Yoongi tertawa puas melihat penampilan Seokjin malam ini. Sementara Seokjin sedang menatap kesal pada Yoongi yang masih tertawa. Keduanya tengah berada di kamar Seokjin dan sedang mematut diri didepan kaca, mereka akan pergi 'kencan'. Seokjin yang minta karena Yoongi sudah terlalu sibuk dengan dunia kerjanya dan tidak ada waktu sama sekali untuknya dan Yoonji. Malam ini mereka hanya pergi berdua saja karena Yoonji sedang bersama Hyosang.

"Kita terlihat seumuran, Appa" Yoongi berusaha menahan tawanya agar Seokjin tidak marah.

"Appa tidak mau pergi dengan pakaian ini" Seokjin berkeras.

"Kenapa? Aku sudah membelikannya untuk Appa. Sweaternya bagus" Yoongi mengernyitkan alisnya protes.

"Kita tau masalahnya bukan pada sweaternya, Min Yoongi"

"Lalu?" Yoongi berpura-pura tidak paham.

"Bagaimana bisa kau membelikan apa jeans dengan robekan luar biasa seperti ini?" Seokjin berdiri menghadap Yoongi dan menunjukan betapa lebar dan tingginya robekan disalah satu pahanya, robeknnya nyaris setengah paha dan mempertontonkkan paha Seokjin secara Cuma-Cuma.

"Kata noona yang menawarkan padaku, itu model baru" Yoongi lagi-lagi berusaha keras menahan tawanya.

"Dan kenapa kau tidak membelikan jeans robek juga untukmu?"

"Aku membelinya, ini sedang ku pakai" Yoongi menaikkan lututnya, menunjukan robekan jeansnya yang hanya berada di lutut.

"Itu masih lebih masuk akal dari pada jeans yang ini. Lihat, robekannya nyaris dimana-mana" Seokjin menunjuk kesetiap kulitnya yang terkespose karena memakai jeans pemberian Yoongi.

"Sudahlah, Appa terlihat keren dengan pakaian ini. Siapa tau nanti ada ahjussi yang mendekati, kan lumayan bisa suami baru" Yoongi tertawa tanpa ditahan lagi dan mendapat hadiah tepukan di dahi dari Seokjin.

"Sakit…" Yoongi mengusap dahinya hasil tepukan Seokjin.

"Rasakan. Itu akibatnya karena berani mengerjai orangtua"

"Kajja, Appa, kita akan mencari suami baru untuk Appa" Yoongi merangkul punggung Seokjin dan memaksa Seokjin keluar kamar, meskipun Seokjin sudah berkeras ingin mengganti celananya lebih dulu, tapi Yoongi tetap tidak peduli dan menyeret Seokjin keluar kamar.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

Seokjin berjalan risih dan menarik-narik turun sweater yang dikenakannya untuk menutupi pahanya yang terlihat sementara Yoongi berjalan santai sambil melihat-lihat tempat untuk mereka singgahi. Beberapa kali Seokjin sengaja berjalan merapat dan sedikit bersembunyi dibelakang Yoongi karena celana yang dipakainya, dia risih.

"Bagaimana kalau ada mahasiswa coass yang melihat Appa, Yoongi-ya. Appa bisa mati karena malu" Seokjin mengamit tangan Yoongi dan mencubit tangan anaknya itu dengan kesal.

"Kenapa malu? Ayolah Appa, percaya saja pada noona yang memilihkan baju ini untuk Appa. Appa terlihat bagus memakainya, kita seperti seumuran" Yoongi tersenyum lebar dan tetap berjalan santai dengan Seokjin yang berjalan merapat padanya.

"Bagaimana kalau papa dan Yoonji juga ada di mall ini?" Seokjin menatap lurus padqa Yoongi.

"Mereka ke taman bermain, Yoonji ingin melihat festival kembang api, Papa sendiri yang bilang sebelum menjemput Yoonji"

"Benarkah?"

"Ne" Yoongi meyakinkan. "Ayo, kita makan disana saja, Appa. Kata Jimin café itu sedang digemari anak-anak muda" Yoongi merangkul punggung Seokjin lagi.

