Selamat membaca ^^
Sorry for typo :)
.
.
Adventurous Dream
21
.
.
[Dunia Nyata]
Luhan POV
"Hiks.. aku benci dunia ini. Musnahkan saja dunia ini! aku tidak mau kemari lagi. Aku benci semua! Hiks…"
Hahh! Aku merasa seperti napasku tercekat, mengapa tubuhku sulit digerakkan seperti ini? Apa aku sedang berada di antara kehidupan dan kematian?
Perlahan aku dapat melihat secerca cahaya di ujung sana, mataku terus menyusuri cahaya itu hingga pemandangan langit-langit seperti atap kamar terlihat. Tunggu! Atap kamar? Aku memfokuskan penglihatan dan atap kamar itu tetap terlihat, apa surga bentuknya seperti ini? pikirku. Aku mencoba duduk dan memegang tepat di dadaku yang aku tusuk sebelumnya, tidak ada rasa sakit sedikitpun dan tidak ada bekas. Apa ini?
Aku melihat ke sekelilingku dan menyadari bahwa ini adalah kamar hotel yang aku dan Sehun pesan saat di Jeju. Sehun? Aku mengecek seluruh tubuhku, dan baik-baik saja. Aku turun dari ranjang dengan tergesa dan hampir tersandung kakiku sendiri, aku menuju pintu balkon kamar dan membukanya lebar-lebar, semuanya juga normal dan baik-baik saja, tidak ada penghentian waktu.
"Bagiamana mungkin? Ini benar-benar Jeju, ini dunia nyata…" gumamku heran. Aku berlari keluar kamar dan menuju kamar Sehun untuk memastikan apa ini benar-benar dunia nyata.
"Sehun!" pekikku.
.
.
Sehun POV
'Musnahkan saja dunia yang tak pernah adil ini! Musnahkan dunia ini agar kepedihan, kesengsaraan, dan kesedihan, bahkan juga kebahagiaan tak pernah ada...'
Aku membuka mataku tepat saat jeritan kepedihan yang kubuat untuk menghancurkan dunia mimpi terdengar. Saat matipun aku tetap dikejar bayang-bayang itu. Tuhan memang tidak adil, seharusnya Ia memberikan keringanan pada orang yang sudah mati...
Tapi tunggu, apa aku sudah mati saat ini? Mengapa tempat ini sangat familiar? Aku bangkit dari tidurku lalu melihat sekeliling, "bukankah ini kamar hotel?" gumamku.
Aku tersenyum dan mengerti, Lay Noona sungguh seperti malaikat. Jadi apa yang kulihat ternyata nyata, Lay Noona yang menyelamatkan kami. Kami? Luhan? Aku dengan cepat bergegas keluar kamar, tapi terlambat saat seseorang memekikkan namaku. "Sehun!"
.
.
Author POV
"Sehun!" Luhan berlari menabrak tubuh kekasihnya yang berdiri di depannya. "Sehunnie… hiks, kita masih hidup!" isak Luhan.
Sehun mengelus kepala Luhan lembut, "semua berkat Lay Noona,"
"Maksudmu?" tanya Luhan sambil melepaskan pelukannya.
Sehun memeluk Luhan dan membelai rambutnya, "Lay Noona menukar nyawanya untuk nyawa kita,"
Luhan terkejut dan cukup tidak percaya, "ka-kau bercanda kan Sehunnie?" tanya Luhan tercekat.
"Mianhae… tapi itu memang benar Lu. Aku melihatnya saat ia menyelamatkanmu, aku terlebih dahulu membuka mata dibanding dirimu. Dan… dan Lay Noona tiada seperti hukum di sana,"
"Hiks… Lay eonnie!" histeris Luhan. Sehun hanya bisa memeluk kekasihnya sambil mengelus punggungnya lembut.
.
.
Beberapa jam kemudian…
Ceklek.
"Luhannie~ sayang? Apa kau sudah bangun?" Sehun melihat ke dalam kamar, ia bisa melihat kekasihnya itu masih meringkuk di dalam selimut, mungkin masih kelelahan karena menangis hampir 2 jam lamanya dan itu membuat Sehun merasa bersalah.
Sehun masuk lalu duduk di pinggiran ranjang, "Lu?"
"Kau belum sarapan, dan sekarang sudah siang. Apa kau tidak lapar hm?" tanya Sehun lembut sambil membelai rambut kecoklatan Luhan.
"Nggg…" gumam Luhan.
"Masih mengantuk?"
Luhan berbalik menghadap Sehun lalu menarik tangan Sehun dan memeluknya, "Mmmm…" Luhan hanya bergumam.
"Araseo, tidurlah kembali sayang. Aku akan ke minimarket sebentar," Sehun mendaratkan bibirnya pada dahi Luhan dan hendak bangun tetapi tangannya tertarik oleh Luhan.
"Sehunnie~" rengek Luhan.
"Wae Lu?"
"Sehunnie~"
"Wae sayang? Ada apa?" tanya Sehun heran.
"…"
"Luhan?"
"Jangan pergi,"
Sehun tertawa, "aku hanya pergi ke minimarket sebentar Lu, aku tidak pergi jauh"
"Andwae! Jangan kemanapun!" Luhan masih menyembunyikan wajahnya di lengan Sehun.
"Lalu?"
"Sehunnie! Ih tidak peka sekali!" sungut Luhan lucu.
"Memangnya kau ingin apa sayang?" tanya Sehun.
"Iiih! Aku hanya ingin Sehunnie tidak pergi kemanapun!"
