DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Hah…. A-appa… aku…" Ujar Junhoe pelan.

Entah kenapa, Hanbin mendengarnya seperti sebuah protes. Junhoe tidak menginginkannya. Junhoe tidak seperti yang ia harapkan. Lalu sebuah ide gila muncul diotak Hanbin.

"Kau harus bertanggung jawab. Kau harus menikahi Han-"

"Tidak!" Seru Hanbin. "Aku tidak ingin menikah dengan Junhoe hyung."

.

.

.

Semua mata yang ada disitu menatap Hanbin. Tidak ada yang bersuara karena mereka benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan anak itu barusan.

Hanbin berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani melihat wajah anggota keluarga Goo yang sedang menatapnya seolah mereka baru saja bertemu dengan orang gila. Hanbin membalikkan badannya, berjalan menuju kamarnya. Ia bersyukur orang-orang itu tidak ada yang menghentikannya.

.

.

.

Hanbin membuka matanya. Sinar matahari yang masuk membuat tubuhnya terasa hangat. Ia menggerakkan tangannya perlahan dan mendapati dirinya duduk dilantai sambil memeluk lutut disamping tempat tidur. Hanbin memegang kelopak matanya. Baguslah, ia tidak menangis semalaman. Karena memang apa yang terjadi kemarin tidak perlu ditangisi.

Hanbin meluruskan kakinya yang terasa sakit karena ditekuk terlalu lama. Lalu ia memegang perutnya. Apa bayi didalam sana tidak apa-apa?

"Mianhae. Kau pasti merasa sesak karena lututku menekanmu." Hanbin merasa canggung berbicara dengan calon anaknya. Karena tentu saja dengan kepribadiannya yang datar itu ia tidak pernah berbicara sendiri. Jadi rasanya agak aneh.

"Kau tidak perlu takut. Aku akan merawatmu hingga kau lahir…." Hanbin terdiam sebentar. "….sendirian."

Setelah merenggangkan kakinya, ia berdiri dan berbaring ditempat tidur. Lantai yang keras membuat tubuhnya sakit. Hanbin butuh tempat yang empuk.

Lalu ia menatap jam dinding didepannya, sambil mengingat-ingat apakah ia mempunyai jadwal kuliah hari ini. Tidak ada. Hari ini seharusnya ia libur. Hanbin memutar bola matanya, ia tidak ingin berada di rumah sekarang. Mungkin mengunjungi Donghyuk di kampus tidak ada salahnya.

Hanbin bangun dari tempat tidur. Setelah merapikan tempat tidur, ia berjalan ke kamar mandi. Hanbin menimbang-nimbang apakah ia harus mandi pagi ini. Entah kenapa rasanya malaaasss sekali. Tidak pernah dalam hidupnya ia tidak pernah mandi pagi. Tapi hari ini Hanbin pikir membasuh muka dan menggosok gigi sudah cukup. Dan ia senang akan keputusannya itu.

Hanbin menghampiri lemari bajunya yang menurut penglihatannya tidak menarik. Bahkan baju yang disukainya pun biasa-biasa saja dimatanya. Lalu ia menatap ke tumpukan baju yang dibelikan Donghyuk. Dan sebuah hoodie merah dengan tulisan "Friends" berwarna putih tampak sangat menarik.

Hanbin ingat sahabatnya itu juga memilikinya. Saat itu Donghyuk memberikannya karena diskon 'Buy 1 Get 1'. Hanbin sempat menolak karena ia lebih suka memakai kaus lengan panjang daripada hoodie. Tapi Donghyuk bersikeras memberikannya, bahkan dia sendiri yang memasukkannya ke lemari Hanbin.

Hanbin tersenyum. Lalu ia mengambil handphone-nya dan menghubungi Donghyuk.

"Yeoboseyo…"

"Donghyuk-ah, ini aku! Hanbin!"

"Aku tahu,bodoh. Memangnya aku tidak menyimpan nomormu?"

Hanbin berusaha mengabaikan perkataan Donghyuk yang kasar itu.

"Donghyuk-ah, kau ingat hoodie merah yang kau belikan untukku?"

"Eo. Wae?"

"Aku akan memakainya hari ini."

"Lalu?"

"Kau juga harus memakainya. Kita pakai hoodie itu hari ini."

"Mwo? Shireo! Kau tidak tahu betapa anehnya dua orang memakai baju yang sama dan jalan beriringan!"

Hanbin terdiam. Matanya mulai berair. "Hiks… Kau tidak mau?"

"Y-ya! Kau menangis?"

