A/N: Maaf ya kalo updetnya lama karena saya musti fokus untuk persiapan tes seleksi kuliah saya. Dan pada akhirnya saya berhasil lolos tes seleksi di salah satu univ swasta! *Lha malah curcol gaje?* Yang jelas, saya ngucapin terima kasih banyak buat yang udah men-support dan mendoakan saya! xD
Oh ya, ZoSan di next chapter! sabar ya. Chapter ini didominasi dramanya AceLu~ Konflik mereka lumayan kompleks jadi... butuh ruang yang lebih banyak untuk perchapternya. Tenang aja buat ZoSan fans. Mungkin di chap depan, porsi mereka 70% lebih mendominasi.
Oke, enjoy~
One Piece © Eiichiro Oda
Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)
Genre: Romance/Humor/Drama
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!) Redundansi (saya berusaha meminimalisir ini), Klise, Padat deskripsi dan mungkin OOC?
Don't like? Don't read!
-Chapter 20-
Threat
.
Bala ancaman itu datang, dengan senjata ketajaman frasenya, mencoba untuk membunuh determinasimu. Luka-luka hasil perjuanganmu telah disayat dengan lalimnya oleh bubuk garam kebencian dan arogansi.
Dan jika garis kekalahan ada di hamparan atensimu...
Keputusan apa yang akan kau pilih?
.
"Law, kenapa kau-"
"Tak seharusnya kau mengganggu Ace saat ini, Luffy..."
.
.
Pedang intervensi yang ditebaskan Law secara tiba-tiba, sungguh sukses membuat Luffy semakin tenggelam dalam rasa bingung. Di saat ia ingin menghentikan Ace agar pria itu tidak terlalu memaksakan diri, ternyata yang terjadi malah justru sebaliknya. Niatnya digagalkan secara instan tanpa penjelasan yang pasti. The Death Breakdancer itu tetap bergeming di hadapannya tanpa sedikitpun mengumbar persepsi yang ia pendam. Motifnya tak terbaca. Satu hal yang pasti. Luffy sungguh-sungguh membutuhkan penjelasan atas semua ini.
Mengapa?
Ya. Mengapa. Kata itu terus terngiang, memantul abadi di dalam penalaran Luffy. Mengapa ia bisa mendadak dihadang seperti ini? Breakdancer itu terlihat begitu santai. Menyematkan kedua tangannya di saku celana seraya memasang ekspresi yang begitu ambigu. Sebuah ekspresi seakan-akan ia tahu dengan apa yang dipikirkan Luffy.
Dan... ya. Ia memang tahu dengan apa yang dipikirkan Luffy saat ini.
Untuk itulah ia tak gentar sedikitpun dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Tak seharusnya kau menganggu Ace, Luffy. Jika kau menghentikannya, aku yakin, ia pasti akan marah padamu." Alasan terkonspirasi. Penjelasan itu membuat Luffy terbelalak tak mengerti. Marah?
"Kenapa harus... marah?"
"Karena orang yang sudah berniat untuk berjuang, ia tak akan mau berhenti sampai gelar kemenangan bisa diraih seutuhnya. Apapun yang terjadi."
Breakdancer itu mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Law tahu bahwa mungkin... penjelasan yang baru saja ia guratkan tak akan bisa dipahami Luffy semudah itu. Namun, tindakannya dalam mengintervensi Luffy bukan untuk sekedar menjelaskan teori itu saja.
Ada konspirasi lain yang lebih... krusial.
"Ikutlah denganku, Luffy. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu."
"Ne? Beberapa hal?" mahasiswa Mugiwara itu menautkan alisnya. Dan pedang tanya itu hanya dibalas dengan anggukkan tanpa suara.
"Ikuti saja aku."
Sungguh mencurigakan.
Dinding skeptis yang menghantui benak Luffy tak akan semudah itu ia nampikkan. Ia masih tak percaya dengan Law. Breakdancer itu terus melangkah pergi menuju ke beranda atas apartemen. Berekspektasi belaka tak akan menyelesaikan masalah.
Tak ada pilihan lain bagi Luffy selain hanya untuk... mengikutinya.
~AxL~
"Ohohohoho... aduh, Bok! Sore ini sungguh indah sekali~ Seindah jemuranku~ Syalalalala~ Syubidupapaaa~"
"Graaahh! Iva-san! Bisakah Anda diam?"
"Iya, benar! Suaramu benar-benar merusak telinga kami!"
"A-Apa? Merusak telinga? Kalian sudah berani menghina suara emas eike?"
"The hell! Suara emas? Hah! Jangan bercanda! Suaramu itu sudah seperti suara pabrik rusak!"
"WHOT!"
Kehidupan tak selamanya menyenangkan. Terutama bagi seorang Emporio Ivankov.
.
.
Di saat yang sama, pria eksotis itu harus merelakan diri untuk terajam kejinya cercaan yang dilontarkan oleh para tetangganya. Ia hanya dapat menganga dengan raut syok. Beberapa wanita yang kini sudah terlihat menjemur pakaian di sebelahnya, telah menghunusnya dengan tatapan pembunuh. Mereka menatap Ivankov layaknya parasit yang harus sesegera mungkin dibasmi. Sungguh... tidakkah hal itu kejam?
