Don't Like, Don't Read

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.

Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! 'Taka''Kuro' (Gintama), Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.

Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.

Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/ Dia memang sudah tidak bisa mendapatkannya lagi. Tapi, kesempatan itu masih ada untuk keluarga ini. "Tolong kabulkanlah permintaan kecil itu."kabulkanlah permohonanku.../—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair).


.

Bagi sebuah kesempurnaan. Orang luar hanya benalu.

Terdiri dari Ayah yang mampu mendidik. Ibu yang menyayangi. Kakak yang dapat diandalkan. Dan si adik manja yang dilindungi.

Gambaran keluarga sempurna. Ikatan yang ideal. Pemandangan yang indah. Sesuatu yang tidak bisa dimasuki oleh mereka yang tak memiliki ikatan.

Orang lain yang memaksa masuk ke dalamnya, mereka hanyalah mahluk tidak tahu diri.

Pengganggu.

.


.

12 Seasons In My Life

(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)

.

Original Story by Rin

Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Gintama © Hideaki Sorachi

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Drama, Humor, Romance, Friendship, Family

Rated T

.


16,25th. Season: [Summer] Past and My Hope


.

Jika sebuah kisah selalu berawal dari suatu kejadian tak terduga, mungkin untukku semua itu sudah berakhir di masa itu.

Keluarga...

Hanya itulah keinginanku. Keinginan kecilku yang sudah kandas sejak enam tahun lalu.

.

.

Aku hanyalah seorang anak tunggal dari keluarga biasa. Keluarga sederhana yang biasa ditemui dimana-mana. Keluarga yang damai tanpa ada pertengkaran pelik yang berarti di dalamnya. Sebuah gambaran keluarga yang ideal. Dengan ayah, ibu, diriku dan seorang adik yang masih belum muncul ke dunia. Sebagai seorang bocah aku sama sekali tak memikirkan apa-apa tentang hal itu. Menganggapnya sudah sewajarnya. Hanya menjalaninya dengan seharusnya.

Sampai aku baru menyadari—betapa berharganya segala hal yang biasa itu saat kehilangan.

.


.

Di suatu musim panas.

Hari itu, sangat terik.

.

Aku, Kurokono Tasuke, di penghujung usia 17 tahun.

.

"Ada yang mau titip sesuatu? Aku mau ke konbini." remaja itu menyisipkan dompet pada saku jinsnya. Pandangan diedarkan pada ruang yang terisi empat orang remaja lain yang asyik dengan kegiatannya sendiri. Satu diantaranya tengah membaca buku. Dua orang lainnya tengah bertarung dengan konsol game yang disambungkan ke televisi. Satunya hanya tidur-tiduran, menontoni alur game yang tengah dimainkan sambil mengunyah keripik yang mau habis.

"Belikan sesuatu yang segar Kurokono—oh, sekalian snack." yang berkacamata di antara mereka melambaikan tangan malas. Sudah dalam posisi uenak untuk bersantai.

"Aku memang mau beli itu—tapi, nanti ganti uangnya. Tidak ada lagi kah—ah, tidak ada buku porno Sakamoto-san."

"Pelit sekali kau Kurokono~ Ayolaah... Mumpung liburaan."

"Liburan atau tidak, tidak sepantasnya kau begitu. Dan aku tidak mau dipandangi aneh karena membeli buku porno." Kurokono menjelaskan alasan yang sangat logis.

"Memalukan sekali. Apa kau tidak punya sopan santun untuk tidak memandangi tubuh lawan jenis sebelum legal di atas kertas Sakamoto!"

"Ahaha, seperti kau tidak pernah menggoda cewek Zura. Na. Na. Siapa yang menggoda guru biologi yang seksi kemarin, hee?"

"Zura ja nai Katsura da! Dan aku hanya mendengarkan curhatnya karena dia janda! Apa kau sama sekali tidak punya etika mengatakan hal mesum soal bokong dan dadanya itu, hah!"

"Yang tidak punya etika kamu, kan?"

Oh, Tuhan. Apa tidak ada yang bisa menjawab tanyanya dengan benar? Kurokono mendesah lelah. Kalau sudah begini mereka akan berdebat dengan hal yang tidak penting sampai dia mendapat jawaban pasti. Daripada sakit kuping, dia memilih mengacuhkan dua di antara mereka dan beralih ke dua kepala yang lainnya.

"Gintoki-kun, Takasugi-kun kalian mau tit—?"

"JUUUUUMMMMMPPP! GUWOOOH! RASAKAN NEO ARMSTRONG CYCLONE JET ARMSTRONG CANNON SPESIAL GIN-SAAAN!"

"HAH! MERIAM SIPUT MACAM ITU TIDAK AKAN BISA MENGHANCURKAN BENTENG PERTAHANAN YANG KUBUAT!"

Sungguh pertarungan yang hebat sampai stik konsolnya berasap. Kayaknya setelah ini mereka bakal rugi bandar, deh.

"Eer..." Kurokono bingung. Tadi Gintoki menjawab pertanyaannya atau dia sedang mengutarakan jurus, ya? Ah, sudahlah. Belikan saja. Lagian dia juga baca, jadi gak rugi. Putus Kurokono sendiri karena merasa malas bertanya kembali.

"Takasugi-ku—"

"BELIKAN YANG BIASA!"

Lagi-lagi dipotong sebelum dia selesai bicara. Dan apapula itu yang biasa? Seolah Kurokono istri pengertian yang tahu segala hal yang disuka dan dibenci sang suami.

Kurokono menghela lagi. Daripada sakit jiwa lama-lama mendingan dia keluar kamar. Soal titipan tak memenuhi hasrat pelanggan? Bodo amat. Salah sendiri ditanya gak ada yang jawab dengan benar.

.


.

Apakah aku naif? Saat berpikir mereka adalah temanku? Karena aku sendiri tidak tahu apa mereka menganggapku dengan ikatan yang sama atau tidak.

Sebuah kisah yang lucu, jika aku mengenangnya. Mengenang hari-hari saat kuhabiskan waktu bersama mereka. Sekumpulan orang yang membuatku hidup dan nyaman meski pribadi di antara kami sangat berbeda.

Terkadang aku berpikir kenapa aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka dengan nyaman.

Apa karena mereka sangat mudah disukai dengan perilaku yang unik itu?

Atau, sama sepertiku

memendam sakit yang sama

.


.

Hari itu sangat terik. Memanggang pori-pori kulit sampai mendidih. Penyesalan bagi Kurokono keluar tidak pakai topi. Ah, dia sebenarnya agak menyesal karena berinisiatif keluar untuk membeli bahan makan malam bulanan—yang dihabiskan seenak jidat oleh para tetangga tak bermoral yang mengaku-aku teman dalam waktu satu minggu, mau marah juga rasanya capek. Akhirnya dia cuman elus dada saja. Tumpukan sensor di tempat sampah itu hanya ilusi semata.

Meski, kadang mengesalkan mau tidak mau Kurokono mengakui bahwa berada di antara mereka membuat hari-harinya jadi berwarna. Meski, seringnya lebih ke warna kelabu menuju merah amarah dan ungu bikin mual.

Mereka adalah teman sekelasnya—pengecualian untuk Sakamoto yang merupakan kakak tingkat mereka. Dan secara kebetulan mereka berniat menyewa di apartemen yang sama. Awalnya, Kurokono berniat tinggal sendirian sebelum tahu bahwa ada anak satu sekolah yang menyewa apartemen yang memikirkan jatah bayaran yang berkurang separuh, akhirnya dia menyetujui untuk tinggal bersama dengan salah satunya.

(Kenapa tidak bareng-bareng? Simpel. apartemennya itu cukup kecil dan hanya bisa dinikmati nyaman oleh dua orang saja. Kalau lebih, hmm... Bisa dibayangkan tiap dia pulang sekolah atau kerja sambilan menemukan berbagai harta karun (misal, boxer bergambar mawar merah merekah. Ah, ya... Dia menemukannya di kamar Sakamoto) bertebaran tiap kaki melangkah. Terlebih empat-empatnya gesrek semua dalam sama arti dan beda arti (dan dia sangat bersyukur karena memilih satu kamar dengan Takasugi, bisa cepat tua dia kalau mengurus Gintoki yang kadar kemagerannya lebih parah dari orok).)

.


.

Awal musim semi saat kelas tiga SMP, aku mendapat kesempatan menjadi siswa rekomendasi di salah satu sekolah di Kyoto. Sekolah yang cukup terkenal, dan menunjang masa depan. Itulah yang kupikirkan hingga mengambil kesempatan itu tanpa berpikir dua kali ataupun persetujuan waliku.

