"Mayat lelaki tersebut ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Bagian tubuh yang di penuhi oleh luka lebam dan gigitan taring, serta bagian anusnya yang hancur. Badan forensik menduga jika ini adalah serangan binatang buas. Namun penduduk berkata, jika setan popobawa yang menghilang, kini mulai beraksi kembali. Menyerang penduduk yang tak mempercayai keberadaannya."

.

.

.

.

.

~~ Oh Zhiyu Lu ~~

Author : Oh Zhiyu Lu

Title : Popobawa

Genre : Mysteri, Tragedy, Romance, Hurt, Yaoi, NC21, Hard sexs, Kekerasan, Masokis

Rating : M

Light : Chaptered

Cast : Sehun, Luhan

Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris, Sungmin, & Kyuhyun

Pair : HunHan, Baekyeol KaiSoo.

Disclaime : Cerita asli dari pemikiran Zhiyu sendiri. Tokoh milik Tuhan YME

Oh Zhiyu Lu

Presant

.

.

.

.

.

.


© Popobawa ©


Tak ada yang mampu menggambarkan bagaimana hancurnya persasaan Luhan saat ini. Bahkan dirinya pun tak yakin. Bagaimana perasaan yang bercampur aduk itu bergelenyar perih di dalam hatinya yang paling dalam. Kepalanya tiba tiba saja berdenyut nyeri. Pandangannya terasa berputar putar hingga ia merasa tubuhnya melemah tak berdaya di sisi dinding kaca.

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Luhan yang masih mengarahkan wajahnya pada dinding kaca di sebelahnya. Namun, bahasa tubuhnya yang menegang kaku, seolah memberitahukan kepadanya, bahwa Luhan tak tuli untuk mendengar sebuah berita yang baru saja terdengar dari televisi

"Sudah hampir lima bulan lamanya berita tentang jin popobawa terakhir kali terdengar, kini jin penggila seks itu kembali santer terdengar. Dugaan ini juga diperkuat dengan adanya bekas sperma dalam jumlah yang cukup banyak yang tercecer di sekitar tubuh korban. Di tambah lagi dengan kondisi fisik korban yang hampir sama dengan korban korban sebelumnya yang juga menjadi target sang jin. Sekian headline news kali ini. Berita terbaru akan kami sampaikan dalam headline news dalam satu jam kedepan. Selamat siang."

"Ck,, ck,,, ck,,," Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan dengan ekspresi wajahnya yang merupakan percampuran antara prihatin, benci dan juga jijik. Tubuhnya masih ia sandarkan pada bagian kepala sofa tempat ia duduk dengan lengan kekar milik Chanyeol yang ia jadikan sandaran pada leher bagian belakangnya. "Aku kira setan itu sudah menghilang atau berimigrasi ke negara lain karena ia tak pernah terdengar membuat ulah lagi. Bahkan aku sempat berharap setan seperti itu telah musnah. Tapi ternyata ia muncul lagi dan menganggu manusia. Jika saja aku mampu, aku ingin sekali memusnahkan setan itu."

Kini bukan hanya tubuh Luhan yang menegang kaku. Tubuh Chanyeol pun juga ikut menegang kaku. Bedanya, Luhan karena berita dari televisi sedangkan Chanyeol menegang karena mendengar penuturan asal yang keluar dari bibir Baekhyun.

"Hahh,,, Lu, saat ini sepertinya kita har- LU KAU MENANGIS?!" Baekhyun sungguh terkejut saat melihat ke arah Luhan yang kini tengah dibanjiri oleh air mata. Tubuhnya yang masih menghadap kaca kini bergetar hebat karena menahan tangisnya.

"Hey Lu! Kau kenapa menangis?" Baekhyun yang panik langsung berpindah tempat ke sebelah Luhan. Berusaha membalik tubuh Luhan hingga pria itu kini berubah posisi menghadap dirinya. "Kau kenapa Lu? Apa yang membuatmu menangis?"

"Aku lelah Baek. Sungguh. Aku hanya ingin tidur di apartemenku. Bisakah kau membawaku pulang sekarang?" Suaranya terdengar sangat lemah dan serak di saat yang bersamaan. Layaknya orang orang yang sedang mengalami keputus asaan di ambang hidupnya.