Sehun terkekeh kecil sebelum dirinya ikut masuk ke dalam selimut yang membalut tubuh Luhan. "Ya! Sehunnie!"
"Wae? Mwo?" tanya Sehun terkejut.
"Ke-kenapa ikut masuk?" tanya Luhan terbata.
"Kau bilang aku tidak boleh pergi, aku pikir berarti ini"
"A-apa? A-ani, bu-bukan itu maksudku–"
"Hahh, nyamannya," ucap Sehun sambil merengkuh pinggang Luhan mendekat padanya.
"Se-Sehunnie," panggil Luhan, ia merasa panas dan sangat berdebar terlalu dekat dengan Sehun. Luhan terus bergerak tak nyaman di dekapan Sehun.
Cup.
Tanpa izin Sehun seenaknya mengecup bibir mungil Luhan membuat Luhan terdiam, "aku tidak akan macam-macam padamu sayang, tenanglah" kekeh Sehun.
"Sehun!" Luhan menutup wajahnya yang mulai memerah dengan kedua tangannya sedangkan Sehun tertawa terbahak melihat bagiamana imutnya kekasihnya itu.
"Lu,"
"Hm?"
"Saranghae…" Sehun berbisik tepat di telinga Luhan.
Luhan melirik pada Sehun lalu tersenyum, semu merah tampak muncul di pipinya. "Kau cantik sekali saat bersemu," Sehun menatap intens gadisnya.
"Hentikan tatapanmu Sehunnie, jebal," rengek Luhan.
Sehun tersenyum, "wae?"
"Aku bisa mati kehabisan napas kau tahu? Kau terlalu tampn. Jantungku serasa ingin lepas,"
Sehun mengeratkan pelukannya dan menghadap ke Luhan, "mengapa kau pintar sekali menggombal hm?" Sehun mengecup singkat pipi merah Luhan.
"Sehun!"
Sehun menarik kepala Luhan agar bersandar di dadanya, "apa kau mendengarnya?"
"Mwo?" tanya Luhan bingung.
"Dengarkan detak jantungku," Luhan merasakan detakan yang begitu hebat dari dalam dada Sehun, ia pikir Sehun akan mati terlebih dahulu darinya karena serangan jantung.
"Se-Sehunnie~"
"Hm?" Sehun mengecup puncak kepala Luhan.
Luhan mendongak menatap kekasihnya, matanya berkaca-kaca "Aku mencintaimu, terima kasih karena telah hadir di hidupku, dan terima kasih sudah selamat…" tak lama air matanya merembes keluar dari pelupuk matanya.
"Hey sayang mengapa menangis?" tanya Sehun khawatir.
Luhan menggeleng. "Aku hanya bersyukur," senyum cerah dari bibirnya terlihat.
Sehun mengusap air mata yang terasa hangat itu, "aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah hadir di hidupku. Bertemu denganmu, berpisah denganmu, merindukanmu, melupakanmu hingga aku bertemu kembali denganmu seperti takdir, dan kembali mengingatmu. Aku tak menyesalinya walau jalan hidupku sangat sulit, selama itu denganmu, aku akan selalu bersyukur." Ucap Sehun lalu mencium kening Luhan dengan perasaan mendalam.
"Gomawo Sehunnie…" keduanya saling tatap dan tersenyum.
.
.
Pagi menjelang, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden dan mengganggu kedua sejoli yang tengah tertidur pulas. Sehun yang merasakan tidurnya terganggu lantas semakin menarik Luhan yang direngkuhnya semalaman–mungkin, ke dekapannya membuat sang gadis semakin menyusupkan kepalanya ke dada bindang kekasihnya yang nyaman.
Sebenarnya keduanya sudah bangun dari tidur mereka, tapi mereka enggan untuk meninggalkan kenyamanan yang dibuat keduanya. Sampai Luhan bergerak dan menjauh dari kekasihnya, ia mencoba melihat Sehun yang ternyata masih memejamkan matanya. "Apa kau masih tidur?" tanya Luhan dengan suara khas bangun tidurnya.
"Hmm, aku masih mengantuk," gumam Sehun.
"Tapi aku lapar," rengek Luhan.
"Lima menit lagi, ne?" tawar Sehun.
"Ani Sehunnie, aku belum makan dari kemarin. Aku sangat lapar,"
Sehun akhirnya membuka matanya lalu menatap kekasihnya yang mengerucutkan bibirnya lucu, "araseo sayang, kkajja kita makan"
"Yeeyy!" girang Luhan, ia hendak keluar dari dekapan kekasihnya tapi Sehun tak sama sekali memberinya celah. Luhan mempoutkan bibirnya. "Aku ingin bersiap-siap Sehunnie, lepaskan aku"
"Morning kiss?"
"Mwo?" Luhan tertawa.
"Beri aku morning kiss chagi~"
Jantung Luhan berdebar memikirkan permintaan kekasihnya yang–demi Tuhan! Apa-apaan itu? Sehun ber-aegyeo? Luhan secepat kilat menabrak bibir Sehun dengan bibirnya lalu melepaskannya, "su-sudah," gagap Luhan.
Sehun merengut, "apa itu?"
"Mwo? Kau mau apa lagi?" Luhan jadi kesal, ia sudah lapar tapi Sehun malah menghambatnya.
Sehun memajukan kepalanya lalu menyambar bibir Luhan dengan lembut dan sedikit melumatnya. "Sudah" girang Sehun lalu turun dari ranjang. "Siap-siap Lu, kita akan kencan hingga malam!" setelah itu tawa Sehun terdengar menjauh. Luhan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh kekasihnya itu.
