Saat itu‚ malam. Cahaya di belakangnya menghilang secara perlahan-lahan setelah ia menapakan kaki ke permukaan. Dilihatnya sekeliling setelah cahaya itu redup. Waktu masih berhenti. Orang-orang berhenti bergerak dari aktivitasnya saat ini. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan‚ tersenyum. Ia rindu dengan suasana bumi. Dan rindu pula pada laki-laki itu.

Ia melangkah menjauh‚ menyusuri jalan setapak. Bertepatan dengan itu‚ waktu kembali berjalan. Ia menembus orang-orang itu. Terus berjalan‚ dan berhenti ketika melihat taksi hendak melintas di depannya. Ingin segera ia pulang saat ini. Tak kuat ia menahan rindu yang telah menumpuk tinggi itu.

Di dalam taksi‚ ia berandai-andai. Bagaimana reaksinya kalau tahu ia kembali pulang? Bagaimana pula rasa debaran di dada yang kini ia rindukan itu? Membayangkannya membuatnya tersenyum. Ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.

Karena sebentar lagi‚ ia akan bertemu dengan takdirnya. Bertemu dengan lelaki yang membuatnya merindu setengah mati jauh di dunia sana.

Namun kemudian‚ senyumnya luntur. Sebab cahaya menyilaukan tiba-tiba datang dari arah depan dan membuatnya menyipitkan mata. Secara refleks ia menghalangi cahaya itu dengan kedua tangannya‚ lalu merasakan tubuhnya dilempar kemana-mana setelah itu. Ia banyak membentur kaca‚ jok depan‚ dan membentur benda keras lainnya. Intinya ia terpontang-panting di dalam taksi.

Ia tak bisa merasakan apa-apa lagi saat guncangan hebat yang tak ia tahu dari mana asalnya itu berakhir. Yang ia tahu adalah bau anyir darah‚ serta rasa sakit di seluruh tubuhnya. Tulangnya terasa remuk. Ia sulit untuk mengais oksigen yang tersisa dengan tingkat kesadaran yang kian melemah.

Jika mungkin ia berakhir di sini‚ ia ingin melihatnya sebentar saja. Sedetik tak apa. Biar ia menuntaskan rindu yang mungkin tak pernah terbalas itu. Namun‚ jika ia masih bisa selamat‚ ia berharap bahwa dia melihatnya‚ menemaninya‚ dan menggenggam tangannya. Ia rindu lelaki itu‚ rindu sekali. Jadi biarkan dia berada disisinya walau nanti untuk mengingat namanya pun sulit.

Ia menarik napas putus-putus. Matanya memberat ketika ia mendengar suara sirine di luar sana. Pandangannya buram. Lalu bayangan lelaki itu yang tengah tersenyum‚ membuatnya makin terasa lemah. Kemudian hitam. Genggaman tangannya pada sabuk pengaman mobil melemas. Ia tak bisa menahan seluruh rasa sakit yang mendera tubuh.

Saat ini memang ia tak sadar. Tetapi dalam hati‚ ia masih terus menggumam; Sehun‚ aku pulang…

A Letter For Little Fairy

20. Rindu

"Kau di sana selama berapa hari?"

"Tiga hari. Setelah itu‚ aku sungguhan pulang."

"Apakah lewat stasiun ini juga?"

Sehun terkekeh. "Iya‚ Luhan." jawabnya menahan tawa gemas. "Kalau aku pulang‚ kau bisa menjemputku di sini lagi bersama Sehyun noona." katanya seraya mengusap puncak kepala Luhan dengan lembut.

Luhan meninggikan bahu dengan mimik wajah kegelian. Disebelahnya ada Sehyun yang berdeham-deham kecil karena momen barusan‚ sungguh membuatnya seperti seekor nyamuk. Sehun berhenti mengusap puncak kepala Luhan karena suara Sehyun. Ia beralih menatap kakaknya yang bersedekap dan tertawa.

"Aih‚ aku akan sangat merindukan noona." katanya. Ia merentangkan kedua tangan‚ berjalan mendekati Sehyun‚ dan memeluknya dengan erat. Sehyun sampai kesulitan untuk bernapas karena pelukan adiknya itu.

"Ya! Ya!" Sehyun mendorong dada Sehun dengan kesusahan. Ketika pelukan itu merenggang‚ segera saja Sehyun mengais oksigen sebanyak-banyaknya. Ia menatap Sehun jengkel. "Cepat pergi sana‚ ya. Setelah kau memelukku macam memeluk gulingmu itu‚ aku tak mau kau menyeretku ikut masuk ke kereta." ketusnya.

Sehun terpingkal. "Kalau noona rindu padaku bagaimana? Di sana tidak ada jaringan‚ lho."

Sehyun sudah pias dengan sikap adiknya ini. Sesungguhnya ia memang senang digoda-goda seperti itu oleh Sehun. Pikirnya‚ godaan Sehun yang jarang ia dapati akhir-akhir ini tak akan terdengar lagi untuk tiga hari kedepan. Mungkin ia akan merindukan Sehun dan godaannya. Karena tiap bekerja pun‚ yang sering ia pikirkan adalah; 'apa yang sedang adikku lakukan saat ini?'

"Aih‚ sudah sudah." Sehyun berkata dengan senyum tertahan di wajah. "Sebentar lagi kau sudah harus masuk ke kereta. Cepat pergi sana."

"Baiklah‚ baiklah." ujar Sehun. Ia mengangguk-angguk jengah pada Sehyun. "Aku pergi. Sampai bertemu seminggu lagi!"

Dan‚ ya. Lelaki itu pergi dengan lambaian tangannya. Senyum serta langkahnya membuat Luhan yang sedari tadi memperhatikan jadi tak bisa menahan senyum pula. Untuk tiga hari ke depan‚ Sehun akan berada jauh darinya. Luhan harus menahan rindu selama tiga hari itu mulai dari sekarang. Ia akan belajar untuk menahan rindu pada Sehun. Sebab ketika ia melihat Sehun masuk ke dalam gerbong kereta‚ entah mengapa‚ Luhan sudah mulai merasa rindu.

Rindu… Pernahkah aku merasa sangat-amat rindu pada Sehun?

"Hei‚ Luhan."