"E-Eike hanya menyanyi saja apa salahnya? Eike hanya ingin membagi anugerah suara indah ini pada dunia!"
"WTF? Membagikan anugerah, eh? Kami tidak butuh! Silahkan saja kau menyanyi di sawah sana!"
"Setuju! Kehadiranmu di sini hanya merusak suasana saja!"
"Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini, Jeng!"
"Iya. Aku juga sudah muak berada di sini!"
"Wooooo!"
Dan berlalulah para ibu-ibu itu meninggalkan Ivankov. Yang ditinggalnya hanya dapat mendengus dengan raut heran. Ia sungguh tak habis pikir...
"Ada apa gerangan dengan mereka? Apa mereka iri padaku? Padahal 'kan... suara eike ini juga standard sekali!" Ivankov hanya dapat menggumam sendiri. Sepertinya, ombak kepercayaan dirinya yang begitu tinggi itu telah mempersempit persepsinya sendiri. Ia tak akan bisa berpikir secara luas.
Sungguh... seperti inilah nasib orang yang memiliki jiwa narsisme tinggi.
"Fuh... sebenarnya tak etis juga menjemur pakaian sore hari begini. Tapi... biarlah, Bok! Sudah tak ada pilihan lain lagi. Eike berharap, pencuri bra itu tidak beraksi lagi. Eike agak trauma jika menjemur bra di siang hari."
Dengan determinasi yang baru, pria eksotis itu menganggukkan kepala dan mengusap kedua telapak tangannya. Memang, akhir-akhir ini sering muncul pencuri bra yang beraksi di Apartemen Beauty Dadan. Penghuni kamar 132 itu sudah mengalami kecopetan bra selama dua kali berturut-turut. Dan hal itu sudah cukup untuk membuat bongkahan trauma menghantam psikis Ivankov dengan lalimnya.
Sungguh, ia tak ingin merasa 'kecolongan' lagi. Dan lagipula... kenapa kumpulan bra itu bisa mendadak berharga di mata Ivankov?
Jawabannya sungguh simpel.
Pria eksotis itu dikenal sebagai seorang kolektor bra yang begitu profesional. Segenap bra yang dimilikinya telah masuk dalam standard terbaik dengan harga jual yang sangat tinggi. Karena bayangkan saja, pencuri mana yang tak tergiur dengan bra berlapiskan manik-manik berlian mahal dan juga diamond langka? Pasti mereka semua akan tergoda untuk mencuri bra mahal koleksi Ivankov.
Untuk itulah pria eksotis itu mengguratkan tindakan seperti ini. Dengan memilih untuk menjemur pakaian dan juga bra-bra mahal koleksinya di sore hari.
Dan setelah merasa yakin akan keputusannya itu, pada akhirnya Ia pun lantas melangkahkan kaki untuk kembali ke dalam kamarnya. Serpihan angin yang berhembus, menerpa entitasnya di kala itu sungguh terasa begitu menyejukkan. Pemandangan langit yang berpendar kesorean juga membuat mood Ivankov semakin memasuki dimensi bahagia. Semua berjalan dengan baik.
Sampai pada akhirnya...
"Jadi... intensitasnya semakin berkurang. Dan ia jarang menghabiskan waktu denganmu. Begitu?"
"Iya. Meski aku sudah pulang dari kampus, tetap saja Ace tak mau menghentikan latihannya. Seperti tadi."
"Itu 'kan... Mugiwara-Boy?"
Sebuah panorama dimana seorang Trafalgar Law sedang terduduk pada sebuah bench di dekat beranda apartemen memang merupakan pemandangan yang begitu biasa. Namun, jika Breakdancer itu sedang terduduk berdua saja dengan seorang Monkey D. Luffy, itu baru merupakan hal yang tak biasa. Setidaknya bagi Ivankov. Pria eksotis itu begitu syok tatkala panorama yang begitu langka itu telah menjadi sebuah santapan untuk dipandang oleh indera penglihatannya. Ini benar-benar mengejutkan. Luffy terlihat berbincang berduaan saja dengan Law?
'Kenapa ia tidak bersama dengan Portgas D. Ace-Boy itu?'
Ya. Pertanyaan itulah yang menguap di permukaan nalar Ivankov. Rasa skeptis telah membuatnya menyelinap di balik dinding kompleks apartemen dan memperhatikan gerak-gerik dua pemuda itu dengan seksama. Ia memutuskan untuk mendengarkan rangkaian konversasi mereka. Ini tak bisa dibiarkan. Persepsi negatif semakin sengit saja meracuki benaknya.
'Apakah Mugiwara-Boy sedang selingkuh? Padahal menurutku, si Ace-Boy itu juga tak kalah keren dari Breakdancer-Boy top Amrik itu. Bahkan, Ace-Boy mirip sekali dengan vokalis Black Spade. Tapi... kenapa sekarang Mugiwara-Boy seperti ini?' rumpunan pertanyaan itu membuat benih kurositas Ivankov meninggi. Menyelidiki hal ini. Hanya itulah satu-satunya cara untuk dapat menjawab segala enigma yang ada. Ivankov yakin bahwa Luffy adalah seorang pemuda yang baik-baik.