Beberapa menit kemudian, Luhan keluar dari kamarnya dengan keadaan segar. Ia Nampak cantik dengan dress dongker polos tak berlengan tepat di atas lutut memperlihatkan kaki cantiknya yang dibalut flat shoes hitam. Rambut kecoklatannya ia ikat dengan rapi. Bisa dibilang Sehun terpaku dengan keanggunan kekasihnya.
'Sempurna!'
Luhan sendiri juga ternyata tengah mengagumi ketampanan kekasihnya. Bagaimana mungkin kemeja hitam yang lengannya digulung sesiku dengan jeans panjang membuatnya seolah-olah seperti dewa– Oh araseo, mianhae, Luhan memang senang sekali dengan majas hiperbola kkkk.
'Tampan'
"Kau cantik Lu, ani, neomu yeppo" ucap Sehun mendekati Luhan.
Luhan tersenyum dengan rona merah di pipinya, "gomawo,"
"Kita berangkat?" Sehun menyodorkan lengannya pada Luhan, Luhan menyambutnya menyusupkan tangannya ke lengan besar kekasihnya.
"Kkajja!"
Keduanya kini sudah di sebuah restoran untuk sarapan, sebenarnya mereka bisa sarapan di restoran hotel, tapi Luhan merengek ingin bubble tea dan membuat Sehun harus memutar setir– mobil sewaannya berkali-kali untuk mencari kedai bubble tea sebelum akhirnya mereka tiba di restoran.
Sehun terkekeh melihat bagaimana rakusnya kekasihnya menyeruput bubble tea kesukaannya. "Pelan-pelan sayang, aku tak akan mengambil bubble tea-mu," Sehun memperingatkan ketika Luhan hampir tersedar bulir-bulir tepungnya.
"Hahh! Aku benar-benar merindukan ini, rasanya seperti Xiumin eonnie yang membuatkannya untukku," cengir Luhan.
"Benarkah? Syukurlah jika kau suka. Tapi habiskan nasimu Lu,"
"Araseo Sehunnie, aku akan makan,"
Sehun sendiri sudah selesai makan dan hanya menyeruput minumannya sambil sesekali mengamati kekasihnya. Sesekali ia menjulurkan tangannya mengambil butir nasi yang tersisa di bibir atau pipi Luhan. Sekilas matanya menangkap sosok yang ia kenal, matanya mengikuti sosok pendek berambut pandek yang baru saja keluar dari restoran. 'Xiumin Noona?' gumam Sehun dalam hatinya.
"Ada apa Sehunnie?" tanya Luhan.
"A-ani, aku pikir aku melihat Xiumin noona. Tapi itu tidak mungkin kan?"
"Kau melihatnya juga?" tanya Luhan terkejut.
"Maksudmu kau juga melihatnya?"
"Aku tidak yakin, tapi tadi saat di kedai bubble tea aku melihat seseorang masuk ke ruang saji dan orang itu sangat mirip dengan Xiumin eonnie" jelas Luhan. "Apa mungkin?"
"Aku rasa tidak," sanggah Sehun, "mungkin hanya seseorang yang mirip,"
"Ya mungkin saja…"
"Sudah selesai?" tanya Sehun saat melihat piring Luhan sudah bersih. Luhan mengangguk.
"Ke mana kita setelah ini?" tanya Luhan.
"Terserah padamu sayang,"
…
…
"Sehunnie lihat!" Luhan berteriak seperti anak kecil yang melihat tokoh kartun kesukaannya membuat semua mata memandang pada mereka.
"Sayang, jangan menarik perhatian," Sehun mengingatkan, sebenarnya ia agak malu karena menjadi pusat perhatian sesaat. Tapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan Luhan yang sudah bisa tersenyum lebar melupakan kesedihannya kemarin.
Sekarang keduanya ada di Museum Teddy Bear karena permintaan Luhan. Sebenarnya Luhan ingin ke musem rusa (oke terkadang Luhan memang aneh, mungkin ia yang nantinya membuat museum boneka rusa kkkk), tapi mana ada yang seperti itu hahaha, jadilah keduanya ada di dalam musem teddy bear ini.
"Sehunnie, fotokan aku," pinta Luhan ketika menemukan seperangkat keluarga teddy di sebuah restoran. Luhan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan teddy bear pria di kursi depannya. Ia berpose seolah-olah sedang berkencan dengannya, Luhan duduk menyilangkan kakinya dan menatap menggoda pada teddy bearnya. "Aku siap!" teriak Luhan.
"Saat kau kencan denganku kau tak pernah mengeluarkan tatapan itu padaku," gerutu Sehun, ia merasa tersaingi oleh bear jelek– menurutnya itu.
"Sehunnie yang benar!" kesal Luhan.
"Araseo, hana…dul…set"
Cekrek.
"Aku lihat!" Luhan berlari menghampiri kekasihnya, "wohoo" seru Luhan. "Sehunnie, kau yang di sana, aku akan mengambil gambarmu!" Luhan mendorong Sehun.
"Mwo? Aku tidak mau, itu memalukan Lu–"
Luhan mempoutkan bibirnya sebal, matanya mulai berkaca-kaca dan tangannya sudah ia silangkan di depan dadanya. Sedangkan Sehun khawatir Luhan akan menangis di sini, "a-araseo, cepat ambil gambarku" ucap Sehun mengalah.