Keduanya memasuki café yang kebanyakan diisi oleh anak umur belasan hingga dua puluhan, Seokjin mendudukan diri didepan Yoongi yang sedang memesankan makanan untuknya karena hari ini Yoongi yang meneraktir, jadi Seokjin memilih mengikuti pilihan anaknya saja.

"Kenapa tidak mengajak Jimin sekalian?" Seokjin menatap Yoongi yang baru saja selesai membuat pesanan dan bersandar malas di sandaran kursi.

"Katanya sedang di sanggar tari, Appa. Tapi dari foto yang Chanyeol sajangnim kirim, Jimin sedang di rumah bersama Jungkook, sedang belajar masak" Yoongi tertawa kecil.

"Kenapa Jimin bohong?" Seokjin ikut tertawa kecil.

"Malu mungkin kalau aku tau dia sebenarnya tidak bisa masak" Yoongi menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Memangnya selama ini Jimin tidak pernah bilang kalau tidak bisa masak?"

"Lebih tepatnya, aku yang tidak bertanya Appa. Lagian tidak bisa masak juga bukan masalah besar" ucap Yoongi cuek.

"Huh?"

"Aku ingin menikah bukan untuk membuat pasanganku bekerja 24 jam mengurusi rumah dan aku. Itu pemikiran kuno, punya istri hanya untuk dijadikan pembantu. Aku tidak suka dengan konsep itu"

"Aigooo… anakku sudah dewasa sekali ternyata…" Seokjin menggusak rambut Yoongi. "Rasanya tidak percaya melihatmu tumbuh sangat tenang dan sangat dewasa seperti ini" Seokjin tersenyum bangga.

"Aku mencontohnya dari Papa. Papa tidak pernah memaksa Appa untuk memasak, membersihkan rumah, cukup mengurus aku dan Papa saja. Mengurusku masih kecil saja pasti Appa sudah lelah. Harus bangun pagi, memandikanku, mengantar sekolah, menjemput, harus kerja di rumah sakit dan menghadapai pasien dengan segala sifatnya. Dan itu tidak perlu ditambah lagi dengan pekerjaan mengurus rumah" Ucap Yoongi panjang lebar.

Seokjin tersenyum haru, bersyukur karena Yoongi hanya meniru hal yang baik dari rumah tangga mereka yang gagal.

"Tapi tetap saja keterampilan memasak dan bersih-bersih itu perlu" pancing Seokjin.

"Aku bisa melakukannya sedikit lebih baik dari anak kebanyakan. Kalau Jimin tidak bisa, kami bisa belajar bersama atau mempekerjakan pembantu, mungkin?" jawab Yoongi cuek.

Seokjin tersenyum lebar. "Kalau kau mengatakan seperti ini didepan Appa dan Eomma Jimin, mereka pasti akan menyuruhmu menikahi Jimin besok hari" Seokjin terkekeh.

"Aku tidak siap kalau menikah besok Appa"

"Kenapa?" Seokjin membolakan matanya. Perkiraannya, Yoongi akan tersenyum dan mengangguk, tapi malah menolak?

"Aku belum beli apartemen, mau tinggal dimana kalau menikahnya besok?"

Seokjin tertawa. Anaknya benar-benar sudah dewasa dan berpikiran matang. Seperti Papa-nya dulu.

Keduanya sedang makan dan sesekali mengobrol ringan sampai ponsel Yoongi bordering diatas meja, ada nama Namjoon disana dan Seokjin merasa dadanya berdebar. Enthalah, perpaduan Yoongi dan Namjoon saat ini berakibat tidak baik bagi jantungnya.

"Sebentar, Appa" Yoongi meminta izin untuk mengangkat telepon Namjoon, saat Seokji mengangguk menyetujui, Yoongi menekan tombol hijau di layar ponselnya.

"Wae?" seperti biasa, tanpa sapaan lebih dahulu.

"Hyung, kau dimana? Aku hampir mati bosan di apartemen" rengek Namjoon.

"Makan di café di mall di daerah Hongdae"

"Aku kesana ya?"

"Oh, ya sudah datang saja" jawab Yoongi cuek, tidak menyadari perubahan sikap Seokjin yang mendadak jantungan.

