Chapter 41

Without Hesitate

Kenangan itu berakhir dengan tawa keras Viper.

"Hentikan tawa tak enakmu itu! Kali ini aku benar-benar tak ragu untuk menghabisimu!" ujar Adder.

"Oooh…aku jadi penasaran adikku sayang, kita lihat saja." kata Viper dengan nada mengejek.

"Kalau begitu bersiaplah Viper!" tukas Adder, memasang kuda-kuda secepat kilat menyerang Viper, mereka saling serang, memukul, menendang, menghindar, dan melempar jurus andalan mereka, menembakkan racun paling mematikan milik mereka dia kakak- beradik yang dikuasai oleh amarah dan dendam, tidak mengendurkan serangan mereka masing-masing, mnegincar titik vital lawan itu yang dilakukan Viper dan Adder, kematian adalah tujuan akhir mereka, ya semua ini akan berkahir kalau salah satu dari mereka mati.

"Cepat juga kau." kata Viper, kelihatannya dia sudah mulai kelelahan, nafasnya mulai tersengal tetapi Adder tak mengurangi kecepatannya, viper beberapa kali mengincar titik vitalnya tetapi Adder selalu berhasil menghindar, Viper merasakan dia bukan Adder yang dulu lagi, ini gawat kalau Viper tak putar otak dia pasti mati disini. Viper berhenti tanpa mengendurkan pertahanannya. Pipinya maupun Adder sama-sama tergores dan berdarah, bahkan bibir Adder sobek akibat serangan Viper tetapi dia tidak terlihat lelah sama sekali, tentu saja Adder sudah makan asam garam dengan pertempuran bersama dengan Lecca, yang perlahan membuat dirinya jauh lebih kuat daripada Adder yang dulu, tetapi alasan yang terkuat adalah karena ia ingin melindungi Lecca.

"Kau kelihatan kepayahan kakak, mau berhenti akan kubuat kau mati tanpa rasa sakit?" ucap Adder.

Wajah Viper berkerut mendengar ucapan Adder, dia merasa terhina, Viper memang merasa terhina sejak ia harus menjadi yasha milik Kira, tetapi dia harus melakukan itu untuk bertahan hidup Viper rela menundukkan kepalanya walaupun dia punya harga diri yang sangat tinggi. Dan dia tak sudi kali ini kalah dari Adder.

Viper meningkatkan konsentrasinya dan melakukan gerakan cepat, dia menghilang dari pandangan Adder.

"Oooh..bersembunyi ketika kau mulai merasa terdesak heh! Viper!" ejek Adder.

"Aku tak bersembunyi adikku sayang." Viper muncul dibelakang Adder, memiting Adder dan mengigit leher Adder tanpa ampun, Adder refleks menendang perut Viper membuat gigitannya terlepas, darah segar mengalir dari leher Adder yang bolong akibat gigitan Viper, Adder menekan lehernya yang terasa nyeri, dia tahu Viper tak sekedar mengigit tetapi juga memasukan racunnya. Sementara Viper memegang perutnya, tendangan Adder mematahkan beberapa tulang rusuknya tetapi dia masih beruntung dan merasa menang karena Adder sudah terkena racun miliknya terlihat kaki Adder sudah mulai gemetar meski adder menyembunyikannya dengan tetap berdiri dan terlihat tenang, tetapi perlahan racun mematikan itu akan membunuh Adder pelan-pelan.

Viper tersenyum dan menjilat bibirnya yang penuh dengan darah Adder. "Lumayan juga rasa darahmu." Katanya.

Adder menggeretakkan giginya, dia lengah dan lupa kalau Viper adalah ular yang sangat licik dan jahat, pandangan Adder sejenak buram dan kakinya terasa goyah, denyut jantungnya berdetak lebih cepat sesuatu naik dari perut Adder menuju kerongkongannya, Adderpun memuntahkannya, darah hitam.

"Kena kau!" Seru Viper penuh kemenangan, ketika Adder memuntahkan darah hitam itu.

"Aku tak akan mati dengan racun lemahmu ini Viper." Adder menyeka bibirnya, tak mempedulikan rasa yang mulai mematikan tubuhnya perlahan Adder dengan cepat menyerang Viper, serangan yang bertubi-tubi tanpa henti.