Luhan terkesiap kecil. Ia berbalik dan melihat Sehyun sudah melangkah keluar dari stasiun terlebih dahulu. Luhan kembali menoleh ke arah dimana Sehun menghilang. Ia dapat melihat kereta yang dinaiki Sehun baru saja melaju‚ Luhan tak sadar akan hal itu. Maka dengan rasa yang mengganjal di hati‚ Luhan melangkah pergi. Mengiringi langkah Sehyun kemudian.

.

.

.

Satu setengah jam menaiki kereta‚ akhirnya Sehun sampai di stasiun tujuan. Ia‚ bersama teman-temannya‚ segera turun di sana. Mereka berkumpul sebentar. Memastikan siapa dan barang apa saja yang tertinggal di kereta saat ini. Jika mereka sudah lengkap‚ mereka harus menaiki bus kecil yang sudah menunggu di depan stasiun untuk sampai di tempat tujuan.

Bus kecil ini hanya mampu menampung lima belas orang‚ itu pun berdesak-desakan. Sehun duduk di dekat jendela yang terbuka‚ memandangi pemandangan di luar serta menikmati angin sejuk selama perjalanan. Bus melaju di jalanan pedesaan. Udara sejuk masih terasa menyegarkan walau sekarang sudah hampir pukul sepuluh pagi. Jalan ini adalah jalan paling mudah menuju lokasi selain berjalan kaki sejauh lima kilometer.

Sebenarnya‚ tujuan mereka saat ini adalah tempat yang pernah dikunjungi Sehun. Hanya saja jalan yang ia lewati dulu dan sekarang itu berbeda. Jika dulu ia harus naik bus selama dua jam dan jalan kaki sampai beberapa kilometer‚ kini ia harus naik kereta di awal‚ bus kecil‚ dan berakhir jalan kaki sejauh satu kilometer. Lumayan‚ pikirnya. Jalanan yang dilewati bus ini sudah termasuk jalan yang lumayan untuk daerah pedesaan. Tak ada lumpur dan kubangan air mengingat semalam hujan turun deras.

Di bus‚ ada dua belas teman satu kampus yang dekat dengannya. Ada beberapa perempuan yang ikut dan salah satunya adalah Haein―Sehun tak tahu kalau Haein juga memutuskan untuk bergabung ke acara ini.

Awalnya‚ di akhir semester ini‚ mereka berencana untuk bersenang-senang dengan alam. Hitung-hitung sebagai refreshing dari materi serta tugas yang menyumpal otak setiap hari. Acaranya adalah berkemah. Dan tempat yang mereka pilih adalah tempat yang memang pernah dikunjungi Sehun hampir setahun yang lalu.

Tempat perkemahan semasa SMA nya. Tempat dimana Luhan menghilang.

Sehun tak tahu kenapa mereka memilih tempat ini sebagai tujuan mereka. Sehun baru tahu ke mana tujuan mereka beberapa jam sebelum keberangkatan. Sehun tak bisa menolak‚ juga tak bisa membatalkan rencana ini. Karena sebelumnya mereka sudah berjanji satu sama lain kalau yang satu tidak ikut‚ maka acara mereka batal.

Bus berhenti setelah satu jam perjalanan mereka habiskan dengan bercanda bersama―kecuali Sehun. Mereka turun dan segera berjalan kaki menuju lokasi.

Sementara itu‚ Haein yang sedari tadi tertawa bersama temannya‚ tiba-tiba menghentikan tawa karena tubuhnya menabrak tas punggung milik seseorang di depannya. Haein mengaduh kecil. Tubuhnya terhuyung hampir terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan diri lagi juga karena tasnya yang berat. Lalu tangannya yang digapai dan ditarik seseorang membuat keseimbangan tubuhnya kembali. Haein melihat orang itu‚ ingin mengatakan rasa terima kasih‚ dan tiba-tiba tak bisa berkata apapun.

"Maaf sudah berhenti mendadak dan membuatmu hampir jatuh." katanya. Ia tersenyum dan membuat Haein hampir mendelik karena melihat senyuman itu. "Ayo cepat. Kau akan tersesat kalau berjalan di belakang."

Haein mengangguk kaku. Ia menyusul temannya yang sudah menanti tidak jauh darinya dan melewati lelaki yang baru saja membuatnya mendelik itu dengan terburu-buru.

Astaga‚ Sehun. Sesungguhnya aku tak berharap kau melihatku dan menarik tanganku seperti tadi.

.

.

.

Hari sudah sore. Ketika yang lain asyik sendiri dengan aktivitasnya‚ hanya Sehun yang duduk sendiri di depan tenda. Tempat ini selalu mengingatkannya tentang Luhan. Diamnya sedari tadi karena bayangan Luhan yang dulu serta peristiwa di malam hujan itu melintas dan berputar-putar terus di otaknya.

Jujur‚ meskipun Luhan sudah kembali dan kini semakin dekat dengannya‚ rasa rindu yang dulu membelenggunya itu masih ada sampai sekarang. Rasa rindu itu untuk Luhan yang dulu‚ bukan untuk Luhan yang sekarang. Namun setidaknya Luhan yang sekarang ini sudah ada disisinya‚ sudah berlari bersamanya. Sehun tak mengkhawatirkan hal lain karena hal itu.

Kemudian‚ Sehun beralih memperhatikan sekitar. Tempat ini tak banyak berubah. Ketika datang beberapa jam yang lalu‚ sudah banyak tenda yang berdiri. Orang-orang ternyata juga sedang melakukan refreshing sama sepertinya. Lalu Sehun memperhatikan sisi yang lain. Teman-temannya sedang mengobrol asyik tidak jauh darinya. Ia dapat mendengar suara tawa teman-temannya yang menarik perhatian. Sungguh‚ Sehun ingin bergabung. Tapi nyatanya ia malas untuk beranjak dari sana.

"…kau tak ingat waktu itu Haein yang dengan konyolnya―"

"Ya! Jangan ceritakan hal itu!" Haein cepat-cepat membekap bibir temannya dan mengomel-omel. Yang lain memperhatikan sembari cekikikan.

Sehun mendengus geli. Di sana dapat ia lihat Haein sedang bersenang-senang dengan teman yang lain.

Setelah kejadian itu‚ ia jarang melihat Haein di sekitarnya lagi. Ia tak tahu kemana perginya perempuan menggemaskan itu. Sehun pernah melihatnya sekilas di kantin‚ juga pernah melihatnya secara tidak sengaja sedang tertidur di perpustakaan. Tapi Sehun sama sekali tak memiliki niatan untuk menyapa Haein.

