.
Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted, AU, Chara death
Genre : School life/psychology/Tragedy
Pair : NaruHina/SasoSaku
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story fan by DarkGrinSmile2
.
POSESIF : You Belong To Me
Chapter 21
Last Chapter
.
Enjoy it!
.
Capel tersebut hampir terbakar pada seluruh bagian ruangannya. Saat itu belum ada yang menyadari dengan kebakaran yang terjadi karena letak capel itu sendiri yang sedikit agak berjauhan dari pemukiman penduduk dan sedikit tersembunyi.
Sasori berdiri di ujung pintu dan melihat keadaan Hinata yang sudah memprihatinkan. Angin berkobar membuat kebakaran di capel tersebut semakin menjadi. Sasori menatap Sakura begitu tajam, penuh dengan rasa amarah dan kebencian. Tanpa menunggu lagi dia berjalan menghampiri kedua gadis itu. Pemuda itu berdiri tepat di depan Sakura. Tangannya terangkat, dan tiba-tiba...
PLAK!
Tamparan keras mendarat keras di wajah Sakura. Gadis itu terdiam. Ini pertama kalinya Sasori menampar dirinya. Tubuhnya bergetar merasakan panas di pipinya. Sakit, bukan hanya di wajah tapi hatinya seperti dicambuk berkali-kali.
"Aku membencimu Sakura! Aku. Sangat. Membencimu. Akasuna. Sakura!" hati Sakura benar-benar menjadi tertusuk saat mendengar perkataan Sasori yang mengungkapkan kebenciannya. Kata-kata itu begitu dingin dan menusuk tajam, seolah-olah hanya dari kata-katanya saja, Sasori dapat membunuh siapa pun.
Sakura dengan takut-takut menatap sang kakak yang berdiri di depannya dengan wajah yang begitu marah kepadanya. Sakura belum pernah melihat tatapan Sasori yang seperti itu sebelumnya. Tatapan hangat yang biasanya selalu terpancar dari kedua mata itu serta senyum tulus yang selalu diberikan untuknya seperti lenyap seketika. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi, bibirnya membeku. Hatinya hancur. Jelas dapat terlihat kebencian yang terpancar dari sorot hazel tersebut. Hal yang paling ditakutinya adalah dibenci oleh Sasori dan dia lebih memilih mati daripada harus dibenci oleh kakaknya.
Sasori tak bicara apa-apa lagi kepadanya. Dia bergerak menggendong Hinata dan tanpa peduli dengan Sakura dia membawa gadis itu keluar dari ruangan tersebut.
Pletak... !
Lilin yang dipegang oleh Sakura terjatuh dari tangannya dan membuat ruangan itu terbakar.
"Ka... Kakak... Kakak!" Sakura segera berbalik untuk mengejar Sasori yang keluar dari dalam ruangan dan sedang menuruni tangga.
"Kakak!" Sakura kembali berteriak dan berlari menuruni tangga menyusul Sasori.
"Kakak, tunggu dulu!" diraihnya tangan pemuda itu tapi seketika itu juga tubuhnya terasa lemas saat melihat ekspresi Sasori yang begitu dingin dari samping.
Tangannya terlepas begitu saja. Sakura merasa kedua pundaknya menjadi lunglai melihat rekasi kakaknya. Sikap sedingin es itu membuatnya terluka. Sasori terus saja berlalu darinya seperti menganggapnya tak ada di sana. Sakura sempat terpaku sesaat. Kedua matanya terasa begitu panas, tapi ditahannya air mata itu.
"Kakak, tunggu aku!" Sakura mencoba menuruni tangga lagi namun dia terjatuh ke bawah. Meskipun begitu kakak yang terus dia panggil-panggil tak pernah menoleh ke arahnya.
Sakura berdiri dan berlari mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti karena kobaran api yang menjilat-jilat ke arahnya. Dia terpaksa mundur beberapa langkah sementara Sasori sudah keluar membawa Hinata yang berada dalam pelukannya.
"Kakak... " Sakura hanya bisa bergumam pelan saat melihat kakaknya benar-benar pergi meninggalkannya bersama Hinata. Air matanya perlahan mulai mengalir.