Walau, sebenarnya aku tidak terlalu perlu persetujuan mereka—dan meski ini terdengar kejam, aku tahu bahwa mereka hanya mengambilku sebagai kewajiban semata.

.


.

"Mama mau eskrim."

"Hei, tadi janji tidak minta jajan, kan?"

"Tapi, panas maa... Ayolah..."

Kaki bergeming dalam langkahnya. Setelah beberapa saat berlalu, Kurokono menoleh ke belakang, memandangi interaksi antara ibu dan anak yang baru saja bersisian jalan dengannya.

Dia mendengus dan tersenyum simpul.

.


.

Mungkin, aku juga memiliki masa seperti itu. merengek seperti bayi dengan keberadaan dewasa yang sabar menangani.

Segala hal yang memiliki awal pasti akan berakhir. Dunia berputar dengan logika yang seperti itu dan aku meyakininya.

atau lebih tepat memaksa diri untuk menerimanya.

Di usiaku yang kesebelas, sebuah kecelakaan maut menewaskan kedua orangtuaku. Pada akhirnya aku dioper untuk diurus oleh para kerabat. Ada sekitar tiga kali aku berpindah tempat tinggal sampai pada akhirnya aku menetap cukup lama di salah satu kerabat jauh ibuku di Hokkaido. Waliku adalah sebuah keluarga kecil beranak satu yang lebih tua tiga tahun diatasku Mereka orang yang baik, merawatku dan menerimaku.

Meski, tentu jurang besar tetaplah ada dengan statusku sebagai penumpang di antara harmoni itu.

Mereka membiarkanku berada bersama mereka, namun begitu jelas cara mereka memperhatikanku dengan anak mereka.

Tapi, aku tahu aku tidak boleh mengeluh. Dibanding kenyamanan atau kesepian diriku, aku harus lebih mempedulikan nyawaku.

Berpikir pintar agar aku tetap hidup.

.

sekalipun hanya raganya.

.


.xOx.


.

Tidak ada keindahan yang abadi. Itu adalah hal yang paling aku tahu.

Sama seperti dengan realita bahwa kehidupanku bersama sekumpulan orang-orang seperti quartet itu hanyalah sebuah polesan bumbu dalam hidup ini. Yang suatu saat akan menghambar. Yang suatu saat akan hilang bersamaan dengan waktu yang berlalu.

Tapi, untukku itu hanya lebih cepat terjadi.

Penyesalan selalu datang di akhir. Selalu seperti itu. Karma yang tidak bisa dipungkiri.

Andaikan.... Ah, aku merasa bersalah jika aku mengucapkannya. Kata yang penuh pengharapan seolah yang kita alami tidak pernah terjadi.

Tapi, di sudut hati aku selalu berpikir seperti itu.

Sama seperti hari itu pula.

Andaikan saja aku tidak pergi keluar, mungkin aku tidak akan mengalami pertemuan itu.

Sebuah pertemuan yang mengubah hidupku selamanya.

.


.

"Terima kasih sudah berkunjung." hantur sopan kasir dibalas angguk kecil oleh Kurokono.

Keluar konbini, dan mendapati terik menyengat menyilaukan pandang. Kurokono berpikir untuk memotong jalan melewati kompleks taman yang cukup rindang. Sengaja demi menghindari terik menyengat yang membuatnya pening.

Tidak banyak kehidupan di jalan yang dilewati, hanya beberapa manusia yang berlalu lalang dengan sepeda atau sekedar berjalan kaki untuk kepentingan pribadi. Situasi yang sewajarnya untuk daerah yang tenang seperti Kyoto.

Dan saat hitam menangkap sebuah motor berpengendara di ujung jalan cukup membuatnya menaikkan alis.

Ada beberapa detik Kurokono memandangi pengendara motor yang memakai baju sangat tertutup. Meski, mungkin untuk mentaati peraturan. Bagaimana mungkin dia memakai pakaian setebal itu di cuaca sepanas ini?

.

Andai saja saat itu aku tidak keluar. Andai aku tidak pernah memilih jalan itu. Mungkin, aku tidak akan pernah terpikat. Mungkin, tidak akan ada yang berubah.

.

Firasatnya merasakan sebuah kejanggalan, dan hal itu terbukti saat motor itu dilaju tiba-tiba dan mengarah pada seorang pejalan kaki yang melintas.

"KYAA!"

CKIIT!

Suara mendecit itu cukup keras untuk membuat Kurokono tersadar dari keterkejutannya. Hanya untuk mendapati seorang wanita yang tengah bersitenggang dengan pria berhelm dan mengendarai motor yang dia lihat barusan.

"Hentikan! Ini milik anakku!"

"Diam perempuan!" sebuah tamparan menyakitkan melayang, membuat wanita itu terjengkang ke aspal jalanan.

Dan tidak mungkin Kurokono hanya diam menonton melihat semua itu tepat di depan matanya.

"HEI! BERHENTI DI SITU" sekejap dia langsung berlari, sebuah tongkat yang bergelinding dipungut untuk dijadikan senjata.

"Cih!" Panik akan adanya saksi membuat si penjambret langsung menggas kendaraannya tanpa melihat sekeliling, hingga telat menyadari akan keberadaan sebuah tongkat yang dilemparkan Kurokono tepat ke celah roda motor.

"!"

BRUAAK!

Terpelanting hingga terguling-guling pejambret bersama motornya. Kondisi ramai karena penasaran dengan suara-suara riuh sangat tidak menguntungkan pelaku untuk kabur, hingga dalam hitungan menit kemudian dia sudah dibekuk oleh orang-orang sekitar yang peduli.

Di sisi lainnya, sosok Kurokono tenggelam dalam lautan mata yang menontoni keadaan. Dirinya sendiri tengah berkutat menolong sang wanita yang tergeletak.

"Nyonya, kau tidak apa-apa? Bertahanlah!"

Bagai dengung ribuan nyamuk. Riuh ramai yang mengelilinginya tak masuk gendang telinga. Karena, yang terproses pada indra hanyalah apa yang tercermin pada retinanya. Hanya memandangi merah membara yang terpoles pada sang wanita.

Merah

dan darah.

.


.

Sirene ambulan bergaung sepanjang perjalanan. Dalam diam Kurokono memandangi para petugas berseragam putih yang tengah menangani sang wanita. Ya, dia hanya diam. Separuh karena dia tidak cukup dedikasi untuk membantu.

—separuh lagi karena dia merasa sebuah getir. Sebuah keinginan yang kuat hingga membuatnya lemas. Semata berdoa agar wanita ini tetap hidup.

.


.

Sebuah pertemuan, akan mendatangkan perubahan dalam hidup. Sekecil apapun itu.

Lalu, bagaimana dengan kehilangan?

Saat itu aku berpikir, meski separuh dalam diriku ada penyesalan akan sebuah pilihan yang kulakukan. Separuhnya lagi bersyukur sedalam-dalamnya.

Andai aku tidak ke tempat itu. Andai aku tidak bertemu dengan wanita itu. Mungkin, saat itu akan ada mereka yang bersedih dengan kehilangannya.

.

"Pasien mengalami gegar otak cukup parah! Retakan di bagian kepala belakang!"

"Pendarahannya tidak berhenti! Harus dilakukan transfusi!"

"Apa anda keluarganya? Kami meminta izin untuk dilakukan operasi."

.

Ingatan Kurokono sedikit berbayang saat itu. Dia tidak tahu apa yang dia dengar atau dikatakannya. Syok, adalah salah satu alasannya. Karena, dia tidak akan menyangka akan mengalami keadaan yang sama seperti saat dia kehilangan kedua orangtuanya. Beruntung saat itu ada polisi yang bertugas dan membantu menghubungi keluarganya untuk persetujuan operasi sang wanita.

Dan sekarang disinilah dia berada, menunggu di depan ruang operasi. Menunggui sang wanita ataupun keluarganya yang mungkin akan datang. Sendiri. Tidak ada yang lain selain hening dan jam yang berdetik. Polisi patroli yang membantunya sudah kembali ke markas untuk menyerahkan berkas. Dia diminta menghubungi lagi jika keluarga korban sudah datang. Kurokono menurut saja, karena pikirannya saat itu tengah kosong. Berbanding terbalik dengan emosinya yang berkecamuk dan mendidih. Menggelegak ingin diutarakan namun dia tak mampu. Seolah ada sesuatu yang mengunci hatinya untuk tetap diam dan bisu.

Srek

Pandangan teralih pada barang-barang yang dibawa sang wanita yang berada di tangannya. Kurokono sengaja tidak memberitahukan polisi meski, tahu itu adalah salah satu barang bukti. Semua karena sekilas ucapan yang dia dengar saat kejadian berlangsung.

