~ Mystery of The House ~
Arc 3 : Persiapan - Chapter 4 : Rahasia Gelap Part 2
Warning : Human!OC, Human!AU, Beberapa karakter Nyotalia muncul, OOC, Gore, Non-Hentai, Non-Yaoi/Yuri tetapi ada beberapa hints seperti Si A berbicara tentang shonen-ai kepada Si B, Cannibalism, dan Miss Typo (Seperti EYD dan Diksi)
Crossover Star from Lamento ~ Beyond the Void ~ (BL Game) : Kagari, Leaks, Karltz, Konoe, Asato, Rai, dan Bardo.
Tetapi saya kasih sebagai berikut : Nama keluarga Kagari dengan 'Songkhla' / Nama lengkap Leaks dengan Feliks Illyanovich Rasputin dengan julukan Leaks / Nama lengkap Konoe dengan Konoe Zhao / Nama lengkap Karltz dan Asato dengan 'Fahrenheit' / Nama lengkap Rai dengan 'Saechin' / Nama lengkap Bardo dengan 'Jiang' ; supaya lebih beragam.
Kecuali Leaks tidak punya kepangnya dan rambutnya disanggul (man bun), serta Konoe dan Asato yang berambut cepak untuk menyesuaikan gaya rambut yang cocok untuk Human!AU.
Karltz, Bardo, dan Rai hanya disebutkan namanya.
Di sini, mereka adalah manusia, bukan manusia bertelinga dan berekor kucing.
Human names : Lihat di profil saya. Human names dari Romania berasal dari fav*me/d421dm8
+ At 2010 In KIS International School Bangkok +
Ded Moroz's POV
Saya sudah mengabdi pada sekolah ini selama 35 tahun dan mengajar sebagai guru sosiologi. Oh. Nama Ded Moroz adalah nama panggilan saya dari guru-guru, yang berarti Bapak Musim Dingin, karena warna rambut dan nama yang seperti salju itu. Nama panjang saya adalah Morozko Aleksandrovich Afanasyev. Ada pula yang memanggil saya dengan Moroz. Oh. Kembali pada topiknya.
Sekitar tahun 2010, saya lihat sekolah seperti biasa saja tanpa ada konflik. Anak-anak bersenda gurau seperti biasanya. Saya juga menyapa murid dan guru di sini. Saya masuk ke dalam kantor dan duduk di atas meja dengan papan nama Morozko A. Afanasyev. Saya menaruh dan membuka tas di meja untuk mengambil dan mengurus nilai ulangan anak-anak kelas 2 SMA. Saya tutup lagi tas itu dan menaruhnya di bawah saya.
"Pak Moroz."
Aku menatap Leaks yang memanggilku. "Ada apa?"
"Anda dipanggil Bu Songkhla sekarang. Ada sesuatu yang penting."
"Baiklah. Dia sekarang ada di ruangnya, bukan?"
"Benar."
"Terima kasih."
Saya beranjak dari kursi itu dan pergi dari sana.
…
"Beberapa warga sekolah ini bersekutu dengan St. Blanc, sekte sesat yang melaksanakan Ritual The House yang memakan lima korban setiap tahunnya untuk dipersembahkan kepada Setan Castor beserta anak-anak buahnya yang juga setan. Mereka, anggota , sengaja bersekutu dengan warga sekolah ini untuk menjadi markas mereka, selain di London. Seram, bukan?" Ujar Kagari khawatir, "Maria Beilschmidt yang memberitahuku tentang itu."
"Siapa Maria itu?"
"Dia dan keluarganya adalah jin penyihir. Dia dan Gilbert telah hidup selama lebih dari 300 tahun. Oh ya, ada dua keluarga Beilschmidt yang aku tahu. Pertama, keluarga Beilschmidt jin. Kedua, keluarga Beilschmidt manusia. Kedua Beilschmidt itu bersekongkol dengan St. Blanc sejak berdirinya St. Blanc. Sebenarnya, Maria dan Gilbert, saudara kembarnya itu, tidaklah bersaudara, melainkan… sepupu jauh. Pak Moroz tahu istilah kembar tapi tak bersaudara 'kan?"