Gadis itu hanya bisa meratap dari dalam capel, memandang ke arah depan. Sasori sama sekali tidak mau melihat ke arahnya. Sakura berbalik dan melihat ke sekelilingnya yang dipenuhi oleh kobaran api. Satu penyesalan melintas dalam benaknya, entah kenapa semua hal-hal buruk yang pernah dia lakukan sekarang menyerang hati dan pikirannya.
Sementara Sasori yang berada di depan segera menurunkan Hinata yang tubuhnya masih gemetaran. Dengan hati-hati pemuda itu mengusap kedua pipi Hinata.
"Kau tidak apa-apa, Hinata? Ada yang terluka?" tanyanya dengan penuh perhatian.
"A-aku ti-tidak apa-apa... " balas Hinata yang tak bisa menahan air matanya lagi untuk tak keluar. "Aku takut!" ucapnya sambil memeluk pemuda itu dengan begitu erat.
"Tenanglah, Hinata... Semua sudah berakhir... Kau sudah aman," balas Sasori mengusap pelan rambut panjang Hinata, namun seketika itu dia teringat akan Sakura. Dulu, dia biasa memeluk dan mengusap rambut Sakura sama seperti yang sedang dia lakukan sekarang.
Sakura yang masih berada di dalam capel merasakan sakit yang luar biasa. Dia seperti mati rasa melihat Hinata dan kakaknya yang berpelukan di depan. Apakah ini semua akhir yang dia dapat? Inikah balasan semua perbuatannya? Sekilas Sakura teringat atas semua kesalahan yang dia lakukan. Dia sadar banyak orang-orang yang sudah dia celakai demi hasratnya semata. Sakura menangis, ya dia menangis dengan air mata yang cukup deras keluar dari kedua bola mata emerald-nya.
"KAKAK!" gadis itu kembali meneriaki sang kakak dari dalam capel dengan begitu pilu. Dia begitu mengharapkan pengampunan dari Sasori. Dia sadar kalau dia sudah banyak menyakiti banyak orang termasuk kakaknya sendiri.
"KYA!" bagian atas bangunan tersebut mulai ambruk dan nyaris menimpa Sakura.
"Sakura... !" Sasori yang mendengar suara jeritan adiknya berubah menjadi resah.
Pemuda itu berbalik ke arah belakang dan menatap capel yang terbakar hebat itu dengan Sakura yang masih berada di dalamnya. Di dalam sana ia melihat sang adik menangis sambil memanggil namanya.
"Sakura... " pemuda itu bergerak tapi tangan Hinata segera mencengkram kemejanya, mencoba untuk menghentikannya.
"Sasori... jangan pergi... " ucap Hinata meminta agar Sasori tak pergi darinya, "kumohon... " cengkramannya semakin menguat dan diiringi dengan air mata yang mengalir dari manik lavendernya. Dia takut Sasori akan meninggalkannya.
Sasori menatap lekat pada mata lavender yang sedang memandangnya dengan tatapan memohon. Pemuda itu tersenyum sesaat kepada Hinata.
"Tidak... " gadis itu dapat melihat suatu tekad pada tatapan hazel itu. Seketika itu Hinata mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sasori.
"Maafkan aku, Hinata. Ternyata aku memang tak bisa meninggalkannya... " ucapnya yang kemudian berjalan meninggalkan Hinata menuju ke dalam capel.
"Tidak... Kau tidak boleh pergi, Sasori!" Hinata menarik lengan kemeja pemuda itu, tapi sosoknya terus berlalu menjauhi Hinata.
"Sasori!" sang gadis indigo merasa tak rela melihat pemuda itu pergi. Kakinya bergerak, melangkah ingin mengejar, namun gerakannya tertahan.
"Hinata!" seseorang datang dari arah belakangnya, mencegahnya untuk pergi. "Syukurlah kau tidak apa-apa! A-aku mencemaskanmu!" sosok itu langsung memeluk Hinata dan dia adalah Naruto yang tiba bersama Ino dan polisi yang datang ke tempat itu.
"Na-Naruto... " Hinata membalas dekapan Naruto. Membiarkan dirinya tenggelam dalam rengkuhan Naruto untuk mencari kehangatan.