"Hentikan! Ini milik anakku!"

Bola basket.

Seragam anak-anak.

Hanya dengan mendengar. Hanya dengan melihat semua itu cukup bagi Kurokono untuk mengetahui bahwa orang ini memiliki keluarga yang menunggunya. Seorang suami dan anaknya. Sebuah keindahan yang membuatnya iri.

Sangat.

"Jangan menghilang..."

Begitu iri, hingga merasa sakit jika hal itu menghilang.

"...mereka menantimu..."

.

Sebesar apapun rasa iri itu pada sesuatu yang sudah tak kumiliki. Aku lebih merasa sakit saat melihat mereka merasakan hal yang sama denganku.

"...karena itu, tetaplah hidup."

.

Lampu koridor yang awalnya remang dinyalakan. Langit terik itu menjadi gelap secara perlahan. Kurokono memandangi langit itu. Kemudian, perhatian teralih pada getar di ponselnya. Tiga e-mail, dua miss-call. Sejenak teringat akan pesanan yang dititipkan empat tempatnya. Mungkin mereka menunggunya. Wajar saja, sudah hampir empat jam sejak dia meninggalkan apartemen tanpa pemberitahuan.

Dia membalas satu pesan singkat. Lalu, menghela lagi.

'Kenapa tidak ada yang datang?' Batin Kurokono. Seharusnya, keluarganya sudah berada di sini mengingat cukup lama waktu yang berlalu. Ada prasangka buruk melintas di kepalanya, langsung saja dia menggeleng. Menghapus pikiran buruknya. Mencoba berpikir positif kalau keluarganya mungkin sedang dalam perjalanan dan terjebak macet atau semacamnya.

Drapdrapdrap

Suara langkah kecil terdengar saling beradu dari ujung koridor, Kurokono langsung menoleh ke samping.

"Kaa-saan!"

"Ah, kalia—..."

BUAGH

Dua gumpal merah menerjang perutnya.

Ouch.

Kurokono meringis pedih memegangi perutnya. Jir, kecil-kecil palanya batu.

"Apa yang kau lakukan pada kaa-san!"

Bukh!

"Aduh!" Ringis pedih.

Bukbukbuk

"Ah-aduh! Bu-bukan!"

"Kaa-san...huu..." anak merah lain mulai terisak.

Suara langkah lain yang lebih berat masuk ke telinga Kurokono. Mendapati di kejauhan seorang pemuda berseragam pelayan nampak berlari kecil ke arah mereka.

"Tu-tuan muda Seijuurou, Tuan muda Karma jangan begitu di rumah sakit."

Suara yang cukup dewasa dibanding perawakannya yang muda. Kurokono menghela lega mendapati ada orang dewasa di antara mereka.

Segera saja pelayan itu memisahkan kedua anak tadi darinya.

"Mohon maaf apa anda yang menolong Nyonya kami? Maafkan saya. Saya harusnya menjaga mereka agar tidak bertindak seperti tadi."

"Ku-kurang lebih begitu... tidak apa-apa, sudah sewajarnya mereka mengkhawatirkan ibu mereka."

"Mohon maaf, tuan muda. Mereka yang menolong ibu anda. Anda harus berterima kasih." terang sang pelayan.

Sekejap saja keduanya terkesiap dengan muka memerah. Entah merasa malu, atau karena menahan tangis.

Satu hal yang Kurokono ketahui. Keduanya sangat mencintai sang Ibu hingga mereka rela menunduk meminta maaf.

.


.

ZRAASSSSHHHHH

Terik bagai neraka yang dia rasakan siang hari seolah bagai mimpi siang bolong. Melihat cuaca saat ini begitu drastis berubah menjadi hujan lebat.

Koridor yang tadinya hanya berisi dia seorang kini menjadi empat nyawa. Dengan dua diantaranya adalah anak-anak.

Kurokono memperhatikan bagaimana rupa kedua anak itu. Perawakan yang nampak mirip dengan sang wanita yang dia tolong, terutama rambutnya yang tak mungkin terlupa sekali lihat. Ketara sekali kalau mereka gelisah. Terbukti dengan sang adik yang keras kepala berdiri di depan pintu. Sementara, sang kakak yang menurut untuk duduk tidak melepaskan pandangnya sedikitpun dari arah adiknya itu.

"Karma. Ayo, duduk."

Dibalas gelengan dari si kecil. Kali ini dia malah menempel ke pintu ruang operasi.

Kurokono menghela melihat adegan itu. Dia bukannya tidak paham dengan keadaan. Malah, dia sangat mengerti bagaimana perasaan mereka yang begitu cemas. Tapi, tidak mungkin dia tega hanya melihat saja tanpa memberi mereka sebuah penenang.

Karena, itulah dia berjongkok di sampingnya. Tersenyum tipis sambil mengelus kepala sang adik yang terpekur.

"Tidak apa-apa. Ibu kalian akan baik-baik saja. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa, agar nanti ibu kalian bisa kembali memeluk kalian."

Pelan, Kurokono mencoba memberi kenyamanan dengan elusan di kepala. Saat tidak terdeteksi sebuah penolakan dia mengambil langkah berani untuk menggendong si kecil dan memangkunya. Sang kakak nampaknya tidak begitu suka dengan perlakuannya pada sang adik. Atau tidak suka karena hanya sang adik yang dibegitukan, dia langsung memanjat bangku dan duduk di sisi yang dekat dengan adiknya. Menggandeng tangannya dalam genggaman.

Kurokono tersenyum kecil melihat interaksi sang kakak yang berusaha peduli dan terlihat kuat di depan sang adik. Tapi, sejenak kemudian senyum itu memudar saat menyadari sesuatu yang harusnya juga ada bersama mereka.

'Kemana memang ayah mereka?' batin Kurokono pias sesaat. Dia pun mencuri pandang pada pelayan yang memperhatikan mereka dalam keadaan berdiri. Nampak, mengerti kode yang diberikan Kurokono sang pelayan pun mendekat untuk meminjamkan telinga agar percakapan mereka tak didengar anak-anak.

"Apa ayah mereka... Sudah dihubungi?" bisik Kurokono pelan dengan khawatir.

Seolah sudah mengetahui kalau pertanyaan itu akan muncul sang pelayan memberi wajah kalut, mencoba untuk menerima dan tabah.

"Saya sudah memberitahu beliau tentang keadaan nyonya. Tapi, beliau orang sibuk jadi... saya tidak yakin..." sang pelayan tidak melanjutkan kata-katanya. Dia yakin Kurokono cukup paham dengan hal yang dimaksud.

Dan tentu saja Kurokono sangat paham maksudnya.

Tidak yakin akan datang

Sejenak menghening. Bibir merah mengatup rapat giginya.

Jujur saja. Dia tidak suka.

"Apakah saya bisa minta nomornya?"

"Eh?"

Sang pelayan kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Memandangi Kurokono dengan tidak percaya, namun bola mata yang menunjukkan keseriusan akan sikapnya mau tidak mau membuatnya meneguk ludah.

"Saya akan meneleponnya dan memintanya kemari."

"Tu-tunggu, hal itu—."panik. Tentu. Bagaimanapun rasanya tidak etis membiarkan seorang remaja tak dikenal mencari tahu tentang hal pribadi keluarga yang dilayaninya. Tentu saja dia akan berusaha menolak.

Betapa kagetnya saat remaja itu menunduk dalam di hadapannya. Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang asing yang tidak tahu menahu mengenai apa yang akan dia hadapi.

"Saya tidak bisa memberitahu tentang majikan saya sembarangan."

"Saya mohon."

"Tidak bisa nak."

"Saya mohon."

Pelayan itu mendesah melihat Kurokono begitu keras kepala. Dia masih pada posisinya. Masih menunduk untuk meminta. Andai bisa dia juga ingin melakukan hal yang sama. Namun, dedikasinya akan pekerjaan melarangnya untuk berbuat melebihi batas.

"Ini nomor tou-chan..."

"...!"

Betapa kagetnya sang pelayan melihat majikannya yang terkecil mengulurkan ponsel mini [1] miliknya.

"Tu-tuan muda Karma!"

Kurokono memandangi Karma. Karma menatap lurus pada Kurokono. Tangan kecil itu masih terjulur pada si remaja.

"...tidak masalah, kah?" tanya Kurokono sedikit ragu.

"Kau akan menghubungi Otou-san agar dia kemari, kan?" Sang kakak maju ke sisi sang adik, ikut memandangi Kurokono dengan sklera merah miliknya. "Kalau begitu tidak apa-apa." Merah bergulir memandangi si kecil yang mengangguk-angguk statis. Keduanya kemudian memandangi pelayan mereka. Telepati dari mata ke mata.