Viper roboh ke tanah, seluruh badanya sakit dan tak bisa bergerak, serangan Adder benar-benar membuatnya kepayahan, bagaimana bisa Adder menyerang seperti itu dengan racun yang perlahan melemahkannya, tidak, bahkan dia tidak terlihat lemah sama sekali. Adder berdiri di depan Viper, memandang Viper seakan Viper adalah serangga menjijikan. Viper membalasnya dengan pandangan menantang meski sudah terluka cukup parah Viper tak sudi kalah dari Adder, melihat kaki Adder yang makin gemetar dan wajah Adder yang makin memucat.

"Rupanya racun itu sudah mulai bekerja dengan baik, kau tahu kau tak akan punya waktu banyak." kata Viper

"Aku sudah bilang aku tak akan mati dengan hanya racun lemahmu ini, karena didalam tubuhku juga mengalir racun bahkan lebih kuat dari milikmu jadi aku tak takut dengan racunmu!"

"Begitu" kata Viper, "aku menyerah bunuhlah aku sekarang, buktikan kata-katamu yang tanpa keraguan itu."

Adder terdiam tak berkata apa-apa dia hanya menatap Viper, mengeratkan kepalannya. Meski berkata kalau dia akan menghabisi kakaknya tanpa keraguan tetapi saat ini yang dirasakan Adder adalah sebaliknya, rasa benci yang tumbuh di dalam hati Viper bukanlah kesalahannya semata, ini semua karena perlakuan ayah mereka Raja Uraga yang selalu membandingkan mereka dalam segala hal, Adder sadar itu dia adalah pihak yang selalu berada dalam cahaya sementara Viper selalu dalam bayangan, sementara Adder selalu mendapat pujian tentang apa yang dia lakukan Viper hanya mendapat hinaan dan cacian, saat Adder mendapat hadiah Viper hanya mendapat hukuman karena sedikit kesalahan yang dia perbuat, Adder menyadarinya. Sebenarnya dia sangat ingin seperti kakak dan adik pada umumnya, mereka bermain bersama dan menjadi tim yang kompak, saling membantu dan saling mendukung. Tetapi hal itu tak bisa dilakukan, karena perbedaan perlakuan itu dari kecil Viper selalu menjauhi Adder dan terkesan membencinya, padahal Adder ingin sekali disayang oleh kakaknya sendiri, namun hanya penolakan dari Viper dan permusuhan yang didapat Adder dari viper.

Adder memejamkan matanya kenapa dia iba dengan Viper, dia menjadi seperti ini bukan semua kesalahannya, bukan karena kakaknya ini jahat tetapi karena lingkungan dimana dia dibesarkan yang membuatnya jadi jahat. Sangat menyedihkan ketika menyadari hal itu.

Viper melihat ada keraguan di mata Adder, dia tahu Adder tak pernah berubah sejak dia bertemu lagi dengan adikknya ini di Noesis, meski pandangan Adder terhadapnya sarat dengan kebencian, namun Viper tahu hati adiknya yang baik hati ini tak akan pernah berubah, tapi dia membenci Adder kenapa selalu dia yang dibanggakan oleh kedua orangtuanya terlebih ayah mereka sang raja, selalu saja semua keburukan hanya datang dari Viper tetapi semua kebaikan selalu untuk Adder, dengan perlakuan yang timpang itu dalam hati Viper tumbuh rasa yang mengerikan, bernama kebencian. Kebencian itu mencapai puncaknya ketika Raja Uraga mengutarakan niatnya untuk menjadikan Adder sebagai pewaris tunggal tahta kerajaan Klan Rattles, padahal Viper juga punya hak sebagai pewaris tetapi ayahnya sama sekali tidak menganggapnya ada, waktu Viper memprotes keputusan ayahnya, sang raja malah membalasnya dengan kata-kata yang membuat Viper naik darah, bahwa sebaiknya Adder tidak punya saudara semacam dirinya.