Seokjin merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel, sejak siang dia memang tidak ada menghubungi Namjoon karena sibuk di rumah sakit. Dia ingin mengabari Namjoon agar membatalkan janji dengan Yoongi tapi dasar sial, ponselnya sudah padam.

Seokjin menelan makanan dimulutnya dengan susah payah.

.

.

.

"Tidak buruk" komentar Chanyeol.

Chanyeol sedang dipaksa Jimin untuk mencicipi makanan hasil buatannya dan Jungkook yang sedang belajar masak. Chanyeol jelas tidak keberatan, toh Cuma disuruh makan, dan lebih bersyukur karena rasanya tidak mengerikan.

"Sudah? Begitu saja?" Tanya Jimin dengan wajah was-was diikuti Jungkook yang menatap penuh harap pada Chanyeol.

"Kurang pedas dan sedikit asin" tambah Chanyeol lagi.

"Lalu? Lalu?" giliran Jungkook yang bertanya penasaran.

"Itu saja" Chanyeol meletakan sendoknya, mendorong piring didepannya agar menjauh. "Itu apa?" Chanyeol melirik pada pudding coklat yang tertata canti diatas meja.

"Pudding coklat, buatan Baekhyun" Jimin menarik Baekhyun agar mendekat ke meja makan. Hari ini Baekhyun lah yang Jimin paksa agar mengajarinya memasak.

"Kemarikan" Chanyeol melirik Jungkook berada paling dekat dengan pudding.

Setelah Jungkook meletakkan pudding didepan Chanyeol, kini giliran Baekhyun yang menatap serius pada Chanyeol. Dia memang biasa memasak, tapi baru kali ini dia memasak untuk di makan orang lain, biasanya dia hanya memasak untuk teman terdekatnya saja. Sedikit banyak, Baekhyun penasaran dengan komentar Chanyeol.

"Enak" Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun yang menatap lega padanya.

"Gomawo" Baekhyun tersenyum manis, masakannya dipuji.

"Kau juga yang mengajari mereka memasak?" Chanyeol menyuapkan lagi pudingnya kedalam mulut.

Baekhyun mengangguk.

"Sudah punya pacar?"

"HYYYUUUUNNGGG!" Jimin memukul bahu Chanyeol tanpa ampun.

.

.

.

"Namjoon.." Yoongi mengangkat tangannya untuk menarik perhatian Namjoon yang sedang berdiri didepan café, tengah mencari keberadaan Yoongi.

Namjoon terkejut saat melihat ada Seokjin disana dan mengumpat dalam hati. Ini benar-benar gawat. Bagaimana kalau Yoongi menyadari kecanggungan mereka. Namjoon juga mengutuk dirinya sendiri karena tidak bertanya lebih dulu dengan siapa Yoongi pergi. Dan disinilah dia sekarang, duduk disamping Yoongi, berhadapan dengan Seokjin yang terlihat canggung.

"Pesan makan, sana" Yoongi berucap santai dan kembali mengunyah makanannya.

Namjoon hanya menurut, memilih pergi langsung kearah kasir untuk memesan makannya, jujur saja dia merasa sangat tidak nyaman sekarang. Mungkin jika hanya berdua dengan Seokjin, dia tidak akan seperti ini, tapi ini ada Yoongi, yang benar saja, bagaimana dia bisa bersikap normal?.

Setelah memesan makanannya, Namjoon kembali duduk dan mencuri pandang pada Seokjin yang juga sedang menatapnya. Hell yeah, Seokjin sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat lebih santai dengan sweater berwarna putih yang menempel di badannya. Seokjin terlihat sangat manis dan Namjoon ingin menerkamnya.

Seokjin langsung mengalihkan pandangannya saat kepala Yoongi terangkat. Seokjin terlihat sibuk dengan makanannya sementara Namjoon menatap berkeliling didalam café. Ini sangat mengerikan.

"Mau menonton? Ada film baru, sepertinya bagus" Yoongi menunjukan ponselnya pada Namjoon, memberitahu film yang dia maksud.

"Aku ikut saja" jawab Namjoon berusaha setenang mungkin, sangat berlawanan dengan jantungnya yang sedang berdetak gila.

"Bagaimana Appa?" Yoongi melirik pada Seokjin yang masih menunduk.

