GOMEN! saya bener-bener minta maaf karena baru apdet sekarang... kemaren si leno-kun nge-hang terus. Maaf juga nggak bisa bales review pada chapter kemaren.
Ucapan terima kasih: makasih kepada semua orang yang telah membaca dan me-review fic ini. Juga kepada kalian yang telah mendukung dan memperbaiki juga meralat typo-typo berikut kesalahan yang ada di fic ini. Thank you... Thank you... Thank you.
Disclaimer: Bleach punya Kubo Tite.
This chapter update special for YOU!
Epilog
Sore. Langit belum berwarna jingga, masih biru, namun berawan. Dan matahari pun mulai mengurangi cahayanya. Angin bertiup cukup kencang, meniup ilalang setinggi lutut di belakang Rukia. Angin juga memainkan rambut Rukia, menggoda rumput-rumput di sekeliling Rukia dan menari bersama bunga-bunga riang. Dan angin juga mengganggu rambutnya. Angin mengganggunya.
Rukia meliriknya, lalu tersenyum geli.
Alisnya saling bertautan, tangannya menahan rambutnya sendiri agar tak menggelitik lehernya. Matanya yang tertutup kini terbuka, memperlihatkan bola mata emerald yang terlihat kesal.
"Uff… anginnya kenceng banget sih," keluhnya.
"Oh ya? Biasa aja tuh. Justru enak kan?" ujar Rukia senang.
"Mmmh…," gumamnya tak jelas. Ia membalikkan tubuhnya. Punggungnya yang dilapisi kemeja putih itu kotor, ada bekas rumput dimana-mana.
"Kotor tuh," ucap Rukia menepuk-nepuk punggungnya pelan, menghilangkan rumput di punggungnya.
"Uhh…," balasnya masih belum jelas. Tiba-tiba ia berbalik, membuat Rukia—yang membungkuk untuk membersihkan punggungnya—terkejut. Secara otomatis, Rukia menarik tubuhnya kembali, tapi tangannya menarik tubuh Rukia mendekat. Tangannya. Tangan Shiro-niinya. Tangan Hitsugaya.
"Shi-Shiro-nii…."
Lalu mata yang tadinya terpejam itu terbuka, memancarkan cahaya emeraldnya, menatap Rukia tajam. Serasa dihipnotis, Rukia hanya bisa membeku, mengagumi sang empunya mata yang baru akhir-akhir ini Rukia sadari—ternyata sangat… sangat… apa ya, namanya? Sempurna, mungkin? Oh tunggu, ia tak sesempurna itu, karena tingginya tapi sisanya, ia sangat hebat. Sangat keren. Sangat… ganteng? Tampan? Yeah, sejenisnyalah.
Saat wajah mereka berdekatan… tinggal sesenti lagi, Hitsugaya menggeleng pelan.
"Tidak… seharusnya aku tak melakukan ini," ucapnya, mendorong pelan tubuh Rukia.
Alis Rukia bertautan. "Kenapa?"
Mata Hitsugaya membulat. Ia bangkit, duduk di samping Rukia, menoleh sepenuhnya pada gadis itu. "Kenapa? Oh, kau… mengharapkannya?" senyum muncul di wajah Hitsugaya. Oh tidak…, Rukia paling tak suka—sekaligus paling menyukai—senyum itu. Senyum dimana Hitsugaya selalu menggodanya, selalu membuat wajahnya memerah.
Rukia membuang muka kesal. "Ti-tidak. Hanya heran saja."
"Oh."
Kini Rukia yang terkejut. Tumben Hitsugaya tak menambah-nambah godaannya. Baru Rukia ingin menoleh, kepala Hitsugaya sudah bersender di kepalanya, beserta punggung dan tubuhnya—yang berhadapan dengan Rukia—saling bersender pada punggung dan tubuh Rukia.
"Aaah… berat, Shiro-nii!" keluh Rukia keberatan.
"Hmp," hanya itu balasan dari kakak sepupunya. Rukia hanya bisa merengut kesal sambil membayangkan Hitsugaya sedang tersenyum mengejek sambil memejamkan mata—oh, jangan mulai lagi!
