Captain Tsubasa Fanfiction

Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.

Fourteen-Teller presents….

-The Story of A Broken Heart-

Chapter 21: A Wounded Prince


Jun melenggang ke dalam rumah. Ia tak pernah heran bahwa ketika pulang, ia hanya disambut oleh pelayan. Petang hari, dan rumah megah itu sudah sangat sepi. Kadang-kadang itu bahkan lebih baik baginya ketimbang harus mendengar ceracauan ibunya.

"Tuan muda, ada kiriman untuk Anda."

Ia menoleh pada pelayan lain yang berjalan terburu-buru ke arahnya, yang membawa sebuah kotak terbungkus kertas. Diambilnya benda itu, dan ia tak menemukan seseorang membubuhkan nama disana.

"Dari siapa?"

Ia sudah sering mendapatkan kado dikirim ke rumah dari penggemarnya. Tapi, hari ini bahkan bukan valentine atau ulang tahunnya. Ia juga tak ingat pernah memesan barang secara online. Ia terus mengamati benda di tangannya sebelum melihat pelayan itu menunduk.

"Yayoi-san menitipkannya untuk Anda."

Entah sudah berapa lama nama itu tak disebut di rumahnya. Dan jawaban yang ia terima membuatnya bergegas menuju kamarnya di lantai dua. Bibirnya menorehkan senyuman.

Yayoi harus menanggalkan apronnya ketika berhadapan dengan seorang pengunjung yang ia anggap istimewa. Gadis itu duduk di sebuah kursi. Tiba-tiba ia menjadi tamu di tempat kerjanya sendiri.

Ia memang memesan kopi, untuknya, juga orang di depannya. Namun, kopi-kopi itu hanya berada disana untuk ia pandangi, sebab ia tak bisa menaikkan matanya lebih tinggi lagi. Tangannya mengatup di pangkuan, sementara mulutnya terkunci, tak menemukan kata yang adekuat.

"Selama ini aku berusaha percaya padamu. Kau kuanggap berbeda dari gadis-gadis lain karena perlakuanmu terhadap anakku. Tapi, rupanya aku salah. Aku mulai mengerti jika tidak ada gadis yang benar-benar menyayangi puteraku."

Mereka memilih bangku paling pojok, agak menjauh dari pelanggan lain. Karena walau suara percakapan mereka tak kencang, cukup jelas dengan mata bahwa seseorang tengah memarahi orang yang lain.

Yayoi harus terus menunduk. Meski ia ingin membuka mulut, ia tak berdaya ketika lawan bicaranya, wanita di usianya yang belum genap empat puluh tahun itu melanjutkan kalimatnya.

"Inikah balasanmu pada orang yang tidak melihat siapapun kecuali dirimu? Orang yang kau beri harapan dan kesempatan untuk merasakan masa muda yang normal. Orang yang pernah merasa bahwa dirinya paling bahagia di dunia. Tapi, pada akhirnya kau menghancurkan semuanya."

Yayoi tahu benar bagaimana ia di mata Jun, putera tunggal wanita itu. Sebenarnya ia juga pernah merasa menjadi gadis paling beruntung. Namun, ketika semuanya telah berubah, seharusnya ia tak punya alasan untuk menyesal. Kini, ia harus menerima kembali ucapan yang tak bisa ia sangkal.

"Aku mengijinkanmu bersama puteraku karena itu keinginannya, karena aku percaya bahwa gadis pilihannya adalah gadis yang baik. Kalau tahu akan begini, seharusnya aku membuat dinding di antara kalian."

Gadis itu bereaksi melalui matanya, yang kini melebar. Mungkin ia pikir, bagi wanita di depannya, pertemuannya dengan Jun adalah sebuah kesalahan.

"Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya? Jun-ku yang harga dirinya begitu tinggi kau hancurkan begitu saja. Aku tidak mengerti. Apa selama ini kau tidak bahagia? Apa kau sudah tidak sanggup bersama orang yang sakit-sakitan? Ataukah ada orang lain?"