Pasti ada konspirasi terselubung dibalik panorama janggal yang ia lihat itu.
"Sungguh menyebalkan! Jika tahu begini, aku tak akan mau berpura-pura untuk belajar Breakdance!" Semburat frustasi tergambar jelas di paras Luffy. Mahasiswa Mugiwara itu terlihat mengacak helai rambut ravennya dengan perasaan kesal. Jelas saja ia kesal. Ia lakukan semua ini dengan Law untuk membuat Ace semakin mencintainya. Tapi apa? Yang terjadi justru kontradiksi.
Dan Law hanya tersenyum ambigu menatap geliat kliennya itu. "Bukankah kita sudah membuat kesepakatan dari awal, Luffy? Jika kau memintaku untuk membantumu, maka kau harus menerima apapun konsekuensinya. Termasuk saat ini. Kau sudah tak bisa mundur lagi. Menyesalinya juga percuma."
Pernyataan itu memang disampaikan dengan nada yang begitu santai. Tapi entah mengapa, bagi Luffy, hal itu terasa seperti sembilu. Yang dikatakan Law memang benar. Luffy sudah seharusnya menerima segenap konsekuensi yang ada. Namun, konsekuensi dimana Ace yang menjadi korban dalam permainan ini sungguh membuat Luffy tak terima. Pria itu sudah berjuang mati-matian demi dirinya. Jika konsekuensi penderitaan itu menimpa Luffy, maka tak masalah juga bagi mahasiswa Mugiwara itu. Tapi jika imbasnya mengenai Ace...
"Aku benci melihat Ace... menjadi tersiksa karena sandiwara ini, Law." Kali ini penghuni kamar 216 itu tampak begitu serius. Ia tak main-main dengan ucapannya. Hal itu membuat Law terdiam untuk sejenak. Gestur parasnya semakin tak terdefinisi.
"Sepertinya... Ace memang merupakan orang yang sangat berharga bagimu, ya?"
Hening.
Luffy terhenyak. Ada angin apa yang menebas Law sampai-sampai Breakdancer itu menanyakan pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya? Bukankah semuanya sudah jelas?
"Tentu saja! Ace sangat berharga bagiku! Aku ingin selalu bersamanya setiap saat. Aku tak ingin ia pergi dari hidupku!" Kedua tangan Luffy terkepal erat. Pemuda bermata obsidian itu mengarahkan atensinya lurus ke depan. Tak ada dusta dalam untaian frase itu. Law tahu bahwa penjelasan Luffy belumlah berakhir.
"Ace sudah mengajarkan banyak hal padaku. Ia bahkan sudah melindungiku dari kakek. Bersedia menemaniku sampai saat ini..." simpulan senyum tipis terukir di paras pemuda lugu itu. "Ace juga sudah mengajariku tentang... cinta."
"Cinta?" sebelah alis Law terangkat. Yang ditanya hanya menganggukkan kepala dengan antusias.
"Benar! Ace bilang bahwa cinta bisa dirasakan saat kita bersama dengan orang yang kita sukai. Dan rasa cinta juga bisa muncul karena kebersamaan. Dan aku sadar bahwa... orang yang kucintai adalah Ace. Karena aku ingin selalu bersama dengan dia selamanya! Aku menyukainya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap menyukai Ace! Shishishishi!" Gema tawa itu tetap membuat Law bergeming. Atensinya persisten menyorot sosok lugu Luffy yang kini mengguratkan senyum sembari menatap langit. Pemuda itu begitu polos. Law yakin, yang diucapkan Luffy merupakan secercah kejujuran yang tak perlu diragukan lagi kebenarannya.
The Death Breakdancer itupun lantas mengguratkan senyuman miris.
Sejatinya, ada beberapa pelajaran hidup yang masih belum diketahui oleh Luffy.
Ace mungkin hanya mengajarkan pemuda itu tentang bagaimana cara menggapai impian yang indah. Impian yang selalu membuahkan kebahagiaan. Impian yang berpotensi menghasilkan palung euforia. Dan impian itu sendiri adalah... cinta.
Namun... vokalis itu tak pernah mengajarkan tentang ombak takdir yang bisa berlaku keji pada siapapun kapan saja.
Ada beberapa realita pahit yang belum dipahami oleh Luffy.
Realita pahit? Tentu saja pahit...
Karena sesungguhnya... hidup itu tak selamanya... indah.
"Apa kau pernah mendengar tentang istilah 'cinta itu tak harus memiliki', Luffy?"
"A-Apa?"
"Cinta itu... tak harus saling memiliki. Iya 'kan?"
"..."
Hening.
Kedua obsidian itu membelalak. Mulut terkatup bisu tak tahu harus menguntai jawab seperti apa. Luffy sungguh terlihat begitu bingung. Dan reaksi itu tak terlepas dari ekspektasi Law. Sudah diduga. Anak itu tak akan langsung mengerti.