Seketika wajah Luhan berubah cerah, "kau harus bersikap romantis dengan teddy wanita itu. Berlutut di depannya," intruksi Luhan. Sehun hanya bisa menatap ngeri pada kekasihnya dan meratapi nasibnya yang 'agak' sial ini. Tapi Luhan bukanlah suatu kesialan dalam hidupnya, tentu saja. Dengan agak ragu, Sehun berlutut di hadapan teddy wanita itu. Sehun melirik pada Luhan yang ternyata menatap tajam padanya seakan berkata 'cepat lakukan Sehunnie!' Akhirnya Sehun meraih tangan teddy wanita itu dan menciumnya sambil tersenyum.
"Whoa, Sehunnie kau bisa menjadi model. Bagus sekali!" girang Luhan sambil melompat-lompat kecil.
"Akan lebih bagus jika aku yang menciummu," gumam Sehun sebal.
"Apa Sehunnie?" tanya Luhan tapi ia masih mengamati karya fotografi dengan Sehun sebagai modelnya.
"Aniya, kkajja kita ke sana" Sehun menggenggam tangan Luhan.
Mereka berhenti di pasangan beruang yang menikah. "Wae Lu?" tanya Sehun heran saat melihat kekasihnya terpaku pada pasangan beruang.
"A-aniya"
Sehun menatap curiga pada kekasihnya, pipi Luhan memerah membuat Sehun mencubit gemas pipinya. "Apa yang kau pikirkan heuh?" goda Sehun.
"Aku tidak memikirkan apapun," bohong Luhan.
Sehun mendekat pada telinga Luhan dan berbisik sesuatu padanya. Tiba-tiba Luhan berteriak histeris sabil memeluk Sehun, sungguh, kalimat Sehun membuat jantungnya menggila dan ia yakin wajahnya sangat memerah sekarang.
Sehun terbahak melihat reaksi Luhan, "apa kau malu?"
"Hentikan Sehunnie" rengek Luhan.
Sehun tertawa puas sambil memeluk kekasihnya, kalimat 'suatu saat pasti kita akan berada di posisi mereka Lu, tunggu saja' sangat berefek pada Luhan. Sangat menyenangkan menggoda kekasihnya ini. "Kita harus mengambil foto di sini," Sehun menghentikan sepasang kekasih yang melintas di dekat mereka, "bisa tolong fotokan kami?"
Sehun bersembunyi di balik teddy pria dan Luhan bersembunyi di balik teddy wanita, keduanya saling mengintip dari balik beruang mereka, saling menatap, dan saling tersenyum.
Cekrek!
"Satu lagi," pinta Sehun, ia sedikit tersenyum merasa tidak enak. "Sini Lu," Sehun merangkul Luhan lalu ia memberi kode pada si pemotret. "Lu…" panggil Sehun. Luhan mendongak dan dengan ia terkejut mendapati wajah Sehun yang terlalu dekat dengannya. Sehun perlahan memajukan kepalanya.
Cekrek!
Sehun melepas rangkulannya dan mengambil ponselnya dari tangan si pemotret, "gamsahamnida" ucap Sehun lalu membiarkan sepasang kekasih itu pergi setelah membungkuk.
"Kau ini apa-apaan?" tanya Luhan.
"Lihat," Sehun menunjukkan hasil fotonya, "bukankah ini bagus?" kekeh Sehun.
"Aku malu kau tahu, aku pikir kau–" Luhan tak melanjutkan ucapannya lalu mengalihkan pandangannya dari Sehun.
"Kau pikir aku apa?" tanya Sehun penasaran.
"A-aniya, lupakan saja" Luhan melepas rangkulan Sehun padanya dan berjalan cepat meninggalkan Sehun. Demi apapun, ia merasa sangat malu saat ini. Bagiamana jika ia keceplosan berbicara bahwa ia pikir Sehun akan menciumnya.
"Lu!" panggil Sehun. Luhan hanya menoleh lalu mempercepat langkahnya membuat Sehun harus agak berlari mengejar kekasih rusanya.
"Sehunnie jangan mengejarku!" Luhan berteriak histeris sambil sesekali melihat ke belakang takut Sehun menangkapnya.
"Awas Lu!"
Luhan hendak melihat ke depannya tapi terlambat, ia sudah menabrak seseorang di depannya. "Gwaenchanha?" tanya Sehun khawatir sambil membantu Luhan untuk berdiri. "Jeosonghamnida, maaf kekasihku tidak melihat saat berlari. Maafkan kami," ucap Sehun, sedetik kemudian ia tertegun saat melihat siapa orang yang Luhan tabrak. "Xiu–"
"Minseok-ah? Gwaenchanha?"
Suara lain di belakangnya menarik perhatian Sehun dan Luhan.
"C-Chen Hyung?"
"Apa kau baik-baik saja manis? Gwaenchanha, lain kali kau harus berhati-hati ne?" pesan wanita berambut pendek yang sebelumnya mereka lihat di kedai bubble tea dan restoran saat sarapan.
"Xiumin eonnie?" tanya Luhan.
"Chen Hyung?" gumam Sehun.
"Xiumin? Nugu Xiumin? Dan Chen?" tanya wanita berambut pendek itu. "Aku Minseok, Kim Min Seok dan ini kekasihku Kim Jong Dae" ucapnya memperkenalkan diri dan laki-laki yang memanggilnya 'minseok-ah'.
"Jeoseonghamnida, aku pikir kau adalah eonnie-ku. Kalian mirip sekali. Kau juga mirip dengan oppa-ku" ucap Luhan, ia menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir.