Yayoi sanggup bertahan terhadap amarah selama itu memang kesalahannya. Namun, ia tak harus selamanya pasrah. Ia tahu, setidaknya ia harus membuat pembelaan. Ia mengangkat kepala, menunjukkan matanya yang berkaca.

"Maaf jika keputusan saya menimbulkan kekacauan. Tapi, saya hanya ingin Anda tidak salah paham tentang orang ketiga. Sungguh, yang seperti itu tidak pernah terjadi. Saya hanya…. Hanya ingin beristirahat, mengambil napas dalam-dalam."

Ia berusaha keras untuk tidak menambah buruk situasi dengan menahan air mata. Karena sungguh, bahkan sampai kini ia masih belum percaya telah begitu tega pada orang yang sangat ia sayangi. Ia hanya tak tahu solusi lain untuk membuatnya terbebas dari rasa tidak bahagia.

"Tak kusangka kau begini lemah."

Ia lagi-lagi harus membenarkan ucapan nyonya Misugi. Dan itu membuatnya kini semakin tertunduk. Sampai wanita di depannya mulai berdiri, mungkin tak tahan dengannya, ia tetap seperti itu.

"Jangan kau anggap puteraku sebagai beban, Yayoi-san!"

Ia pun mendapati luka di hatinya semakin menganga.

Jun mengaduk-aduk supnya yang mendingin. Sebenarnya ia tak punya komplain pada menu makan malam yang dibuat agak spesial untuknya. Baginya kini, makan adalah perkara yang menyusahkan, terlebih ketika mata ibunya selalu mengawasinya.

"Jun, berapa kali mama bilang, makan dengan benar!"

Ia tahu akan kena marah lagi. Tentu saja, karena ia tak berhasil menyembunyikan raut wajah kusutnya, wajah putih yang kehilangan energi.

"Dengar, Jun! Mama tidak mau melihatmu seperti ini lagi. Kau bisa sakit!"

Ia harus setuju dengan ucapan sang ibu. Namun, itu tak mengubah perasaannya. Ia semakin menjauhkan hidangan di depannya.

"Kau masih memikirkannya? Ini sudah sebulan lebih sejak gadis itu meninggalkanmu. Tak bisa lupa? Ah, ayolah. Mana Jun Misugi yang begitu hebat? Hanya karena gadis itu kau biarkan harga dirimu turun seperti ini? Kau pasti bercanda!"

Sejak kecil, ia dididik untuk selalu menjaga kebanggaan terhadap dirinya. Bahwa hanya karena ia punya kekurangan, bukan berarti ia boleh dianggap lemah. Ia belajar untuk menegapkan badan, maka ia tak akan dipandang rendah orang lain. Tapi, pelajaran itu sudah lama tak berguna baginya.

Sesaat setelah memasuki kamar, Jun buru-buru membuka kotak yang ia yakini berisi barang yang akan membuatnya gembira. Namun, begitu tahu isinya, jangankan gembira, senyum pun tak berhasil ia buat. Kekecewaan, bahkan penghinaan, adalah hal yang cukup untuk menghancurkan suasana hatinya petang itu.

Di dalam kotak aluminium yang ia yakini sebagai tempat menyimpan aksesoris perempuan, terdapat bermacam-macam benda. Ia mengenali hampir semuanya, gelang, cincin, jepit rambut, syal, bahkan jam tangan yang adalah pemberiannya.

Melihatnya, Jun baru benar-benar tahu berapa banyak barang yang pernah ia hadiahkan untuk gadis kesayangannya. Dan ia sama sekali tak berharap itu dikembalikan. Karena bukan hanya tak berguna untuknya, itu seperti mengkonfirmasi bahwa semua hal yang berkaitan dengan dirinya harus dilupakan.

Ia berdiri, meninggalkan makanan yang baru ia santap sedikit. Ia harus berpura-pura tuli ketika ibunya mulai mengomel lagi. Bahkan ayahnya yang biasanya tenang, kali ini harus ikut mengingatkannya. Juga Makoto yang selama ini acuh, melihatnya khawatir.

"Ah. Aku baru ingat."