Karena ia tahu‚ Haein butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Maka dari itu ketika ia melihat Haein di kereta‚ di bus‚ serta di depannya tadi saat berjalan‚ Sehun hanya diam memperhatikan. Mungkin percakapan singkatnya dengan Haein saat Haein hampir terjatuh karenanya tadi adalah percakapan pertama mereka selama kurang lebih tiga bulan ini menjauh. Itu pun tadi Haein terlihat terkejut melihat senyumnya.

Oh. Sehun jadi ingat bagaimana Haein saat mereka pertama kali bertemu di kedai waktu itu.

"…Haein sedang dekat dengan seseorang‚ asal kalian tahu itu."

"Jangan percaya dengan Gaeul!"

"Ya! Siapa yang waktu itu senyum-senyum macam orang sinting dan bercerita padaku kalau kau―aduh‚ aduh! Jangan mencubitiku‚ Haein."

"Siapa suruh kau bercerita."

"Pacarnya namanya Heojun!"

"Ya!"

Mereka tertawa. Dan Sehun yang memperhatikan‚ tersenyum. Akhirnya Haein menemukan penggantinya.

.

.

.

"Hei‚ kenapa kau melamun terus?"

Luhan terkesiap kecil. Dilihatnya Kim Jung Ah yang sedang tersenyum seraya memberikan sepiring makanan untuknya di meja makan. Luhan tersenyum simetris‚ menunduk malu. Sudah beberapa kali ini ia ketahuan melamun oleh bibinya yang satu itu.

"Melamunkan Sehun‚ hm?"

"Eh‚ tidak." Luhan langsung menjawab dan mengibaskan tangan di udara. Ia menggosok kepalan tangannya di pelipis‚ lalu menutupi wajahnya dengan rambut untuk menyembunyikan rona merah di wajah dari Jung Ah.

Jung Ah tertawa. "Tidak apa-apa‚ Luhan. Itu sudah tertulis di keningmu." katanya geli. "Kalian kan sudah dekat sekali‚ bahkan sekarang―"

"Astaga‚ bibi. Jangan bicara tentang itu.." rengek Luhan menyela. Jung Ah makin tertawa karena Luhan saat ini.

"Memangnya kenapa? Kan memang benar begitu." katanya‚ masih betah menggoda Luhan yang sudah malu-malu di depannya. Ia kembali tertawa. "Ya Tuhan‚ kalian ini…"

Luhan melirik Jung Ah. Wanita itu sedang tersenyum dan Luhan jadi mengalihkan pandangan lagi. Luhan masih malu.

"Kau tahu‚ saat kalian berumur empat tahun dan baru bertemu‚ kau yang paling cerewet daripada Sehun. Kau selalu jengkel karena Sehun sama sekali tak memperhatikanmu‚ bahkan sampai sekarang masih begitu." kata Jung Ah dengan pandangan menerawang. Ia menghela napas panjang kemudian‚ tersenyum. "Masa-masa kecil kalian terkadang membuatku tersenyum saat mengingatnya."

Luhan menyembunyikan senyuman kecil di balik rambutnya. Ia makan dan terus mendengarkan cerita Jung Ah tentang masa kecilnya dan Sehun. Luhan lahir dan dititipkan pada Jung Ah saat ia berusia tepat empat tahun―Jung Ah sama sekali tak bercerita tentang Luhan yang bernama asli Lunar sekarang ini. Setelah itu‚ Luhan menjalin pertemanan dengan Sehun sampai sekarang. Banyak kejadian lucu dimasa lalu yang membuatnya hampir tersedak makanan karena menahan tawa. Luhan memang ingat beberapa momen dimasa lalu. Tetapi memang tak sebanyak memorinya yang dulu.

Omong-omong soal Luhan dimasa kecil‚ Luhan jadi penasaran siapa orang tuanya. Sedari tadi Luhan mencari celah untuk bertanya pada Jung Ah. Kalau memang ia masih punya orang tua‚ kenapa pula ia dititipkan pada Jung Ah dan tak pernah dikunjungi oleh kedua orang tuanya?

"Bibi‚" Luhan memanggil‚ menyela saat dirasanya ada jeda dicerita Jung Ah.

Jung Ah beralih padanya. Bayangan masa-masa kecil Luhan dan Sehun yang lucu buyar seketika. Ia menaikkan kedua alis memberi perhatian‚ juga memberi isyarat untuk Luhan berbicara.

"Apa bibi masih ingat siapa kedua orang tuaku?" tanya Luhan hati-hati. Diliriknya Jung Ah dalam tundukan kepalanya. Ia kembali melanjutkan. "Kenapa aku dititipkan pada bibi?"

Hening. Ada jeda yang panjang sekali sampai Luhan tak bisa menghabiskan makan malamnya kali ini.

Namun setelah itu‚ Jung Ah tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Luhan dengan sayang seraya menjawab‚ "Kau akan tahu siapa kau sebenarnya setelah kau sembuh dari amnesia mu‚ Luhan. Kau dititipkan padaku karena kau memang spesial. Kau dipercayakan padaku karena sebelumnya aku sama sepertimu‚ mengerti?"

Luhan mengerjap. Ia sama sekali tak mengerti. Ingin ia bertanya lagi. Namun Jung Ah sudah terlanjur beranjak dari tempatnya untuk mencuci piring dan pergi tanpa berkata apapun. Jung Ah pergi meninggalkan Luhan sendirian bersama ratusan tanda tanya disekelilingnya.

Ratusan tanda tanya itu sama sekali tak bisa pergi darinya. Luhan tetap memikirkan dan bertanya-tanya sebelum ia tertidur.

Hari sudah larut. Sekitar pukul sepuluh lebih beberapa menit saat itu. Luhan tak bisa memejamkan mata dan mencari mimpinya. Sebab pertanyaan itu terus saja membayanginya sampai sekarang. Jawaban Jung Ah di akhir percakapan mereka tadi‚ seperti pernah ia dengar sebelumnya. Entah itu kapan dan dimana‚ Luhan sama sekali tak ingat. Beberapa kali Luhan bersikeras mengingat-ingat‚ peristiwa itu juga tak bisa muncul dan membuat kepalanya pusing seperti biasa.

