JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Three
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]

.

TRIPLE UPDATE TONIGHT!

.
.
.


"Hey, kau baik–baik saja?"

"A –apa?" Jinyoung mengerjap. Rupanya, sejak tadi, telapak tangan Jihoon yang bergerak naik turun dihadapannya tak berhasil memecah fokus pemuda bersurai hitam itu. Jinyoung menoleh terpatah, memperhatikan Jihoon yang memasang raut cemas di wajahnya.

"Kau sakit?"

Jinyoung menggeleng cepat. "Tidak, aku baik. Sungguh."

Aku.. kenapa?

"Syukurlah. Kukira kau sakit. Seonho bilang padaku, kau melamun selama pelajaran tadi. Aku tau kau alergi buku, tapi jangan melamun saat ssaem menerangkan materi, okay?" senyum tipis Jihoon terkembang. Senyuman yang justru menghantarkan sengatan aneh di tubuh yang lebih muda. Jinyoung memindahkan fokusnya pada lemon tea di depannya.

"Baiklah."

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Bae?"

"Hah? Tidak. Apa maksudmu? Aku baik, sungguh Jihoon. Percayalah."

Tidak. Aku... tidak baik.

Jihoon mengendikkan bahunya pasrah mendengar jawaban Jinyoung. "Okay okay, aku percaya padamu. Kalau ada sesuatu, katakan padaku arra?"

"Tampaknya kita hanya menjadi asap disini," sebuah suara menginterupsi, menyadarkan keduanya bahwa mereka tengah duduk di meja kantin dengan beberapa siswa lain. Seongwoo, sang penyindir, memutar bola matanya jengah di tempat. Menghentikan sejenak kegiatannya menyingkirkan tangan Daniel dari pundaknya.

"Kau tidak menjadi asap bagiku, Seongwoo."

"Ya ya, terserah Daniel."

"Justru aku yang menjadi asap disini, huh," semua pasang mata berpindah, memperhatikan satu objek yang sama. Di ujung meja, pemuda bermarga Ahn tengah memajukan bibirnya dengan dahi mengernyit kesal.

Seongwoo yang pertama terkekeh. "Mana Woojinie gingsul kesayanganmu itu huh?"

Helaan nafas terdengar panjang dari celah bibir Hyungseob. "Sedang ada urusan katanya, entah apa. Semoga saja tidak sedang mencari angin."

Jihoon memutar tubuhnya, menghadapkan dirinya pada Hyungseob yang duduk di seberangnya. Tawa mengalun dari bibirnya.

"Urusan hm? Pfft, jangan–jangan tunanganmu sedang pergi dengan uke manis lain. Yang memiliki senyum cerah dan lebih imut darimu mungkin?"

Senyum cerah?

Jinyoung melirik beberapa meja di seberangnya. Fokusnya bergulir pada pemuda yang kini tengah tersenyum dan sesekali tertawa diantara teman–teman sekelasnya yang lain. Jinyoung meringis samar. Jemarinya kembali mencengkram ujung seragamnya kuat. Beruntung tak ada yang menyadari dirinya saat itu.

"Sialan," bisik Jinyoung seringan udara untuk yang kesekian kalinya.


.

.

.


"Permisi," Sewoon melongok, mencari objek hidup yang ada di ruang Dewan Murid. Jangan salahkan Sewoon, salahkan kenapa tak ada yang menjawab ketukannya di pintu sejak tiga menit lalu. Waktu istirahatnya sudah terbuang percuma untuk mengetuk pintu. Dan dengan keberanian entah dari mana, ia membuka gagang pintu mengkilap ruang Dewan Murid dan melongok ke dalamnya.

Lagi, masih belum ada sahutan dari dalam.

Sewoon beranjak, mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tak cukup besar itu. Maniknya berhenti pada sebuah gundukan di atas meja yang ia yakini adalah meja ketua Dewan Murid, melihat banyaknya kertas dan map menumpuk disana.