Rukia menatap padang rumput di depannya. Ia dan Hitsugayalah penemu padang rumput indah ini. Di belakang Rukia—tepatnya di depan Hitsugaya—ada padang ilalang setinggi lutut, lalu di depan Rukia ada pepohonan rindang. Di sekeliling Rukia, rumput hijau bertebaran, berhias bunga-bunga liar—namun cantik. Enak sekali untuk 'madol' alias bolos dari pekerjaan mereka yang menumpuk.
Hmp, terdengar seperti anak kecil.
Ya, mereka selalu berharap bisa kembali menjadi anak kecil. Jadi apa yang mereka lakukan sekarang, apa hubungan mereka sekarang, bukanlah suatu kesalahan dan bisa dimaklumi.
"Rukia…," panggil Hitsugaya.
"…ya?"
"Aku telah menyatakannya padamu. Setelahnya, aku bertanya 'apa perasaanmu padaku?' dan kau tak menjawabnya. Aku menunggu—menunggu sampai hampir gila—selama 2 bulan ini. Dan kalau kau menginginkanku menjadi gila, jangan jawab apapun."
Rukia tertawa kecil. "Sinis sekali…. Sampai gila? Shiro-nii lebay."
Hitsugaya berbalik mendadak, membuat Rukia—yang lagi asik-asik bersender pada punggungnya—jatuh kehilangan senderan. Dengan segera, Hitsugaya menahannya, menatap Rukia tajam.
"Kau lihat? Kau tak berdaya tanpaku. Kau tak berdaya saat sandaranmu pergi. Kau tak berdaya saat aku pergi. Bahkan kau tak berdaya saat aku berbalik," kata-kata Hitsugaya seolah menusuk hati Rukia tajam. "Dan soal aku menjadi gila—ya, aku hampir gila. Aku memikirkanmu tiap malam, membayangkan apa jadinya kalau kau bilang 'ya' dan apa yang terjadi kalau kau bilang 'tidak'? Aku sangat tersiksa, kau tahu? Aku… aku… ketagihan… kau… kau adalah heroin bagiku—sekaligus obat penenangnya.
"Dan aku mengomsumsi 'narkoba' itu sejak SMA," lanjut Hitsugaya masih menatap Rukia. "Aku sendiri yang menjemputnya, melindunginya seolah-olah itu adikku sendiri, bahkan rela mati untuknya. Kurelakan perasaanku, hatiku, untuk melihatnya bahagia bersama orang yang ia cintai. Sampai-sampai aku pikir, aku ini sister complex, tapi bukan itu… aku… mencintaimu Rukia. Aku melakukan itu semua, karena aku mencintaimu."
Rukia menatap Hitsugaya lurus-lurus, agak takut karena Hitsugaya berbicara penuh emosi dan tak sabaran. Melihat Rukia yang bergidik ketakuan, Hitsugaya segera menenangkan dirinya sendiri.
"Ah…, maaf. Aku terlalu emosi," katanya sambil mengusap dahinya.
"Shiro-nii…."
"Ya?"
"Kalau kubilang 'tidak'… apa reaksimu?" tanya Rukia sambil menunduk dalam-dalam. Ia sudah bangun dari pangkuan Hitsugaya, kini ia menekuk lututnya dan memeluk dirinya sendiri.
Hitsugaya tertegun sebentar, lalu menjawab penuh keyakinan. "Aku… aku akan terus mencintaimu—mungkin. Cinta tak harus saling memiliki, kan? Tapi yang pasti, aku akan mundur, jika ada seseorang yang kau cintai dan aku akan terus mendukungmu sebagai seorang kakak. Lagipula kalau bilang 'ya' artinya kau mencintaiku dan… itu terlarang, kan? Antar sepupu tak boleh saling mencintai, bukan?"
"Ka-kalau kubilang 'iya'… apa reaksimu?"
"Hmm… mungkin kalo secara otomatis… aku akan menciummu. Tapi untuk kedepan… aku tak tahu. Mungkin kita takkan saling memiliki satu sama lain, tapi aku akan terus menjaga perasaan itu padamu."