"Tapi kau belum memakan apapun Lu!"

"Tapi aku lelah Baek. Aku hanya ingin tidur." Luhan benar benar memohon untuk pulang kepada Baekhyun dengan air matanya yang tak kunjung mau berhenti.

"Sudahlah Baekie. Luhan sudah terlalu lelah. Lebih baik kita membawanya pulang. Kita bisa membungkus makanan yang tadi kita pesan untuk dimakan Luhan di apartemennya. Dia butuh tidur." Chanyeol yang mengerti dengan kejadian dibalik tangisnya Luhan pun ikut membujuk Baekhyun agar kekasihnya itu mengizinkan Luhan untuk beristirahat di apartemennya. Dan dengan berat hati ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Chanyeol.

"Ayo kita pulang!" Luhan mengangguk lemah dan membiarkan Baekhyun melingkarkan tangan kurus miliknya di leher milik Baekhyun. Berusaha membantu sang sahabat untuk berjalan menuju ke parkiran. Baekhyun hanya tak yakin membiarkan Luhan berjalan sendiri dengan wajah pucat seperti itu.

"LUHAN!" Dan benar saja, baru tiga langkah mereka berjalan. Luhan sudah terkulai lemas dalam rangkulan tubuh mungil Baekhyun, membuat Chanyeol harus bergerak cepat untuk menangkap tubuh Luhan yang bagaikan tak bernyawa.


~~ Oh Zhiyu ~~


Kai tak memperdulikan berbagai tatapan kagum dan memuja yang tengah dilemparkan wanita wanita centil yang beriri di sekiranya. Berbagai bisikkan samar tentang dirinya yang terlalu sempurna seolah seolah hanya angin sepoy sepoy yang mengusap rambut hitam legamnya dengan lembut. Kedua tangannya ia selipkan di dalam saku celana jeans belelnya. Raut wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya terlihat semakin rupawan.

Tidak! Kai tak bermaksud untuk tebar pesona pada kaum manusia. Apalagi pada wanita wanita dengan bedak dan lipstik tebal mereka yang terlihat begitu berlebihan yang malah menampilkan kesan menyeramkan. Di tambah lagi dengan pakaian mereka yang terlihat seperti orang miskin –baju berlengan pendek dengan menampilkan pusat serta rok pendek yang dimaksud Kai- membuat ia semakin tak beminat hanya untuk sekedar berbasa basi kepada mereka.

Tujuannya saat ini lebih penting dari pada menanggapi teriakkan teriakkan tak jelas mereka.

Tapi apakah para wanita itu tak merasa aneh dengan keberadaan sosok pria bertubuh tegap -yang hampir sama dengan tubuh milik Kai- yang tengah berjalan di belakang pria berkulit tan itu? Pria itu menggunakan sebuah seragam sekolah dari salah satu SHS yang namanya tak cukup terkenal. Di punggungnya terdapat sebuah tas besar yang diperkirakan didalamnya terdapat banyak buku buku tebal. Sepertinya ia tipe tipe anak berprestasi yang tak masalah jika masa mudanya dihabisakan dengan belajar dan belajar.

Tapi bukan sampai di situ saja. Tubuh pria itu terlihat begitu kaku. Terkesan aneh. Di tambah lagi dengan sepasang mata coklat yang berada di balik kacamata bulatnya yang terlihat begitu kosong dan hampa.

Beberapa langkah selanjutnya, Kai berbelok masuk ke dalam sebuah gang sempit diikuti oleh pria berseragam tersebut. Di sisi kanan dan kirinya terdapat sebuah bangungan besar yang menjulang tinggi. Membuat gang sempit tersebut terlihat gelap karena sang mentari yang tak mampu menggapai gang sempit tersebut.

Kai menghentikan langkahnya ketika sebuah tembok besar berdiri dengan kokoh di hadapannya. Begitu juga dengan pria berseragam SHS tersebut. Ia menghentikan langkahnya setengah meter dari tempat Kai berdiri.