"Appa ikut saja" jawab Seokjin sekenanya.

"Oke, setelah makan kita akan nonton kalau begitu" Yoongi meletakkan ponselnya diatas meja dan kembali sibuk dengan dessertnya.

Setelah makan, Yoongi berniat meneraktir lagi untuk menonton, tapi Namjoon mendahuli karena Yoongi sudah meneraktirnya di café tadi. Setelah mendapatkan tiket film yang mereka mau, ketiganya mendudukan diri di kursi tunggu dekat pintu bioskop.

Yoongi berada ditengah-tengah keduanya yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Bersyukurlah mereka karena sifat buruk Yoongi yang tidak peka, akhirnya ada gunanya.

Seokjin menatap kearah stand makanan yang ada di bioskop, tanpa mengatakan apapun, Seokjin berdiri dan bersiap pergi membeli makanan sampai...

"Mau kemana?" suara Namjoon menghentikan langkah Seokjin.

Yoongi mengernyit menatap Namjoon, ada apa dengan nada informal yang sedang Namjoon gunakan untuk berbicara dengan Appa-nya?

Seokjin membolakan matanya dan Namjoon tersadar dengan nada bicaranya.

"Ma-maksudku, Dokter Seokjin, mau kemana?" Namjoon mengoreksi ucapannya.

"Beli cemilan" Seokjin menatap bergantian pada Yoongi dan Namjoon, kemudian berlalu karena suasana mendadak canggung diantara mereka.

Namjoon melirik takut pada Yoongi dan bersyukur karena Yoongi terlihat sudah tidak mempermasalahkan ucapannya barusan, namja barusan itu bahkan sedang sibuk menatap kearah poster film kartun yang terpampang di dinding koridor bioskop.

"Aku jadi teringat Jimin" guman Yoongi pelan.

"Oh, iya, kenapa tidak ajak Jimin?" Namjoon menegakkan tubuhnya, bersyukur karena keadaan sudah mencair.

"Sedang sibuk di rumahnya" jawab Yoongi sekenanya.

"Acara kalian empat hari lagi, kan?"

"Ne." Yoongi menatap lurus pada lantai dibawahnya.

"Kenapa?" Namjoon mengeryit bingung dengan sikap Yoongi yang mendadak terlihat tidak semangat.

"Aku hanya sedang kepikiran. Ada hal yang tidak bisa ku sampaikan pada Appa-ku" mulai Yoongi.

"Hyung, Jimin tidak hamil kan?" Namjoon menatap horror pada Yoongi.

"Sialan! Bukan itu!" Yoongi menatap tajam pada Namjoon.

"Lalu?"

"Aku kepikiran soal Appa. Kalau aku menikah, aku tidak akan tinggal di rumah lagi, Appa dan Yoonji akan kesepian" Yoongi menunduk lagi. "Aku bingung, Namjoon. Appa dan Papa-ku sudah lama bercerai, tapi mereka tidak memiliki pasangan. Papa-ku sempat mengajak Appa rujuk, tapi aku kurang setuju dengan ide itu. Mereka sudah pernah mencoba rujuk dan selalu gagal. Aku takut Yoonji mengalami hal yang sama denganku saat kecil. Melihat orangtua bertengkar hebat di depan mu, itu mengerikan" Yoongi menghela napas. Dia sendiri bingung. Dia ingin kedua orangtua nya bersama, tapi trauma masalalu seperti tidak bisa berhenti menghantuinya.

Namjoon terdiam. Dia tidak tau harus bagaimana menanggapi cerita Yoongi. Dia tidak paham bagaimana rasanya melihat orangtua bertengkar, dia tidak paham rasanya menjadi korban dari perceraian, dan lebih tidak paham dengan pikiran Yoongi yang terkesan plinplan. Dia seperti ingin orangtuanya kembali bersama tapi juga tidak ingin. Diam-diam Namjoon merasa takut. Namjoon takut Yoongi beralih dengan menyetujui orangtua mereka rujuk dan sudah pasti Namjoon akan kehilangan Seokjin.

"Ini…" Seokjin menyodorkan minuman kedepan Yoongi dan Namjoon yang sedang menunduk menatap lantai. "Wajah kalian kusut sekali" Seokjin tersenyum dan menyodorkan lagi minuman ditangannya.