"Aigoo, apa eonnie dan oppa-mu meninggalkanmu?" tanya laki-laki bernama Jongdae itu.
Luhan mengangguk, "mereka telah pergi…" Luhan tertunduk. Sehun juga melihat keduanya seperti menyimpan kerinduan mendalam.
Tiba-tiba Minseok memeluk Luhan dan menepuk punggungnya, "gwaenchanha. Eonnie dan oppa-mu pasti sudah bahagia di sana," bisik Minseok. Luhan mengangguk masih sambil terisak.
"Jeosonghamnida," ucap Luhan
"Maafkan kami, kami masih terbawa emosi," ucap Sehun.
"Gwaenchanha," jawab Jongdae santai. "Kalau begitu kami pergi dahulu, jalan berlarian di sini, di sini sangat ramai" pesan Jongdae.
"Ne, gamsahamnida" Sehun membungkuk lalu melihat pada kekasihnya yang kembali teringat pada Xiumin dan Chen.
"Gwaenchanha Lu," Sehun merangkulnya lalu melanjutkan perjalanan mereka.
"Xiumin adalah dirimu, Kim Minseok." –suara di pikiran Minseok.
"Wae Chagi?" tanya Jongdae khawatir melihat kekasihnya terhuyung ke pelukannya. Minseok hanya menggeleng.
"Kkajja kita pulang, kau tidak boleh terlalu lelah" Jongdae menggandeng kekasihnya. Tapi kedetik kemudian Jongdae terhenti di tempatnya.
"Chen adalah dirimu, Kim Jongdae" –suara di pikiran Jongdae.
"Wae?" kini Minseok yang bertanya.
"Gwaenchanha, kkajja"
Kesedihan memang sebentar melanda Sehun dan Luhan tetapi tak lama mereka kembali terhanyut dalam tawa, pasalnya mereka baru saja selesai menonton di bioskop, film yang mereka tonton memang cukup lucu.
"Sehunnie aku lapar," rengek Luhan saat keduanya tengah di perjalanan menuju hotel.
"Tadi aku mengajakmu makan tapi kau menolak," ucap Sehun, ia tak bisa melihat pada kekasihnya karena ia sibuk mengemudi di jalanan padat.
"Aku baru merasakannya,"
"Araseo, kita makan di restoran hotel saja. Eotte?" tawar Sehun.
Luhan mengangguk lucu yang masih bisa ditangkap penglihatan Sehun, "call!"
.
.
Pagi harinya, Luhan terbangun terlebih dahulu dan menemukan kekasihnya seperti biasa memeluknya posesif. Dengan perlahan Luhan menyingkirkan tangan Sehun dari pinggangnya, setelah berhasil ia tersenyum pada Sehun yang masih tertidur pulas. "Selamat pagi Sehunnie," bisik Luhan lalu mengecup tipis bibir kekasihnya. Ia menutup wajahnya yang sedikit memanas. Setelah memastikan Sehun tak terbangun, dengan tawa idiot di bibirnya Luhan turun dari ranjang dan menuju dapur untuk minum. Ia mengambil gelasnya dan mengisikannya dengan air bening lalu menegaknya habis.
"Hahh segarnya," desah Luhan. Luhan meletakkan gelasnya lalu membuka kulkas berharap menemukan bahan makanan yang bisa ia masak untuk sarapan. Ia tersenyum kecut saat tak menemukan apapun di kulkasnya. Jadilah Luhan memutuskan untuk ke supermarket di hotel itu. Ia membuka pintu kamar memastikan Sehunnya masih tertidur lalu ia keluar dari kamar.
20 menit kemudian, Luhan kembali dengan sekantung belanjaan di tangannya.
"Luhan!" Luhan sedikit terkejut mendengar Sehun yang memekik. Sehun menunggu di ruang tamu dengan raut wajah khawatirnya. "Kau dari mana? Yaampun, aku mencarimu seperti orang gila, ponselmu pun tidak di bawa," omel Sehun.
"Aku hanya ke supermarket sayang. Aku membeli bahan untuk sarapan kita," ucap Luhan sambil mengangkat belanjaannya.
"Tapi setidaknya beritahu aku Luhan" ucap Sehun menatap tajam kekasihnya.
"Araseo, mianhae hm? Kalau begitu biarkan aku masak, aku ingin membuat sarapan untukmu" ucap Luhan tersenyum manis. Senyum itu, ah Sehun selalu melunak jika sudah melihat senyum dari kekasihnya. Akhirnya Sehun mengangguk.
Luhan sibuk dengan wajan dan pisau di dapur, sedangkan Sehun, ia berpangku di dagunya sambil mengamati Luhan yang memotong beberapa tomat dan mentimun. "Kenapa kau teru menatapku Sehun, apa kau tidak mau mandi terlebih dahulu?" tanya Luhan yang merasa diperhatikan.
"Kalau dipikir-pikir, baru kali ini kau memasak untukku seorang," kekeh Sehun.
"Memangnya kenapa?" tanya Luhan.
"Kita seperti pasangan pengantin baru"
Luhan menghentikan aktivitas memotongnya lalu melihat pada Sehun di meja makan, "jangan bercanda Sehunnie"
"Aku tidak bercanda, aku senang kau memasak untukku,"
Luhan tersenyum lalu mengangkat dagingnya dari tefelon. Ia meletakkan daginya di atas roti tawar, memasukkan 2 potong tomat dan sepotong mentimun, daun selada tidak lupa ia tambahkan, sedikit mayonnaise dan selembar keju. Ia memotong roti isi itu berbentuk segitiga lalu menyuguhkan 6 potong roti isi itu di piring.