Jun yang sudah berjalan sedikit, tiba-tiba menoleh ke arah orangtuanya. Itu adalah kata-katanya yang pertama sejak di meja makan. Meski air mukanya masih begitu suram, itu lebih baik ketimbang diam saja.

"Kalian tahu soal komunitas rhesus negatif tapi tidak pernah memberitahuku?"

Sebenarnya ia bisa bertanya dengan cara yang jauh lebih baik. Bahkan bagi seseorang yang dididik etika dan tata krama sepertinya, ketika suasana hati yang kacau mendominasi, ia bisa menjadi sangat dingin dan ketus.

"Seseorang bernama Atsushi Yamamoto berbaik hati padaku. Kalian mengenalnya?"

Ia tahu ia bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menerima keputusan orangtuanya. Ia merasa berhak mengetahui metode apa saja yang mereka tempuh selama itu untuk keselamatannya.

Ia mendapati ibunya berdiri dari kursi, memandangnya dengan mata melebar.

"Dari mana kau tahu soal itu?"

Suara wanita anggun itu bergetar. Itu bukan kemarahan, melainkan ucapan yang menyiratkan kecemasan.

Jun mengalihkan pandangan ke ayahnya. Ia menemukan sorot mata yang tak jauh beda. Ia menoleh ke arah Makoto, namun pemuda itu memalingkan muka.

"Itu tidak penting."

Cukup jelas baginya jika ada beberapa hal yang ia tak perlu terlibat. Bahkan ketika itu berkaitan dengan dirinya, orangtuanya bisa melakukan hal di luar sepengetahuannya. Baginya, tak ada yang buruk dari mengetahui orang-orang yang menolongnya. Ia bahkan bisa melakukan hal lebih untuk balas budi, kalau saja ia tahu lebih cepat.

Tak mau berdiri disana lebih lama, ia berlalu menuju kamarnya. Ia akan kesulitan memperbaiki suasana hatinya kalau saja tugas-tugas tak meminta untuk dikerjakan. Menyibukkan diri menjadi siswa teladan, dalam beberapa hal cukup membantunya.

Ia mungkin memang teladan, sehingga esoknya, ketika teman-temannya beristirahat untuk makan siang, ia justru menghabiskan waktu di depan komputer laboratorium teknologi informatika sekolahnya.

Sebuah kartu nama di tangan, ia gunakan sebagai petunjuk untuk mengisi kolom pencarian di search engine. Ia menemukan beberapa artikel juga satu website pribadi, sumber informasi yang ia cari.

Ia mulai berseluncur di website dengan desain tema dominan warna merah itu. Matanya bersinar, takjub melihat orang-orang yang dianugerahi darah langka sepertinya bisa melakukan hal mulia untuk orang lain. Ia melihat begitu banyak kegiatan kemanusiaan yang telah lewat, juga agenda yang belum berlangsung. Di galeri, ia melihat foto kegembiraan orang-orang itu. Entah kenapa itu membuat hatinya hangat.

Ia menemukan foto pria yang pernah ditemuinya, yang kebetulan memiliki nama mirip dengannya. Pria itu ada di hampir semua foto. Kemudian, ia mengarahkan kursor di tab "history". Ia ingin mengenal komunitas itu lebih jauh.

Kini, setelah membacanya, ia semakin mengagumi sosok bernama Atsushi itu. Bagaimana di usia muda, pria itu sudah berpikir untuk menyelamatkan nyawa orang lain dengan merintis sebuah komunitas. Betapa ia kagum ketika teknologi informatika dulu belum canggih, orang itu sudah berhasil membangun jejaring komunikasi saling menguntungkan dengan orang-orang dari seluruh Jepang.

Ia beralih ke tab "member". Baru saja ia terpikir untuk bergabung. Namun, tampaknya ia ingin mengenal anggota lain lebih dulu. Ia ingat ibunya juga pemilik rhesus negatif. Ia berpikir, jika ibunya mengetahui keberadaan komunitas itu, maka nama Kaori Misugi akan ada disana. Namun, ketika scroll sudah sampai di ujung bawah, ia tak menemukan nama itu.