Entah tersihir oleh apa sampai sang pelayan menunduk pelan dan mengangguk berat. "Saya tidak bisa menolak jika itu yang tuan muda inginkan."

.

Aku tidak suka...

Tidak suka.

Mereka yang tidak peduli apa yang sesungguhnya yang berharga bagi mereka.

Meski, mereka masih memilikinya.

.

"Selamat siang, saya Kurokono Tasuke. Apa benar ini Akashi Masaomi-san. Ini mengenai istri anda."

.

Langit menggempur bumi dengan pedang halilintar. Badai besar telah datang. Dingin mulai menyerang.

Beberapa menit terlalui dengan pembicaraan sepihak dari Kurokono. Dari sudut pihak ketiga, tak ada yang tahu bagaimana isi pembicaraan itu. Hanya yang pasti, bukan sesuatu yang positif.

"Lalu, anda sendiri?"

Karena raut itu mengeruh dalam amarah kecil.

"Apa anda bisa kemari?"

.

Kenapa?

.

Suara di seberang telepon sana begitu berat dengan nada yang tampak tak beremosi. Membuat getar kecil di tangan Kurokono tiap lawan bicaranya menarik kata.

.

/Kenapa kau harus peduli?/

Karena, jawaban itu bukanlah yang ingin dia dengar.

.

Dia merasakan sebuah sentuhan kecil menggapai dirinya. Memeluk kakinya seolah menjadikannya tumpuan.

Kurokono memandangi sosok itu. Yang kecil dan gemetar dengan wajah yang berusaha tenang. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa warna jingga membinar akan harap. Menatap dengan kesungguhan.

"Apa Tou-chan akan datang?"

Kurokono terkesiap.

.

"Tuan..." aah, suara itu menjadi serak.

Apa kau tidak mendengar pinta dari mungil yang polos ini? Dia tidak meminta apapun yang berat. Hanya meminta keberadaan dirimu berada di sisi mereka. Untuk membagi duka. Untuk meminta perlindungan. Meminta tumpuan harapan darimu agar mereka tak merasa sendirian di dunia ini.

Berjuta kata terangkai menunggu disuarakan. Bersama sakit hati meski harusnya bukan dia yang terluka.

"Apakah pekerjaan jauh lebih penting?"

Marahi andai dia terdengar seperti menghakimi.

"Dia istri anda, kan? Apa anda tidak bisa meluangkan waktu walau hanya sedikit untuk menjenguk istri anda?"

Marahi andai dia seperti ikut campur urusan orang lain.

"Ini bukan masalah efisiensi waktu! Apakah anda sama sekali tidak khawatir dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi?"

Dia menggeleng. Menggeram. Tidak mengerti. Tidak paham.

Kenapa...?

"JIKA SEMUANYA SUDAH TERLAMBAT ANDA TAK AKAN PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN ORANG YANG ANDA CINTAI!"

.

Dia masih ada. Masih bisa berusaha untuk mengejar. Masih memiliki harapan untuk bersama. Tapi, kenapa dia tidak mau sedikitpun untuk peduli?

Padahal dia masih memiliki keluarganya.

Padahal mereka masih ada.

Padahal itulah hal yang paling kuinginkan...

"Khh..." apakah isak itu karena memikirkan mereka? Atau karena dirinya sendiri? Tidak ada yang tahu. Emosinya terlalu teraduk untuk bisa menentukan yang mana simpati dan keegoisan diri sendiri.

"Anak anda menunggu keberadaan anda... mereka mengkhawatirkan ibunya... mereka hanya ingin ayah mereka di sisi mereka."

Dia tidak ingin. Sepenuh hatinya sangat tidak ingin semua itu terjadi.

"Saya mohon..."

Melihat mereka yang lebih belia darinya ini mengalami masa yang sama seperti dirinya.

sendiri di dunia ini.

Dia memang sudah tidak bisa mendapatkannya lagi.

Tapi, kesempatan itu masih ada untuk keluarga ini.

Karena, itu...

"Tolong kabulkanlah permintaan kecil itu."

kabulkanlah permohonanku...

.

Terkadang seseorang baru menyadari betapa berharganya hal-hal kecil di sekeliling mereka saat kehilangan.

Hal itu berlaku untukku.

Karena, itu... Setidaknya, aku tidak ingin mereka menyecap hal yang sama denganku. Tidak di masa belia mereka. Tidak di masa depan mereka.

Meski, aku tahu semua tidaklah abadi. Segalanya memiliki batas yang disebut waktu. Suatu saat akan habis. Suatu saat akan musnah.

Tapi, inilah permohonanku.

Sebagai seorang manusia yang mengharapkan kehangatan itu.

Sebagai seorang manusia yang sudah kehilangan hal itu.

.

Tidak ada suara berarti dari seberang sana. Hanya bisu dengan desahan nafas yang teratur. Entah apa orang itu mencoba mengerti. Atau mungkin menahan amarah. Apakah dia masih mendengar atau tidak. Kurokono tidak mengetahuinya. Lebih tepatnya dia tidak peduli.

Yang dia inginkan hanyalah meneriakkan rasa sakit yang terkubur namun tak bisa dia lupa pedihnya.

.

Saat suara sambungan itu terputus dari seberang sana. Kurokono tak tahu lagi bagaimana caranya membendung airmata.

.


.

Operasi masih berjalan. Hitungan jam telah terlalui, namun tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan terbuka.

Kurokono masih di sana, ikut menunggu bersama kedua bocah bersurai merah yang tertidur karena lelah menunggu.

Sang kakak menyandar pada paha kirinya. Sang adik dia pangku agar tak terganggu lelapnya. Dan Kurokono sadar, bahwa mata sang pelayan memperhatikannya dengan perasaan tak enak.

"Maaf... Anda jadi ikut menunggu." ucap sang pelayan yang berdiri menunggu padahal dia bisa ikut duduk dan beristirahat sebentar. Antara dedikasi pekerjaan dan kekeraskepalaan mungkin?

"Tidak apa-apa... Aku tidak bisa membiarkan mereka." balas Kurokono tersenyum pahit. Entah kenapa dia ikut terpukul membayangkan jika keadaan tak menjadi lebih baik. Jika, sang ibu tak keluar dalam kondisi baik.

Dan, jika sang ayah tak datang meski dia sudah memaki...

Kurokono mengatup bibir rapat, merasa geram dengan ketidakberadaan sang ayah yang harusnya ada dan menemani. Jika, sang ayah bersikap dingin pada dua anaknya sementara ibu yang menyongkong kasih sayang mereka tengah berjuang demi nyawa, siapa lagi yang bisa mereka percaya? Mereka masih kecil. Masih butuh kasih sayang orang tua. Masih butuh tuntunan dari orang yang mereka panutkan. Itulah yang dia pikirkan. Tenggelam dalam lamunan tanpa menyadari bahwa manik hitam sang pelayan memandanginya dengan penuh pengertian.

"Saya merasa berterima kasih anda mau menamani tuan muda kami. Jujur, saya tidak yakin kalau saya bisa mengatasi mereka sendirian." aku sang pelayan jujur tentang masalahnya.

Terkekeh pelan, "Wajar jika anak-anak seusia mereka sulit diatur." Kurokono tertawa sendiri mengingat dia sendiri belum layak disebut dewasa. "Emosi mereka belum stabil dan masih mengedepankan ego untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi, mereka adalah mahluk yang tulus dan tidak bisa dibohongi."

"Ufufu, anda tidak seperti anak SMA biasanya, ya?"

Kurokono ikut tertawa kecil meski tak tahu itu pujian atau hinaan. Namun, selang beberapa saat dia menghela napas lagi karena masih tak mendapati tanda-tanda kedatangan baik dari ayah maupun ibu mereka.

"...apa ayah mereka tidak akan datang?" usap pada rambut merah yang tertidur di pangkuan.

"Saya tidak bisa memastikan. Tapi, saya yakin dia akan datang."

"Kuharap begitu." tunduk Kurokono setengah tak berharap lagi.

Senyum kecil di wajah pelayan pria menekuk sedikit. Tiba-tiba dia jadi memikirkan tentang remaja di hadapannya kini. Masa ini, jarang ada remaja yang mempedulikan orang lain sampai seperti itu. Tapi, dia tidak bertanya lebih jauh. Dia ingin menebak, tapi tidak ingin berprasangka dengan masa lalunya.

"Tuan besar orang yang baik, meski sedikit kaku pada sekelilingnya bahkan keluarganya. Tapi, saya yakin dia akan tergerak mendengar kata-kata anda."