Namjoon dan Yoongi tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Seokjin kembali duduk disamping Yoongi yang sudah terlihat biasa saja, berbeda dengan Namjoon, dia terlihat sedang berpikir keras.

Namjoon memang sedang mencerna apa yang Yoongi maksud dari ceritanya barusan hingga dia sampai pada satu kesimpulan dan spontan bertanya saat itu juga.

"Hyung, kau ingin dokter Seokjin menikah lagi?"

Yoongi dan Seokjin sontak menatap Namjoon . Yoongi menatap sambil membolakan matanya. Sementara Seokjin sedang menatap Namjoon seperti sedang bertanya, apa maksud ucapannya.

"Ma-maaf" ucap Namjoon tak enak hati.

Yoongi terkekeh, mengundang rasa penasaran dari Seokjin dan Namjoon.

"Karena Namjoon sudah mengutaraannya secara gamblang, lebih baik aku mengaku saja." Yoongi tersenyum menatap Seokjin. "Appa, bukannya sekarang lebih baik Appa memikirkan diri sendiri? Sudah saatnya Appa memiliki pasangan. Aku dan Yoonji sudah besar, Aku akan meninggalkan rumah, begitu juga Yoonji nantinya. Bisa saja dia tiba-tiba meminta untuk tinggal beberapa tahun bersama Papa, bukannya saatnya cari suami baru untuk teman dirumah?" Yoongi terkekeh.

Seokjin membeku. Selama ini dia memang takut membahas hal seperti ini. Dia juga enggan membahasnya apalagi dengan anaknya, dan saat Yoongi sendiri yang memintanya, Seokjin merasa sedikit lega, tapi saat melihat Namjoon dan Yoongi, rasa leganya terganti dengan rasa khawatir.

"Akan Appa pikirkan kalau begitu" Seokjin berusaha bersikap sesantai mungkin dan tersenyum lebar.

"Benarkah? Appa akan mulai berkencan?" Yoongi bertanya antusias.

"Ne, Appa rasa berkencan lagi tidak akan buruk" Seokjin menggusak rambut Yoongi. "Pintunya sudah terbuka, ayo masuk" Seokjin berdiri.

Yoongi berjalan lebih dulu dengan Seokjin dan Namjoon yang berjalan dibelakangnya. Saat menonton, Seokjin duduk ditengah-tengah antara Yoongi dan Namjoon. Film baru saja dimulai saat Seokjin merasa Namjoon menarik tangannya dan menggenggamnya dibawah kursi.

Panic, Seokjin melirik kearah Yoongi yang sedang menonton dengan serius, rasanya keringat sudah meluncur dipunggung Seokjin.

Namjoon melirik Yoongi yang sedang sibuk menonton dengan popcorn di pangkuannya, setelah merasa Yoongi tidak akan tau, Namjoon memiringkan badannya kearah Seokjin, membuat Seokjin makin panic dan takut-takut melirik pada Yoongi.

"Aku tidak suka dengan celanamu" Bisik Namjoon pelan.

Seokjin menunduk, melihat kearah pahanya yang terlihat karena robekan jeansnya.

"Aku tidak suka orang lain melihat tubuhmu" bisik Namjoon lagi.

Seokjin dengan gugup melepas genggaman tangan Namjoon dan menutupi pahanya yang terlihat dengan telapak tangannya.

Selama film tayang, Seokjin benar-benar tidak bisa konsentrasi. Tidak ada bagian dari film yang dia ingat dengan baik. Itu karena Namjoon terlihat sedang merajuk padanya karena celana yang Seokjin pakai. Untuk bicara, Seokjin jelas tidak punya keberanian, dia takut Yoongi sadar dan mulai mencurigai mereka.

Film selesai dan Seokjin bernapas lega, dia ingin langsung pulang saja rasanya.

Yoongi berjalan disamping Seokjin dengan Namjoon dibelakang mereka. Sudah jam 10 malam dan Seokjin sudah meminta untuk pulang. Mereka berpisah di parkiran, dan keadaan canggung yang terjadi antara Seokjin dan Namjoon lagi-lagi tidak Yoongi sadari.

.

.

