang. Jika kalian punya ide bisa tulis di kolom review UwU
Udah cukup sekaian saja, jangan lupa baca ffku yang laen Unidentified dan BAEKSOO are Friends ya~
See ya~