Disaat yang bersamaan di dalam capel Sasori berlari menghampiri Sakura yang sedang membelakanginya. Gadis itu sepertinya sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Sementara kobaran api seperti menari-nari di sekelilingnya, siap melahap apapun yang ada di dalam sana. Puing-puing bangunan capel mulai runtuh dan hancur. Sementara terdengar teriakan-teriakan dari depan, di mana orang-orang sedang berlarian berusaha memadamkan api sambil menunggu petugas pemadam kebakaran yang belum datang juga. Sementara Sasori berlari menerobos kobaran api dan langsung menghampiri sang adik.
"Sakura!" pemuda itu meraih sang gadis dari belakang dan langsung mendekapnya erat.
"Ka... Kakak?" gadis itu tentu sangat terkejut menyadari kehadiran kakaknya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang dan sedang memeluknya.
"A-apa yang kau lakukan? Cepat pergi dari sini, tempat ini akan hancur!" ucapnya dengan suara gemetar. Perasaannya bercampur aduk. Ada rasa bahagia saat mengetahui ternyata Sasori tak benar-benar mengabaikannya, tapi juga takut. Dia takut kalau seperti ini Sasori tak akan bisa pergi kemana-mana.
"Aku tak akan pergi dari sini. Aku ingin bersamamu," balas Sasori yang semakin menguatkan dekapannya.
"Kau bodoh... " isak Sakura. Kemudian gadis itu berbalik hanya untuk bertemu pandang dengan manik hazel sang kakak.
"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanyanya di tengah kobaran api yang semakin menjadi mengelilingi mereka. Bahkan atap capel tersebut mulai runtuh, ambruk ke bawah.
"Aku... mencintaimu, Sakura... " balas Sasori yang kemudian langsung memeluk Sakura lagi.
Sakura menangis dalam pelukan pemuda yang dia cintai dengan perasaan yang begitu bahagia. Akhirnya apa yang selama ini dia harapkan terbalas. Kali ini, tanpa paksaan, tanpa ancaman, tanpa harus saling menyakiti, cinta itu benar-benar datang kepadanya dengan tulus.
Andai saat ini waktu bisa dia hentikan. Dia ingin terus berada dalam pelukan kakaknya seperti ini selamanya. Tapi dia tahu, mungkin ini adalah awal juga sekaligus akhir dari kisah cinta mereka yang baru saling bersambut. Tapi Sakura sama sekali tak menyesal, sekalipun saat ini dia harus mati, dia akan mati bahagia dengan kenyataan ini.
Sesaat tempat tersebut berubah menjadi putih semua. Tampak sosok Sakura kecil berdiri di tengah-tengah ruangan itu sedang memakai dress putih selutut dengan bando merah yang menghiasi rambutnya. Ia tampak begitu bahagia dengan senyum lebarnya. Di depannya ada sosok Sasori kecil yang sedang memakai kemeja dan celana panjang warna putih. Keduanya saling berhadapan dan tertawa.
"Kita akan selamanya bersama!" kata Sakura sambil memajukan jari kelingkingnya.
"Ya! Bersama selamanya!" balas Sasori dan keduanya melakukan pinky swear.
Sementara di luar orang-orang masih mencoba apapun yang mereka bisa untuk memadamkan api. Hinata yang berada di luar hanya bisa menatap ke dalam capel, mencoba mencari-cari sosok kedua Akasuna itu di dalam. Tapi yang dia lihat hanyalah api yang sudah memenuhi ruangan tersebut. tak berapa lama pemadam kebakaran tiba. Cukup lama bagi mereka untuk menjinakkan jilatan api liar pada capel tersebut.
Beberapa jam kemudian api dapat ditaklukan karena mendadak hujan turun dan membantu para petugas untuk memadamkan api. Bangunan itu benar-benar hancur dan hanya menyisakan puing-puing. Satu hal yang masih menjadi misteri dari kebakaran tersebut tak ditemukan adanya jasad dari ketiga korban yang masih ada di dalam. Tapi ketiga korban dinyatakan mungkin mati di dalam dan menjadi debu karena panasnya jilatan api pada waktu itu.
.
Owari
.
.
Beberapa hari kemudian...