.

"Jimin…" Jimin berbalik saat mendengar namanya dipanggil dan melihat kearah kapten tim basket kampus mereka yang sedang berlari kearahnya.

"Daniel sunbae?" Jimin tersenyum ramah.

"Hei, Kai" Daniel menepuk bahu Kai yang memang berada disamping Jimin. Keduanya baru saja selesai praktikum di studio tari. "Aku pinjam Jimin sebentar" Daniel menepuk bahu Kai untuk meminta izin.

"Ne" jawab Kai sekenanya dan memilih duduk di bangku yang berjejer di koridor sambil menunggu Jimin.

Jimin mengikuti Daniel untuk berjalan kearah taman kampus, tidak terlalu jauh dari Kai yang sedang duduk. Jimin tersenyum bingung saat Daniel menyerahkan kertas seperti tiket pada Jimin.

"Ini apa?" Jimin menatap bingung pada Daniel.

"Tiket pertandingan basket" jawab Daniel smabil tersenyum lebar. "Datang ya"

"Huh?"

"Tiketnya ada dua, kau bisa datang bersama temanmu" Daniel tersenyum penuh harap.

"Kapan pertandingannya?" Jimin membolak balik tiket ditangannya.

"Besok, di GOR kampus" Daniel menatap lurus pada Jimin.

Keduanya sedang sibuk bicara saat Yoongi dan Namjoon melintas. Rambut pink Jimin jelas sangat mudah untuk dikenali. Yoongi yang pertama kali sadar dan matanya membola saat melihat Jimin sedang bicara dengan akrab dengan… si kapten tim basket. Holllyyy anjingnya Min Yoongi.

"Hyung, kau tidak cemburukan?" Namjoon menyiku tangan Yoongi bermaksud menggodanya saat melihat kearah tatapan Yoongi.

"Tidak" jawab Yoongi cuek. "Kenapa juga harus cemburu" Yoongi mengangkat bahunya.

"Daniel itu idaman manusia se kampus, lho, Hyung" Namjoon mengompori. "Bisa saja Jimin terpesona dan beralih pada Daniel…" sambungnya lagi.

Meskipun terlihat tenang, sebenarnya Yoongi sedang merasa was-was sekarang. Namjoon benar, si Kang Daniel itu, siapa yang tidak mau dengannya?

"Kalau sudah begitu berarti tidak jodoh. Lagian, kalau dibandingkan dengan Daniel, aku jelas kalah telak" Yoongi berucap santai.

"Ya! Min Yoongi! Bukan ini reaksi yang mau ku lihat!" Namjoon menyiku Yoongi lagi.

"Memangnya kau mau aku bagaimana?" Yoongi mengernyit.

"Tentu saja kau harus kesana! Sapa Jimin!" Namjoon berucap geram.

"Haruskah?"

"Apa perlu aku yang kesana dan menarik Jimin?" Namjoon melotot kesal. "Tidak percaya diri itu boleh. Tapi mempertahankan milik kita, itu harus! Kau mau kalau Jimin benar-benar diambil Daniel?" geram Namjoon.

Tanpa menjawab, Yoongi berjalan kearah Daniel dan Jimin yang terlihat masih sibuk bicara.

Daniel yang lebih dulu menyadari kedatangan Yoongi. Dia terkesiap dan buru-buru memperbaiki penampilannya. Melihat Daniel yang terlihat tak focus lagi padanya, Jimin membalikkan badan dan melihat Yoongi yang sedang berjalan kearahnya. Jimin tersenyum senang.

"Seru sekali" Yoongi tersenyum dengan tatapan lekat kearah Daniel, tangannya melingkar posesif dibahu sempit Jimin seperti sedang memberi peringatan pada orang yang melihat kalau si kepala pink ini miliknya.

"Daniel sunbae memberikan aku tiket untuk menonton pertandingan basket besok, hyung" Jimin memamerkan tiket ditangannya.

"Baik sekali" Yoongi tersenyum hangat pada Jimin dan kembali menatap lurus pada Daniel yang juga sedang menatapnya.

"Aku akan senang kalau kau juga bisa datang" Daniel tersenyum kecil.