Mengisi 2 gelas kosong dengan jus apel, Luhan membawa sarapan sederhananya itu ke hadapan Sehun. "Cha, ayo kita makan" ucap Luhan senang, ia merasa puas dengan sarapannya.
"Tidak masalah dengan menu sarapan kita bukan, Sehunnie?" tanya Luhan saat Sehun hanya terdiam menatap sarapnnya.
"Tidak, mengapa kau tahu jika aku sedang ingin roti isi?" kekeh Sehun lalu mencomot satu potong roti dan memakannya.
Luhan tertawa lalu meminum jusnya, "sebenarnya aku sering berkhayal memakan sarapan dengan orang yang aku cintai dan aku memasak untuknya. Aku tidak tahu jika kau ingin roti isi Sehunnie" Luhan mencomot satu rotinya dan memakannya khidmat.
"Uhuk!"
"Pelan-pelan Sehunnie" Luhan menuangkan segelas air dan menyodorkannya pada Sehun.
"Aku tidak berbohong tentang aku ingin makan roti isi, Lu"
"Aku percaya," kekeh Luhan.
Ponsel Sehun yang ada di kamar berdering, Sehun hendak beranjak dari kursinya tapi Luhan menahannya. "Aku saja," ucap Luhan, Sehun hanya mengangguk. Setelah keluar, Luhan tertawa lalu memperlihatkan layar ponsel pada Sehun, "lihat! Mereka menelefon kita" ujar Luhan tertawa karena tiga wajah orangtua mereka tertera di layar.
"Angkat Lu,"
Luhan menyentuh icon angkat dan langsung saja para orangtua terlihat sangat lega dilihat dari wajah mereka. "Annyeong Mama, Baba, Eomma!" sapa Luhan ceria.
"Luhan? Yaampun sayang akhirnya kau mengangkatnya juga!" pekik Mama-nya.
"Mama jebal jangan berlebihan," kekeh Luhan.
"Apa kalian baik-baik saja? Mana Sehun?" tanya Eomma-nya.
"Ish eomma mengapa mencari Sehun, tak mencariku?" Luhan mempoutkan bibirnya.
"Kau terlihat Lu, eomma tak melihat Sehun,"
Luhan tertawa, "araseo, ini anak eomma sedang sarapan," Luhan mengarahkan kamera ponsel pada Sehun yang masih menyantap roti isinya.
"Annyeong eomma, Mama, Baba" sapa Sehun sambil menggoyangkan roti isinya."
"Kalian hanya sarapan dengan roti isi dan jus?" tanya Victoria khawatir.
"Ne, Luhan yang membuatkannya karena aku ingin roti isi,"
"Sehun, kau tidak melakukan sesuatu pada anakku kan?" tanya Zhoumi to the point.
"Baba!" sungut Luhan. Sehun hanya tertawa.
"Sehun jawab" tuntut Zhoumi.
"Ne Baba-ku yang tampan, aku tidak akan membawa pulang cucu untuk kalin. Tenang saja,"
"Baba jinja! Jangan berkata yang aneh-aneh atau kalian benar-benar akan mendapat cucu saat kami pulang" Luhan sedikit menggoda Baba-nya itu.
"Kyyaaa! Itu bagus sekali, iya kan Heechul-ah?" pekik Victoria bersemangat.
"Tentu saja! Aku sudah tidak sabar menimang cucu,"
Zhoumi hanya bisa menggelengkan kepalanya, ini tidak bagus, pikirnya. "Cepatlah kembali, aku akan menikahkan kalian,"
"Ne, Baba!– Aw! Sakit Lu," rintih Sehun karena Luhan memukul belakang kepalanya cukup kuat.
"Kau ini bersekongkol dengan Baba ya?" Lhan menatap tajam Sehun.
"Tentu saja tidak," bela Sehun.
"Bohong!"
"Aku serius Lu"
"Kau–" Sehun memutuskan sambungannya pada para orangtua mereka di sana dan meletakkan ponselnya yang dipegang oleh Luhan ke meja makan. Dengan cepat ia mencium Luhan telak di bibirnya, ia agak melumatnya.
"Sehun!"
"Aku memang tidak bersekongkol. Kau tidak mau menikah denganku?" tanya Sehun terengah.
"Bu-bukan begitu," gagap Luhan. Apa ini Sehun melamarnya? Mengapa tidak romantis sama sekali! Kesal Luhan.
Sehun semakin mendekatkan dirinya pada Luhan, ia memiringkan kepalanya dan matanya hanya tertuju pada mata Luhan yang terlihat khawatir. Tetapi dering ponselnya kembali terdengar. Ia melihatnya dan membaca siapa yang menghubunginya.
"Ne, Baba?" Sehun menerima panggilan.
"Ne? Baiklah kami akan mencari penerbangan tercepat," Sehun memutuskan sambungannya.
"Ada masalah?" tanya Luhan.
"Kita harus kembali Lu. Baba memberitahu bahwa Yunho dan anak buahnya tertangkap polisi karena penipuan. Aku diminta menjadi saksi di persidangan," jelas Sehun.
"Kalau begitu ayo cepat kembali," Luhan hendak beranjak ke kamar membereskan barang-barangnya tapi langkahnya tertahan karena Sehun menahan lengannya. "Wae?"