Kembali penasaran dengan penolongnya beberapa waktu lalu, kali ini ia mengetik nama orang itu di mesin pencari. Rupanya, pria baik hati itu cukup terkenal hingga namanya muncul di sejumlah artikel. Dan Jun, seolah tak ingin melewatkan sedikit pun informasi tentangnya, membaca tulisan itu satu per satu. Hingga ia sampai pada sebuah artikel yang dibuat oleh redaksi SMA terkenal di Musashino, ekspresinya berubah.

Ia melihat sebuah foto hitam putih menampilkan dua orang, lelaki dan perempuan berseragam SMA. Dari artikelnya, Jun tahu bahwa mereka adalah siswa SMA itu puluhan tahun yang lalu. Tentu saja mereka bukan siswa biasa hingga harus dimuat ke dalam berita. Dari pemikiran mereka lah, komunitas rhesus negatif Jepang berdiri hingga saat ini.

Jun akan berpikir bahwa website resmi komunitas itu tak menyajikan informasi lengkap dengan menghilangkan nama satu founder, kalau saja ia tak mencermati artikel, juga foto itu baik-baik. Ia menemukan nama Kaori Mishima, yang tak lain adalah gadis di dalam foto. Gadis berambut cokelat itu begitu cantik, tersenyum malu di samping pemuda bertubuh jenjang. Mereka dikabarkan sebagai pasangan.

Jun bergegas menelusuri daftar nama anggota komunitas itu sekali lagi. Matanya terbelalak. Tentu saja ia tak menemukan nama ibunya, karena logikanya, wanita itu bergabung jauh sebelum menikah.

Ia menemukan Kaori Mishima, nama gadis ibunya.

Ia pandangi foto itu berkali-kali. Ia tak bisa menyangkal penglihatannya sebab kecantikan ibunya waktu muda pernah ia saksikan di banyak foto di rumahnya. Yang ingin ia sangkal justru keberadaan pemuda yang tersenyum riang di samping si gadis. Meski ia harus berulang-ulang mengucek mata atau mendekatkan mukanya ke layar, ia hanya akan menemukan fotokopi dirinya disana.

"Kau mirip sekali dengan tante. Tapi, kau sama sekali tidak mirip paman."

Tiba-tiba, ucapan Yayoi yang dulu memenuhi kepalanya. Tidak, sebenarnya bukan cuma Yayoi. Beberapa orang yang dikenalnya pernah mengatakan hal yang sama. Ia memang mewarisi sifat dan kepribadian ayahnya, namun bukan kemiripan fisik.

Sempat terpaku untuk beberapa saat, Jun segera terpikir untuk mencetak artikel itu. Di kepalanya, ada banyak pertanyaan. Ia tahu dari siapa ia akan mendapat jawaban. Dan yang ia harapkan, orang itu nanti akan mementahkan kecurigaannya.

Sekolah baru akan selesai beberapa jam lagi, namun Jun sudah tak sabar. Memanfaatkan penyakitnya sebagai alasan, ia berhasil meninggalkan kelas tanpa kesulitan. Begitu sampai di depan gerbang, ia berlari menuju sebuah rumah sederhana, tempat dimana ia pernah ditolong dari pingsan.

Ia berhasil mencapai pagar rumah itu dengan terengah-engah. Saat itulah ia mendengar seruan-seruan dari dalam.

"Aku tidak akan membiarkanmu bertindak lebih jauh. Berikan kartu itu padaku!"

"Kenapa kau tidak senang jika suamimu bisa menyelamatkan nyawa orang lain bahkan setelah meninggal?"

"Kenapa aku harus senang jika kau akan berkorban apa saja, termasuk nyawamu demi anak itu? Sementara, kau punya keluarga yang membutuhkanmu. Kuminta kau batalkan keputusanmu! Keluarganya cukup kaya untuk mencari pendonor lain dari seluruh Jepang. Sekalipun berbeda rhesus, bukankah itu tidak masalah?"