Luhan mendesah keras. Ia bangun dari rebahannya‚ dan menapakkan kaki pada lantai yang dingin. Tiba-tiba saja Luhan merasa haus. Ia butuh segelas air putih yang dingin untuk menentramkan pikirannya yang bergejolak. Maka dari itu Luhan keluar dari kamar dan berjalan pelan-pelan menuju dapur.

Jung Ah sudah tidur. Luhan sendirian saat ini. Ia meraih gelas kosong dan mengisinya dengan air putih tiga perempat penuh setelah ia sampai di dapur. Setelah itu Luhan meminumnya banyak-banyak. Luhan meletakkan gelas yang telah kosong itu di meja dan mendesah pelan. Lega rasanya. Pikirannya menjadi lebih baik.

Tapi tiba-tiba ia teringat lagi.

Luhan mendengus. Diisi lagi gelas itu‚ dan dihabiskannya pula air putih itu dengan cepat. Berkali-kali. Sampai perut Luhan terasa penuh dengan air.

Tetapi‚ setelah menghabiskan gelas kelimanya‚ Luhan terdiam. Gelas keenam yang masih ia minum isinya itu berhenti dan tetap berada di bibir Luhan. Ia merasa ada yang muncul di belakangnya saat ini. Dirasakannya angin berhembus pelan yang entah dari mana asalnya.

Luhan membeku. Tak bisa bergerak barang sesenti pun.

Mata Luhan bergerak-gerak gelisah saat ini. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Lalu jendela dapur yang tertutup dan terbuka beberapa kali‚ menimbulkan suara 'tak-tak' pelan. Bahkan kain yang menutupi jendela itu ikut melambai karena angin yang berhembus.

Jantung Luhan bertalu. Napas Luhan tersendat saat ini. Ia merinding sekali.

Luhan tak tahu. Di belakangnya saat ini‚ tepat di vas bunga yang berada di atas kulkas‚ benda itu bercahaya. Cahaya itu membentuk makhluk kecil setinggi lima senti meter. Lamat-lamat cahaya itu menghilang. Setelah menghilang‚ munculah sosok makhluk kecil berambut cokelat sebahu yang cantik. Makhluk kecil itu mengerjap‚ mengepakkan sayap dan terbang dari atas kulkas‚ tepat di belakang Luhan.

"Hei‚ Lunar." panggilnya riang.

Luhan yang masih membeku ketakutan‚ tersentak mendengar suara itu dari belakangnya. Ia berbalik dan menjerit melihat makhluk mungil itu tepat berada di depan wajahnya. Gelas yang ia pegang‚ jatuh dan pecah. Membuat makhluk kecil itu juga meloncat karena terkejut dengan pekikan Luhan. Ia terbang menghalangi Luhan yang sudah berbalik.

Luhan sudah berpikir aneh-aneh. Itu tadi apa? Hantu? Iblis? Apa itu? Ya Tuhan…

"Lunar‚ hei‚ ada apa denganmu?"

Luhan menjerit lagi. Ia berjingkrak-jingkrak dengan mata terpejam karena saking takutnya dengan Flory‚ makhluk mungil yang menyapanya. Luhan berbalik‚ dan ingin berjalan keluar dari dapur. Tetapi tiba-tiba kakinya menginjak pecahan kaca dari gelas yang tadi ia pecahkan. Luhan memekik kesakitan lagi. Luhan terjatuh. Namun karena tongkat onemed yang berada di ketiaknya‚ sempat menahan Luhan hingga Luhan jatuh menyamping. Kepalanya terbentuk meja dan pingsan.

Flory melihat keadaan Luhan dengan ngeri. Astaga‚ apa yang salah dengannya? Kan ia hanya ingin berkunjung sebentar saja saat ini.

"Luhan‚ ada ap―Ya Tuhan!" Jung Ah yang baru saja datang dengan mata mengantuk‚ panik melihat Luhan dalam keadaan mengenaskan saat ini. Matanya yang mengantuk terpaksa membulat karena melihat darah di kaki Luhan. Jung Ah membawa Luhan dalam pangkuannya‚ menepuk pipi serta memanggil nama Luhan supaya Luhan cepat sadar.

"Selene‚" Flory menginterupsi dan membuat Jung Ah mendongak menatapnya. Ia kebingungan dan hanya bisa memperhatikan sedari tadi. "Lunar kenapa?"

"Oh‚ kau Flo?" Jung Ah sama sekali tak terkejut. Ia masih mencemaskan Luhan. "Lunar‚ ini―Astaga‚ Luhan‚ bangunlah‚ hei."

Flory meringis. Ia terbang mendekati Luhan dan membantu Jung Ah untuk mengambil ponsel. Jung Ah harus cepat menghubungi rumah sakit sekarang.

.

.

.

Sehun membuka mata. Barusan ia bermimpi buruk hingga membuatnya tersentak dan terbangun. Kepalanya pusing seketika. Ia meringis merasakan pening itu.

Hari sudah malam sekali. Teman-temannya sudah tertidur pulas di sisinya. Sehun mendesah kecil. Ia mengucek sebelah mata yang terasa perih. Kemudian Sehun terdiam dalam duduknya. Ia teringat tentang mimpi buruknya barusan.

Mimpi itu berawal dari dirinya yang muncul dari sebuah cahaya. Cahaya itu mengantarnya ke tempat dimana semua aktivitas manusia berhenti. Ketika Sehun mulai berjalan‚ orang-orang itu kembali beraktivitas seperti semula. Sehun terus menyusuri jalan hingga rasa rindu pada rumah itu muncul tanpa sebab. Sehun menghentikan taksi untuk pulang‚ dan berandai-andai tentang sesuatu yang tak ia mengerti. Sampai ketika cahaya menyilaukan dari sebuah truk membuatnya tak sadar tentang apapun. Tubuhnya terpontang-panting sampai rasanya sulit untuk bernapas. Setelah itu‚ munculah harapan yang tak asing‚ harapan yang membuat jantungnya bertalu nyeri. Mimpi yang terasa begitu nyata itu membuatnya terbangun saat ia menutup mata di mimpi itu.

Sehun sama sekali tak sadar. Bahwa mimpi yang tadi ia mimpikan adalah kejadian yang pernah Luhan rasakan saat ia kembali lagi ke bumi.