Setelah kejadian itu Hinata jadi sibuk karena harus bolak-balik ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Naruto dan Ino dengan setia menemani gadis itu. Dia merasa beruntung karena setelah kejadian itu dia akhirnya bersama dengan Naruto. Meski awalnya dia masih sering memikirkan Sasori, tapi perlahan sikap tulus Naruto membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pemuda yang sehangat matahari itu.
Hinata juga senang karena Ino akhirnya bisa sembuh dan kembali ke sekolah, sementara Sasuke yang belum bisa menerima kepergian Sai akhirnya memutuskan untuk pindah dari Konoha, walau keputusannya sedikit disayangkan. Semuanya sudah berakhir, setidaknya itulah yang Hinata pikir. Dia berdoa agar Sakura dan Sasori bisa bahagia di tempat yang lain.
Namun pada malam kebakaran itu, tak ada seorang pun dari mereka yang tahu dan menyadari. Jauh dari mereka seorang gadis berambut merah muda tengah berjalan dalam rintik hujan dengan pakaian lusuh dan bercampur darah. Gadis itu tertatih sambil membawa sebuah pisau belati pada tangannya.
"Hitori aware ni ayume ya shoujo".
.
.
THE END
A/N :
Thanks for all support and reviews from all of you. I'd really enjoyed your companion through my story. Tak bisa berkata banyak selain ucapan terima kasih akhirnya bisa menamatkan cerita ini. Maaf karena masih banyak kekurangan. Dan tampaknya endingnya menggantung ya? Hahahah -nyengir-
Saya tak bisa mengkategorikan ini sebagai happy ending karena yah memang kelihatannya agak menggantung, jadi silahkan pakai persepsi sendiri, happy ending? Atau sad?
Untuk soal cerita saya tekankan sekali lagi, cerita ini bukan mengutamakan pada genre romance! Jadi saya harap kalian paham. Bahkan di bagian atas, sudah tertera crime/suspense, jadi jangan berharap akan ada adegan lovey-dovey yang romantis dan ending seperti di dunia dongeng, tapi saya sudah mencoba menyelipkan hints (ya, saya lebih suka menerapkan hints ketimbang menuliskan adegan romance dengan pair yang sudah sangat jelas -author ini bejad suka mempermainkan perasaan pembaca-. . Mungkin setelah ini saya akan pikirkan tema lain dengan Hinata as main character (I like her) or maybe Sakura again (she's my second favorite female character after Hinata). Yang mau kasih masukan tema boleh PM mungkin bisa saya pertimbangkan.
Ending cerita ini terinspirasi dari perkataan salah seorang reviewers yang bilang "Setidaknya perasaan Sakura terbalas dan tak bertepuk sebelah tangan." Saya harap endingnya menjawab mengenai perasaan Sasori. Sasori memang menyukai Sakura bahkan akan melakukan apapun untuknya, hanya saja dia lebih bisa mewaraskan diri. Bisa dikatakan dia seperti cinta mati pada Sakura tapi gak menyadari. Sementara sosok Hinata bisa dibilang sebagai peralihan perasaannya yang mencoba untuk menyukai gadis lain dan ketika Sasori merasa sudah mencintai Hinata, ternyata dia masih selalu terbayang pada sosok Sakura dan Hinata mengingatkan Sasori pada Sakura saat gadis itu kecil.
Suka duka selama update. Entah kenapa sering terjadi kesalahan teknis, yang membuat saya harus melakukan upload berulang-ulang. Entah ini kesalahn dari inet saya atau... Sering sekali ketika saya upload, tapi inet saya mati tiba-tiba dan saya kira belumke-upload, maka saya upload ulang (tapi ternyata sudah ke-upload, hanya saya tidak tahu dan itu sering terjadi duh)Tapi ya sudahlah, saya sudah berusaha yang terbaik untuk update.
Sekali lagi terima kasih atas reviews yang kalian berikan. Saya tak menyangka ada yang mau review cerita ini di tengah maraknya kisah SasuSaku/SasuHina/NaruHina. Sedikit pesimis karena yang saya lihat reader lebih memilih genre romance hahahah... Tapi pada akhirnya fic ini bisa saya tamatkan. Arigatou, minna!
Oh, arti dari kalimat terakhir itu ini "Keep on walking alone miserably, young lady."
.
.
Please do not copy paste without permission. See you again in the next story.