Ia melihat pintu depan dibuka. Seorang pria berseragam paramedis keluar, dengan lengan yang ditarik-tarik oleh istrinya.

"Tidakkah kau sadar jika akulah donor yang mereka cari? Tidak ada yang lebih cocok dengannya kecuali jantungku!"

Kertas yang ia genggam sejak tadi, terlepas. Matanya melebar, kini melihat dua orang yang mulai menyadari keberadaannya. Ia masih mematung, sementara pria berseragam putih itu menghampirinya dengan raut wajah cemas.

Ketika gerbang kecil itu dibuka, Jun yang masih tak menoleh kemana pun, mendapati pria pemilik rumah memungut kertas yang ia jatuhkan. Kini, ekspresi syok yang ia perlihatkan, juga dimiliki oleh pria itu.

"Kau tahu, di dunia ini ada banyak kebetulan. Aku tidak mengerti apa yang membawamu kesini, tapi jika kau mengkhawatirkan foto ini, dimana ternyata kita sangat mirip, itu adalah hal yang tidak perlu kau lakukan. Kau pasti pernah mendengar jika manusia memiliki sejumlah 'kembaran' di dunia."

Pria pemilik rumah adalah orang yang lebih dulu berhasil mengendalikan situasi. Ia membawa Jun bicara di ruang tamu, berharap jika anak itu akan percaya setiap kata yang ia lontarkan, meskipun ia akan terlambat bekerja.

Jun belum menyentuh segelas air putih yang disuguhkan untuknya. Terlalu banyak hal yang ia dapatkan, dan itu mengganggu pikirannya. Mungkin saking kalutnya, ia menjadi kesulitan merumuskan pertanyaan.

"Kaori Mishima adalah ibuku."

Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk bergerak maju. Perasaan yang mengganggunya, harus ia perjelas. Meski dengan begitu, ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.

"Anda bicara tentang kebetulan yang banyak. Tapi, ibuku, juga percakapan yang tidak sengaja kudengar tadi, itu adalah fakta, yang jika dihubungkan dengan kebetulan-kebetulan yang Anda sebutkan, akan menjadi skenario yang masuk akal."

Berduel analisis dengan orang secerdas Jun bukanlah perkara yang mudah. Anak itu sudah mengantongi cukup banyak bukti. Dan yang ia inginkan saat ini adalah pengakuan.

"Siapa Anda sebenarnya?"

Barangkali, dalam diamnya yang lama, ia bersiap diri. Begitu hebatnya ia, ketika beberapa saat yang lalu tampak syok, namun kini menjadi orang yang mengendalikan pembicaraan. Dengan matanya yang mulai memerah, ia pandangi pria di depannya yang kini tertangkap basah.

"Beberapa bulan yang lalu, ibumu datang padaku sambil menangis. Dia bilang penyakitmu bertambah parah hingga kau berada di daftar tunggu transplantasi jantung. Dia memang tidak bicara secara langsung, tapi aku mengerti maksudnya. Dia tahu bahwa akulah orang yang paling memungkinkan untuk ia mintai tolong menyelamatkanmu."

Ia telah berhasil membuat lawan bicaranya mulai bersikap terbuka. Namun konsekuensinya, kecemasan yang ia rasakan jutsru semakin bertambah.

"Untuk apa dia harus bersusah-susah mencari orang lain, jika disini, orang yang dia kenal memiliki jantung dengan kecocokan nyaris sempurna dengan puteranya? Ah, kadang, aku berpikir dia seperti menginginkan kematianku. Haha."

Tawa itu, untuk sebuah candaan, bagi Jun terdengar sangat mengerikan. Bola mata cokelatnya semakin melebar.

"Aku memeriksanya, kau tahu? Dokter setuju bahwa akulah kandidat yang tepat untukmu. Menurutmu, kenapa bisa begitu? Kau sudah memiliki petunjuk itu. Benar, kan?"

Jun sendiri menginginkan kecemasannya dikonfirmasi. Namun, nyatanya ia tak benar-benar siap. Ia melihat pantulan dirinya pada bola mata pria di depannya. Itu bukan ekspresi yang ia suka.