"Tentu tahu, Kagari. Sejak kapan kamu ketemu dengan Maria?"
"Dari mimpi dan orang yang kerasukan."
"Ceritakan."
"Ceritanya terlalu panjang. Bisa ketahuan orang-orang St. Blanc itu."
"Kenapa?"
"Mereka akan mengincar Maria, karena Maria telah berkhianat dengan mereka."
"Kenapa dia berkhianat?"
"Katanya, dia tidak ingin manusia merasakan siksaan yang dilakukan St. Blanc yang dulunya sangat tertutup itu. Makanya dia memberitahu kepada orang-orang yang ia pilih."
"Oke. Apa mereka akan membunuh kita?"
"Benar. Rahasiakan ini dari siapa-siapa. Kecuali orang yang Maria pilih dan Leaks."
"Boleh aku tahu siapa orang yang Maria pilih?"
"Setengah dari warga sekolah ini. Sekarang kita sudahi dulu pembicaraan kita ini. Nanti kita bicarakan lagi."
…
Bel istirahat telah berbunyi. Saya selesai mengajar anak-anak kelas 3 bagian Individu dan Masyarakat. Saya memasukkan barang-barang itu ke dalam tas dan beranjak dari kursi. Saya berpamitan dengan mereka dengan salam Thailand yang sering digunakan di negara ini. Mereka juga membalasku dengan pamitan itu. Aku teringat dengan ayah Asato, Karltz Fahrenheit, yang dikabarkan sebagai anggota St. Blanc, karena Keluarga Fahrenheit adalah salah satu keluarga yang bersekongkol dengan St. Blanc dan juga Yulong.
"Hari ini pelajaran telah selesai. Kalian boleh beristirahat. Kecuali Asato. Kita berdua akan bicara di kantor."
Asato menatap saya dengan heran, namun hanya mengangguk. Ia menuju kepadaku, kemudian kami keluar dari kelas itu.
"Asato. Kudengar keluargamu itu anggota St. Blanc, ya?"
"Bicaranya di tempat sepi saja. Jangan di sini. Aku takut di-bully lagi." Jawabnya khawatir.
"Kenapa?"
"Di sekolahku yang sebelumnya, aku pernah dikatai sebagai Anak Monster, karena aku terlalu jujur waktu itu." Katanya murung.
Kami menuju gudang sekolah. Aku menutup pintu gudang itu. Beruntung ada dua kursi di sana. Kami duduk berhadapan, kemudian berbincang lagi.
"Maksudnya?"
"Aku bilang kepada teman-teman dan guruku bahwa keluarga kami adalah penganut satanisme, serta pengikut St. Blanc dan Yulong. Jadinya, mereka mem-bully-ku. Beruntung, Kagari membelaku dan juga mengajarkanku kepada keyakinan yang benar."
"Kagari? Namanya sama seperti nama depan Bu Songkhla."
"Memang Kagari Songkhla yang menolongku. Kagari di sini."
"Lanjutkan ceritanya."
"Boleh aku ceritakan kisahku dari lahir?"
"Ya."
"Kedua orangtuaku meninggal dibunuh St. Blanc untuk dijadikan korban persembahan Setan Castor itu. Entah kenapa. Aku diadopsi oleh keluarga Beilschmidt selama beberapa tahun sampai aku lulus SD. Aku sebelumnya tinggal di Jerman. Sayangnya selama aku tinggal bersama mereka, aku juga selalu di-bully oleh Ludwig, adik adopsiku yang kejam itu. Aku dan Ludwig satu sekolah dengannya."
"Maksudmu Ludwig Beilscmidt?"
"Ya. Ludwig, model Jerman itu. Dia keluar dari sekolah itu sewaktu dia kelas 4 SD, karena lebih tertarik dengan uang gaji pekerjaannya itu. Sedangkan aku masih sekolah. Dia dan keluarganya selalu mengataiku dengan 'Anak Monster', 'Anak Tabu', 'Anak Pembawa Sial', dan lain-lain yang tidak kuingat lagi. Pokoknya hingga kata rasis."