"Tak harus... memiliki?"
"Benar. Cinta itu tak harus memiliki. Kau mencintai seseorang, bukan berarti kau bisa selalu bersamanya. Kau mencintai seseorang, bukan berarti orang yang kau cintai itu membalas cintamu. Kau mencintai seseorang, bukan berarti kalian ditakdirkan untuk menyatu." Simpulan senyum tajam merekah. Semakin lama, kejinya makna dibalik penjelasan pria itu semakin membuat Luffy gentar.
"Ke-Kenapa begitu?"
"Karena cinta... bukanlah hal yang bisa selalu memberimu keajaiban... Luffy. Kau tak bisa terlalu berharap pada cinta. Ia bisa memberimu kebahagiaan yang begitu indah. Dan ia... juga bisa memberimu luka yang begitu menyakitkan."
Ungkapan itu bagai sebuah bara api yang mampu membakar habis benteng determinasi sekuat apapun. Luffy menyibakkan pandangannya ke bawah, menunduk. Pemuda itu tampak berpikir untuk sesaat. Rautnya semakin tak terdefinisi. Ivankov yang mendengar segenap percakapan itu hanya dapat membelalak syok. Tak percaya.
'Apa-apaan Breakdancer-Boy itu! Kenapa ia justru mengatakan hal yang bisa membuat harapan Mugiwara-Boy menjadi hancur, hah! Ke-Kejam sekali perkataannya, Bok!' Kolektor bra itu mulai tak terima. Luffy adalah titipan dari sahabat baiknya, Dragon. Dan sudah seharusnya ia menjaga pemuda itu baik secara fisik ataupun psikis.
Dan Law telah mengarahkan atensinya lurus ke depan. "Aku mengatakan hal ini semata-mata agar kau bisa berpikir realistis, Luffy. Karena dalam hidup ini, kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Impian yang dimiliki ribuan manusia telah hancur tiap harinya. Banyak para pemimpi yang terpuruk hanya karena harapannya tak tercapai. Kita memang bisa berharap. Tapi kita juga tak bisa bermimpi terlalu tinggi."
Deretan gigi Luffy tergertak rapat. Dinding resistensinya pun perlahan bangkit. Sudah jelas bahwa yang disiratkan Law adalah kalimat eufemis untuk: 'Kau harus menyerah untuk mendapatkan Ace'. Meski Luffy bukanlah orang yang terlalu pintar, tapi ia dapat merasakan hal itu.
"Aku tak peduli, Law! Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menyerah dalam mendapatkan, Ace! Aku tak peduli dengan teori cinta tak harus memiliki atau apalah itu! Aku sungguh tak peduli!" efek redundansi yang tersirat dalam penegasan itu memang disengaja sebagai simbolik keinginan keras Luffy. Namun, respon yang tak terduga justru dilontarkan Law dengan gamblang padanya.
"Hahaha... kau memang keras kepala, ya?"
"Ne? Apa maksudmu yang sebenarnya?" Luffy semakin kehilangan arah. Breakdancer yang menjadi partner in crime-nya itu memaparkan seringai yang begitu ambigu. Luffy tak akan pernah bisa menebak persepsi yang dipendamnya. Tidak. Bahkan orang jenius pun akan sulit mengoyak enigma motif Law. Apalagi pemuda dengan intelegensi pas-pasan seperti Luffy.
"Tidak. Aku tak memiliki maksud apa-apa. Baiklah, kita lihat nanti. Apa kau bisa meraih mimpimu atau tidak. Tenang saja. Aku masih bersedia membantumu dalam sandiwara ini. Penderitaan roommate-mu tak akan lama. Ia hanya memiliki waktu sampai esok hari untuk membuktikan skill Breakdance-nya pada kita. Dan setelah itu, kau bisa memilikinya."
Rasa skeptis Luffy semakin memuncak. Namun, denialisasi itu kembali berkobar untuk mematahkan kecurigaan tak berdasar itu. Yang bisa ia lakukan adalah memberikan pembuktian. Memberikan pembuktian bahwa impiannya pasti akan terwujud. Bersamaan dengan berlalunya Luffy, Law hanya dapat tersenyum dan bersandar di hamparan dinding. Atensinya tetap terkunci pada sosok sang klien yang semakin menjauh pergi, meninggalkannya. Sendiri.
"Jika kau memutuskan untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan roommate-mu, itu artinya, hukum itu juga masih berlaku padaku 'kan, Luffy?"
Untaian pengakuan itu membuat Ivankov terbelalak syok. Ia mengerti dengan motif Law. Ini sungguh tak bisa dibiarkan. Satu-satunya orang yang dicintai Luffy adalah Ace dan jika Law berani mengintervensi hal ini, maka...
'Eike harus memberitahukan hal ini pada Ace-Boy secepatnya! Hanya dia yang dapat membahagiakan Mugiwara-Boy! Aku yakin itu!"
~AxL~
"Hari ini progressmu kacau, Ace! Kau sudah meledakkan komporku saat dini hari tadi! Kau juga sudah membuatku hampir mati keracunan karena puding buatanmu!"