"A-ani…. Aku hanya sedih kau tidak mau…"

"A-arraseo. Mianhae. Ayo kita pakai hoodie itu hari ini."

Hanbin menghapus air matanya. "Benarkah? Kau juga akan memakainya?"

"Eo." Terdengar helaan napas diseberang sana. "Memangnya kau ke kampus hari ini? Kau kan tidak ada kelas."

"Aku bosan di rumah."

"Gwaenchana? Apa terjadi sesuatu kemarin?"

"Aku akan menceritakannya nanti."

Hanbin mematikan handphone-nya. Diambilnya hoodie itu dan memakainya. Lalu ia terdiam. Apa nanti pakaian seperti ini pun tidak muat di tubuhnya? Suatu hari nanti pasti perut Hanbin akan membesar, seperti orang hamil lainnya.

Hanbin menghela napas. Rasa tahunya tentang kehamilan benar-benar nol. Sepertinya ia harus belajar banyak. Atau ia harus mengambil kuliah spesialis dokter kandungan? Hanbin tertawa. Entahlah. Mungkin lucu memeriksa orang hamil.

Setelah bersiap-siap, Hanbin keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu. Dari kejauhan terdengar suara dentingan piring. Mungkin yang lainnya sedang sarapan. Sarapan? Hanbin tidak sedang ingin sarapan. Ia ingin menjadi keras kepala hari ini.

"Selamat pagi, Kim Hanbin." Sapa Sera Eomma sambil tersenyum, seperti biasa. "Ayo sarapan."

Hanbin terdiam. Ia terus menundukkan kepalanya. "Dwaeseoyo, Eomma. Aku buru-buru."

"Kau harus sarapan. Kalau tidak bayimu-"

"Aku akan makan diluar." Hanbin melangkahkan kakinya ke pintu keluar. Lalu sebuah suara membuatnya tersentak. Suara yang paling tidak ingin ia dengar saat ini.

"Eodiga? Aku akan mengantarmu." Tawar Junhoe.

"Tidak usah." Jawab Hanbin dingin. "Eomma, aku akan pulang malam hari ini. Jadi jangan tunggu aku." Lalu ia berjalan keluar tanpa menatap salah satupun orang yang ada di ruang makan itu. Hanbin sudah bilang bukan? Ia ingin menjadi keras kepala hari ini.

.

.

.

"Bukannya kau baru pakai hoodie itu dua hari yang lalu?" Jiwon menyeruput jus jeruk yang dipesannya sambil memiringkan kepala, menatap Donghyuk yang sedang duduk disebelahnya.

"Eo." Jawab Donghyuk sambil menatap ke depan penuh kemalasan.

Sesuai pesan Hanbin hari ini, Jiwon dan Donghyuk menunggu di kantin kampus. Entah kepala anak itu terbentur atau otaknya bergeser, Hanbin bilang akan mentraktir pasangan Kim itu.

"Isanghae. Temanmu itu benar-benar aneh akhir-akhir ini."

"Aku memaklumi orang hamil."

Jiwon mengerutkan dahinya bingung. "Hamil? Siapa yang hamil?"

Donghyuk tidak menjawab. Matanya terus memandang Jiwon sampai namja chingunya itu mengerti.

"Hanbin? Kim Hanbin?" Jiwon tertawa. "Tidak mungkin anak sedatar dan sepolos itu hamil. Lagi pula dia belum menikah." Lalu ia tertawa keras sampai memukul pahanya beberapa kali.

Lagi-lagi Donghyuk tidak menjawab.

Jiwon menghentikan tawanya. "JINJJA? HANBIN HAMIL?"

"Eo."

"Wah… Daebak… Lalu siapa Appa-nya? Junhoe? Si brengsek itu?"

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?"

"Wah…." Jiwon masih tidak percaya. "Ternyata gaya pacaran mereka lebih parah dari kita. Lalu bagaimana bisa kau tahu?"

"Aku memberikannya testpack kemarin. Dan hasilnya dia positif hamil."

"Testpack? Kau punya testpack? Untuk apa?"

Donghyuk tersentak. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. "I-itu.. Untuk… Ah! Hanbin-ah! Yeogi!" Untung saja Hanbin menyelamatkannya. Donghyuk benar-benar harus berterima kasih pada sahabatnya itu.

"Kalian sudah menunggu lama?" Hanbin menghampiri Donghyuk dan Jiwon sambil tersenyum. Lalu ia duduk didepan pasangan itu. "Donghyuk-ah, kau memakai hoodienya!" Teriak Hanbin girang.