"Jangan tinggalkan aku Lu, berjanjilah." Mohon Sehun.
"Aku mencintaimu, dan aku tak akan meninggalkanmu Sehunnie…" Sehun tersenyum dan merasa berterimakasih karena memiliki Luhan di sisinya.
.
.
Sehun dan Luhan sudah tiba di bandara Incheon. Ya, mereka memang kembali ke Seoul hari itu juga karena masih ada urusan satu lagi yang belum mereka selesaikan. Yunho, ya semua yang berkaitan dengan ayah tiri Sehun itu belum terselesaikan dan sepertinya semua akan terselesaikan, semoga saja.
Pengadilan tinggi Seoul memberikan keputusannya hari ini, setelah 2 minggu penyidikan jaksa. Hasilnya adalah, Jung Yunho dikenakan hukuman seumur hidup karena telah melakukan penipuan, penggelapan dana perusahaan, dan percobaan pembunuhan terhadap Sehun, anak semata wayang pasangan mendiang Oh Kyuhyun dan Kim Heechul dan yang merupakan anak tirinya.
Setelah itu, kehidupan mereka berangsur normal. Tapi Sehun diharuskan mengisi kekosongan pemimpin di perusahaan meskipun ia belum resmi menjadi presdir di perusahannya. Sehun sebelumnya memang sudah ditetapkan sebagai ahli waris tunggal dari kekayaan yang dimiliki ayahnya. Hal itu pula yang membuat ia dan Luhan jarang bertemu. Ah ya, Sehun dan eomma-nya sudah kembali ke rumahnya sehari setelah Yunho dipenjarakan atas perbuatannya.
"Sayang kenapa cemberut begitu hm?" tanya Victoria pada anak semata wayangnya.
Luhan menghela napas kesal, "entahlah Ma," ia meletakkan ponselnya dengan gusar di meja makan.
"Sehun belum menghubungimu?" tanya Baba. Luhan melihat sekilas pada ponselnya, lalu menggeleng lemas.
"Sehun sedang sibuk Lu, kau tahu ia harus memperjuangkan perusahaannya setelah diacak-acak oleh ayah tirinya," Zhoumi memberi pengertian pada putrinya itu.
"Araseo," jawab Luhan malas, dalam hati ia sangat kesal karena Sehun tak juga mengubunginya dari kemarin. Memangnya sesibuk apa ia hingga memberi kabar pun tidak sempat? Luhan hanya mengaduk-aduk makanannya tak berselera. Kemudian ia bangkit dari kursinya, "aku selesai. Ba, Ma, aku ke toko sekarang," pamit Luhan menghiraukan ucapan Mama-nya yang menyuruhnya menghabiskan sarapannya.
Seharian di toko Luhan hanya diam di ruangannya dan tak pernah keluar kecuali jika ia perlu mengecek bahan-bahan kue dan persediaan kuenya. Seharian ini ia habiskan dengan bekerja berharap melupakan kekesalannya pada Sehun.
"Minho? Kau belum pulang?" ucap Luhan saat turun dari ruangannya dan melihat Minho satu-satunya karyawan yang tersisa di sana.
"Apa Nona sudah mau pulang? Saya menunggu Nona, tidak baik jika Nona hanya sendiri di sini"
"Seharusnya kau pulang saja, yasudah kalau begitu kau pulanglah. Aku juga akan pulang," ucap Luhan.
"Baik Nona, silakan duluan. Saya akan mengunci toko"
"Ne,"
Sampai di rumah, Luhan mendapati rumahnya sepi dan gelap. Ia mengecek ponselnya dan benar saja ternyata Mama dan Baba-nya berkali-kali menghubunginya. Ia mengecek pesan masuk, Mama-nya memberitahu bahwa keduanya ada wawancara hari ini dan akan pulang pagi hari karena jarak tempat wawancara dengan rumah cukup jauh. Luhan mengetikan balasan 'ya' untuk Mama-nya dan bergegas masuk.
Luhan tidak menghidupkan lampu depan dan terus melangkah menuju kamarnya. Tapi tak lama ia menghentikan langkahnya dan jantungnya berpacu cepat saat menyadari ia tak sendirian di sana. Ia merasa seseorang tengah bersamanya. Luhan sedikit mengendap dan mengeratkan cengkraman pada tasnya bersiap melayangkan tasnya jika seseorang menyerangnya.
"Lu?"
Luhan berbalik dan terkejut melihat Sehun ada di sana. "K-kau kenapa ada di sini?!" pekiknya histeris.
"Aku masuk daritadi Lu, ternyata kau belum pulang dan kata Baba kau masih di toko. Demi Tuhan Luhan ini sudah pukul 12 malam dan kau baru pulang?!" omel Sehun.
"Bukan urusanmu Tuan Oh!"
"Lu? Kau marah padaku? Maafkan aku–"
"Jangan mendekat! Aku membencimu sungguh, kau anggap aku apa sampai tak bisa lagi memberi kabar padaku?!" Luhan menatap tajam Sehun dengan mata yang hampir menangis.
'Aku mohon jangan menangis Lu,' pinta Sehun dalam hati, "maafkan aku Lu. Aku sungguh tak punya waktu, aku pun belum makan apapun dari siang. Aku mohon maafkan aku…"
Air mata Luhan tak bisa lagi terbendung, ia berlari menabrak kekasihnya. "Hiks…aku mengkhawatirkanmu Sehunnie, aku merindukanmu!" tangisnya pecah.