"Uhh... Kidd, kau tak perlu-"
"Bayangkan saja! Sudah sepuluh puding buatanmu yang kucicipi! Dan rasanya seperti kotoran! Tidak. Bahkan rasanya lebih buruk dari kotoran!"
"A-Apa?"
"Belum lagi dengan bentuknya yang tak beraturan! Kau ingin membuat puding atau membuat miniatur berbentuk tumpukan kaos kaki bau, hah!"
"Hah? Ka-Kaos kaki?"
"Dan gara-gara memakan puding tak jelasmu itu, selama lima jam aku harus mengalami yang namanya sakit perut! Cih! Bisa kusimpulkan bahwa puding-puding buatanmu dapat menyebabkan diare permanen!"
Jedeeerrr!
Segenap pernyataan menohok Kidd itu sungguh mampu membuat semangat Ace hancur berkeping-keping. Sang bintang iklan susu tak henti-hentinya menghujamkan cercaan. Ah, lupakan. Menghina adalah nama tengah Kidd. Sudah pasti pria itu tak akan bisa hidup tanpa menghina orang lain. Menebarkan cercaan adalah surga.
Dan sebagai pihak yang teraniaya, Ace hanya dapat menaruh rasa curiga. Ia curiga dengan pergantian sikap Kidd yang bisa menjadi baik dan jahat di saat yang sama. Jangan-jangan Kidd adalah seorang bipolar? Ah, probabilitas itu bisa saja terjadi.
"Kau tahu? Aku sudah lelah berkali-kali ke toilet untuk buang air! Kau hampir membuatku trauma dalam memakan puding seumur hidup!"
"Ta-Tapi Kidd-"
"Hah! Bahkan untuk evaluasi latihan breakdance-mu sampai hari ini, semuanya masih sama! Belum ada kemajuan sama sekali! Teknikmu masih salah! Dasar payah!" Lama-lama Ace mulai panas mendengar semua itu. Kidd bahkan mencela tanpa sedikitpun menatapnya. Lipatan sewot lantas terbentuk di samping kening vokalis Black Spade itu.
"Ah, Kidd! Kenapa kau tempramen sekali, hah! Bersabarlah sedikit padaku! Aku janji bahwa besok aku pasti tak akan mengecewakanmu! Aku sudah menghafalkan gerakannya dengan baik. Untuk masalah teknik dan posisi siku ataupun yang lainnya, aku pasti bisa segera menguasainya! Percayalah padaku!" Pria tampan itu lantas menyilakan kedua tangannya di dada. "Setidaknya jadilah seorang tutor yang baik dengan memberikan motivasi kepada muridnya!"
"Hei, aku tak pandai memotivasi orang! Jadi, jangan menyuruhku seperti itu!" sergah Kidd sengit.
"Ya, ampun! Memotivasi saja apa susahnya, eh! Berikanlah aku semangat, Kidd! Kau tahu 'kan seberapa besar dedikasiku untuk Luffy! Aku sangat mencintainya! Kumohon, jangan buat semangatku menjadi terkikis habis begini!" Adu debat itu tak akan pernah menemukan pemecahan jika salah satu dari mereka tak ada yang mau mengalah. Merasa pusing dengan semua ini, pada akhirnya Kidd pun angkat tangan.
"Aarrgghh! Ya sudahlah! Akan kuturuti keinginanmu! Sekarang, dengarkan kata-kata motivasiku dengan baik!" Yang hendak diberikan motivasi tampak antusias.
"Baiklah! Aku mendengarkanmu baik-baik sekarang!"
"Ehem... motivasi yang bisa kuberikan adalah..." Kidd menopang ujung dagunya. Dan rentetan kalimat yang begitu panjang pun termuntahkan dengan kerasnya.
"Jangan sampai kau patah semangat sekarang, Payah! Jika kau patah semangat sekarang, maka aku bersumpah bahwa kau tak akan pernah mendapatkan brondong favoritmu itu sampai mati! Bahkan di alam akhirat sekalipun! Dan jika besok kau belum menunjukkan progress yang baik mulai dari pembuatan puding hingga teknik Breakdance ini, maka aku akan membakarmu hidup-hidup dan aku akan membawa jasadmu yang sudah hangus itu sebagai makanan buaya peliharaanku di rumah! Apa semua itu sudah cukup memberimu motivasi, hah?"
...
Hening.
Haha... motivasi? Motivasi apanya? Semua itu terdengar seperti ancaman bagi Ace. Sebuah ancaman mengerikan yang mampu membuat musisi Black Spade itu pucat pasi. Yang dikatakan Kidd benar. Pria itu memang tak pandai memotivasi orang.
"Tsk! Entahlah! Kau membuatku semakin suntuk, Kidd!" Ace mengacak-acak rambutnya. Kini giliran sang lawan bicara yang mulai terhantam sewot.
"Semakin suntuk? Justru akulah yang lebih suntuk karena semua ini!"
"Habisnya, kau tak sabaran sekali! Aku juga berusaha keras, kau tahu itu!"