"Ya! Kau hamil?" Tanya Jiwon tanpa basa-basi.

"Hyung!" Donghyuk menyikut perut Jiwon. "Ia sedang sensitif." Katanya sambil berbisik.

"Ne. Aku hamil." Jawab Hanbin enteng. "Untuk merayakannya, aku akan mentraktir kalian."

"Mwo? Jadi ini sebabnya aku dipanggil kemari?"

Lagi-lagi Donghyuk menyikut perut Jiwon. "Hanbin-ah..." Panggilnya selembut mungkin. "Kau sudah periksa perutmu ke dokter kemarin?"

"Eo. Sudah. Aku datang bersama Sera Eomma."

"Lalu? Apa kata dokter?"

"Dokter bilang kandunganku berumur tiga minggu. Dan aku harus berhati-hati. Itu saja."

"Lalu?" Tanya Jiwon penasaran. "Apa ahjumma itu marah padamu?"

"Ani. Ia tidak bicara apa-apa padaku saat perjalanan pulang dari rumah sakit."

"Dia tidak bertanya siapa yang menghamilimu?"

"Tidak." Hanbin mengangkat kepalanya, menatap Donghyuk dan Jiwon bergantian. "Karena begitu sampai rumah, Sera Eomma memukul Junhoe hyung membabi buta."

"Omo!" Donghyuk menutup mulutnya terkejut, begitupun dengan Jiwon.

"Ah…. Seperti itu rupanya… Dia sudah tahu tanpa perlu bertanya padamu."

"Keundae…" Lanjut Hanbin dengan suara pelan, dengan suara yang terdengar sedih. "Kalian tahu apa Junhoe hyung bilang apa?"

"Molla."

"Apa katanya?"

Hanbin menarik napasnya. Matanya mulai memerah. "Dia justru bertanya padaku, 'bagaimana kau bisa hamil?'" Lalu ia mulai menangis. Air mata yang dari semalam ia bendung, akhirnya tumpah juga.

Hanbin menangis sangat kencang. Bagaimana bisa orang yang ia cintai itu menyakiti hatinya sampai seperti ini?

"Hanbin-ah…" Donghyuk menepuk pundak sahabatnya itu berkali-kali. "Pasti berat rasanya."

"Aku kecewa padanya Donghyuk-ah… Hiks… Dia tidak menginginkan anak ini…"

"Ya….! Kenapa kau berkata seperti itu? Hajima…."

BRAK!

Jiwon memukul meja sangat keras. "Benar-benar brengsek Goo Junhoe itu! Hanbin-ah, tunggu disini. Aku akan menghabisinya!"

"Hyung…" Panggil Donghyuk. Namja itu memberikan isyarat agak Jiwon tetap diam. "Kita jangan terlalu ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka."

.

.

.

Hanbin membuka pintu rumah perlahan. Dilihatnya lampu-lampu sudah padam. Ia berhati-hati menutup pintu karena tidak ingin menimbulkan suara berisik. Sepertinya semua orang rumah sudah tidur.

Hanbin bersyukur karena ia tidak harus bertemu dengan Junhoe. Seharian ini ia menghabiskan waktunya di apartemen Jiwon dan Donghyuk. Sebenarnya mereka menawarkan Hanbin menginap. Tapi Hanbin harus sadar diri, ia tidak ingin mengganggu pasangan itu.

"Kenapa kau baru pulang?"

Hanbin tersentak. Ia menolehkan kepalanya ke sumber suara. Didapatinya Junhoe sedang duduk diruang tamu, menatap ke arahnya.

"Ini sudah malam sekali." Lanjut Junhoe.

Hanbin tidak menjawab.

"Kim Hanbin, kau tidak dengar perkataanku?"

"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Tanya Hanbin dingin. "Kau bukan Eomma-ku."

Junhoe berdiri dari sofa dengan tangan yang dimasukan ke saku celana tidurnya yang panjang. "Kau sedang hamil. Kau seharusnya jaga diri."

"Memangnya apa pedulimu?" Hanbin melangkahkan kakinya, berusaha menjauhi namja yang sekarang ia benci itu. Tapi kemudian Junhoe menarik tangannya.

"Ada apa denganmu?"

Rahang Hanbin mengeras, tangannya mengepal. Matanya mulai memerah, lagi. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"

Junhoe mengerutkan dahinya, tidak mengerti.

"Apa kau sadar tingkahmu membuat aku kecewa, Goo Junhoe-ssi?" Hanbin menghempaskan tangannya yang dipegang Junhoe. Air matanya mulai berlomba-lomba membasahi pipinya.