Ketika Kai membalikkan tubuhnya, ia menyeringai bahagia ketika melihat pria tersebut masih dengan tatapan matanya yang terlihat hampa dan kosong. Bagaikan tanpa jiwa.

"Lepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhmu!" Titahnya terdengar begitu menuntut tak terbantahkan. Suaranya pelan. Namun terasa sangat mengintimidasi.

Apakah kalian tahu apa rencana Kai kali ini?


~~ Oh Zhiyu Lu ~~


Kyungsoo tengah terduduk dengan lemas di sebuah kursi yang terletak di depan ruang ICU. Kepalanya tertunduk dalam memperhatikan kedua tangannya yang saling bertaut. Sedangkan fikirannya tengah melayang jauh memikirkan keadaan sang ibu yang semakin parah dari hari ke hari. Bahkan beberapa alat penunjang kehidupan telah terpasang dengan apik di sebagian sisi tubuhnya.

Kyungsoo sempat berbahagia karena sang ibu sempat membaik walaupun beliau belum pernah membuka kelopak matanya semenjak empat bulan yang lalu ia pingsan di toko bunga tempatnya berkerja. Dokter hanya berkata jika ibunya mengalami penjepitan saraf tulang bekang yang berpengaruh terhadap otaknya. Membuatnya sulit untuk bisa sadar tanpa bantuan operasi. Maka dari itu Kyungsoo pun mengumpulkan banyak uang untuk operasi ibunya. Namun, dokter tetaplah manusia biasa. Semua hidup, mati dan takdir manusia tatap berada di tangan Tuhan sebagai dalang dari skenario kehidupan manusia. Ibunya tak kunjung membuka matanya pasca operasi yang ia jalani sebulan yang lalu. Apakah ia terlalu betah berlama lama di dunia gaibnya hingga ia tak merindukan anak semata wayangnya yang tengah menangis menunggu kesadarannya?

Kyungsoo terlalu takut untuk hidup sebatang kara di dunia yang begitu keras ini. Ia hanya memiliki ibunya sebagai teman hidupnya. Ayahnya sudah meninggal saat ia berumur setengah tahun. Sedangkan ayahnya merupakan anak tunggal dari kakek dan neneknya. Neneknya begitu sulit untuk mendapatkan keturunan. Sepuluh tahun pernikahan merekalah sang nenek baru bisa mengandung appanya. Dan itu semualah yang membuat Kyungsoo yakin jika keturunan keluarga Do mendapatkan kutukkan.

Dan kini, jika ibunya pergi meninggalkannya ia harus berlindung kepada siapa? Kemana ia harus bersandar. Selama ini ia selalu bercerita tentang kejadian kejadian kejadian yang di alaminya di dalam hidupnya kepada sang ibu. Ya,,, walau ia tak yakin sang ibu dapat mendengar ceritanya. Tapi, jika hal buruk yang selama ini selalu ditepisnya terjadi, ia harus bercerita kepada siapa lagi? Ia pasti akan hidup sebatang kara.

"Hyung?" Sebuah suara mengintrupsi lamunan Kyungsoo tentang bagaimana kehidupannya selanjutnya. Sepasang sepatu lusuh berwarna putih terlihat begitu jelas oleh kedua kelereng bening wajahnya.

"Kau tak apa hyung?" Kali ini Kyungsoo mendongakkan wajahnya. Mata sendunya beradu dengan sepasang mata bening dengan lingkaran hitam kelam yang begitu menawan. Seolah menariknya masuk kedalam sebuah pesona yang tak terbantahkan. Membuat Kyungsoo tertegun akan keindahannya.

"Hyung? Heeyy hyung! Kau melamun?"

"Ha? O-ohh,,, Kai. Apa kabar?" Kai menyerengitkan dahinya melihat Kyungsoo yang tergagap ketika menyapa dirinya. Ya,,, tentu saja Kai tahu jika tadi Kyungsoo tenggelam akan ketampanan dirinya.

"Emm,,, baik. Kau sendiri hyung?" Kai mendudukkan tubuhnya di samping Kyungsoo. Memperhatikan sosok bertubuh mungil yang kini telah merubah ekspresi wajahnya menjadi sendu.