"Tapi berusaha keras tanpa hasil yang memuaskan juga percuma saja! Yang ada, kau hanya membuatku sakit kepala! Sudahlah! Lebih baik kau fokus saja bernyanyi! Sebentar lagi band-mu akan konser di kota ini 'kan? Jadilah Gol D. Ace dan fokuslah pada profesi aslimu sebagai seorang rockstar! Janganlah main-main lagi!"
"Main-main? Kau pikir semua yang kulakukan ini adalah main-main saja, begitu hah!"
"WHOT! JA-JADI, ACE-BOY BENAR-BENAR GOL D. ACE DARI BLACK SPADE!"
"Na-Nani?"
DEG!
Ace dan Kidd begitu syok tatkala seseorang sudah tampak berdiri tepat di hadapan mereka. Ivankov berdiri tegap bersenjatakan tatapan tak percaya. Kolektor bra itu menganga. Menatap entitas Ace yang tidak dibalut dengan kamuflase penyamaran apapun.
"Ja-Jadi, kau benar-benar vokalis Black Spade! Dugaanku benar! Pantas saja kau sangat mirip dengannya!"
'Shit!' Ace seakan mati kutu. Ini merupakan keadaan yang cukup gawat. Kenapa juga pria eksotis itu bisa mendadak masuk ke dalam kamarnya seperti ini? Identitas aslinya terbongkar. Dan lagi, pria itu juga cukup dekat dengan Luffy.
'Mati aku...'
"Eike membutuhkan penjelasan atas semua ini. Maaf jika aku terkesan mencampuri urusanmu, Ace-Boy. Kulakukan ini demi kebaikan Mugiwara-Boy. Karena dia adalah tanggung jawabku." Ivankov tampak serius. Keadaan semakin krusial. Tak ada pilihan lain bagi Ace untuk menuruti keinginan pria eksotis itu.
"Baiklah. Akan kujelaskan semuanya padamu."
"Jadi, kau benar-benar Gol D. Ace-Boy! Dan kau tengah berjuang untuk berlatih Breakdance dan membuat puding demi mempertahankan Mugiwara-Boy?
"Iya."
"Dan Mugiwara-Boy belum mengetahui identitasmu, begitu?"
"Iya."
"OMG! Kenapa eike tak menduga hal ini sebelumnyaa! Mugiwara-Boy ternyata berpacaran dengan seorang rockstar dunia! OMG! OH EM GEEEEEE!" Setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, Ivankov mendadak heboh. Pria eksotis itu menepuk hamparan dadanya, simbolik syok. Kidd melayangkan tatapan aneh padanya. Sedangkan Ace menepuk jidatnya, merenungi nasib.
'Ya Tuhan... dosa apa yang sudah kulakukan sampai-sampai aku harus mempercayakan identitasku pada seorang psikopat dan juga banci begini?' musisi Black Spade itu begitu nelangsa. Sudah susah payah ia sembunyikan identitasnya, pada akhirnya rahasia itu terbongkar juga. Di hadapan para orang aneh pula. Sungguh nasib. Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan Ace saat ini.
"Eike hampir saja terkena penyakit jantung karena semua kenyataan ini, bok! I-Ini masih sulit dipercayaaaa!"
"Hei, sebaiknya kau jaga mulutmu! Jangan sampai kau beberkan hal ini pada orang lain. Termasuk pada pemuda brondong itu!" Ancaman itu dilontarkan Kidd dengan santainya. Ivankov terhenyak dan menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Baiklah. Aku tak akan mengatakan hal ini pada Mugiwara-Boy. Tapi kuharap, kalian tak menyembunyikan kebohongan ini lebih lama lagi darinya."
"Tenang saja. Setelah semua permainan ini berakhir, aku berencana untuk memberitahukan semuanya pada Luffy. Untuk saat ini, jangan beritahu dia dulu. Situasinya kurang kondusif," sergah Ace meyakinkan. "Setidaknya, segenap pengorbananku ini akan menjadi ganjaran atas kebohonganku."
"Ah, sungguh tak kusangka bahwa kau begitu mencintai Mugiwara-Boy sampai seperti ini! Padahal kau terlihat begitu dingin saat di atas panggung, Ace-Booy~ dan ternyata kau bisa seromantis ini! Aku sangat terharu dengan apa yang sudah kau lakukan untuknya~ so sweet~" Ace mendadak sweatdrop melihat ke-lebay-an pria eksotis itu. Impresi yang ia terima benar-benar berlebihan.
"Terima kasih atas... pujianmu," jawabnya datar. Respon pasif itu membuat Ivankov tertawa.
"Fuhuhuhu... kudengar, kau juga sedang berlatih membuat puding untuk melawan tantangan Diva Boa Hancock 'kan? Sepertinya aku bisa membantumu, Ace-Boy. Kebetulan, aku ini pandai dalam membuat puding~"
"Benarkah? Kau bisa mengajariku membuat puding?" sebelah alis Ace terangkat, meragukan. Kidd juga melayangkan tatapan curiga.