Jimin menatap lurus pada Daniel dan merasa tidak suka dengan tatapan itu. Kenapa sejak tadi Daniel tidak berhenti menatap Yoongi. Jimin mulai kesal.

"Ku pikir kau hanya mengundang pacarku saja" Yoongi berucap tajam dan masih mematri senyum di wajahnya.

Daniel tersentak dan Jimin menangkap dengan baik wajah terkejut Daniel saat mendengar ucapan Yoongi.

"Kalian… pacaran?" Tanya Daniel kebingungan menatap Jimin dan Yoongi bergantian.

"Begitulah" jawab Yoongi santai. Kalau tidak pacaran , mana mungkin Yoongi berani merangkul Jimin didepan umum.

"Oh… aku sudah mendengar kabar soal itu, tapi tidak menyangka kalau kabarnya benar" Daniel tersenyum setenang yang dia bisa. "Ya sudah, aku permisi kalau begitu… eum, Yoongi, kalau tidak sibuk, besok datanglah ke GOR untuk menonton pertandingan"

"Tentu" jawab Yoongi sekenanya.

Jimin memiringkan kepalanya hingga berbenturan dengan dada Yoongi, matanya sibuk menatapi punggung Daniel yang sudah mulai menjauh. Kepalanya sibuk dengan banyaknya pertanyaan yang bermunculan dikepala Jimin.

Sejak kapan Daniel dan Yoongi saling kenal? Kenapa hanya Yoongi yang sepertinya diharapkan datang ke pertandingan? Bukannya awalanya Jimin yang diundang? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berputar dikepala Jimin.

"Kejar saja kalau perlu" Yoongi melepas rangkulannya pada bahu Jimin dan berjalan menuju koridor lagi.

Jimin tersentak dan buru-buru menarik tangan Yoongi. Jimin yakin, Yoongi pasti salah paham.

"Hyung, kenapa di kampus?" Jimin mengalihkan keadaan.

"Kenapa?" Yoongi berhenti dan berdiri menghadap Jimin. "Oh, aku paham, Maaf karena mengganggu waktu berduaanmu dengan kapten basket itu" ucap Yoongi tenang.

Jimin membolakan matanya, tangannya menarik Yoongi lagi dan berjalan lebih dulu. Jimin berhenti didepan Namjoon yang sedang duduk bersama Kai, tangannya masih menarik Yoongi erat-erat.

"Hyung, aku perlu bicara dengan Yoongi hyung. Kai, kau bisa ke kelas duluan" Jimin menarik Yoongi lagi menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Sedikit memaksa, Jimin mendorong Yoongi agar masuk kedalam kursi kemudi mobilnya.

"Kenapa membawaku kesini?" Yoongi mengernyit bingung. Selama Jimin menarik-nariknya di koridor, Yoongi sudah menyadarkan dirinya sendiri. Dia cemburu dan tanpa sadar bersikap menyebalkan pada Jimin.

"Hyung, Daniel sunbae hanya…"

"Aku tau. Maaf, aku kekanankan" Yoongi menggusak rambut Jimin dengan sayang.

Jimin terdiam.

"Hey, kenapa diam?" Yoongi memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Jimin yang sudah menunduk didepannya.

"Kau membuatku takut hyung" guman Jimin pelan. Yoongi memang tidak pernah kasar ataupun berteriak padanya, tapi Yoongi yang berucap terlalu tenang dan dingin, itu lebih mengerikan dari apapun.

"Mianhae…" Yoongi menarik Jimin dan memeluk Jimin erat-erat. "Aku memang kekanakan" Yoongi mengecup kepala Jimin berkali-kali.

Jimin memeluk leher Yoongi erat, menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.

"Aku tidak suka Yoongi hyung cemburu seperti itu…" guman Jimin pelan.

"Sudah paham bagaimana rasanya di cemburui padahal tidak melakukan hal buruk sama sekali?" Yoongi terkekeh saat Jimin mencubit punggungnya.

"Yoongi hyung menyebalkan!" Jimin memukul punggung Yoongi main-main.

"Aku juga mencintaimu" Yoongi tersenyum lebar.

"Jiminie tidak bilang kalau Jiminie mencintai Yoongi hyung" Jimin menguraikan pelukannya.