Dikuasai oleh kebencian yang tertahankan Viper mulai merencanakan perebutan tahta dengan membunuh raja dan menimpakan semuanya pada Adder. Melihat kegundahan Adder, sang kakak tak berpikir panjang dia menjegal kaki Adder sampai jatuh dengan bertumpu pada dua lututnya. Viperpun bangkit dengan susah payah.

"Kau tidak berubah sama sekali adikku sayang, hatimu tetap seperti dulu, tetap penuh dengan kemurnian, kebaikan, rasa iba, menjijikan!" tukas Viper

"Itu karena kau adalah…."

"Aku bukan kakakmu!" bentak Viper. "Aku benci menjadi saudaramu, aku benci punya wajah sama denganmu! Aku benci semuanya tentang dirimu Adder, dan satu yang ingin kulakukan adalah membuatmu mati! Bukankah kau juga ingin membuatku mati dengan ocehanmu tadi, apa kau merasa iba padaku Adder, aku tak butuh rasa ibamu!" Viper menendang wajah Adder membuatnya tersungkur.

Tubuh Adder kini tak mau mendengar perintah otaknya, racun akibat gigitan Viper menjalar keseluruh tubuhnya dan melemahkan dirinya.

"Bagaimanapun juga aku selalu menganggap kau adalah kakakku satu-satunya meskipun kau membenciku dan aku membencimu, Viper karena itu aku tidak bisa membunuhmu!" ujar Adder.

"Hentikan bicaramu yang menjijikan itu!" Viper hendak menyerang Adder namun tubuhnya tak bisa digerakkan, bahkan jari-jari tangannya, seakan ada tali yang tak nampak mengikatnya.

"Sayang sekali." ucap seseorang, Adder melebarkan matanya dia kenal suara yang bernada meremehkan itu, "kalau aku jadi kau aku tak akan ragu melakukannya" suara itu mendekat bersamaan dengan suara langkah kaki dari tangga naik gerbang Verge .

"Tak perlu merasa iba atau kasihan dengan orang yang mau mencelakai orang yang paling kita sayangi." jubah perak itu berkilau tertimpa sinar bulan, rambut biru gelap pemakainya mengayun pelan tertiup angin, Kanon berdiri di kaki tangga gerbang Verge.

"Aku tak butuh ceramahmu, Kanon!" kata Adder, Kanon menyunggingkan bibirnya dan berjalan mendekati Adder yang masih bertopang dengan kedua tangannya dan berhenti di samping Adder. "Perlu bantuan?" Tanya kanon mengulurkan tangannya.

"Tidak perlu!" maki Adder menepiskan tangan Kanon.

"Aku ini mencoba membantumu" decak Kanon.

"Aku bilang TIDAK PERLU!" tegas Adder, akhirnya dia berhasil bangkit walaupun susah payah dia berdiri, Kanon memandangnya lekat-lekat, luka yang diderita Adder memang tak banyak tetapi melihat luka menganga di lehernya, Kanon jadi paham kalau yang ditanggungnya bukan hanya sekedar luka.

Kanon mengalihkan pandangannya pada Viper. "Aku bisa menghabisi dia untukmu Adder, kalau kau terlalu kasihan padanya." kata Kanon dingin.

"Sudah kubilang aku tak butuh bantuanmu! Aku masih bisa melakukannya!"

"Kau yakin?" tekan Kanon. "Yah, mengingat kalimat terakhirmu tadi." Kanon melirik Adder tajam. "Kalau aku pasti akan membunuhnya, walaupun itu adalah saudara yang punya wajah sama denganku."

Viper tertawa, "dia tidak punya keberanian seperti itu" katanya sinis, "dia terlalu takut atau terlalu bodoh, menyedihkan sekali kau ini Adder!"

"Diam! Kataku" ujar Adder sengit.

"Kalau begitu bunuh aku Adder! Tunjukkan kesungguhan hatimu itu!" tukas Viper, Adder mengepalkan tangannya sampai sakit. Dia mendongakkan wajahnya memandang Viper.

"Cepat bunuh ak…AKH!" pedang pendek itu menancap tepat di dada Viper.

Adder dan Kanon kaget melihat pedang yang menancap itu darimana datangnya pedang itu, dan Adder yakin yang menancap ditubuh Viper itu adalah Pedang Hyperion. Siapa yang melakukan ini? Pikir Adder.