"Iya, benar. Aku bahkan pernah menjadi juara saat ikut kontes membuat puding saat SMA! Aku juga menjadi juru masak favorit saat pelajaran tata boga dulu~" Ivankov terlena dalam dimensi nostalgia. "Percayalah padaku, Ace-Boy~ Aku pasti bisa membantumu. Lebih baik memiliki seorang tutor daripada tidak sama sekali. Benar 'kan?" sambungnya meyakinkan.
Ace masih terlihat ragu. "Iya, juga. Tapi..."
"Sudahlah. Sebaiknya kau terima saja tawarannya, Ace. Dan kuharap kalian tak meledakkan kompor baruku dini hari nanti," potong Kidd tiba-tiba. Pada akhirnya, Ace hanya dapat menghela napas pasrah dan menyanggupi tawaran Ivankov.
"Baiklah. Aku juga tak memiliki banyak waktu lagi. Mohon bantuannya, Iva-san."
"Oh, itu pasti, Ace-Boy~ Aku pasti akan mencetakmu sebagai seorang pembuat puding yang terbaik~ Fuhuhuhuhhuhuhu~" Ivankov tertawa puas. Dan Kidd lekas menyandarkan dirinya di hamparan dinding kamar Ace. Setelah ini, akan bertambah lagi satu orang aneh dalam grup perjuangan mereka. Ia sungguh tak habis pikir...
"Sebenarnya, kenapa kau bisa masuk kemari tadi, eh? Perasaan, pintunya tadi sudah kukunci dari dalam." Kidd kembali skeptis.
Dan Ivankov memaparkan seringai misterius. "Fuhuhuhuhu~ Tadi pintunya terbuka sedikit dan aku langsung saja masuk ke dalam untuk... OMG! Kenapa eike bisa melupakan tujuan awal eike kemari, hah! Ace-Boy! Ini sungguh gawaaaaat!"
"Gawat? Gawat apanya? Ada apa sebenarnya?" Ace menautkan kedua alisnya, bingung. Yang ditanya semakin tenggelam dalam kepanikannya sendiri.
"I-Ini tentang Breakdancer-Boy!"
"Breakdancer-Boy? Maksudmu... Trafalgar Law?"
"Benar! Ia memiliki konspirasi terselubung mengenai Mugiwara-Boy!"
"A-Apa katamu!"
~AxL~
"Apa yang membuatmu mendatangiku saat ini?"
"Aku sudah tahu semuanya. Sebenarnya motif apa yang kau inginkan dari Luffy... Law?"
.
.
Pekatnya gelap malam di kala itu tak membuat seringai yang terpapar di paras Law tertutupi. Ace masih dapat melihat dengan jelas gestur yang terpahat pada Breakdancer itu. Sebuah gestur terselubung, penuh dengan persepsi tak berjejak. Dinding keskeptisan Ace semakin terbangun dengan kokohnya. Ia tak akan pernah bisa memercayai Law.
"Sepertinya ada yang memberitahumu soal ini. Siapa dia? Apakah Luffy sendiri?"
"Tentang siapa orang yang memberitahuku, itu bukan urusanmu. Sebaiknya kau katakan saja. Apa maksudmu dengan semua ini? Membantu Luffy bersandiwara dalam permainan ini dan kau bahkan menyelipkan motif pribadimu dibalik bantuanmu pada Luffy!" Nada Ace meninggi. Kedua tangannya terkepal erat menahan jengkel. Law kembali menyeringai ambigu.
"Kenapa kau panik? Bukankah dalam hal ini, peluangmu untuk mendapatkan Luffy lebih besar, Ace? Dia menyukaimu, bukan? Hehe..." Breakdancer itu menyangga pelipisnya sembari terkekeh. "Hah! Justru harusnya aku yang tak terima. Karena aku berada di dalam posisi yang sulit dan memiliki peluang kecil. Tidak bisakah aku menuntut keadilan?"
"Apa maksudmu?" kedua alis Ace bertaut serius. Dan kedua matanya membelalak di saat satu spekulasi mulai muncul di otaknya. "Jangan-jangan kau itu... pada Luffy..."
"Bukankah hal itu sudah jelas, Ace? Permainan ini tidak hanya sekedar sandiwara kosong saja. Ada pertempuran nyata dibalik semua ini. Aku menyukai orang yang paling kau cintai. Apakah hal itu salah, eh?"
"Kau!"
"Hahaha... tak perlu syok dan marah begitu. Rasa suka itu wajar terjadi pada siapa saja. Kau, Luffy bahkan juga... aku." Tak mengindahkan bagaimana perasaan Ace saat ini, Law hanya menyilakan kedua tangannya di dada dan berbalik membelakangi musisi itu. "Aku ingin kita bersaing secara sportif. Termasuk dalam keseimbangan peluang."
"Keseimbangan peluang?"