Pulas tipis berwarna pink. Setengah berharap bahwa kata-kata itu bukan hanya sekedar penenangan belaka dan adalah kenyataan. Karena, bagaimanapun anak-anak ini membutuhkan sosok itu.

taptap

Telinga menangkap derap langkah kaki yang agak terburu mendekat.

Taptaptap

Sang pelayan mendadak menegang, langsung mengambil posisi untuk menghormat pada pemilik derap tersebut. Sadarlah Kurokono bahwa orang yang akan datang adalah ayah dari kedua anak ini.

"Selamat malam tuan besar."

"Hm..."

Kurokono mendapati seorang pria paruh baya berjas mahal berdiri tak jauh darinya. Dia langsung terdiam. Memandangi kejanggalan yang tidak seharusnya terlihat dari seorang berpenampilan sebagai pebisnis eksekutif.

"Tuan besar anda basah kuyub! Mohon tunggu sebentar, saya akan mintakan handuk pada perawat."

"Itu tidak penting. Bagaimana keadaannya?"

"A-ah... Nyonya besar masih di dalam untuk dioperasi."

"Begitu..."

.

Aku terpaku.

Tidak bergeming.

Nafas tertahan dalam rasa sesak.

Pandanganku mengabur saat melihat sosok itu.

Sosok pria yang datang dengan penampilan tidak sepadan dengan statusnya.

Dengan jas yang basah.

Dengan celana yang bercipratan lumpur.

Suara yang berat dan terdengar memburu saat dia bicara.

Dan saat itu pula aku merasa bersalah.

.

Seolah menyadari sesuatu yang ganjil sklera darah langsung kembali memfokuskan diri pada hitam yang merengkuhi kedua buah hatinya.

"Anak ini..."

"Dia anak yang menolong nyonya besar."

"Begitu, kau penelepon itu."

Retina merah itu bercermin pada sosok Kurokono yang mematung menatap dirinya. Kata yang ingin dia lanjut ucapkan tertahan di udara, karena tidak dipungkiri kalau sang pria terkejut mendapati wajah sang remaja dihiasi lelehan air.

Dihiasi air mata.

.

Syukurlah...

Aku sangat bersyukur saat mendapati sosok ayah yang mereka nanti-nanti datang.

Aku sangat bersyukur bahwa semua hal yang telah kupikirkan tentangnya adalah tidak benar.

Semua yang kulihat dari dirinya saat ini sudah merupakan bukti yang cukup.

Dia sangat menyayangi mereka.

Dia mencintai keluarganya.

Dan itu sangat kusyukuri.

.

"Terima kasih... Sudah datang demi mereka..."

dan sebuah titik kembali menetes jatuh.

.

Saat itu aku tidak tahu apakah air mata ini karena begitu senang dengan keberadaan pria yang menjadi ayah kedua mungil ini dan karena mengetahui bahwa diri itu masih memiliki sayang pada kedua anak ini.

atau karena aku iri.

.

Lampu merah berkedip mati. Pandangan teralih pada pintu yang terbuka, menampakkan sosok seorang dokter dari sana.

"Operasi berhasil."

.

Tangan yang mengayomi menggerakkan dua tubuh kecil untuk terbangun dari lelap. Membisikkan sebuah berita bahagia untuk penantian yang sudah mereka harapkan.

Dua kepala terlonjak bangun dengan binar cerah. Menunggu pintu terbuka lebar untuk mendapati keberadaan yang mereka nanti menyunggingkan senyum tipis.

Kemudian, mereka menangis. Sambil berpeluk dalam sebuah keluarga yang sempurna.

.

Iri dengan kenyataan bahwa dia tak memiliki celah untuk masuk dalam kesempurnaan itu.

.

Aku sangat menyukai keindahan itu.

Aku sangat iri dengan keindahan itu.

Aku berharap tidak pernah kehilangan semua itu.

Aku berharap bisa memilikinya.

.


.xOx.


.

Seminggu setelahnya, aku sudah kembali berkecimpung pada rutinitas yang normal.

Sekolah. Kerja sambilan. Mengurus teman seumur yang mentalnya kayak bocah.

Senormalnya yang biasa aku jalani.

Saat itu aku tidak mencoba mencari tahu tentang mereka lagi.

Mungkin, karena aku tidak ingin tersakiti lagi. Tersakiti oleh harapanku sendiri.

Namun, sama sekali tidak terpikirkan olehku bahwa semua itu bukanlah akhir.

.


.

"Sudah kubilang jangan merokok di dalam rumah Takasugi-kun."

Baru mau nyebat sebatang sudah dihardik. Takasugi mendecih melihat teman sekamarnya itu sudah berkacak pinggang sambil memegang sebotol sabun cuci piring.

"Aku ogah merokok di luar. Panas."

"Kalau begitu jangan merokok." Kurokono mendesah. "Makan permen atau semacamnya saja. Sebaiknya kau berhenti dari kebiasaan merokokmu Takasugi-kun. Itu tidak sehat."

"Kau bukan ibuku Kurokono, jangan mengaturku."

"Yah, maaf saja karena aku mengaturmu demi kenyamananku juga."

Kurokono sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil seperti ini dengan teman sekamarnya itu. Topiknya pun tidak jauh-jauh. Kebanyakan tentang pola hidup tidak sehat (bagi Kurokono) yang dijalani Takasugi. Merokok. Minum alkohol. Berkelahi. Bolos sekolah. Pulang malam. Takasugi memang bukan anak teladan kesayangan guru. Bahkan, cenderung dicap bermasalah dengan jumlah skors yang cukup fantastis saat dia kelas satu. Alasan mereka menyewa apartemen bersama pun juga semata untuk mengurangi pengeluaran—dua, Kurokono tidak ikhlas sekamar dengan orang berisik. Tiga, Takasugi tidak mau satu kamar dengan binatang sirkus.

Tapi, bersama teman sekamar tentu ada suka dukanya. Contoh saja bagi Kurokono menghadapi kebiasaan Takasugi yang berandalan itu. Dia yang berpanutan untuk hidup yang tidak sia-sia tentu dengan senantiasa menghardik untuk menasihati.

Dan, karena itu pulalah Takasugi cukup tahu bagaimana kerasnya kepala Kurokono kalau adu pendapat. Terakhir dia mencoba adu pendapat dengannya berakhir dengan sakit kepala.

"Oke, oke. Buatkan aku cemilan kalau begitu." dia menyerah untuk bersitenggang. Musim panas menghancurkan moodnya.

"Aku beli cookies barusan. Ambil sendiri di kulkas sana."

tingtong

Takasugi menoleh ke arah pintu yang berbunyi.

"Ada tamu."

"Tolong terima dulu Takasugi-kun. Aku sedang sibuk." ujar Kurokono sedikit kesal sambil mengelap sisa piring yang sudah dicuci. Tidak punya pilihan. Takasugi beranjak dari depan televisi daripada dilempar piring yang di tangan Kurokono bagai misil cakram untuk membunuh. Begitu-begitu anak itu cukup memiliki keahlian yang mengerikan soal ketepatan melempar barang.

Mendengar suara langkah yang menjauh membuatnya lega. Syukurlah Takasugi sedang tidak ingin membuatnya melempar barang. Kan sayang.

Kurokono bertanya-tanya siapa yang kira-kira datang. Tidak mungkin salah satu diantara tiga temannya yang lain. Mereka akan lebih memilih masuk lewat jalan yang tak seharusnya dilewati manusia wajar dibanding memencet bel dulu.

"Kurokono." mendengar namanya dipanggil Kurokono menoleh, mendapati Takasugi yang bersandar sambil menunjuk ke arah depan dengan jempol.

"Tamu untukmu."

.

Siapa memang yang akan mengunjunginya? Mengingat dia tak punya orang tua lagi dan dia juga tak sedekat itu dengan kerabatnya yang lain. Tapi, meski begitu dia tetap menemuinya demi sopan santun.

"Ah, anda kan—..."

Betapa terkejutnya dia mendapati seseorang yang tidak asing di depan pintu.

Pria yang menjadi tamu Kurokono tersenyum tipis sambil memandanginya. Pria yang dia tahu pelayan keluarga yang ditemuinya di rumah sakit.

"Maaf mengganggu, boleh saya minta waktu anda sebentar?"

"Ah—kalau begitu masuklah dulu. Akan kusediakan minum."

"Ah, tidak perlu. Saya akan segera pergi—..."

"Oh, kira-kira apa yang—?"

"—bersama anda?"

"Apa?"

Kurokono mengerjap pelan. Senyum sang pelayan makin berbisa.

"Saya minta kesediaan anda untuk ikut bersama saya ke kediaman Akashi."

"EH?"