"Ah, kosmo ini" kata Adder dalam hati, dia menoleh dan mendongakan wajahnya di tengah tangga gerbang Verge, Lecca sudah berdiri mematung, dia biarkan rambutnya menutupi wajahnya sukar sekali bagi Adder membaca raut wajahnya, namun samar Adder merasa dia bukan Lecca yang biasa, seperti ada sesuatu yang mengikutinya.

Adder mengalihkan pandangannya ke Viper yang kini sedang berusaha menarik pedang yang menancap di tubuhnya, sambil meringis kesakitan setelah pedang itu berhasil dia cabut Viper kembali roboh, darah membasahi lantai batu gerbang Verge.

Adder masih memandang Viper. "Jangan memandangku dengan wajah iba itu, sudah kubilang aku tak butuh rasa kasihamu, sampai kapanpun aku tetap membencimu Adder, sekalipun aku dan kau adalah kakak dan adik." usai mengatakan itu Viper menghembuskan nafas terkahirnya, luka akibat pedang itu dengan cepat melahapnya dan mengembalikan Viper kewujud aslinya yaitu seekor ular hitam dengan corak keemasan di punggungnya.

"Ini adalah medan pertempuran Adder, membunuh dan dibunuh adalah hukum peperangan, tidak ada belas kasihan, jangan pernah kau tunjukkan keragu-raguanmu dalam perang, sekalipun yang kau bunuh itu adalah orang yang tidak ingin kau bunuh, suka atau tidak suka kau harus jalani jika kau ingin menang." ucap Lecca, dia mengangkat wajahnya dan memmandang Adder lurus-lurus.

Adder balas menatap Lecca, benar ini bukan Lecca untuk saat ini, Adderpun berlutut membuat Kanon yang melihatnya terheran-heran.

"Maaf yang mulia." kata Adder penuh sopan santun.

Lecca menuruni tangga berjalan melewati Kanon dan melemparkan senyum sedih, ia mendekati Adder berhenti di depannya dan mengulurkan tangannya.

"Bangkitlah adder, tak perlu kau menundukkan kepala seperti itu." kata Lecca dia tersenyum. Adder meraih tangan Lecca dan bangkit, Lecca sudah kembali seperti biasa, Adder yakin tadi Dewi hera sempat menampakkan diri sepertinya, Kanonpun merasakan kehadiran sang dewi dengan kosmo besarnya.

Pandangan Lecca beralih ke Kanon. "Kanon, aku ini Lecca dan hanya Lecca sampai akhir." katanya pelan seakan mengerti apa yang dipikirkan lelaki berwajah sama dengan Saga itu, seraut wajahnya melukiskan kesedihan amat sempurna.

Rasanya Kanon ingin memeluknya dan membungkus semua kesedihannya dengan kedua tangannya, tetapi Kanon hanya bisa memandang Lecca saja dan itu membuatnya sedikit kesal.

Sementara itu di pope chamber. Semua yang ada di dalam aula itu terdiam tak berbicara, semua menunggu ini membuat Byleth dalam wujud Camus bosan dia pun bangkit dari duduknya. "Jangan coba-coba pergi dari tempatmu Camus." kata Aiolos.

"Aku tak sabar Aiolos, ini membuatku gila menunggu tanpa kepastian" protes Camus.

"Aku setuju, ini membuat pikiranku tak tenang." timpal Shura

"Duduk Shura!" bentak Aiolos, membuat Shura sangat terkejut.

"Ada apa Aiolos, kau tak seperti biasanya?!" balas Shura

Camus menyunggingkan senyumnya, Aiolos seperti tertantang dengan senyum Camus itu "Tak sabar katamu? Gila? Apakah benar itu Camus atau aku panggil kau Byleth" kata Aiolos geram.

"Apa katamu Aiolos?" ucap Shura tak percaya, barusan Aiolos menyebut Camus sebagai Byleth.

"Kau sudah kehilangan kesabaranmu karena kau sama sekali tak mendapat telepati dari rekanmu di luar sana bukan, jadi sebaiknya hentikan permainan ini, aku juga sudah bosan berpura-pura tidak mengenalimu, Byleth!"