Sehun menghela napas lagi. Setelah ia mencoba untuk tidur dan gagal‚ Sehun memutuskan untuk keluar dari tenda. Mungkin udara segar bisa membuatnya tenang. Sebab sedari tadi perasaannya jadi tak menentu. Bayangan Luhan terus saja berkeliling tanpa lelah di pikirannya.

Udara dingin yang menusuk kulit‚ membuat Sehun mengeratkan jaket yang ia pakai setelah ia keluar dari tenda. Sehun berjalan beberapa langkah di depan tenda. Melihat-lihat sekitar yang sepi‚ dan terkejut karena melihat seorang perempuan yang tak asing baginya sedang memandangi bintang sendirian di depan tenda yang lain.

Haein. Kenapa dia belum tidur?

Sehun mendekati Haein yang tak menyadari kehadirannya. Haein masih betah memandangi bintang sendiri‚ tersenyum kecil. Sehun yang tidak sengaja melihat senyum itu‚ juga ikut tersenyum. Ia duduk disebelah Haein dan mengejutkan perempuan itu.

"Aduh‚ aih." Haein meloncat kecil sembari mengelus-elus dadanya setelah tahu kalau itu Sehun. "Aku pikir siapa. Ternyata kau." katanya. Suaranya terdengar serak di awal dan pelan di akhir.

Sehun tersenyum. "Aku juga berpikir siapa yang melihat bintang sendirian selarut ini di depan tenda." sahutnya. Ia tersenyum lebih lebar lagi melihat Haein yang berdecak kecil setelah melihatnya.

"Aku hanya menghitung jumlah mereka." kata Haein seadanya. Ia tak memperhatikan Sehun lagi.

Terserah lah pada perasaannya yang masih sedikit sakit melihat Sehun di sekitarnya. Yang penting rasa yang dulu pernah ada itu telah terkikis karena rasanya pada orang lain. Ternyata jatuh cinta pada orang lain itu mudah sekali. Haein yang berpikir sebaliknya sebelum ini‚ merasa tak percaya bahwa kehadiran Heojun‚ anak baru di klub nya‚ membuat harinya lebih indah daripada dengan Sehun.

"Mereka terlalu banyak untuk kau hitung‚ Haein. Ada milyaran yang belum kau hitung di sisi bumi yang lain." balas Sehun. Ia terkekeh diawal.

Haein tak menanggapi selain tersenyum. Rasanya aneh juga setelah lama tak berbincang dengan Sehun.

"Kau tahu‚ sebelum aku bertemu denganmu‚ aku juga sering menghitung bintang." aku Sehun. Ia membenarkan posisi duduknya menjadi bersila. Sehun ikut menatap bintang saat Haein memandangnya dari samping. Sehun tersenyum. "Aku pikir aku bodoh karena sudah mau-mau saja menghitung bintang yang tak bisa terhitung berapa jumlahnya. Tapi karena Luhan‚ aku jadi bodoh seperti itu."

"Memangnya Luhan kenapa?" tanya Haein refleks. Ia ingin mendengar cerita tentang kedua orang itu‚ entah mengapa.

Sehun terdiam sebentar‚ mengenang. "Luhan pernah pergi jauh sekali. Dan dia bilang kalau aku rindu padanya‚ aku bisa memandangi bintang‚ juga menghitungnya. Aku berandai-andai selama melihat bintang. Akankah salah satu bintang yang kemilau itu berubah menjadi Luhan dan terbang menghampiriku?"

Haein tersenyum geli. Ia hanya menahan tawa saat Sehun mendenguskan tawa setelah itu.

"Tapi kemudian Luhan kembali. Bersama bintang yang lebih kemilau. Aku sampai harus menutup mata karena cahaya bintang itu." lanjut Sehun. Ia menghembuskan napas dengan pelan.

"Ah‚ kupikir kau beruntung sekali karena Luhan kembali dengan bintang itu." ujar Haein jenaka.

"Sepertinya begitu." Sehun mengangkat sekilas kedua bahunya. Tetapi kemudian Sehun berkata‚ "Bintang itu kau‚ Haein. Asal kau tahu itu." seraya menatapnya.

Haein mengerjap. Aku? batinnya bertanya dengan terkejut. Raut wajahnya berubah. Dadanya memberontak nyeri. Ia diam lagi.

"Kau itu bintang yang kemilau‚ bintang yang datang bersama Luhan." kata Sehun lagi. Ia tersenyum jenaka hingga membuat Haein mendengus jengkel padanya. Sehun tertawa kecil. "Aku serius. Kau itu bintang yang kupandangi dari jauh. Aku tak bisa meraihnya karena kau terlalu jauh‚ Haein. Jadi karena Luhan itu bintang yang paling dekat denganku‚ maka aku bisa meraihnya dengan mudah. Lagipula kau itu sudah ada yang memiliki. Ya sudah‚ aku pilih Luhan saja."

Haein mengerjap pelan. "Hei‚ kalau aku bintang‚ memang siapa yang memilikiku?"

"Tahu Vega?" tanya Sehun. Haein menggeleng pelan sebagai jawaban. Sehun terlihat mencari-cari bintang‚ lalu menunjuk arah utara dengan mata berbinar. Haein mengikuti arah telunjuk itu. "Itu. Bintang yang kemilau biru itu namanya Vega. Dan Vega sendiri sudah dimiliki oleh rasi bintang Lyra."

Lagi‚ Haein mengerjap kagum melihat bintang yang kemilaunya memukau hati. Vega. Bintang itu adalah dirinya untuk Sehun. "Kau serius?" tanya Haein kemudian.

"Aku bercanda."

Lantas Haein cemberut. "Ya!" serunya pelan. Ia memukul lengan Sehun yang terkekeh karenanya.

"Maksudku‚ kau sebagai Vega sudah dimiliki rasi bintang Lyra yang menggambarkan pacarmu itu. Siapa namanya? Heojun? Nah‚ iya. Aku tak akan mengambilmu dari rasi bintang itu. Karena kalau kau kuambil‚ maka Lyra tak akan ada cantik-cantiknya di langit utara sana." jelas Sehun.

Haein menggigit bibir bawah kecil. Jujur saja‚ hatinya menghangat. Namun debaran menyenangkan yang dulu selalu hadir‚ kini menghilang. Rasa itu baru saja hilang bersama bintang-bintang yang ada dilangit malam ini.