Dia sangat yakin pendengarannya tidak terganggu. Tidak, apa-apaan senyum yang seperti ingin menjahili itu?

"Ka-kalau boleh tahu, kenapa memang?"

Ada prasangka negatif tentu saja. Terutama saat mengingat tingkahnya yang seenak jidat menumpahkan emosi via telepon pada sang kepala keluarga, terlebih setelah itu dia belum minta maaf.

Ya, kenyataannya dia memang tidak sempat. Karena, tidak lama setelah itu Takasugi muncul dalam keadaan basah kuyub dan menariknya pergi tanpa sempat berbincang lagi dengan keluarga itu. Jujur saja Kurokono keberatan dengan tindakannya. Tapi, melihat ekspresi Takasugi yang mengeras saat itu mau tidak mau Kurokono hanya pasrah. Tidak memungkiri ada kesan khawatir dari temannya itu saat menemukannya. Meski, tak ada kata sama sekali saat itu.

"Sayang sekali dia tidak akan kemana-mana."

Kurokono tersentak mendapati keberadaan orang yang sedang dia pikirkan sudah berada di belakangnya. Memasang gelagat tajam untuk segera mengusir.

"Ta-Takasugi-kun..."

"Biarkan saja Kurokono. Kurasa tidak masalah kalau kau tidak mengikutinya juga. Lagipula,, kita belum tahu apa orang ini serius atau hanya menipumu." sebuah tatap tajam dilayangkan, menyebalkan sekali saat ditanggapi hanya dengan senyum jahil seolah mentertawakan.

"Jangan bicara seperti itu pada tamu Takasugi-kun." Kurokono memperingatkan.

"Maa, maa... mungkin kau khawatir—tapi, saya rasa itu bukan hal buruk bagi Kurokono-kun—meski, saya kurang tahu juga kenapa mereka berdua memanggil anda."

Eh—tunggu. Berdua?

"A-apa wanita itu—maksudku, nyonya Akashi baik-baik saja setelahnya?"

Tanyanya setengah mendesak. Ada buncah harap bahwa keadaan baiklah yang akan menjadi jawaban. Dan sebuah anggukan kecil itu lebih dari cukup untuk membuat wajah Kurokono menjadi cerah.

"...baiklah. Aku mau ikut."

"Kurokono!"

"Aku ingin menjenguk nyonya Akashi dan memastikan kalau dia sudah tidak apa-apa. Selain itu aku sudah bertindak tidak sopan dengan pergi tanpa mengucapkan apapun pada mereka." yang dimaksud Kurokono adalah dua anak yang merebut perhatiannya untuk memberi kasih. Kedua anak yang dia khawatirkan saat itu dan dia doakan mati-matian.

Bola mata hitam membulat dalam kesungguhan. Melirik pada Takasugi yang mendecak pelan dengan kesal, tahu kalau Kurokono yang sudah bertekad susah digoyang pendiriannya. Menahan lebih lama juga hanya akan membuat moodnya semakin jelek.

"Terserah kau saja. Hubungi kalau ada apa-apa."

Kurokono tersenyum maklum. Meski, kelihatan kesal dia tahu kalau Takasugi tidak sungguh-sungguh marah karena masih memberi perhatian secara verbal.

"Aku usahakan pulang sebelum malam. Nanti kalian makan malam di luar saja. Kalau bisa belikan porsi untukku juga."

"Ya, ya. Pergi sana."

.


.

Jika aku mengenang kembali. Jika aku berpikir lagi. Apakah saat itu dia tahu bahwa akan ada yang berubah setelah semua ini?

Apakah alasan itu yang membuatnya bermaksud menghentikanku?

Karena, mengetahui sebentar lagi aku akan melangkah pada jalan yang tak bisa kuputar balik.

Tapi, andai aku tak memilih jalan itu.

Mungkin... aku tidak akan pernah kembali terbangun dari mimpiku.

.


.

Menarik nafas dalam sebelum mematung. Kurokono sudah tahu dengan status seorang keluarga terpandang pasti memiliki jumlah kekayaan yang tidak sedikit. Yang akan terlihat dari bagaimana megahnya rumah itu atau semewah apa mobilnya. Namun, melihat langsung dari dekat—dan teringat kalau dia akan menapaki tempat itu—membuatnya menegup ludah gugup.

"Silakan masuk. Saya akan menghubungi tuan dan nyonya kami. Mohon tunggu sebentar, jangan sungkan-sungkan di sini."

Mana mungkin bisaaa.

Kalau Kurokono tidak ingat bagaimana caranya jaga imej mungkin itu yang akan dia teriakkan tepat di muka sang pelayan. Pada akhirnya dia duduk dan menunggu. Kepalanya menoleh-noleh sekedar memperhatikan interior yang terasa mewah dan klasik. Dan dalam sekejap dia mengagumi bagaimana penataan warna yang cenderung lebih gelap membuatnya jauh lebih mewah.

Taptap

Kepalanya berhenti memandang sekeliling saat mendengar suara langkah, dan fokus beralih pada asal suara yang tengah menapaki tangga untuk turun.

Mendapati seorang wanita dengan surai semerah darah yang terayun lembut di gaun putihnya.

"Maaf membuatmu menunggu."

.


.

"Terimakasih sudah repot-repot ke sini. Suamiku sedang bekerja, jadi hanya ada aku yang menyambutmu. Tidak masalah, kan?"

"Ah—ya, ya!"

"Fufufu, tidak perlu gugup begitu. Nee, Kurokono Tasuke-kun kah?"

"Ah, benar nyonya. Tapi, darimana anda tahu?"

"Suamiku bercerita tentangmu."

Saat itu Kurokono tidak begitu memperhatikan bagaimana rupa wanita yang ditolongnya, karena dia terlalu panik dan cemas dengan keadaan dan luka yang dideritanya.

Namun, saat ini dia mau tidak mau terpukau.

Aura yang dewasa karena usia, namun juga begitu cantik. Pembawaannya yang begitu tenang. Bahkan, meski terlihat lemah hal itu tidak memudarkan kecantikan wanita itu. Malahan, menambah kesan kuat sebuah kelembutan yang dipancarkan olehnya.

"Mm... Nyonya Akashi, apa kondisi anda sudah lebih baik."

"Fufufu, tidak perlu formal begitu Kurokono-kun. Kau bisa memanggil namaku, kok. Dan terima kasih untuk perhatianmu, aku sudah tidak apa-apa."

"E-eeh... it-itu tidak mungkin nyonya."

"Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena sudah menolongku waktu itu."

Senyum berkembang dengan lembut di wajah yang cantik. Membuat hitam itu bergerak gelisah, merasa terbentur dengan etiket. Namun, dia juga merasa tidak enak hati jika menolak apa yang diminta oleh sang wanita.

"Kalau begitu, mohon maaf... Shiori-san?"

Senyum simpul di wajah yang cantik. Mungkin, karena sudah menduga kalau Kurokono akan menambahkan embel di belakang namanya.

"Kalau begitu boleh aku memanggilmu Tasuke-kun?"

Hitam kembali tergugu.

Ada beberapa detik dia berbisu. Mencoba menyerap apa yang baru saja ditawarkan. Entah mengapa dia merasa terkenang. Cara memanggil itu, sudah sangat lama dia tidak dengar.

Hanya orang tuanya yang pernah memanggilnya seperti itu.

Senyum getir terhias, menunduk pelan sebagai tanda penyesalan.

"Maaf... saya lebih senang anda memanggil saya dengan marga saya."

Kurokono memiliki alasan, kenapa dia tidak pernah membiarkan seseorang memanggil nama akrabnya.

Dibanding alasan mungkin ini hanya keegoisan diri.

Dia hanya tidak ingin dia melupakan darimana dia berasal. Tidak ingin mereka melupakan bahwa keluarganya pernah ada.

Karena, jika dia sendiri melupakannya apa artinya diri ini selain wadah kosong belaka?

Manik hitam menjatuhkan pandangan pada lantai kosong. Tidak ingin bertatapan dengan wajah cantik yang dia kira memasang wajah kecewa.

Sang wanita sendiri tak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangkat cangkir untuk diteguk sebelum kemudiannya kembali ditaruh. Seolah mempersiapkan diri untuk sesuatu.

Melangkah lebih jauh pada pertahanan yang dibuat sang remaja.

"Apa kau ketakutan?"

"?"

Kepala yang tertunduk langsung mendongak.

"Apa kau takut tidak bisa akrab dengan orang lain?"

Manik hitam mengecil pupilnya.

Eh?

Kenapa... dia?

Kurokono memandang dalam bundar keterkejutan. Pandangan berubah menjadi waspada dan menyelidik. Wajah itu masih tersenyum teduh, namun saat ini dia merasa seolah tengah dilucuti oleh senyum yang terkembang.