Diam sejenak. Mereka hanyut dalam perasaan masing-masing.
"Ah, sudahlah! Ayo pulang, hari sudah sore dan sepertinya sedikit lagi hujan akan turun," ucap Hitsugaya sambil berdiri, lalu membersihkan sisa-sisa rumput kering di bajunya sambil berjalan.
"Shi-Shiro-nii!" panggil Rukia. Ia segera bangkit, dan berlari menghampiri Hitsugaya yang sudah berjalan lumayan jauh di depannya. Ia tak memperdulikan bajunya yang sekarang bermotif rumput liar kering.
Tepat saat Hitsugaya mengadahkan tangan kanannya—untuk memeriksa, hujan atau tidak—Rukia memeluknya dari belakang.
Tunggu… memeluknya? Memeluknya?
Ya, memeluknya! Mimpi apa ia semalam (halah, lebay ya?). Hitsugaya sangat terkejut begitu tangan Rukia melingkari tubuhnya, dan jari-jari Rukia saling bertautan, seolah tak ingin Hitsugaya lepas darinya. Hitsugaya pun secara tak sadar menautakan jari-jari di atas jari-jari Rukia, melepas pelukan Rukia, lalu ia berbalik dan memeluk Rukia lagi. Erat.
"Aishiteru, Rukia," bisik Hitsugaya hampir tak terdenngar, tepat di telinga Rukia, membuat Rukia terkikik geli karena napas Hitsugaya menggelitik lehernya.
Hangat. Pelukan itu sangat hangat, meskipun hujan turun. Ya, hujan turun, namun tak mendung. Malah matahari masih bersinar—walaupun tak seterang tadi.
Sekarang, Rukia dan Hitsugaya tak peduli pada hujan aneh itu. Mereka lebih peduli pada perasaan masing-masing, dan memikirkan apa yang dipikirkan pasangan masing-masing. Baik Rukia dan Hitsugaya menikmati pelukan itu, sampai akhirnya Rukia mendorong dada bidang Hitsugaya pelan. Wajahnya beralih, dari Hitsugaya ke padang rumput. Hitsugaya mengerutkan alisnya, bingung.
"Shiro-nii…."
"Sampai kapan kau akan berhenti memanggilku seperti itu? Aku bukan kakakmu lagi, Rukia…. Tatap aku sebagai seorang lelaki," mohon Hitsugaya jengkel.
"S-Shi-Shiro…!" ucap Rukia agak gugup, membuat ujung nadanya agak naik, seperti memerintah.
"E-eh?" Hitsugaya terkejut dengan nada bicara Rukia. Ia masih menatap Rukia bingung. Mendadak, Rukia memeluknya lagi. Erat. Hangat. Seperti tadi. Kini tangan Rukia menggelayut di lehernya, kaki Rukia berjinjit agar ia bisa membisiki Hitsugaya sesuatu.
"A-aku mencintaimu…Shiro," balas Rukia. Dan Hitsugaya tertawa. Tertawa keras, begitu bahagia. Tawa yang jarang ia keluarkan, kecuali bersama Rukia. Dan perasaannya pun terbalaskan. Ia mencium pipi Rukia, membuat gadis itu memerah lagi.
"Ta-tapi kita kan…."
"Tak apa, tenanglah, ada aku disini," ucap Hitsugaya santai.
"Tapii… tapi Outo-san kan…."
"Sudahlah," potong Hitsugaya. Ia melepaskan pelukannya, menatap Rukia lekat-lekat, memandangi gadis itu sepuas-puasnya. "Kan sudah kubilang, cinta itu tak harus saling memiliki, tapi kalau rahasia… tak apa kan?"
"Ra-rahasi—a?" omongan Rukia terpotong. Bukan, Hitsugaya tak memotongnya dengan bantahan atau sangkalan, tapi lelaki Genryuusai itu memotongnya dengan ciuman. Tepat di bibir. Mengulang 'kesalahan' yang sama di kamar VVIP rumah sakit, 2 bulan yang lalu.