Sewoon melangkah ragu, mendekat pada gundukan –yang ternyata manusia– dan menguncang bahunya pelan. Menyadarkan sosok di depannya dari dunia mimpinya.

"Se–woonie? Ponyo.. itu kau?"

Sewoon membatu.

Sewoon segera berdeham, menyadarkan dirinya dan sosok di hadapannya. Senyum canggung tertoreh di wajah Sewoon.

"Sunbaenim? Kau sudah bangun? Kau memanggilku kemari tadi pagi."

"Apa? Oh– maaf, aku lupa. Aku... ketiduran."

Kelopak Sewoon mengedip sejenak. "Ya.. kau pasti lelah sunbaenim."

Sosok dengan surai hitam bergelombang di depannya tertawa pelan. Sangat pelan hingga terdengar seperti terpaksa bagi Sewoon. Bahunya berguncang pelan seiring dengan tawanya yang mengalun. Sementara itu, jemarinya bergerak mengucek kelopak matanya sendiri.

"Ya, begitulah. Oh, aku merasa mengatakan sesuatu padamu. Apa aku berbicara sesuatu denganmu tadi?"

Kepala Sewoon menggeleng cepat. Meski ia yakin ia tampak konyol saat ini.

"Benarkah? Aku merasa mengatakan sesuatu.."

"Ah, tidak sunbaenim."

Sosok di depannya berdiri, menyamakan irisnya dengan milik Sewoon. Manik hitamnya menatap Sewoon dalam, seakan mengajak pemuda itu untuk kembali padanya. Sewoon berdeham canggung. Segera ia mengalihkan fokusnya pada apa saja yang bisa ia tatap.

"Sudah kubilang, panggil hyung saja."

"Tapi.. itu tidak sopan."

Bibir pemuda di depannya maju beberapa senti. "Kau memperlakukanku seperti orang asing saja, Sewoon–ah."

"Bukan, bukan maksudku begitu, Jaehwan sunbaenim," kedua telapak Sewoon berguncang di depan dadanya, memberikan sinyal 'tidak' pada sang lawan bicara, Kim Jaehwan. "Aku.. hanya menjaga sopan santun saja."

"Panggil hyung saja."

"Tapi–"

"Jung Sewoon."

Sewoon menelan salivanya berat. Mendengar kembali suara berat dan tegas yang ia rindukan itu sukses membuat kerja jantungnya meningkat. Sewoon mendongak, menatap wajah Jaehwan di depannya.

"Baik.. hyung."

Jaehwan tersenyum penuh kemenangan. "Nah, begitu!" tangan yang lebih tua bergerak mendekat pada surai coklat Sewoon, kemudian mengacaknya gemas.

Lagi, Sewoon berdeham canggung. "Eh, aku akan kena hukuman apa sun– maksudku, hyung."

Jaehwan kembali duduk di kursi kerjanya. Meski begitu, maniknya masih menatap wajah Sewoon. Dahi yang lebih tua mengernyit, nampak berpikir mengenai hukuman apa yang akan ia berikan pada Sewoon.

"Kau–"

'Harus berkencan denganku.'

"–harus membersihkan perpustakaan."

Bibir Sewoon menutup dan membuka, persis seperti ikan kelaparan begitu serentetan kalimat tanpa perasaan itu meluncur dari bibir Jaehwan. Jarinya bergerak menunjuk salah satu sisi secara asal. Hanya ada suara tercekat di ujung tenggorokan yang terdengar disana.

"Apa ada masalah?"

"P– perpustakaan? Tapi– tapi ada banyak buku–"

"Atau kau mau menulis essay sepuluh halaman, Jung Sewoon–ssi?"

Sewoon menggeleng terpatah.

"Bagus," senyum –yang tak bisa disebut sebagai senyuman– terlukis di bibir Jaehwan. "Kalau begitu, sepulang sekolah kerjakan. Aku akan memantaumu langsung."