"Benar. Aku ingin memperlebar peluangku." Law berbalik menghadap Ace. Dan seringai yang masih tak luntur di paras rivalnya itu membuat Ace geram.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"Simpel. Aku ingin mendekati Luffy agar peluangku semakin besar. Tapi hal itu tak akan berhasil selama kau ada di sisi Luffy. Aku ingin kau menjauhi Luffy sampai kau bisa menunjukkan teknik Breakdance-mu padaku. Dengan begitu, kau bisa fokus berlatih. Dan aku dapat memulai usahaku untuk semakin mendekati roommate-mu itu."
"Apa!" Deretan gigi Ace tergertak rapat. Luapan amarah semakin membuncah dalam nalarnya. Apa-apaan yang dikatakan Breakdancer itu? Ia menyuruh Ace untuk menjauh Luffy?
"Jangan bermimpi!"
"Hahaha!" Gema tawa kembali terlontar dari mulut Law. Ia sudah dapat menduga respon resistensi yang diberikan Ace. Sungguh sayang. Kartu As musisi Black Spade itu sudah ada di genggamannya. Law tak gentar sedikitpun. "Terserah jika kau tak mau menyanggupi kesepakatan ini, Ace. Tapi kau harus siap menerima satu konsekuensi terbesar karena menolak tawaranku ini."
"Konsekuensi terbesar? Apa maksudmu!" Ace hampir saja kehabisan kesabaran. Kekerasan fisik tak akan menyelesaikan masalah untuk saat ini. Ia sudah terjerumus dalam permainan Law. Dan satu penjelasan mengejutkan yang terlontar, cukup mampu mengejutkan dirinya dengan sangat lalim.
"Konsekuensi itu adalah... Luffy harus siap untuk mengetahui identitas aslimu... dari mulutku."
TBC
A/N: Semakin ke sini, genre drama fic ini akan semakin kental. Tapi bukan berarti humornya bakalan saya kikis habis. Ohohoho~ Terima kasih buat yang udah mereview! Mohon maaf jika ada kesalahan teknis dalam fic ini =)
Luffy: Saatnya Kidd membagikan bubur kacang ijo buatannya pada semua pereview! Aku juga mauuuu! XDDD #Lonjak2
Ace: ==" Kau jangan ikut-ikutan memakan bubur kacang ijonya, Luffy!
Zoro: Mencurigakan. Jangan-jangan di dalam buburnya telah disisipi sesuatu yang berbahaya
Sanji: Atau jangan-jangan dia salah memakai kacang. Bukan kacang ijo melainkan kacang panjang #Ngakak
All: #LOL
Nami: Sudahlah. Jangan menghinanya. Nanti dia marah... =_="
Kidd: Wuanjriiiit! Aaarrggghhh! #JotosinOrang2Terdekat
Nami: Tuh 'kan... O_O"
All: #HororNatapKidd. Nape dia?
Kidd: Gue kagak terima! Masa ada yang ngatain klo mantan pacar gue itu Ivankov? What the beep! AAAARRRGGGHHHH! #Cakar2Aspal #MbakarHotel
Ivankov: Aduh, Bok! Apa salahnya sih jadian ama eike! T.T
Ace: Ahahahahahaha! Parah! #NgakakMax
Zoro: Agar menghemat words, kita persingkat saja menjadi satu. Terima kasih untuk Matsuo Emi, roronoalolu youichi, Kim D. Meiko, manusia semelekete, Vii no Kitsune, Aoi LawLight, Yuna Claire Vessalius Kusanagi, Demon D. Dino, Lovely Orihime, Pearl Victory, ReadR, ag-stalker, Domi, Micon, Chary Ai TemeDobe, Hatakari Hitaraku dan moist fla! atas reviewnya! Review kalian membuat semangat Author fic ini menjadi membara!
Sanji: Dan karena bubur kacang ijo buatan Kidd agak meragukan (warnanya item, kacangnya panjang2 dan ada pete(?) juga di situ) maka, aku akan memberikan masakan Baratie sebagai gantinya~ Selamat menikmati para reader2ku yang cantik~ atau mungkin ganteng(?) #Bagi2MakananBaratie
Ace: Gila. Bubur apaan tuh. Ngeri parah ngeliat deskripsinya! =="
Luffy: ITADAKIMASU! XDDDD #Ngelahap Bubur Kacang Ijonya Kidd
Nami: O_O" Ya Ollo! Luffy!
Ace: LUFFYYYY! JANGAAAAAN DIMAKAAAAAN! TTATT
Luffy: ... #Pucet
Ace: PANGGIL DOKTEEEEERRR! #Ngobrak Ngabrik Tukang Parkir
Zoro: Suruh Law aja. Dia kan dokter?
Sanji: Sayangnya tuh orang ngilang saat ini tanpa alasan yang jelas
Robin: Yang kudengar, Trafalgar-san sedang menghadiri jumpa fans
All: #Sweatdrop
Ace: Oke. Sebaiknya kita akhiri konversasi gaje ini. Jangan lupa tinggalkan REVIEW untuk kami ya! #Bawa Luffy ke UGD
Zoro: Sampai jumpa di chapter depan
Kidd: AAAAAARRRRGGGHHHHH! #MakanBayi(?)
Nami: O_O" Ja-Ja Ne, Minna... #Kabur dari Kidd
Robin: *Matiin laptop*