Merasa diteror.

Apa orang yang baru pertama kali dia temui akan berkata seperti itu? Berkata seolah tahu tentang apa yang dia rasa. Berkata seolah mengetahui masa lalunya. Kecuali, kalau sejak awal—...

"Sebelumnya aku minta maaf karena tidak sopan. Karena, permintaanku ini suamiku menyelidiki tentang dirimu untuk memuaskan rasa khawatirnya."

—ternyata memang diselidiki.

"Ini hanya pendapatku setelah mengetahui apa yang sudah kau lalui."

Kurokono mengatup. Duduk dalam keadaan menegak dan tidak nyaman. Ada rasa kuat ingin lari dari tempat itu.

Kenapa harus seperti itu?

Permintaan apa yang membuatnya harus diselidiki seperti itu? Memang apa yang bisa mereka dapat darinya. Dia hanya yatim piatu menyedihkan. Tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Hanya berjuang agar dia bisa hidup dengan lebih layak.

"Tapi, apa kau pernah mencoba memikirkan perasaan mereka yang memperhatikanmu dengan tulus?"

Kenapa dia seolah menghakiminya?

DEG

Sebuah teguk penuh keraguan. Ketegangan mengambil alih pengendalian. Pancar takut akan terkuaknya rahasia.

Kenapa dia harus berkata seperti itu?

"Kau menutup diri agar tak ada yang lebih dalam mengetahui dirimu. Semata kau memang bersama mereka. Tapi, kau tidak sepenuhnya ada dalam lingkar itu."

Berhenti.

"Apa karena kau takut ditinggalkan lagi?"

Kumohon, berhenti.

"Seperti yang terjadi pada orang tuamu?"

Tolong jangan kau katakan lagi.

Kumohon jangan katakan lagi.

Aku tahu tentang semua itu, karena itu jangan katakan.

Kenyataan yang membuatku sadar betapa diri ini begitu menyedihkan.

.

Itu benar.

Aku selalu ketakutan.

Meski, aku berada bersama mereka. Meski, aku bercanda bersama mereka.

Yang kurasakan hanyalah diriku sebagai orang asing.

Karena, aku sendiri yang memutuskan mati-matian menutupinya.

Karena, aku terlalu pengecut.

.

Meski, begitu... dia merasa pernah merasakan ini.

.

"Nee, Kurokono-kun."

.

Perasaan yang... begitu familiar. Begitu rindu.

.

Tunduk itu terhenyak. Air jatuh dari pelupuk mata karena sebuah guncang menerjang.

Sebuah guncang karena tangan itu merengkuh dirinya dalam sebuah pelukan.

"Kau tidak perlu menghukum dirimu sampai seperti itu."

Bias itu berspektrum, kala retina mulai mengabur, mati-matian dia pertahankan agar tidak retak lagi.

.

Ya, dia sangat yakin. Dengan perasaan ini. Emosi yang penuh kesedihan namun bersatu dalam kehangatan juga mengandung harapan.

Perasaan saat dikasihi oleh seorang ibu.

.

"Tolong jangan menghukum dirimu seperti itu."

Sebuah permintaan yang terucap dua kali dengan lebih lirih. Seolah diri itu ikut menahan gurat luka. Meski, seharusnya bukan dialah yang terluka.

Apa dia menangis?

Kenapa?

.

"Maaf..."

.

Apa aku juga menangis?

Kenapa?

.

"Maaf..."

.

Kenapa dia memberikanku perhatian ini?

.

hiks

.

Maaf. Maaf. Maaf.

Hanya kata itu yang terulang-ulang di kepalaku. semakin aku menunduk dan mendengar dia berkata, Semakin besar rasa bersalahku entah pada apa.

Karena yang kutahu aku hanya tidak bisa membendung emosiku lagi. Membuat kunci pengendalian diriku lepas karena bermacam emosi yang menggaung di dasar sanubari.

Rasa takut, saat kau menyimpan rahasia yang kau pikir akan membuat dia balik membencimu.

Perasaan malu, jika sampai ketahuan. Membuat sengsara. Membuat ingin menangis meminta maaf.

Perasaan yang dipendam rapat itu. Keinginan yang tersumbat untuk diutarakan. Agar tidak ketahuan. Karena begitu memalukan jika ketahuan.

Karena, dia tidak mau tahu betapa menyedihkannya diri ini.

Tapi... kumohon...

.

"Tidak apa-apa."

.

.

Tolong katakan 'tidak apa-apa'.

Satu kata itu. Adalah yang ingin aku dengar. Satu kata yang membuatku terselamatkan karena berada di dunia ini.

Sesungguhnya aku selalu mengutuk keberadaan diriku. Kenapa saat itu aku juga tidak ikut bersama mereka? Kenapa saat itu hanya aku yang selamat? Apa karena aku anak nakal? Apa karena aku tidak pantas bersama mereka? Apa karena itu mereka meninggalkanku? Apa semua ini adalah hukuman untukku?

Jika, memang begitu tolong maafkan aku.

.

"...maaf..."

Bocah yang kesepian. Bocah yang tidak bisa menerima kenyataan, sesungguhnya tidak bisa membayangkan betapa lega hatinya saat dua menerima pengampunan itu.

Saat tahu dia menerima diri itu apa adanya.

Saat dia berkata 'tidak apa-apa' dan menghapus tangis dengan sebuah senyuman. dengan sebuah tepukan dan rengkuhan pelan yang hangat.

Menghujaninya dengan kasih yang dia rindukan.

'Terima kasih.'

.


.xOx.


.

Usap lembut saputangan basah pada kantung mata yang membengkak merah. Kurokono hanya diam menerima perlakuan.

Rasa lega berganti menjadi tidak enak hati dan malu. Menangis di depan orang yang baru pertama kali dia temui.

Dia tidak mengerti kenapa wanita ini memperlakukannya seperti itu. Seolah menghakimi namun, di sisi lain memberikan kelembutan. Tapi, dia mau tidak mau senang dengan perlakuan itu.

"Terima kasih Shiori-san..."

Senyum lembut masih terpatri, bukti dia menerima rasa itu dengan tulus.

Beberapa menit menenangkan diri, keduanya menyadari mereka harus kembali ke pokok permasalahan utama.

"Ah, benar juga. Kita belum membicarakan alasan aku memintamu kemari. Sebenarnya, aku berniat memintamu menjadi pengasuh."

Kedip dua kali. "Pengasuh?"

"Yah, kebetulan aku sedang mencari pengasuh untuk kedua anakku. Selain itu aku bermaksud membalas pertolonganmu saat itu. Tapi, karena sepertinya kau bukan tipe yang akan menerima sesuatu dengan cuma-cuma sekalian saja aku minta padamu menjaga anak-anakku."

Entah kenapa Kurokono agak takut ada udang di balik batu dengan pengakuan sejujur itu sambil pasang senyum yang terlalu manis.

"Tu-tapi, saya tidak bisa...! Maksudku... anda bisa memilih orang yang lebih kompeten dibanding saya."

"Fufufu, sayang sekali. Tapi, ini bukan permintaan."

Ini perintah.

Sekejap Kurokono bisa mendengar suara hati dengan niat menzolimi yang tak terucap pada bibir. Dan dia merinding.

"Tapi, aku juga tidak ingin memaksamu terlalu jauh. Bagaimanapun kau memiliki kehidupan sendiri."

Ah, tentu saja. Pasti Shiori sudah tahu mengenai kehidupan yang bergantung pada kerja sambilan dan pendidikan pada beasiswa yang dia jalani. Sebenarnya, tawaran itu cukup menggiurkan. Bekerja di rumah sebesar ini, gaji yang didapat pasti bukan sekedar berkecukupan untuknya.

Hanya saja dia tidak mengerti kenapa Shiori ingin seorang pengasuh untuk anak-anaknya sementara dia sendiri masih ada untuk mereka. Dan hal itu membuatnya ragu untuk menerima.

Kalut itu tentu tak lepas dari firasatnya sebagai seorang wanita.

"Aku akan di opname selama beberapa saat, setidaknya aku ingin ada orang yang menjaga anak-anakku selama itu." tanpa diminta dia pun menjelaskan alasannya. Seperti yang diduga, tatap penuh gelisah melayang dari bola mata sehitam malam.

"A-apa karena luka yang waktu itu?"

Kepala merah menggeleng. Dia tersenyum simpul.

"Aku memang mengidap penyakit keturunan. Opname beberapa bulan di rumah sakit itu sudah seperti rutinitas tahunan bagiku."