Karena Vega telah dimiliki rasi bintang Lyra. Itu berarti dirinya telah dimiliki oleh Heojun. Dambaan hatinya yang baru.

.

.

.

Hari ini Sehun pulang. Ia baru saja sampai di stasiun kota dan sedang mencari-cari keberadaan Luhan atau kakaknya di sekitar stasiun. Setelah berpisah dari teman-temannya‚ Sehun berjalan keluar dari stasiun. Siapa tahu Sehyun baru saja datang.

Dan benar saja. Ketika Sehun keluar dari stasiun‚ ia melihat kakaknya yang baru keluar dari mobil milik teman kakaknya―Sehun tak yakin kalau lelaki yang sedang berjalan bersama dengan Sehyun itu teman dari kakaknya― dan menghampirinya.

"Mana Luhan?" tanya Sehun ketika Sehyun dan teman lelakinya sudah ada didepannya.

"Kau ini. Yang datang menjemput itu kakakmu. Beri peluk sebentar saja atau bagaimana‚ gitu. Kau pikir dia tak merindukanmu‚ heh?" omel lelaki disebelah Sehyun.

Sehyun menyikut lengan lelaki itu sembari memutar kedua bola mata malas. "Hei‚ sudahlah‚ Jooheon. Tidak apa-apa." katanya menengahi. Ia menjawab pertanyaan Sehun kemudian. "Luhan di rumah sakit. Lusa ma―"

"Noona. Antar aku kesana bisa?" sela Sehun cepat. Raut wajahnya berbuah drastis dan itu membuat Sehyun mengerutkan kening bingung.

"Hei. Kau tak butuh istirahat? Kau juga tak butuh mandi?"

Sehun sudah membuka mulut hendak membalas. Namun pada akhirnya ia menghela napas pelan. "Aku ingin pulang." katanya kemudian. Membuat Jooheon tertawa geli. Sehun mendengus dan berdecak. "Sudahlah‚ hyung. Jangan mengejekku terus."

Jooheon terkekeh. Ia mengacak rambut Sehun dan merangkulnya. "Aku hanya tertawa‚ bodoh. Bukan mengejekmu."

Sehun mendengus lagi. Tak dibalas lagi kalimat Jooheon. Ia hanya masuk ke dalam mobil‚ dan diam dengan pikiran yang melayang-layang.

Luhan. Kau baik-baik saja kan?

.

.

.

Hari ini seharusnya Sehun sudah pulang. Seharusnya Luhan bisa melihat Sehun di depannya saat ini. Tapi dari tadi siang sampai malam‚ ia tak melihat Sehun datang menjenguknya di rumah sakit ini. Luhan yang menunggu di ranjang merasa semakin bosan. Berkali-kali ia menghela napas dan melirik jendela kamar inapnya. Malam ini penuh dengan bintang.

Gelas sialan. Kalau dua malam yang lalu Luhan tak menginjak pecahan gelas itu‚ pasti ia sudah bertemu dengan Sehun dari tadi siang. Luhan cemberut melihat salah satu kakinya yang diperban karena menginjak pecahan gelas malam itu. Lengkap sudah penderitaan kedua kakinya.

Lama Luhan melamun‚ ia terkejut ketika mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Ia melihat pintu yang perlahan-lahan terbuka itu dengan hati berdebar. Apakah Sehun datang untuk menjenguknya kali ini?

Tapi nyatanya‚ yang membuka pintu itu bukanlah Sehun. Melainkan seorang perawat yang membawakannya makanan untuk makan malam. Luhan menghembuskan napas dengan pelan. Luhan hanya tersenyum ketika perawat itu berbicara padanya. Luhan harus menghabiskan makanan itu sebelum perawat mengambilnya lagi. Luhan membiarkan perawat itu pergi seraya memandangi makanan hambar khas rumah sakit itu.

Aih. Luhan bosan! Ia mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam. Luhan menikmati rasa pening di kepala yang seharian ini masih ia rasakan. Karena kejadian malam itu‚ Luhan jadi―tunggu dulu.

Apakah tadi ia mendengar suara pintu yang terbuka‚ lagi?

Luhan membuka mata. Ia menoleh dan melihat Sehun baru masuk dan menutup pintu itu dari dalam. Seketika itu Luhan mendudukkan diri. Ia mencengkeram ujung pakaiannya ketika Sehun berbalik. Melihat wajah Sehun saja membuat Luhan sudah berdebar-debar tak karuan. Luhan menahan napas selama Sehun mendekatinya.

"Heh. Kau ingin membuatku khawatir karena kakimu?" kata Sehun jengkel. Ia mendorong kening Luhan dengan ujung telunjuknya dengan pelan.

Luhan cemberut. Baru saja bertemu‚ bukannya kata‚ "Aku merindukanmu‚" atau kalimat-kalimat lain yang membuat jantungnya berhenti berdetak‚ tapi malah kalimat sebal dari Sehun lah yang Luhan terima.

"Ya! Kepalaku juga sakit‚ tahu." balas Luhan pelan. Ia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terasa pedih secara tiba-tiba.

Karena Sehun datang padanya. Karena Sehun menghampirinya. Karena Sehun ada disisinya. Karena Sehun sedang memperhatikannya. Karena Sehun sudah berbicara padanya. Juga karena Sehun membuatnya berdebar-debar seperti biasa. Hanya karena alasan-alasan sederhana begitu saja sudah membuat Luhan merasa sakit sendiri. Cengkeramannya pada ujung pakaian rumah sakit jadi bertambah erat.

"Ya maaf." kata Sehun pelan. Ia duduk ditepian ranjang Luhan masih dengan memandangi Luhan yang menunduk. "Kakimu kenapa?" tanyanya lembut.

Luhan menggigit bibir bawahnya menahan tangis. "Menginjak pecahan gelas." jawab Luhan seadanya. "Rasanya sakit." lanjutnya mencicit. Luhan membersit hidung karena merasa geli diarea situ.

Sehun mengerjap. "Kau menangis?" tanyanya cemas. Ia meraih dan mengangkat dagu Luhan. Dapat ia lihat mata Luhan yang berair. Lalu Luhan menyingkirkan tangan Sehun dan kembali menunduk lagi. Sehun menghela napas pelan.

"Yang sakit yang mana? Kakimu atau kepalamu?"

"Dua-duanya." jawab Luhan. Ia menggeser tempatnya duduk untuk lebih dekat dengan Sehun‚ dan memeluknya.