"Kau seharusnya bertanya padaku apakah aku baik-baik saja! Kau seharusnya memelukku! Kau seharusnya… Hiks… Senang…" Hanbin menghapus air matanya kasar. "Kau seharusnya senang karena aku sedang mengandung anakmu. Tapi apa katamu? 'Bagaimana kau bisa hamil?' Kau yang menghamiliku dasar brengsek!" Hanbin menendang perut Junhoe dengan lututnya. Bersamaan dengan itu, sesuatu keluar dari saku celana namja bermarga Goo itu. Kotak kecil berwarna merah maroon dengan pita kecil diatasnya.

Hanbin menghentikan tangisnya. Lalu menatap Junhoe yang sedang membungkuk kesakitan dan kotak kecil itu bergantian. Hanbin mengambil kotak itu kemudian ia membukanya. Didalamnya ada sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil diatasnya. Lalu Hanbin kembali menatap Junhoe bingung.

"Aaaa….! Aisshh…. Tidak kusangka kau akan memukulku." Junhoe berdiri, masih memegang perutnya yang terasa sakit. Dilihatnya Hanbin sudah membuka kotak itu. "Eottae? Kau suka cincinya?"

"Ini untuk apa?" Tanya Hanbin.

"Shireo?" Junhoe mengambil kotak itu dari tangan Hanbin dan menutupnya. "Aisshh.. Tadinya aku ingin melamarmu dengan cincin ini. Tapi kau justru menendangku. Tidak jadi. Aku akan membuang cincin ini." Junhoe berjalan menjauhi Hanbin, sambil membawa cincin itu. Tapi kemudian sebuah tangan menarik lengannya.

"Eo! Jangan pergi…" Hanbin menundukkan kepalanya, malu.

"Wae? Aku tidak ingin menikah dengan namja yang menendang perutku." Junhoe kembali melangkahkan kakinya. Tapi lagi-lagi Hanbin menariknya.

"Mianhae…" Cicit Hanbin. "Jangan buang cincin itu."

Junhoe mengigit lidahnya, menahan tawa. Yeoksi, menggoda Hanbin memang menyenangkan. "Keundae eotteokhae? Sepertinya kau sangat membenciku sekarang. Cincin ini sudah tidak ada gunanya." Junhoe mengangkat tangannya, berpura-pura hendak membuang kotak kecil itu.

"Ah!" Hanbin menarik tangan Junhoe. "Jangan dibuang." Katanya sambil menggelengkan kepala.

"Lalu harus aku apakan cincin ini?"

Hanbin terdiam sejenak. "Kau harus memakaikannya. Disini." Ia menunjuk jari manis tangan kanannya.

Junhoe tersenyum. Ia ingin menggoda Hanbin lebih lama. "Ah…. Disini?" Ia memakaikan cincin itu ditangannya sendiri.

Hanbin terlihat sedih. "Kau harus memakaikannya ditanganku…."

"Untuk apa? Bukannya kau bilang kau tidak ingin menikah denganku?"

"Aku bilang begitu?" Tanya Hanbin pura-pura lupa.

Junhoe mengedarkan pandangannya sambil tersenyum kecil. Calon istrinya benar-benar manis. Junhoe mencopot cincin itu dari tangannya lalu meletakkannya kembali di kotak kecil itu. Kemudian ia berlutut sambil menghadap Hanbin.

"Kim Hanbin-ssi, orang yang paling aku cintai di dunia ini, maukah kau menikah denganku?"

Hanbin menutup wajahnya sambil menangis. Kali ini berbeda, tangisan bahagia. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan wajah Junhoe. "Pakaikan itu sekarang." Katanya malu-malu.

Junhoe menganggukkan kepalanya dsambil tersenyum puas. Ia berdiri, mengambil cincin itu dan memakaikannya ke tangan Hanbin. Lalu diciumnya dahi calon istrinya itu. "Mianhae. Aku pasti membuatmu sangat kesal."

Hanbin tersenyum sambil memeluk Junhoe erat.

"Kau bahkan menyebutku brengsek." Lanjut Junhoe.

"Mianhae, yeobo."

Junhoe melepas pelukannya. "Yeobo? Jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak ingin seperti orangtuaku. Ayo kita pilih panggilan sayang yang bagus."

Hanbin menganggukkan kepalanya. Sambil menangis bahagia. Sepertinya mulai dari sekarang ia akan sibuk, mengurus pernikahannya dengan Junhoe.

.

.

.

TBC