"Jadi sudah tidak cinta lagi, ya?"

Telak. Jimin terdiam dan kemudian menarik pipi Yoongi dengan salah satu tangannya.

"Sakit.." Yoongi menarik tangan Jimin dari pipinya dan tersenyum lebar.

"Rasakan itu." Jimin kembali memeluk Yoongi erat.

"Hyung, nanti malam sepertinya aku tidak bisa ke studio. Ada urusan dengan Jungkook" mulai Jimin.

"Urusan apa? Mau pergi ke sanggar tari?" Yoongi tersenyum jahil.

"Huh? Bukan."

"Bagaimana kalau ku temani saja?" Yoongi menyeringai saat Jimin tersentak dalam pelukannya.

Buru-buru Jimin menegakkan tubuh dan mengurai pelukannya.

"Ja-jangan…" ucap Jimin gugup.

"Kenapa jangan? Hanya dengan Jungkook saja kan? Kenapa tidak boleh ikut?" Yoongi pura-pura protes. "Lagian pekerjaan di studio sudah beres, hanya tinggal menunggu hasil akhir dari Seunghoon saja"

"Ada Baekhyun juga… dia kan… dia kan kurang kenal dengan Yoongi hyung, iya, benar, begitu, nanti canggung" Jimin berucap berantakan.

"Memangnya ada apa sampai aku tidak boleh ikut?" Yoongi memajukan wajahnya hingga berjarak cukup dekat denga wajah Jimin, alisnya dinaikkan satu dengan tatapan super curiga yang bisa Yoongi tampilkan. Jimin memerah, Yoongi terlihat seperi 'Bad boy' dari jarak sedekat ini.

"I-itu… kami… kami…" Jimin kebingungan mencari alasan, tangannya menahan dada Yoongi agar tidak terlalu dekat dengannya, bisa-bisa jantung Jimin melompat dari badannya.

"Kami?" Yoongi dengan sengaja menatap lurus pada Jimin dan membuat Jimin makin gugup.

"Kami… aku… Jungkook…"

"Iya?"

"Kami…." Jimin menatap gemetar pada Yoongi. Dia di intimidasi. Ini tindak kriminal. Jantung Jimin tidak kuat melihat tatap Yoongi. Yoongi harus di laporkan pada pihak berwajib karena membuat jantung Jimin berdetak liar.

"Kami kenapa, Park Jimin?" Bisik Yoongi tepat didepan bibir Jimin.

Jimin geram. Dengan tidak sabar dia meraup bibir Yoongi yang sejak tadi sudah menggodanya. Tangannya memeluk leher Yoongi dan jarinya meremas gemas pada rambut Yoongi. Sehari tidak mencium namja pucat ini rasanya sangat rindu.

Jimin melepas ciumannya dengan nafas yang naik turun, matanya perlahan terbuka dan bertatapan langsung dengan mata Yoongi yang berkilat jahil. Benar-benar seksi dan menyebalkan disaat yang bersamaan.

"Baiklah, karena aku sudah di cium, aku akan berhenti bertanya" Yoongi mengecup bibir Jimin sekilas sebelum menjauhkan wajahnya dari Jimin. Jimin merona merah.

"Aku masih ada urusan dengan Namjoon, kau masih ada kelas kan?" Yoongi tersenyum lagi dan mengusap rambut Jimin.

"Ne, hyung" Jimin menjawab pelan.

"Ya sudah, sampai bertemu besok?" Yoongi menaikan alisnya.

"Ne, besok sore" Jimin tersenyum malu. Saat Jimin ingin membuka pintu mobilnya, alisnya mengernyit saat Yoongi menarik lagi tangannya, membuat Jimin kembali menutup pintu mobilnya dan memiringkan tubuh kearah Yoongi.

"Ada apa hyung?" Jimin mengernyit bingung.

"Sudah? Begitu saja?"

"Huh?"

"Ciuman selamat tidur untuk nanti malam?"

Jimin merona merah. Si pucat ini jika nakalnya sedang kumat, Jimin bisa terkena serangan jantung karena sikapnya.

.

.

.

TBC

Niatnya mau di end sampe chap 20, tapi apa daya, konflik belum selese -_-

Moga ga bosen yes, kakak Yorobun…