"Lalu gimana bisa kamu waktu itu masih sekolah?"
"Aku dirawat oleh Maria Beilschmidt, wanita jin itu, yang merasuki ibunya Ludwig yang juga kejam. Kalau tidak salah, namanya Heidi. Dia selalu membelaku dari mereka yang mem-bully-ku."
"Lalu bagaimana dengan Bu Songkhla?"
"Sehabis lulus SD, Maria menyuruhku untuk kabur dengan membawa barang-barangku ke rumah mantan guru SD-ku, Kagari, yang selalu membelaku saat di-bully. Dia memberikan alamat rumah Kagari. Aku kabur dari sana pada tengah malam. Selagi aku kabur, beberapa keluarga Beilschmidt menghadangku. Beruntung, Maria menolongku dengan wujud aslinya. Setelah aku sampai di rumah Kagari, aku menunggunya sampai ia memperbolehkanku setelah aku menceritakan kejadian itu."
"Aku mengerti. Tetapi bagaimana bisa kamu memanggilnya sebagai Kagari? Bukannya pada orang yang lebih tua harus dipanggil Bapak atau Ibu?"
"Dia yang menyuruhku untuk memanggilnya begitu. Katanya biar akrab."
"Oh. Kenapa kalian sangat akrab, selain membelamu dari tukang bully itu?"
"Dia teman ibuku. Kebetulan, mereka sama-sama campuran orang Jepang-Thailand. Mereka bertemu ketika mereka masih sekolah di Thailand dan menjadi sahabat."
Kini sudah tahu asal-usulnya. Sekarang aku berbicara tentang pembicaraanku dengan Bu Songkhla seminggu lalu. Asato terbelalak matanya.
"Kamu tahu tidak siapa temanmu yang tidak setuju dengan St. Blanc?"
"Wah! Banyak sekali di kelasku! Tanpa kecuali!" Katanya senang, kemudian menjadi muram lagi, "Sayangnya setelah aku mendengar kabar dari Konoe dan Tokino tentang kabar yang Bapak bicarakan, saya menjadi was-was. Takutnya ada yang membunuh kami. Kata Konoe, salah seorang anak kelas 3 SMA, Leonard Wayne, menghilang bersama anak kelas 2 SMP, Hugues de Molay, karena ada hubungannya dengan St. Blanc. Dikabarkan Hugues membunuh Leonard karena Leonard mencoba membongkar rencana kudeta itu."
"Oh. Saya tahu kabar itu dari murid-murid itu. Hugues sekarang sudah pindah ke London, bukan?" Ujarku santai.
"Ya. Itu yang kudengar dari teman-temanku. Kabarnya lagi, dari Afonso, Hugues sengaja keluar dari sekolah karena malu bahwa kejahatan St. Blanc mulai terbongkar."
"Boleh aku tahu kenapa Pak Unitatem dan kroni-kroninya ingin menguasai sekolah ini?"
"Kalau orang yang mengkudetanya, aku tahu dari Kagari. Tetapi penyebabnya aku tahu dari Leaks. Katanya, mereka ingin menjadikan tempat ini sebagai markas dan juga memancing orang-orang untuk menjadi anggota atau korban mereka. Ingat dengan Keluarga Nattapong dan Saechin?"
"Nattapong? Bukannya itu nama pemberian?"
"Benar. Kedua keluarga itu telah melawan aksi St. Blanc dan sekte-sekte sesat lainnya, sejak zaman Kerajaan S̄ạntip̣hāph. Kedua keluarga itu adalah keluarga kerajaan yang terkemuka. Keluarga Saechin adalah keluarga kerajaan yang telah memerintah sekaligus menguasai kerajaan mereka dengan damai. Terkecuali pada akhir pemerintahan Kasem. Sedangkan Keluarga Nattapong, adalah salah satu keturunan dari keluarga Saechin. Sekarang, beberapa anggota keluarga itu telah menghilang atau dibunuh secara kejam."
"Dibunuh oleh St. Blanc?"