"Tidak…. Tidak benar…. Itu tidak mungkin…."

Ia menggeleng. Suaranya lemah dan parau. Ketakutannya menjadi semakin nyata hingga ia terlihat sangat kacau.

"Tidak mungkin terjadi…. Ibu dan ayahku saling mencintai…. Tidak…. Anda salah…."

Ia menemukan suaranya bergetar. Dan kegelisahannya yang sangat kentara itu memaksa si pria dewasa untuk membuatnya berhenti melakukan penolakan atas hal yang ia sudah tahu kebenarannya.

"Aku memang telah melakukan kesalahan besar hingga Tuhan menghukumku melalui dirimu."

Pria empat puluh tahun itu berujar sembari menatap Jun dengan mata yang memancarkan kesedihan.

"Maaf, mungkin aku telah mewariskan gen yang buruk padamu."

Ia melanjutkan kalimatnya yang pelan, dan berhasil membuat Jun mematung seperti batu.

Jika ada yang remaja tujuh belas tahun itu inginkan saat ini, itu adalah bahwa ia sedang bermimpi, atau menerima lelucon April mop. Sayang, itu terjadi di bulan September, dan ia tidak sedang tidur. Kenyataan itu lebih buruk dibanding ketika ia mendengar vonis dokter tentang penyakitnya, atau ketika dilarang bermain sepakbola.

Ia terus terpaku, sementara pria satunya berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, itu tak banyak membantu. Fakta demi fakta yang ia dapatkan justru membuatnya semakin buruk. Dan itu membuat luka yang begitu dalam.

Untungnya, ia masih punya sisa ketegaran hingga ia bisa meninggalkan rumah itu tanpa menimbulkan banyak masalah. Syok yang ia terima membuatnya sesak, namun demi gengsi atau tak ingin dianggap lemah, ia berhasil meyakinkan keluarga itu bahwa ia baik-baik saja.

Tapi, ia masih seperti kapal yang terombang-ambing. Kakinya berjalan tanpa navigasi. Matanya terbuka, namun seperti buta terhadap sekitarnya. Ia hanya mengikuti nalurinya untuk terus berjalan. Hingga kemudian, ia berhenti di depan sebuah rumah, tempatnya berlabuh.

Ia hanya berjarak beberapa inchi dari bel di gerbang rumah keluarga Aoba. Tapi, ia sudah berdiri disitu lebih dari seperempat jam. Pikirannya yang tidak rasional mengharapkan seseorang keluar dari sana ketika jam pulang sekolah masih tiga puluh menit lagi. Ia tahu harapannya tak akan terkabul.

Namun, alih-alih pergi, ia malah berjongkok dan melipat kedua lengannya, seperti berniat untuk menunggu. Tentu ia akan bisa bersabar, sebab ia percaya, jika bertemu dengan orang yang ia tunggu nanti, perasaannya akan sedikit lebih baik.

"Kak Jun? Kenapa disini?"

Ia mendongak pada orang yang baru datang. Matanya yang kemerahan, menyipit. Ia menoleh ke kanan-kiri, sebelum akhirnya mendesah, dan berdiri.

"Satoshi-kun. Pulang sendirian?"

Ia bertanya dengan senyuman, kemudian melayangkan pandangan kembali ke sekeliling.

"Ya. Apa kau menunggu kakak?"

Anak SMP itu bertanya sebelum melihat Jun seperti sedang kebingungan, baru kemudian mengangguk.

"Tapi, kakak sudah di tempat kerja dan baru akan pulang nanti malam. Akhir-akhir ini dia sibuk sekali. Mau kusampaikan pesan untuknya?"

Anak laki-laki berambut hitam berujar, dan itu membuat Jun kecewa. Mantan kapten Musashi itu mendesah, kemudian tersenyum lemah.

"Tidak. Aku mau pulang saja."

Ia menjawab sebelum kembali berjalan dengan langkah lesu. Ketika ia bergerak semakin jauh, seorang gadis berlari dari arah belakang dan berbelok ke sebuah rumah yang gerbangnya telah terbuka. Rumah yang baru saja ia tinggalkan.