"Ya,,, begitulah Kai. Aku baik baik saja. Tapi ibuku. Kata dokter kondisi tubuhnya semakin memburuk. Bahkan beberapa alat kedokteran harus dipasang kembali pada tubuhnya." Kai melingkarkan tangannya pada bahu kecil Kyungsoo. Membawa tubuh itu kedalam pelukkannya dan menyandarkan kepala Kyungsoo pada bahu tegapnya.

Telapak tangan besar itu mengelus bahu Kyungsoo dengan lembut. Memberikan kekuatan kepada sang pemilik bahu agar lebih tenang. Memberikan sebuah kata tak terucap, bahwa ia tak sendiri. Kai akan selalu menemaninya dalam kondisi apapun.

"Kai?"

"Heum? Kai bergumam lirih dengan tangannya yang masih mengelus bahu Kyungsoo dengan lembut. Dan detik selanjutnya, Kyungsoo memisahkan diri dari pelukkan Kai. Kembali membuat tubuhnya duduk tegak pada kursi milikinya.

"Emmm,,, Kai,,,"

"Ya? Ada apa hyung?" Kai bertanya dengan selembut mungkin. Siapa tahu Kyungsoo ingin mengatakan tentang suatu hal yang penting.

"Emm,,, Kai kau…"

"Ya. Aku?"

"Kau memakai baju siapa?"

"Hah?"

"Kau bau badan."

BRAAAKKK…

Flashback

Kai sedang uring uringan melihat sosok Kyungsoo yang tengah duduk termenung dengan kepalanya yang tertunduk dalam. Raut wajahnya terlihat begitu sendu. Beban hidupnya terasa sangat berat untuk dipikul oleh tubuh mungilnya.

Kai ingin sekali memeluk sosok tersebut. Mendekap tubuh rapuh itu kedalam pelukkan hangatnya. Namun yang ia lakukan sedari dua jam yang lalu hanya menatapi sosok tersebut dengan raut menyesal. Tak mungkin jika tiba tiba saja ia muncul di hadapan Kyungsoo. Yang Kyungsoo tahu saat ini dirinya tengah bersekolah. Sedangkan ini baru saja jam sebelas pagi.

Kai mungkin saja beralasan jika seluruh murid di sekolahnya di pulangkan dengan cepat karena ada rapat mendadak antar guru dan ia langsung melesat ke tempat ini karena mengkhawatirkan Kyungsoo. Tapi alasan itu membuat Kai harus menggunakan seragam sekolahnya. Sedangkan ia- hey! Tunggu! Kai itu serba bisa. Kenapa hanya seragam saja membuat semangat seorang Kim Jong In untuk mengejar Kyungsoo putus?

Maka dari itu, disinilah ia saat ini. Mata tajamnya tak lepas memandangi sosok pria berpenampilan culun yang sedang membuka bajunya satu persatu lalu memberikannya kepada Kai. Tatapan matanya kosong karena Kai telah lebih dahulu merasuki pikiran pemuda tersebut.

"Sepatumu!" Pemuda itu langsung membuka kedua sepatu miliknya dengan cekatan dan langsung memberikannya kepada Kai.

"Oke! Terima kasih atas bantuanmu." Kai berlalu pergi dari hadapan pria itu. Namun sebelum ia menapaki langkah ketiganya, ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap pria tersebut. "Aku lupa. Aku juga minta tasmu. Kyungsoo hyung akan curiga jika aku tak membawa tas ke sekolah." Sama seperti sebelumnya, pria itu pun memberikan tasnya kepada Kai secara cuma cuma yang ia letakkan di sisi kakinya.

"Baiklah! Semua lengkap. Terima kasih manusia." Kai pun benar benar melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu sendirian di lorong sempit yang gelap dan dingin dengan tubuhnya yang hanya dibaluti bokser berwarna hitam, kacamata bulatnya serta kaus kaki putih yang masih membungkus kakinya.