"Ya. Aku tahu latar belakang keluarga itu dari membaca di internet."
"Siapa saja Nattapong atau Saechin yang kamu kenal?"
"Bunnark Nattapong, kepala polisi di Inggris, dan serta Rai Saechin, temanku di dunia maya. Mereka semua pada baik, untungnya."
"Tunggu. Orang Thailand bekerja sebagai kepala polisi di sana? Benar-benar aneh menurutku. Kenapa dia bekerja di sana?"
"Ini akan mengagetkanmu. Bilang ke Somchai, anak Bunnark, jika dia telah dewasa dan bertemu dengannya. Bunnark sebenarnya telah bercerai dengan istrinya, Cantana, karena ia dipaksa oleh seorang wanita St. Blanc di London untuk menikah dengannya. Kata Bunnark, jika dia tidak menikah dengannya, maka Keluarga Bunnark menjadi sasaran untuk dijadikan korban persembahan atau korban biasa."
"Siapa nama wanita itu?"
"Ivonne Carol Lancester. Sekarang dia masih hidup bersama 'suami'-nya, Bunnark. Itulah alasan kenapa Bunnark jarang pulang ke Thailand. Rencananya, Bunnark akan mengajak anaknya untuk memberitahu tentang perceraiannya dengan Cantana. Tidak tahu kapan."
"Anggota St. Blanc itu memang kejam. Menggunakan segala cara untuk mengajak orang ke dalam St. Blanc atau mengorbankan orang ke ritual bodoh itu. Kamu kenal Bunnark di mana?"
"Sewaktu aku masih di London, kelas 2 SMP, ketika aku melihat Kagari dan Bunnark berbicara tentang St. Blanc. Aku diajak Kagari untuk berkenalan dengannya. Setelah itu, aku dan Bunnark menjadi teman."
"Lalu bagaimana dengan Rai Saechin?"
"Oh. Kami hanya berbicara di BBM. Dia sekolah di Pan-Asia International School."
"Hubungan apa antara dia dengan St. Blanc?"
"Katanya, kedua orangtuanya meninggal karena mereka menjadi korban persembahan St. Blanc 8 tahun yang lalu. Dia diadopsi oleh teman ayahnya yang merupakan imigran dari Tiongkok, Bardo Jiang. Bardo telah tinggal dan bekerja di Thailand selama 15 tahun."
"Kerjanya di mana?"
"Di Hotel Pohseen sebagai resepsionis. Sampai sekarang masih bekerja di sana."
"Apakah Rai sekarang masih terancam dengan St. Blanc itu?"
"Katanya sih masih. Beruntung dia tidak dijadikan korban persembahan. Tidak tahu kenapa, katanya."
Bel telah berbunyi. Aku beranjak dari kursi.
"Asato. Masuklah ke kelasmu. Pelajaran berikutnya akan dimulai."
"Baiklah. Sampai jumpa, Pak Moroz." Pamitnya beranjak dari kursi juga. dengan salam Thailand.
Saya membalasnya dengan salam itu juga.
…
"Pak! Asato Fahrenheit hilang!" Lapor Pak Sanya mendesah kecapekan, karena berlari.
Saya kaget dengan perkataan Pak Sanya itu dan beranjak dari kursi tempat kerja saya. Asato yang saya ajak bicara pada lusa kemarin itu hilang?! Saya harap dia tidak kenapa-napa. Saya tenangkan Pak Sanya dulu. "Pak. Tenang, Pak. Kita duduk dulu. Sebelum itu, saya akan ambilkan air putih untukmu."
Pak Sanya hanya mengangguk. Kuambil gelas dan air mputih itu dari dispenser dekat mejaku, kemudian dituangkan airnya ke dalam gelas itu, lalu kuletakkan gelas itu di atas meja berhadapan dengan Pak Sanya. "Ini, Pak Sanya. Kita duduk dulu."