"Kenapa kakak menyuruhku berbohong? Kak Jun kelihatannya benar-benar ingin bertemu denganmu. Kalau saja kau melihat bagaimana ekspresinya tadi, kau pasti-"

"Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."

Yayoi membuka pintu rumahnya, mendahului sang adik yang kini berkacak pinggang. Gadis itu membungkuk menata sepatu sebelum putera bungsu keluarga Aoba lewat di belakangnya dengan muka cemberut.

"Terserah kau saja!"

Anak lelaki itu berucap sembari meninggalkan sepatunya begitu saja di lantai.

Yayoi memungutnya. Biasanya ia akan marah. Namun, kali ini ada yang lebih ia pikirkan ketimbang menghabiskan tenaga untuk memberi adiknya pelajaran. Itu adalah suara jantungnya yang berisik. Bukan karena berlari. Yang ia tahu, jantung itu bereaksi berlebihan terhadap seseorang. Seseorang yang ia lihat dari kejauhan tadi.

Sebenarnya, Yayoi membuat kesalahan. Ketika Jun berjalan menjauh, pemuda itu melihat sekilas bayangan seorang gadis berlari kemudian berbelok seolah takut ketahuan. Saat itulah ia mengerti bahwa Yayoi-nya ingin menjaga jarak dengannya. Ia hanya bisa tersenyum kecut dan terus berjalan, hingga tahu-tahu telah mencapai kota.

Disana, di berdiri di antara ribuan orang yang berlalu-lalang. Di tengah massive-nya ritme kota metropolitan, dengan masyarakat yang terus bergerak cepat, ia merasa waktunya telah berhenti. Ia sendirian, dan tak ada yang peduli.

Melewati sebuah toko kecil, ia langsung membeli tabloid olahraga begitu tahu headline-nya. Tsubasa Ozora lagi-lagi memuaskan pecinta sepakbola Jepang dengan prestasinya yang terus meningkat. Di artikel lain, ia membaca kabar persiapan timnas Jepang U-17 untuk ajang internasional. Ia melihat nama teman-temannya di U-15 bergabung. Namun, tampaknya federasi sepakbola Jepang melupakan dirinya.

Mustahil baginya berharap untuk menjadi salah satu dari mereka yang terpilih. Kini, ia bahkan tak berani bermimpi untuk bisa sesukses rivalnya, Tsubasa Ozora. Ia tahu, selama masih membawa jantung rusak itu bersamanya, ia akan tetap tertinggal.

Ia tak mengerti kenapa berita itu membuatnya emosi hingga tabloid yang dipegangnya tadi berakhir di tempat sampah. Yang ia tahu, ia semakin membenci dirinya sendiri.

Kaki jenjang itu membawanya kembali mengukur jalanan Tokyo yang padat. Langkahnya begitu lemah, seperti akan limbung kapan saja. Ia lupa mengisi perut, juga tak mempedulikan dahaga.

Ia pun tak sadar jika absennya di saat makan malam, membuat keberadaannya dicari orang rumah. Terlebih, ketika handphone-nya yang dilengkapi GPS kini nonaktif, ia membuat ibunya yang overprotective itu cemas bukan main.

Namun, pemuda itu tak bisa kemana-mana. Pada akhirnya, mungkin putus asa, ia kembali ke rumah.

"Tuan muda, Anda dari mana saja? Tuan dan Nyonya besar keluar mencari Anda."

Pelayan menyambut kedatangannya, cukup terkejut namun lega. Tuan muda itu tak peduli dan terus berjalan mendekati tangga. Ketika sang pelayan menuju telepon untuk menghubungi orangtuanya, ia naik ke kamarnya.

Di ruangan itu, ia berharap untuk merebahkan tubuh letihnya. Namun, baru saja membuka pintu, matanya sudah terbakar. Ia melihat pada dinding, poster-poster tim sepakbola favoritnya, juga tropi piala dunia yang biasanya selalu mampu menggugah semangatnya, kini seolah bicara dengannya.