Flashback off

"Hahahaa…" Kai tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya pelan. "Benarkah? Tadi sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk berlatih basket bersama teman temanku. Lalu aku langsung berlari ke sini karena uangku hilan. Hhehehe,,, mian hyung."

Kyungsoo tersenyum maklum melihat tingkah Kai. Namun dalam senyuman itu terselip sebuah rasa cemburu yang mampu membuat dadanya sesak. Ia ingin sekali merasakan bagaiman indahnya masa masa sekolah. Bermain bersama teman teman seusianya. Belajar bersama. Menghadapi detik detik ujian dengan semangat dari teman temannya ataupun melakukan kenakalan lazim yang sering dilakukan oleh anak seusianya.

Tapi ia bisa apa? Keadaan pelik ini memaksanya untuk menghapus semua keinginan indah itu. Ia harus berkerja untuk menyambung hidupnya kedepan. Menghadapi kehidupan yang kejam ini dengan tenaga dan keringatnya sendiri. Ditambah lagi dengan kondisi sang ibu yang memaksanya untuk berkerja lebih giat untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah demi pengobatannya

Bukan, Kyungsoo tak merasa terganggu akan sebuah kenyataan jika dirinya harus banting tulang demi sang ibu. Bahkan ia rela berkerja dua puluh empat jam agar sang ibu kembali siuman dan berkumpul berbagi kehangatn di musim dingin bersamanya. Hanya saja, Kyungsoo ingin sekali merasakan bagaimana indahnya masa masa sekolah.

Namun apa daya jika hidup pun hanya seperti ini diberikan oleh yang Maha Kuasa. Ia hanya bisa membatin jika masih banyak lagi orang yang lebih susah dari pada dirinya saat ini.

"Hyung? Kau sedang memikirkan apa?"

Kyungsoo kebali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari duduknya lalu melepaskan jeket miliknya. "Pakailah jeketku." Kyungsoo mengulurkan jeket miliknya kepada Kai. "Baju seragammu itu pasti membuatmu merasa risih. Pakailah."

Kai menatap Kyungsoo dan jeket milik pria bertubuh mungil itu bergantian, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah hyung. Gumawo."

Tapi, sebuah pandangan mencolok kembali merebut perhatiannya. Kalung berbatu permata merah yang melingkari leher putih milik Kyungsoo kembali menunjukkan atensinya dihadapan Kai. Membuat dirinya mengerutkan keningnya dengan dalam. Pasalnya saat ia pertama kali melihat permata merah itu, jantugnya bergetar lirih. Dan saat ini pun hal itu juga terjadi kembali.

Kyungsoo tekekeh kecil melihat ekspresi Kai yang begitu heran dengan kalung yang saat ini ia gunakan. "Sekarang apa yang kau fikirkan Kai? Ada yang salah dengan kalungku?"

"Emm… apakah itu permata asli hyung?" Ekspresi senyum yang ditampilkan oleh Kyungsoo kini berganti menjadi gurat bingung. "Entahlah. Aku tak tahu. Sejak aku lahir, aku sudah menggunakan kalung ini."

"Mungkin saja kalung itu asli hyung. Jika kau menjualnya, mungkin kau bisa membeli sebuah rumah dan melunasi biyaya rumah sakit ibumu hingga sembuh hyung."

"Jika memang benar kalun ini asli, aku tak akan pernah menjualnya. Kalung ini adalah pemberian turun temurun dari keluargaku. Bahkan eommaku melarangku untuk melepas kalung ini."

Kai menyerengit. "Jadi kau tak pernah melepasnya sekalipun dari lehermu?" Dan Kyungsoo pun menganggukkan kepalnya.

"Apa terjadi sesuatu jika kau melepaskannya hyung?"

Kyungsoo memiringkan kepalanya dengan matanya yang menatap ke arah kanan atas. Seperti menerawang. Tapi Kai berani bersumupah, ekspresi Kyungsoo yang seperti itu membuat Kai ingin sekali menghempas tubuh mungil itu ke atas ranjang empuk miliknya. Namun saat yang seperti ini tak tepat jika ia melakukan hal gila itu.

"Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi dulu saat aku berumur sepuluh tahun, kalung ini pernah terjatuh dari leherku ketika aku berlari. Dan saat aku dipakaikan kembali kalung ini oleh ibuku, aku melihat darah di penisku."

Kai semakin menyerengitkan dahinya ketika mendengar jawaban membingungkan itu keluar dari bibir Kyungsoo. "Kau," Kai mendekatkan bibirnya pada telinga Kyungsoo dan berujar, "melukai penismu sendiri hyung?"

Kyungsoo menatap Kai yang berada di sebelahnya dengan tatapan ragu. Sesekali matanya menatap kearah kanan atas memikirkan tentang kejadian beberapa tahun silam. "Kurasa tidak."

Kai menjauhkan kepalanya yang hanya beberapa senti dari wajah Kyungsoo. Hanya berjaga jaga saja. Ia tak mau kelepasan. Dan Kyungsoo kembali melanjutkan ucapannya, "Darah itu hanya seperti menempel. Saat aku membersihkannya aku tak menemukan luka apapun di sana. Dan juga aku tak merasakan sakit apapun di sana. Bahkan setelah kejadian itu aku merasa lebih kuat. Tapi walaupun begitu, aku tak mau melepas kalung ini. Terlalu menyeramkan."

Kai terdiam saat sebuah teka teki membingungkan ini menyeruak dari bibir sosok yang begitu ia cintai. Dan Kai kembali mengingat akan tugasnya untuk mengawasi Kyungsoo. Mencari tahu siapa sebenarnya sosok pria bertubuh mungil yang berada di sampingnya kini. Apakah tugas itu ada kaitannya dengan kalung yang saat ini tengah digunakan oleh Kyungsoo?

Jika iya, Kai merasa mulai takut. Ia bimbang. Hatinya resah memikirkan sosok Kyungsoo yang berada dalam masalah. Bukan tak mungkin jika nyawa Kyungsoo akan terancam jika semua misteri yang tersimpan di dalam diri Kyungsoo terungkap.

Oke! Kita anggap saja jika Kai tak akan mencari tahu tentang misteri itu walaupun hal itu merupakan tugas mutlak dari Kris yang harus ia kerjakan. Ia akan berpura pura tak tahu dan akan berpura pura tak perduli. Namun bagaimana jika penghuni dunia arwah yang lainnya tahu? Dan yang lebih parahnya lagi jika yang mengetahuinya adalah Kris sendiri? Mungkin saja nasibnya akan seperti Sehun.

Apakah perasaan ini yang selalu Sehun rasakan?

"Kai-ya!" Kai tersentak heboh ketika sebuah dorongan keras yang ia rasakan dibahunya membuyarkan semua pemikirannya. "Kau kenapa hmm? Apa kau memikirkan tentang kalungku?"

Kai terdiam sejenak memandangi mata indah Kyungsoo yang berbinar begitu indah. Bola hitamnya begitu gelap seolah olah terus menarik dirinya ke dalam jurang yang tak akan mampu ia daki kembali. Dan nyatanya,ia pun sudah masuk kedalam perangkap itu. Kenyataan bahwa perangkap manapun terasa begitu menyiksa, namun baginya perangkap cinta yang telah dilemparkan Kyungsoo melalui sorot matanya yang begitu lembut terasa sangat hangat dan menyenangkan. Apakah ia mampu jika harus merelakan sosok indah ini?

"Aku tak apa hyung. Hanya saja itu membuatku sedikit bingung. Tapi sudahlah. Itu tak terlalu peniting." Kai tersenyum menatap Kyungsoo. "Dan jangan pernah melepaskan kalungmu itu hyung. Sepertinya akan sangat berbahaya jika kau melepaskannya. "

Dan Kai memilih jalan yang telah dipilih oleh Sehun.


~~ Oh Zhiyu Lu ~~


"Lu, kami pulang dulu." Ucap Baekhyun yang kini telah berada di ambang pintu apartemen milik Luhan dengan Chanyeol yang berada di sampingnya. Sedangkan Luhan tengah berdiri di hadapan keduanya dengan sebuah senyuman yang terlihat sangat dipaksakan. Ditambah lagi dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi.

