Oke, sekarang kembali lagi ke empat hari lalu. Saat Baekhyun belum bertemu Sehun, saat Baekhyun belum berlari ke kampus dalam lima menit, saat Baekhyun belum dibimbangkan perkara hati.
Chanyeol baru saja selesai menjalankan misi mengantar pulang Baekhyun. Lalu saat motornya masuk ke gang tempat kosnya, seorang pemuda membuatnya memelankan laju.
Seorang pemuda berdiri di depan pagar kosnya. Tanpa tas di bahu, tanpa kendaraan disampingnya. Hanya berdiri seorang diri dengan tangan tersimpan rapi di saku celana. Sesekali tampak dia menendang kerikil yang terlalu kecil untuk dia buat berpindah.
Chanyeol mengernyit. Heran sekaligus ingin tahu. Hal apa yang buat mahasiswa hukum nan arogan ini mau berdiri di depan kos yang harga per semesternya tak sampai seperempat harga sewa apartemennya?
Kali ini Chanyeol mendengus. Sepertinya dia tahu alasan pemuda itu berdiri disini.
Motor dia biarkan berhenti. Tepat disisi si pemuda berdiri. Malas turun, Chanyeol hanya duduk diam dan mematikan mesin motor.
"Cari siapa?"
Basa-basi. Takut saja prasangkanya beda. Siapa tahu pemuda ini bukan cari dia. Jadi daripada sok tahu, mending cari aman dengan bertanya.
"Kau,"
Okay. Dugaannya benar dan bisa saja semua yang ada di pikirannya pun benar.
"Kenapa?"
"Mau bicara,"
Pemuda itu tampak santai seperti biasa. Chanyeol sih inginnya juga santai. Tapi kilas ingatan mengenai dulu, buat dia waspada. Belum apa-apa Chanyeol sudah merasa aura peperangan.
"Soal?"
Pemuda itu tampak mendengus. Memutar bola mata seakan tak percaya.
"Baekhyun lah. Apa lagi,"
Kan benar dugaannya. Sehun tidak mungkin mendatanginya untuk kepentingan lain. Sudah pasti ini soal Baekhyun.
Berjalan mengikuti langkah Sehun yang sudah lebih dulu mendahului, Chanyeol hanya mengira-ngira hal apa yang kiranya jadi bahasan.
Barusan, saat masih berdebat di depan pagar kos, Sehun menyuruhnya ikut masuk ke mobilnya. Menyuruh Chanyeol meletakkan motornya ke garasi, Sehun hanya mengamati sekitar dengan cuek.
Awalnya Chanyeol enggan. Sedikit banyak prasangkanya berkata jangan ikuti. Tapi sebagian diri yang lain penasaran. Jadi yah, bukan salah Chanyeol kalau saat ini dia duduk berseberangan dengan Sehun di Up Normal.
"Kenapa?"
Itu kata pertama yang terlontar selepas pelayan mencatat pesanan mereka. Sehun hanya melirik sebentar. Tidak tampak seperti akan cepat menjawab atau menjelaskan. Sehun justru mengamati sekeliling alih-alih menjawab pertanyaan Chanyeol.
Mungkin Chanyeol ingin kesal. Tapi pada akhirnya tidak saat dia ingat tingkah-tingkah Sehun di masa lalu. Tabiat Sehun memang begitu. Suka memancing emosi orang lain. Membuat orang lain mengeluarkan tenaga untuk hal yang percuma.
Namun Chanyeol mana mau dikendalikan seperti itu. Maaf saja, dia sudah selangkah lebih maju untuk hadapi Sehun.
"Apa kabar dengan Baekhyun?"
Sehun akhirnya buka mulut. Menatap Chanyeol lurus dan menusuk. Andai Chanyeol baru mengenal Sehun, tentu dia akan tertikam tak berdaya.
"Masih begitu saja,"
Pada titik ini Sehun mengernyit. Inginnya sih berdecih mengejek. Tapi sadar keduanya tengah berada di tempat umum. Tidak seharusnya berbuat keributan.
"Masih belum balikan?"
Chanyeol mengangguk. Menerima gelas yang diulurkan pramusaji dan tak lupa mengucap terimakasih.
"Memang kenapa kalau belum?"
"Bagus lah kalau belum. Jadi aku ada harapan,"
Chanyeol lempar gelas yang di tangan boleh tidak?
.
.
TBC
.
.
Ayo dong, aku kangen komen kalian yang ngegas