Dan kali ini, Rukia sama sekali tak memasrahkan dirinya. Ia justru membalas ciuman Hitsugaya. Melingkarkan tangannya ke leher Hitsugaya, sama dengan tangan kiri Hitsugaya yang melingkar di pinggangnya, sementara tangan kanannya menarik dagu Rukia makin dekat. Makin dalam. Dalam, memasuki hati mereka masing-masing. Menyelam, meresapi makna cinta, dan kasih sayang, masing-masing.
"Hujannya aneh, ya?" Ia menunjuk langit yang menurunkan hujan.
"Hmp. Jadi keinget Indonesia… katanya kalau hujan seperti ini, namanya hujan orang mati."
"Hahaha… kenapa bisa begitu?"
"Entahlah…pokoknya kalau ada hujan seperti ini, ada orang yang meninggal."
"Bukankah hampir tiap menit—atau mungkin detik—tiap orang meninggal?"
"Aku tak tahu…. Hmp…, kau masih benci hujan?"
"Tidak. Kini aku justru mencintainya. Karena selama ini, hujan selalu mendukungku, menghiburku, dan menggodaku saat aku bad-mood atau menangis," ia melirik lelaki di sebelahnya yang tersenyum, mengerti maksudnya. Ia melanjutkan, "Mungkin…mungkin sekarang, hujan mendukung perasaanku yang—," setetes air mata jatuh, meluncur dari mata ke pipinya. "Bahagia…amat bahagia…."
Lelaki itu menghapus air mata di pipinya. "Ya. Mungkin, hujan mewakili perasaanmu—perasaan kita. Mungkin…hujan menangis bahagia…untuk menghiburmu—menghibur kita."
Dan mereka tersenyum sambil mengadah ke atas. Tersenyum pada hujan, penuh rasa terima kasih. Dengan jari-jari saling bertautan. Dengan lengan saling merangkul. Mencicipi rasa cinta.
Cinta terlarang… rahasia… cuma kami yang tahu.
Yahhh... selesai sudah fic ini! T^T aku sangat terharu...89 halaman telah kuhabiskan di MS. Word! Wow! tanggung bener! *pletak!* Udah deh, ini dia balesan review:
Jess Kuchiki: hehe...tak direstui karena sepupuan, tapi kalo ga sepupuan direstui kali yaa *ngelirik Byakuya*. Emang! A/N emang kebanyakan chap kemaren.. kan kemaren tamat, jadi sekali-kali A/N kepanjangan gpp dong :p. Makasih atas review dan dukungannya!
Yumemiru Reirin: sip! apdet kilat, Bos! Ada sih, buat Vivaration Festival... Makasih atas review dan dukungannya!
ruki4062jo: masih penasaran nggak? Siap, Kapten! apdet kilat! Makasih atas review dan dukungannya!
'Ruki-chan' pipy: Siap, Bos! Apdet pake kiriman kilat! Makasih atas review dan dukungannya!
So-Chand 'Luph Plend': gitu deh... *sound efx: Aku Mau Tapi Malunya Gita feat Duo Maia* Makasih atas review dan dukungannya!
hiru-chan: aihh... makasih! saya jadi malu... ehehe /// Makasih atas review dan dukungannya!
Jika Mukherjee: makasih... ehehe.... Iya deh, kapan-kapan. Sementara baca aja dulu ficku sebelum-sebelumnya ttng Rukia *ngarep* makasih atas review dan dukungannya!
Larrend - Shaolinfon Hiyori 98: uh, tak apa deh! makasih review dan dukungannya!
Rizy Auxe09: hahaha... bener kan? Gantung ending. Ini dia epilognya! semoga mengubah gantung ending jadi happy ending. hoh? pasti mitiologi Yunani lagi ya? saya tak mudeeng~ *dijitak* makasih atas review dan dukungannya!
Azalea Yukiko: he? aih, maaf! makasih atas review, ralat, dan dukungannya!
d-She ryuusei Hakuryuu: siap, Kapten! apdet kilaat~~! makasih atas review dan dukungannya!
Makasih semua... hiks... saya terharu... akhirnya fic ini tamat juga. Oke, review!