"Kenapa? Kalian menertawaiku?"

Ia berseru tanpa sadar, dan berjalan cepat menuju poster itu dipasang.

"Memangnya kenapa kalau aku tidak bisa seperti kalian? Memang kenapa kalau aku sakit?"

Ia merobek kertas-kertas itu. Seharusnya ia menuruti ibunya untuk membuang benda-benda itu sejak dulu.

Terengah-engah, ia beralih ke lemari kaca, tempat ia menyimpan jersey-jersey kebanggaannya. Ia mengambil semuanya, kemudian melemparkannya ke lantai sembarangan.

"Persetan dengan sepakbola!"

Ia bergerak menuju lemari kaca lain yang selalu terkunci rapat seolah ia benar-benar menjaga isinya. Ia menyimpan belasan tropi dan medali disana, penghargaan kepada dirinya sebagai juara, juga pemain paling potensial.

Barangkali ia tak bisa berpikir jernih, mungkin sudah gila, sehingga ia sanggup membanting semua bukti pencapaian terbesarnya ke lantai, membuatnya hancur.

"Persetan dengan semuanya!"

Ia membungkuk, mencoba mengejar napasnya yang tersengal. Baru kemudian ia melihat benda di atas meja belajar, sebuah frame foto dirinya bersama seorang gadis. Ia berjalan susah payah untuk meraihnya.

"Bahkan kau juga…."

Tangannya gemetar memegangi foto itu, satu yang ia sisakan untuk ia lihat setiap hari ketika ia merasa rindu. Namun kini, wajah-wajah ceria di kertas itu seperti ejekan baginya. Ia mengerutkan bibir, sementara wajahnya semakin memucat.

Hari ini, ia melihat bagaimana dunia mengolok-olok dirinya. Dunia kecil yang ia ingin hidup damai di dalamnya, kini telah hancur.

Serial kejadian-kejadian buruk yang ia alami hari ini seperti efek domino, dimana bagian paling ujung yang terakhir tertimpa adalah kesehatannya.

Pelayan bergegas menuju ke atas setelah mendengar kegaduhan dan suara pecahan benda. Telepon tanpa kabel masih digenggamnya. Begitu memasuki kamar tuan mudanya yang terbuka, ia berteriak. Ia menemukan remaja lelaki itu tersungkur di lantai, dengan tangan di dada dan leher seolah mencekiknya.

Wanita itu mendekat untuk memastikan kondisinya. Namun, yang ia lihat justru lebih buruk. Wajah pemuda itu membiru, dengan keringat memenuhi dahi. Mulutnya terbuka, seperti ingin bicara, namun tak ada yang berhasil diucapkan.

Anak itu kesulitan bernapas.

-End of chapter 21-


Halo semuanya? Apa kabar?

Maaf, author ngadat lagi. Tapi tenang, author tidak melupakan fic ini kok. Hehe.

Oiya, author sudah menambahkan 'angst' sebagai genre fic ini. Alasannya sudah ketahuan, kan? Makanya, kalau kalian mau membenci author, sekaranglah saatnya. Karena author sudah jahatin Jun. Hehehe. :D

Terima kasih untuk aoihoshifiqih atas sarannya. Membuat tanda pemisah antar tokoh memang bagus, tapi author disini hanya tidak ingin membuat narasi yang terputus. Di chapter sebelumnya, tepat seperti yang aoihoshifiqih sebutkan, perpindahan sudut pandang dari Yayoi yang tahu-tahu ke Jun memang membingungkan, dan itu kesalahan author. Ke depan, author akan lebih memperhatikan narasi untuk menandakan perpindahan sudut pandang tokoh. Terima kasih. :D

Terima kasih bagi yang telah membaca, maupun yang me-review. Jangan bosan-bosan mampir ya!

Terima kasih juga untuk komunitas rhesus negatif Indonesia yang memberiku inspirasi untuk mengembangkan cerita ini.

Sekian dulu ya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Selamat menikmati Piala Dunia! :D