Luhan menganggukkan kepalanya. "Hati hati di jalan." Kini Baekhyun yang menganggukkan kepalanya. "Jika nanti malam kau lapar, kau panaskan saja makanan yang ada di kulkas. Aku meletakkan kimbab, kimchi dan bulgogi di kulkasmu. Aku tak ingin dengar jika kau tak memakan makanan itu nanti malam. Kau harus makan Lu. Kasian anakmu jika kau tidak memperhatikan makanmu. Arra?"

Luhan kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku akan memakannya. Gumawo Baekie, Yeolie. Kalian sahabat terbaikku."

Mian Lu. Aku bukan sahaabt terbaikmu. Karena dirikulah kau seperti ini, ucap Chanyeol dalam hatinya.

"Tentu saja. Mana ada sabahat sebaik kami. Kau harus bersukur mempunyai sahabat sebaik kami. Kau tak akan pernah menemui manusia sepert aku dan Chanyeol. Cha! Masuklah. Setelah makan malam kau harus meminum susumu dan segera tidur. Jangan memikirkan hal yang membuatmu terluka. Semua akan baik baik saja."

"Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungi aku dan Baekhyun. Arra?" Chanyeol tak tahu mengapa tiba tiba ia mengucapkan hal itu. Kata kata itu keluar begitu saja tanpa perintah langsung dari otaknya.

"Ne. Aku pasti akan menghubungi kalian. Sekali lagi terima kasih. Kalian sudah begitu baik padaku."

"Tak masalah Lu. Kami pulang dulu. Ingat pesan pesan kami, oke?"

"Nde!" Jawab Luhan sembari menganggukkan kepalanya dengan semangat.

"Pai pai Lu." Baekhyun dan Chanyeol pun melangkahkan kakinya menjauhi pintu apartemen milik Luhan. Pria bermata rusa itu masih setia menunggu di depan pintu apartemennya hingga kedua tubuh yang tengah diperhatikannya menghilang di balik tembok.

Luhan menutup pintu apartemennya dengan pelan dan berjalan memasukki kamar miliknya. Tangannya meraih sebuah jeket parasut yang tergantung di sisi dinding kamarnya lalu memakainya dengan gerakkan cepat. Ia beralih mengambil telefon genggam, kunci mobil dan dompert berwarna coklat miliknya yang terletak di nakas sebelah tempat tidurnya

"Mian Baekie-ah, Yeolie. Aku tak akan pernah bisa hidup tanpa Sehun walau hanya sedetik saja. Terasa begitu sesak bagiku."

Dan Luhan pun berjalan menuju pintu utama apartemennya.

To Be Continue...


Yeyyy,,, Zhiyu senang banget ini FF udah nyampe 2k reviewnya. Hwwaa,,, Zhiyu ga nyangka bisa nyampe segitu. Ini benar benar kado terindah buat Zhiyu. Zhiyu Terharu. Banyak banget yang ngucapin selamat untuk Zhiyu. Terima kasih atas ucapan kalian. Zhiyu sayang banget sama kalian semuaa!Ga terasa ini FF udah nyampe dua puluh chapter. Panjang banget ya? Maaf,,, Zhiyu ga bisa nulis panjang panjang. Mata Zhiyu langsung sakit kalau lama lama di depan leptop. Maaf Ya,,,

FQA zone :

1. (Q) Apakah FF ini akan sad ending atau happy ending?

(A) Udah pasti FF ini happy ending. Cukup di real life aja mereka ngenes. Zhiyu ga tega buat mereka ngenes lagi di dunia FF

2. (Q) Chapter berapa FF ini tamat?

(A) Untuk kejelasannya Zhiyu ga tau berapa chapter. Krena masih ada tiga -mungkin- konflik lagi yang musti di selesaikan. Tapi Zhiyu usahain ga sampai tiga puluh chapter. Karena Zhiyu pun juga udah mulai belibet(?) sama ini FF.

3. (Q) Kapan HunHan baikkan lagi?

(A) Ga akan lama kok. Mungkin dua chapter kedpan mereka udah baikkan lagi kok.