Chapter 42

True Form

Baik Athena, Pope Shion dan Shura membelalakan matanya tak percaya dengan penyataan Aiolos yang sangat mengejutkan ini.

"Tu, tunggu Aiolos apa yang sedang kau bicarakan aku benar-benar tidak mengerti?" kata Shura bingung, bagaimana mungkin Camus yang sempurna ini adalah jelmaan Byleth.

Athena dan Pope Shion saling berpandangan, antara percaya dan tidak perkataan Aiolos, pasalnya Aiolos tak akan sembarangan bicara, Saint Sagitarius yang satu ini sangat peduli dengan yang namanya detail dan dia tidak serta merta mengemukakan pendapat tanpa bukti yang kuat.

"Kau menuduhku kalau aku adalah Byleth? Demon yang tadi disebut-sebut oleh ghost itu? Setelah kau bilang kalau aku asli di depan Athena dan Pope Shion bahkan di depan banyak orang? Mengelikan sekali Aiolos." kata Camus terlihat sangat tenang bahkan terkesan menantang.

"Aku bisa mencium bau busuk dari dirimu, meskipun yang lain tak menyadarinya, tapi aku tahu kau adalah Camus palsu" balas Aiolos.

"Apa buktinya kalau aku adalah Camus palsu?"

"Benar aiolos, kau bahkan bilang kalau dia sudah melewati tes bar-bar itu sakarang darimana kau bilang kalau dia palsu?!" ujar Shura.

"Dia tak pernah menjalani tes bar-bar itu, apa kau terlalu bodoh untuk menyadarinya Shura?! Buka matamu lebar-lebar, kau mengenal Camus lebih baik dari siapapun juga!" balas Aiolos keras, Athena seperti tersengat mendengar kalimat Aiolos, dia jadi ingat kata-kata Lecca sesaat tadi, tentang dialah yang paling mengenali saintnya itu lebih dari siapapun. Kalimat yang sama persis diucapkan oleh Aiolos.

"Aiolos, Saint Sagitarius yang bijak, kenapa kau berubah pikiran apa kau sudah termakan hasutan ghost dan yasha itu?" tanya Camus, masih tenang seperti tadi.

"Tak usah berkelit!" jawab Aiolos sengit.

"Aku tak berkelit, hanya kau tak menunjukkan buktinya dan kini kau berbohong alasan apa yang akan kau berikan untuk menjelaskan kebohonganmu, atau jangan-jangan malah kaulah demon yang menyamar itu, kau bilang kalau aku ini asli padahal kaulah yang palsu dan tak melewati tes bar-bar itu" jelas Camus, memutar balikkan fakta yang ada.

Kata-kata Camus yang masuk akal ini membuat bimbang Athena dan Pope Shion terlebih lagi Shura.

"Lidahmu benar-benar tajam Byleth" ucap Aiolos.

"Kau tak bisa menunjukkan kebenarannya bukan Aiolos?"

"Kalau Aiolos tak bisa ijinkan pedang ini menunjukkan kebenaran ini." ucap Mu yang muncul dari balik pilar pope chamber, dia mengeluarkan Pedang Hyperion dari sarungnya dan mengarahkan pedang itu ke hidung Camus.

"Checkmate, Byleth" gumam Mu, menyunggingkan senyumnya.

Camus melempar pandangannya ke Athena dan Pope Shion, lalu pandangannya beralih ke Shura, ke Aiolos dan terakhir ke Mu.

"Ah, aku tak punya pilihan lain selain mengaku." kata Camus bertolak pinggang, Shura melebarkan matanya, kosmo yang gelap datang menekannya, merangsek masuk, memenuhi ruangan aula pope chamber, Pope hion berdiri di depan Athena dan merentangkan tangannya melindungi sang dewi.

"Tapi ini bukan checkmate." kata Camus dia membuka mulutnya lebar-lebar, tubuhnya bergetar hebat dia memegang lehernya seakan ada sesuatu yang mencoba keluar melepaskan diri dari dalam dirinya.

Disaat yang bersamaan di jalan menuju pope chamber. Lecca, Kanon dan Adder berjalan tanpa bicara, Lecca terus memperhatikan Adder, wajahnya terlihat sedikit cemas, langkah Adder tak seperti biasanya, agak gontai dan seperti menahan sesuatu.