"Aish kau ini." gumam Sehun pelan. Ia menghembuskan napas jengah sebelum membalas pelukan Luhan.

Rambut perempuan itu disisirnya dengan halus. Rasa lembut di telapak tangan karena rambutnya membuat Sehun tersenyum kecil. Apalagi aroma rambut Luhan yang wangi. Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan.

"Tapi tiba-tiba saja kakiku baik-baik saja setelah kau memelukku." kata Luhan serak. Ia membersit hidung lagi dengan kedua tangan yang semakin erat memeluk Sehun. "Tapi kepalaku masih sakit." rengeknya kemudian.

"Sakitnya bagaimana?" tanya Sehun lagi.

"Pusing."

"Apa kau ingat sesuatu?" tanya Sehun refleks.

Luhan tak ingin mendongak meski kini dirasakannya Sehun sedang menunduk melihatnya. Luhan mengaitkan jemarinya yang melingkari pinggang Sehun. Ia menghela napas. "Eonnie bilang aku aneh."

Kedua alis Sehun hampir menyatu kebingungan. "Aneh bagaimana?"

"Ya aneh." Luhan membersit hidung lagi. Meski air matanya masih bisa dibendung untuk sekarang‚ Luhan masih merasa geli diarea hidungnya. "Eonnie dulu bilang kalau aku akan mengingat semuanya meski perlahan-lahan. Tapi sekarang…"

"Sekarang apa?" suara Sehun terdengar tercekat.

Luhan melipat bibirnya ke dalam mendengarnya. Tak tega ia berkata seperti ini. Tapi ia harus bagaimana? Menyembunyikannya? Akan jadi buruk kalau Luhan terus menyembunyikannya dari Sehun.

"Tapi kau jangan marah." kata Luhan sayup. Luhan menghela napas karena Sehun lama tak menanggapi. "Amnesia ku permanen."

Sehun membeku. Serasa dunianya runtuh seketika.

"Maaf."

Kenapa Luhan berkata seperti itu? Kenapa bisa amnesia nya permanen setelah hampir separuh ingatan Luhan kembali? Kenapa ini terjadi? Kenapa kebahagiaannya serasa layu hanya karena sebuah pernyataan yang begitu pahit ini?

"Itu karena kepalaku terbentur meja dengan keras. Eonnie bilang ingatanku yang hilang tak akan bisa kembali."

Ya Tuhan… Kenapa rasanya ada ribuan ton batu besar yang menimpanya seketika? Sehun merasa tidak bisa bernapas dengan baik. Debaran jantungnya terasa melambat. Rasanya sakit sekali di dada. Seperti ada besi panas yang menusuk tepat di jantungnya. Sungguh ini tak adil. Setelah Luhan kembali‚ ia diberi amnesia. Sehun tak masalah karena ia yakin‚ ingatan Luhan akan kembali. Tapi sekarang‚ ketika Luhan hampir mengingat semuanya‚ harapan itu memupus. Layaknya bunga yang baru saja mekar dan dipetik hingga layu keesokan harinya.

"Sehun‚" Luhan merenggangkan pelukannya karena Sehun sama sekali tak merespon. Ia mendongak melihat Sehun yang menatapnya tanpa bersuara. Luhan tersenyum kecil. "Aku hanya ingat sesuatu." katanya.

Sehun masih diam. Rasa sakit di dada membuatnya bungkam.

Luhan meraih salah satu tangan Sehun. Ia melihat gelang hitam berbandul bintang yang selalu dipakai Sehun itu dengan senyum. Luhan melepasnya dari tangan Sehun. "Aku ingat kalau gelang ini milikku‚ bukan milikmu." katanya‚ dan memakainya di pergelangan tangannya.

Sehun berkedip sekali. Ia masih mendengarkan.

"Beanie yang sering aku pakai itu‚ ternyata bukan milikku. Milikku yang berwarna putih." Luhan terkekeh ketika mengingatnya. Ia masih memandangi gelang yang baru saja ia pakai itu dengan mata berair lagi. Air matanya mendesak ingin keluar. Luhan membersit hidung sekali. "Maaf sudah mengaku-aku kalau beanie hitam itu punyaku."

Sehun masih betah untuk diam sementara ia mulai merasa dadanya bergemuruh aneh.

"Aku juga ingat‚ kau pernah menarikku dan menangkapku saat aku hampir terjatuh. Kau pernah memelukku seperti ini." Luhan memeluk Sehun kembali. "Lalu menangis dan menahan kepergianku."

Tunggu dulu.

"Waktu itu kau orang pertama yang melihat mata biruku. Aku ingat bagaimana wajah terkejutmu saat itu." Luhan tertawa kecil. Saat itulah ia meneteskan air mata pertamanya yang disusul tetesan air mata yang lain. Ia makin mengeratkan pelukannya pada Sehun. "Kau terus menahanku. Membuatku semakin berat untuk pergi karenamu. Aku banyak berjanji padamu‚ banyak menyimpan rahasiamu. Tidak mungkin pula aku pergi membawa janji itu sementara kau sendirian di sini."

Namun kemudian Luhan merenggangkan pelukannya lagi. Ia melihat Sehun yang melihatnya dengan pandangan tak percaya. Mata lelaki itu juga telah berair. Luhan saja bisa melihat pantulan dirinya di mata Sehun. Luhan tersenyum sembari mengusap pipi Sehun dengan halus. "Aku jahat‚ ya‚ sudah meninggalkanmu? Padahal aku sudah melakukan ini padamu‚" Luhan menarik Sehun dan mengecup bibirnya sekilas.

Sehun mengerjap. Dadanya bergemuruh tak menentu. Dapat ia lihat senyum tertahan Luhan serta rona merah samar di kedua pipinya yang lembab. Sehun masih tak percaya ini. Sungguh ia tak percaya pada apa yang dikatakan Luhan sekarang.