4. (Q) Kasian Luhan. Konflik HunHan jangan berat berat ya...

(A) Aduhh,,, Zhiyu juga ga tega. Tapi alur ini memang udah Zhiyu siapin dari berminggu minggu yang lalu. Jadi Zhiyu ga mungkin ngubah alurnya lagi. Kalau Zhiyu ubah nanti semuanya musti Zhiyu ubah. Dan kemungkinan konfliknya bakal cukup berat. Tapi tenang aja, setelah konflik antara Sehun dengan Luhan selesai, mereka bakal berlovely lagi kok kayak biasanya.

5. (Q) Kenapa Sehun jadi berubah jahat kayak dulu lagi? Apa dia ga cinta lagi ke Luhan?

(A) Mungkin sebagian dari kalian udah tau kan? Itu semua ulahnya Kris. Dia nyuruh cupid untuk menghilangkan perasaan Sehun ke Luhan. Dan Sehun akan tetap cinta ke Luhan. Cuma perasaannya lagi di manipulasi sama cupid. Istilahnya panah asmara Sehun kayak di cabut dulu dari hatinya Luhan #plaaak

Big Thanks to :

||kaiXoo1214 || Guest 1 ||Winie || DinndaAdinda || cooly224 || wolfyxo || Istiqomah || hanhyewon357 || htyoung ||shyoung0970 || Okta HunHan || Zy || hunhan || Istiqomah || HunHanLoverz || A Y P || PrincessAvenAvengeline || asiih27 || kimhanna226 || Guest || 9094 || OrangKece || pembokatsooman69 || Dyossi || Hyomilulu || ExoFujoshi24 || jidatbacon|| manlylittledeer || luhannieka || rili kim || auroraka || Exoo-klm || larkil || Baby || Rly . C . JaeKyu||

|| Celusta || ddjongin || Luhanniee || vietrona || Guest || tyrhyeee || Kiki PurnamaSari || faridaanggra || ani . nuraeny . 3 || puspauliag || tetsuya kurosaki || theressa . msl97 || HunHanCherry1220 || Lu Hann || V3 || narsih556 || Jong Ahn || hunhanest || Eun810 || ferina . refina ||luluksitimasyta | Guest || HANhinHUNhenhon || Guest || Summer Mei || Uchiharuno Rozu || Guest || oasana || Jung Eunhee || karina || Guest || panypany || Whirl winds || bekkiyaa || Wu tyfan || Fahrani07 || younlaycious88 || CY Destiny || AlienBS94 || viiyoung ||

|| vey || Silver Orange |||| ChagiLu|| RZHH 261220 II || xiaorita . oktavia || junia . angel . 58 || DEERHUN794 || zoldyk || VieraOhHunHan || merryistanti || beobblecruz || Re-Panda68 || tchandra07 . tc || KiranMelodi || Panda Qingdao || DeviOHLU7 || LuhanCha || LisnaOhLu120 || xandeer || julihrc || syazajihan || kyoonel0472 || hwangpark106 || zhafira || andrian . stevano || Lieya EL || Albino's || Guest || Guest || lulu90 || oh chaca || sunsehunee || SebutLuhan3x ||

|| YWALin7 || popyanzz || Ririn ayu || Hyemi Han || egatoti |||| dfraqq || Guest || Maple Fujoshi2309 || PreciousLu || ddoookyunggg || PlayerJEJ || GalaxyHyeyu123 || ohmydeer || Dewi15 || Guest || RinZura || Kim Nathalia13 || Novey || gledyslengkong || msluhan87 || boebylight || SFA30 || selulaz || pandatao68 || byunyeolliexo || NoonaLu || Guest || riska . Gemini . 9 || JYHYunho || khalidasalsa || Annabelle || jung sehunnie ||

Sekali lagi terima kasih untuk ucapan selamat dari kalian. Zhiyu seneng banget. Zhiyu ga pernah dapat ucapan selamat sebanyak ini. Zhiyu senang bangeeeettt...

Jangan lupa tinggalkan jejak lagi ya,,,

Saranghae!

HIDUP HUNHAN!