Waktu di Verge,Lecca menanyakannya pada Adder apa dia baik-baik saja, karena wajah Adder terlihat sangat pucat, Adder menjawabnya kalau dia baik-baik saja, Lecca tahu hal itu tidak benar, Adder tak pernah mau terlihat lemah di depan siapa saja termasuk Lecca, terlebih sekarang di depan Kanon. Tetapi sepertinya Kanon mengerti kalau Adder tidak baik-baik saja, itu sebabnya lelaki ini diam saja dan tak berkomentar hanya menghela nafas saja.

Lecca memanjangkan tangannya dan menyentuh luka dileher Adder, dua lubang itu sudah sedikit mengering dan tidak mengeluarkan darah, tapi dilihat dari banyaknya bercak darah yang terpeta di baju Adder, pasti adder kehilangan cukup banyak darah. Sentuhan tangan Lecca membuat Adder menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Lecca yang wajahnya sekarang terlihat sangat cemas.

"Aku tak apa-apa, kau tak usah khawatir." ucap Adder menenangkan Lecca, tapi wajah Lecca malah berubah sedih, Adder mengulas senyum di bibirnya. "Maaf kalau aku membuatmu cemas dan sedih." katanya sambil menyentuh wajah Lecca, "tapi sekali lagi aku baik-baik saja, tak usah cemas." Adder membalikkan badannya tapi terhuyung dan kakinya terantuk anak tangga membuatnya limbung, dengan sigap Kanon menangkap pinggang Adder.

"Kau ini! Lihat wajahmu sudah pucat seperti kapas, kau mau bilang tidak apa-apa, bagiku kau terlihat setengah mati tahu!" cerocos Kanon tanpa basa-basi.

"Itukan menurutmu!" kilah Adder melepaskan diri dari Kanon, "lihat aku belum terlihat setengah mati seperti yang kau bilang, seenaknya kau bicara!" marah Adder.

"Aku kan hanya bilang yang sebenarnya." balas Kanon

"Sebenarnya apa?!" kata Adder tak mau kalah

Perdebatan Kanon dan Adder terhenti dengan suara tawa dari Lecca, mereka berdua menoleh kearah Lecca. "Aku jadi ingat Milo dan Aiolia kalau sedang bertengkar mereka selalu berdebat walaupun itu hanya masalah sepele, mirip sekali dengan kalian sekarang ini" kata Lecca masih tertawa.

Melihat senyuman Lecca, Kanon dan Adder tersenyum, tidak ada obat paling mujarab bagi Adder tentunya bagi Kanon juga selain melihat senyum dari orang yang paling mereka sayangi dan paling ingin lindungi. Semua rasa sakit dan lelah akibat pertempuran dengan Viper yang dirasakan Adder hilang entah kemana.

Tetapi tiba-tiba senyum Lecca lenyap, tangannya mencengkeram kerah bajunya erat sekali, dan wajahnya berubah tegang.

"Lecca ada apa?" tanya Kanon.

"Cepat…cepat..dia muncul…dia akan menunjukkan wajah aslinya." kata Lecca dengan suara gemetar. Wajah Kanon dan Adder juga menegang, mereka merasakan kosmo hitam dan mendongakkan wajah mereka ke pope chamber yang tak jauh lagi di depan, pope chamber lebih gelap dari sebelumnya.

Kembali ke pope chamber. Camus masih memegangi lehernya, asap biru pekat bergulung-gulung keluar dari mulut Camus begitu asap itu keluar semua tubuh Camus jatuh tergeletak tak begerak, dan gold clothnya berubah menjadi warna karat dengan kecepatan yang mengerikan, Shura dan Pope Shion ternganga, Athena membekapkan mulutnya menyaksikan pemandangan mengerikan itu, asap biru gelap itu bergulung di langit-langit aula pope chamber dan turun membentuk suatu sosok manusia lalu berubah menjadi sosok laki-laki jangkung bermata merah semerah darah.

"Salam semuanya aku adalah Byleth, the demon of the wind, dan ijinkan aku membunuhmu dewi Athena" katanya dingin