"Mianhae Lu…" bisik Sehun bersalah. "Gomawo sudah mengkhawatirkanku"
Luhan melepas pelukannya dan melihat pada Sehun, "ayo makan, nanti kau sakit," ucap Luhan lalu menuntun Sehun menuju kursi makan. "Tunggu sebentar, aku masakan sesuatu" Luhan meletakkan tasnya dan mengikat rambutnya yang tergerai.
Belum sempat Luhan menyelesaikan ikatan rambutnya, sepasang lengan kekar melingkar di perutnya dan sebuah kepala bersandar di bahunya. "Aku merindukanmu Lu," lirih Sehun. Luhan menyelesaikan ikatan rambutnya lalu secara mengejutkan berputar menghadap Sehun dan mengalungkan tangannya pada leher kekeasihnya membuat jarak keduanya lumayan dekat.
Sehun menahan napasnya karena terkejut, "kau tidak menggodaku kan Lu?"
Wajah Luhan berubah sebal, "dim dan duduk! Aku akan memasak untukmu," ucap Luhan lalu berjinjit mengecup singkat bibir Sehun. Lalu ia melepaskan tangannya dari leher Sehun.
"Agh! Luhan!" jerit Sehun frustasi. Luhan hanya tertawa meninggalkan Sehun di meja makan.
.
.
Malam ini Sehun memutuskan untuk menginap. Sebenarnya ia merasa tidak bisa mengatakan bahwa ia harus pergi selama 6 bulan ke Kanada untuk mengurus perusahaan cabang di sana yang ternyata sama hancurnya dengan perusahaan pusat.
"Lu," panggil Sehun saat keduanya sudah berbaring di ranjang.
"Hm?" gumam Luhan.
"Kemari," pinta Sehun sambil membuka lebar tangannya bermaksud ingin memeluk Luhan. "aku merindukanmu, mengapa kau jauh sekali," cemberut Sehun. Luhan tertawa lalu masuk ke pelukan Sehun.
"Hmm wae? Apa ada masalah?" tanya Luhan seakan bisa membaca raut wajah Sehun.
Sehun memeluk Luhan dan memejamkan matanya, "aku minta maaf karena belum bisa melamarmu," Luhan terdiam, "bukan aku tidak mau cepat menikah denganmu. Tapi tanggungjawabku di perusahaan sangat besar Lu. AKu hampir tidak sanggup menanganinya,"
Luhan tersenyum lalu mengelus kepala Sehun dengan sayang, "aku tidak masalah Sehunnie. Aku juga hanya bisa mendukungmu, aku minta maaf tak banyak membantumu. Aku akan selalu mencintaimu, aku tidak akan mencari lelaki lain hanya karena kau tidak juga menikahiku. Aku tidak terlalu membutuhkan menikah cepat, aku hanya butuh kau selalu bersamaku dan terus mencintaiku"
"Aku akan selalu mencintaimu tentu saja, sejak dahulu sampai kapanpun. Tapi aku takut Lu, sungguh aku tak mau kehilanganmu"
"Apa kau percaya padaku?" tanya Luhan.
"Tentu saja, tak ada keraguan untuk itu. Tapi…"
"Wae Sehunnie?" tanya Luhan.
"Aniya, aku akan membatalkannya saja" ucap Sehun.
"Katakan padaku Sehun!" gemas Luhan sambil mengapit kedua pipi Sehun dan memaksanya untuk melihatnya.
"Besok aku akan ke Kanada Lu, perusahaan cabang di sana sangat berantakan. Tidak ada yang sanggup menanganinya, aku–"
"Pergilah Sehunnie, aku tahu kau melakukannya juga bukankah untuk masa depan kita? Baba memintamu untuk bertanggungjawab memperbaiki perusahaan kan? Jadi Baba akan mempercayakan aku padamu karena kau berhasil bertanggung jawab?" tanya Luhan.
"Ba-bagiamana kau tahu?" tanya Sehun terkejut, pasalnya ini adalah rahasia antara Baba dan dirinya saja.
"Aku tahu semua Sehunnie. Aku tahu saat kalian membicarakannya," Luhan meluruskan posisi tidurnya, "dan aku rasa 6 bulan tidak terlalu lama. Aku tidak akan gila menunggumu selama kau memberiku kabar agar aku tak khawatir," Luhan tersenyum.
Sehun tersenyum, "tentu saja. Gomawo Lu, aku sangat mencintaimu…" ucap Sehun senang lalu memeluk Luhan.
"Nado, aku juga sangat mencintaimu…" balas Luhan.
"Aku akan merindukanmu Lu…"
Lalu keduanya saling berpelukan hingga pagi menjelang. Entah siapa yang tertidur terlebih dahulu diantara keduanya.
.
.
to be continued-
.
.
Annyeooong!
Maaf semuanya karena updatenya malah telat :( mianhamnida ... Kurang berapa hari lagi tahun 2017 berakhir dan artinya beberapa hari lagi ff ini akan berakhir huhuhu, semoga chapter ini memuaskan yaa hehehhe
Balasan Review
#deerhunhan794: maaf ya gak fast update, malah late huhu..
#misslah: sudah update ^^
#knightwalker314: ii kamu jangan sekarat :( mereka sudah baik-baik saja kan ;) hihi
#sarahachi: wkwkk suka ngakak pas inget persyaratan aneh itu xD takut tersaingi :p belum end kok wkkk :p
Gamsahamnida semua yang masih mengikuti ff pannnjjjannngg bener ini wkkk.
Review jangan lupaa ^^
*loveforHUNHAN yeayy!