Kami langsung duduk berhadapan. Pak Sanya meminum segelas air putih sampai habis, kemudian bercerita dengan kesedihannya, "Tadi aku melihat Asato dan Pak Unitatem di depan gudang sekolah. Mereka bertengkar tentang St. Blanc yang sering kudengar di sekolah. Kemudian, setan berbentuk kepala kambing dan berbadan manusia mendatangi mereka. Setan itu dipanggil dengan Castor. Aku bersembunyi di balik semak-semak itu. Takut ketahuan mereka. Lalu, Castor menggunakan sejenis sihir kepada Asato. Hasilnya, Asato menghilang! Kedua orang itu tertawa dengan hal itu. Ini tidak bisa dibiarkan!"
Air mata Pak Sanya mengucur. Saya ambil tisu di atas meja untuknya. "Ini tisumu untuk menghapus air matamu."
Pak Sanya mengambilnya dan menghapus air matanya dengan tisu itu. "Terima kasih."
"Apa yang mereka bicarakan selain St. Blanc?"
"Setan itu melihat Anda dan Asato berbicara di gudang. Benarkah kalian berbicara di sana?"
Saya kaget dengan hal itu. Saya dan Asato tidak menyadari hal itu. "Kenapa dia membuntuti kami?"
"Kata Castor, ia selalu mengikuti Asato kemanapun sejak lahir, karena di dalam tubuhnya terdapat monster yang ia tanamkan."
"Monster?"
"Ya. Dia sengaja menanamkan monster itu untuk membuat Asato menjadi anggota St. Blanc. Monster itu akan mempengaruhinya begitu. Jika Asato tidak menurutinya, maka Castor menyuruhnya untuk menjadi monster itu."
"Astaga… Kenapa dia tidak bilang itu kepadaku?" Kataku menjadi muram.
"Tidak tahu, Pak Moroz. Saya tidak mendengar jawaban itu. Selain itu, kata Pak Unitatem, Asato, Bu Songkhla, dan Leaks adalah pengacau rencana mereka untuk kudeta sekolah ini."
"Sialan. Kita harus berdiskusi dengan Bu Songkhla nanti, kalau ada waktunya."
"Iya, Pak. Aku masih ingin menafkahi keluarga saya. Apalagi Mai akan kuliah di Universitas Bangkok." Katanya sedih. Mai yang dimaksud adalah anak bungsunya yang bersekolah di sini dengan program beasiswa yang Bu Songkhla berikan kepadanya, karena keluarga Pak Sanya masih sederhana.
"Dia sudah mencari dan mendaftar program beasiswa, belum?"
"Sudah, Pak Moroz."
"Tidak perlu khawatir dengan hal itu. Dia sudah mendapatkannya, kok."
Pak Sanya melihat sekeliling, kemudian beranjak dari kursi itu "Saya pergi dari sini dulu. Sampai jumpa."
…
+ At 20 January 2013 In Mr. Moroz's House +
Somchai kaget dengan cerita Pak Moroz. Ayahnya bercerai dengan ibunya? Kenapa dia baru tahu dengan hal itu? Ini membuat pikirannya sangat kacau. Pantas saja ayahnya mengganti warna negaranya untuk menikahi Ivonne itu. Tetapi alasan ayahnya untuk melindunginya dan ibunya sangat baik. Kemudian ekspresinya berubah menjadi tenang untuk menyembunyikan depresinya itu. Ketiga temannya tidak berani menanyakan hal itu. Takut membuat Somchai sedih. Ia ingin bertemu dengan Asato, jika Asato telah ditemukan.
"Sekarang giliranku untuk bercerita, Pak Moroz. Aku lebih tahu daripada Anda. Setidaknya yang tadi sudah jelas." Tukas Leaks datar.
"Silahkan." Kata Pak Moroz santai.
Bersambung
AN : Saya sengaja membuat chapter Rahasia Gelap menjadi beberapa bagian, karena kepanjangan dan akan membuat pembaca lebih malas untuk membacanya.
.
Trivia : Sekolah dan hotel yang disebutkan dalam chapter ini benar-benar ada di dunia nyata. Begitu pula dengan beasiswanya.
.
Terima kasih telah membaca fanfic ini. Silahkan kritik dan komentar.
.
Tomato Bun (13 April 2016)