Dan kenyataan lain yang membuat Kurokono terhenyak. Merutuk pada diri yang memiliki prasangka negatif pada dirinya.

"Be-begitu rupanya."

Meski, diterangkan tetap saja itu tak merubah apapun. Justru, saat ini Kurokono merasa sangat khawatir dengan kenyataan yang ada. Fakta bahwa wanita di hadapannya ini tidak cukup sehat untuk dibilang baik-baik saja.

"Kau tidak perlu memasang wajah khawatir begitu..."

Hitam memandang pias. Itu tidak mungkin, kan?

"... bagaimana dengan anak anda...?" cicit tipis dari bibir yang mengatup. Pertanyaan yang membuat desah kecil dan senyum sedih pada wajah yang mengibu.

"Biasanya aku meminta para pelayan untuk mengurus anak-anak selama aku diopname. Tapi, aku tahu kalau itu tidak begitu baik makannya kali ini aku meminta untuk mencari pengasuh."

"..."

Ingin sekali Kurokono bertanya, 'Bagaimana dengan ayahnya?' tapi dia memutuskan bungkam kali ini. Tidak ingin menambah beban hati pada wanita yang juga tengah berjuang dalam bisunya. Yang tengah menahan sakit dalam senyumnya.

Di antara mereka berdua yang gelisah. Kurokono yakin bahwa Shiori jauh lebih kalut, bagaimanapun tentu dia tidak berkeinginan jauh dari anak-anaknya dalam waktu cukup lama. Terlebih mereka masih dalam masa-masanya untuk dihujani kasih sayang. Dia pasti memikirkan bagaimana cara terbaik agar dua buah hatinya tetap merasa nyaman saat dia meninggalkannya sebentar.

"Aku pikir kau orang yang cocok."

Hanya saja apa memang meminta padanya adalah cara yang benar-benar terbaik?

Bagaimanapun dia hanya orang luar yang tak tahu menahu.

"Saya tidak punya pengalaman untuk mengurus anak kecil... Saya tidak yakin bisa..."

"Oh, ya? Kok rasanya berbeda dengan apa yang kudengar dari pelayan yang bercerita tentang betapa pedulinya kamu dengan mereka berdua meski kau belum mengenal keduanya sama sekali."

Oh, tidak. Jangan bilang. Dia sudah tahu soal yang itu.

"Sampai memarahi suamiku."

Senyum berkembang semanis gula. Kalau ada lubang Kurokono ingin terjun selamanya. Bisa-bisanya dia melakukan hal yang mencoreng perilaku santun yang selama ini dia lakukan. Apalagi pada orang yang jauh lebih tua. Haah, menyesal sekarang pun sudah terlambat.

"Fufu, tidak usah terlalu dipikirkan. Suamiku itu memang sedikit kaku. Sekali-kali dia harus dibentak sedikit~..."

Ada yang istri tauladan yang bilang begitu dengan muka cerah?

"Tapi, Shiori-san. Saya hanya anak SMA biasa... "

"Tidak masalah kalau kau tidak yakin awalnya. Semua orang juga pasti begitu. Aku rasa sebuah kasih sayang dan kepercayaan memang tak mungkin dibangun dalam waktu singkat. Fakta akan realisasi ego adalah salah satunya. Tapi, dengan menghabiskan waktu bersama itu akan lebih baik dibanding tidak mencoba sama sekali bukan?"

Kurokono tidak bisa memungkiri kalau kata-kata itu ada benarnya. Secara logika semua hal di dunia ini bisa dilakukan adalah karena terbiasa. Menjadi seorang ahlipun juga karena dia menekuni hal yang dibidanginya setiap saat.

"Aku percaya... kau akan menjaga anakku dengan baik."

"Kenapa anda bisa seyakin itu?"

Namun, apa salah jika dia merasa khawatir dengan ketidakberdayaannya?

Dia yang tidak memiliki masa lalu yang cukup bahagia. Yang nyaris melupakan bagaimana kasih sayang orang tua.

Dan, bukankah karena kau tidak merasakannya lagi kau akan mengharapkannya?

"Apakah kau tahu firasat seorang ibu jauh lebih kuat dibanding sekedar fakta di luar tubuh?"

Itu artinya kau yang paling paham apa yang mereka inginkan bukan?

"Apa mereka akan menerima saya?"

Sebuah senyum terukir di paras cantik yang melayu, diri itu mencoba memahami. Karena, kata-kata itu hanya sebuah penenang yang sulit untuk dijadikan bukti. Lidah sangat mudah berbohong. Sangat mudah untuk meyakinkan dan menjatuhkan seseorang.

"Kalau begitu kita tanya saja pada mereka."

Memang hal seperti ini membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata.

.

Drapdrapdrap

"Tuan muda Karma! Jangan lari-lari di lorong!"

.

"Kebetulan jam segini sedang waktu bebas mereka."

Cklek

"Kaa-san!"

Karena, yang kuinginkan adalah bukti bahwa aku bisa bersama mereka.

.

Aku melihat cahaya.

Sebuah cahaya yang menyesakkan. Membuat mataku memanas.

.

"Aah!"

Si merah cilik terkejut, berbinar, menunjuk dengan cengir lebar kesenangan.

"Nii-chan yang waktu ityuu!"

Kemudian, melompat dengan manja.

Lalu, sang kakak.

"Karma, yang sopan! Kau membuatnya kaget!"

Kemudian, meneriakkan kekhawatiran.

padanya.

.

Pandang hitam bergulir pada wanita yang terkikik cantik. Merah mendayu terhempas tipis semilir angin. Melambai dengan anggun. Dengan sinar berkilau yang menjadikannya pahat terindah yang didamba sekian umat.

"Aku rasa kita sudah tahu jawabannya."

.

.

Apakah sesak berarti kesedihan?

Nyatanya kupu di perut berkepak gembira.

Apakah buta berarti kegelapan?

Nyatanya, kilau itu terlalu benderang.

Hingga membuatku buta akan cahayanya.

Buta.

Dan membuatku menumbuhkan sebuah hasrat yang egois.

.

"Mohon bantuannya, Tasuke-kun."

.

Meminta lebih dan lebih. Waktu yang lebih lama lagi.

Semata untuk bersama mereka.


.

.

TBC

.

.


A/N: akhirnyyaaaaaa setelah sekian minggu berlalu saya bisa ngerampungin chapter ini. TAT. Dan maaf lebih pendek dari chapter yang lalu-lalu.

Minta maaf yang sebesar-besarnya pada semua yang menunggu 12 seasons karena keleletan penulisnya. RL saya sedang sangat padat sampai saya sendiri menyicil benda ini sedikit demi sedikit karena tidak punya waktu luang saking capeknya.

Pokoknya saya sangat berterima kasih bagi yang sudah menunggu benda ini. Mohon motivasi berlebih supaya saya tidak kena WB.

Glossarium: [1]:: di Jepang anak TK dan SD membawa ponsel yang dirancang untuk keamanan dan hanya bisa menyimpan nomor anggota keluarganya.

Reply for Anonymous Reviewers:

hikari: maaf untuk apdetan chapter ini lebih lama dari sebelumnnya #nangis. Hum, Akashi punya alasan sendiri kenapa dia menjadi tertutup, dan mungkin spoilernya akan terkuak di chap-chap masa lalunya Kurokono. Wahaha, maaf ya kalo kurang. Demi perkembangan plot sih, kalo nananini mulu ntar gak jalan ceritanya. Tidak akan saya lupakan! Saya akan berusaha!

Dera 190100: MAAF BARU APDET #nangislagi. Iya, amin. Ntar saya bikin scene Niji di bully lagi #dibalang. Aduuh... Akakuro jangan jadian cepet-cepet aaah, hidup mereka kan lebih asoy kalo dikasih drama. Iya, chapter ini sudah mulai bahas masa lalu Kurokono kook. Saya sudah berjuang!

Aoi: maaf lamaaaaa... masa lalau Kurokono sudah mulai terkuak. AkaKuro masih menanti giliran syuting jadi tunggu saja dengan sabar.

l4e: begitu ya.. kurang dapet #lagilaginangis Iya, Kurokono pergi ke makam mamah Akashi. Mulai dibuka di capter ini untuk masa lalu Kurokono. Maaf apdetnya lama.

neruneruneru: kemisteriusan Kurokono akan segera terkuak. Chapter ini apdet dengan masa lalu Kurokono maaf lama.

clarissilia: maaf membuatmu menunggu. Yang ini juga lama apdetannya. makasih sudah review.

akashisant: mereka masih menunggu giliran syuting. Sekarang waktunya Kurokono dulu. Makasih sudah review, maaf lama apdet.

Thanks a Lot for You

Review Onegai


Update: 16th October 2016