"Kau juga sudah melakukan hal yang lebih dari itu. Maksudku‚ kau sudah…." Luhan melirik ke arah lain untuk mencari kata yang tepat. Namun kemudian ia berdecak. Ia tak menemukan kata pengganti dari 'kau sudah pernah menciumku lama sekali.' sampai akhirnya ia melanjutkan‚ "… ya‚ kau tahu sendirila―"

Luhan menghentikan kalimatnya‚ membeku‚ terdiam. Ia mengerjap dan melihat Sehun yang memejamkan mata mencium bibirnya. Napasnya tercekat ketika merasakan bibir Sehun bergerak diatas bibirnya. Bibir Luhan serasa bergetar. Tangannya pun juga ikut bergetar di balik tubuh Sehun. Sementara Sehun menciumnya‚ Luhan berusaha untuk menenangkan diri. Ia memejamkan mata‚ dan membalas apa yang kini dilakukan oleh Sehun padanya.

Luhan menangis. Rasa rindu yang hilang itu kini muncul secara tiba-tiba dan meledak macam kembang api di malam tahun baru. Ledakan yang sama pun dapat dirasakan Sehun saat ini. Rasa rindu yang telah mendobrak-dobrak pintu hatinya‚ kini berebutan untuk keluar. Rindu yang mereka rasakan saat ini tumpah-ruah kemana-mana. Mereka tak bisa membendung lagi. Sudah terlalu banyak rindu yang menumpuk meski sudah sering mereka bertemu.

Lumatan itu berhenti‚ berubah menjadi kecupan-kecupan manis sebelum Sehun menjauh dengan enggan. Dilihatnya mata berair Luhan dan ia tak tahan untuk tersenyum. Ia menghapus air mata Luhan yang mengalir dengan halus.

"Tadi kau bohong ya?" tanyanya tanpa suara.

Luhan melipat bibir ke dalam‚ meringis kecil. "Soalnya kau sudah terkejut duluan. Aku jadi tak ingin melanjutkan." jawabnya pelan. Ia menunduk dan tak bisa menahan senyuman senangnya sendiri. "Maksudku tadi itu amnesia ku permanen sembuh."

Sehun mendengus geli. Banyak sekali kupu-kupu yang menggelitik perutnya kali ini. Sehun menyandarkan kepalanya pada puncak kepala Luhan. Ia kembali memeluk Luhan‚ membalas pelukan perempuan itu.

"Jangan bohong lagi." lanjut Sehun pelan. Luhan mengangguk di dadanya. Ia tersenyum‚ melanjutkan. "Jangan pergi lagi."

"Tidak akan." ada jeda yang Luhan beri untuk lebih menikmati suasana ini. "Karena tempat akhirku berlabuh‚ tempat terakhir hidupku‚ dan ujung takdirku‚ adalah kau. Aku tak akan pergi."

Waktu perlahan melambat. Suara detik jam dinding yang tadi terdengar keras‚ lama-kelamaan melambat dan berhenti. Waktu berhenti. Sehun melirik sekitar setelah tak lagi mendengar suara detik jam. Dilihatnya tetes air di infus Luhan yang mengudara. Kemudian ia menunduk untuk melihat Luhan. Dapat dirasakannya Luhan sedang terkikik di pelukannya. Sehun mendengus geli‚ lagi.

"Ini ulahmu‚ ya?" tebaknya. Lalu ia mendengar Luhan tertawa seraya merenggangkan pelukan.

"Kau sudah tahu kan?" kata Luhan disisa tawanya. "Aku melakukannya karena sebentar lagi perawatku akan datang untuk mengambil makananku." Luhan menunjuk nampan yang masih berisi makanan rumah sakit yang hambar dilidah itu dengan dagu. "Jadi aku menghentikan waktunya biar perawat itu tak bisa mengganggu."

Sehun terlihat mencibir. "Dasar peri nakal." dan hanya dibalas juluran lidah oleh Luhan. "Memangnya kau masih bisa melakukan hal-hal seperti ini?"

Luhan meringis. "Hanya malam ini saja‚ sih. Soalnya temanku hanya memberiku kesempatan ini sebelum ia kembali lagi." katanya mengingat-ingat tentang apa yang dikatakan Flory setelah ia bertemu dengannya tadi sore. Kemudian Luhan merengut. "Ah‚ jangan bicarakan tentang hal itu sekarang. Aku harus banyak menghabiskan waktu denganmu mulai sekarang."

Sehun tertawa. Ia menarik gemas ujung hidung Luhan dan memeluknya lagi. Meski sudah beberapa kali ia memeluk Luhan sebelumnya‚ tapi rasanya sekarang Sehun tak pernah bosan. Selain karena Luhan masih seperti Luhan kecilnya yang menggemaskan‚ karena ia ingin melindungi Luhan‚ juga karena untuk mengobati rasa rindu yang tersisa.

Kau bilang aku bodoh.

Iya‚ aku memang bodoh. Dan kau benar soal itu.

Kau bilang aku yang bodoh ini mau-mau saja jatuh cinta berjuta kali padamu. Padamu yang tak pernah tahu rasa yang bersembunyi di dalam senyum serta kalimat-kalimatku untukmu. Aku jatuh cinta diam-diam padamu‚ sementara kau sendiri sudah jatuh cinta berkali-kali pula pada orang lain. Itu juga salah satu alasan mengapa kau menyebutku bodoh. "Mengapa kau tak mundur saja karena kau tahu aku mencintai orang lain?" tanyamu dengan jengkel.

Aku tertawa dan tak membalas apapun.

Untuk kau yang kini telah mengetahui seluruh isi hatiku…

Asal kau tahu‚ Sayang. Mencintaimu dalam diam adalah caraku untuk bertahan. Aku memilih untuk diam‚ memperhatikanmu‚ dan menyebut namamu dalam setiap doaku. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dicinta. Setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk mencintai. Dan mencintaimu dalam diam adalah caraku mencintaimu.

Sebab aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

"Mungkin aku tak tahu caranya mencintai. Jadi aku tak bisa mengatakan apapun. Aku sudah bersamamu sepanjang waktu. Aku masih melihatmu. Tapi kau tak tahu aku."

Soyou ft. Brother Su – You Don't Know Me

Finish


Yaaaaayy! Akhirnya selesai! Dan tanggungan terakhirku di cerita ini adalah Epilog. Aku cerewetnya disana aja yaa hehe.

Untuk Epilognya InsyaAllah minggu depan ya. Aku masih mampet idenya buat bikin Epilog. Tapi entah mengapa aku lancar jaya aja nulis cerita YMC2. Wkwk.

Oiya. Menjelang Ramadhan‚ mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir batin yaa.. Jika aku salah dikata dan dalam basa-basiku ini‚ mohon maafkan Gerinee. :)))

Review?