Kini, dua manik bulat Sewoon membola. "A– apa? Memantau langsung? Tapi– tapi–"

"Itu saja, silahkan istirahat."

"Tapi–"

"Jung Sewoon," Jaehwan menatap wajah pemuda yang lebih muda di depannya dalam, meminta pada Jung itu untuk berhenti melayangkan protesnya. Jari Jaehwan bergerak, menunjuk satu sisi di ruang Dewan Murid tanpa ragu. Manik Sewoon bergerak mengikuti arah jari telunjuk Jaehwan. Pemuda itu tengah menunjuk pintu yang menjadi akses keluar dan masuk ruang Dewan Murid. Pemuda Jung itu kembali menaruh fokusnya pada Jaehwan. Kelopaknya mengerjap tak paham.

"Pintu keluar ada di sebelah sana."

Sudut bibir Sewoon bergerak, membentuk senyuman paksa di wajah pemuda Jung itu. Setengah membungkuk, Sewoon berjalan mundur menuju pintu. Menghindari bertatapan dengan Jaehwan.

"Saya permisi, Jaehwan–ssi."


.

.

.


Pemuda yang kini tengah berbaring di sofa ruang Dewan Murid terbahak, mengabaikan sejenak pemuda lain di sisi kanan ruang kecil itu. Surai merahnya berguncang seiring tawanya yang meledak.

"Jadi, bagaimana kencanmu, sunbaenim? Pfft~"

"Diam kau, bocah!"

Sebuah sepatu melayang melintasi ruangan itu. Hanya sebelah. Sang surai merah kembali tertawa setelah sempat hening sejenak. Menulikan indra pendengarannya dari sumpah serapah kakak kelasnya yang tengah terduduk kaku di kursi kebesarannya.

"Apa kau sudah mengajaknya makan malam? Kurasa–"

"Park Woojin!"

Kali ini, menyusul sebuah sepatu mengudara di ruang Dewan Murid. Pasangan dari sepatu sebelumnya. Sang pelaku pemancing emosi, Woojin, menyemburkan tawanya dari celah bibirnya yang sudah ia coba untuk ditutup rapat.

Woojin menegakkan tubuhnya, berpindah dari posisi berbaringnya ke posisi duduk di sofa. "Aih, ada apa ini hm? Kenapa ketua kita tampak sangat frustasi?"

Jaehwan, sang korban pembullyan Woojin, hanya terdiam di meja kerjanya dengan kedua tangan yang meremas surainya kalut. Tak ada niatan baginya untuk membuka mulut dan membalas ucapan penuh ejekan dari Woojin.

"Apa karena tuan Kim kita yang terhormat belum mengajak mantan kekasihnya untuk pergi berkencan?" Woojin menolehkan kepalanya, menemukan sosok Jaehwan dalam fokusnya. Sudut bibir Woojin terangkat semakin lebar kala pemuda yang notabenenya adalah kakak kelasnya itu mengacungkan jari tengah padanya.

"Aigoo, ketua yang terhormat, kau tak boleh mengacungkan jari tengah seperti itu. Bagaimana kalau ada CCTV yang– ah iya, tak ada CCTV di ruang Dewan Murid. Huh, sayang sekali. Kapan lagi seorang Kim Jaehwan mengacungkan jari tengahnya?"

"Sialan, diam kau bocah brengsek. Aku mencoba bersabar disini."

"Oh? Bersabar kenapa? Apa karena hatimu menjerit sebab kau belum berhasil– Wow, wow, okay letakkan lampu meja itu kembali di tempat seharusnya hyung. Pengeluaran kita cukup banyak untuk bulan ini, kau tau?"

Kini, Jaehwan lah yang menarik sudut bibirnya kesamping.

"Pilih satu, ku lempar atau ku masukkan langsung ke dalam mulutmu itu, Park Woojin–ssi, ketua Komite Ekstrakulikuler?"

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


[Another useless author note in the next chap. Happy reading!]